Dalihan Natolu

Suku Batak bukanlah suku bangsa tertutup, jauh sebelum Belanda menguasai Nusantara, Tanah BAtak sudah mengadakan hubungan perdagangan dengan dunia Luar seperti Kerajaan-kerajaan  di Eropah dan Timur tengah juga afrika,serta dari India, yang rutin melakukan hubungan perdagangan sebelum masehi adalah kerajaan dari Afrika yaitu kerajaan Mesir dengan rajanya  Fir’aun demikian juga dari Junani yang kemudian menyusul Portugis , Inggeris dan Belanda. Inilah bukti Bahwa suku Bangsa Batak adalah suku bangsa terbuka dan mudah beradaptasi dengan siapapun.

Begitu juga kehadiran Agama diwilayah suku bangsa Batak, umumnya mereka well come , asal jangan menggagu/ memaksa merobah  keyakinan mereka.salah satu contoh apa yang disebut dan sebar luaskan belakangan ini tentang buku Tuanku Rao yang kontreversial, terlepas dari benar tidaknya namun tidak dipungkiri memang ada penyerangan kaum paderi dari Sumatera barat yang bermazhab Wahabi (Hambali) ketanah Batak (Tapanuli), dengan alasan memerangi kelompok pagan,  Pongkinangolngolan (Tuanku Rao) akan mendapat restu dari Tokoh Ulama  Paderi untuk menyerang Tanah BAtak (Tapanuli), Sedangkan tujuan sebenarnya dari Pongkinangolngolan adalah untuk membalas dendam  kepada pamannya Sisingamangaraja X  yang berada di Bakara. Disinilah letak kontraversinya: Kalau memang tujuan penyerangan Tuanku Rao ketanah Batak toba adalah semata-mata untuk mengIslamkangolongan Pagan (orang-orang Batak yang beragama Sipelebegu), kenapa tidak tuntas pendakwaannya dengan mendidik orang-orang Batak menjadi Islam seperti dilakukannya kepada kelompok adat di Minangkabau. Itu bukanlah karakter pen dakwa dari kelompok Agama umumnya, mereka akan bekerja tuntas dengan meninggalkan guru-guru Agama Islam, lain halnya penyerangan ke Tapanuli selatan (Batak Mandailing) karena tidak ada unsur dendam (politik) maka Mandailing sekitarnya memeluk Islam dengan tuntunan guru-guru Agama Islam yang berpengalaman. yang sengaja diberikan ulama Paderi. (oleh karena itu mazhab yang dianut Minangkabau hampir sama dengan Mazhab di Tapanuli selatan/ Mandailing.

Copy of stem

Kalu kita ikuti alur cerita MOP dalam buku Tuanku Rao, Penyerangan kaum Paderi yang bermazhab Hambali ke Tanah Batak adalah untuk membalas dendam dapat kita terima, karena setah Pongkinangolngolan dapat membunuh dengan memenggal kepala Sisingamangaraja X sang paman, Tuanku rao dengan pasukannya kembali ke Sumatera Barat dengan meninggalkan mayat manusia-manusi Batak bertebaran di darat dan dii danau toba begitu saja, tanpa sedikitpun terlihat ada niat untuk mengislamkan tanah Batak. Walhasil Dendam Pongkinangolngolan alias Tuanku Rao hingga kini masih berbekas pada suku bangsa Batak Toba

Sementara cukup sekian dahulu sebagai pembukaan mencari solusi dalam bertoleransi disemua aspek dilingkungan suku bangsa Batak khususnya, dan untuk Bangsa Indonesia Umumnya. Dendam Pongkinangongolan alias Tuanku Rao jangan sampai tidak berujung  -THP