DR.L.Manik cukup dikenal dibumi Nusantara sebagai komposer dengan lagu "Satu Nusa Satu Bangsa". Sehubungan dengan profesi beliau pada tahun akhir 1972, berkunjung ke daerah Tapanuli Utara untuk melakukan reset tentang musik Tradisional Batak, Musik toba, Karo, Simalungun, Mandailing bahkan Nias. Beliau dengan Rombongan menginap di Losmen Toga Laut Tawar. Ketika itu yang menerima/menyambut mereka adalah saya sendiri kira-kira pukul 20.30. malam, udara malam itu cukup dingin dan langsung menanyai saya, Apakah ada kamar untuk kami?, tanya seorang yang berbadan sedang tidak terlalu gemuk tetapi kelihatannya gempal karena orangnya pendek. Untuk berapa orang? Dia menjawab dengan singkat 3 kamar, tetapi kami perlu satu ruangan untuk barang-barang kami, sambungnya. Pikiran saya cuma barang tas pakaian mereka saja; kenapa tidak jawabku singkat. Tampa menunggu selesai jawaban saya beliau langsung menyuruh beberapa orang menurunkan barang-barangnya berupa alat-alat elektronik, seperti alat merekam equalizer dll, yang menurut saya pada saat itu cukup canggih. Sembari barang-barang mereka diturunkan dari Mobil, saya meminta pada beliau surat-surat identitas mereka, yang kemudian saya daftar/tulis dalam buku tamu (istilah pada saat itu). Tiba-tiba Pimpinan rombongan yang berbada gempal itu menegur saya yang sedang menulis, Aha do marga muna lae ? tanya nya dengan bahasa Batak. Saya kaget mendengar pertanyaan yang berbahasa Batak tersebut, dengan sedikit grogi saya menjawab, "Pardede". wah kebetulan lae, saya perlu bicara dengan lae besok, boleh tidak, saya bertambah bingung dengan permintaan beliau, untuk apa dia bicara dengan saya pikirku dalam hati.
Setelah mereka masuk kamar, dan ada yang mandi, saya pun sibuk dengan pekerjaa, saya memeriksa kondisi diparkiran mobil, ada berapa mobil yang sedang parkir malam itu, belum saya selesai mengontrol parkiran tiba-tiba pimpinan rombongan tadi menemui saya, yang kemudian mengajak saya masuk kedalam setelah kami duduk beliau memperkenalkan dirinya; Saya DR. L. Manik katanya sambil memperhatikan rawut muka saya dengan serius, selanjutnya kami berbahasa Batak yang kurang lebih artinya sebagai berikut:
– Sebetulnya saya kepingin berbicara dengan lae besok, tetapi setelah saya melihat jadwal perjalan kami, kami pagi-pagi harus sudah berangkat ke Samosir kerna kapal nya sudah siap berangkat pagi. katanya memulai pembicaraan
– Pukul berapa besok pagi? tanyaku
– kami sudah ada di kapal pukul 7.00 pagi katanya, Tentang pertanyaan saya tadi mengenai marga Lae adalah berhubungan dengan buku yang akan saya terbitkan tentang seseorang bermarga Pardede, sambung DR. L.Manik dengan semangat ,tanpa menunggu saya bertanya, beliau melanjutkan pembicaraanny, seakan dia ingin meamnfaatkan waktu yang singkat tersebut;
– Apa Lae pernah mengenal nama "Guru Somalaing Aji Pardede", karena tokoh ini lah yang saya ingin bukukan, dan tulisan saya tentang tokoh ini agak terkendala karena sesuatu, sejujurnya saya katakan kedatangan kami ke Tapanuli ini tidak ada hubungannya tentang tokoh ini, tetapi kami datang kesini adalah menyangkut tentang musik tradisional di Batak. Tadi di Parapat Semua teman-teman dalam rombongan ini mengusulkan agar menginap di Parapat saja. entah kenapa saya berkeras agar melanjutkan perjalanan dan di Balige saja menginapnya, katanya lalu ketawa , sayapun ikut ketawa menunjukkan pada beliau bahwa saya mendengar apa-apa yang diucapkannya.Bagaimana Lae apa pernah mendengar tetang nama itu?
– Pernah tapi sekilas saja saya dengar tentang nama "Guru Somalaing", tanpa nama Aji, itupu sebatas dongeng-dongenan saja, saya pikir orang yang bernama itu tidak ada, karena setiap ito (mangulaki) saya bercerita tentang nama itu selalu beliau seperti kesurupan, kataku seadanya.
– Siapa nama ito lae itu, apa masih hidup? tanya beliau bersemangat.
– Ya jawabku, karena ito ku itu adalah ito kandung dari Opung doliku, jawabku
– Jadi Lae Pardede dari mana?
– "Hauma bange" kataku
– Haa, serunya kaget; tidak salah lagi, aku sudah menemuinya gerutunya sambil menyodorkan tangannya padaku.
– Siapa Nama opung Lae itu tanya nya lagi.
– "Haji Abdul Halim Pardede" alias "Lobe Tinggi Pardede", alias "Avinas Pardede".
– Itonya namanya siapa ?
– Si Boru Tona br Pardede, jawabku singkat.
– Salam aku Lae, mana tau kita tidak ketemu lagi, saya hanya meminta doa lae semoga saya berhasil menfotonya.
– maksud lae apa, tanyaku.
– Inilah kendala yang membuat tulisan saya tentang beliau selalu tertunda, sudah berkali kali saya menfoto gambar beliau di Museum tidak pernah berhasil, selalu saya mengalami hal-hal yang aneh setiap saya berniat mengambil foto beliau.
– Foto opung itu memang ada tanyaku heran.
– Ada di museum bawah tanah, karena penjaga museum pun mengatakan padaku bahwa sudah banyak orang ingin menfoto ulang gambar beliau, tetapi tidak pernah ada yang berhasil, dan mereka penjaga museum mengyakini Guru Somalaing Aji Pardede itu adalah orang yang sakti, pustahanya yang ada disimpan dimuseum itupun tidak sembarangan yang boleh melihatnya,
dan Guru Somalaing Aji Pardede itu mereka katakan sebagai Nabi bagi Agama Parmalaim, kata DR.L.Manik bersemangat. Saya tetap sebagai pendengar yang baik karena cerita beliau adalah hal yang baru bagi saya, dan banyak lagi cerita beliau tentang Guru Somalaing Aji Pardede. baik tentang perjuangan serta hubungan beliau dengan Sisingamangaraja, maupun tentang Agama Parmalim. kami asyik bercerita tanpa menyadari malampun telah larut, kemudian beliau pamit untuk istirahat,
– Lae, tolong salam saya sekali lagi, agar saya dapat berhasil menfoto gambar beliau, sesampainya saya di Leiden saya akan kabari LAe. Kemudian kami bersalaman dengan eratnya, kedua tangannya menggenggam tangan ku seakan takut berpisah.

Aku duduk didepan Penginapan kami sambil memperhatikan orang-orang yang lewat , tiba-tiba saya tersentak akan kedatanga tukang pos ada surat untuk si Toga katanya, sambil menyodorkan sebuah emplop, lalu emplop tersebut kuterima, spontan kulihat pengirimnya, dan saya tidak menduga surat tersebut dari DR.L.Manik – Leiden. Kemudian saya membuka isinya, alangkah senangnya saya melihat isi dari kiriman itu berupa selembar surat dan sebuah Foto yang tertulis namanya "Guru Somalaing Aji Pardede"

Beberapa setelah kedatangan kiriman dari DR.L.Manik, Opung saya beserta Bapak uda Saya H.Pardede datang keBalige sehubungan dengan kelahiran anak saya kedua , Opung membawa seekor KAmbing Jantan warna Putih, dan kemudian memberi nama anak saya sahara Mangadar, kerna saya tidak mengerti makana dari sahara maka saya usulkan pada Opung agar sahara itu diganti saja dengan Syah, Opumg dan uda setuju dengan usul saya maka nama anak saya menjadi Syah mangadar Pardede. Kedatangan Opung dengan Uda saya sangat menggembirakan kami, maka tak ayal lagi saya menceritakan pertemuan saya dengan DR.L.Manik. Opung mendengar cerita saya begitu terharu. saya tidak mengerti kenapa matanya berlinang, malahan saya tidak menceritakan kepada mereka bahwa saya telah menerima sebuah kiriman dari DR.LManik, berupa surat dan foto, karena saya takut melanggar pesan dari DR.L.Manik.
Tetapi suatu hari Bapak Uda saya "Harun Pardede" datang ke Balige dari Parapat, dalam rangka Kepanitiaan Tugu Raja Toga Laut Pardede, menurut pengakuan beliau setelah meninggal Bapak Saya"ama Toga Pardede", maka Terpilihlah pengurus baru yaitu diketuai: "Harun Pardede dan Sopar Pardede", beliau menceritakan pada saya program-program mereka agar dapat membangun kembali tugu Raja Toga Laut Pardede, kemudian beliau menyarankan kepada saya untuk menghubungi kembali DR.L.Manik. Setelah saya mendengar segala macam program beliau dengan uda S.Pardede, tanpa pikir panjang, saya menceritakan kepada uda bahwa saya baru menerima surat dan Gambar Guru Somalaing Pardede dari DR.L.Manik. Tetapi saya belim boleh memberi sama siapa-siapa, sesuai janji saya dengan DR.Lmanik, hal itu dicantumkan didalam suratnya. Tetapi karena saya pun sangat mengharap, kami dapat membangun kembali Tugu Opung kami Raja Toga Laut Pardede, dan BApak uda saya pun bersumpah tidak akan mengedarkannya kepada siapapun maka gambar tersebut saya serahkan kepada Bapak uda saya yang bernama Harun Pardede, dengan janji seminggu kemudian akan dikembalikan kepada saya. Saya menunggu 1 minggu, 1 bulan hingga 3 bulan bapak uda saya tidak memberikabar apa- apa, tidak berapa lama saya maendapat kabar dari DR. L.Manik, bahwa gambar Guru Somalaing Aji Pardede telah beredar dan terdapat didalam buku si Raja Batak. DR.L.Manik sangat kecewa pada saya sejak itu komunikasi kami terputus. Betapa Ruginya kami keturunan Raja Toga Laut Pardede. Saya sangat menyesali akan kelalaian saya tersebut. Suatu hari saya ditelepon seseorang agar saya datang menemuinya di suatu tempat, saya merasa mengenal suara itu dan saya yakin beliau adalah DR.L.Manik. Tetapi tidak berapa lama kemudian saya mendengar beliau meninggal. -TH.Pardede