Pendiri Jong Batak, Pahlawan yang Diberangus Sejarah

Amir

Amir Sjarifudin

 Amir Sjarifuddin Harahap hidup pada masa 1907-1948. Beliau lahir di Tapanuli Selatan 27 April 1907. Ayahnya, Djamin Baginda Soripada Harahap (1885-1949) keturunan kepala adat dari Pasar Matanggor, Padang Lawas dan mantan jaksa di Medan. Ibunya, Basunu Siregar (1890-1931), lahir dari keluarga Batak-Melayu. Karakternya sejak kecil sudah telihat berkepribadian teguh, si Jugulbaut (si Badung). Masa remaja, Amir menimba pendidikan Belanda di ELS setara Sekolah Dasar di Medan sejak tahun 1914 hingga tahun 1921. Tahun 1926 atas undangan sepupunya, TSG. Mulia pendiri penerbit Kristen BPK Gunung Mulia yang baru saja diangkat sebagai anggota Volksraad (Dewan) belajar di Kota Leiden, Belanda mengajak Amir untuk juga sekolah di Belanda. Di Belanda, Amir aktif berorganisasi pada Perhimpunan Siswa Gymnasium, Haarlem. Selama masa itu pula dia aktif mengelar diskusi-diskusi Kelompok Kristen, di kemudian hari Kelompok Kristen menjadi embrio lahirnya Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia. Di Belanda, dua sepupu ini menumpang di rumah seorang guru penganut Kristen Calvinis bernama Dirk Smink. Kristen Calvinis adalah aliran gereja yang ketat soal doktrin. Calvisnis berasal dari spirit ajaran John Calvin (1509-1564). Sebenarnya Amir Sjarifuddin seorang Muslim. Berpindah agama Kristen saat di Belanda, tetapi dibaptis di HKBP Kernolong, Jakarta tahun 1931. Dia tidak saja hanya berpindah iman tetapi mendalami agama Kristen sungguh-sungguh. Tiap hari Minggu turut berkhotbah. Khotbahnya selalu menyetuh, dan meneguhkan banyak orang. Paparannya tentang Injil sangat mendalam. Amir adalah orang yang berpengetahuan tinggi, soal politik dan teologia. Bahasanya sederhana dan lugas. Amir sebagai seorang orator yang sangat brilyan, yang suka membumbui kata-katanya dengan humor, karenanya ia menjadi sangat populer. Sebagai orang yang Kristen sejati, Ade Rostina Sitompul, aktivis kemanusiaan. Ade punya kenangan pada sosok Amir Sjarifuddin, karena ayahnya Kasianus Sitompul berkawan dengan Amir. Amir tinggal di Daerah Guntur, Jalan Sumbing. Kawasan Guntur terkenal dengan kampung Batak. Kala itu, orang Batak bergereja di rumah salah satu warga bermarga Nainggolan, disanalah sering Amir berkotbah. “Kohtbahnya bersemangat nasionalisme. Bagaimana mengusir Jepang, bagaimana hidup sebagai Kristen. Dia bercerita bagaimana kenangan-nya dipenjara Jepang, dia suruh minum sebanyak-banyaknya, lalu dia digantung dengan kepala ke bawah, lalu air tumpah keluar semua. Saya melihat sosok Amir itu adalah orang yang bersahabat, selalu mengajak anak-anak dialog. Yang pertama dia Tanya sudah berdoa belum? Namanya harus dipulihkan. Apalagi setelah buku yang ditulis dengan Sumarsono itu,” ujar Ade Rostina Sitompul. Soal semangatnya Kristen-nya, Amir Sjarifuddin mengidolakan Toyohiko Kagawa (1888-1942). Kagawa adalah tokoh Kristen Jepang, yang dulunya adalah penganut agama Shinto. Hidup dengan orang-orang miskin di daerah kumuh, Shinkawa, Jepang. Dia dikenal sebagai bapak dari gerakan buruh di Jepang, seorang pendiri Serikat Buruh pertama di Jepang yang menyerukan melawan materialisme, kapitalisme. Bagi Kagawa, Kekristenan seharusnya malu mendirikan gereja-gereja besar dan mahal, tetapi gagal mengikuti manusia yang lahir di palungan dan dikubur makan milik orang lain. Bagi Kagawa Salib Jesus itu kuasa yang besar. Amir tidak hanya pintar berbicara, tetapi pintar menulis. September 1927, sekembalinya dari Belanda, Amir masuk Sekolah Hukum di Batavia dan tinggal di asrama pelajar Indonesisch Clubgebouw, Kramat nomor 106. Dalam memperjuangkan kemerdekan Indonesia, dia terlibat berbagai pergerakan bahwa tanah. Tahun 1931, Amir mendirikan Partai Indonesia (Partindo). Lalu, mendirikan Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo) sembari menulis dan menjadi redaktur “Poedjangga Baroe”. Tahun 1928-1930 dia adalah pimpinan redaksi majalah Perhimpunan Pemoeda Pelajar Indonesia (PPPI). Sebagai seorang wartawan, dia menulis dengan nama samaran “Massa Actie”. Tahun 1942, sebelum dipenjara Jepang, Amir bersama sejumlah orang Kristen menerbitkan Boekoe Peringatan Hari Djadi Isa A-Maseh. Pada bulan Januari 1943 dia tertangkap oleh fasis Jepang, karena dianggap pemberontak. Kejadian itu membongkar jaringan, organisasi anti-fasisme Jepang yang dimotori Amir. Amir dituduh memimpin gerakan di bawah tanah yang dibiayai dengan uang sebesar 25 ribu Gulden dari Van der Plas. Untuk hal ini, Amir dihukum mati oleh Jepang. Namun, intervensi Soekarno hukuman itu tidak dilaksanakan. Sebuah dokumen Netherlands Expeditionary Forces Intelligence Service (NEFIS), menyebutkan, instansi rahasia yang dipimpin Van Mook, 9 Juni 1947 menulis tentang Amir; “ia mempunyai pengaruh besar di kalangan massa dan orang yang tak mengenal kata takut”. Juli 1945, Amir menulis di Harian Belanda “Nieuwsgier”, bahwa ia tidak seperti Sjahrir, yang sudah merasa senang dengan berada di tengah kalangan intelektual. Zaman baru ini mendorong umat Kristen Indonesia untuk lebih serius memikirkan masa depannya. Berbuat untuk negara ini. Pendiri Jong Batak Tahun 1925, sejak “Jong Sumatra”, kesadaran Batak mulai mucul. Amir Sjarifuddin, Sanusi Pane (1905-1968), dan teman-temanya yang sesama etnis Batak, mendirikan organisasi yang disebut “Jong Batak”. Organisasi pemuda Batak ini dibentuk atas kesadaran, karena nominasi “Minang” yang lebih dominan di organisasi “Jong Sumatra “ itu. Atas kesadaran itu Amir dan rekannya membangun semangat baru bagi pemuda Tanah Batak. Salah satu kesepahaman mereka adalah “Bahasa Batak kita begitu kaya akan puisi, pepatah dan pribahasa yang kadang-kadang mengandung satu dunia kebijaksanaan tersendiri. Bahasanya sama dari Utara ke Selatan, tapi terbagi dengan jelas dalam berbagai dialek. Kita memiliki budaya sendiri, aksara sendiri, seni bangun yang tinggi mutunya, yang sepanjang masa tetap membuktikan bahwa kita memiliki nenek-moyang yang perkasa. Sistim marga yang berlaku bagi semua kelompok penduduk negeri kita menunjukkan adanya tata Negara lama yang bijak. Kita mempunya hak untuk mendirikan sebuah Perserikatan Batak yang khas, yang dapat membela kepentingan-kepentingan kita dan melindungi budaya kuno kita…” (Hans Van Miert, hal 475). Dihapus dari Sejarah Dia dieksekusi pada Peristiwa Madiun tragis 19 Desember 1948, pada usia 41 tahun. Dihujat berlebihan. Purbasangka yang tak berdasar. Orang PKI menyebutnya, “krucuk” anak bawang dalam politik, dia nyaris tidak mendapat tempat dari teman-temannya. Lawan politiknya menyebutnya dia arogan. Pada 29 November 1948, Amir dua rekannya Soeripino dan Harjono bersembunyi di sebuah gua di Pengunungan Gua Macan, sebelah Utara Klabu, Panebahan. Dari dalam gua Amir sempat menyerukan “Saya hanya mau menyerah pada pasukan Panebahan Senopati.” Baru menyerahkan diri tanpa menggunakan sepatu, berpiyama dan memegang pistol, janggutnya tidak terurus dan rambutnya acak-acakkan. Amir diberondong senjata tim eksekusi, suruhan Kolonel Gatot Subroto, distigma otak dari semua malapetaka Madiun 1948. Sebelum ditembak, Amir sempat bertanya ke komandan regu tembak. “Apakah niatnya itu sudah dia pikirkan dengan matang. Bahwa jika saya mati, negara akan rugi besar,” dengan tegas dijawab “Saya mengikuti komando”. Untuk terakhir kalinya, Amir sempat menulis surat untuk isterinya. Setelah itu dia bernyanyi Indonesia Raya dan Internasionale baru ditembak. Saat dieksekusi ia memegang Alkitab. Wartawan senior, Rosihan Anwar menulis, Amir dieksekusi dengan menggenggam sebuah buku doa Kristen, bukan Alkitab. George Mc Turnan Kahin penulis buku Nationalism and Revolution in Indonesia menceritakan bahwa Amir Sjarifuddin menjadi tokoh oposisi di barisan Sayap Kiri karena Dia merasa ditinggalkan oleh Aerika yang katanya jago demokrasi itu. Amir Sjarifuddin “kecewa kepada Amerika sewaktu perundingan Renville”. Kegengerian itu tidak hanya berhenti disitu. Setelah dia mati, keluarganya terluntah-luntah. Dua tahun setelah meninggal, atas perintah Presiden Soekarno, pada tanggal 15 November 1950, pusaranya digali kembali, dilakukan proses identifikasi selama seminggu. Setelah proses identifikasi, diadakan serah terima kerangka kepada keluarga, dimakamkan kembali dengan nisan masing-masing berjajar. Masa Orde Baru tahun 1965, pasca-G30S, sekelompok pemuda menghancurkan pusara itu lagi. Lalu ditutupi dengan potongan rel kereta api, setiap sisi diberi cor semen. Makam-makam baru juga dibangun bersebelahan dengan setiap sisi sehingga kerangka Amir Sjarifuddin sulit dipindahkan keluarga. Warga desa Ngaliyan tidak berani menghalang-halangi pemuda-pemuda tersebut sebab pada saat itu terror juga turut mereka rasakan. Kesulitan untuk memugar makam tersebut dirasakan pihak keluarga harus mengurus perizinan yang rumit dari aparat pemerintah desa hingga pemerintah pusat. Lucunya harus persetujuan Kodim serta pihak Departemen Pertahanan Keamanan. Informasi tentang Amir Sjarifuddin pun sengaja ditutup-tutupi. Di sekolah, belajar sejarah, nama Amir tidak pernah terdengar. Itu sebabnya sosoknya tidak banyak yang tahu, dan jarang diangkat media. Informasi tentang pejuang-nya selalu dibragus. Satu fakta, Majalah Prisma tahun 1982 pernah hampir dibredel karena memuat tentang tulisan Amir Sjarifuddin, dalam rangka 75 tahun Amir Sjarifuddin. Tahun 1984 Penerbit Sinar Harapan pernah menerbitkan tesis Frederiek Djara Wellem berjudul: “Amir Syarifuddin; Pergumulan Iman dan Perjuangan Kemerdekaan”. Sayang, buku itu di-sweeping oleh pemerintahan Soeharto, karena dianggap merusak sejarah Indonesia. Pada 27 Mei 2008 lalu, untuk mengenang jasa-jasanya, STT Jakarta mempelopori seminar bertajuk “Amir Syarifuddin Nasionalis Pejuang Kemerdekaan dan Pembebasan Rakyat”. Tampil sebagai pembicara: Setiadi Reksoprodjo mantan menteri pada kabinet Amir Syarifuddin, Ketua STT Jakarta Dr. Jan .S Aritonang, Aswi Warman Adam dosen sejarah dan peneliti. Seminar dimoderatori Fadjroel Rahman. Perjuanganya tidak pernah dihargai negara. Untuk pemugaran makam-nya saja dibutuhkan waktu 60 tahun. Pemungaran baru bisa tahu lalu dipelopori lembaga Ut Omnes Unum Sint Institute dalam bahasa Latin, yang artinya Agar Semua Satu Adanya. Lembaga yang didirikan 17 pemuda Batak, saat ini diketuai Jones Batara Manurung. Pemungaran tepatnya dimulai 12 Agustus 2008, dengan serangkaian tahapan antara lain: Pertama, pendekatan pada warga desa Ngaliyan dengan koordinasi dengan Komnas HAM. Lalu dilakukan pertemuan seputar teknis pelaksanaan pemugaran, oleh Ut Omnes Unum Sint Institute memberitahukan perihal rencana pemugaran pada pihak pihak Kecamatan Karanganyar. Setelah pemugaran selesai, tanggal 14 November diadakan Ibadah Syukur di Gereja Dagen Palur, Solo dihadiri para undangan dari berbagai Gereja, LSM, organisasi kemahasiswaan di Solo dan Yogyakarta. Saat ini di Desa Ngaliyan, setiap bulan “Ruwah”, satu bulan sebelum puasa Islam warga punya tradisi membersihan, perbaikan makam. Bagi masyarakat Ngaliyan, Amir Sjarifuddin dan kawan-kawan adalah pahlawan. Dulu, setiap bulan Ruwah, warga Ngaliyan tidak berani membersihkan makam, takut dicap PKI. Sebutan tak kalah kejam adalah dia disebut seorang ateis, atau seorang yang beragama komunis. Tetapi kebenaranya sejarah merungkap bahawa ideologi politiknya memang komunis, tetapi dia bukan anti-agama. Para pemimpin agama anti-komunislah menyebut dia ateis. Amir jelas penganut humanis, politikus flamboyan, seniman. Tak kala galau dia mengesek biola saban dulu menjadi kegemarannya. Tidak ada tanda-tanda dia ateis. Aristoteles mengatakan “Nilai manusia, bukanlah ditentukan oleh kehancuran hidup dan cita-citanya tetapi oleh perjuangannya mempertahankan harkat kemanusiaannya.” Kata-kata itulah yang tepat mengambarkan hidup tragis Amir Syarifuddin Harahap.

Theologi Pembebasan

amir-1

 

 

 

Indonesia pernah memiliki seorang perdana menteri yang sengaja dilupakan. Di bawah genderang revolusi pertama dia memimpin Indonesia. Dialah Amir Syarifuddin, yang mati seperti Pattimura, dieksekusi mati ketika mereka memegang Injil. Berdasarkan berita yang kita terima dari detik.com, pada 09 Agustus 2006 telah ditemukan di sebuah pemakaman Umum Ngaliyan, Lalung, sekitar 5 km di selatan Kota Karanganyar, seperti makam-makam desa lainnya. Sebatang pohon kamboja tumbuh di tengah jejeran nisan-nisan, berdiri tegak lurus dengan sebatang pohon asam yang rimbun. Sekeliling pemakaman dipagari tembok setinggi 1,5 meter.

Setitik nilai historis yang terlupakan pada sepetak tanah berukuran sekitar 2 x 8 meter yang ada di tengah pemakaman. Letaknya di dekat pintu gerbang yang terbuat dari besi bercat hijau. Gundukan itu tak bernisan. Tak ada penanda apa pun. Di atasnya, tumbuh sejumput tipis rerumputan kering diselingi beberapa tangkai ilalang. Sekitar 1,5 meter di bawah gundukan tersebut, terbujur jasad Amir Syarifuddin. Amir Syarifuddin adalah salah satu dari tokoh Empat Serangkai (Soekarno, Hatta, Syahrir, Amir Syarifuddin), yang memimpin pemerintahan pada zaman revolusi. Amir tidak sendirian di kuburnya. Bersamanya, dalam satu lubang yang sama, terbujur 10 rekannya. Ya, akibat petualangan politiknya bersama Partai Komunis Indonesia (PKI), tengah malam pada tanggal 19 Desember 1948, mereka dieksekusi bersama-sama oleh polisi militer, anak buah Kolonel Gatot Subroto di lokasi tersebut.

Eksekusi itu sendiri tanpa melalui pengadilan militer dan lebih dipicu sebagai kepanikan menyusul Agresi Militer II Belanda atas Kota Yogyakarta pada pagi harinya. Sebab, pada Agresi Militer I, 21 Juli 1947, para tahanan republik di LP Wirogunan memanfaatkannya untuk kabur tanpa sempat diadili. Sejarah memang mencatat kelam nama Amir. Perannya sebagai pelaku Sumpah Pemuda (Jong Batak) 1928 dan pejuang anti-Jepang, hingga nyaris dihukum mati, jarang diungkit-ungkit. Apalagi kabar dari salah satu versi, bahwa dialah sebenarnya calon proklamator utama NKRI, sebelum akhirnya pilihan pemuda-pemuda revolusioner jatuh pada Soekarno-Hatta.

Catatan yang muncul dalam lembar sejarah adalah hujatan atas kegagalannya sebagai perdana menteri dengan menandatangani Perjanjian Renville (1948). Dan yang paling fatal adalah kiprahnya sebagai tokoh PKI pendukung negara Sovyet Republik Indonesia bentukan Musso di Madiun tahun 1948 yang sekaligus anti-Perjanjian Renville. Sungguh, citra sempurna untuk orang yang dicap pengkhianat bangsa. Coreng itulah yang menjadikan Amir menjadi stigma hitam bahkan hingga saat tubuhnya menyatu dengan bumi. Sebetulnya, ketika masa traumatik terhadap PKI berakhir, sekitar tahun 1951 sudah ada upaya untuk mengurus jasad Amir dan rekan-rekannya dengan layak. Saat itu, dilakukan upaya penggalian kembali. Jasad 11 orang yang bertumpuk-tumpuk, dirapikan. (www.detik.com, Rabu, o9/08/2006, 09:23 WIB)

Masing-masing diidentifikasi dan dimakamkan secara layak meski tetap dalam lubang yang sama. Pada makam, bahkan sudah dilakukan pengecoran dan pemberian nama 11 nisan sesuai dengan urutannya. Berdasarkan keterangan warga, keadaan makam saat itu bersih dan rapi. “Bahkan ada juru kuncinya, yakni Pak Mangun,” ujar Warsiman, penduduk di sekitar makam, seperti dikutip detik.com. Sanak saudara Warsiman, adalah salah satu penduduk yang diminta aparat untuk menggali lubang kubur Amir dan rekan-rekannya pada tahun 1948. Warsiman yang sekitar tahun 1964, menginjak usia SD, bahkan masih ingat, bila akhir pekan, makam tersebut laksana pasar. “Banyak yang berziarah sampai dipenuhi penjual makanan. Saya dulu malah sering dikasih permen oleh para penziarah,” kata dia. Namun seiring dengan peristiwa 30 September 1965 yang kembali melibatkan tokoh-tokoh PKI, keriuhan itu bubar. Suatu hari, di tahun 1965, tanpa alasan yang jelas, sekelompok orang tak dikenal datang merusak makam Amir dan rekan-rekannya tersebut dan mencabuti papan nisan mereka. Sejak itu, makam Amir cs menjadi tak terawat. Tak ada penduduk yang berani untuk sekadar membersihkannya. Mereka takut dicap pro-PKI yang menjadi stigma kental era Orde Baru.

Waktu akhirnya memangsa reruntuhan makam disaput tanah dan rerumputan. Hanya kambing-kambing kampung yang setia merawat, menyiangi agar rumput tak bertambah tinggi. Padahal niatan untuk sekadar memuliakan orang yang telah meninggal pernah ada. Dulu ada usulan dari kampung agar di sekitar makam  didirikan cungkup. Ya, sekadar untuk tempat berteduh bagi peziarah makam yang kepanasan. Tapi usul ini kandas di tangan pemerintah lokal. “Akhirnya sampai sekarang begini keadaannya. Tidak ada yang ngopeni. Bahkan anak-anak zaman sekarang banyak yang tak tahu, itu makam bekas pembesar.” Warsiman benar, faktanya, detik.com menjumpai sangat sedikit penduduk Karanganyar yang tahu soal sejarah makam Amir Syarifuddin. Sungguh pun begitu, bukan berarti tak ada peziarah. Penduduk sekitar mengaku sesekali melihat orang-orang asing, menyambangi makam. Umumnya mereka mengendarai mobil bernomor polisi Jakarta. “Mereka nyekar sambil menangis-nangis di depan makam. Mereka sudah tahu makam itu, meskipun tidak ada nisannya. Mungkin keluarganya,” ujar Warsiman. Begitulah, bangsa ini boleh menafikannya. Namun bagi beberapa orang, sepetak tanah berukuran 2 x 8 meter tersebut masih memiliki arti.

Spirit Anti Kolonialisme

Persinggungan Amir dengan dunia pergerakan dimulai saat ia aktif berorganisasi di Perhimpunan Siswa Gymnasium selama mengenyam pendidikan di Belanda. Ketika berkecimpung di organisasi inilah, Amir menjadi penggerak kelompok diskusi Kristen yang bernama Christelijte Studenten Vreeninging op Java (CSV op Java).

Diskusi-diskusi yang diadakan CSV op Java tersebut membahas berbagai persoalan politik yang berkaitan dengan situasi pergerakan nasional di tanah air. Kelompok CSV op Java ini dikemudian hari bermetamorfosa menjadi Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI).

Sepulangnya dari Belanda pada tahun 1927, Amir meneruskan pendidikannya di Sekolah Hukum Batavia. Persinggungannya dengan berbagai aktivis pergerakan membuat spirit anti kolonialisme Amir makin membara.

Pada tahun 1928, Amir turut berpartisipasi dalam Kongres Pemuda ke-2 sebagai wakil dari Pemuda Batak (Jong Batak).

amir syarifudin2
Amir Syarifudin dan Moh Hatta

Tahun 1931, Amir ikut mendirikan Partai Indonesia (Partindo), partai yang mengusung azas Marhaenisme ajaran Bung Karno. Keterlibatannya dalam Partindo membuat Amir akrab dengan pandangan politik nasionalis kiri atau nasionalis kerakyatan.

Pandangan politik yang condong ke kiri itulah yang menggerakannya untuk mendirikan Gerakan Rakyat Indonesia bersama aktivis pergerakan kiri lainnya. Amir juga dikenal sebagai tokoh yang berjuang melalui media massa.

Ia menjadi pemimpin redaksi Indonesia Raja, majalah Perhimpunan Pemuda Pelajar Indonesia (PPPI) pada tahun 1928-1930.

Pergerakan politik Amir yang bersifat radikal membuat pemerintah kolonial Belanda gerah. Pada tahun 1933, Amir ditangkap pemerintah kolonial dan dijatuhi hukuman 18 bulan penjara karena tulisan-tulisan di majalah Banteng yang dipimpinnya dianggap menghina pemerintah.

Pejuang Revolusi yang Berakhir Tragis

Ketika Hindia Belanda terancam oleh invasi Jepang sebagai dampak dari Perang Pasifik, Amir menegaskan posisi politiknya yang menentang pendudukan Jepang atas Indonesia. Pergerakan bawah tanah Amir yang menentang pendudukan Jepang membuat Amir kembali menjadi buruan penguasa.

Pada tahun 1943, ia ditangkap Kempetai (intelijen militer Jepang). Setahun kemudian, Amir dijatuhi hukuman mati oleh Mahkamah Militer Jepang, namun hukuman tersebut urung dilaksanakan setelah adanya intervensi Soekarno.

Pasca Proklamasi kemerdekaan, Amir diangkat sebagai Menteri Penerangan pada kabinet pertama Republik Indonesia secara in-absentia oleh Presiden Soekarno. Kiprahnya dalam pemerintahan dimulai sejak saat itu. Namun Amir tidak meninggalkan dunia politik. Di akhir tahun 1945, ia mendirikan Partai Sosialis bersama Sjahrir.

Gebrakan Amir dimulai ketika menjabat Menteri Pertahanan pada Kabinet Perdana Menteri (PM) Sjahrir I. Amir memperkenalkan lembaga Biro Perjuangan yang mengintegrasikan laskar-laskar rakyat dalam pertahanan revolusi Indonesia. Dari sinilah berkembang konsep Tentara Kerakyatan.

Pasca jatuhnya kabinet Sjahrir sebagai akibat dari ditandatanganinya Perjanjian Linggarjati, Soekarno memberi mandat pada Amir untuk menyusun kabinet. Dengan dukungan PNI dan Masjumi, Amir membentuk kabinet baru pada 3 Juli 1947.

Karir Amir di pemerintahan meredup setelah ia menandatangani Perjanjian Renvile yang sangat merugikan Indonesia. PNI dan Masjumi yang notabene bagian dari pemerintahan Amir menyerang kebijakan tersebut. Amir pun mengembalikan mandat pada Soekarno di awal tahun 1948.

Amir bersama Partai Sosialis yang dipimpinnya bergabung dengan PKI pimpinan Muso dan organisasi kiri lainnya dalam Front Demokrasi Rakyat (FDR) dan menjadi oposisi pemerintahan baru pimpinan PM Hatta.

Kebijakan Hatta yang menyingkirkan laskar-laskar rakyat dari tubuh angkatan perang melalui reorganisasi dan rasionalisasi (Re-ra) menimbulkan kemarahan Amir dan FDR. Amir merasa konsep Tentara Kerakyatan yang dirintisnya dibuang begitu saja oleh pemerintah.

Clash antara pemerintah Hatta dengan FDR mencapai klimaks ketika pada tanggal 18 September 1948 pemerintah Hatta menuding FDR melakukan coup d etat di Madiun. Pemerintah Hatta langsung menindak tegas seluruh kekuatan politik yang berafiliasi dengan kaum kiri atau FDR.

Amir beserta ribuan orang kiri ditangkap TNI pada akhir November 1948. Amir tetap menyangkal tuduhan kudeta yang dilayangkan pemerintah kepadanya. Ia menegaskan bahwa ia adalah seorang nasionalis yang loyal pada Republik Indonesia. Namun riwayat Amir tampak kian mendekati akhir.

amir-1

Seperti yang dideskripsikan Fred Wellem dalam bukunya, Amir Sjarifudin : Tempatnya dalam Kekristenan dan Perjuangan Kemerdekaan Indonesia (1982), Amir beserta sepuluh orang tahanan politik Madiun lainnya dieksekusi tembak di Ngalihan Solo pada tanggal 19 Desember 1948.

Ketika akan ditembak mati, Amir meminta waktu satu jam untuk berdoa. Setelah itu ia menyanyikan Indonesia Raya dan Internationale. Ia pun tewas dengan tangan memegang Alkitab.

Seorang pejuang revolusi menemui ajal secara tragis dengan menyandang status sebagai pemberontak. Seluruh karya perjuangan Amir sejak masa pergerakan nasional hingga revolusi kemerdekaan seakan tenggelam oleh pemberontakan PKI di Madiun.

Sebuah peristiwa yang hingga kini masih mengundang tanda tanya besar. Begitulah nasib Amir Sjarifudin Harahap, nasionalis berdarah Batak yang terlupakan.

Jose Mujica Presiden Termiskin Di Dunia

Jose Mujica Presiden Termiskin Di Dunia Seorang presiden umumnya hidup enak dan nikmat dengan berbagai fasilitas dan kemudahan yang diberikan dan tentu saja gaji yang besar. Namun percaya atau tidak, hal berbeda didapatkan oleh presiden yang satu ini. Dia mendapat sebuah julukan dari rakyatnya sebagai ‘presiden paling miskin di dunia’.
www.anehdidunia.com

Dialah Jose Mujica, presiden Uruguay dijuluki sebagai “el presidente mas pobre” yang berarti presiden termiskin. Ini disebabkan karena presiden yang berusia 77 tahun tersebut menyumbangkan hampir seluruh gajinya sebagai orang nomer satu untuk rakyat.
Kepada surat kabar Spanyol, El Mundo, Sahabat anehdidunia.com Jose Mujica mengaku menerima gaji sebesar USD 12.500. Namun ia hanya mengambil USD 1.250 dari gajinya. Alhasil ia pun dianugerahi gelar lain sebagai presiden paling dermawan di dunia.

www.anehdidunia.com

“Saya baik-baik saja dengan jumlah (uang) itu, karena di Uruguay banyak yang hidup dengan penghasilan yang penghasian yang jauh lebih sedikit dari itu.” tuturnya merendah. Seperti yang dilansir oleh Yahoo, Jose Mujica juga mengajak istrinya yang merupakan seorang senator untuk melakukan hal yang sama.

Langka! Presiden Jose Mujica bersedia mendonasikan 90 persen gajinya untuk rakyat. Jose Mujica tinggal di rumah pertanian di Montevideo. Selama dirinya menjadi presiden, pengeluaran terbesar yang pernah ia keluarkan adalah pembelian sebuah mobil Volkswagen Beetle, senilai USD 1.945.

Hal positif lain yang patut diacungi jempol di masa kepemimpinan Mujica adalah tingkat korupsi yang paling sedikit di antara negara di benua Amerika Selatan. Pria yang merupakan mantan pejuang gerilya ini sama sekali tidak memiliki rekening bank ataupun utang. Meski begitu ia mengaku memiliki satu hal berharga yang tidak bisa dibeli oleh uang, yaitu anjingnya, Manuela.
Di bawah kepemimpinannya, Uruguay mendapat julukan sebagai negara dengan tingkat korupsi paling kecil. Diketahui, Jose Mujica bukanlah presiden pertama yang menyumbangkan gajinya. Presiden AS John F. Kennedy, menyumbangkan gajinya, hal serupa juga dilakukan Presiden Herbert Hoover. Selayaknya hal ini patut di contoh bagi para pemimpin di dalam negeri kita. Pemimpin yang benar-benar mengabdikan diri dan kekayaannya untuk rakyat. Bukan hanya untuk kekuasaan dan harta.

Parmalim bukan agama Sisingamangaraja XII

Parmalim

 Pendahuluan;

  Sidjabat berpendapat  (1983:326) dan percaya bahwa Sisingamangaraja sendiri sebagai penemu/pendiri sekte Parmalim.

Sedangkan Sitor Situmorang (1993) menjelaskan sebuah interpretasi historis mengenai munculnya sekte Parmalim dengan Sedikit  berbeda. Ia (Situmorang 1993:63) mengatakan bahwa Somaliang telah datang kepada Raja Sisingamangaraja XII dan menyatakan mengenai ‘visi’nya untuk mendirikan sekte Parmalim masyarakat Batak Toba, namun ‘Raja Sisingamangaraja menjadi marah dan menolak Somaliang’. Dan pada

suatu ketika, Sisingamangaraja telah ditanya oleh seseorang mengenai agamanya; ia kemudian menjawab,‘Agamaku adalah agama di atas segala agama.’

 sitor

Parmalim: diskursus kesejarahan dan proses rasionalisasi religius

 

Secara historis, religi Parmalim pertama kali diprakarsai oleh seorang datu bernama Guru Somaliang Pardede (Horsting 1914; Tichelman 1937; Helbig 1935), seorang yang sangat dekat dengan Sisingamangaraja XII (raja terakhir dari dinasti Sisingamangaraja). Menurut beberapa penulis Barat, ajaran ini dijalankan oleh para pengikut Sisingamangaraja (khususnya oleh dua orang pemimpin perangnya, Guru Somaliang dan Raja Mulia Naipospos), dengan tujuan untuk melindungi kepercayaan dan kebudayaan tradisional Batak Toba dari

pengaruh Kristen, Islam, dan kolonialis Belanda (Sidjabat 1983:326) 8 . Masashi Hirosue (1988:75-76) berpendapat bahwa gerakan Parmalim merupakan ‘gerakan anti mesianis-kolonial’ yang ingin menghancurkan kerajaan Sisingamangaraja.  Ia selanjutnya menjelaskan,‘gerakan religi baru’ dari Somaliang pada umumnya bisa dipahami sebagai gerakan mesianis yang mengantisipasi kemunculan

kembali dari Si Singamangaraja, dan sekaligus juga merupakan sebuah reaksi terhadap pemerintah kolonial Belanda dan Kristenisasi terhadap masyarakat Batak Toba.

Di dalam kehidupan masa lalunya Somaliang Pardede pernah bertemu dengan Dr.Modigliani—seorang pendeta Katolik,

sekaligus juga seorang ahli tumbuhan, berkebangsaan Itali—yang bekerja di tanah Toba sejak 1889 hinga 1891. Ia telah menjadi pemandu Modigliani selama periode waktu itu.

SSmXII-OB-Sitor

Pada saat bersamaan, Somaliang juga mempunyai kontak dengan warga Muslim Aceh di timur Sumatera. Hubungan Somaliang dengan orang Aceh pada dasarnya merupakan suatu kolaborasi untuk menghadapi opresi kolonial Belanda di wilayah utara Sumatera.

Karena Somaliang telah diasumsikan oleh Belanda sebagai seorang ekstrimis yang berbahaya, ia akhirnya ditangkap dan dibuang ke Pulau Jawa pada tahun 1896. Namun demikian, ajaran Parmalim tetap dipraktekkan oleh murid-murid Somaliang dan pengikutnya yang lain setelah pengasingannya. Tetapi mereka menghadapi opresi yang baru, yakni berbagai tekanan dari misionaris Kristen (Horsting 1914:163).

Tichelman (1937:27-28) menyatakan bahwa terjadinya kontak kebudayaan telah mempengaruhi terbentuknya ajaran Parmalim,dan menghasilkan produk religi ‘sinkretis’ sebagai contoh dapat ditemukan beberapa elemen Katolik di dalamnya, seperti ‘Jahowa’ (Jehovah, nama Tuhan dalam ajaran Katolik),

‘Maria, Yesus’, dan nama-nama orang suci dalam ajaran Katolik. Pengaruh Islam juga terdapat di dalam ajaran tersebut.

Nama ‘parmalim’ itu sendiri berasal dari kata ‘malim’,

yakni dari kata Melayu ‘malim’ yang berarti “ahli dalam pengetahuan agama’ (dalam bahasa Arab, ‘muallim’).

 

Tidak seperti Tichelman, interpretasi Horsting (1914) terhadap

historiografi religi Parmalim sedikit berbeda. Ia menyatakan, religi Parmalim merupakan percampuran (blend) dari ajaran Jahudi, Katolik,Islam dan ajaran Sipelebegu 9 .

 

Tuhan mereka adalah Jehowah yang mengirim/menghadirkan Si Singamangaraja untuk menggantikan diriNya. Setelah kematiannya, para pengikut Parmalim percaya bahwa jiwanya mendapat tempat ‘di sisi tangan kanan dari Jahowa’ (Horsting 1914:1963-164; lihat juga Helbig 1935).

 

Pendapat dan pandangan mengenai keberadaan religi Parmalim juga banyak dibicarakan oleh para peneliti penduduk asli

Batak Toba sendiri; di antaranya Nurmasita R.Gultom (1990), Bernard Purba (1986); dan Gerfarius Aritonang (1991).

 

Gultom (1990) menyatakan bahwa ‘agama’ tradisional Batak Toba dikombinasikan dalam beberapa organisasi religius yang di antaranya disebut Parmalim, Si Raja Batak, dan kelompok

masyarakat tradisional yang tidak memeluk satu pun dari keduanya. Setelah agama Kristen dan Islam masuk ke tanah Batak, sebagian masyarakat menerima dan berpindah ke salah

satu dari kedua agama tersebut.

 

Meskipun mereka telah menganut salah satu agama,berbagai konsep berasal dari kepercayaan tradisional tetap dipraktek-kan, khususnya pada masyarakat yang berdiam di pedesaan.

Kebanyakan masyarakat menganggap, konsep maupun perilaku tradisional tersebut hanya sebagai ‘adat’. Kenyataannya, sulit untuk membedakan/memisahkan antara ‘adat’ dan ‘religi’ dalam kehidupan orang Batak Toba.Kedua aspek tersebut menyatu di dalam kebudayaan spiritualnya (Gultom 1990:31; lihat juga Pelly 1986/87:2).

 

Interpretasi lain dari religi Parmalim datang dari Aritonang10 , seorang penduduk asli Batak Toba yang sedang melakukan penelitian intensif di tengah masyarakatnya. Ia menduga

bahwa Parmalim berasal atau bersumber dari berbagai kepercayaan tradisional Batak Toba yang ‘secara ritual dan politis diorganisasi/diformulasikan’, sebagai suatu reaksi terhadap situasi sosial politis yang terjadi. Ia menyatakan

bahwa terdapat kesamaan antara tonggo (satu upacara religius-tradisional persembahan)—khususnya di dalam upacara Saem (lit.:‘penyembuhan’)—dengan ritual yang terdapat di dalam religi Parmalim.

Meskipun dalam kepercayaan tradisional Batak Toba, tiap upacara memiliki cara tersendiri dalam pelaksanaannya, di dalam Parmalim, para anggotanya telah mengakumulasi upacaraupacara yang berbeda-beda tadi ke dalam ritualritual ‘khusus’ yang ‘baku’ dengan cara-cara dan terminologi tersendiri.

Sehubungan dengan kata ‘parmalim’ itu sendiri, Aritonang menolak berbagai asumsi yang dikemukakan terutama oleh para ilmuwan seperti Tichelman, Horsting, dan Helbig.

Ia berpendapat bahwa kemungkinan besar kata ‘parmalim’ berasal dari vokabuler bahasa BatakToba sendiri. Setelah meneliti dan menganalisis gambaran linguistik (linguistic

features) dari konsep dan penggunaan bahasa Batak Toba, ia memunculkan hipotesa bahwa kata ‘parmalim’ dapat disarikan berasal dari beberapa fonem, ‘par-mala-ham’ (lit.: ‘orang yang baik’) yang memiliki akar kata ‘mala’ (lit.:‘sesuatu yang ditanyakan/diminta, itu akandiberikan’).

 

Parmalim: religi lokal versus agama negara

 

Mengacu pada asumsi serta kebijakan pemerintah bahwa dalam beberapa hal, kebudayaan lokal-tradisional harus

‘dipreservasi’ dan ‘dikembangkan’—sejalan dengan idealisasi terhadap apa yang disebut ‘kebudayaan nasional Indonesia’—pemerintah Indonesia mempromosikan ‘riset dan penelitian’ terhadap berbagai kebudayaan lokal-tradisional melalui sensus yang langsung berada di bawah koordinasi program Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Dalam gerakan nasional ini, riset terhadap kepercayaan/religi tradisional pun diikutsertakan sebagai bagian dari program. Pada kenyataannya, religi Parmalim telah menjadi salah satu dari 6 (enam) kepercayaankepercayaan lokal yang akan diteliti olehpemerintah sejak tahun 1985 (lihat Pelly 1986/1987).

 

Parmalim sebenarnya telah terdaftar secara formal empat tahun sebelumnya sebagai salah satu ‘aliran kepercayaan’ melalui sebuah surat yang dilegitimasi oleh Kementrian

Pendidikan dan Kebudayaan di tahun 1980.

Tetapi, untuk mendapatkan status/pengakuan‘religius’ tersebut, para pengikut Parmalim harus mengisi berbagai kriteria-tertulis yang ‘disyaratkan’ oleh pemerintah Indonesia.

Kriteria-prasyarat yang harus dipenuhi oleh para pengikut Parmalim, sesuai tuntutan pemerintah, ialah adanya ‘pedoman dasar’ dan ‘pedoman pelaksanaan’ dari religi yang ada.

Hal yang harus mampu direfleksikan di kedua pedoman tersebut adalah di antaranya kesimpulan dari nama religi, tujuan, latar belakang ideologis, fungsi dan hak-hak dari

para pengikut, dukungan keuangan, dan konstruksi dari sistem kepercayaan-religiusnya.

Salah seorang dari informan warga Parmalim memberikan komentarnya atas kebijakan/tuntutan pemerintah ini, ‘…semua kriteria itu tidak masuk akal sama sekali, itu terlalu

institusional dan politis, … namun, sepanjang kriteria itu dipenuhi tanpa ada hal yang tidak sesuai [bertentangan] dengan hukum dan peraturan pemerintah Indonesia, tidak akan ada masalah; kami (kepercayaan kami) akan diterima’.

Cara pengikut Parmalim menghadirkan dan mengonstruksi religi mereka dalam memenuhi kebutuhan/kepentingan ‘standardisasi agamanegara’ dapat dilihat sebagai berikut:

 

‘… Kepercayaan UGAMO MALIM adalah salah satu kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa sebagai perwujudan sila pertama PANCASILA, dan diatur dalam UUD-1945.

Karenanya warga Penghayat UGAMO MALIM bertanggungjawab serta berkewajiban menghayati, mengamalkan PANCASILA,

serta melestarikan dan menjaga kemurniannya secara utuh sebagai Dasar Negara dan Falsafah hidup bangsa Indonesia’ (Naipos-pos1987:1).’ [Teks diambil dari proposal Parmalim, ‘Pedoman Dasar dan PedomanPelaksanaan: Kelompok Warga PenghayatKepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa

“Ugamo Malim” (Parmalim)’].

 

Sehubungan dengan ide monoteisme,pengikut Parmalim secara sadar menempatkan di depan figur supernatural Mulajadi Na Bolon(lit.: ‘Yang Besar, Yang Mengawali’) untuk

‘menyesuaikan’ konsep tradisional mengenai keTuhanan (divinity) dengan konsep monoteistik negara. Di dalam kepercayaan Parmalim, sesungguhnya terdapat kompleksitas figur supernatural yang memiliki peran dan kepentingan religius yang dapat ditemukan di berbagai praktek-praktek ritual maupun seremonial Parmalim.

Meskipun Parmalim telah diakui oleh pemerintah Indonesia sebagai satu ‘aliran kepercayaan’ yang sah, namun (seperti apa yang dikatakan Raja Marnakkok Naipospos/ Pemimpin Parmalim di Huta Tinggi, Tapanuli Utara), amat sulit bagi pengikut Parmalim untuk mendapatkan kesempatan yang sama di berbagai bidang kehidupan. Beberapa restriksi yang sering dialami meliputi kesulitan untuk mendapatkan posisi tertentu di dalam pekerjaan, memasuki perguruan tinggi, terutama di universitas-universitas negeri, menjadi tentara, dan terkadang juga untuk mendapatkan surat tanda kawin atau kelahiran dari instansi pemerintah terkait. Alasan mengapa ini terjadi,kembali Naipos-pos menyatakan, ‘…sedikit sekali pengetahuan orang Indonesia mengenai keberadaan dari ragam sistem kepercayaan tradisional yang mereka miliki; lebih buruk lagi,masyarakat kelihatannya kurang memahami esensi dari makna religius’. Menanggapi keadaan dan situasi ini, Naipos-pos selanjutnya mengatakan, ‘…kami gembira karena

kepercayaan kami telah diakui pemerintah Indonesia, tidak seperti banyak kepercayaan lain yang masih dianggap “ilegal”. Kami percaya bahwa persepsi masyarakat akan berubah di dalam kehidupan religius masyarakat Indonesia mendatang’.

Di dalam menanggapi keberadaan agamaagama negara, seperti Islam, Kristen dan Budha dan lainnya, para pengikut Parmalim memiliki cara dan interpretasi tersendiri. Bagian dari

dasar interpretasi terkait dengan salah satu konsep dasar ajaran Parmalim, yakni hagogoton 11 .

Hagogoton , secara literalreligius bermakna ‘jika terjadi sesuatu/ kejadian yang tidak benar di suatu tempat tertentu di dunia, Mulajadi Nabolon akan mengutus seorang yang baik yang mampu mengatasi kejadian yang ada’. Dengan konsep dan kesadaran tersebut, para pengikut Parmalim percaya bahwa setiap agama akan melahirkan pemimpinnya masing-masing. Jadi, mereka percaya Musa, Yesus, Muhammad, dan lainnya,muncul untuk kepentingan bangsanya, sama dengan Sisingamangaraja bagi orang Batak-Toba.

 

Gerakan pelestarian budaya yang diprakarsai oleh pemerintah Indonesia, dalam tingkat tertentu, juga telah mempengaruhi

diskursus religius Batak Toba, terlebih dalam menginter pretasikan isu tersebut. Sebagian dari masyarakat Batak Kristen berpendapat bahwa melestarikan kebudayaan Batak Toba atau ‘adat’ adalah bagian dari menegakkan kembali

(re-establihsing ) identitas etnis maupun kultural mereka. Hal ini bukan berarti harus kembali pada kepercayaan tradisional yang ada.

Sebagian yang lain ternyata berpendapat berbeda. Memisahkan adat dari berbagai aspek yang terdapat di dalam kehidupan masyarakat Batak Toba (termasuk aspek religius) adalah suatu hal yang mustahil. Perdebatan pandangan semacam ini kelihatannya terus berlangsung di tengah masyarakat Batak Toba hingga kini.

Hal yang menarik dari adanya fenomena pertentangan ini, terutama bagi masyarakat Kristen Batak Toba yang masih memiliki keinginan atau perasaan yang kuat dan terikat

dengan kepercayaan tradisionalnya, adalah upaya mereka untuk mencoba merekonstruksi satu konsep religius tradisional apa yang disebut ‘hahomion’12 (lit.: ‘rahasia’) menjadi

bagian dari praktek keagamaan. Karena para misionaris Kristen melarang berbagai tipe upacara, terutama yang berbau kepercayaan tradisional, masyarakat akan menggunakan

hahomion untuk menyembunyikan aktivitas ritual seperti ini dari pandangan publik.

Kelihatannya, masyarakat Batak Toba sangat memperhatikan dan saling memaklumi akan kebutuhan itu. Seperti komentar sebagian besar informan penduduk asli yang saya temui

di lapangan, ‘…memberi penghargaan/persembahan kepada roh leluhur sebagai bagian penting dari kehidupan spiritual orang Batak Toba, kelihatannya sama pentingnya bagi yang telah menganut Kristen atau tidak’. Dalam pandangan saya, telah terjadi dualisme kepercayaan di tengah kehidupan masyarakat Batak Toba, terutama yang bermukim di

pedesaan.

 

Kesimpulan

Pandangan maupun kesadaran masyarakat Indonesia, khususnya mengenai penilaian terhadap isu agama-religi-kepercayaan—dalam beberapa tingkatan—telah terbentuk secara politis oleh persepsi maupun asumsi yang dikembangkan oleh pemerintah, baik secara eksplisit maupun implisit. Di satu sisi, idea ‘monoteisme’, sebagai dasar filosofi ‘agama negara’, kelihatannya hanya sekedar bermakna

politis, tanpa usaha untuk memahami berbagai esensi, terutama berkaitan dengan kompleksitas dinamika keagamaan yang terjadi di Indonesia. Berbagai permasalahan yang

dihadapi komunitas warga pengikut Parmalimtelah menjadi contoh. Di sisi lain, peran ilmuwan sosial dalam ‘menegaskan’ dan ‘meligitimasi’ kepentingan politis negara/pemerintah

merupakan hal yang sangat ‘berbahaya’, sebab sifat nature dari berbagai kajian keilmuan yang terus berkembang tidak semata sesuai dengan kebutuhannya. Kekhawatiran ini sesungguhnya telah disinggung dan dikemukakan oleh

Hefner (1993), terutama ketika ia mencoba mempertanyakan kembali pemahaman teks dan konteks rasionalisasi kultural (cultural rationalization)yang ‘sempit’ dengan konsep

rasionalisasi yang lebih luas. Setidaknya,dengan konsep rasionalisasi itu kita tidak mudah terjebak pada penilaian-penilaian ideologis yang subyektif.

Dari sisi pandang linguistik, kekaburan batas antara definisi ‘agama, religi’, dan ‘kepercayaan’ dapat dipahami. Hal itu menjadi wajar saat kita melihat penggunaan kata tidak

hanya terbatas pada eksklusivitas pengertian yang kaku, tetapi menempatkanya pada konteks kompleksitas makna-makna yang lain. Dengan sendirinya, ideologi kebebasan beragama tidak hanya dipahami sebatas hal yang idealnormatif,

tetapi lebih merupakan sesuatu yang muncul dari kesadaran kemanusiaan yang fundamental.

Berbagai kompleksitas persoalan maupun permasalahan sosial yang terjadi di Indonesia saat ini sedikit banyak diakibatkan oleh minimnya kesadaran para ilmuwan sosial di Indonesia

untuk menempatkan serta mensosialisasikan wawasan keilmuan berdasarkan tuntutan dan realitas obyektif di

lapangan. Kecenderungan orientasi disiplin Antropologi di Indonesia (setidaknya, menurut saya) lebih mengarah pada penyesuaian terhadap berbagai kepentingan rezim

pemerintah. Berbagai isu maupun persoalan etnisitas, identitas, multikulturalisme, dan religi di Indonesia mendapat perhatian yang relatif kurang dalam kajian-kajian antropologis, paling tidak sepanjang 32 tahun kekuasaan Orde Baru di Indonesia. Padahal, semua point di atas merupakan bagian dari persoalan yang mendasar yang harus dipahami bangsa yang

multi kompleks ini.

 

 

 

8 Sidjabat (1983:326) percaya bahwa Sisingamangaraja sendiri sebagai penemu/pendiri sekte Parmalim. Sitor Situmorang (1993) menjelaskan sebuah interpretasi historis mengenai munculnya sekte Parmalim dengan Sedikit  berbeda. Ia (Situmorang 1993:63) mengatakan bahwa Somaliang telah datang kepada Raja Sisingamangaraja XII dan menyatakan mengenai ‘visi’nya untuk mendirikan sekte Parmalim masyarakat Batak Toba, namun ‘Raja Sisingamangaraja menjadi marah dan menolak Somaliang’. Dan pada

suatu ketika, Sisingamangaraja telah ditanya oleh seseorang mengenai agamanya; ia kemudian menjawab,‘Agamaku adalah agama di atas segala agama.’

 

9 Sipelebegu adalah terminologi Batak Toba yang secara literal mengandung arti ‘pemuja roh’. Term ini telah digunakan khususnya oleh para misionaris Kristen untuk menandakan segala tipe dari kepercayaan tradisional Batak Toba dalam kesan religius yang negatif sebagai ‘pemuja setan/hantu’. Namun, beberapa dari konsultan penduduk asli yang pernah saya wawancarai menolak pendapat tersebut dan menyatakan bahwa sipelebegu, di dalam konsepsi dan

pemahaman religius mereka adalah sebutan untuk orang-orang yang mempraktekkan ajaran ilmu hitam (black magic). Religi Parmalim berbeda dengan hal semacam itu. Seperti apa yang sering mereka katakan,‘kolonial Belanda dan misionaris Kristen tidak dapat serta tidak ingin untuk memisahkan antara kedua hal tersebut sebab untuk kepentingan politis mereka.’

 

10 Aritonang adalah mahasiswa Jurusan Etnomusikologi Fak. Sasra USU yang sedang melakukan penelitian intensif di tengah masyarakat Batak Toba, khususnya memfokuskan pada analisis terhadap tonggo-tonggo (teks-teks religius tradisional) di dalam beberapa upacara Saem yang berbeda. Data yang saya kemukakan di atas merupakan hasil komunikasi pribadi saya dengannya, 9 Oktober 1994.

 

11Terima kasih kepada Aritonang yang telah membagi pengalaman lapangannya, khususnya mengenai konsep maupun pemahaman dari kepercayaan Parmalim.

 

12 Hahomion merupakan kepercayan tradisional yang mengharuskan seorang individu, sekelompok keluarga atau pun marga (klen) mempersiapkan dan

melaksanakan upacara untuk mendapat anugerah dari para arwah leluhur. Upacara dilaksanakan secara khusus dan bersifat rahasia, dilakukan hanya oleh parapemrakarsa perencana upacara.

Legenda Marga Lubis

 candi p lawas
 

 

 

Selama berabad-abad lamanya dan sampai sekarang masyarakat Mandailing mempercayai bahawa Namora Pande Bosi adalah nenek moyang orang-orang Mandailing yang bermarga Lubis.

Menurut legendanya, Namora Pande Bosi berasal dari Bugis di Sulawesi Selatan. Dalam pengembaraannya dia sampai ke satu tempat yang bernama Sigalangan di Tapanuli Selatan. Kemudian dia berkahwin dengan puteri raja di tempat tersebut dan terkenal sebagai pandai besi yang mulia. Namora Pande Bosi dan isterinya yang bergelar Nan Tuan Layan Bolan mendapat dua orang anak lelaki yang diberi nama Sutan Borayun dan Sutan Bugis. (Dalam tarombo marga Lubis yang disusun oleh Raja Junjungan pada tahun 1897, ada juga tercatat bahawa nama isteri Namora Pande Bosi ialah Boru Dalimunte Naparila, artinya puteri Dalimnte yang pemalu).

Pada suatu ketika Namora Pande Bosi pergi meyumpit burung ke tengah hutan dan di sana dia bertemu dengan seorang puteri orang bunian dan mengahwininya. Menurut satu cerita, wanita itu adalah orang Lubu (orang asli). Dari perkahwinannya itu, Namora Pande Bosi mendapat dua orang anak lelaki kembar yang masing-masing diberi nama Si Langkitang dan Si Baitang. Ketika kedua anak tersebut masih dalam kandungan, Namora Pande Bosi meninggalkan isterinya dan kembali ke Hatongga.

Menjelang dewasa Si Langkitang dan Si Baitang pergi mencari bapa mereka dan menemukannya di Hatongga. Lalu mereka tinggal bersama keluarga bapa mereka di tempat tersebut.

Tidak beberapa lama kemudian, terjadilah perselisihan antara anak-anak Namora Pande Bosi itu dengan anak-anaknya bersama puteri raja Sigalangan.

Maka Namora Pande Bosi menyuruh anaknya Si Langkitang dan Si Baitang meninggalkan Hatongga. Mereka disuruhnya pergi ke daerah Mandailing dan jika mereka menemukan tempat di mana terdapat dua sungai yang mengalir dari dua arah yang tepat bertentangan (dalam bahasa Mandailing dinamakan muara patontang) di situlah mereka membuka tempat pemukiman baru.

Setelah lama mengembara akhirnya Si Langkitang dan Si Baitang menemukan muara patontang, lantas mereka membuka pemukiman baru di tempat itu.

Tidak lama setelah ditinggalkan anaknya Si Langkitang dan Si Baitang, Namora Pande Bosi meninggal dunia dan dimakamkan di Hatongga. Makam tersebutlah yang akan dipugar. Isterinya Nan Tuan Layan Bolon yang meninggal kemudian dimakamkan di satu tempat yang bernama Hombang Bide, kurang lebih 2km dari Hatongga. Makamnya masih ada di situ sampai sekarang.

Semua keturunan Si Langkitang dan Si Baitang yang menyebar di seluruh tanah Mandailing dan di tempat-tempat lain dikenali sebagai orang-orang Mandailing yang bermarga Lubis.

Pada tahun 1963, makam Namora Pande Bosi ditemukan di Hatongga, dengan petunjuk dari keturunan Raja Sigalangan. Makam tokoh legendaris yang sangat terkenal itu terletak di tengah persawahan penduduk setempat.

Makam tersebut berada kurang lebih 2km jauhnya dari Jalan Raya Lintas Sumatra yang melalui desa Sigalangan, kurang lebih 14km jauhnya dari kota Padang Sidimpuan (ibu kota Kabupaten Tapanuli Selatan).

Atas usaha sejumlah orang Mandailing bermarga Lubis, kurang lebih 1.6km panjangnya jalan dari desa Sigalangan ke arah makam Namora Pande Bosi sudah dibangunkan sehingga dapat ditempuh dengan kenderaan bermotor (kereta). Tetapi jalan menuju ke makam tersebut, yang panjangnya kurang lebih 232 meter masih harus dibangun supaya dapat dilalui dengan berjalan kaki atau dengan menggunakan kenderaan.

Jika jalan yang panjangnya kurang lebih 232 meter tersebut sudah dibangun, maka para penziarah yang selalu banyak berdatangan mengunjungi Namora Pande Bosi, di antaranya dari Malaysia, akan mudah mendatangi makam yang dimuliakan itu. Menurut rencana jalan yang panjangnya 232 meter itu akan dibangun dengan lebar 3 meter.

 p lawas
Namora Pande Bosi

 

Mohammad Said, pengarang terkenal termasuk Atjeh Sepanjang Sejarah, memberi tanggapan tentang kemungkinan masa munculnya tokoh Namora Pande Bosi yang dipandang sebagai nenek moyang marga Lubis. “Dalam tahun 1887 diketahui oleh penguasa Belanda bahwa Raja Gunung Tua (Padang Lawas) menyimpan sebuah patung pusaka dari tembaga, dikenal sebagai patung batara Lokanatha. Patung itu diambil Belanda dan kini disimpan di Museum Pusat. Sarnaja Brandes yang segera meneliti patung itu, berhasil memperkenal teksnya huruf Kawi sebagai berikut:

Sarjana tersebut menterjemahkan kalimat permulaaan prasasti di atas ke bahasa Belanda sebagai berikut:

“Heil” Caka-jaren verloopen 946, in de maand Caitra op den derden dag van lichte helft dan de maand of vrijdag, toen heeft Surya, de meester smid did beeld van den). Heere Lokanatha vervaardigd…”

Terjemahan bebas ke bahasa Indonesia demikian:

“Dirgahayu Tahun Caka 946 bulan Caitra, hari ke-3 bertepatan Juma’at dewasa itulah Surya, panda besi, selesai mengukir (patung) batara Lokanatha ini…”

Diperlihatkan pada teks aslinya tentang tokoh Surya, disebut jurupandai. Pada salinan bahasa Belanda dipertegaskan dengan istilah meester smid, yang artinya tidak lain pandai besi. Ini serta merta mengingatkan kita akan nama Pande Bosi, jelasnya Namora Pande Bosi. Dari ukiran itu dapat dipahami bahwa Suraya telah berhasil membuat patung seorang dewa atau batara yang tentunya untuk dipersonifikasikan menjadi pujaan rakyat dewasa itu. Seorang ahli dan tanpa kuatir akan tertimpa ketulahan menukangi tembaga untuk jadi pujaan, bukannya seorang sembarangan atau tukang biasa saja. Ia tentunya selain ahli adalah juga seorang yang terkemuka, berderajad dan amat disegani. Sedikit banyaknya dengan nama itu biasa juga membuat kita mengarahkan pertanyaan, apakah tokoh itu bukan tokoh zaman dulu yang dikenal rakyat bernama Namora Pande Bosi. Tentunya bukan sekedar kebetulan saja ada seorang jurupandai de meester smid pembuat Lokanatha, sedangkan ada juga Pandai Bosi yang dikenal oleh rakyat dari abad ke abad.

Dari sumber lain dapat ditambahkan, bahwa sebelum Namora Pande Bosi yang bermukim di Hutalobu Hatongga Sigalangan masih ada lagi yang bernama Namora Pande Bosi, yaitu kakek (datuk) dari kakek Namora Pande Bosi yang di Hutalobu tersebut di atas. Namora Pande Bosi I tersebut bermukim di Padang Bolak Ruar Tonga (Sahit ni Huta).

Menoleh latar belakang ini 3 kemungkinan dapat diperkirakan mengenai kapan Namora Pande Bosi itu. Yakni:

1) Zaman Surya tahun 946 atau sekitar tahun 1024 M, karena Surya adalah seorang juru pandai besi
2) Zaman eskpansi Majapahit tahun Caka 1287 (1365 M) karena Gajah Mada mengetahui suatu kerajaan Mandailing yang tentunya dipimpin oleh seorang terkemuka, diperkirakan Namora Pande Bosi
3) Zaman yang lebih muda yaitu hanya sekitar abad ke 16 M. Menurut tambo (stamboom) yang diperbuat atau disimpan oleh Soetan Koemala Boelan.

Mengenai zaman Surya, kemungkinanya dapat diperhatikan dari patung Lokanatha tersebut di mana disebut ada seorang pandai besi bernama Snya. Bahwa nama itu tidak pernah dikenal (baca: tidak pernah disebut-sebut) oleh penduduk, tidaklah merupakan persoalan, sebab adalah biasa bahwa penduduk tidak pernah menyebut nama pribadi tokoh yang dihormati, sehingga apa yang diketahui adalah gelar yang diambil dari keistimewaannya, yaitu Namora Pande Besi. Bahwa jarak zaman itu cukup jauh dengan apa yang sebegitu jauh diketahui oleh penduduk nama keturunan terdekat sesudah Namora Pande Bosi, si Langkitang dan si Baiting (pura kembar Namora Pande Bosi) bukan sesuatu yang mustahil. Karena bukan jarang, sesuatu cerita dari mulut ke mulut bisa saja melangkahi beberapa generasi sebelum sampai kepada si Langkitang dan si Baitang. Atau sesudah si Langkitang dan si Baitang ada lagi beberapa generasi di antaranya sebelum sampai kepada si Alogo Raja Partomuan (yang disebut sebagai anak si Baitang).

Mengenai masa ke-2 (zaman Majapahit), kemungkinannya dapat dilihat dari masa ekspansi kerajaan tersebut ke Mandailing, yaitu sekitar tahun 1365. Bukan mustahil bahwa di bawah Namora Pande Bosilah kerajaan Majapahit terdengar kepada Mangkubumi Gajah Mada, yang membuat ia merencanakan nama Mandailing turun dalam sumpah Palapanya.

Mengenai masa ke-3, bila diambil dari nama tokoh-tokoh yang diketahui menjadi keturunan dinasti Pande Bosi dari sekedar mendapat 12 generasi, sebagai yang dapat diteliti dari silsilah atau keturunan Namora Pande Bosi itu ke sebelah cabang yang menurun kepada Soetan Koemala Boelan, * kalau ini hendak dijadikan pegangan jaraknya dari zaman Namora Pande Bosi sampai Soetan Koemala Boelan hanya sekitar 300 tahun saja.

Mana yang lebih tempat dari 3 masa tersebut, tentu meminta waktu untuk memperoleh penegasannya. Saya sekedar memperlihatkan arah studi. Andai kata Namora Pande Bosi memerintah Tapanuli Selatan termasuk Padang Lawas, mungkin ia pernah beribu kota di Gunung Tua tempat patung Lokanatha disimpan sebagai barang pusaka oleh raja Gunung Tua yang disebut oleh kontroler Belanda ditemunya pada tahun 1885 itu”.

Kutipan panjang di atas jelas menunjukkan betapa sukarnya mencari kepastian mengenai sejarah dan perkembangan masyarakat Mandailing di masa lalu.

* Soetan Koemala Boelan lahir 8 Maret/Mac 1888, meninggal 21 Juni/Jun 1932. Beliau menjadi Raja Panusunan Bulung di Tamiang, Mandailing Julu dari tahun 1915 sampai tahun 1932. Beliau adalah seorang raja marga Lubis keturunan Namora Pande Bosi

 

Sumber: Mohammad Said

TERJADINYA PULAU MALAU

p

Pulau Malau atau Pulau Tao

 Nantinjo adalah putri bungsu dari Guru Tatea Bulan/Sibaso Bolon dari sepuluh bersaudara, anak yang

• pertama adalah Raja Uti,
• ke dua Saribu Raja,
• ke tiga Limbong Mulana,
• ke empat Sagala Raja,
• ke lima Lau Raja

sedangkan perempuan yang

• pertama adalah Biding Laut,
• ke dua Boru Pareme,
• ke tiga Anting Haumasan,
• ke empat Sinta Haumasan dan
• ke lima Nantinjo.

Semasa hidupnya, Nantinjo mengalami penderitaan yang cukup berat, sebab ketika lahir kedunia ini saja dia tidak sempuma, dikatakan wanita bukan, pria juga bukan. Pada saat umurnya sepuluh tahun kedua orang tua Nantinjo telah di panggil Yang Kuasa. Semenjak ditinggal kedua orang tuanya semakin beratlah penderitaan yang dialaminya. Nantinjo tinggal bersama abangnya Limbong Mulana, karena yang tinggal dikampung pada saat itu hanyalah ketiga abangnya Limbong Mulana, Sagala Raja serta Lau Raja, sedangkan abangnya Raja Gumeleng-Geleng telah pergi dibawa oleh Yang Kuasa kepuncak Gunung Pusuk Buhit.
Abangnya yang nomor dua Saribu Raja telah pergi juga merantau entah kemana rimbanya, dikarenakan adanya skandal cinta dengan adiknya sendiri Boru Pareme.

Kemelut keluarga yang begitu hebat telah melanda keluarga Nantinjo sehingga abangnya yang nomor tigalah yang harus bertanggung jawab atas diri Natinjo sepeninggal kedua orang tuanya.

Walaupun Nantinjo tinggal dirumah abangnya sendiri, penderitaan yang dialaminya sangat berat karena begitu besar tanggungjawab yang dibebankan abangnya terhadap dirinya mulai dari mengurus rumah, mengasuh anak-anak, serta mencari bahan makanan ke hutan.

Dan yang membuat hati Nantinjo sangat menderita apabila Nantinjo salah sedikit saja pastilah dia mendapat hukuman dari abangnya. Siksaan demi siksaan diterima Natinjo hari lepas hari dari abangnya tersebut.

Meskipun begitu berat penderitaannya Nantinjo pasrah, sebab tumpuan harapan pengaduannya telah pergi merantau entah kemana. Nantinjo mempunyai keahlian bertenun, maklumlah pada saat itu dia harus bertenun jika ingin mempunyai pakaian. Setiap bertenun, Nantinjo selalu melantunkan syair lagu penderitaannya dengan berlinang air mata sambil memohon kepada yang Kuasa agar ditunjukkan jalan padanya untuk dapat keluar dari deritanya.

Melihat dan mendengar penderitaan serta jeritan hati Nantinjo, Yang Kuasa akhirnya menunjukkan jalan keluar kepada Nantinjo.

Pada suatu saat datanglah abangnya Lau Raja bertamu kerumah Limbong Mulana, melihat adiknya sedang menangis hatinya sedih, sebagai abangnya Lau Raja penasaran dan bertanya kepada sang adik, mengapa engkau menangis Nantinjo? namun pertanyaan abangnya itu bukan membuat Nantinjo diam malah membuat tangisan Nationjo semakin keras. Lau Raja pun mendekati adiknya, dipeluk dan dihibur adiknya dengan penuh kasih sayang sambil bertanya ada apa gerangan yang membuat hati adiknya begitu pilu dan sedih?

Sadar bahwa abangnya begitu sayang kepadanya, Nantinjo akhirnya menceritakan segala penderitaannya dan menunjukkan luka dipunggungnya akibat siksaan yang kerap dilakukan abangnya Limbong Mulana kepadanya.

Tanpa sadar Lau Raja memanggil nama ibunya “Sibaso Bolon” sambil berujar “teganya kamu Ibu, membiarkan putri bungsumu mengalami penderitaan yang begitu berat dan tidak berkesudahan”.

Sambil membelai adiknya, Lau Raja mengajak Natinjo pergi dari rumah Limbong Mulana dan ia berjanji akan menyayangi Natinjo.

Mendengar ucapan dan janji abangnya, Nantinjo langsung mengikuti ajakan Lau Raja. Akhirnya Lau Raja membawa Nantinjo ke Simanindo Pulau Samosir tempatnya tinggal.

Semenjak tinggal dengan Lau Raja. Nantinjo merasa senang, tenang dan bahagia. Nantinjo diberi kebebasan untuk melakukan kesenangannya bertenun walaupun abangnya miskin . Hari lepas hari berganti, tak terasa Nantinjo sudah mulai berkembang menjadi gadis remaja yang anggun, cantik dan bersahaja. Kecantikan wajah dan sikap Nantinjo yang tidak pernah membedakan teman-temannya semakin menambah harum namanya terlebih dikalangan pemuda. Nantinjo menjadi gadis pujaan semua lelaki baik dikampungnya maupun dari kampung seberang danau toba.

Seorang pemuda dari perkampungan (Huta) Silalahi sangat tertarik kepada Nantinjo dan ingin menjadikannya sebagai pendampingnya seumur hidup. Tanpa mengadakan pendekatan kepada Nantinjo, pemuda tersebut langsung meminta kedua orang tuanya untuk segera meminang Nantinjo. mendengar permintaan sang anak, orang tua pemuda tersebut sangat senang dan bangga ternyata putra mereka bemiat meminang bunga desa dari Simanindo.

simanindo

Simanindo

Tanpa membuang banyak waktu, pihak keluarga tersebut akhirnya berangkat beserta rombongan ke rumah Lau Raja. Dengan maksud untuk meminang Nantinjo yang akan dijadikan istri dari putranya. Setelah mendengar dan mendapat pinangan tersebut, Lau Raja mengundang kedua abangnya Limbong Mulana dan Sagala Raja untuk mengadakan rapat keluarga, untuk menentukan apakah pinangan tersebut diterima atau tidak. Ternyata, kedua abangnya mempunyai pendapat yang sama yaitu menerima pinangan tersebut. Namun Lau Raja berpendapat bahwa Nantinjo yang harus menentukan keputusan itu, diterima atau tidaknya lamaran tersebut. Kemudian mereka memanggil Nantinjo untuk hadir dalam rapat keluarga tersebut, dan mempertanyakan kepada Natinjo apakah ia bersedia menerima pinangan pihak laki-Iaki dari seberang danau toba itu? Sadar akan keberadaan dirinya yang laki-laki bukan perempuan juga bukan dengan spontan Nantinjo menjawab bahwa dirinya belum siap untuk berumah tangga. Dengan alas an Natinjo ingin menyelesaikan tenunannya terlebih dahulu agar dia bisa memakainya suatu saat nanti jika ia telah siap untuk berumah tangga.

Namun abangnya Limbong Mulana tidak memperdulikan jawaban Nantinjo dan tidak memberikan kesempatan kepada Nantinjo untuk menolak. Katanya “kamu harus menerima pinangan tersebut”. Mendengar paksaan dari abangnya itu tanpa sadar air mata Nantinjo menetes dipipi, dia berpikir tidak akan bisa melawan keinginan abangnya Limbong Mulana.

Nantinjo melayangkan pandangan kepada abangnya Lau Raja dengan harapan dapat membela dirinya, namun Lau Raja pun tidak dapat membela adik yang sangat disayanginya itu karena dia sendiripun takut akan amarah abangnya Limbong Mulana.

Melihat situasi seperti itu Nantinjo hanya dapat menangis dan menjerit meratapi nasibnya dalam hati. Hanya Nantinjo sendiri yang tahu siapa dirinya yang sebenarnya. Ketiga abangnya tidak mengetahui bahwa Nantinjo tidak sempurna dilahirkan kedunia ini sebagai seorang wanita. Nantinjo menolak karena dia menyadari bahwa dia tidak akan dapat membahagiakan calon suaminya dikemudian hari.

Nantinjo berusaha berpikir keras, alasan apalagikah yang tepat untuk dapat menolak lamaran tersebut. Nantinjo terus berfikir, berusaha mencari alasan untuk menolak lamaran tersebut. Akhirnya dia mendapat ide dan mengatakan kepada abangnya: “saya bersedia menerima pinangan dengan syarat pihak laki-laki itu harus dapat menyediakan emas satu perahu penuh serta uang ringgit satu perahu penuh” Mendengar persyaratan yang diberikan Nantinjo ternyata orang tua calon suaminya siap memenuhi permintaannya itu, bahkan calon mertuanya mengatakan lebih dari permintaanmu kami dapat kami penuhi.

Setelah kedua belah pihak sepakat, pihak lelaki kembali ke kampungnya diseberang Pulau Samosir. Keesokan harinya, pihak laki-laki itupun datang kembali beserta rombongan dengan membawa persyaratan yang diminta Nantinjo, yaitu emas satu perahu dan ringgit satu perahu. Melihat emas satu perahu dan ringgit satu perahu keserakahan Limbong Mulana timbul, sikapnya langsung berubah lembut kepada Nantinjo. Dengan lembut Limbong Mulana mengatakan kepada adiknya
“sekarang kamu tidak memiliki alasan lagi untuk menolak pinangan calon suamimu itu adikku, sebab calon mertuamu sudah memenuhi permintaanmu disaksikan ketiga abang¬abangmu serta khalayak ramai. Begitu tulusnya calon mertuamu menjadikan kamu sebagai menantu, dan sebagai abangmu yang tertua diantara kami, aku memutuskan bahwa kamu harus berangkat saat ini juga ikut dengan suamimu, Doa Restu dari kami abang-abangmu menyertai keberangkatanmu. Kami mendoakan kiranya Tuhan memberikan kebahagian lahir maupun batin kepada kamu”

kata Limbong Maulana panjang lebar. Dengan hati yang hancur Nantinjo menatap abangnya satu persatu sambil berkata kepada abangnya Lau Raja :
“Jikalau memang saya harus berangkat untuk berumah tangga dengan calon suami saya yang bukan pilihan hati saya, tetapi dikarenakan godaan emas dan ringgit satu perahu, ternyata kalian tega memaksa saya untuk berumah tangga, bagiku tidak ada pilihan kecuali menerima namun permintaanku pada abang” :
” Kumpulkanlah semua apa yang menjadi milikku termasuk alat yang selalu kupakai untuk bertenun. Bambu turak ini tempat benang tenunku tolong tanamkan di ujung desa ini, suatu saat nanti semua keturunan Bapak dan Ibuku akan melihat dan mengingat saya yang penuh dengan penderitaan.”

Lau Raja memenuhi permintaan adiknya dan berjanji akan melaksanakannya. Nantinjopun akhirnya menaiki perahu kesayangannya dan berangkat meninggalkan kampung itu mengikuti rombongan calon suaminya. Sambil mendayung perahu hati Nantinjo terus gusar. Dia tidak dapat membayangkan apa yang bakal terjadi setelah sampai dikampung calon suaminya nanti. Kegundahan dan kekalutan pikiran Nantinjo tidak menemukan jawaban, kemudian Nantinjo memohon dan berseru kepada ibunya Sibaso Bolon,

“Bu, mengapa ini harus terjadi, seandainya dahulu ibu cerita kepada semua abangnya tentang keadaan Natinjo yang sebenarnya, mungkin ini tidak akan terjadi. lbulah yang bersalah serlo Limbong Mulana yang tergoda dengan emas dan ringgit satu perahu”.
Dengan hati yang sangat pilu Nantinjo bertanya kepada Ibunya, “masihkah lbu sayang pada putrimu ini? kalau lbu benar-benar masih sayang dengarkanlah jeritan hati putrimu ini yang pal¬ing dalam. lbu! saya tidak mau berumah tangga sebab itu hanya akan membuat aib dikeluarga, Putrimu ini rela berkorban demi nama baik keturunan Bapak dan lbu di kemudian hari. Saya tahu ibu dapat berkomunikasi langsung dengan Yang Kuasa, Pintalah kepada Yang Kuasa agar saya lepas dari penderitaan ini dan persatukanlah saya dengan ibu”.

Mendengar jeritan sang putri yang sangat memilukan hati, ibunya pun meminta kepada Yang Kuasa. Maka seketika itu juga turunlah hujan yang sangat lebat, angin dan badaipun datang menerjang perahu Nantinjo. Gemuruh ombak disertai halilintar turut menangis melihat penderitaan Nantinjo.

Akhirnya perahu Nantinjopun tenggelam ditelan ombak danau toba. Nantinjo menemui ajalnya seketika itu juga. Ketiga abangnya yang menyaksikan hal itu merasa bersalah serta takut. Bahkan setelah Limbong Mulana memeriksa emas dan ringgit satu perahu yang diberikan calon suami adiknya ternyata hanya diatasnya saja emas dan ringgit dibawahnya hanya gundukan pasir dan tanah. Penyesalan yang timbul selalu datang terlambat, apa mau dikata Nantinjo sudah tenggelam kedasar danau toba.

Keesokan harinya disaat orang masih tertidur pulas Lau Raja pergi kepantai tempat perahu Nantinjo diberangkatkan dengan harapan dapat menemukan adiknya hidup maupun mati. Ditelusurinya sepanjang pantai namun tidak ditemukan jasad adiknya. Sambil menangis tersedu-sedu Lau Raja meminta dalam hatinya kepada Yang Kuasa agar jasad adik yang disayanginya dapat ditemukan. Sayup-sayup Lau Raja mendengar bisikan:
“Adikmu Nantinjo sudah saya bawa ketempat yang aman, sekarang dia bersama ibumu. Anakku hapuslah air matamu, dan lihatlah ketempat dimana perahu adikmu tenggelam, disitu kau akan melihat satu keajaiban dunia, perahu adikmu akan muncul kembali berupa pulau. “

Inilah sebagai pertanda bagi keturunanku di kemudian hari betapa tulus dan mulia pengorbanan adikmu, tidak pernah mau membuat saudaranya malu dan terhina dihadapan orang “.

Tiba-tiba Lau Raja tersadar dan melihat dimana perahu adiknya tenggelam, dengan rasa kaget dia melihat apa yang dibisikkan oleh ibunya. Timbulnya pulau itu membuat Lau raja merasa adiknya Nantinjo serasa hidup kembali, dan dia berjanji pada diri sendiri bahwa ia beserta seluruh keturunannya harus menjaga dan merawat serta menyayangi pulau itu, sebagaimana dia menyayangi adiknya. Lau Raja memberi nama pulau itu “Pulau Malau”.

  TUAN SUMERHAM DENGAN BUAH RAMBE (1)

Rambe : antara Buah dan Marga (Paling Indonesia)

Toga Sumba, mempunyai  dua orang anak yaitu:

Toga Simamora dan Toga Sihombing.

Toga Simamora memperistri putrid dari keluarga Saribu Raja, sedangkan Toga Sihombing memperistri putrid dari Siraja Lotung,

Toga Simamora, mempunyai anak dari hasil perkawinannya dengan putri dari keluarga Saribu Raja*, bernama Tuan Sumerham, dan seorang putri yang buta.

Istri pertama Toga Simamora adalah Boru Pasaribu, pomparan dari Saribu Raja. Sedangkan Toga Sihombing mempunyai istri boru Lottung ( Lottung, delapan bersaudara, tujuh marga, satu perempuan) Dari boru Lottung lahir empat orang anak. yaitu : (Toga Sihombing vs Br.Lotung)

  1. Silaban,
  2. Nababan,
  3. Hutasoit,

(setelah ini keturunan keduanya menjadi marga untuk keturunan selanjutnya. Sebelumnya adalah nama) 
Kemudian Toga Simamora, Mangabia/ manhappi  mengawini istri dari Toga Sihombing, (apakah karena meninggal di kedua belah pihak, tidak jelas dalam sejarahnya), dan lahir tiga orang anak yaitu: Toga Simamora vs br.Lotung)

  1. Purba,
  2. Manalu,

 

Maka ke-tujuh marga ini merupakan satu ibu, lain bapak. Kita tinggalkan sejarah tersebut kita focus kepada sejarah selanjutnya tentang Tuan Sumerham. Keturunan Toga Simamora dan Toga Sihombing, bermukim di Tano Tipang Bakkara.

Tuan Sumerham bersama tiga orang Saudara tirinya, tinggal serumah dan keturunan Toga Sihombing berada serumah di tempat lain.

Tuan Sumerham memperistri putri dari keluarga marga Siregar juga cucu dari Lottung.

Kemudian sejarahnya, semuanya sudah berkeluarga.
Purba, Manalu, Debataraja masing-masing segera dikaruniai anak. Sedangkan Tuan Sumerham dengan istrinya Tiopipian br. Siregar belum juga mempunyai anak. Hal inilah salah satu yang menganjal hubungan antara keluarga Tuan Sumerham dengan ketiga Saudara tirinya. Berbagai ejekan dan hinaan hampir setiap hari diterima oleh boru Siregar tetapi dia masa bodoh dan  tidak menjadi “dihailahon tondi na” Hal ini juga disadari Tuan Sumerham. Pada suatu saat isteri Tuan Sumerham boru Siregar memohon kepada Tuan Sumerham, agar mereka pergi jauh dari ketiga Saudaranya, karena boru Siregar sudah tidak tahan lagi atas ejekan dan hinaan para istri ketiga Saudara tirinya. Akhirnya pada suatu malam, saat Saudara tirinya tertidur, mereka meninggalkan Tano Tipang Bakkara dengan terlebih dahulu mengamankan pusaka Toga Simamora yaitu,

  1. Pedang sitastas nambur yang diikat oleh emas, Tetapi Sarung dari Pedangdisembunyikan di Bonggar-bonggar.
    2. Tombak, tangkainya (stik) di kubur di salah satu tiang rumah.
    3. Pustaha (buku lak-lak).
    4. Gong (ogung sarabanan) di kubur di pokok nangka silambuyak (pinasasilambuyak).

Setelah Tuan Sumerham mengamankan ke-empat barang pusaka tersebut, maka merekapun pergi menuju suatu tempat yang belum mereka ketahui. Sebagai acuan mereka tinggal di mana?, Tuan Sumerham mempersiapkan sekepal tanah dari Tano Tipang Bakkar, yang akan di bandingkan dengan tanah pilihan mereka dimana kelak akan berdiam/tinggal. Rupanya Tuan Sumerham, masih mempunyai keyakinan, kelak akan kembali dan mempunyai keturunan. Hal ini ditandai oleh, :”setiap belokan Tuan Sumerham menjepitkan lidi pohon aren (pakko) dengan ujung lidi tersebut mengarah ke arah dari mana mereka datang”
(ceritra tambahan, sesampainya mereka di bukit, untuk beristirahat, karena bukit tersebut tidak cocok dengan tanah yang mereka bawa lalu bergegas untuk melanjutkan perjalanan, ternyata, sanggul /konde br.siregar   tertinggal di sana, maka disebut Dolok Sanggul. Setelah menuruni bukit tadi, mereka beristirahat sambil mencocokan tanah yang mereka bawa. Ternyat tidak cocok juga maka mereka kembali bergegas melanjutkan perjalanan. Rupanya tongkat br. Siregar yang terbuat dari bambu, ketinggalan ditempat mereka istirahat. Maka tempat itu dinamakan Sibuluan)

Tibalah mereka (Tuan Sumerham dan Tiopipian br Siregar) di suatu tempat pebukitan, yang kita kenal sekarang bernama “LOBU TONDANG” Pebukitan tersebut sangat cocok dan pas dengan tanah yang mereka bawa dari Tipang Bakkara. Mereka pun tinggal di sana. Dipelataran Lobu Tondang, terdapat sebuah pohon, yang disebut pohon rambe, yang setiap saat berbuah banyak. Tidak mengenal musim, kembang dan buah matang silih berganti setiap saat. Itu sebabnya buah matang tidak pernah kosong dan lumayan banyak. Rasanya manis asam dan lebih dominant rasa manisnya kalau sudah matang sempurna. Buah inilah yang menjadi makanan mereka setiap hari, ditambah dengan hasil berburu, sebelum hasil tani mereka panen. Sedikit ke lereng pebukitan tersebut, terdapat mata air yang keluar dari Batu sangat segar dan jernih, menjadi sumber air bersih dan cuci mandi bagi Tuan Sumerham dan boru Siregar.
Dalam keadaan tanah tercangkul di di areal mereka tinggal, Tiopipian br Siregar bingung, mau menanam apa? Sementara sebiji benihpun tidak mereka bawa. Tanpa diketahui dari mana asalnya, tumbuh sebatang padi di lading yang merka cangkul, lalu mereka rawat dan dibuat menjadi benih, itulah asal mula mereka bertanam padi. Padinya disebut disebut padi sisior berasnya merah, dan sering dikatakan orang di kampung Pakkat, padi si Rambe. Padi tersebut punah akibat bibit padi unggul dari pemerintah.
Ternyata buah rambe ini mungkin mempunyai khasiat, menyuburkan keduanya Tuan Sumerham dan boru Siregar. Maka pada suatu saat  Tiopipian br Siregar mengandung anak pertamanya. dan seterusnya hingga mempunyai tiga orang putra dan satu orang putrid bernama Surta Mulia br. Rambe.

 

  • Anak Pertama diberi namaRambe Toga Purba,
  • Anak Kedua diberi nama Rambe Raja Nalu,
  • yang terakhir Rambe Anak Raja

 

dan Rambe menjadi icon ketiga anaknya dengan keyakinan, karena Buah Rambe itulah Tuan Sumerham dan boru Siregar dapat berketurunan yang selanjutnya menjadi marga keturunan Tuan Sumerham. 
Ada beberapa orang parumaen Rambe yang lama tidak mempunyai keturunan, dengan hati yang tulus dan tekat yang murn, pergi ke Lobu Tondang untuk memakan buah Rambe, ternyata menjadi punya anak. Ketulusan dan kemurnian tekad serta tidak ada rasa ego dan serakah, akan membuahkan hasil.

Pertemuan Tuan Sumerham dengan Raja Tuktung Pardosi 
Tempat yang dipilih Tuan Sumerham dan Br Siregar menjadi tano tombangan mereka, ternyata masuk wilayah kekuasaan Raja Tuktung Pardosi. Tanpa sepengetahuan Raja mereka tinggal di sana. Raja pardosi sendiri mengawasi kerajaannya melalui benda-benda yang hanyut pada sungai yang mengalir di wilayahnya. Dia tidak perlu menyisir wilayah untuk mengetahui keadaan di pedalaman. Satu ketika, Raja mengamati wilayahnya dengan emlihat yang hayut di Sungai Sirahar. Alangkah kagetnya Raja setelah melihat, ada potongan kayu dan jerami yang hanyut di sungai tersebut. Dengan melihat yang hanyut itu, Raja berkesimpilan, ada penduduk gelap yang berdsiam di wilayah kekuasaanya tanpa ada laporan. Segera raja dan pengawalnya mencari penduduk gelap tersebut untuk dimintai keterangan dan memberi sanksi. Bertemulah Raja Pardosi dengan Tuan Sumerham. Setelah pertanyaan serta berbagai penjelasan Tuan Sumerham dan keluarga di jatuhi sanksi “harus memberikan upeti setiap mendapatkan hasil dari pekerjaan”. Hasil buruan, harus diberi kepala buruan kepada raja. Hasil pertanian setiap pertama panen setiap musing lebih dahulu diberikan ke Raja baru bisa di makan oleh keluarga Tuan Sumerham.
Satu hal yang menguntungkan keluarga Tuan Sumerham, Raja tidak memberi kategori tawanan kepada keluarga Tuan Sumerham.  Dengan demikian Tuan Sumerham dapat berusaha melepaskan diri dari segala sanksi.
Lepas dari Upeti
Untuk melepaskan diri dari Upeti, (apakah karena tuntutan anaknya atau untuk masa depan keluarganya, tentu Tuan Sumerham yang tau. Dia membuat pekerjaan yang jitu. Sebagaimana biasa dipagi hari Tuan Sumerham pergi melihat jebakan rusa (sambil/jorat). Dia melihat joratnya menjebak Rusa yang sangat besar dan berbulu panjang, lalu Tuan Sumerham meberi bulang-bulang rusa di kepala dengan warna Putih, Hitam dan Merah dia atur sedemikian seolah bukan buatan manusia. Dan bekas jejaknya dia rapikan kembali, sehingga kelihatannya belum ada yang melihat rusa tersebut dari dekat. Tempat itu sampai sekarang disebut Panambilan (asal kata sambil atau jorat)
Tuan Sumerham dengan segera menemui Raja Tuktung Padosi dan menceritrakan Rusa tersebut, kira-kira beginilah dialognya:
“Yang Mulia Raja yang dihormati, mengingat perjanjian kita saya tidak mau inkar, tetapi saya takut. Saya tidak tau apagerangan yang akan terjadi kelak dengan tanda rusa yang saya dapatkan. Saya tidak berani membunuh sebelum saya tanyakan kepada Sang Raja. Itu sebabnya saya dating”
“Ada apa rupanya Tuan Sumerham?”
“Raja yang saya hormati, jebakan saya mendapatkan seekor rusa yang besar, tetapi saya takut mendekatinya, silakan kita lihat yang mulia”

Berangkat lah Raja dengan panduan Tuan Sumerham ke tempat Jebakan tersebut. Dari kejauhan Tuan Sumerham sudah menunjuk kepada rusa yang bermahkota kain putih, hitam, dan merah. Ternyata benar yang disiasatkan Tuan Sumerham. Sang Raja kaget melihat rusa yang bermahkota tersebut sangat menyeramkan dan berkata;

 “di ho ma na di ho!?. Mulai saonari, unang be lean ugut ni na ni ulam. Aha pe boa-boa ni ursa I sahat di ho ma I, ndang sahat tu au dohot harajaonhu I” (artinya, kaulah yang betanggung jawab atas alamat apa yang akan terjadi oleh rusa tersebut. Jangan lah beralamat ke saya dan kerajaan saya. Mulai sekarang tidak usah kau laksanakan sanksi sesuai perjanjian kita.)
Sejak saat itu Tuan Sumerham dan keluarga lepas dari segala upeti kepada Raja. Mereka bebas melakukan apa saja tanpa dibebani oleh peraturan Raja.
Raja Tuktung Pardosi, mempunyai tiga orang Putri,

  1. yang tertua mernama Nanja br Pardosi,
  2. kedua Kirri br Pardosi,
  3. ketiga Rubi br Pardosi.

 

Sementara Rambe Purba, Rambe Raja Nalu, dan Rambe anak Raja sudah berajnjak dewas, demikian juga ketiga boru Pardosi. Oleh Kuasa maha Pencipta, mereka dipertemukan menjadi Pemuda dan Pemudi yang saling mengikat Janji. Untuk merealisasikan janji mereka, maka Raja Tuktung memberi syarat. Tuan Sumerham dan keluarga harus ramai menghadiri pernikahan tersebut. Suatu hal yang sulit bagi Tuan Sumerham, megingat kepindahanya ke Lobu Tondang karena perlakuan Saudara tirinya yang menyakitkan. Tetapi karena sudah merupakan syarat dari Raja, maka Tuan Sumerham memberangkatkan ketiga anaknya untuk mengundang Saudara Tirinya dari Tano Tipang Bakkara.
Sebelum berangkat, Tuan Sumerham memberi nasehat, pesan dan petunjuk yang harus mereka lakukan.

 

  1. Mereka harus selalu mengarah kepada ujung lidi (tarugi) pohon aren yang di jepitkan pada kayudi setiap belokan.
  2. Sesampainya mereka di sana, mereka akan di tangkap dan dipasung, kemudian pada pagi hari akan disembelih/dibunuh. (demikian lah ceritanya, dahulu, kalau ada orang yang tidak dikenal masuk kampung, ditangkap dan lalu dibunuh)
  3. Pada saat di pasung, mereka harus melantunkan lagu berulang-ulang sambil menangis. Bahasa lagunya

“mago do hape horbo namulak tu barana”,
“mago do hape takke namulak tu sokkirna”,
“mago do hape jolma namulak tu hutana”
artinya suatu hal yang tidak mungkin terjadi, apabila mata kampak kembali ke tangkainya menjadi hilang, kerbau menjadi hilang kalau kemali kek kandang, juga manusia menjadi hilan pabila kembali ke kampong. Tetapi itu akan terjadi pada mereka bertiga kalau tidak menayakan mereka anak siap.

 

  1. Mereka punya Namboru yang buta bernama Si Buro Aek So Hadungdungan
  2. Tanda tanda, yang dapat mereka berikan yaitu, Ogung sarabanan dikubur di pohon nangka silambuyak dekat rumah, Tangkai tombak dikubur di kayu Pilar pertenghan Rumah Bolon, Sarung dari pedang, disimpan diplafon rumah bolon.

Tuan Sumerham memberangkatkan anaknya yang tiga dalam kekawatiran, maka berkali-kali dipesankan agar mereka mengikuti petunjuk dan pesan serta menjawab pertanyaan sesuai substansinya dan tidak perlu menjawab apabila tidak ditanya.
Berangkatlah mereka bertiga dengan mengikuti lidi tarugi yang sudah ditunjukkan Tuan Sumerham sebagai awal melangkah. Apabila mereka sudah menemukan lidi selanjutnya mengikuti arah ujung lidi itu, sampai menemukan lagi lidi berikutnya dan mengarah kea rah ujung lidi tersebut. Demikian mereka menelusuri hingga sampai ke tempat tujuan.
Tibalah mereka di Tano Tipang Bakkara. Apa yang diisyaratkan Tuan Sumerham terjadilah kepada mereka ditangkap dan dipasung ditempatkan bawah Rumah. (Dahulu rumah batak bertiang tinggi dan dibawah sebagai kandang ternak seperti sapid an kerbau) Pada malam hari mulailah mereka melantunkan syair yang diajari Tuan Sumerham dengan penuh ketakutan dan menagis, terus menerus (diandunghon), Pada tengah malam, Namborunya mendengar andung mereka semakin di cermati semakin berdiri bulu kuduknya lalu ia menemui Saudara tirinya yang sedang Rapat acara pembunuhan ketiga orang itu di pagi hari. Lalu Namborunya angkat bicara.

 

Hamu akka hula-hulaku, atik boha tu julu uluni na mate maup. Adong dongan tubu mu/Abang mu na mago. Atik boha dung dipangarantoan mamoppar. Asing hubege adung nasida. Dao-daoma jea sukkun hamu jolo nasida,”

 

Mendengar itu, mereka pun stop rapat dan memperhatikan dan mencermati lantunan adung mereka bertiga. Merka pun turn dan bertanya;
“Siapa kalian sebenarnya?”
“Bagaimana kami menjawab? Sedangkan kami dalam keadaan terpasung?”

 

Maka mereka di lepaskan dan diajak naik ke rumah lalu ditanyalah seperti layaknya Tamu terhormat.
“kami adalah anak dari Tuan Sumerham”
“Apa bukti kalau kalian anaknya”
“Ogung Sarabanan di kubur dekat pohon nangka silambuyak”

Lalu mereka menggali pada malam itu juga. dan mereka menemukannya.
“Apalagi tanda yang dapat kamu berikan?”
“Tangkai tombak di kubur di tiang tengah/pilar tengah rumah bolon”

 

Merka juga langsung menggali, dan menemukannya.
“Apalagi?”
“Sarung pedang ada di plapon/bonggar-bonggar rumah bolon”
Mereka cari juga ketemu. Dan apa lagi,

“kalau pustaha dibawa ke perantauan, dan ada sama bapak sekarang”

 

Dengan senang hati namborunya mendengar semua peristiwa itu, dalam hatinya dia berdoa, terimakasih mula jadi nabolo hidup dan berketurunan rupanya hula-hula saya itu. Terima kasih mula jadi nabolon, begitulah dalah hatinya. Lalu mereka ditanya kembali.
“Ya… kami sudah percaya, lalu apa maksud kedatangan kalian?
“Kami bertiga mau menikahi tiga orang putrid Raja Tuktung di panombagan nami, tetapi raja bersyarat, kita sekeluargan harus ramai. Maka kami datang untuk mengundang”
“ooOOooo, ,,kami akan datang, “marhoda-hoda bakkuang, marbonceng-bonceng ihurna””

 

bersambung………2

SiBagot ni Pohan, Isteri dan anak-anaknya

Si Bagotni Pohan adalah anak tertua  dari Tuan Sorba Di Banua yang berdomisili di Lobu Parserahan di Lumban Gorat Balige Ibunya adalah  Nai Anting malela boru Pasaribu.

Mereka ada lima orang satu ibu yaitu: Sibagot ni Pohan, Sipaet Tua anak kedua, Silahhi Sabungan anak ketiga, Si Raja Oloan anak keempat dan anak kelima adalah Siraja Hutalima

Sedangkan anak Tuan Soba Dibanua dari isteringa boru Sibasopaet ada tiga orang Yaitu: Toga Sumba, Toga Sobu dan Nai pospos anak bungsunya.

Dari kecil Si Bagot Ni Pohan berparangai baik dan sopan dan dia selalu mengerjakan pekerjaan yang yang membuat orang tuanya senang, melihat perangai yang baik dari Si bagot ni pohan tersebu membuat orang tuanya terutama Ayahnya sangat menyayangi Si Bagot Ni Pohan, disamping itu diapun sangat rendah hati, dan sangat rajin belajar dan menanyai orang orang tua mengenai hukum hukum adat (Paradaton), serta pengetahuan lainnya, inilah yang membuat SiBagot Ni Pohan bertambah ilmu pengetahuannya baik tentang paradaton maupun tentang kehidupan. Oleh karenanya dia menjadi tempat bertanya hal-hal yang tidak dapat dijawab adik adiknya dan orang lain.

Si Bagot Ni Pohan terkenal dengan kegantengan dan  berbadan tinggi, besar serta ahli memanah dan mangultop, sekali kali dia pergi berburu ke hutan untuk mencari hiburan.

Suatu hari siBagot Ni Pohan pergi berburu burung  (mangultop),kehutan  diperjalanan dia ketemu dengan seorang gadis yang sangat cantik  lalu dia menanyai gadis itu  boru apa  Sibagot ni Pohanpun sangat gembira mengetahui  si gadis bermarga sama dengan marga ibundanya yaitu boru Pasaribu,Didalam hatinya terbesitlah untuk mempersunting sang gadis, niat tersebut disampaikannya pada si gadis. Tetapi gadis boru Pasaribu tidak menjawab begitu saja dan sigadis cukup pintar menjawab nya.

“ Menurut orang tua yang bijak dan orang tua saya tidak lah pantas menanyai  anak perempuan yang ingin dilamar dan  diperisterinya di tengah jalan, kalau lah kau merasa anak raja sepantasnya kau datang kekampung dan menemui orang tuaku .” Si Bagot ni Pohan mem benarkan ucapan  si gadis  boru pasribu tersebut lalu menjawabnya lagi

“ Sungguh benar kau, ito justru aku terpana akan kecantikanmu maka aku  tidak sabar untuk tidak menanyaimu ditengah jalan ini dengan melupakan adat dan tatakrama, maafkan aku ito.

Disuatu hari berangkat lah si Bagot ni Pohan  dengan membawa temannya kekampung sang Gadis boru Pasaribu, yang mebuat dia jatuh cinta. Saat mendekati kampung si gadis mereka bertemu dengan sang gadis yang kebetulan akan kepancuran mengambil air. Si Bagot ni Pohan pun menegur si gadis dengan “Marbodiaek” ( memperingatkan orang orang yang mandi dengan seruan yang teresebut) karena begitu tradisinya; ‘”Bo di aek i,leinang partuaek”

”Ba ro ma hamu sian i” jawab sang gadis

(Artinya)

“datanglah kalian  kesini” jawab sang gadi dari pemandian

“Ai begu do ahu didok roham umbahen di paro ho?” kata Si Bagot ni Pohan, kemudian dia mengulangi kembali marbodiaek,lalu si  boru Pasaribupun kembali menjawab “Ba mijur ma hanu sian i”,

(Artinya)

“Kau pikir aku ini hantu maka kau undang aku?”

“Ba beranjaklah lkalian dari situ”

“Ai hoda manang horbo  do ahu hu roha  di dok roham umbahen suruon mu ahu mijur”  (artinya: “kau pikir aku kuda atau kerbau maka kau suruh aku beranjak”) jawab sisibagot ni pohan, membuat hati si gadis boru Pasaribu  kesal sambil berpikir “ sungguh laki laki akan melamar yang pintar bicara dan memiliki pengetahuan luas tentang paradaton, kalau dia marbodiaek kembali apa jawaban ku nanti” si boru Pasaribu terus berpikir sambil menutup mukanya dengan sedih, untung tidak berapa lama namborunya datang yang bernama Nai Raramosan menemuinya, dan melihat maen ( anak permpuan dari saudara lakilaki) bersedih maka si namboru meneggurnya “ Siruba siruba i, silolom silolom on, na so dung songoni mangidai rohakon. Aha do hu ro ha parmulaan ni singkam mabarbar jala mula ni padang matutung. Aha do bingkas dohot bonsir umbahen sai marsak ho jala tangis ?” tanya namborunya serius,  “Aha ma na sai sinungkunan mu  disi namboru, unang ma ho sai pahutur hutur bulung ni bulu,parigat rigat bulung ni gaol,unang hopasunggul sunggul hinalungun jala parukar rukar hinadangol. Anduhur do lompanhhu,marsaorsaor amporik, ba tung adong do nangkin namboru dolidoli marbodiaek dari bukit sana,sungguh pintsr kedengarannya”, kata boru Pasaribu, kemudian dilanjutkanya “ sedang kan aku tidak begitu pintarberbicara apalagi hukum tentang paradaton, kepada kalian orang tualah kami harus lebih banyak belajar dan bertanya.

Maka si Namboru mengajari si gadis boru Pasaribu, kalau kalau si Bagot Ni Pohan atau pemuda lain marbodiaek

Tidak berapa lama si Bagot ni Pohanpun kembali marbodiaek,dan langsung dijawab boru Pasaribu:”Sulusulu ni bintang tu laklak ni antaladan, niarit hotang garudu bahen simpe ni tangan. Naso lupa di uhum naso lolos di padan na talu di undangundang i ma na so haulahan. Silaklak ni antajau, siregerege ni ampang; Sianak ni namboru sibebere ni damang.Hundul ma jolo damangdisi marnaati maradian asa tangkas damang marpanarian. Ba ro ma muse damang sian i mandapothon aek sitio tio asa maranggir jala martapian. Asa tiur dlan boluson tio aek dapoton tumpahon ni omputa Debata.”

Mendengar tutur kata sigadis boru Pasaribu, hati si Bagot ni Pohan pun dapat menerimanya serta dia berbisik dalam hatinya “ Betul betul Gadis inni borunya Raja (anak perempuan seorang terhormat), yang mengerti adat” kemudian Si Bagot Ni Pohan langsung menemui boru Pasaribu di pancuran, Setelah boru Pasaribu melihat siBagot Ni Pohan langsung dia mengenalnya, setelah berbincang bincang sebentar sigadis boru Pasaribupun lang pulang kerumahnya, dan kemudian mempersiapkan makanan mana tau nanti Si Bagot ni Pohan datang .Berselang beberapa lama Si Bagot Ni Pohan pun datang menemui siboru Pasaribu, kedatangannya disambut boru pasaribu dan mempersilahkannya duduk dilage tihar, siBagot ni Pohan menyempatkan berbicara: “Amang na di dolok i pangidoan hotang, amang na di holbung i pangidoan mual.Pinasae ma bona ni gorat,parbuena ma na niida, ni dapothon ma boru ni tulangi, ba napuran na ma na diida”; mnedengar ucapan si Bagot ni Pohan  boru Pasaribu langsung memberikan Napuran kepada si Bagot Ni Pohan sambil tersenyum kemudian mereka saling bertukar pikiran tentang paradaton.

Sebelum nasinya masak, datang boru Pasaribu membawa sebutir telur Ayam sambil mengatakan “Ianggo hami tung na pogos do, ndang tartabunihonb hapogoson.Dibahen i on ma pira ni manuk on seat hamu asa adong lompanta”.

“Denggan boru ni rajanami,alai tiop ma jolo patna i asa huseat, molo so tioponmu pat na i dang olo ahu maneat” kata si Bagot ni pohan.

“Ah tung ompu ni bisuk do hape on jala sabungan ni roha”, kata boru Pasaribu dalam jhatinya.

Setelah masak masakannya maka dikasih lah makan si Bagot ni Pohan , setelah selesai makan maka mereka saling memberikan tanda  (tanda jadian).

Sesampai dilumban Paserahan LumbanGorat dirumahnya, Sibagot Ni Pohan pun menceritakan pengalamannya dengan gadis boru Pasaribu kepada orang tuanya, semua tentang boru Pasribu di ceritakan dengan semangat serta berbunga bunga akan cintanya kepada boru Pasaribu baik tentang kecantikan maupun kepintaran dalam paradaton sang gadis.

Singkat cerita diresmikanlah perkawinan antara Si Bagot Ni Pohan denganGadis perawan boru Pasaribu, mereka direstui kedua belah pihak serta raja-Raja dari delapan penjuru desa, pesta besar besaran pun dilaksanakan dengan restu:

“Sai donganmu gabe ma inanta on, donganmu mamora,jala donganmu sarimatua.Sai marokap ma i songon bagot,marsibar songon ambalang, sai marsigomgoman ma tondimu  tu na tama.Molo tung adong na hurang pangalahona ingkon anjuonmu do,ingkon sai masidungkapna bikbikna do halak jala masijarum na tombukna.Ai na tinapu salaon, salaon situa tua,manang beha pe pangalaho ni dongan saripe niba ingkon denggan ma nianju anju asal ma adong dongan niba gabe jala dongan niba sarimatua”.

Kemudian merestui lagi pihak orang tua si boru Pasaribu”:

“Nunga marbagas do hamu nuaeng inang,dibaheni sai denggan ma hamu masianju anjuan jala masihaholongan.Sai situbu laklak ma hamu situbu singkoru di dolok ni pubatua,sai situbu anak ma hamu situbu bopru donganmu sari matua,Sai marurat ma hamu tu toru marjujungan  tu ginjang,mardakka tu lambung sigodang pangisi jala sideak pinompar.Martumbur ma baringin mardangka ma hariara, sai ma torop ma hamu maribur,martangkang ma juara sai matorop mariburma hamu songon siatur maranak, sai matorop serema hanu songon siatur nabolon”.

Rumah tangga SiBagot ni Pohan menjadi Rumah tengga teladan karena membina rumah tangga yang harmonis dan saling menyayangi.

Kemudian Isteri iBagot ni Pohan boru Pasaribu melahhirkan  empat orang anak yaotu:

  1. Tuan Sihubil
  2. Tuan Somanimbil
  3. Tuan Dibangarna
  4. dan Sonakmalela

menjelang dewasa keampat anak anak mereka mulai diajari lah berperilaku yang baik sesuai dengan tradisi batak dan patuh berorang tua dan menghormati setiap orangtua saling menyayangi sesama. Setelah beranjak Dewasa merekapu belajar tata cara paradaton dan mempelajari segala Ilmu yang berhubungan dengan kehidupan. Mereka menyontoh peri laku Ayahnya Si Bagot Ni Pohan.

Berita tentang  Si Bagot Ni pohan sudah terkabar kemana-mana, bahwa beliau sungguh bijak dan layak untuk dihormati dan tempat setiap orang bertanya karena kelengkapan Ilmunya (panjaha jaha di bibir jala parpustaha di toloan).

Sibagot Ni Pohan juga pemberani Cuma taku pada Opu Mulajadi Nabolon hanya (sesembahan Orang Batak zaman dulu).

Si Bagot Ni Pohan dengan Isterinya boru Pasaribu mulai tua  merekapun memperdalam ilmu anak anakmya yang empat orang. Suatu hari keempat anaknya dikumpulkan di Partungkoan (tempat bersidang),Lalu si Bagot Ni Pohanmembuka pembicaraan:

“Ada yang akan saya utarakan pada kalian anakanakku, Badanku lam kelamaan semakin tua, dan tidak tau apa yang akan dibuat ditakdirkan oleh omputa mulajadi nabolon, mana tau apakah Andor yang duluan putus atau Punggur yang duluan jatuh, Semasih aku hidup masih bisa aku menasihati kalian serta kukasih tahu sama kalian tentang pati yang menjadi ikutan kalian dan orang lain.

Pertama sekali yang saya katakan pada kalian adalah:

“Ingkon denggan hamu tongtong masiajarajaran masianjuanjuan jala masihaholongan. Sai pasing hamu na masa parbadaan,alai eahi hamu ma pardamean.Ai metmet bulung ni baja metmetan do bulung ni banebane.Ai metmet ni na marbada alai lehetan do na mardamedame.

Ingkon marsada ni tahi jala saoloan hamu tongtong di ganup siulaon,asa saut na sinakap ni rohamu Aek godang do aek laut, dos ni roha do sibahen na saut.

Ingot hamu tongtong adat dohot uhum maradophon angka dongan tubu, hulahula,boru nang maradophon ale-ale .Sai unang ma lupa horbo sian bara na,sai unang ma peut ulos sian sangkotanna.Ingkon tigor tongtong uhum dohot pambahenan tu saluhut.(ingkon sijujung ni ninggor,sitingkos ni ari)

Ingkon Hormat jala pantun hamu maradophon halak.Pantun dohangoluan,tois do hamagoan.ndang jadi lea roha mamereng na pogos dohot na marsiak bagi,alai ingkon asi do roha mamereng nasida.Ingkon urupan do halak na di bagasan hagogotan manag parmaraan.Ingkon pasangapon do angka natuatua jala oloan hatana.Ai tahuak mannuk di taonbaru ni ruma,halak na pasangap natuatua ido halak na martua”.

Sebenarnya masih banyak petuah petuah yang akan disampaikan Si Bagot Ni Pohan kepada anak-anaknya.Umur dari Si Bagot Ni Pohan  cukup panjang .

Image result for spiritual batak

Hingga sampai saatnya SiBagot Ni Pohanpun meninggal dan dikebumikan di Onan Raja Balige sedangkan isterinya boru Pasaribu dimakamkan di Sianipar Paindoan,tidak sama dengan Suaminya di Onan Raja. Ceritanya sebagai berikut.

Anak dari SiBagot Ni Pohan siahaan(anak tertua) yaitu Tuan Sihubil tinggal di Huta Surungan Paindoan karena disanalah Tuan Sihubil membuka perkampungannya, sang Ibu boru Pasaribu cukup lama tinggal bersama anak sulungnya sampai meninggalnya.

Cukup sekianlah ringkasan Riwayat Ompung Si Bagot Ni Pohan semoga bermanfaat- Thpardede