Archive for Maret, 2009

AKU TIDAK BERNIAT MENGHIANATI AMANAH

suratLM

Setelah sekian lama saya mencoba mengendalikan/menahan diri untuk tetap memegang amanah dari bapak DR. L.manik sesuai dengan pesan beliau melalui surat(yang pernah saya tampilkan pada tulisan " " ) akhirnya saya putuskan untuk menampilkan gambar Opung Guru Somalaing Pardede, dengan pertimbangan demi kelengkapan Sejarah Batak, karena sepengetahuan saya bahwa cita-cita pak DR. L.Manik adalah membuka tabir perjuangan dan kebesaran suku Batak yang selama ini ditutupi oleh Belanda (dengan memboyong semua dokumen atau pustaha) Orang Batak kenegerinya, baik berupa ilmu perbintangan dan pengobatan dll.

 somalaing.P

inilah gambar asli yang saya terima dari Bapak DR.L.Manik

 

DR.L.Manik adalah seorang tokoh idealis dan sangat mencintai bangsanya (Indonesia) dan Sukunya (Batak), untuk mengetahui sekedarnya tentang DR. MAnik kita baca cuplikan rekannya yang bernama Alfred sbb:
Ketika Alfred ke Jakarta, Manik kemudian studi ke Jerman. Manik berhasil memperoleh gelar doktor filsafat dengan magna cum laude di Universitas Frein. Disertasinya berjudul Das Arabische Tonsysten Im Mittelalter adalah pengkajian kitab-kitab musik para filsuf muslim seperti Al-Kindi, Al-Farabi, dan Ihwan al-Safa. "Luar biasa, sayang tak banyak orang tahu soal itu," kata Alfred.
Liberty Manik, pria berdarah Batak yang lahir di Sidikalang, Sumatra Utara, meninggal pada 16 September 1993 pada usia 69 tahun. Sepanjang hidupnya, Ia tak hanya menjadi pencipta lagu, ia juga pengajar musik di Institut Seni Indonesia (Yogyakarta) yang dikenal sebagai filolog (ahli bahasa) Batak kuno. Ia melakukan kajian yang mendalam mengenai Gondang, musik khas

selengkapnya buka : http://www.facebook.com/note.php?note_id=39277934100


Iklan

Batak Dendam tak berujung

Dalihan Natolu

Suku Batak bukanlah suku bangsa tertutup, jauh sebelum Belanda menguasai Nusantara, Tanah BAtak sudah mengadakan hubungan perdagangan dengan dunia Luar seperti Kerajaan-kerajaan  di Eropah dan Timur tengah juga afrika,serta dari India, yang rutin melakukan hubungan perdagangan sebelum masehi adalah kerajaan dari Afrika yaitu kerajaan Mesir dengan rajanya  Fir’aun demikian juga dari Junani yang kemudian menyusul Portugis , Inggeris dan Belanda. Inilah bukti Bahwa suku Bangsa Batak adalah suku bangsa terbuka dan mudah beradaptasi dengan siapapun.

Begitu juga kehadiran Agama diwilayah suku bangsa Batak, umumnya mereka well come , asal jangan menggagu/ memaksa merobah  keyakinan mereka.salah satu contoh apa yang disebut dan sebar luaskan belakangan ini tentang buku Tuanku Rao yang kontreversial, terlepas dari benar tidaknya namun tidak dipungkiri memang ada penyerangan kaum paderi dari Sumatera barat yang bermazhab Wahabi (Hambali) ketanah Batak (Tapanuli), dengan alasan memerangi kelompok pagan,  Pongkinangolngolan (Tuanku Rao) akan mendapat restu dari Tokoh Ulama  Paderi untuk menyerang Tanah BAtak (Tapanuli), Sedangkan tujuan sebenarnya dari Pongkinangolngolan adalah untuk membalas dendam  kepada pamannya Sisingamangaraja X  yang berada di Bakara. Disinilah letak kontraversinya: Kalau memang tujuan penyerangan Tuanku Rao ketanah Batak toba adalah semata-mata untuk mengIslamkangolongan Pagan (orang-orang Batak yang beragama Sipelebegu), kenapa tidak tuntas pendakwaannya dengan mendidik orang-orang Batak menjadi Islam seperti dilakukannya kepada kelompok adat di Minangkabau. Itu bukanlah karakter pen dakwa dari kelompok Agama umumnya, mereka akan bekerja tuntas dengan meninggalkan guru-guru Agama Islam, lain halnya penyerangan ke Tapanuli selatan (Batak Mandailing) karena tidak ada unsur dendam (politik) maka Mandailing sekitarnya memeluk Islam dengan tuntunan guru-guru Agama Islam yang berpengalaman. yang sengaja diberikan ulama Paderi. (oleh karena itu mazhab yang dianut Minangkabau hampir sama dengan Mazhab di Tapanuli selatan/ Mandailing.

Copy of stem

Kalu kita ikuti alur cerita MOP dalam buku Tuanku Rao, Penyerangan kaum Paderi yang bermazhab Hambali ke Tanah Batak adalah untuk membalas dendam dapat kita terima, karena setah Pongkinangolngolan dapat membunuh dengan memenggal kepala Sisingamangaraja X sang paman, Tuanku rao dengan pasukannya kembali ke Sumatera Barat dengan meninggalkan mayat manusia-manusi Batak bertebaran di darat dan dii danau toba begitu saja, tanpa sedikitpun terlihat ada niat untuk mengislamkan tanah Batak. Walhasil Dendam Pongkinangolngolan alias Tuanku Rao hingga kini masih berbekas pada suku bangsa Batak Toba

Sementara cukup sekian dahulu sebagai pembukaan mencari solusi dalam bertoleransi disemua aspek dilingkungan suku bangsa Batak khususnya, dan untuk Bangsa Indonesia Umumnya. Dendam Pongkinangongolan alias Tuanku Rao jangan sampai tidak berujung  -THP

Islam&Keristen dalam wacana Portap

Sudah selayaknya seluruh masyarakat Batak merasa berkepentingan dalam pemekaran Propinsi Sumatera Utara dengan dipecah dengan satu propnsi lagi, yakni Propinsi Tapanuli, dengan pertimbangan sejarah taraf hidup dan masa depan generasi muda dalam pembangunan Negara kesatuan Republik Indonesia seutuhnya.

peta-suku-batak

Hal yang tidak dapat dipungkiri bahwa masalah  sara adalah persoalan pokok yang membuat tidak menyatunya suara dari semua suku Batak, dalam memutuskan sesuatu yang menentukan masa depan suku Batak. Suku Batak yangterdiri dari beberapa sub Batak;  Mandailing , Toba,Simalungun Karo dan Dairi adalah penganut Agama yang dianutnya dengan panatik (teguh). Dan inilah karakter Suku Batak yang sebenarnya teguh dengan keyakinannya apakah dia Batak Toba(mayoritas Keristen Protestan/Katolik), Simalungun, Karo yang hampir boleh dikatakan (50:50 Islam dan Keristen/Katolik dll), atau Batak Mandailing/ Sipirok mayoritas Islam.  Dengan memperhatikan perimbangan ini sudah selayaknyalah panitia pemebentukan Propinsi Tapanuli mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan yang aakn terjadi. Sekali lagi saya menekankan Semua Suku Batak Tegu akan keyakinannya  dan masalah Agama adalah masalah yang sangat sesnsitif. Kalau Suku Batak berkeinginan maju, maka semua Suku Batak harus Menyadari perlu persatuan dan kesatuan, Jangan sampai orang meng identikkan bahwa Batak Toba adalah Keristen dan Batak Mandailing adalah Islam, ini seharusnya tidak boleh terjadi  pengkotak-kotakan suku Batak jangan sampai terjadi Suku Batak adalah Batak seutuhnya dengan diikat falsafah hidupnya “Dalihan Natolu”. Disini sangat dibutuhkan peranan tokoh-tokoh Batak baik dari pihak suku Batak Toba, Mandailing sipirok, simalungun, Karo dan Dairi Keristen/katolik,  Maupun dari Tokoh-tokoh Batak  Toba, Mandailing sipirok, simalungun, Karo dan Dairi yang Islam/Muslim.

Terakhir himbauan Kita harus kembali pada sejarah yang sebenarnya dan kepada Budaya suku Batak dengan mengacu pada dua faktor ini tanpa mementingkan kepentingan Pribadi dan kelompok, tetapi demi kepentingan masyarakat Batak seutuhnya,  maka Propinsi Tapanuli akan Terwujud lebih cepatdan segera -THP

Bahasa Batak Toba – 2


Dialek Bahasa Batak Toba

(th.pardede)

DIALEK:

Yang dimaksu dengan dialek adalah ditandai dengan ciri-ciri khas dalam tata bunyi, kata-kata, ungkapan-ungkapan dan lain-lain. Bahasa adalah rangkaian tutur kata , mangandung makna yang dapat dipahami oleh penuturnya, sedangkan dialek merupakan varian suatu bahasa. Dialek dalam fungsinya ditengah masyarakat merupakan bahasa setempat, dialek yang merupakan bahasa setempat itu bersifat turun temurun. Dialek ini terjadi karena adanya isolasi alami dalam jangka waktu yang lama.
Dialek Bahasa Batak Toba dapat dibagi 5 dialek yaitu :
1-Dialek Silindung. Yang dipergunakan diwilayah : Kecamatan Tarutung, Sipoholon ,Pahae Julu,Pahae JAe, Sipahutar, Pangaribuan dan GAroga. Sedang di Adiankoting dipergunakan dialek Sibolga.
2-Dialek Humbang. Dipergunakan oleh wilayah Siborong-borong, Dolok sanggul, Lintong ni huta, Muara, Parmonangan, dan Onan Ganjang.Sedangkan di Parlilitan dan Pakkat sebagian mempergunakan bahasa pakpak dairi dan sebagian lagi mempergunakan dialek humbang.
3-Dialek Toba. dipergunakan diwilayah Toba: Balige, Laguboti, Porsea, Lumbanjulu, Silaen, dan Parsoburan.
4-Dialek Samosir. dipergunakan di wilayah Samosir yaitu: Palipi, Pangururan, Onan Runggu, Simanindo, dan Harian.
5-dan Dialek Sibolga. Dipergunakan di Sibolga dan sebagian wilayah Silindung.
Perbedaan-Perbedaan dialek tersebut dapat di bagi 3 yaitu :
1- Perbedaan Fonologis, sebagai contoh:Kata“amang,Among,Apang” =Ayah.)
amang (dialek Silindung, dan Humbang), Among (dialek Toba, dan Samosir), Apang dialek Sibolga).
“Inang,Inong” = Ibu.
Inang (dialek Silindung,Humbang,Sibolga), Inong (dialek Toba, dan Samosir).
“Tu, Hu”= Ke. Tu (dialek Silindung, Humbang, Toba, dan Sibolga). Hu (dialek Samosir.
Pada dialek humbang konsonan /r/sebagai apiko alveolar diucapkan menjadi [R] velar. Jadi konsonan /r/ itu lebih dekat kepada /g/ dan /h/, yaitu dibentuk pada rongga tekak misalnya (disaRat-saRat? uRsa ReRe tu RuRa, dari contoh itu tampak bahwa perbedaan fonologis itu dapat terjadi, baik pada vokal maupun konsonan.
(bersambung…….3)

DR.L.Manik dengan saya tentang Guru Somalaing Pardede


DR.L.Manik cukup dikenal dibumi Nusantara sebagai komposer dengan lagu "Satu Nusa Satu Bangsa". Sehubungan dengan profesi beliau pada tahun akhir 1972, berkunjung ke daerah Tapanuli Utara untuk melakukan reset tentang musik Tradisional Batak, Musik toba, Karo, Simalungun, Mandailing bahkan Nias. Beliau dengan Rombongan menginap di Losmen Toga Laut Tawar. Ketika itu yang menerima/menyambut mereka adalah saya sendiri kira-kira pukul 20.30. malam, udara malam itu cukup dingin dan langsung menanyai saya, Apakah ada kamar untuk kami?, tanya seorang yang berbadan sedang tidak terlalu gemuk tetapi kelihatannya gempal karena orangnya pendek. Untuk berapa orang? Dia menjawab dengan singkat 3 kamar, tetapi kami perlu satu ruangan untuk barang-barang kami, sambungnya. Pikiran saya cuma barang tas pakaian mereka saja; kenapa tidak jawabku singkat. Tampa menunggu selesai jawaban saya beliau langsung menyuruh beberapa orang menurunkan barang-barangnya berupa alat-alat elektronik, seperti alat merekam equalizer dll, yang menurut saya pada saat itu cukup canggih. Sembari barang-barang mereka diturunkan dari Mobil, saya meminta pada beliau surat-surat identitas mereka, yang kemudian saya daftar/tulis dalam buku tamu (istilah pada saat itu). Tiba-tiba Pimpinan rombongan yang berbada gempal itu menegur saya yang sedang menulis, Aha do marga muna lae ? tanya nya dengan bahasa Batak. Saya kaget mendengar pertanyaan yang berbahasa Batak tersebut, dengan sedikit grogi saya menjawab, "Pardede". wah kebetulan lae, saya perlu bicara dengan lae besok, boleh tidak, saya bertambah bingung dengan permintaan beliau, untuk apa dia bicara dengan saya pikirku dalam hati.
Setelah mereka masuk kamar, dan ada yang mandi, saya pun sibuk dengan pekerjaa, saya memeriksa kondisi diparkiran mobil, ada berapa mobil yang sedang parkir malam itu, belum saya selesai mengontrol parkiran tiba-tiba pimpinan rombongan tadi menemui saya, yang kemudian mengajak saya masuk kedalam setelah kami duduk beliau memperkenalkan dirinya; Saya DR. L. Manik katanya sambil memperhatikan rawut muka saya dengan serius, selanjutnya kami berbahasa Batak yang kurang lebih artinya sebagai berikut:
– Sebetulnya saya kepingin berbicara dengan lae besok, tetapi setelah saya melihat jadwal perjalan kami, kami pagi-pagi harus sudah berangkat ke Samosir kerna kapal nya sudah siap berangkat pagi. katanya memulai pembicaraan
– Pukul berapa besok pagi? tanyaku
– kami sudah ada di kapal pukul 7.00 pagi katanya, Tentang pertanyaan saya tadi mengenai marga Lae adalah berhubungan dengan buku yang akan saya terbitkan tentang seseorang bermarga Pardede, sambung DR. L.Manik dengan semangat ,tanpa menunggu saya bertanya, beliau melanjutkan pembicaraanny, seakan dia ingin meamnfaatkan waktu yang singkat tersebut;
– Apa Lae pernah mengenal nama "Guru Somalaing Aji Pardede", karena tokoh ini lah yang saya ingin bukukan, dan tulisan saya tentang tokoh ini agak terkendala karena sesuatu, sejujurnya saya katakan kedatangan kami ke Tapanuli ini tidak ada hubungannya tentang tokoh ini, tetapi kami datang kesini adalah menyangkut tentang musik tradisional di Batak. Tadi di Parapat Semua teman-teman dalam rombongan ini mengusulkan agar menginap di Parapat saja. entah kenapa saya berkeras agar melanjutkan perjalanan dan di Balige saja menginapnya, katanya lalu ketawa , sayapun ikut ketawa menunjukkan pada beliau bahwa saya mendengar apa-apa yang diucapkannya.Bagaimana Lae apa pernah mendengar tetang nama itu?
– Pernah tapi sekilas saja saya dengar tentang nama "Guru Somalaing", tanpa nama Aji, itupu sebatas dongeng-dongenan saja, saya pikir orang yang bernama itu tidak ada, karena setiap ito (mangulaki) saya bercerita tentang nama itu selalu beliau seperti kesurupan, kataku seadanya.
– Siapa nama ito lae itu, apa masih hidup? tanya beliau bersemangat.
– Ya jawabku, karena ito ku itu adalah ito kandung dari Opung doliku, jawabku
– Jadi Lae Pardede dari mana?
– "Hauma bange" kataku
– Haa, serunya kaget; tidak salah lagi, aku sudah menemuinya gerutunya sambil menyodorkan tangannya padaku.
– Siapa Nama opung Lae itu tanya nya lagi.
– "Haji Abdul Halim Pardede" alias "Lobe Tinggi Pardede", alias "Avinas Pardede".
– Itonya namanya siapa ?
– Si Boru Tona br Pardede, jawabku singkat.
– Salam aku Lae, mana tau kita tidak ketemu lagi, saya hanya meminta doa lae semoga saya berhasil menfotonya.
– maksud lae apa, tanyaku.
– Inilah kendala yang membuat tulisan saya tentang beliau selalu tertunda, sudah berkali kali saya menfoto gambar beliau di Museum tidak pernah berhasil, selalu saya mengalami hal-hal yang aneh setiap saya berniat mengambil foto beliau.
– Foto opung itu memang ada tanyaku heran.
– Ada di museum bawah tanah, karena penjaga museum pun mengatakan padaku bahwa sudah banyak orang ingin menfoto ulang gambar beliau, tetapi tidak pernah ada yang berhasil, dan mereka penjaga museum mengyakini Guru Somalaing Aji Pardede itu adalah orang yang sakti, pustahanya yang ada disimpan dimuseum itupun tidak sembarangan yang boleh melihatnya,
dan Guru Somalaing Aji Pardede itu mereka katakan sebagai Nabi bagi Agama Parmalaim, kata DR.L.Manik bersemangat. Saya tetap sebagai pendengar yang baik karena cerita beliau adalah hal yang baru bagi saya, dan banyak lagi cerita beliau tentang Guru Somalaing Aji Pardede. baik tentang perjuangan serta hubungan beliau dengan Sisingamangaraja, maupun tentang Agama Parmalim. kami asyik bercerita tanpa menyadari malampun telah larut, kemudian beliau pamit untuk istirahat,
– Lae, tolong salam saya sekali lagi, agar saya dapat berhasil menfoto gambar beliau, sesampainya saya di Leiden saya akan kabari LAe. Kemudian kami bersalaman dengan eratnya, kedua tangannya menggenggam tangan ku seakan takut berpisah.

Aku duduk didepan Penginapan kami sambil memperhatikan orang-orang yang lewat , tiba-tiba saya tersentak akan kedatanga tukang pos ada surat untuk si Toga katanya, sambil menyodorkan sebuah emplop, lalu emplop tersebut kuterima, spontan kulihat pengirimnya, dan saya tidak menduga surat tersebut dari DR.L.Manik – Leiden. Kemudian saya membuka isinya, alangkah senangnya saya melihat isi dari kiriman itu berupa selembar surat dan sebuah Foto yang tertulis namanya "Guru Somalaing Aji Pardede"

Beberapa setelah kedatangan kiriman dari DR.L.Manik, Opung saya beserta Bapak uda Saya H.Pardede datang keBalige sehubungan dengan kelahiran anak saya kedua , Opung membawa seekor KAmbing Jantan warna Putih, dan kemudian memberi nama anak saya sahara Mangadar, kerna saya tidak mengerti makana dari sahara maka saya usulkan pada Opung agar sahara itu diganti saja dengan Syah, Opumg dan uda setuju dengan usul saya maka nama anak saya menjadi Syah mangadar Pardede. Kedatangan Opung dengan Uda saya sangat menggembirakan kami, maka tak ayal lagi saya menceritakan pertemuan saya dengan DR.L.Manik. Opung mendengar cerita saya begitu terharu. saya tidak mengerti kenapa matanya berlinang, malahan saya tidak menceritakan kepada mereka bahwa saya telah menerima sebuah kiriman dari DR.LManik, berupa surat dan foto, karena saya takut melanggar pesan dari DR.L.Manik.
Tetapi suatu hari Bapak Uda saya "Harun Pardede" datang ke Balige dari Parapat, dalam rangka Kepanitiaan Tugu Raja Toga Laut Pardede, menurut pengakuan beliau setelah meninggal Bapak Saya"ama Toga Pardede", maka Terpilihlah pengurus baru yaitu diketuai: "Harun Pardede dan Sopar Pardede", beliau menceritakan pada saya program-program mereka agar dapat membangun kembali tugu Raja Toga Laut Pardede, kemudian beliau menyarankan kepada saya untuk menghubungi kembali DR.L.Manik. Setelah saya mendengar segala macam program beliau dengan uda S.Pardede, tanpa pikir panjang, saya menceritakan kepada uda bahwa saya baru menerima surat dan Gambar Guru Somalaing Pardede dari DR.L.Manik. Tetapi saya belim boleh memberi sama siapa-siapa, sesuai janji saya dengan DR.Lmanik, hal itu dicantumkan didalam suratnya. Tetapi karena saya pun sangat mengharap, kami dapat membangun kembali Tugu Opung kami Raja Toga Laut Pardede, dan BApak uda saya pun bersumpah tidak akan mengedarkannya kepada siapapun maka gambar tersebut saya serahkan kepada Bapak uda saya yang bernama Harun Pardede, dengan janji seminggu kemudian akan dikembalikan kepada saya. Saya menunggu 1 minggu, 1 bulan hingga 3 bulan bapak uda saya tidak memberikabar apa- apa, tidak berapa lama saya maendapat kabar dari DR. L.Manik, bahwa gambar Guru Somalaing Aji Pardede telah beredar dan terdapat didalam buku si Raja Batak. DR.L.Manik sangat kecewa pada saya sejak itu komunikasi kami terputus. Betapa Ruginya kami keturunan Raja Toga Laut Pardede. Saya sangat menyesali akan kelalaian saya tersebut. Suatu hari saya ditelepon seseorang agar saya datang menemuinya di suatu tempat, saya merasa mengenal suara itu dan saya yakin beliau adalah DR.L.Manik. Tetapi tidak berapa lama kemudian saya mendengar beliau meninggal. -TH.Pardede

Bahasa Batak Toba -1

Dialek Bahasa Batak Toba
(th.pardede)
moz-screenshotPembinaan dan pembangunan kebudayaan nasional dalam bidang kebahasaan dan kesastraan merupakan salah satu masalah kebudayaan nasional yang perlu di bahas dan disosialisasikan dengan sungguh-sungguhdan berencana, sehingga tujuan akhir pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia dan bahasa daerah ,termasuk sastranya dapat tercapai Sebagaimana kita ketahui Budaya bangsa Indonesia cukup kaya dan beragam terutama dalam sastra dan bahasanya.

Van der tuuk telah menulis tentang Tata bahasa Batak Toba dan kamus Bahasa Batak Toba, seabad yang lalu dalam bukunya “A Grammar of Toba Batak”, disusul William K.Percival juga menyusun buku nama nya sama denga tulisan Van der tuuk “A Grammar of Batak Toba” pada tahun 1964, dan kemudian penelitian-penelitian oleh P.W.J.Nababan dengan bukunya berjudul “Toba Batak a Grammatical Description pada tahun 1966, dan banyak lagi tokoh-tokoh penulis dan peneliti Batak dan yang orang asing yang mencintai budaya Batak. Namun didalam pensosialisasian sangatlah minim, meskipun didalam pemerintahan ada suatu lembaga yang menangani masalah kebudayaan.
Dalam kenyataan dapat peroleh gambaran bahwa jumlah dialek yang terdapat dalam bahasa Batak Toba cukup beragam
Peranan dan Kedudukan Bahasa bagai Orang Batak toba sangatlah komunikatif terutama dalam bahasa pargaulan sehari-hari dan upacara adat, maksudnya didalam pembicaraan sehari hari atau pembicaraan upacara adat sesama orang batak, sangatlah terasa kekeluargaan kalau mereka memakai bahasa Batak, sesuai dengan prinsip “Dalihan Natolu”.


1- Bahasa Batak Toba dalam Upacara Adat:
Dalam penggunaan bahasa pada masyarakat Batak umumnya dan Batak Toba Khususnya,
akan terlihat keindahan penyajiaan bahasa tersebut, unsur-unsur sastranya akan lebih
menonjol, setiap perkataan selalu diselingi dengan umpama (pepatah) dan umpasa (pantun),
dan disajikan penuh dengan tata kerama (Dalihan Natolu)
2- Bahasa Batak Toba dalam pergaulan sehari-hari :
Bahasa BAtak Toba dalam kesehariannya sangatlah fungsional. Pemakaiannya meliputi
lingkungan yang sangat luas, hampir disemua tempat dan situasi. Penggunaan Bahasa dalam
pergaulan sehari-hari tidaklah sekaku dalam pemakaian dalam Upacara Adat istiadat. Saya
katakan kaku, banyak yang pintar berbicara bahasa batak toba belum tentu dapat berbicara
di forum upacara adat
Bahasa Sastra:
Sastra Batak terdiri dari sastra Tulisan dan sastra lisan:
Yang termasuk sastra Lisan adalah pemakaian bahasa yang bersifat puitis hal ini dapat ditemui dalam upacara Adat: Perkawinan, kematian memindahkan tulang belulang leluhur, dll. Dimana akan ditemui kata-kata dalam kalimat yang sangat puitis, didalam meratapi orang meninggal dia akan berkisah dengan kata-kata yang membuat orang terhanyut sedih karenanya. Juga Umpa dan umpasa akan ditemui disetiap acara adat sebagai contoh;
Umpama: ” tedek songon indahan dibalanga”>> artinya seperti nasi dalam kuali, maksudnya adalah bahwa semua yang telah diutarakan tidak adalagi yang tersembunyi
Umpasa:
Margondang sitidaon, mangan hoda sigapiton
Tu jolo nilangkahon,tupudi sinarihon.
artinya :Bergendang sitidaon,makan kuda sigapiton,
Melangkah kedepan, kebelakang dipikirkan”
Mantera:
“Tul tanjung holi ampe tu bulung bira, bisa ni tano bisa ni langit toh,lah,lah,lah,lah,lah,lah”
artinya: Luka pada tulang-tulang ditimpa kedaun talas,bisa tanah,bisa langit menjadi hilang,berkat Allah”
Tonggo-tonggo: (Mantera memanggil arwah nenek moyang untuk meminta berkat dan restu, menunjukkan kebenaran dan arti dari suatu kejadian).
Misal: “Hujou,hutonggo hupangalu-alui, sahala ni daompung boru Saniang naga, saniang naga tunggal, saniang naga jae, saniang naga di julu, partintinnaruminis, parsanggul na lumobi,…tumpak ma hami horas,maduma jala gabe”
artinya: ” KAmi memanggil, mengundang, dan menjemput semangat dan arwah nenek boru saniang naga(dewa danau toba dan pengairan), saniang naga yang tunggal, saniang naga yang yang berada di hilir dan dihulu yang bercincin banyak dan berkode rapi, berkatilah kami selamat dan bahagia.”
Andung-andung (bahasa ratapan , bentuk ini dipakai pada waktumeratapi orang yang meninggal.Kata-kata yang dipergunakan lain dari yang dipakai sehari-hari.
Misal:
Kata anak disebut menjadi Sinuan tunas>>> Putra
—- boru —————- Sinuan beu >>> Putri
—- amang ————– Parsinuan >>>> Ayah
—- inang ————– Pangintubu >>> Ibu

Sastra tertulis itu adalah berupa ilmu perbintangan atau astronomi, Tarombo (silsilah), ramuan pengobatan tradisional, turi-tirian (cerita dongeng mitos), tulisan tersebut ditulis dengan aksara Batak.

(Bersambung………..)

PEMBERITAHUAN

Blog ini TOGAPARDEDE’S BLOG adalahtidak berbeda dengan “TOGA PARDEDE”.blogspot.com, semoga dengan hadirnya Blog TogaPardede’s blog “wordpress” dapat memeperluas wawasan dan silaturahmi,- Terimakasih atas perhatiannya -Horas Wassalam