Archive for Januari, 2010

tata cara pelaksanaan adat batak (5)

Bab V

ADAT BATAK – DALIHAN NA TOLU –(The Philosophy of Life)

1- Kekerabatan/ Partuturan :

Didalam kehidupan Orang Batak, kekarabatan (partuturan) adalah sebagai hal yang menonjol didalam Falsafah Batak , Bahkan kekarabatan tersebut menjadi tiang himpunan pertemuan satu darah serta kekerabatan itupula yang menentukan sikap dan etika didalam mejalin silaturahmi. Sistem kekerabatan orang Batak menempatkan posisi seseorang secara pasti sejak dilahirkan hingga meninggal dalam 3 posisi yang disebut DALIHAN NA TOLU (bahasa Toba), Di Simalungun disebut TOLU SAHUNDULAN.

Dalihan dapat diterjemahkan sebagai "tungku" dan "hundulan" sebagai "posisi duduk".Keduanya mengandung arti yang sama :

Sebagai pesan dari orang-orang tua yang terdahulu :

  • Tinitip sanggar bahen huruhuruan;

Jolo nisukun marga asa binoto partuturan.

  • Hau antaladan parasaran ni binsusur;

Sai tiur do dalanan molo sai denggan iba martutur.

3 POSISI PENTING dalam kekerabatan orang Batak, yaitu :

Ada (3) tiga bagian bentuk kekarabatan dan itulah yang dinamakan DALIHAN NA TOLU:

  1. HULA HULA atau TONDONG : yaitu kelompok orang orang yang posisinya "di atas", yaitu keluarga marga pihak istri sehingga disebut Somba marhula-hula yang berarti harus hormat kepada keluarga pihak istri agar memperoleh keselamatan dan kesejahteraan. Jadi posisi dan kedudukan Hulahula diakui lebih tinggi dari dua unsur lainnya (dongan tubu dan boru), pihak hulahula terhadap borunya harus bersikap manis dan tidak boleh bersikapa diktator dan tidak pula instruktif kepada kelompok boru.oleh karena itu hula hula bisa salah satu sumber kekuatan adikodrati, atau penopang daya hidup bagi masing-masing borunya.
  2. DONGAN TUBU atau SANINA : yaitu kelompok orang orang yang posisinya "sejajar", yaitu : teman/saudara semarga sehingga disebut Manat mardongan tubu, artinya menjaga persaudaraan agar terhindar dari perseteruan.

c. BORU : yaitu kelompok orang orang yang posisinya "di bawah", yaitu saudara perempuan kita dan pihak marga suaminya, keluarga perempuan pihak ayah. Sehingga dalam kehidupan sehari hari disebut Elek marboru artinya agar selalu saling mengasihi supaya mendapat berkat.

A. Dongan Sabutuha/ dongan tubu, (saudara satu darah) serta yang sudah dianggap saudara sedarah:

  1. Dongan saama ni suhut; saudara satu Ayah/Bapak .
  2. Paidua ni suhut; Saudara, Bapak nya abang adik (Paidua ni Suhut)
  3. Haha anggi ni suhut; Saudara kakek abang adik (Haha anggi ni suhut)
  4. Bagian Paniboli (panukun) ni suhut Saudara semarga ( Panomboli)
  5. Dongan samarga ni suhut; Saudara semarga dari suhut
  6. Dongan saina ni suhut (pulik marga) Saudara
  7. Dongan sapadan ni ompu (pulik marga)
  8. Pariban (sepengambilan/istri kakak beradik/semarga)
  9. Dongan sahuta, raja ni ginokkon daohot ale-ale.

Falsafah dalam persaudaraan dalam satu marga:

a- Manat ma ho mardongan sabutuha, molo naeng sangap ho

b- Tampulon aek do na mardongan sabutuha.

c- Tali papaut tali panggongan;

Tung taripas laut sai tinanda do rupa ni dongan.

Keterangan : Manat mardongan sabutuha/tubu, dalam pengertian bahwa sesama saudara atau semarga, haruslah bersikap bijaksana dan arif dan saling menghormati, baik dalam perkataan maupun perbuatan jangan semborono atau saling menyakiti, meskipun didalam bercanda. Kalau seseorang yang dituakan (Ompung Bapa, Abang) harus dihormati. Sedang yang lebih muda harus disayangi atau diayomi dan dituntun. Kalau hal ini dilakukan maka akan dihormati dan terhormat dimata dongan sabutuha /tubu.

Persaudaraan pada orang Batak tidak mungkin diputuskan hubungan persaudaraannya, dengan berpedoman prinsip-prinsip „Manat mardongan sabutuha“, maka diperumpamakan „Tampulon aek do na mardongan sabutuha“ maksudnya mustahil air dipisahkan atau dibelah, bagaimanapun dia akan bersatu juga.dan dikuatkan juga dengan umpama „Tali papaut tali panggongan; Tung taripas laut sai tinanda do rupa ni dongan“; artinya: Tali paput adalah tali panggongan; meskipun jauh diseberang lautan akan dikenal juga muka saudara.

B.Boru :

  1. Iboto dongan saama nisuhut.(saudara perempuan sebapak dari suhut)
  2. Boru tubu dohot namboru ni suhut (saudara perempuan dari Bapak)
  3. Boru di ampuan I ma na ro sian na asing jala jinalo niampuan di hutaniba.
  4. Boru na gojong (nunga boru hian sian ama dohot ompu) jala laos sahuta dohot hulahula.(saudara perempuan dari Ompung ataupun Bapak yang bertempat tinggal di kampung Hulahula)
  5. Ibebere (anak dari saudara perempuan hasuhutan)
  6. Angka boru ni parboruan dohot bere, dohot boru ni parparibanon dohot ni sude dongan sabutuha.(anak perempuan dari saudara perempuan juga anak perempuan dari pariban, dari hasuhutan, dengan semua dongan sabutuha).
  7. Boru ni dongan saina dohot boru ni dongan saparpadanan.

Falsafah dalam Parboruon:

a- Elek marboru, molo naeng ho sonang

b- Bungkulan do boru ( sibahen pardamean/pardomuan)

c- Durung do boru tomburan hulahula (sipanupahi do boru dihulahula)

d- Unduk marmeme anak, laos unduk do marmeme boru (artinya sama sayang pada anak dan pada boru)

e- Tinalik landorung bontar gotana;

Dos do anak dohot boru nangpe pulikpulik margana.

Keterangan: Siapa-aiapa saja yang disebut pihak Boru telah dijelaskan diatas, untuk mereka itu oleh pihak Hulahula harus bersikap „Elek marboru artinya harus lemah lembut terhadap boru kalau pihak hula-hula ingin senang. Karena Boru adalah sebagai penyokong pihak hulahula yang sangat efisien dan potensial mereka akan siap mengerjakan apapun demi hula-hula kalu pihak hula-hula bersikapa lemah lembut terhadap mereka , mereka mampu menjadi juru damai dan memepertemukan disetiap masalah dihadapi pihak hulahula, juga Boru pendukung bagi hulahulanya apabila mengalami problem didalam pendanaan suatu acara adat (manumpaki). Oleh karena itu pihak hulahula harus bersikap adil dan harus menyikapi sama dengan anak sendiri :“ Unduk marmeme anak, laos unduk do marmeme boru”. Dan diperkuat lagi dengan perumpamaan sebagai berikut: Tinalik landorung bontar gotana; dos do anak dohot boru nangpe pulikpulik margana. Jadi Boru sebagai pendukung pokok baik dalam wibawa maupun dalam materi Hulahulanya.

Sedangkan Falsafah untuk pihak bere:

a– Amak do rere, anak do bebere.

Dangka do dupang, ama do tulang.

f- Tinalik landorung bontar gotana;

Dos do anak dohot boru nangpe pulikpulik margana

Keterangan: Seorang Tulang/ Hulahula harus lebih menyayangi bere/kemakan (anak dari saura perempuannya) . Meskipun bere tersebut tidak mengawini anak perempuannya maka si Tulang harus bersikap seperti yang dikatan umpama yang artinya dipotong landorung putih getahnya, sama anak dengan boru ,meskipun dia kawin dengan anak perempuan lain status perempuan tersebut adalh sama dengan anak perempuannya sendiri.

C.Hulahula;

  1. Tunggane (lae) dohot simatua ni suhut ( inilah yang dinamakan hula-hula langsung dari suhut)
  2. Tulang (sebagai hula-hula dari Bapak nya suhut)
  3. Bona Tulang(bona hula-hula) ( sebagai hula-hula dari ompung/kakeknya suhut)
  4. Bona ni ari (Hula-hula dari bapak dari kakeknya suhut)
  5. Tulang rorobot ( tulang dari besan/pr dari suhut serta tulang dari ibunya atau juga tulang dari opung boru suhut)
  6. Dan juga menjadi hula-hula dari suhut , semua hula-hula dari saudara sedarah.

Falsafah untuk Hulahula:

a- Sigaton do na marhulahual (maksudnya: sama halnya bagaimana menentukan apakah Ayam itu Jantan atau betina, oleh karena itu dalam menghadapi pihak hula-hula harus hati-hati, haru mengenal sifat-sifat dan apa keinginan atau kebiasaan pihak hula-hula, agar dapat sebagai pedoman dalam menghadapi pihak hula-hula disetiap acara adat.

b- Na mandanggurhon tu dolok do iba mangalehon tu hula-hula (artinya; akan menerima restu yang berlipat ganda kalau murah hati (basa) kepada hula-hula.

c- Hula-hula i do debata na tarida (maksudnya harus dihormati (sangat) hula-hula)

d- Hula-hulai do mula ni mata ni ari binsar.(maksudanya bahwa anak dan boru bagi orang batak adalah sebagai matahahrinya (mata ni ari na), akan gelap dunia in kalau tidak mempunyai anak (berketurunan) oleh karena boru dari hukahula itu sebagaia sumber keturunan yang banyak berkat doa restu serta doa nya pada Tuhan Yang maha Esa, maka dinamakan lah mereka matahari terbit (mata ni ari binsar).

e- Obuk do jambulan na nidandan baen samara;(maksudnya restu beserta doa dari Hula-hula membuat berketurunan/ turun temurun tanpa bahaya.

f- Nidurung situma , laos dapot porapora (restu serta doa dari hula-hula maka dari miskin dapat menjadi kaya)

Nama-nama dan cara memanggil didalam kekarabatan:

1.Saudara sedarah (pardongan sabutuhaon):

Kalau kita sebagai Laki-laki:

1- Amang = (Bapak) sebagai panggilan “ Amang”.

Inang = (Ibu), panggilannya „Inang

2- Amang tua = (bapak tua) abang dari bapak baik karena marga maupun karena hubungan pariban maka dipanggil „Amang tua

Inangtua = adalh isteri dari Bapak tua dipanggil „Inang Tua

3- Amang uda = (bapak uda) abang dari bapak baik karena marga maupun karena hubungan pariban maka dipanggil „Amang uda

Inanguda = adalah isteri dari Amang uda, dipanggil „Inang uda

4- Hahang/Akang = (abang) adalah saudara lakilaki lebih yang tua baik sebapak maupun bagi anak dari amang tua maka dipanggil „Angkang“

Angkang boru = adalah isteri dari angkang dipanggil “Angkang

5- Anggi = (adik) adalah saudara laki-laki dari satu bapak yang lebih mudamaka dipanggil „Anggi“

Anggiboru = adalah isteri dari Anggi, dipanggil „Inang“

6- Hahadoli = (abang) adalah saudara dari keturunan abang dari opung (kakek), yang dihitung 7 generasi keatas, yang statusnya sebagai penanya (panise niba) disetiap hajat acara adat, dipanggil „Angkang doli“

Angkangboru = Isteri dari hahadoli, dipanggil „Angkang“

7- Anggidoli = (adik) adalah saudara dari keturunan adik dari opung (kakek), yang dihitung 7 generasi keatas, yang statusnya ini juga dapat sebagai penanya (panise niba) disetiap hajat acara adat, dipanggil „Anggi doli“

Anggiboru = isteri dari Anggi doli, dipanggil „Inang“

8- Ompung = (Kakek) adalah Bapak dari bapak, serta bapak dari bapak tua, atau bapak uda, dipanggil „Ompung“ atau „Ompung doli“

Ompung (ompungboru) = isterdari ompung, dipanggil „Ompungboru“

9- Amang mangulahi = (Bapak) adalah Bapak dari ompung, dipanggil „Amang“

Inangmangulahi = isteri dari amang mangulahi, dipanggil „Inang“

10- Ompung mangulahi = (kakek) adalah kakek darai kakek dipanggil „Ompung“

Ompungboru mangulahi = isteri dari ompung mangulahi, dipanggil „Ompung.,

2.Parhulahulaon (saudara lakilaki dari isteri atau Ibu atau Opung:

Kalau kita sebagai laki-laki maka kita mengatakan:

1- Simatua doli = (Mertua laki) adalah bapak,Amangtua, dan Amanguda dari isteri, maka dipanggil “Amang”

Simatua boru = (mertua perempuan), adalah isteri dari Mertua laki, isteri dari Amangtua dan isteri dari amanguda, dipanggil „Inang“

2- Tunggane (Lae) = (ipar) adalah saudara lakilaki dari isteri, dipanggil “Tunggane” atau “Lae”

Inang bao = adalah isteri dari Tunggane(Lae), dipanggil “Inang”

3- Tulang na poso = adalah anak dari Tunggane (Lae) , dipanggil „Tulang“

Nantulang na poso = isteri dari tulang naposo, dipanggil „Nantulang“

4- Ompung = adalah bapak dan ibu dari Mertua, dipanggil „Ompung“

5- Tulang = saudara laki laki dari Ibu, dipanggil „Tulang“

Nantulang = isteri dari Tulang, dipanggil „Nantulang“

6- Ompung bao = adalah orang tua dari Ibu, dipanggil „Ompung“

7- Tulang rorobot = Tulang dari Ibu serta tulang isteri

8- Tulang rorobot = semuaHula dari Hulahula

9- Bonatulang atau Bona Hulahula = adalah hulahula dari ompung suhut

10- Bona ni ari = Hulahula dari ompung suhut dari Bapak.

11- Bona ni ari = semua diatas dari no 10

3.Parboruon:

1- Hela = (menantu) adalah yang mengambil anak perempuan kita, anak perempuan dari Amangtua,Amang uda, dipanggil „Amanghela“

2- Lae = adalah kepada bapak, Amangtua danAmanguda dari helea dipanggil „Lae“

Ito = adalah Ibu, Inangtua, dan Inanguda dari Hela, dipanggil „Ito“

3- Lae = adalah yang mengambil saudara perempuan, dipanggil “Lae”.

4- Amangboru = adalah yang mengambil saudara perempuan Bapak, dipanggil “Amangboru”

Namboru = adalah saudara perempuan dari Bapak atau isteri dari Amangboru, dipanggil “Namboru”

5- Lae = adalah anak dari Amang boru, dipanggil “Lae”

6- Ito = adalah anak perempuan dari Amang boru, dipanggil „Ito“

7- Amangboru = adalah saudara kaka adaik dari Amangboru, juga dipanggil „Amangboru“

8- Lae = juga pada Bapak dari Amangboru, dipanggil „Lae“

Ito = adalahIbu dari Amang boru, dipanggil „Ito“

9- Bere = adalah kaka adik serta adik perempuan dari hela (menantu), dipanggil „Bere“

10- Bere = adalah anak serta boru dari saudara perempuan kita, dipanggil „Bere“

11- Bere = adalah saudara perempuan dari Amangboru, dipanggil „Bere“

Martarombo:

Martarombo adalah salah satu komunikasi yang efisien dalam menjalin kekerabatan pada orang Batak. Martarombo/Martutur adalah sebagai dasar penentu posisi pada marga lain atau marga yang sama dan boleh dikatakan menjadi suatu tolak ukur bagi prinsip Dalihan Na Tolu, karena Martarombo adalah saling menanyai marga, Bila orang Batak berkenalan sesama orang Batak pertama kali, biasanya mereka saling tanya Marga dan martarombo, untuk dapat menentukan posisi masing-masing. Apakah mardongan tubu/ dongan sabutuha (semarga), dengan panggilan "ampara" atau "Marhula-hula/ Mora" dengan panggilan "lae/tulang". Dan dengan martarombo juga, seseorang akan mengetahui apakah ia harus memanggil "Namboru" (adik perempuan ayah/bibi), "Amangboru/Makela",(suami dari adik ayah/Om)" Bapatua/ Amanganggi/Amanguda" (abang/adik ayah), "Ito/boto" (kakak/adik), Pariban atau Boru Tulang (putri dari saudara laki laki ibu) yang dapat kita jadikan istri, dst.

Dengan Tarombo atau martutur (Mandailing) suatu nilai budaya yang sangat mendasar dalam melestarikan tradisi, adat dan kekarabatan, berbicara dengan tarombo maka berbicara tentang Marga

Marga adalah kelompok kekerabatan menurut garis keturunan ayah (patrilineal). Sistem kekerabatan patrilineal menentukan garis keturunan selalu dihubungkan dengan anak laki laki. Seorang Batak merasa hidupnya lengkap jika ia telah memiliki anak laki laki yang meneruskan marganya. Sesama satu marga dilarang saling mengawini, dan sesama marga disebut dalam Dalihan Na Tolu disebut Dongan Tubu. Menurut buku "Leluhur Marga Marga Batak", jumlah seluruh Marga Batak kurang lebih sebanyak 416, termasuk marga suku Nias.

Karena Orang Batak menganut sistem garis keturunan ayah (patrilineal), maka posisi seorang anak laki-laki menjadi penting . Dan sudah merupakan budaya yang mendarah daging bagi orang Batak, kehadiran anak laki-laki dalam kehidupan keluarganya karena sangat pentingnya sehingga seorang wanita yang dilahirkan dalam suatu keluarga selalu mendambakan agar dia mempunyai iboto agar jangan pincang ke bahagiaan itu seperti kata umpasa berikut ini .

  • Habang siturtu , marpuroto puroto,
    mata tumulut tulut mida halak na mariboto.
    Nangpe adong ibotong ku , tubu ni amang uda ,
    Dang salobian na sian namar dongan tubu .
    Hansit ni naso mar iboto . Ise manorsahon i .
    Ima sahit si naoto mangeruni daging i

Karena demikian pentingnya namar iboto tersebut tentu merupakan idaman dan juga merupakan tantangan jika tidak mempunyai iboto nanti jika orang tua meninggal dunia bagi yang tidak mempunyai iboto akan muncul perdebatan karena posisi perempuan kurang dominan dalam paradaton dan pembagian harta warisan. Jangankan saat membagi harta sedangkan dalam kehidupan sehari-hari saja sering wanita yang tidak punya iboto mendengar sindiran dari sanak pamili kepada ibunya karena tidak melahirkan seorang lakilaki karena nanti tidak ada si panean harta warisan seperti sawah ,kebun dan lain sebagainya, seperti cerita legenda Siboru Tumbaga yang sangat memilukan itu . Sering kita dengar ucapan sinis, sindiran yang menyakitkan hati, sehingga ibu yang tidak melahirkan seorang laki-laki sering menagis pilu dan merupakan mala petaka baginya dan merupakan dalih pula bagi pihak keluarga supaya kawin lagi agar memperoleh anak laki-laki agar kelak ada pewaris harta maka konsekwansinya adalah hidup di madu apalagi setelah mabalu .sering mangandung sibari-bari.

Pada saat sekarang sejalan dengan kemajuan teknologi , serta semakin kuatnya orang ber agama yang mengajarkan persamaan hak serta kemajuan dan kesadaran hukum oleh manusia modren saat ini dan makin banyaknya perbandingan antara etnis di muka dunia ini maka adat Paneanon (pembagian harta warisan) bagi orang batak tersebut serta posisi seorang perempuan sudah makin kuat seperti umpasa berikut ini tungkap marmeme anak singgalak marmeme boru jika anak di pangolihon sedangkan anak gadis di pabuatkon.

Bagaimana pula peranan Menenantu laki-laki yang kawin dengan seorang wanita yang tidak mempunyai iboto tentu dia harus tampil sebagai suami dan sekaligus sebagai iboto bagi sang istri dan bagi mertuanya dia akan tampil sebagai menantu dan sebagai anak sehingga apapun terjangan dan niat tidak bagus dari sanak pamili bisa diletakkan kepada posisi dengan se arif mungkin sehingga seperti peribahasa atau perumpamaan (umpasa) berikut ini :

  • Sinemnem aek toba,silanlan uruhuruk
    nametmet marlas niroha, namagodang dang mar ungut ungut
    Sai patappakma nian pajojor jala pariris
    anak dohot boru bungani hagabeon

    si patiur parnidaan sipahinsa simanjojak .

Pada jaman dahulu orang tidak terlalu berpikir dari mana dan bagai mana biaya anak yang dilahirkan, kalau sudah seperti kata umpasa Batak TOROP SO PIGA , SO BEGEON NI BEGU. mereka yakin bahwa Mula jadi nabolon akan memberikan rejeki kepada mereka Karena mereka yakin jika nanti setelah besar anak mereka akan mampu mencari nafkah sendiri. Pula keyakinan mereka adalah manusia lebih dahulu ada daripada harta bahwa harta akan bisa di cari bukan harta mencari manusia . Zaman dahulu orang yang mempunyai banyak anak akan selalu di segani maka sering dikatakan umpasa Maranak sampulu pitu marboru sampulu onom karena mereka akan merupakan team yang cukup besar dalam mencari napkah dan harta. Hal ini termotivasi dengan Hasangapon.

Catatan :

1- Hanya laki-laki yang Marlae, Martunggane, Martulangna poso serta marnatulang naposo

2- Sebaliknya hanya perempuan yang Mareda, maramang naposo serta marinang na poso

3- Tetapi dibeberapa daerah Batak seperti, Silindung, kalau di parparibanon, selalu umur menjadi tolak ukur siapa yang lebih tua (siahaan), dan siapa siadian(sianggian). Tetapi lain di daerah Toba, sama aturan pada siahaan dan sianggian di parparibanon serta pada pardongan sabutuhaaon.

4- Lebanleban tutur adalah ada bereku perempuan kawin pada anak sabutuhaku (masih termasuk adik) ; Yang menjadi pertanyaannya bereku boeu tadi harus memanggil apa terhadapku?, dan anak dari adikku akan memanggil apa terhadapku?. Kalau demikian kasusnya maka pedomannya adalah sistem kewkerabat tersebut tetap dibawa misalnya siperempuan (bereku) tetap memanggil aku sebagai Tulang sedangkan si lakilaki (suaminya teatap memanggil Amangtua..

Kekerabatan Dalihan na tolu juga sebagai representasi dari :

Ø Batara Guru adalah representasi dari Hulahula.

Ø Soripada (Sori) adalah representasi dari Dongan Sabutuha.

Ø Mangalabulan (Balabulan) adalah representasi dari Boru

Inilah yang menyebabkan kedudukan tinggi dari Hula-hula tidak dapat dijungkir balikkan dengan kedudukan boru, sama dengan menuklarkan kedudukan Batara guru yang menguasai Banua ginjang (penguasa langi)dengan Babulan yang menguasai banua tonga (penguasa bumi). Dengan demikian mengawini anak saudara perempuan Bapak tidak diperbolehkan bagi orang Batak.

Sehubungan dengan itulah orang Batak mengenal berbagai peribahasa dan perumpamaan tentang hulahula :

  • Hulahula bona ni ari, tinongos ni omputa Mulajadi
  • Sisuboton marulak noli, sisombaon dirim ni tahi

Yang maksudnya sbb:”Hula-hula adalah sumber terang hari,karunia dari Mulajadi.Yang perlu dihormati berulang kali disembah dengan sepenuh hati.”

  • Hulahula matani ari binsar,sipanupak dotondina;
  • Sipanuai sahalana, dinasa pomparanna.

Maksudnya:”Hula-hula adalah terang matahari, rohnya pemberi berkat, wibawanya pemberi restu, bagi seluruh keturunannya.”

  • Obuk do jambulan,tinumtuman bahen samara;
  • Pasu-pasu ni hulahula, Pitu sundut soada mara.

Maksudnya:“Rambut adalah mahkota dikepang,disusun menjadi mahkota indah; Berkat dan restu dari hula-hula, bisa tujuh turunan tiada bala.

Dari ungkapan diatas maka dapat diketahui bahwa sistem kekerabatan dalam struktur Dalihan Na Tolu, sangat terkait dengan kepercayaan religi lama Batak. Begitu tingginya posisi Hula-hula sehingga Hula-hula semata yang boleh memberi berkat (pasu-pasu) kepada borunya, sehingga ada kesan pada sebagian orang batak bahwa Hula-hula itu adalah “Debata na di ida” (Tuhan yang dilihat). Meskipun Hula-hula memiliki posisi tertinggi namun kedudukan itu harus didukung oleh kedua unsur lainnya (dongan sabutuha dan boru), jadi hubungan kekerabatan Dalihan na tolu harus dilaksanakan secara selaras dan seimbang agar konsep totalitas religi orang Batak berjalan dengan baik

Implementasi (penerapan) Dalihan Na tolu:

Didalam kehidupan Orang Batak, penetrapan Dalihan Natolu dapat dilihat dengan jelas didalam setiap acara adat Batak, salah satau contoh didalam acara perkawinan; yang mempunyai hajat (Suhut) akan ditunjanga oleh:

o Hula-hula sebagai pemberi restu yang dihormati dengan tutur kata yang wajar dan menyejukkan;

o Boru membantu hulahulanya dengan morel dan materi juga tenaga agar pelaksanaan hajat hulahulanya sukses, sedangkan

o Dongan tubu sebagai pemberi nasihat, nasihat atau saran dan pendamping hasuhutan (yang punya hajat).

Dalihan Na Tolu bukanlah kasta karena setiap orang Batak memiliki ketiga posisi tersebut : ada saatnya menjadi Hula hula/Tondong, ada saatnya menempati posisi Dongan Tubu/Sanina dan ada saatnya menjadi Boru.

Dengan dalihan Na Tolu, adat Batak tidak memandang posisi seseorang berdasarkan pangkat, harta atau status seseorang. Dalam sebuah acara adat, seorang Gubernur harus siap bekerja mencuci piring atau memasak untuk melayani keluarga pihak istri yang kebetulan seorang Camat. Itulah realitas kehidupan orang Batak yang sesungguhnya. Lebih tepat dikatakan bahwa Dalihan Na Tolu merupakan SISTEM DEMOKRASI Orang Batak karena sesungguhnya mengandung nilai nilai yang universal.

Sedangkan simbol-simbol religi dari sarana pelaksanaan acara adat perkawinan adalah:

I-Alaman:

Alaman adalah pekarangan luas yang ada di tengah-tengan sebuah perkampungan orang Batak (huta), yang struktur pengaturan rumah dihuta (kampung) tersebut diatur dua sisi berhadapan dan berjajaran yang dipisahkan halaman (pekarangan) yang lebar, panjang dan rata, semakin banayk rumah (penghuni) huta tersebut semakin panjang halamannya. Dan pekarangan itu dipelihara kebersihannya secara bersama-sama, yang nantinya akan dipergunakan dalam keperluan upacara adat, disamping kegiatan sehari-hari seperti menjemur padi, dan lain-lain. Ada pengungkapan tentang makna halaman (Alaman) yang sering diucapkan raja parhata sebagai berikut:”Alaman na bidang, alaman na marampang na marjual, na marsangap na martua” (halaman yang luas,halaman yang bertuah, dan berkemuliaan), kata-kata ini selalu diucapkan pada setiap acara adat, oleh karena itu halaman tersebut harus bebas dari gangguan roh-roh jahat agar acara pemujaan dan penyembahan yang dilakukan melalui upacara adat dihalaman diterima dengan baik oleh roh-roh nenek moyang dan para dewata.

Catatan:

Tata cara pengaturan tempat duduk dalam setiap Acara adat:

Pada zaman dahulu setiap mengadakan pesta (acara adat) akan selalu membentangkan tikar dihalaman Rumah hasuhutan (yang mempunyai hajat, namun sekarang (modernisasai) Acara Adat sudah dilakukan di dalam gedung dan memakai kursi. Meskipun demikian didalam menyusun tempat duduk yang berperan didalam acara adat (Dalihan natolu) tidak ada perubahan.

Ada dua macam bentuk acara adat yaitu:

1. Acara ada satu hasuhutan ( sisada hasuhutan) seperti acara memestakan Tugu dari Ompu (tambak), Memasuki rumah (mangopoi Jabu), menerima makanan dari anak (manjalo sipanganon sian ianakkon), berkunjung ke Hulahula (paebathon), serta yang sehubungan dengan itu.

2. Acara adat dua hasuhutan (dua hasuhutan) seperti membicarakan mahar (marhata sinamot), dan yang lain seperti itu.

Didalam acara adat itu ada dua macam cara susunan duduk (parhundulan). Kalau ada yang mengantarkan makanan (paebaton, memberi/membuat makanan orangtuanya) kurang lebih begini susunan duduknya:

· Di depan suhut duduk yang datang mengantarkan makanan

· Disebelah kanan suhut : Hahadoli dohot Hulahula

· Disebelah kiri suhut : Anggi doli dohot boru.

· Orang Sekampung beserta pariban masuk kekelompok sabutuha

Kalau tidak ada yang datang mengantarkan makanan misalnya waktu acara biasa maka susunan duduk sebagai berikut:

o Hulahula didepan hasuhutan

o Disebelah kanan hahadoli serta sekampung (dongan shuta)

o Disebelah kiri Anggidoli, boru serta keluarga lainnya.

Pada Acara Adat sidua hasuhutan susunan duduk adalah sebagai berikut:

§ Saling berhadapan kedua hasuhutan dan masing-masing hasuhutan menyusun duduknya;

§ Disebelah kanan hasuhutan duduk Hahadoli serta Hulahula.

§ Disebelah kiri duduk Anggi doli dohot boru.

§ Oranng sekampung serta pariban masuk dalam kelompok sabutuha.

II-Sipanganon:

Makanan yang dipersiapkan untuk upacara adat, yang biasanya melalui petunjuk dukun (datu), hewqan apa yang akan dipotong dalam acara tersebut karena pada masa dahulu semua tingh laku peersiapan mengadakan suatu upacara adat, dilaksanakan dengan sakral, sehingga pengaturan memotong hewanpun diatur sedemikian rupa seperti menerima pisau pemotong dari hasuhutan, cara memegang pisau, berdoa, dan menusukkannya kejantung hewan, tidak boleh dua atau tiga kali (berulang-ulang). Bagian-bagian inti dari hewan yang disebut “na margoar ni juhut”, harus dipersembahkan lebih dahulu kepada roh-roh nenek moyang dan para dewata, sebelum diserahkan kepada hula-hula sebagai “tudu-tudu ni sipanganon” (pertanda kelengkapan hewan yang disiapkan untuk peralatan adat), dan kemudian dibagikan sebagai jambar juhut kepada para pihak yang berhak. Penyerahan tudu-tudu ni sipanganon pada hakikatnya sebagai pembuktian secara simbolis bahwa semua makanan yang disediakan untuk hajatan besar itu adalah “hewan utuh bukti kesungguhan acara adat, dan diberikan lebih dahulu kepada hula-hula, setelah diterima dengan baik oleh hulahula maka dipersilahkan para hadirin untuk bersantap bersama.

Hula-hula akan membalas pemberian tersebut kepada pihak boru dengan memberi dengke (ikan) sebagai tudu-tudu ni sipanganon, lengkap dengan dengke saur, dengke na porngis, dengke sitio-tio, dengke sahat, dengke simudur-udur, maksudnya adalah bahwa dengke itu adalah perlambang dari kelimpahan berkat, panjang umur dan kehidupan bahagia, serta rukun dan seia sekata pada keluarga tersebut. Biasanya dengkalah yang selalu dimakan pada masa menanam dan memanen, sebagai simbol tanda terima kasi dengka pulah lah yang dipersembahan. Sebagai kepercayaan orang Batak akan kekuatan roh yang dikandung sipanganon terlihat dari ungkapan :“Hot situtu do nasa na pinadanhon di atas ni juhut dohot indahan“ (apa yang telah disetujui dalam acara makan lengkap dengan daging dan nasi adalah mutlak, dan tak boleh berubah).

Berbicara dengan pemotongan hewan, berkaitan dengan istilah Panimboli, arti

harfiahnya adalah sesuatu pekerjaan manambol atau menyembelih hewan, jadi panamboli itu bisa saja merupakan suatu pekerjaan menyembelih hewan dalam suatu paradaton bukan di rumah jagal (rumah potong)sehingga merupakan jabatan dalam suatu pesta paradaton.

Bila akan melakukan suatu pesta Marunjuk dan panjuhuti, menurut biasanya sebagai lauk ataupun parjambaran pada pesta tersebut adalah kerbau ataupun lembu. Atas dasar itulah suhut sihabolonan dari pihak par-anak akan memberangkatkan kerabat dekatnya yaitu haha anggi ni partubu untuk menyembelih kerbau yang akan di jadikan loppan pada acara pesta tersebut. Mereka di berangkatkan dengan suatu acara resmi pada saat acara martonggoraja. Hasuhuton menyediakan tampi(anduri) yang diatasnya terletak pisau yang dibalut dengan daun tebu maka hasuhuton resmi menyuruh mereka untuk menyembelih kerbau yang sudah tersedia lengkap dengan membuat namargoar (namartandaan) sebagai jalannya Parjambaran.

Seperti kata pepetah Batak mengatakan, "adat do ia ugari si nihatton ni mulajadi. Adat pinungka ni ompunta naparjolo, si ihuttonon ni hita naparpudi". Bondar do batang toru sunge do aek puli. Borhat ma hamu dohot angka boru, hamu ma panamboli. Mereka melaksanakan tugasnya dengan sedemikian rupa dan bertanggungjawab dengan sepenuhnya akan persediaan banyaknya undangan yang akan makan. Namun, yang lebih penting dari itu mempersiapkan Namargoarna atau Parjambaran agar tidak salah atau kurang lengkap dari yang sudah dirumuskan. Supaya tidak ada kilah patajom hu piso ni parhobas.

Jadi panamboli dalam keadaan seperti ini disebutlah jabatan yaitu paidua ni suhut, sedangkan parjambarannya adalah diambil dari dada pinahan yang dipotong tersebut yaitu rusuk tiga atau lima dekat pangkal leher. Tugas dan tanggung jawab dari panamboli sangatlah strategis dan dominan dalam suatu pesta. Karena panamboli adalah dongan sabutuha. Jika dia dari pihak dongan sabutuha adalah abang beradik maka jika suatu pesta tidak mamemiliki panamboli berarti dia itu tidak mempunyai abang-adik. menurut biasanya, jikahal tersebut terjadi, berarti hasuhuton bolon lahir dengan istilah sebatangkara. Karena demikian pentingnya panamboli itu maka ada rekayasa yaitu dongan sahuta yang lain marga dijadikan menjadi panamboli, itulah sebabnya jambar panamboli tadi cara membaginyapun adalah sebelah untuk namardongan tubu dan sebelah lagi untuk dongan sahuta. Kesalahan persepsi.

Ada orang salah penapsiran akan Panamboli ini, dengan alasan bahwa kita yang satu marga adalah masih satu dalam hasuhuton. Jika masih dalam satu hasuhuton, dengan sendirinya tidak perlu memakai panamboli. Mungkin mereka berpikir, jika mereka harus mengadakan panamboli, bagaimana nantinya jika nenek mereka hanya cuma anak sasada. Berdasarkan itulah tentang masalah panamboli bukan melulu masalah berat tidaknya suatu pekerjaan. Masalah yang lebih patal dalam acara Panamboli ini adalah, mereka menapsirkan jika diadakan pesta itu dengan seorang panamboli, maka akan memecahkan namardongan tubu. Padahal jabatan atau tugas sebagai panamboli adalah adat untuk memperjelas sebuah kedudukan dalam adat Batak. Seperti ilustrasi ini menerangkan, sama halnya seperti jari tangan. Yang terdiri dari ibu jari, jari telunjuk, jari tengah jari manis, dan jari kelingking. Adapun uraian ini, agar memperjelas kedudukan belaka. Salah penapsiran ini sering terjadi di perantauan. Jadi dengan demikian berarti Panamboli adalah Jabatan dalam suatu pesta jika dipihak parboru jabatan panamboli adalah sijalo todoan atausijalo bola tambirik yang masih hubungan masih sa-ama mangulahi. Oleh karena itu agar adat paradaton ini makin bagus, kiranya perlu di sosialisasikan khususnya kepada generasi penerus tanpa mengurangi makna dari adat tersebut karena merekalah nantinya akan pelaksana adat Batak itu.

by: Aji Nagara Pardede

Bersambung Tata cara Pelaksanaan adat BAtak 6

Iklan

Tata cara pelaksanaan adat batak (4)

Angka-angka orang Batak:

0 = clip_image001 5 = clip_image002
1 = clip_image003 6 = clip_image004
2 = clip_image005 7 = clip_image006
3 = clip_image007 8 = clip_image008
4 = clip_image009 9 = clip_image010

1- Seni Bangunan :

clip_image012

Jenis Rumah Adat Batak

SETELAH si Raja Ihat manusia berada atau lahir di Dolok Pusuk Buhit dekat huta Sianjur Mula-mula sekarang, kita belum mengetahui apakah mereka bersama istrinya si Boru Itam Manisia sudah memiliki rumah atau tidak, kita belum mengetahuinya secara pasti. Tetapi, yang jelas si Raja Batak bersama istri dengan gelar Siboru Panjadian, sudah mempunya rumah sebagai tempat tinggal.. Dan dapat dipastikan, percis di atas Dolok Pusuk Buhit mereka telah membuka sebuah perkampungan yang sampai kini belum ditelusuri kisah dan legendanya.

Seiring dengan keadaan itu, mereka dapat menciptakan bentuk rumah sesuai dengan sifat dan keadaan pemiliknya. Dan kini jenis rumah itu masih dapat kita temui didaerah Bonapasogit. Meskipun belakangan ini sudah banyak bangunan rumah dengan arsitektur asli bangunan lama Batak mulai hilang satu persatu dari permukaan tanah Batak digeser arsitektur modern, yang lama-lama akibat peredaran jaman dan pergeseran waktu. Himbauan penyusun alangkah bijaksananya kalau para arsitek Indonesia terutama putra Batak mampu memoderinasasikan arsitektur lama, yang menunjang cuaca pinggiran Danau Toba

Jenis-jenis rumah yang mereka ciptakan adalah seperti berikut:
1.
Ruma si Tolumbea.
2. Ruma si Amporik.
3. Ruma Tarup jambatan.
4. Ruma Sopo

Sebagai peralatan untuk membuat rumah mereka dan kita membutuhkan peralatan-peralatan sebagai berikut:

· Tangke dipakai untuk menebang dan membelah.

· Baliung, dipakai untuk membuat midang rata.

· Papatil untuk membentuk bulat dan melengkung.

· Pambarbar untuk meratakan.

· Tuhil untuk membuat lobang.

· Baji yang terbuat dari pangko Enau, spsial untuk membelah.

· Golok, untuk memotong.

· Raut, untuk menghaluskan sudut.

· Palu yang terbuat dari kayu Simartolu.Dll

Setelah peralatan tadi sudah tersedia, kita akan menyebutkan satu-persatu nama peralatan Rumah:

· Ulupaung,

· Santung-santung

· Tarup ijuk,

· Bungkulan,

· bubungan atap melengkung,

· Pusu-pusu ni santung-santung

· Ulupaung tonga,

· Ulupaung toru,

· Sijongjongi, ber-bentuk segitiga dibawah singap rumah.

· Sitindangi, juga sejajar dengan sijongjongi.

· Sibongbongari, papan yang ber-ukir melintang dekat ulupaung toru.

· Song-song rak, Halang gordang, papan tebal melintang didepan tempat Pargonsi.

· Song-song boltok, papan tebal dgn song-song rak berada di bawah halang gordang.

· Tomboman sebuah papan tebal untuk menahan basiha, sumban, sudut kiri-kanan.

· Sande-sande, bagian dari pan-dingdingan. Dorpi jolo,

· Pandingdingan,

· Parhomhom,

· Ture-ture, balok melintang didepan rumah.

· Tustus=ransang,

· Basiha=Tiang,

· Batu-batu,

· Parholip ujur,

· Parholip barat,

· Adop-adop, hiasan bagaikan payudara.

.

· Singa-singa hiasan khusus untuk pandingdingan.

· Tiang,

· Torumbara kandang ternak lembu / kerbau

· Galapang, sebuah lingkaran papan tebal seperti roda diujung setiap tiang yang paling utama.

· Tangga

· Panduloan

· mangintip musu.

· Pintu,

· Halangpapan

· Pohe sebagai tutup tiang

· Tohang Sumban

· Pamispisan,

· Lambe-lambe,

· Pargumbangan,

· Jenggar,

· Bonggar,

· Pangombari,

· Tataring,

· Salean,

· Para-para,

· Loting-loting,

· Sombaho,

· Siharati,

· Singgalang,

· Hansing-hansing,

· Untul-untul 11bh,

· Sibuaton,

· Raga-raga,

· Unggal-unggal,

· Songkor.

· Ninggor,

· Lais-lais,

· Tali samsam,

· Pamutuhai,

· Pandalui,

· Hombang,

· Rait,

· Bungkulan,

· Sandean,

· Basiha rea 18 bh,

· Salansap,

Umumnya dalam bidang budaya Arsitektur ,untuk bangunan sekalipun orang batak memakai alat sambung memakai tali dari Ijuk atau rotan dan di kunci dengan paku yang dibuat dari pakko ( Baji = hansing-hansing dibentuk bulat sebesar jari atau lebih , dari bahan batang enau yang keras),.Bangunan sampai 15m tingginya , dipuncak atap bagian depan sedikitlebih tinggi dari puncak bagian belakang. Ada bagian rumah yang harus dibuat dari satu batang kayu khusus, besar dan berat, kayu khusu atau bagian-bagian khusus ini hanya dapat diperoleh dihutan –hutan tertentu , sesuai petunjuk datu. Dan banyak persyaratan yang harus dipenuhi dalam membangun, mulai dari berangkat ke hutan mencari kayu, menebang kayu, meneliti arah rebahnya pohon, dan cara membawanya ke kampung (huta) .Wajah atau permukaan rumah bagian depan dihiasi dengan ornamen ukiran batak,yang setiap bentuk dan letaknya mempunyai arti dan fungsi tersendiri. Ukiran batah tidak terlalu halus (kasar) dibanding dengan ukiran dari daerah lain, akan tetapi nilai spritualatau magisnya sangat kuat dalam keyakinan pemilik bangunan dan nilai budayanya termasuk tinggi. Sedangkan warna yang dipergunakan dalam ukiran hanya tiga warna yaitu, Putih Merah tua, dan Hitam. Rumah ini sering disebut Rumah Gorga (rumah berukir) Sedangkan dipuncak bagian depan dan belakang ditinggikan dan umumnya diberi kepala kerbau lengkap dengan tanduknya.

Dalam pembagian bagian dalam terdiri dari: Jabu Bona yaitu bagian rumah sekitar seperampat bagian sebelah belakang kanan pintu masuk, ditempati kepala keluarga orang tua yang membangun, Jabu Suhat; bagian kiri sebelah depan disebelah kiri ppintu masuk, ditempati oleh anak pertama yang sudah berkeluarga dengan anak-anaknya, Jabu Soding; Sebelah kiri pintu masuk dibagian belakang sejajar jabu bona, Jabu Soding Sitampar Piring; bagian kanan pintu masuk disebelah depan rumah.

2- Seni Tenun:

Orang Batak juga mempunyai seni menenun kain, baik untuk pakai sehari-hari maupun dipergunakan untuk upacara sakral atau adat.namun sesuai dengan perkembangan zaman atau mode, jenis tenunan Batak sudah tidak dipakai lagi untuk pakaian sehari-hari, kebanyakan sudah berupa seni tenun yang khusu untuk upacar-upacara sakral atau adat, yang dinamakan Ulos. Macam-macam Ulos ada perbedaan meskipun tidak terlalu siknifikan, Seperti Ulos Sadum, ulos ini diproduksi/ ditenun oleh Orang Batak dari Mandailing atau Angkola, tetapi Orang Batak Toba pun sering mempergunakannya didalam acara adat. (Lihat Bab V, tentang Ulos)

by: Aji Nagara Pardede

Bersambung Tata ara pelaksanaan adat Batak….5

PARMALIM, ADALAH BAGIAN DARI BUDAYA BATAK

Agama Kepercayaan yang ada di Indonesia hampir dapat dikatakan tidak terlepas dari pengaruh agama Hindu, tidak terkecuali agama kepercayaan suku Batak, Sipelebegu, Parbaringin, Parmalim dll. Yang kemudiannya pengembangannya tersentuh dengan pengaruh agama Islam Protestan/katolik.

Sesuai dengan topik bahasan kali ini kita mengkhusukannya pada Agama Parmalim:

Agama ini merupakan sebuah kepercayaan ‘Terhadap Tuhan Yang Maha Esa’ yang tumbuh dan berkembang di Sumatera Utara sejak dahulukala. "Tuhan Debata Mulajadi Nabolon" adalah pencipta manusia, langit, bumi dan segala isi alam semesta yang disembah oleh "Umat Ugamo Malim" ("Parmalim").

Awalnya, Parmalim adalah gerakan spiritual untuk mempertahankan adat istiadat dan kepercayaan kuno yang terancam disebabkan agama baru yang dibawa oleh Belanda. Gerakan ini lalu menyebar ke tanah Batak menjadi gerakan politik atau ‘Parhudamdam’ yang menyatukan orang Batak menentang Belanda. Gerakan itu muncul sekitar tahun 1883 atau tujuh tahun sebelum kematian Sisingamangaraja XII, dengan pelopornya Guru Somalaing Pardede.

Menurut Profesor Dr Uli Kozok MA dari University of Hawaii, Minoa, USA, mengatakan, Sisingamangaraja XII bukan beragama Islam, Kristen maupun Parmalin melainkan beragama Batak Asli.
"Selama ini banyak kontroversi yang terjadi dimasyarakat tentang agama yang dianut Sisingamangaraja XII. Ada yang mengatakan dia beragama Kristen, maupun Islam, bahkan tidak sedikit yang menyebut dia beragama Parmalin yang menurut sebagian orang merupakan agama aslinya orang-orang Batak," katanya, di Medan, Kamis.
Menurut dia, Parmalin bukanlah agama asli orang Batak. Parmalin merupakan agama kombinasi atau perpaduan dari agama Islam dan Kristen.
Ketika agama Parmalin berkembang di Tanah Batak, Sisingamangaraja XII sendiri sudah berada di Dairi dalam pengungsian menghindari serbuan-serbuan dari tentara Belanda.
"Jadi agama Sisingamangaraja XII adalah Batak asli yang usianya jauh lebih tua dari agama Parmalin," katanya.
Mengenai bukti-bukti yang ditunjukkan dalam stempel Sisingamangaraja XII yang menggunakan aksara campuran Batak Mandailing Angkola, Arab Melayu dan Kawi juga tidak membuktikan bahwa ia telah memeluk agama Islam.
Sebagai seorang yang mengklaim dirinya penguasa di tanah Batak, sudah selayaknya Sisingamangaraja XII memilik sebuah stempel sebagai lambang kebesarannya dan wajar saja jika dia menggunakan aksara Arab Melayu dalam stempelnya kerena saat itu Bahasa Melayu sudah menjadi bahasa pengantar di Sumatera.(ANTARA News
)

Dari pernyataan Prof.Dr.Uli Kozok MA dapat kita ambil suatu kesimpulan, agama Parmalim adalah bagian dari Agama Asli Batak (agama dari Sisingamangaraja), yang awalnya bergerak sebagai gerakan Politik atau Parhudamdam dipelopori oleh Guru Somalaing Pardede untuk menggalang kekuatan menentang Belanda, kemudian berkembang menjadi benteng untuk mempertahankan adat istiadat Batak yang mulai tertekan dengan agama baru disponsori Belanda yakni Keristen. Parmalim dengan kekuatan yang mulai berkembang menjadi suatu kepercayaan dengan sentuhan sentuhan Islam dan Keristen. Dengan kata lain Agama Parmalim percaya kepada Tuhan yang Esa yang disebut "Debata Mulajadi Nabolon".

Oppu Mula Jadi Nabolon dipercaya sebagai pencipta alam semesta yang tak berwujud. Dia mengutus manusia sebagai perantaranya, yaitu Raja Sisingamangaraja, yang juga dikenal dengan Raja Nasiak Bagi. Raja Nasiak Bagi adalah istilah untuk kesucian atau hamalimon serta jasa-jasa sang raja hingga akhir hayat yang tetap setia mengayomi Bangsa Batak. Dengan begitu, agama Parmalim meyakini Raja Sisingamangaraja dan utusan-utusannya mampu mengantarkan Bangsa Batak kepada Debata atau Tuhan.

Ada 3 (tiga ) tokoh yang sangat berperan dalam Agama Parmalim yaitu:

1- Sisingamangaraja XII. 2- Guru Somalaing Pardede. 3-Raja Mulia Naipospos.

1- Sisingamangaraja XII: (Raja Nasiak bagi) adalah tokoh yang diyakini sebagai utusan Mulajadi Na Bolon untuk orang Batak .


2- Guru Somalaing Pardede: adalah tokoh karismatik beliau sebagai sebagai tokoh spritual, politik ahli strategi dan beliauselalu nekad melakukan aksi pengorganisasian Hamalimon, Oleh Karenanya Sisingamangaraja XII lebih mempercayainya sebagai penasehat Perang. Disamping itu Guru Somalaing Pardede memiliki wawasan dan ilmu yang luas, oleh karenanya seorang ilmuawan dari Italy bernama Modigliano sangat mengharap bantuan Guru Somalaing Pardede untuk mendampinginya dalam perjalanan nya keliling tapanuli hingga Asahan. Tidak mustahil ilmu dan wawasan Guru Somalaing Pardede bertambah baik dibidang Obat-obatan, dan spritual, perkenalan beliau membuatnya mengenal Maria ibunda Jesus dan Jesus sendiri. Begitu juga sebelumnya beliau lebih dahulu mengenal ke spritualan Islam, menurut DR. L.manik Guru Somalaing pernah menuntut Ilmu perang di Aceh dengan rekomindasi Panglima- Aceh yang diperbantukan pada Sisingamangaraja. Dengan demikian kemungkinan besar Ajaran agama Parmalim yang ditokohi Guru Somalaing Pardede


3- Raja Mulia Naipospos: Sebelum menjadi pemimpin Parmalim Huta tinggi, Beliau adalah Raja Parbaringin bius Lagu boti.Raja Mulia memegang teguh peranannya untuk tidak muncul sebagai sosok perlawanan anti kolonial, sehingga lebih didekatkan kepada Missionaris Nommensen di Sigumpar. Ini merupakan pengkaderan secara terselubung agar tidak segera dipatahkan oleh gerakan misi kristen dan penjajah. Dengan Sikap beliau maka Agama Parmalim dapat eksis hingga kini.


Jadi Parmalim sebagai Agama monoteis (menurut keyakinan penganutnya) juga mempunyai sekte-sekte Yaitu: Parmalim sekte rasulnya Guru Somalaing berkedudukan di Balige, Parmalim sekte di Huta Tinggi, Laguboti, yang dipimpim Rasul Raja Mulia Naipospos. Sekte dengan Rasul Guru Mangantar Manurung di Si Gaol Huta Gur-gur, Porsea. Sekte lain yang sudah pudar adalah Agama Putih dan Agama Teka. Meskipun demikian Sekarang Agama Parmalim yang berpusat di Huta Tinggi Laguboti adalah Agama Parmalim yang sanagt menonjol.

Dalam melaksanakan ibadah:

Parmalim melaksanakan upacara (ritual) Patik Ni Ugamo Malim untuk mengetahui kesalahan dan dosa, serta memohon ampun dari Tuhan Yang Maha Esa yang diikuti dengan bergiat melaksanakan kebaikan dan penghayatan semua aturan Ugamo Malim.
Sejak lahir hingga ajal tiba, seorang “Parmalim” wajib mengikuti 7 aturan Ugamo Malim dengan melakukan ritual (doa). Ke-7 aturan tersebut adalah :
1. Martutuaek (kelahiran)
2. Pasahat Tondi (kematian)
3. Mararisantu (peribadatan setiap hari sabtu)
4. Mardebata (peribadatan atas niat seseorang)
5. Mangan Mapaet (peribadatan memohon penghapusan dosa)
6. Sipaha Sade (peribadatan hari memperingati kelahiran Tuhan Simarimbulubosi)
7. Sipaha Lima (peribadatan hari persembahan / kurban)
Selain ke-7 aturan wajib di atas, seorang “Parmalim” harus menjunjung tinggi nilai – nilai kemanusiaan seperti menghormati dan mencintai sesama manusia, menyantuni fakir miskin, tidak boleh berbohong, memfitnah, berzinah, mencuri, dan lain sebagainya.
Diluar hal tersebut, seorang “Parmalim” juga diharamkan memakan daging babi, daging anjing dan binatang liar lainnya, serta binatang yang berdarah.
Tak terasa, malam semakin larut. Waktu terasa sangat singkat saat pak Sirait menjelaskan detail demi detail soal “Parmalim”.

Ritual suci
Tiap tahun ada dua kali ritual besar bagi Umat Parmalim. Pertama, Parningotan Hatutubu ni Tuhan atau Sipaha Sada. Ritual ini dilangsungkan saat masuk tahun baru Batak, yaitu di awal Maret. Ritual lainnya bernama Pameleon Bolon atau Sipaha Lima, yang dilangsungkan antara bulan Juni-Juli. Ritual Sipaha Lima dilakukan setiap bulan kelima dalam kalender Batak. Ini dilakukan untuk bersyukur atas panen yang mereka peroleh. Upacara ini juga merupakan upaya untuk menghimpun dana sosial bersama dengan menyisihkan sebagian hasil panen untuk kepentingan warga yang membutuhkan. Misalnya, untuk modal anak muda yang baru menikah, tetapi tidak punya uang atau menyantuni warga yang tidak mampu. Seperti diutarakan Monang Naipospos, Pengurus Pusat Parmalim.

Tempat ibadah Umat Parmalim disebut Bale Pasogit.

Jika melihat fisik bangunan rumah ibadah Parmalim, Bentuk bangunan Bale Pasogit menyerupai gereja pada umumnya. Namun, dilengkapi lapangan yang cukup luas yang digunakan umat Parmalim merayakan hari besar mereka. maka pada atap bangunan terdapat lambang tiga ekor ayam. Lambang Tiga ayam ini punya warna yang berbeda, yaitu hitam lambang kebenaran, putih lambang kesucian dan merah lambang kekuatan atau kekuasaan. merupakan lambang ”partondion” (keimanan). Konon, menurut ajaran Parmalim, ada tiga partondian yang pertama kali diturunkan Debata ke Tanah Batak, yaitu Batara Guru, Debata Sori dan Bala Bulan. Sementara ayam merupakan salah satu hewan persembahan (kurban) kepada Debata.

Saat itulah tari tor-tor digelar sebagai bentuk pemujaan. Tarian itu diiringi Gondang Sabangunan yang merupakan alat musik orang Batak. Tari tor-tor dipercaya sebagai salah satu bentuk persembahan juga.

Ketika upacara berlangsung, laki-laki yang sudah menikah mengenakan sorban di kepala, juga sarung dan selendang Batak, atau ulos. Sementara yang perempuan memakai sarung, juga mengonde rambut mereka. Pujian dan persembahan dilakukan dengan hati suci, atau hamalimon.

Dibawah ini ada beberapa pernyataan dan pengakuan dari Pimpinan Agama Parmalim yang berada di Hutatinggi Lagu Boti Kabupaten Tobasa:

Berdasarkan sejarah, Parmalim Hutatinggi dirintis Raja Mulia Naipospos (wafat 18 Februari 1956). Saat ini Parmalim Hutatinggi dipimpin Raja Marnakkok Naipospos, cucu Raja Mulia Naipospos. Penganut Parmalim Hutatinggi tercatat sekitar 6.000 jiwa (1.500 KK) dan tersebar di 50 komunitas di seluruh Indonesia.
Di Hutatinggi, terdapat kompleks bernama Bale Pasogit (balai asal-asul). Ada empat bangunan berarsitek Batak yang terdapat dalam kompleks itu yakni, Bale Partonggoan (balai doa), Bale Parpitaan (balai sakral), Bale Pangaminan (balai pertemuan), dan Bale Parhobasan (balai pekerjaan dapur). Bagi umat Parmalim, Bale Pasogit merupakan Huta Nabadia (tanah suci). Semua bale ini didesain dengan motof batak yang sarat dengan arti khusus.
Di kompleks itu pula, dua kali dalam setahun, umat Parmalim menggelar upacara keagamaan besar Sihapa Sada (upacara menyambut tahun baru sekaligus memperingati kelahiran para pemimpin spiritual Parmalim) dan Sipaha Lima (upacara syukuran atas rahmat yang diterima dari Raja Mulajadi Nabolon). Dalam upacara syukur Doa dipimpin langsung oleh Raja Marnakkok Naipospos, yaitu ulu panguan atau pemimpin spiritual Parmalim terbesar di Desa Hutatinggi, Kecamatan Laguboti, Kabupaten Toba Samosir. Dalam doanya, Marnakkok Naipospos mengucap syukur kepada Tuhan yang telah memberikan kehidupan. Ucapan syukur dilakukan umat Parmalim setiap hari Sabtu.

Beberapa ucapan dan pengakuan Pimpinan Agama Parmalim :

Marnakkok Naipospos: "Samisara itu hari ketujuh bagi orang Batak. Diidentikkan dengan hari Sabtu, supaya berlaku untuk selamanya. Karena kalau kita bertahan pada kalender Batak, yang muda ini bisa bingung. Makanya kakek kita menentukan samisara ini hari Sabtu."

Marnakkok Naipospos: "Inilah balai pasogit. Ini tempat ibadah dan menyembah setiap hari Sabtu. Seluruh warga masuk ke rumah ini. Kira kira 1 jam kita beribadah, tergantung jemaat yang akan memberikan wejangan. Karena mereka secara sukarela memberikan wejangan kepada jemaat lain."

Monang Naipospos: "Jadi Sipaha Sada inilah bulan pertama inilah tahun tanggal pertamanya, ini lah tahun baru orang Batak. Karena pada pertengahan bulan itu adalah bulan penuh di atas, bulan purnama, jadi pada saat itulah kita melakukan persembahan kepada mula jadi nabolon."

Monang Naipospos: "Jadi tor-tor itu juga persembahan, karena total gerak kita harus sadar karena untuk persembahan, sehingga gerakannya harus hati-hati, karena gerakan tor-tor Parmalim bukan hiburan."

Monang Naipospos – Pengurus Parmalim Hutatinggi

Monang Naipospos: "Sejak raja Batak, sudah mengenal yang menciptakannya. Makanya semua orang Batak tahu, bahwa yang menciptakan semua ini adalah Raja Mula Na bolon. Nah, ajaran ajaran ini disebut dengan kesucian atau hamalimon."

Begitulah umat Ugamo Malim dalam melaksanakan ritual suci mereka. Tapi pelaksanaan ritual ini tak melulu bisa berlangsung dalam damai. Masih banyak penganut Parmalim yang mendapat diskriminasi, bahkan di Tanah Batak, tanah kelahiran agama Parmalim ini. Monang Naipospos, pengurus Pusat Parmalim:

Monang Naipospos: "Begitu datang agama Kristen, cara-cara ibadah hamolimun menjadi tersingkir, mereka mulai menganggap bahwa hamalimun adalah animisme. Bahkan Belanda mensyaratkan bagi masyarakat yang ingin bekerja, sekolah dan bertani, harus terlebih dahulu dibaptis. Akibatnya, umat parmalim inilah yang bertahan tidak mau dibaptis."

Memaknai upacara sipaha sada
Pada perayaan sipaha sada para penganut ogamo malim datang dari berbagai penjuru yang tersebar di 50-an komunitas dan sekitar 1500 KK. Dari jumlah itu mereka tidak sekedar hadir, tetapi mereka aktif-partisipatif dalam seluruh rangkaian upacara karena mereka meyakini bahwa Bale Pasogit adalah Huta Nabadia (Tanah Suci).
Upacara Sipaha Sada dilaksanakan di dalam ruangan Bale Pasogit, sementara upacara Sipaha Lima diadakan di luar karena teknis pelaksanaannya besar dan berciri kosmis. Menurut Raja Marnangkok Naipospos, pimpinan umum ugamo malim saat ini upacara Sipaha Sada merupakan pembuka tahun dan hari yang baru bagi penganut parmalim Huta Tinggi. “Inti pesta Sipaha Sada ialah menyambut kelahiran dan kedatangan Tuhan Simarimbulu Bosi dan para pengikut setianya yang telah menderita dalam mengembangkan ajaran Ugamo Malim ini,” jelas Raja Marnangkok. Si Marimbulu Bosi bagi penganut parmalim adalah nama Tuhan bangsa Batak.
Menurut generasi ketiga dari keturunan perintis ugamo malim ini setiap aturan yang dilaksanakan di Bale Pasogit harus dihadiri oleh seluruh umat parmalim. Maka tidaklah mengherankan upacara tahun baru parmalim ini sungguh menjadi momen penting sebagaimana hari natal bagi penganut agama Kristen. Untuk itu, dua hari sebelum upacara Sipaha Sada, diadakan juga mangan napaet (makan sesuatu yang pahit) yakni menyantap makanan simbolik untuk mengenang kepahitan dan penderitaan Raja Nasiak Bagi, sang penebus mereka. Bahan-bahan makanan tersebut merupakan paduan antara daun pepaya muda, cabe, garam, dan nangka muda yang ditumbuk dengan halus. Ritus mangan napaet berlangsung sebagai pembuka dan penutup puasa yang mencapai waktu sampai 24 jam.
Itulah bagi penganut parmalim sebagai bulan permenungan, pertobatan dan bulan penuh rahmat. “Makna hakikinya, bahwa parmalim pada saat sebelum Sipaha Sada ini sudah melaksanakan upacara pengampunan dosa,” jelas Raja Marnangkok yang sudah mengemban kepemimpinan ugamo malim selama dua puluh lima tahun, sejak 1981.
Dengan demikian bisa dikatakan perayaan Sipaha Sada dapat dianggap sebagai jantung ritus dalam upacara keagamaan Parmalim Huta Tinggi. Perayaan itu memuncak dalam tonggo-tonggo (doa-doa) yang dilambungkan pada hari kedua. Ritus itu berlangsung selama lima jam, mulai jam dua belas siang hingga pukul lima sore. Upacara religius itu diselang-selingi oleh tonggo-tonggo, dengan iringan ritmis musik tradisional gondang hasapi, tortor, dan penyampaian persembahan.
Satu hal yang menarik ialah bahwa mereka tetap mempertahankan aturan-aturan ni panortoran. Sesuai dengan catatan Thomson Hs, seorang penyair dan penggiat budaya Batak Toba dan praktek pelaksanaan upacara religius Sipaha Sada baru-baru ini ada sepuluh jenjang doa yang disampaikan.
Dan setiap doa disertai dengan iringan musik tradisional Batak Toba. Doa-doa tersebut ialah:
1. Doa untuk Mulajadi Nabolon, Tuhan Pencipta langit dan bumi.
2. Doa untuk Debata Natolu, (Batara Guru, Debata sori, dan Bala Bulan).
3. Doa untuk Siboru Deak Parujar, yang memberi sumber pengetahuan dan keturunan.
4. Doa untuk Naga Padoha Niaji, penguasa di dalam tanah.
5. Doa untuk Saniang Naga Laut, penguasa air dan kesuburan
6. Doa untuk Raja Uti yang diutus Tuhan sebagai perantara pertama bagi manusia (Batak).
7. Doa untuk Tuhan Simarimbulu Bosi yang hari kelahirannya sekaligus menjadi momentum perayaan Sipaha Sada.
8. Doa untuk Raja Naopat Puluh Opat yakni semua nabi yang diutus Tuhan kepada bangsa-bangsa melalui agama-agama tertentu, termasuk Sisingamangaraja yang diutus bagi orang Batak.
9. Doa untuk Raja Sisingamangaraja, raja yang pernah bertahta di negeri Bakkara.
10. Doa untuk Raja Nasiak Bagi, yang dianggap sebagai penyamaran atau inkarnasi Raja Sisingamangaraja. Pseudonominya biasa disebut Patuan Raja Malim.
Jadi, secara “teologis” bisa dikatakan bahwa ugamo malim juga menganut paham monoteistik, kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa karena tujuan akhir semua doa mereka tetap diarahkan kepada debata Mulajadi Nabolon. Usai doa-doa itu dipanjatkan dilanjutkanlah “kotbah” atau renungan yang disampaikan oleh pimpinan, Raja Marnangkok Naipospos. Kemudian mereka manortor secara bergiliran mulai dari keluarga Raja sampai naposo bulung (muda-mudi).

Kesimpulan tentang Agama Parmalim:

1. Tuhan: Mulajadi Na Bolon (Yang Maha Besar tempat semua makhluk berasal)
2. Tempat Ibadah: Bale Parpitaan dan Bale Partonggoan
3. Kita Suci: Tumbaga Holing
4. Pembawa Agama/Tokoh Spiritual: Raja Uti
5. Pantangan: Riba, Makan Darah, Babi dan Anjing serta Monyet
6. Hari Suci: Sabtu
7. Pertama kali berdiri: 497 Masehi atau 1450 tahun Batak
Sandaran Teologis
Filosofi Teologis dalam pemahaman Parmalim adalah tentang sebuah eksistensi. Eksistensi manusia harus didasarkan pada komunikasi pada alam. Tanpa itu keseimbangan tidak dapat dipertahankan. Salah satu ujud dari komunikasi kepada alam akan membentuk penyadaran diri sebagai makhluk yang lemah.
Kegulauan dalam pikiran yang menimbulkan pertanyaan dalam diri akan mendapat jawaban dari diri itu sendiri, sebagai sebab akibat, bahwa segala sesuatu itu ada karena ada yang mengadakannya atau yang membuatnya ada.
Siapa yang mengadakan sesuatu itu tidak dapat dijelaskan dengan alam pikiran manusia. Tetapi ada suatu kuasa. Kuasa yang Maha Besar dan agug yang tidak dapat dibandingkan.
Tuhan
Ugamo malim menyebut kuasa itu adalah Mulajadi na Bolon. Mulajadi na Bolon adalah Tuhan Yang Maha Esa yang tidak bermula dan tidak berujung.
Keberadaannya adalah kekal untuk selama-lamanya. Keberadaan Mulajadi Nabolon itu dalam ajaran malim dapat dipahami dari tonggo-tonggo atau ayat-ayat doa berikut ini;
Ompung Mulajadi nabolon


Ho do namanjadihon langit na manjadihon tano
Namanjadihon saluhut nasa naadong
Ho do namanjadihon jolma umbahen naadong
Na manjadihon harajaon asa adong
Margomgom di toru ni langitmu, di atas ni tano on
Dijadihon ho do tondim jadi anakmu
Ima Raja Nasiakbagi
Margomgom hami di ruma hamalimon mi
Parajar si oloan jala marmeme si bonduton
Ajarna i do nahuoloi hami
Mamena i do na huparngoluhon hami
Umbahen ro hami saluhut ginomgom ni tondina
Sian holang-holang ni dosa nauanu on
Marluhut si pangantaran ni bale parpitaan
Dohot bale partonggoan
Marsomba mardaulat tu ho
Marhite lapir ni tangan nami marsomba
Timpul ni daupa dohot pangurason
Indahan na las
Dengke ni lean
Pira ni ambalungan
Manuk lahi bini
Hambing puti si tompion
Teori-teori teologis yang dimengerti dalam ayat-ayat tersebut adalah bahwa Mulajadi na Bolon atau Tuhan itu wujud atau ada. Tetapi tidak dapat dilihat. Dia tidak bermula dan tidak mempunyai ujung. Dia dapat dihubungi dan dijumpai hanya dalam alam spiritual. Teori ini mengatakan bahwa dia dapat disembah dengan sesaji. Dapat dipuji dalam kehidupan yang lebih mendalam dari kehidupan manusia.
Dia adalah mutlak absolut, Maha Esa, Maha Kuasa, Maha Agung dan tidak dapat dibandingkan. Dia dekat dan jauh dari alam ciptaannya. Dia adalah kuasa menghukum dan kuasa mengampuni. Kuasa kasih dan kuasa murka. Demikianlah sifat-sifat Mulajadi Na Bolon, Tuhan yang satu bersadarkan Ugamo Malim.
Keberadaan kuasa Mulajadi Nabolon menurut ugamo malim terpencar dalam wujud Debata Natolu, Debata Na Tolu adalah wujud kuasa dari tiga fungsi kuasa Tuhan Yang Maha Esa.
8- Agama Parmalim adalah Kepercayaan Asli Batak dan bagian dari budaya Batak.

Untuk sementara ini kita cukupkan dahulu ulasan tentang Parmalim, selanjutnya akan mengulas tokoh-tokoh spritual Batak,- TH.P

9 Nilai Budaya yg Utama pada Orang Batak Toba

"Saya mencoba untuk mendeskripsikan (secara Antropologis) mengenai 9 Nilai Budaya Yang Utama pada Masyarakat Batak Toba. Memang masih banyak Nilai Budaya Batak Toba yang lain, yang mana mungkin menjadi bahasan teman-teman yang lain ?

1. KEKERABATAN
Yang mencakup hubungan premordial suku, kasih sayang atas dasar hubungan darah, kerukunan unsur-unsur Dalihan Na Tolu( Hula-hula, Dongan Tubu, Boru), Pisang Raut (Anak Boru dari Anak Boru), Hatobangon (Cendikiawan) dan segala yang berkaitan hubungan kekerabatan karena pernikahan, solidaritas marga dan lain-lain.

2.RELIGI
Mencakup kehidupan keagamaan, baik agama tradisional maupun agama yang datang kemudian yang

mengatur hubungannya dengan Maha Pencipta serta hubungannya dengan manusia dan lingkungan hidupnya.

3.HAGABEON
Banyak keturunan dan panjang umur. satu ungkapan tradisional Batak yang terkenal yang disampaikan pada saat upacara pernikahan adalah ungkapan yang mengharapkan agar kelak pengantin baru dikaruniakan putra 17 dan putri 16. Sumber daya manusia bagi orang Batak sangat penting. Kekuatan yang tangguh hanya dapat dibangun dalam jumlah manusia yang banyak. Ini erat hubungannya dengan sejarah suku bangsa Batak yang ditakdirkan memiliki budaya bersaing yang sangat tinggi. Konsep Hagabeon berakar, dari budaya bersaing pada jaman purba, bahkan tercatat dalam sejarah perkembangan, terwujud dalam perang huta. Dalam perang tradisional ini kekuatan tertumpu pada jumlah
personil yang besar. Mengenai umur panjang dalam konsep hagabeon disebut SAUR MATUA BULUNG ( seperti daun, yang gugur setelah tua). Dapat dibayangkan betapa besar pertambahan jumlah tenaga manusia yang diharapkan oleh orang Batak, karena selain setiap keluarga diharapkan melahirkan putra-putri sebanyak 33 orang, juga semuanya diharapkan berusia lanjut.

4.HASANGAPON
Kemuliaan, kewibawaan, kharisma, suatu nilai utama yang memberi dorongan kuat untuk meraih kejayaan. Nilai ini memberi dorongan kuat, lebih-lebih pada orang Toba, pada jaman modern ini untuk meraih jabatan dan pangkat yang memberikan kemuliaan,kewibawaan, kharisma dan kekuasaan.

5. HAMORAON
Kaya raya, salah satu nilai budaya yang mendasari dan mendorong orang Batak, khususnya orang Toba, untuk mencari harta benda yang banyak.

6.HAMAJUON
Kemajuan, yang diraih melalui merantau dan menuntut ilmu. Nilai budaya hamajuon ini sangat kuat mendorong orang Batak bermigrasi keseluruh pelosok tanah air. Pada abad yang lalu, Sumatra Timur dipandang sebagai daerah rantau. Tetapi sejalan dengan dinamika orang Batak, tujuan migrasinya telah semakin meluas ke seluruh pelosok tanah air untuk memelihara atau meningkatkan daya saingnya.

7. HUKUM
Patik dohot uhum, aturan dan hukum. Nilai patik dohot dan uhum merupakan nilai yang kuat di sosialisasikan oleh orang Batak. Budaya menegakkan kebenaran, berkecimpung dalam dunia hukum merupakan dunia orang Batak.
Nilai ini mungkin lahir dari tingginya frekuensi pelanggaran hak asasi dalam perjalanan hidup orang Batak sejak jaman purba. Sehingga mereka mahir dalam berbicara dan berjuang memperjuangkan hak-hak asasi. Ini tampil dalam permukaan kehidupan hukum di Indonesia yang mencatat nama orang Batak dalam daftar pendekar-pendekar hukum, baik sebagai Jaksa, Pembela maupun Hakim.

8. PENGAYOMAN
Dalam kehidupan sosio-kultural orang Batak kurang kuat dibandingkan dengan nilai-nilai yang disebutkan terdahulu. ini mungkin disebabkan kemandirian yang berkadar tinggi. Kehadiran pengayom, pelindung, pemberi kesejahteraan, hanya diperlukan dalam keadaan yang sangat mendesak.

9. KONFLIK
Dalam kehidupan orang Batak Toba kadarnya lebih tinggi dibandingkan dengan yang ada pada Angkola-Mandailing. Ini dapat dipahami dari perbedaan mentalitas kedua sub suku Batak ini. Sumber konflik terutama ialah kehidupan kekerabatan dalam kehidupan Angkola-Mandailing. Sedang pada orang Toba lebih luas lagi karena menyangkut perjuangan meraih hasil nilai budaya lainnya. Antara lain Hamoraon yang mau tidak mau merupakan sumber konflik yang abadi bagi orang Toba.

( dikutip tanpa merubah dari skripsi penulis :

POLA DAN FUNGSI KEKERABATAN MASYARAKAT BATAK TOBA, Sebuah Studi Deskripsi Pada Perkumpulan Marga Napitupulu, Boru dan Bere di Kotamadya Surabaya.
ANTROPOLOGI – Universitas Airlangga, Surabaya. 1992

TATA CARA PELAKSANAAN ADAT BATAK (3)

Bab.IV.

KEBUDAYAAN BATAK

1. Adat:

Adat adalah bagian dari pada Kebudayaan, berbicara kebudayaan dari suatu bangsa atau suku bangsa maka adat kebiasaan suku bangsa tersebut yang akan menjadi perhatian, atau dengan kata lain bahwa adat lah yang menonjol didalam mempelajari atau mengetahui kebudayaan satu suku bangsa, meskipun aspek lain tidak kalah penting nya seperti kepercayaan, keseniaan, kesusasteraan dan lain-lain .

Dahulu kala keseluruhan aspek kehidupan orang Batak diatur oleh dan didalam adat. Gunanya ialah untuk menciptakan keterarturan didalam masyarakat. Kegiatan sehari-hari didalam hubungan sesama orang Batak selalu diukur dan diatur berdasarkan adat

Namun keterbukaan akan suku bangsa lain dan membawa budayanya misalnya melalui asimilasi dan akulturasi (proses percampuran dua budaya atau lebih) , dan agama yang melarang untuk terlibat dalam adat mempengaruhi sikap pada adat dan tradisi membuat cenderung semakin goyang. Artinya muncul sikap tidak lagi membutuhkan adat istiadat warisan nenek moyang, meskipun masih banyak yang mematuhi dan melaksana-kan adat bahkan dibeberapa suku Batak masih membutuhkannya didalam pengaturan masyarakat, dan kenyataan dapat diharapkan sebagai suatu alat pemeliharaan moral.

Orang Batak mengenal 3 (tiga) tingkatan adat yaitu:

1- Adat Inti,adalah seluruh kehidupan yang terjadi (in illo tempore) pada permulaan penciptaan dunia oleh Dewata Mulajadi Na Bolon. Sifat adat ini konservatif (tidak berubah).

2- Adat Na taradat,adat yang secara nyata dimiliki oleh kelompok desa, negeri, persekutuan agama, maupun masyarakat. Ciri adat ini adalah praktis dan flexibel, setia pada adat inti atau tradisi nenek moyang. Adat ini juga selalu akomodatif dan lugas menerima unsur dari luar, setelah disesuaikan dengan tuntunan adat yang asalnya dari Dewata.

3- Adat Na niadathon, yaitu segala adat yang sama sekalibaru dan menolak adat inti dan adat na taradat, adat na diadatkan ini merupakan adat yang menolak kepercayaan hubungan adat dengan Tuhan, bahkan merupakan konsep agama baru (Kristen, Islam dll)yang dipandang sebagai adat, yang justru bertentangan dengan agama asli Batak atau tradisi nenek moyang. (Sinaga 1983).

Berdasarkan ketiga tingkatan adat tersebut diatas. Adat yang sekarang dilakoni orang Batak adalah Adat tingkat kedua. Namun dibeberapa bagaian kelompok Batak sudah mendekati tyingkat ketiga. Meskipun ini terjadi sadar atau tidak sadar dilakukan

Oleh karena itu Adat kebiasaan atau “Adat Batak“, sesuatu yang sangat penting didalam kehidupan bermasyarakat bagi suku Batak maka perlu dikhayati makana petuah petuah dibawah ini :

“Adat do ugari, Sinihathon ni mulajadi. Siradotan manipat ari , salaon di si ulubalang arai. Ia adat ido ugari, Ale guru saingganon . Radotan manipat ari , Salaon di ahason.”

Artinya:”Adat ialah aturan, ditetapkan oleh Tuhan yang dituruti sepanjang hari tampak dalam kehidupan.”

Maksudnya: bahwa Adat itu adalah hukum tidak tertulis yang di siratkan oleh Tuhan yang Maha Kuasa kepada nenek moyang terdahulu sehingga merupakan suatu ikatan bagi yang menganutnya.

Jikalau adat itu sudah merupakan hukum maka sesuai dengan prinsip-prinsip hukum akan berlaku kepadanya, seperti pelanggaran terhadap adat tersebut maka akan dikenakan sanksi adat kepada sipelanggar sesuai dengan aturan main, seperti hukum acaranya. Namun karena adat Batak itu tidak tertulis karena dia merupakan adat kebiasaan yang turun-temurun. Dan keputusannya tidak tertulis atau ter arsip namun jika eksekusi telah terlaksana akan bergulir kesegala penjuru dan diwariskan turun temurun hasil keputusan adat sehingga terkadang merupakan pengikat yang kuat atas keputusan adat tersebut.yang terasa terasa sampai kini .

Jadi adat adalah aturan hukum yang mengatur kehidupan manusia sehingga bisa menciptakan keterarturan, ketentraman dan keharmonisan, dan adat ditrapkan didalam kehidupan sehari-hari oleh orang Batak, terutama didalam sistem kekarabatan dengan pedoman prinsip Dalihan Natolu, disamping aturan adat yang lain.

Adat salah satu dari budaya, dan penguraian tentang adat sangat komplek, karena didalam semua aspek kehidupan bermasyarakat orang Batak selalu terikat didalam tata cara yang telah diatur sejak nenek moyang orang Batak, oleh karena itu ukuran terhormat suatu keluarga selalu diukur dari kemampuan keluarga tersebut mengimplementasi-kannya (adat) didalam bermasyarakat. Namun suatu hal yang tidak dapat dimungkiri bahwa perilaku pelaksanaan adat (budaya) Batak sudah banyak disusupi dengan unsur-unsur dari luar termasuk pengaruh dari Agama yang banyak merobah pola berpikir suku bangsa Batak. Meskipun demikian pada saat-saat sitruasi sulit umumnya masyarakat tradisional akan kembali pada nilai-nilai budaya Tradisional, hal ini nampak jelas pada suku Batak, bagai manapun ketat aturan yang dikeluarkan gereja dalam pelaksanaan adat, sadar atau tidak sadar pelaksanaan adat tradisional dilakukan juga, seperti margondang dengan Gondang sabangunan (bukan dengan alat musik modern)

Sejauh apakah sebenarnya pengaruh Agama pada perilaku masyarakat Batak, khususnya Batak toba didalam adat Batak (paradatan). Menurut pengakuan saudara John.B Pasaribu dalam bukunya “Pengaruh Injil dalam adat Batak”, didalam bukunya dihalaman 12 sbb: “Perjumpaan atau pertemuan Injil yang dibawa oleh para misionaris dengan nilai-nilai yang diwarisi oleh bangsa batak telah menimbulkan benturan, pada mulanya benturan itu sangat dahsyat yang menyebabkan gugurnya (martiry) para penginjil terdahulu (Munson dan Lyman)” . kemudian di halaman 80 dilanjutkan dengan: “ Sejak awal nya Adat Batak dibentuk dan dilaksanakan adalah untuk keserasian hidup dan kehidupan warganya. Dengan kemampuan dan pemahaman yang bertumbuh dan berkembanga dari waktu ke waktu, semasa religi lama dimana Mulajadi Nabolon adalah sang pencipta, dengan tatanan Dalihan Natolu adalah tata kehidupan dalam hubungan kekeluargaan diantara sesamanya maka Religi lama juga kelihatan dengan jelas ingin mengantarkan umat dan warga Batak kepada suka cita penuh bagi setiap keluarga walau dalam implementasinya ketentuan adat dalam tatanan hubungan komponen adat itu sendiri terdapat aturan pergaulan dalam ketentuan kedudukan pada unsur Dalihan Natolu…….” Kemudian dilanjutkannjya pada halaman yang sama sbb: “ Religi Baru dan kekeristenan mengubah itu semua nya, layanan dan pergaulan terpusat pada satu kuasa dan satu kemulian yaitu Tuhan Yang Maha Esa, anaknya Yesus Kristus dan Rohul Kudus. Adat dan kebiasaan yang sudah bertumbuh sejak lama, harusnya dapat disesuaikan dengan pertumbuhan rekigi baru (Keristen), sehingga Tuhan yang ada sejak dahulu, sekarang dan selama-lamanya , benar-benar pimpinan dalam kehidupan Adat dan Budaya Batak. Religi baru (Keristen) adalah penguat kekerabatan diantara sesamanya, dan itu dilaksanakan penuh sebagai suka cita orang Batak serta pupujian bagi Tuhan.”

Dari keterangan diatas salah satu pembuktian bahwa adat batak yang berlaku sekarang ini tidak lagi murni sesuai dengan asal mulanya berlaku!. Karena didalam wujud peralihan adat budaya Batak (asli) ke Religi baru seperti Batak Mandailing (Islam) dan pada Batak Toba (yang sangat menonjol) dengan religi kristen, dimana Injil harus direfleksikan disetiap aspek kehidupan adat tradisi lama Batak Toba seperti:

· Implementasi Falsafah hidup Batak, Hamoraon, Hagabeon, dan Hasangapan direflesikan kepada Tri Doktrin Grejani (Iman, Kasih, dan Pengharapan) .

· Implementasi Ajaran Dalihan Natolu di refleksikan dengan Pengharapan 3 jenis pengasihan Illahi yaitu Anugerah, Karunia dan Berkat.

Mengimplementasian ketiga doktrin gereja dengan membudayakan filsafat hidup batak yang bersifat rohaniah, dan menjadikan Gereja-gereja sebagai gedung pembinaan rohani dan pendidikan yang berorientasi pada pengembangan adat budaya Batak dll.Dalam hal ini sepertinya orang Batak toba telah mengisolasi diri dari orang batak lainnya seperti Batak Mandailing, sipirok, simalungin, karo dan batak gayo alas,dan lain-lainnya.

Tanpa menafikan ada dan besarnya pengaruh perkembangan zaman (globalisasi), masih mungkinkah Batak dapat dipersatukan didalam rumpun Batak seperti tertera diatas (sejarah Batak) banyak orang-orang batak yang bukan beragama keristen mengharapkan kemurnian peri laku adat dilaksanakan tanpa menonjolkan keyakinan (agama) tertentu karena suatu fakta bahwa umumnya Batak identik dengan Batak toba sedangkan Batak toba identik dengan keristen, Dalam hala Agama bagi suku Batak sangatlah sensitif karena orang Batak termasuk manusia yang kokoh dengan pilihannya pada agama, dan hampir boleh dikatan cukup panatik. Bagi mereka perpindahan keyakinan (Agama) kepada keyakinan lain adalah suatu aib. Sangatlah beruntung kita hidup disebuah negara yang berazaskan Pancasila, yang menawarkan saling menghormati antar keyakinan (Agama), dan sebagai batak mempunyai falsafah “Dalihan Natolu” sebagai alat perekat untuk saling menghormati, yang boleh tidak harus saling mengikat hubungan meskipun berbeda agama. Sebaiknya apa yang diwariskan oleh Omputa sijolojolo tubu kita pelihara dan kita implementasikan tanpa mengclimp hanya orang Batak beragama keristen yang layak menjalankan adat batak tersebut. Karena ini menjadi suatu kendala kemajuan dan kerukunan sesama batak, yang tidak mustahil setiap orang batak mempunyai saudara yang ber agama lain juga. Agama seharusnya diletakkan sebagai penyempurna adatdidalam hubungannya ke Tuha Maha pencipta dan hubungan sesama hamba-hambaNya. Tidak ada agama yang mengajarkan memutuskan hubungan berkeluarga atau bersaudara.

Selama masih mengakui dirinya orang Batak, maka dia tidak akan lepas dari keterikatan tatanan atau norma-norma adat Batak, apakah dia Keristen Protestan, Keristen Katolik, Islam dll, harus saling menghormati berdasarkan Dalihan natolu. Agama Islam juga mengajarkan untuk selalu memelihara persaudaraan atau dengan kata lain “silaturahmi”, bagi yang memelihara silaturahmi akan mendapatkan pahala dari Tuhan Yang Maha Pencipta (Mulajadi Nabolon). Orang-orang Batak yang beragama Islam seharusnya lebih bertanggung jawab memelihara budaya Batak sebagai mana saudara-saudaranya yang beragama Keristen Protestan atau Katolik mengharagai adat Batak, dan harus dapat menunjukkan jati diri sebagai orang Batak yang ber agama Islam. Dan setiap Orang Batak berkewajiban membuktikan bahwa adat Batak bukanlah monopoli suatu Agama.

Ada beberapa hal pada tatanan adat yang berkorelasi dengan sunnah rasul, dan ini dapat dilakukan tanpa mengurangi nilai-nilai adat dan norma-norma Agama. mari kita seksamai setiap aspek laku dari adat, seperti: pemberian “Ulos” , “boras sipir ni tondi”, “manulangi” dll semuanya boleh dikatakan menyentuh masalah spritual, kita setuju bahwa unsur-unsur yang menyangkut Akidah atau dengan kata lain mensyarikat Tuhan harus kita hindari. Tetapi alangkah baiknya kalau dapat sama-sama orang Batak saling menghormati bagaimana cara pengimplementasian masing-masing Agama dalam adat teresebut, agar adat atau Budaya Batak tidak tertuduh sebagai adat yang berlaku hanya untuk yang beraganma Keristen. Dan perlu ditunjukkan bahwa budaya Batak, khususnya Batak Toba tidak indentik dengan budaya keristen. Namun adat/Budaya Batak berlaku dan diperlakukan untuk dan oleh orang Batak. Dan yang perlu kita hapuskan adalah prasangka suku bangsa lain terhadap suku bangsa Batak khususnya Batak toba identik dengan keristen, karena tata cara adat yang berlaku selama ini sejak Perang paderi dan masuknya Misionari Jerman telah bernapaskan kekeristenan. Dan tidak dapat disalahkan anggapan ini, yang harus disalahkan adalah orang Batak sendiri. Kalau banggga sebagai orang batak seharuslah memelihara dengan menggali budaya Batak itu secara murni serta mencoba mengkorelasikan ataupun menselaraskan dengan agama yang dianut. Orang Batak harus merenungi sisi apa yang dibanggakan kalau sesama orang Batak mengharagai budaya sendiri dengan tidak mengadopsi bulat-bula budaya lain, masa depan suku bangsa Batak dengan budaya begitu sempurna seharusnya di pelihara dan meninggalkan sifat saling mencurigai, saling menjelekkan, dan bertekad melestarikannya demi kesatuan dan persatuan orang Batak sendiri. Karena suku Batak yang terdiri dari beberapa suku bangsa seperti : Toba, Simalungun, Mandailing, Karo, Pak-Pak, kesemua suku bangsa ini mempunyai kebiasaan atau adat yang nyaris sama, meski ada perbedaan yang tidak begitu signifikan,. Perbedaan ini adalah disebabkan pengaruh budaya lain atupun Agama, ini tidak perlu kita permasalahkan karena kita berbicara masalah budaya secara global

Didalam kebudayaan orang Batak hampir 60 % tidak dilestaraikan, hanya tata cara adat seperti dalam Perkawinan, yang boleh dikatalkan masih dilaksanakan diperi laku lainnya hanya sebatas disinggung saja. Sebenarnya Budaya Batak sanaatlah mampu mendukung suku Batak menjadi suku bangsa yang besar, karena sudah memenuhi persyaratan jikalau ditinjau dari kesempurnaan budaya dalam bermasyarakat dan berbangsa. Suku Batak memiliki Aksara, Astronomi, Seni Arsitektur, Seni Musik dan tari, hukum/ Uhum peraturan yang telah ditetapkan oleh ompu si jolojolo tubu dan lain-lain. Orang Batak mengenal 3 (tiga Warna) dan dianggab sakral yaitu : Merah Puti dan Hitam. Ketiga warna ini sangat menonjol dalam seni Bangunan.

2- Gondang Sabangunan:

Gondang sabangunan atau ogung sabagunan ialah separangkat gendang dan gong merupakan instrumen inti musik gondang batak. Gondang sabangunan terdiri dari: tagading, ogung dan sarune. Tagading terdiri dari lima jenis,sedangkan ogung terdiri dari: ogung oloan, ogung ihutan, ogung doal dan ogung jeret. Sarune juga terdiri dari lima lobang. Umumnya gondang sabangunan dimainkan untuk memohon berkat dari arwah para leluhur.

Musik tradisi masyarakat Batak Toba disebut sebagai gondang. Ada tiga arti untuk kata “gondang”:

1. Satu jenis musik tradisi Batak toba;

2. Komposisi yang ditemukan dalam jenis musik tsb. (misalnya

komposisi berjudul Gondang Mula-mula, Gondang Haroharo dsb.

3. Alat musik “kendang”. Ada 2 ansambel musik gondang, yaitu

Gondang Sabangunan yang biasanya dimainkan diluar rumah

dihalaman rumah; dan gondang Hasapi yang biasanya dimainkan

dalam rumah.

Gondang Sabangunan terdiri dari:

Sarune bolon (sejenis alat tiup-“obo”), adalah:

Alat tiup double reed (obo) yang mirip alat-alat lain yang bisa ditemukan di Jaw, India, Cina, dsb.

Pemain sarune mempergunakan teknik yang disebut marsiulak hosa (kembalikan nafas terus menerus) dan biarkan pemain untuk memainkan frase-frase yang panjang sekali tanpa henti untuk tarik nafas. Seperti disebut di atas,

Tagading atau taganing (perlengkapan terdiri dari lima kendang yang dikunci punya peran melodis dengan sarune tsb),

Tangga nada gondang sabangunan disusun dalam cara yang sangat unik. Tangga nadanya dikunci dalam cara yang hampir sama (tapi tidak persis) dengan tangga nada yang dimulai dari urutan pertama sampai kelima tangga nada diatonis mayor yang ditemukan dimusik Barat: do, re, mi, fa, sol. Ini membentuk tangga nada pentatonis yang sangat unik, dan sejauh yang saya tahu, tidak bisa ditemukan ditempat lain di dunia ini. Seperti musik gamelan yang ditemukan di Jawa dan Bali, sistem tangga nada yang dipakai dalam musik gondang punya variasi diantara setiap ansambel, variasi ini bergantung pada estetis pemain sarune dan pemain taganing.

Kemudian ada cukup banyak variasi diantara kelompik dan daerah yang menambah diversitas kewarisan kebudayaan ini yang sangat berharga.
Gordang (sebuah kendang besar yang menonjolkan irama ritme),

Ogung terdiri dari empat gong yang masing-masing punya peran dalam struktur irama. Pola irama gondang disebut doal, dan dalam konsepsinya mirip siklus gongan yang ditemukan dimusik gamelan dari Jawa dan Bali, tetapi irama siklus doal lebih singkat.
Sebahagian besar repertoar gondang sabangunan juga dimainkan dalam konteks ansambel gondang hasapi.

Ansambel ini terdiri dari:

Hasapi ende (sejenis gitar kecil yang punya dua tali yang main melodi),

Hasapi doal (sejenis gitar kecil yang punya dua tali yang main pola irama),

Garantung (sejenis gambang kecil yang main melody ambil peran taganing dalam ansambel gondang hasapi),

Sulim (sejenis suling terbuat dari bambu yang punya selaput kertas yang bergetar, seperti sulim dze dari Cina),

Sarune etek (sejenis klarinet yang ambil peran sarune bolon dalam ansambel ini), dan

Hesek (sejenis alat perkusi yang menguatkan irama, biasanya alat ini ada botol yang dipukul dengan sebuah sendok atau pisau).

Tangga nada yang dipakai dalam musik gondang hasapi hampir sama dengan yang dipakai dalam gondang sabangunan, tetapi lebih seperti tangga nada diatonis mayor yang dipakai di Barat. Ini karena pengaruh musik gereja Kristen.

ASPEK-ASPEK SEJARAH

Ansambel musik yang memakai alat-alat terbuat dari perunggu di Sumatera biasanya terdiri dari perlengkapan yang punya empat sampai dua belas gong kecil,satu atau dua gong besar yang digantung, dua sampai sembilan kendang, satu alat tiup, penyari dan gembreng. Satu Ansambel yang khas jenis ini ada gondang sabangunan dari batak toba. Ansambel ini masih dipakai dalam upacara agama Parmalim.

Gondang sabangunan punya peran yang penting sekali dalam upacara agama tersebut. Seperti pada catatan di atas, Ansambel ini terdiri dari 4 gong yang main siklus irama gongan yang singkat, perlengkapan lima kendang yang dikunci, satu sarune (alat tiup/ obo), satu kendang besar dan satu alat perkusi (biasanya botol) untuk memperkuatkan irama.

Musik gondang sabangunan dipakai dalam upacara agama untuk menyampaikan doa manusia ke dunia atas. Waktu musik dimainkan, pemain sarune dan pemain taganing dianggap sebagai menifestasi Batara Guru.

Musik ini dipergunakan untuk berkomunikasi dengan dunia atas dan rupanya tranformasi pemain musik ini terjadi untuk memudahkan hubungan dengan dunia atas.

Transformasi paradigma ini di mitos Batak sangat mirip yang ada di Bali menunjuk bukti tidak langsung bahwa ada hubungan purbakala diantara kebudayaan Batak Toba dan kebudayaan Bali. Biarpun hal ini tidak dapat dibuktikan, ada kemungkinan yang berhubungan dengan sejarah, karena kedua kebudayaan masing-masing berhubungan paling sedikit sebagai batas keluar kerajaan majapahit. Keterkaitan dengan konsep kosmos bertingkat tiga ada konsep tentang faktor mediasi; pohon kosmos atau pohon hidup. Pohon mitos ini yang menghubungkan tiga dunia punya hubungan simbolis dengan pohon Bodhi dalam agama Budha, kayon di wayang Bali dan Jawa, dan barangkali konsep ini lebih tua dari agama Budha dan agama Hindu. Dalam konsepsi Batak peran musik mirip peran pohon kosmos; musik juga menguhubungkan dunia masing-masing. Melalui musik gondang batasan diantara dunia dapat ditembus, doa manusia dapat sampai kepada debata, dan berkah debata dapat sampai kepada manusia.
Dengan kedatangan agama Kristen ke Tanah Batak, pokok kebudayaan Batak sangat diubah sekali. Interaksi dengan agama baru ini dan nilai-nilai barat menggoncangkan kebudayaan tradisi batak toba sampai ke akarnya. Menurut gereja Kristen musik gondang berhubungan dengan kesurupan, pemujaan roh nenek moyang, dan agama Batak asli, terlalu bahaya untuk dibolehkan terus dimainkan lagi. Pada awal abad kedua puluh Nommensen minta pemerintah kolonial Belanda untuk melarang upacara bius dan musik gondang. Larangan ini bertahan hampir empat puluh tahun sampai pada tahun 1938. Itu merupakan suatu pukulan utama untuk agama tradisi Batak Toba dan musik gondang yang sangat terkait dengan agama tsb.

Untuk menambah kesakralan upacara adat atau keramaiaan upacara adat, maka orang Batak memainkan/membunyikan Gondang sabangunan yang memiliki sifat sakral . Biasanya alat musik ini dipergunakan pada acara ritual yang erat hubungannya dengan pemujaan roh-roh nenek moyang pada zaman dahulu dan penggelaran gondang sabangunan tersebut dilaksanakan dengan syarat-syarat tertentu agar pagelarannya dapat berjalan baik tanpa ada gangguan atau membawa dampak negatif pada tuan rumah dan para penari (manortor).

Gondang sabangunan baru boleh resmi digunakan pada upacara pokok, dengan mengadakan upacara khusus pada malam upacara pokok yaitu pihak hasuhutan melakukan acara “Tua ni gondang”, agar berkat dari gondang sabangunan itu tercurah kepada hasuhutan (yang punya hajat)

Gondang dimulai dengan dibuka juru bicara suhut dengan permintaan pembukaan sebagai berikut:

“Amang panggual pargonsi, Alu-aluhon ma jolo tu omputa Mulajadi Nabolon, na jumadihon nasa adong, na jumadihon manisia dohot sude isi ni portibion

(artinya wahai bapak pemain gondang yang dimuliakan, serukanlah terlebih dahulu kepada Tuhan Yang Maha menjadikan ,Yang Menciptalkan segala sesuatu, Yang Menciptakan Manusia dan segenap isi bumi).

Maka pemusik (pargondang) memukul perangkat gondangnya dengan ritme tertentu beberapa saat saja, kemudian dilanjutkan juru bicara meminta pada pemusik.

“Alu-aluhon ma muse tu sumangot ni omputa sijolo-jolo tubu, sumangot ni omputa paisada,omputa paidua, sahat tu papituhon,”

(artinya; serukan juga kepada roh-roh leluhur, nenek moyang tingkat pertama, nenek moyang tingkat kedua hingga ketujuh).

Kembali pemusik memainkan gondang dengan ritme tertentu sesuai dengan permintaan, beberapa saat juga, setelah berhenti dilanjutkan lagi dengan permintaan sebagai berikut:

“Alu-aluhon ma jolo tu sahala ni angka amanta raja na liat nalolo.”

(atinya; serukan juga kepada kharisma /wibawa para raja-raja yang hadir dalam upacara yang mulia ini).

Kembali pemain musik memukul gendangnya dengan ritme tertentu juga sesaat.

Setelah ketiga permintaan dipenuhi dan dilaksanakan maka pihak hasuhutan dengan keluarga besarnya berbaris berdiri saling mengatur diri untuk memulai menari (manortor), maka juru bicara meminta gondang pertama, yaitu gondang mula-mula, sebagai pembukaan dari rangkaian gondang yang harus diminta dalam acara mengambil tua ni gondang .

Ada 7 jenis lagu atau irama gondang yang harus diminta, yang setiap lagu didahului dengan permintaan oleh juru bicaranya, setiapa gondang berbunyi setiap itu pula suhut dengan keluarga besarnya menari (manortor). Adapun makna dari setiap lagu yang dmohonkan terkandung nilai-nilai sakral yang isinya memohon agar keluarga suhut diberikan kesejahteraan, kebahagiaan dan rezeki yang berlimpah ruah dan juga acara yang akan dilaksanakan besok harinya dapat berjalan lancar dab sumber berkat bagi seluruh keluarga dan para undangan . Gondang terakhir yaitu gondang hasahatan, diminta dengan permononana agar segala yang dimohonkan melalui gondang agar terwujud dengan nyata.

Orang Batak dalam setiap menjalani kehidupannya tidak terlepas dari etika yang telah diatur oleh adat istiadat yang berpedoman pada aturan yang ditetapkan para pendahulu (ompung sijolo-jolo tubu) atau dengan kata lain oleh para leluhur. Mulai lahir, kawin, mengandung/melahirkan, hingga tua dan meninggal, juga dalam, membangun dan memasuki rumah, menanam/memanen padi. Sampai menghormati orangtua yang telah meninggal, hampir boleh dikatakan didalam semua asapek kehidupan nya tidak terlepasa dari tata cara adat. Inilah salah satu bukti bahwa sebenarnya orang batak memiliki budaya dan dasar moral yang tinggi. Orang Batak memiliki pertanggalan , memiliki aksara (tulis baca) sendiri dan keyakinan sendiri sebelum masuknya Agama monoteis (Keristen dan Islam). Sebelum upacara adat dilaksanakan pada zaman dahulu pihak hasuhutan (yang punya hajat) memintak petunjuk dan arahan kepada dukun (datu) tentang waktu yang baik untuk mengadakan upacara

3- Seni Tari :

Seni tari Batak pada zaman dahulu merupakan sarana utama pelaksanaan upacara ritual keagamaan. Juga menari dilakukan jug dalam acara gembira seperti sehabis panen, perkawinan, yang waktu itu masih bernapaskan mistik (kesurupan).

Acara pesta adat yang membunyikan gondang sabangunan (dengan perangkat musik yang lengkap), erat hubungannya dengan pemujaan para Dewa dan roh-roh nenek moyang (leluhur) pada zaman dahulu.

Tetapi itu dapat dilaksanakan dengan mengikuti tata cara dan persyaratan tertentu.umpamanya sebelum acara dilakukan terbuka terlebih dahulu tuan rumah (hasuhutan) melakukan acara khusus yang dinamakna Tua ni Gondang, sehingga berkat dari gondang sabangunan. Dalam pelaksanaan tarian tersebut salah seorang dari hasuhutan (yang mempunyai hajat akan memintak permintaan kepada penabuh gondang dengan kata-kata yang sopan dan santun sbb:

“Amang pardoal pargonci…….

1- “Alu-aluhon ma jolo tu omputa Debata Mulajadi Nabolon, na Jumadihon nasa adong, na jumadihon manisia dohot sude isi ni portibion.”

2- “Alu-aluhon ma muse tu sumangot ni omputa sijolo-jolo tubu, sumangot ni omputa paisada, omputa paidua, sahat tu papituhon.”

3- “Alu-aluhon ma jolo tu sahala ni angka amanta raja na liat nalolo.”

Setiap selesai satu permintaan selalu diselingi dengan pukulan gondang dengan ritme tertentu dalam beberapa saat. Setelah ketiga permintaan/ seruan tersebut dilaksanakan dengan baik maka barisan keluarga suhut yang telah siap manortor (menari) mengatur susunan tempat berdirinya untuk memulai menari. Kembali juru bicara dari hasuhutan memintak jenis gondang, satu persatu jenis lagu gondang, ( ada 7 jenis lagu Gondang) yang harus dilakukan Hasuhutan untuk memdapatka (tua ni gondang). Para melakukan tarian dengan semangat dan sukacita.Adapun jenis permintaan jenis lagu yang akan dibunyikan adalah seperti :permohonan kepada Dewa dan pada ro-roh leluhur agar keluarga suhut yang mengadakan acara diberi keselamatan kesejahteraan, kebahagiaan, dan rezeki yang berlimpah ruah, dan upacara adat yang akan dilaksanakan menjadi sumber berkat bagi suhut dan seluruh keluarga, serta para undangan.Sedangkan gondang terakhir yang dimohonkan adalah gondang hasahatan. Didalam Menari banyak pantangan yang tidak diperbolehkan, seperti tangan sipenari tidak boleh melewati batas setinggi bahu keatas, bila itu dilakukan berarti sipenari sudah siap menantang siapapun dalam bidang ilmu perdukunan, atau adu pencak silat, atau adu tenaga batin. Dll.

Tarian (tor-tor) Batak ada lima gerakan (urdot) 1- Pangurdot (yang termasuk pangurdot dari organ-organ tubuh ialah daun kaki, tumit sampai bahu. 2- Pangeal (yang termasuk pangeal dari organ tubuh adalah Pinggang, tulang punggung sampai daun bahu/ sasap). 3- Pandenggal (yang masuk pandenggal adalah tangan, daun tangan sampai jari-jari tangan). 4- Siangkupna ( yangtermasuk Siangkupna adalah leher,).

Didalam menari setiap penari harus memakai Ulos.

Didalam menari orang Batak mempergunakan alat musik/ Gondang yaitu terdiri dari: Ogung sabangunan terdiri dari 4 ogung. Kalau kurang dari empat ogung maka dianggap tidak lengklap dan bukan Ogung sabangunan dan dianggap lebih lengkap lagi kalau ditambah dengan alat kelima yang dinakan Hesek. Kemudian Tagading terdiri dari 5 buah. Kemudian Sarune (sarunai harus memiliki 5 lobang diatas dan satu dibawah.

Peralatannya cukup sederhan namun kalau dimainkan oleh yang sudah berpengalaman sangat mampu menghipnotis pendengar.

Menari juga dapat menunjukkan sebagai pengejawantahan isi hati saat menghadapi keluarga atau orang tua yang meninggal, tariannnya akan berkat-kata dalam bahasa seni tari tentang dan bagaimana hubungan batin sipenari dengan orang yang meninggal tersebut. Juga Menari dipergunakan oleh kalangan muda mudi menyampai hasrat hatinya dalam bentuka tarian, sering taruian ini dilakukan pada saat bulan Purnama. Kesimpulannya bahwa tarian ini dipergunaka sebagai sarana penyampaian batin baik kepada Roh-roh leluhur dan maupun kepada orang yang dihormati (tamu-tamu) dan disampaikan dalam bentuk tarian menunjukkan rasa hormat.

4- Astronomi,Almanak/ Pertanggalan:

Pembagian Tahun: Awal tahun dimulai/ ditetapkan pada saat Hala pariama (Scorpio) berada ditimur dan Sialasungsang/ bintang na pitu (Orion) disebalah Barat. Keberadaan/ posisi kedua bintang inilah yang dijadikan penetu awal tahun yang biasanya terjadi pada bulan April, oleh karena itu dalam penentuan bulan pertama disetiap tahun adalah bulan April sebagai “sipaha Sada”

Didalam penentuan hari pertama dalam bulan berjalan, orang batak menentukannya seperti Islam yaitu melalui pergerakan bulan. Orang batak menentukan hari pertama dalam bulan mempergunakan alat yang sangat sederhan yaitu Hasumba kain merah) mereka meneropong bulan dipinggir-pinggir danau pada penerbitannya yang pertama. Bulan yang terbit dihari pertama dinamakn “Artia” dan seterusnya sampai kembali lagi terbit diufuk barat yang jika dijumlah, berjumlah 30 haripergerakan bulan dalam 30 hari ini disebut sabulan atau satu bulan . Dan pergerakan bulan ini dihubungkan dengan gerak bintang Scorpio dan Orion yang jika dijumlah ada 12 kali bergerak sampai bintang Scorpio kembali berada di Timur dan Orion berada di Barat makanya jumlah bulan di Batak ada 12 bulan : Dibawah ini adalah Nama-nama Bulan dan Hari.sbb:

5- Nama Bulan :

Nama-nama bulan tersebut adalah: sipaha sada, sipaha dua, sipaha tolu, sipaha opat, sipaha lima, sipaha onom, sipaha pitu, sipaha ualu, sipaha sia, sipaha sampulu, Li sebagai bulan ke sebelas dan , Hurung sebagai bulan keduabelas.

6- Nama Hari :

Nama Hari pada Orang Batak tidak sama dengan Nama-nama Hari Masehi, Jawa dan Arab, Bagi Orang Bartak setiap Hari yang diperhitungkan 30 (tiga puluh) hari, masing-masing mempunyai Nama.

Ke 30 nama-nama Hari Suku Batak:

clip_image003[1]

7- Pembagian Waktu dalam sehari :

Begitu juga di dalampenentuan waktu / Jam , tidak mempergunakan Angka, namun mulai Pukul 6.00 Pagi hingga pukul 6.00 pagi besoknya , masing-masing dinamai:

§ Jam 06.00 – 07.00 – Pagi > Sogot atau Manogot

§ Jam 07.00 – 11.00 – > Pangului.

§ Jam 11.00 – 01.00 Siang > Hos ni ari.

§ Jam 02.00 – 17.00 – Sore > Guling ni ari.

§ Jam 17.00 – 18.00 – > Bot ni ari atau Bot ari.

§ Jam 18.00 – 20.00 -> Urmun ni ari.

§ Jam 20.00 – 23.00 -> Robot borngin.

§ Jam 23.00 – 01.00 -> Tonga borngin

§ Jam 01.00- 03.00 -> Tingki haroro ni panangko.

§ Jam 04.00 – Pagi > Tahuak Manuk.

§ Jam 05.00 – 06.00 – > Manghuling sese.

8- Mata Angin :

Pembagian mata angin dimulai dari letak kepala Pane Nabolon yang pemunculannya dibulan pertama ( sipaha sada) yang biasanya berada ditimur (Purba), maka ekornya berada di Barat laut (manabia).

Panjang Pane Nabolon dari kepala hingga ekor adalah sepanjang setengah lingkaran, oleh karena itu bila kepalanya mengarah kebarat (Pastima) maka ekornya dapat dipastikan mengarah timur (Purba).

Menentukan letak dari Pane Nabolon dapat dilihat dari kilat yang menyambar disore hari atau jika tidak, dapat dilihat dari ekor induk ayam yang sedang mengeram, ekor ayam tersebut sealalu membelakangi Pane Nabolon (patundal Pane).

Pane Nabolon selalu digambarkan dalam parhalaan dalam bentuk boras pati ( cicak). Ada juga yang menggambarkan dengan gambar binatang melata (kaki seribu) dan ada juga berbentuk kala ( scorpio);

Nama mata angin tersebut adalah:

 

clip_image005[1]

 

clip_image007[1]

 

9- Aksara/ Alfabet :

Sebagai bangsa yang besar juga ditentukan sarana komunikasi seperti Aksara, Suku Batak salah satu suku yang memiliki alfabet yaitu Aksara Batak salah satu dari 400 lebih suku bangsa di Indonesia yang memiliki aksara , yang terdiri dari 2 bagian besar:

1. Huruf Induk (ina ni surat) yang terdiri dari 19 huruf dasar (indung surat) 3 ( wa, ya, dan ca) diantaranya dipergunakan dalam bahasa sehari-hari dan memakai huruf tersebut adalah para Imam dan Datu pada zaman dahulu dan Tapanuli selatan (Angkola).Dan 16 huruf huruf lainnya yaitu diantaranya 14 huruf dibaca dengan bunyi fokal “a” dibelakangnya Yaitu sbb: a-ha- ma- na- ra- ta- sa- la- ga- ja- da- ba-nga-i-u. Selebihnya berbunyi „i“ ada 1huruf, dan berbunyi „u“ ada 1huruf.

2. Huruf-huruf bunyi (anak ni surat), seperti mengubah bunyi huruf induk dari bunyi (a menjadi „o, u, i, ng), atau bunyi yang dihentikan masing-masing disebut „siala“ atau „sikora“, „Haborotan“ atau haboruan“, „Haluan, “Hatadingan“,“Hamisaran, “paminggil dan „pangolat.

Akasara Batak ditulis dan dibaca dari kiri ke kanan, dari baris atas turun kebawah. Dan tidak mengenal huruf Besar. Abjada Batak tidak mempunyai tanda baca dan angka tersendiri, kadang-kadang diambil dari abjad Latin. Kecuali tanda garis penghubung kata yang tidak dapat ditulis habis dan ujung baris yang diseut „pangudut“.

Akasara Batak pada suku-suku Batak ( Toba ,Mandailing/Angkola, Simalungun, Pakpak dan Karo) hampir boleh dikatakan sama pada abjad-abjad tertentu ada perbedaan penulisan yang tidak terlalu signifikan.

clip_image009[1]

Yang termsauk Induk surat Toba (ina surat) adalah ada 19 banyaknya:

Ia na masuk tu Ina ni surat 19 do godangna :

a =clip_image011[1]    nga=clip_image013[1]  ha=clip_image015[2]  la=clip_image017[1]  ka =clip_image015[3]   pa=clip_image019[1]  na=clip_image021[1]    sa=clip_image023[1]  

    ra=clip_image025[1]  da=clip_image026[1] ta=clip_image028[1] ga=clip_image030[1]  ba=clip_image032[1]   ja=clip_image034[1]     wa=clip_image036[1]    ya=clip_image038[1] 

 i =clip_image040[1]    ca =clip_image042[1]  ma =clip_image044[1]   u =clip_image045[1]    

Bersambung …..(4)

Tanggapan Tentang tuanku Rao

 

Kontroversi Sejarah sebagai Inspirasi Peradaban

*J SUMARDIANTA

Perbedaan-perbedaan dalam sejarah sesungguhnya memberi pelajaran
kepada umat manusia perihal toleransi dan kebebasan. Aforisma
Francois Caron, Guru Besar Sejarah Universitas Sorbone, Paris,
Perancis, ini kiranya sangat tepat buat merangkum seluruh
kontroversi dan perdebatan buku Tuanku Rao. Buku yang dipublikasikan
pertama kali tahun 1964 oleh Penerbit Tandjung Harapan ini memang
memicu polemik seputar Gerakan Paderi di Sumatera Barat dan ekspansi
pasukan Paderi di Sumatera Utara pada abad ke-19.

Kendati menggunakan metodologi penulisan sejarah Weberian Tuanku Rao
goyah karena mencampuradukkan fakta sejarah, mitos, imajinasi, dan
folklore (cerita rakyat). Satu-satunya sumber hanyalah memoar Tuanku
nan Renceh yang disalin dari tulisan-tulisan berbahasa Arab ke Latin
oleh Sutan Martua Raja-ayah Mangaradja Onggang Parlindungan. Sutan
Martua Raja sendiri tak lain cicit dari Tuanku Lelo. Anakronisme
sejarah terjadi karena Parlindungan miskin sumber pembanding dan
kurus referensi.

Berbagai tarikh, buku Tuanku Rao, mudah longsor, karena dibangun di
atas argumentasi rapuh. Kontroversi menyengat karena Parlindungan
sangat subyektif soal mazhab Hambali dan heroisme Batak. Ia tidak
bisa mengambil jarak dengan problem yang dikaji. Tak ayal, buku ini
tergelincir ke isu primordial etnosentrisme. Kendati demikian, buku
ini memberikan fakta mental berharga tentang dinamika sejarah lokal
umat Islam di Sumatera Utara.

Buku ini melihat Gerakan Paderi dengan sudut pandang etnis Batak.
Berbeda dengan umumnya sejarah Paderi yang menggunakan sudut pandang
etnis Minang. Gerakan Paderi (1803-1837), selaku cabang Gerakan
Wahabi di Arab, merupakan gerakan radikalisme Hambali Zealots.
Begitu keyakinan Mangaradja Onggang Parlindungan.

Gerakan Paderi dilatarbelakangi perintah langsung Abdullah Ibn Saud,
Raja Arab Saudi, kepada tiga tawanan perang bersuku bangsa
Minangkabau: Kolonel Haji Piobang, Mayor Haji Sumanik, dan Haji
Miskin. Mereka bertiga dirangket saat pasukan Wahabi merebut Mekkah
dari tangan pasukan Turki 1802. Para pecundang tidak dihukum mati.
Boleh lepas bebas. Kompensasinya: mereka harus membuka cabang
Gerakan Wahabi sesampai di kampung halaman. Agar Hindia Belanda
terbebas dari penguasa penjajah kafir dari Eropa. Maklum, Hindia
Belanda dipandang sebagai mitra strategis kerajaan Arab Saudi.

Kemerdekaan tanah Arab, sebagaimana dialami Abdullah Ibn Saud, hanya
bisa direbut dari Kesultanan Turki-Osmani dengan membentuk tentara
modern. Pembentukan pasukan Wahabi Minangkabau dipercayakan kepada
Kolonel Haji Piobang. Dia bekas perwira kavaleri Yanitsar Turki di
bawah komando Muhammad Ali Pasya. Berkat Haji Piobang, bala tentara
Turki berjaya menumbangkan pasukan Napoleon dalam pertempuran
Piramid di Mesir 1798. Muhammad Ali Pasya pun menghadiahi Haji
Piobang pedang kebesaran. Senjata itulah kelak yang dihibahkan bagi
Tuanku Lelo, pahlawan Paderi yang gagah perkasa, tak lain nenek
moyang Onggang Parlindungan.

Tingki Ni Pidari

Tentara Wahabi Minangkabau bentukan para tawanan Raja Abdullah Ibn
Saud adalah cikal bakal pasukan Paderi. Kelak jadi army group Tuanku
Rao yang melakukan ekspansi di tanah Batak. Dengan meriam, pasukan
Paderi mampu menembus dan mengobrak-abrik isolasi alam Tapanuli yang
terlindung pegunungan Bukit Barisan dan lembah Danau Toba.

Di bawah pimpinan Pongkinangolngolan, pasukan Paderi memancung
kepala Singamangaraja X dalam penyerbuan ke Bakkara, ibu kota
Dinasti Singamangaraja, tahun 1819. Pongkinangolngolan adalah anak
perkawinan sumbang (incest) Putri Gana Sinambela dengan pamannya,
Pangeran Gindoporang Sinambela. Gana Sinambela sendiri kakak
Singamangaraja X.

Pongkinangolngolan, tutur Onggang Parlindungan, dibuang karena
dianggap anak haram jadah dan sumber aib keluarga. Bertahun-tahun
berada di pengasingan di Angkola dan Sipirok. Na Ngol-ngolan, dalam
bahasa Batak, artinya menunggu sesuatu yang tidak jelas dengan tidak
sabar (waiting in vain). Pongkinangolngolan merantau ke Minangkabau
karena khawatir suatu hari dikenali dan dijatuhi hukuman mati. Di
Minangkabau ia bekerja pada Datuk Bandaharo Ganggo. Pada waktu itu
Haji Miskin, Haji Piobang, dan Haji Sumanik (tiga tokoh pembaruan
abad ke-19) baru kembali dari Mekkah. Mereka, yang sedang
mempersiapkan tentara untuk ekspansi gerakan Mazhab Hambali ke
Mandailing, mendapat dukungan dari Tuanku Nan Renceh.

Tuanku Nan Renceh, mubalig besar, karib Datuk Bandaharo Ganggo. Ia
terkesima mengetahui nasib dan silsilah Pongkinangolngolan. Pongki
rupanya sangat baik digunakan dalam rencana merebut dan menduduki
Tanah Batak. Datuk Bandaharo diminta menyerahkan Pongkinangolngolan.
Tuanku Nan Renceh memberi nama Pongkinangolngolan Umar bin Katab.

Penyebaran Mazhab Hambali dimulai tahun 1804 dengan pemusnahan
keluarga Kerajaan Pagarruyung di Suroaso. Mereka dihabisi karena
menolak aliran baru tersebut. Hampir seluruh keluarga Raja
Pagarruyung dipenggal kepalanya oleh pasukan Tuanku Lelo. Hulubalang
bernama asli Idris Nasution itu, menurut Onggang Parlindungan,
dijuluki Tuanku Lelo sebab memperoleh lisensi “kesimaharajalelaan”
untuk melakukan kekejaman oleh Tuanku Nan Renceh.

Umar Katab (Pongkinangolngolan Sinambela) diangkat Tuanku Nan Renceh
sebagai perwira tentara Paderi dengan gelar Tuanku Rao. Tuanku Nan
Renceh, setali tiga uang Belanda, menjalankan politik divide et
impera. Ia menggunakan orang Batak untuk menyerang dan menaklukkan
tanah Batak. Ekspansi dimulai 1816 dengan menyerbu benteng
Muarasipongi yang dipertahankan Marga Lubis. Sebanyak 5.000 anggota
pasukan berkuda dan 6.000 anggota pasukan infanteri meluluhlantakkan
benteng Muarasipongi. Semua penduduknya dibantai tanpa sisa.

Gerakan Paderi bergelimang kebengisan (cruelties) dan berlumuran
kekejaman (atrocities). Kekejaman sengaja dilakukan dan
disebarluaskan untuk menebar pengalaman traumatis guna memudahkan
penaklukan. Satu per satu wilayah Mandailing pun ditaklukkan pasukan
Paderi yang dipimpin para hulubalang Batak sendiri.

Gerakan ekspansif ke tanah Batak itu oleh Onggang Parlindungan
disebut “Tingki Ni Pidari”-malapetaka besar zaman Paderi.
Teror “Tingki Ni Pidari” adalah neraka paling jahanam dalam sejarah
etnis Batak. Lembaran paling kelam dari sejarah Gerakan Paderi.
Banyak memangsa korban jiwa, tetapi tidak berhasil mencapai tujuan.

Kebajikan masa lampau

Pada 1974 Prof Haji Abdul Malik Karim Amrulah (HAMKA) menerbitkan
buku Antara Fakta dan Khayal “Tuanku Rao”. Buku itu berisi sanggahan-
sanggahan terhadap kisah Mangaradja Onggang Parlindungan. Menurut
Buya HAMKA, Tuanku Rao manis kulitnya, pahit isinya. Maklum buku itu
mengagungkan etnis Batak seraya menganggap sepi etnis Minang.
Menarik bahwa sebagai ulama besar, Buya HAMKA pun saat menanggapi
Parlindungan terjebak isu peka sentimen primordial-etnosentrisme.
HAMKA tidak rela Tuanku Rao dan Tuanku Lelo menempati kedudukan
lebih istimewa ketimbang Tuanku Imam Bonjol. HAMKA menuduh
Parlindungan pembohong dan bodoh. Parlindungan menyebut HAMKA
kampungan.

Kendati emosional, perdebatan antara ulama dan tentara itu tidak
menjurus kekerasan fisik dan mobilisasi massa. Di Padang pada 1969
mereka berdebat sengit dalam seminar tentang penyebarluasan Islam di
seantero Sumatera Barat. Adu argumentasi dimungkinkan mengingat
atmosfer intelektual saat itu sangat menyantuni kebebasan akademis.
Apalagi mereka berdua dibesarkan pada zaman Belanda. Muara
pendidikan pada zaman kolonial memang humanitas expleta et eloquens
(kemanusiaan yang penuh dan sanggup mengungkapkan diri). Kendati
secara ideologis berseberangan, HAMKA dan Parlindungan karib yang
acap berangkat shalat Jumat di Masjid Al-Azhar secara bersama-sama.

Kontroversi sejarah justru merupakan bukti tingginya mutu peradaban.
Inilah hikmah yang bisa ditimba dari polemik Parlindungan dengan
HAMKA. Ditarik agak ke belakang, pada zaman kolonial, Sutan Takdir
Alisyahbana (STA) yang properadaban Barat pernah berdebat dengan
Sanusi Pane yang menjunjung tinggi budaya Timur. STA ingin
membersihkan anasir mitos dan takhayul (penghambat kemajuan) yang
bergentayang di sesat pikir bangsa Indonesia. Sanusi Pane menganggap
STA kemlondo-londonen (kebarat-baratan) dan tidak menghargai
indigeneus people (kearifan lokal). Di kemudian hari STA benar:
bangsa Indonesia maju karena berkiblat ke Barat.

Pada 1952-1954 terjadi polemik kebudayaan yang bermutu antara
Soedjatmoko dan Buyung Shaleh. Soedjatmoko prihatin sastra mandul
tidak mampu menghasilkan karya masyhur seperti Chairil Anwar karena
sastrawan Indonesia cenderung pragmatis. Buyung Shaleh, tokoh Lekra,
tidak sependapat. Menurut dia, majalahnya karya sastra karena
terputusnya kehidupan sastrawan dengan rakyat.

Polemik kebudayaan dan perdebatan akademik padam sejak Orde Baru
naik ke tampuk kekuasaan. Perdebatan intelektual miskin dan compang-
camping. Pendidikan Orde Baru bubrah. Tidak menyediakan ruang secuil
pun buat merenung. Intelektual sangat pragmatis: terjun ke partai,
terserap birokrasi, cari nafkah di LSM, mengasong proyek penelitian,
dan menjadi konsultan kapitalis. Perdebatan HAMKA dengan
Parlindungan yang sangat bermutu jadi barang langka. Polemik mereka
terasa kasar pada zaman sekarang akibat virus eufemisme yang
disebarkan Orde Baru.

Almarhum Mangaradja Onggang Parlindungan, mantan perwira Angkatan
Darat, salah satu pendiri Pusat Industri Angkatan Darat (Pindad)
Bandung, adalah insinyur perkayuan lulusan Universitas Delft Belanda
dan Zurich Swiss. Parlindungan intelektual jujur. Kendati
Parlindungan generasi ke-5 keturunan Tuanku Lelo, buku ini diniatkan
untuk merehabilitasi nama baik Tuanku Rao yang citranya demikian
remuk redam di kalangan masyarakat Batak.

Buku ini makin memperkaya data bahwa di sekujur Nusantara,
masyarakat Indonesia memang ditelikung spiral kekerasan. Persatean
nasional gemar mengambil bentuk whole sale teror (teror ombyokan)-
bencana politik 1965, konflik Ambon dan Poso, kegaduhan etnis di
Sampit, kerusuhan Mei 1998, dan tragedi Alas Tlogo. Melalui bukunya,
Onggang Parlindungan mengampanyekan lingkaran malaikat perdamaian.

“PRAHARA DI TANAH BATAK”

“Tak ada fakta, yang ada hanyalah tafsir,” begitu kata Nietzsche
berkenaan dengan masalah kebenaran dan pengetahuan. Katakata itu
tampaknya berlaku juga untuk sejarah, sebab sejarah erat kaitannya
dengan serpihan-serpihan kebenaran dan pengetahuan, yang supaya
bermakna perlu ditata dan ditafsir kembali. Karena itu, sejarah juga
merupakan tafsir, dan sebuah tafsir bukanlah segumpal kebenaran
mutlak. Ia baru merupakan upaya untuk mendekati kebenaran.

Buku Tuanku Rao karya M.O. Parlindungan ini merupakan salah satu
upaya menggali dan menafsirkan kembali serpihan-serpihan pengalaman
masa lalu itu, terutama yang terkait dengan Perang Paderi. Melalui
buku ini, penulis mengajak kita mengunjungi kembali ke masa lalu
Tanah Batak secara gamblang dengan berupaya memahami proses-proses
yang terjadi di balik teror kekerasan penyebaran agama Islam Mazhab
Hambali di Tanah Batak pada 1816-1833.

Berbeda dengan sejarawan lain, penulis memilih untuk menuliskan
sejarah Batak dengan gaya bertutur (story telling style), yang
semula memang ditujukan kepada anak-anaknya. Di sinilah sesungguhnya
letak daya tarik buku ini. Ia muncul orisinal karena fokusnya lebih
diletakkan pada praktik penciptaan sejarah Batak itu sendiri
ketimbang menjajarkan peristiwa-peristiwa kesejarahan naratif
seperti praktik sejarawan konvensional selama ini.

Menurut penulis, setidaknya ada dua alasan mengapa penyerbuan ke
Tanah Batak tersebut dilakukan dengan kekerasan. Selain menyebarkan
Islam Mazhab Hambali di Tanah Batak, penyerbuan itu juga dipicu oleh
dendam keturunan marga Siregar terhadap Raja Oloan Sorba Dibanua,
dinasti Singamangaraja, yang pernah mengusirnya dari Tanah Batak.
Togar Natigor Siregar, pemimpin marga Siregar, pun sampai
mengucapkan sumpah yang diikuti seluruh marga Siregar, akan kembali
ke Batak untuk membunuh Raja Oloan Sorba Dibanua dan seluruh
keturunannya.

Agama Islam Mazhab Hambali yang masuk ke Mandailing dinamakan
penduduk setempat sebagai Silom Bonjol (Islam Bonjol) karena para
penyerbunya datang dari Bonjol, meski dipimpin orang-orang Batak
sendiri, seperti Pongkinangolngolan Sinambela (Tuanku Rao), Idris
Nasution (Tuanku Nelo), dan Jatengger Siregar (Tuanku Ali Sakti).
Dalam silsilah yang terlampir di buku ini, disebutkan bahwa
Pongkinangolngolan adalah anak hasil hubungan gelap antara Gana
Sinambela (putri Singamangaraja IX) dengan pamannya, Pangeran
Gindoporang Sinambela (adik Singamangaraja IX). Gindoporang dan
Singamangaraja IX adalah putra Singamangaraja VIII, sedangkan Gana
Sinambela adalah kakak Singamangaraja X. Walaupun terlahir sebagai
anak di luar nikah, Singamangaraja X sangat mengasihi dan memanjakan
keponakannya (hlm. 355).

Namun kelahiran di luar nikah ini diketahui oleh tiga orang Datu
(tokoh spiritual) yang dipimpin Datu Amantagor Manurung. Sesuai
hukum adat, Singamangaraja X terpaksa menjatuhkan hukuman mati
kepada keponakan yang disayanginya dengan menenggelamkandi Danau
Toba. Tapi, bukannya mati tenggelam, Pongkinangolngolan
terselamatkan arus hingga mencapai Sungai Asahan dan ditolong
seorang nelayan bernama Lintong Marpaung. Setelah bertahun-tahun
berada di daerah Angkola dan Sipirok, Pongkinangolngolan memutuskan
pergi ke Minangkabau karena takut dikenali sebagai orang yang telah
dijatuhi hukuman mati oleh Raja Batak.

Di Minangkabau, pada 1804, Pongkinangolngolan diislamkan oleh Tuanku
Nan Renceh, lalu dikirim ke Makkah dan Syria serta sempat mengikuti
pendidikan kemiliteran pada pasukan kavaleri Janitsar Turki.
Sekembalinya, pada 1815, Pongkinangolngolan diangkat menjadi perwira
tentara Paderi dan mendapat gelar Tuanku Rao.

Ternyata Tuanku Nan Renceh menjalankan politik divide et impera
seperti Belanda, yaitu menggunakan orang Batak untuk menyerang Tanah
Batak. Penyerbuan ke Tanah Batak dimulai pada 1 Ramadan 1231 H (1816
M) terhadap benteng Muarasipongi yang dipertahankan Marga Lubis.
Muarasipongi berhasil diluluhlantakkan dan seluruh penduduknya
dibantai tanpa menyisakan seorang pun. Kekejaman ini sengaja
dilakukan dan disebarluaskan untuk menebarkan teror dan rasa takut
agar memudahkan penaklukan guna penyebaran agama Islam Mazhab
Hambali.

Setelah itu, penyerbuan terhadap Singamangaraja X di Benteng Bakkara
dilaksanakan 1819. Orang-orang Siregar Salak dari Sipirok dipimpin
Jatengger Siregar ikut dalam pasukan penyerang untuk memenuhi sumpah
Togar Natigor Siregar dan membalas dendam kepada keturunan Raja
Oloan Sorba Dibanua, yaitu Singamangaraja X. Jatengger Siregar
menantang Singamangaraja untuk melakukan perang tanding satu lawan
satu. Singamangaraja kalah dan kepalanya dipenggal pedang Jatengger
Siregar. Terpenuhi sudah dendam yang tersimpan selama 26 generasi.

Penyerbuan pasukan Paderi terhenti pada 1820, karena berjangkitnya
penyakit kolera dan epidemi penyakit pes. Dari 150.000 orang tentara
Paderi yang memasuki Tanah Batak pada 1818, hanya tersisa sekitar
30.000orang. Sebagian terbesar bukan tewas di medan pertempuran,
melainkan mati karena berbagai penyakit. Untuk menyelamatkan sisa
pasukannya, pada 1820 Tuanku Rao bermaksud menarik mundur seluruh
pasukannya dari Tanah Batak Utara, sehingga rencana pengislaman
seluruh Tanah Batak tak dapat diteruskan. Sementara itu, Tuanku Imam
Bonjol memerintahkan agar Tuanku Rao bersama pasukannya tetap di
Tanah Batak untuk menghadang masuknya tentara Belanda. Akhirnya,
Tuanku Rao tewas dalam pertempuran di Air Bangis pada 5 September
1821, sedangkan Tuanku Lelo tewas dipenggal kepalanya, sedangkan
tubuhnya dicincang oleh Halimah Rangkuti, salah satu tawanan yang
dijadikan selirnya.

Akhirnya, buku yang terbagi dalam tiga bagian besar dan berisi 34
lampiran ini jelas memiliki tempat khusus di dalam penulisan sejarah
berdasarkan fakta dan representasi historiografi sebagai
interpretasi yang tidak mutlak.

Penulis telah menunjukkan adanya kekuatan pada naskah tertulis dalam
merekonstruksi visi sejarah Batak bagi perkembangan politik, sosial,
dan budaya. Tak dapat disangkal, kontribusi utama buku ini terletak
pada temuannya atas faktor lain di luar domain historiografi
konvensional. Hal itu jelas akan berdampak luas dalam perdebatan
mengenai historiografi Indonesia. (*)

Beberapa Catatan mengenai Tuanku Rao dan Perang Paderi

Oleh Batara R Hutagalung
Disampaikan dalam Seminar “Perang Paderi, 1803 – 1838. Aspek Sosial Budaya, Sosial Psikologi, Agama dan Manajemen Konflik."
Di Arsip Nasional RI, Jakarta, 22 Januari 2008.
Pendahuluan
Sejak terbit pertama kali tahun 1964, buku karya Mangaraja Onggang Parlindungan (MOP), ‘Tuanku Rao. Teror Agama Islam Mazhab Hambali di Tanah Batak. 1816 – 1833.’ telah menuai banyak kritik dan sanggahan. Sanggahan tertulis pertama datang dari HAMKA dengan bukunya yang berjudul: Antara Fakta Dan Khayal. “TUANKU RAO.” Secara garis besar HAMKA menyebutkan, bahwa isi buku MOP 80 % bohong dan 20 % meragukan.
Cetakan kedua buku MOP terbit pada bulan Juni 2007, dan buku yang langsung memberikan sanggahan terhadap buku tersebut ditulis oleh Basyral Hamidy Harahap, dengan judul ‘Greget Tuanku Rao.’
Selain kedua buku tersebut, berbagai silang pendapat dan kontroversi mengenai Tuanku Rao dan Perang Paderi muncul dalam berbagai tulisan, baik di media massa maupun di internet.
Mengenai sosok dan asal-usul Tuanku Rao sendiri terdapat beragam versi. Namun kelihatannya tak satupun yang dapat mengklaim, bahwa pendapatnyalah yang paling benar, karena semua versi hanya bedasarkan cerita rakyat atau cerita keluarga yang tidak dapat melampirkan dokumen yang otentik, termasuk yang dikemukakan oleh HAMKA. Dalam bukunya, HAMKA menyebut suatu sumber Belanda, J.B. Neumann, Kontelir BB, yang menyebut bahwa Tuanku Rao berasal dari Padang Matinggi, bukan orang Bakkara. Sumber Neumann juga orang Belanda, Residen T.J. Willer. (Hlm. 239)
Sumber lain yang disebut oleh HAMKA adalah Asrul Sani, yang juga menyebut bahwa Tuanku Rao adalah orang Padang Matinggi. Namun tidak disebutkan, dari mana sumber informasinya. (Hlm. 240)
Bahkan Sanusi Pane menganggap, bahwa Tuanku Rao dan Tuanku Tambusai adalah orang yang satu itu juga. (Hlm. 242)
Selain mengenai sosok Tuanku Rao, HAMKA juga membantah keterangan mengenai sejumlah tokoh yang ditulis oleh MOP dalam bukunya. Juga HAMKA membantah segala bentuk kekerasan dan perkosaan terhadap perempuan Batak.
Buku BHH ‘Greget Tuanku Rao’ membantah beberapa hal yang ditulis oleh MOP, namun dia membenarkan terjadinya tindak kekerasan seperti perkosaan yang dilakukan oleh tentara Paderi.
Bantah membantah mengenai suatu tulisan atau peristiwa adalah hal yang biasa, juga dalam penulisan sejarah. Banyak kalangan dari etnis Jawa membantah adanya Perang Bubat yang terjadi pada tahun 1357. Namun kenyataannya, di kota-kota di Jawa Barat tidak ada nama jalan Gajah Mada, Hayam Wuruk atau Majapahit, karena di masyarakat Sunda, berkembang cerita sebagimana tertulis dalam Kidung Sunda.
Tuanku Rao Dalam Turi-Turian Batak
Di masyarakat Batak, baik Mandailing, Angkola, Sipirok, Padang Lawas maupun Toba, cerita rakyat dikenal sebagai turi-turian atau cerita yang dituturkan oleh seorang Bayo Parturi. Turi-turian yang juga diceritakan turun temurun oleh para orang tua kepada anak-cucunya dapat bersumber dari peristiwa yang benar-benar terjadi, tetapi bisa juga legenda atau hikayat, yang hanya merupakan produk fantasi dari nenek moyang.
Walaupun etnis Batak memiliki aksara sendiri yang dinamakan ‘Surat Batak’, namun sangat sedikit sastra Batak yang dituliskan dengan Surat Batak. Pada umumnya, Surat Batak digunakan untuk menuliskan ilmu kedukunan dan surat-menyurat, dan di beberapa daerah, antara lain di Karo, Angkola dan Simalungun, Surat Batak digunakan untuk menuliskan syair. Hal ini yang menyebabkan, banyak turi-turian tidak ditulis dalam Surat Batak, melainkan hanya melalui penuturan secara lisan turun-temurun dari nenek moyang ke anak cucu, atau dituturkan oleh Bayo Partuturi.
Mengenai asal-usul Tuanku Rao, terdapat beberapa versi. Versi yang paling banyak berkembang adalah versi yang ditulis oleh Mangaraja Onggang Palindungan (MOP) dalam bukunya ‘Tuanku Rao. Teror Agama Islam Mazhab Hambali di Tanah Batak. 1816 – 1833.’
Dalam buku ini disebutkan, bahwa Tuanku Rao adalah anak hasil hubungan gelap dari Gana boru Sinambela, putri Singamangaraja IX dengan paman kandungnya sendiri, Gindoporang Sinambela, adik dari Singamangaraja X.
Ketika Gana Sinambela hamil akibat hubungan dengan pamannya, kehamilan ini diketahui oleh ayahnya. Untuk menutup aib ini, Gindoporang dan Gana diasingkan ke Singkil, Aceh, karena untuk hamil di luar nikah, apalagi hasil hubungan dengan keluarga sendiri (incest), sanksinya adalah hukuman mati.
Di Singkil, Gindoporang masuk agama Islam dan mengambil nama Muhammad Zainal Amirudin Sinambela. Gana sendiri tidak bersedia masuk Islam, dan tetap menganut agama Batak, Parmalim. Ketika putra mereka lahir, Gindoporang memberikan nama Muhammad Fakih Amirudin Sinambela. Oleh ibunya, dia diberi nama Pongki Na Ngolngolan yang artinya adalah Fakih yang menunggu-nunggu, karena Gana masih berharap, suatu hari akan dapat kembali ke Tanah Batak.
Setelah Singamangaraja IX meninggal, dia diganti oleh putranya, yang menjadi Singamangaraja X. Singamangaraja X memanggil kembali adiknya, Gana Sinambela bersama putranya, Pongkinangolngolan.
Beberapa Datu (dukun) di Bakkara yang mengetahui mengenai asal-usul Pongkinangolngolan meramalkan, bahwa suatu hari dia akan membunuh Singamangaraja X. Oleh karena itu mereka mendesak, agar Pongkinagolngolan dihukum mati.
Pongkinangolngolan dapat menyelamatkan diri dan mengembara sampai ke Mandailing, di mana dia kemudian menjadi anak didik Tuanku Nan Renceh. Setelah masuk Islam, namanya diganti menjadi Umar Katab. Nama Katab apabila dibaca dari belakang menjadi Batak. Umar Katab ini kemudian bergelar Tuanku Rao. Demikian asal-usul Tuanku Rao menurut versi MOP.
Versi lain menyebutkan, bahwa Tuanku Rao adalah putra dari Nai Napatihan, putri Singamangaraja X, yang menikah dengan putra Ompu Palti Raja dari marga keturunan Si Raja Lontung. Nai Napatihan dan Suaminya yang putra pejabat lembaga Ompu Palti Raja tersebut, diungsikan secara santun oleh Sisingamangaraja X ke Singkil, Aceh, agar tidak menjadi saingannya di kemudian hari. Dalam pengungsian lahirlah seorang anak yang bernama Pongkinangolngolan yang kemudian dikenal bernama Fakih Amiruddin.
Juga ada versi yang menyebutkan bahwa Ibunya adalah Nai Napatihan Sinambela yang menikah dengan seorang putra Aceh dan kemudian diusir dari tanah Batak.
Ada versi lain yang ditulis oleh seorang sarjana Batak dalam disertasinya di UGM, yang menyatakan bahwa Pongkinangolngolan bukanlah Tuanku Rao, tapi orang yang berbeda. Pongkinangolngolan bersama Tuanku Rao berseteru dengan Sisingamangaraja X dalam sebuah konstalasi politik saat itu.
(lihat weblog: http://islamkaro.blogspot.com/2006/11/perkawinan-inses.html)
Dalam bukunya Antara Fakta Dan Khayal “TUANKU RAO”, HAMKA menulis, bahwa Tuanku Rao berasal dari Padang Matinggi, Rao Padang Nunang. (Hlm. 240).
Imam Bonjol sendiri menulis dalam catatan hariannya, bahwa Tuanku Rao berasal dari suatu desa di Mandailing (sebagaimana disampaikan oleh Dr. Phil. Ichwan Azhary dalam diskusi ‘Hikayat Tuanku Rao dan Kilas Balik Perang Paderi’ di Medan, 24 November 2007 dan di Pematang Siantar, 26 November 2007). Namun tidak diterangkan lebih lanjut mengenai asal-usul Tuanku Rao. Mungkin Imam Bonjol hanya mengetahui, bahwa Tuanku Rao datang dari suatu desa di Mandailing dan tidak mengetahui lebih lanjut mengenai asal-usulnya apakah memang asli dari daerah tersebut.
Agresi kaum Paderi ke Sumatra Utara
Mengenai agresi kaum Padri ke Tanah Batak yang dikenal di kalangan Batak sebagai “Tingki Ni Pidari” atau “Zaman Padri”, dua sesepuh Batak, Drs Muara Sitorus dan Edith Dumasi Nababan, SH, yang hadir dalam diskusi ‘Hikayat Tuanku Rao dan Kilas Balik Perang Paderi’ yang diselenggarakan di Sekretariat Plot (Pusat Latihan Opera Batak) Siantar, pada Senin 26 November 2007, memberikan kesaksiannya: (Dikutip dari harian METRO SIANTAR edisi 27, 28 dan 29 November 2007).
“… Drs Muara Sitorus, seorang mantan guru, misalnya, menyatakan sangat senang saat harian METRO SIANTAR menulis kisah Perang Paderi dan ‘cerita kelam’ dalam keluarga Dinasti Singamangaraja, sebanyak empat seri. "Saya tak menyangka, di zaman sekarang masih ada orang yang peduli dengan kisah sejarah di masa lalu. Terima kasih METRO," kata tokoh masyarakat asal Porsea yang merantau ke Siantar, mengawali ( terima kasih kembali, Pak, red).
Selanjutnya ia mengatakan, fakta sejarah yang ditulis Parlindungan dalam buku Tuanku Rao, sudah lama didengarnya, jauh sebelum buku Tuanku Rao terbit. "Saya sudah lama mendengar kisah mengenai Tingki ni Pidari. Itu adalah kisah mengenai Pasukan Paderi menyerang Tanah Batak. Dari peristiwa Tingki ni Pidari inilah, muncul istilah Monjo (mirip dengan bunyi Bonjol). Monjo ini adalah sebutan orang Batak menyebut Pasukan Paderi," katanya.
Kalau pasukan Paderi datang, orang-orang akan berteriak "Monjo datang…Monjo datang!" "Kalau ada teriakan Monjo, itu menjadi pertanda bagi orang-orang Batak yang mendengarnya, untuk lari ke hutan menyelamatkan diri," katanya. Kisah ini didengarnya dari orang-orangtua, yang diceritakan secara lisan. Karena itu, Drs Muara Sitorus senang dengan penerbitan buku Tuanku Rao, dan menegaskan, kalau kisah di dalamnya adalah fakta sejarah.
Mendukung pernyataan Drs Muara Sitorus, Ibu Edith Dumasi Br Nababan, mantan Hakim Agung yang hadir dalam diskusi di Sekretariat PLOt itu mengatakan, Tingki Ni Pidari itu sungguh benar terjadi. "Saya sudah lama mendengar kisah mengenai kisah Tingki Ni Pidari. Dan seperti dikatakan Pak Sitorus, pasukan Imam Bonjol itu disebut Monjo. Kalau Monjo datang, seluruh orang Batak haruslah berlari menyelamatkan diri ke hutan," katanya.
Sayangnya, hanya anak-anak,wanita, dan pria yang tengah bekerja di sawah yang sempat melarikan diri ke hutan. Sementara yang tinggal di rumah, umumnya perempuan-perempuan cantik yang bekerja menenun ulos/kain, tak sempat kabur.
Untuk memaksa orang-orang yang sembunyi di rumah agar keluar, Pasukan Paderi pun membakar rumah-rumah. Semua perempuan yang bersembunyi dalam rumah terpaksa keluar, daripada terpanggang hidup-hidup. "Itulah makanya, rumah-rumah Batak habis di daerah Silindung. Hanya di Toba saja yang masih tersisa sedikit," katanya …
… Yang melarikan diri ke hutan, sebagian besar mati kelaparan. Hanya yang kuat-kuat dan umumnya tak cantik, yang bertahan selamat. "Itulah sebabnya, perempuan-perempuan Batak yang cantik baru ada sekarang ini. Itu karena yang cantik-cantik sudah mati dipancung atau diperkosa oleh Monjo, atau kelaparan di hutan. Hanya perempuan-perempuan kuat dan berbadan tegap, yang umumnya tak begitu cantik yang berhasil bertahan hidup di hutan. Makanya perempuan-perempuan Batak sampai waktu yang cukup lama, umumnya tak cantik. Sekarang saja, baru ada perempuan Batak yang cantik," kata Ibu Edith Dumasi Br Nababan, yang masih saudara kandung dengan Dr SAE Nababan, mantan Ephorus HKBP.
Selain membenarkan adanya kisah mengenai Tingki ni Pidari yang disebutnya sebagai masa kelam di Tanah Batak –seperti diceritakan oleh Parlindungan dalam buku Tuanku Rao– Ibu Edith Nababan yang juga istri Ir Sahat Lumban Tobing (alm) ini mengatakan, kisah mengenai Pongkinangolngolan Sinambela alias Tuanku Rao, adalah benar merupakan bere (keponakan) Singamangaraja X. Tapi karena Pongkinangolngolan memiliki kekuatan batin/spiritual, sejumlah datu di Bakkara mengatakan dia harus diusir/dibunuh. Itulah kisahnya maka dia terusir hingga ke Minang.
"Mertua dari mertua saya masih keturunan Dinasti Singamangaraja. Dan saya ada mendengar keberadaan Pongkinangolngolan sebagai bere Singamangaraja X, yang membunuh tulangnya (paman – red) itu," kata mantan Ketua Pengadilan Tinggi di Lampung yang juga pernah menjabat sebagai wakil Ketua Pengadilan Tinggi di Jawa Baratdan di Kalbar ini.
Caranya, Pongkinangolngolan yang sudah begelar Tuanku Rao, mengirim pesan ke Tulang-nya, untuk menerima pisau sebagai hadiah. Namun saat Tulangnya datang dari Bakkara, Pongkinangolngolan memeluk Tulang-nya itu dan menikamnya hingga tewas (versi MO Parlindungan, Singamangajara X dibunuh Jatengger Siregar).
Dari sana, Pasukan Paderi menyerang kampung Tulang-nya di Bakkara, dan menjarah harta benda, seperti perhiasan, baju, ternak, untuk logistik tentara. "Itulah cerita yang saya dengar dari ayah saya. Bahkan bibi dari ayah saya adalah salahsatu yang sempat ditawan Pasukan Paderi, yang berhasil melarikan diri dengan mengikuti aliran Aek Sigeaon," kata ibu Edith Nababan (yang selanjutnya diwawancarai METRO).
Saat epidemi penyakit merajalela, Pasukan Paderi mundur dari Tanah Batak. Namun sebagian memilih tinggal di Silindung, di daerah Sosorpadang, dan sampai sekarang masih ditempati oleh orang Padang yang Islam. "Sampai saat ini mereka tidak pernah diganggu," kata ibu yang saat ini menjabat sebagai Ketua Paguyuban Darma Wulan (Warga Usia Lanjut) cabang Medan.
Ibu Edith juga mengaku, sempat kenal dengan Sutan Martua Raja, ayah MO Parlindungan, si penulis buku Tuanku Rao. Saat itu, mereka tinggal bertetangga di Siantar. Ibu Edith sendiri kala itu masih murid SD, sementara Sutan Martua Raja sudah tua.
Menurut ibu yang sudah berambut putih ini, orang Batak tidak tersinggung dan tidak perlu dendam membaca buku Tuanku Rao. "Sejarah kelam di Tanah Tapanuli jangan sampai menumbuhkan dendam. Kekerasan horizontal antarsuku ataupun atas nama agama/kepercayaan harus diakhiri. Mari kita membuka diri menerima fakta, bahwa orang orang Batak pernah kalah dalam Perang Paderi. Dan mari kita belajar dari sejarah, dengan tidak mengulangi perbuatan kekerasan. Karena sejarah memang sangat mungkin berulang," kata ibu yang saat masih gadis ini sudah menjabat sebagai Ketua PN Taput dan Dairi…’
Demikian juga buku yang ditulis oleh Basyral Hamidy Harahap (BHH), memaparkan penyerbuan tentara Paderi ke Simanabun yang dipimpin oleh Tuanku Tambusai. BHH menuliskan a.l.: (lihat Weblognya: http://www.basyral-hamidy-harahap.com/blog)
‘… Sebagai penulis, ada debar-debum jantung saya ketika menulis bab Datu Bange di dalam buku ini. Bukan hanya karena bab ini bercerita tentang ketidak-berperikemanusiaanan, genocide, dan dendam yang membara. Tetapi karena ia juga bercerita tentang leluhur saya yang terus menerus melakukan perlawanan, sekalipun mereka sudah dalam posisi yang tidak menguntungkan. Sementara itu pasukan berbaju Putih yang mendengung-dengungkan agama, sambil menebas kepala manusia, membakari kampung, memperkosa, dan melakukan segala macam kebiadaban, terus mengejar musuhnya. Inilah yang membuat pihak Belanda jadi meleleh, dan terusik rasa kemanusiannya. Datu Bange dan rombongannya terus melakukan perlawanan. Secara spontan pasukan Belanda kemudian melindungi rombongan Datu Bange. Karena jika tidak demikian, sebuah tragedi kemanusiaan yang jauh lebih kejam pasti terjadi, yang bagaimanapun tidak akan bisa diterima manusia beradab !!!
Datu Bange dan pengikutnya yang tidak lain adalah leluhur saya, pada akhirnya berhasil memasuki daerah baru setelah menempuh medan yang berat, berliku-liku naik gunung dan turun lembah serta hutan belantara dengan jarak lebih dari 65 kilometer, dan kemudian mereka menetap di daerah Angkola dan Mandailing Godang. Walaupun untuk itu Datu Bange harus menebusnya dengan nyawanya sendiri…
Bahkan BHH menganggap dasar yang digunakan oleh panitia yang mengusulkan gelar Pahlawan Nasional untuk Tuanku Tambusai tersebut naif dan menjatuhkan harkat dan martabat Datu Bange. BHH menulis (Hlm. 67):
“… Pada masa itu daerah-daerah dataran tinggi yang penduduknya masih parbegu dan sering membuat kekacauan seperti merampok dan mengambil Budak yang meresahkan penduduk. Tuanku Tambusai ingin mengakhiri keadaan itu dengan melakukan gerakan terhadap kelompok parbegu tadi dipimpin oleh Datu Bange, Raja Siminabun yang bentengnya terletak di atas puncak bukit terjal di tepian sungai Batang Pane…”
BHH menulis bahwa Datuk Bange telah beragama Islam, namun tidak mau menerima aliran Islam yang dibawa oleh Tuanku Tambusai. Lama sebelum gerakan Paderi mereka sudah memeluk Islam. BHH menyatakan bahwa Datu Bange bukan perampok, melainkan Kepala Luat Dolok, raja paling kharismatik di Padang Lawas raya yang dicintai rakyatnya. BHH juga menonjolkan peranan ulama-ulama Sufi Mandailing yang menyebarkan agama Islam di daerah itu berabad sebelum Paderi datang. (Hlm. 68)
Memang Islam telah masuk ke Sumatera Utara sejak abad 8, dan kebanyakan beraliran Syiah. Selama ratusan tahun Islam dan agama asli Batak, Parmalim, serta penganut Hindu-Buddha dapat hidup berdampingan dengan damai.
Banyak kalangan –termasuk HAMKA- menolak isu tentang adanya pemerkosaan massal dan orgy tawanan perempuan oleh sebagian pasukan Paderi. Cerita tentang bagaimana anggota Paderi melampiaskan nafsu syahwatnya secara terbuka terhadap tawanan-tawanan cantik dituding Hamka sebagai khayalan Parlindungan belaka. Hamka juga menuduh cerita-cerita seks itu sengaja dipasang Parlindungan untuk menarik hati para pemuda ketimbang mencari data ilmiah. Di mata Hamka, Tuanku Lelo yang menurut Parlindungan bernama asli Idris Nasution itu tokoh karangan Parlindungan belaka. Sedangkan dalam bukunya, MOP menyatakan, bahwa Tuanku Lelo/Idris Nasution adalah kakek buyutnya.
Mengenai penculikan kaum perempuan di daerah yang telah ditaklukkan dan kemudian dijual sebagai budak, juga pernah ditulis oleh Rosihan Anwar di harian Kompas edisi Senin, 06 Februari 2006 dengan judul ’Perang Padri yang Tak Anda Ketahui’ , di mana tertulis:
“… Yang menarik ialah kebiasaan menculik kaum perempuan dalam serangan, kemudian mengangkut mereka untuk dijual sebagai budak (slaves). Kaum Padri melakukan ini di daerah Mandailing. Perdagangan budak masa itu sebuah gejala lazim…”
Di zaman penjajahan Belanda, perbudakan adalah hal yang resmi dipraktekkan. Bahkan ada undang-undang perbudakan, yang berlaku sejak tahun 1640 dan secara resmi baru dihapus tahun 1863. Namun pada kenyataannya, praktek perbudakan di wilayah jajahan Belanda masih berlangsung hingga akhir abad 19. Demikian juga dengan perkosaaan terhadap perempuan di daerah diserang dan telah dikalahkan atau diduduki. Hal ini masih terus terjadi hingga sekarang.
Dalam bukunya ‘Antara Fakta dan Khayalan’ -entah disadari atau tidak- HAMKA banyak membeberkan tindak kekerasan dalam penyebaran beberapa aliran Islam di Timur-Tengah, terutama yang dilakukan untuk menyebarluaskan sesuatu aliran atau mazhab. HAMKA juga menuliskan kekejaman Tuanku Nan Renceh yang sangat fanatik kewahabiannya, yang memerintahkan untuk membunuh adik ibunya, karena tidak mau mengikuti sembahyang. (Hlm. 238)
Mengenai pakaian putih yang dikenakan oleh para ulama di Minangkabau, HAMKA menulis, bahwa warna putih yang dikenakan oleh para ulama merupakan warisan dari agama Buddha. HAMKA menulis (Hlm. 303):
“… Bahkan warna putih itu mungkin sudah ada sejak orang Minangkabau masih memeluk Agama Budha. Biksu-biksu Budha berjalan dengan pakaian selendang putih meminta bakal (mungkin yang dimaksud adalah bekal – pen.) makanan kepada penduduk. Setelah datang Agama Islam pusaka secara Budha itu diteruskan oleh santri-santri di Minangkabau yang dinamai ‘Orang Siak’.: Mereka bersarung putih, berbaju dan celana putih meminta sedekah bekal mengaji tiap-tiap hari Kamis ke runah-rumah penduduk…”
Memang sulit untuk memberikan penilaian terhadap peristiwa atau hal-hal yang terjadi di masa lalu, dengan ukuran kemanusiaan sekarang. Juga apabila tidak ada atau kurangnya data, fakta dan dokumen yang dapat memperkuat cerita rakyat atau penuturan mengenai suatu peristiwa sejarah.

FALSAFAH BATAK DALAM UMPASA/UMPAMA

Umpasa/ Umpama/ Falsafah Batak

 
" Torop do bittang di langit, si gara ni api sada do
Torop do si boru nauli, tinodo ni rohakku holan ho do".
(Banyak bintang di langit, hanya satu yang paling terang,
Banyak gadis yang cantik, pujaan hatiku cuma dikau seorang)

FALSAFAH
1. Dijolo raja sieahan, dipudi raja sipaimaon
(Hormatan do natua-tua dohot angka raja).
2. Sada silompa gadong dua silompa ubi,
Sada pe namanghatahon Sudema dapotan Uli.
3. Pitu batu martindi sada do sitaon nadokdok
(Unang maharaphu tu dongan).
4. Jujur do mula ni bada, bolus do mula ni dame
(Unang sai jujur-jujuri salani dongan, alai bolushon ma).
5. Siboru buas siboru Bakkara, molo dung puas sae soada mara
(Dame ma).
6. Sungkunon poda natua-tua, sungkunon gogo naumposo
(Bertanggung-jawab).

UMPASA NI NAPOSO BULUNG.(Buat orang-orang muda)
1. Jolo tiniktik sanggar laho bahenon huru-huruan,
Jolo sinukkun marga asa binoto partuturan.
2. Tudia ma luluon da goreng-goreng bahen soban,
Tudia ma luluon da boru Tobing bahen dongan.
3. Tudia ma luluon da dakka-dakka bahen soban,
Tudia ma luluon da boru Sinaga bahen dongan.
4. Manuk ni pealangge hotek-hotek laho marpira
Sirang na mar ale-ale, lobianan matean ina.
5. Silaklak ni dandorung tu dakka ni sila-sila,
Ndang iba jumonok-jonok tu naso oroan niba.
6. Metmet dope sikkoru da nungga dihandang-handangi,
Metmet dope si boru da nungga ditandang-tandangi.
7. Torop do bittang di langit, si gara ni api sada do
Torop do si boru nauli, tinodo ni rohakku holoan ho do
8. Rabba na poso, ndang piga tubuan lata
Hami na poso, ndang piga na umboto hata

UMPASA MANJALO TINTIN MARANGKUP.(Untuk pasangan saat tukar cincin)
1. Bulung namartampuk, bulung ni simarlasuna,
Nunga hujalo hami tintin marangkup,
Dohonon ma hata pasu-pasuna
2. Hot pe jabu i, tong doi margulang-gulang
Sian dia pe mangalap boru bere i, tong doi boru ni Tulang.
3. Sai tong doi lubang nangpe dihukkupi rere,
Sai tong doi boru ni Tulang, manang boru ni ise pei dialap bere.
4. Amak do rere, dakka do dupang,
Anak do bere, Amang do Tulang.
5. Asing do huta Hullang, asing muse do huta Gunung Tua,
Asing do molo tulang, asing muse do molo gabe dung simatua.

UMPASA TU NA BARU MARBAGAS (Untuk pasangan yang baru menikah)
1. Dakka ni arirang, peak di tonga onan,
Badan muna naso jadi sirang, tondi mu marsigomgoman
2. Giring-giring ma tu gosta-gosta, tu boras ni sikkoru,
Sai tibu ma hamu mangiring-iring, huhut mangompa-ompa anak dohot boru.
3. Rimbur ni Pakkat tu rimbur ni Hotang,
Sai tudia pe hamu mangalakka, sai tusima hamu dapot pansamotan.
4. Dekke ni sale-sale, dengke ni Simamora,
Tamba ni nagabe, sai tibu ma hamu mamora.
5. Sahat-sahat ni solu, sahat ma tu labuan,
Sahat ma hamu leleng mangolu, jala sai di dongani Tuhan.
6. Sahat solu, sahat di parbinsar ni ari,
Leleng ma hamu mangolu jala di iring-iring Tuhan ganup ari.
7. Mangula ma pangula, dipasae duhut-duhut
Molo burju marhula-hula, dipadao mara marsundut-sundut
8. Ruma ijuk tu ruma gorga,
Sai tubu ma anakmuna na bisuk dohot borumuna na lambok marroha
9. Anian ma pagabe tumundalhon sitodoan,
Arimu ma gabe molo marsipaolo-oloan.
10. Gadu-gadu ni Silindung, tu gadu-gadu ni Sipoholon,
Sai tubu ma anakmuna 17 dohot borumuna 16.
11. Andor hadukka ma patogu-togu lombu,
Sai sarimatua ma hamu sahat tu na patogu-togu pahoppu.

UMPASA MANGAMPU
Bulung ni Taen tu bulung ni Tulan
Ba molo tarbahen, sai topot hamu hami sahali sabulan,
Molo so boi bulung ni tulan, pinomat bulung ni salaon
Ba molo so boi sahali sabulan, pinomat sahali sataon.
Ni durung si Tuma laos dapot Pora-pora
Molo mamasu-masu hula-hula mangido sian Tuhan,
Napogos hian iba, boi do gabe mamora.
Songgop si Ruba-ruba tu dakka ni Hapadan,
Angka pasu-pasu na ni lehon muna,
Sai dijangkon tondi ma dohot badan.
Mardakka Jabi-jabi, marbulung ia si Tulan
Angka pasu-pasu na pinasahat muna,
Sai sude mai dipasaut Tuhan.
Naung sampulu sada, jumadi sampulu tolu,
Angka pasu-pasu pinasahat muna,
Sai anggiatma padenggan ngolu-ngolu.
Naung sapulu pitu, jumadi sapulu ualu,
Angka pasu-pasu pinasat muna hula-hula nami,
Diampu hami ma di tonga jabu.
Turtu ninna anduhur, tio ninna lote,
Angka pasu-pasu pinasahat muna,
Sai unang ma muba, unang mose.
Habang pidong sibigo, paihut-ihut bulan,
Saluhut angka na tapangido, sai tibu ma dipasaut Tuhan.
Obuk do jambulan, nidandan ni boru Samara
Pasu-pasu na mardongan tangiang sian hula-hula,
Mambahen marsundut-sundut soada mara.
Tinapu bulung nisabi, baen lompan ni pangula
Sahat ma pasu-pasu na nilehon muna i tu hami,
Sai horas ma nang hamu hula-hula.
Suman tu aek natio do hamu, riong-riong di pinggan pasu,
Hula-hula nabasa do hamu, na girgir mamasu-masu.

AKKA UMPASA NA ASING
1. Martahuak ma manuk di bungkulan ni ruma,
Horas ma hula-hulana,songoni nang akka boruna.
2. Simbora ma pulguk, pulguk di lage-lage,
Sai mora ma hita luhut, huhut horas jala gabe.
3. Hariara madungdung, pilo-pilo na maragar,
Sai tading ma na lungun, ro ma na jagar.
4. Sinuan bulu sibahen na las,
Tabahen uhum mambahen na horas.
5. Eme ni Simbolon parasaran ni si borok,
Sai horas-horas ma hita on laos Debata ma na marorot.
6. Sititik ma sigompa, golang-golang pangarahutna,
Tung so sadia pe naeng tarpatupa, sai anggiat ma godang pinasuna.
7. Pinasa ni Siantar godang rambu-rambuna,
Tung otik pe hatakki, sai godang ma pinasuna.
8. Tuat si puti, nakkok sideak,
Ia i na ummuli, ima ta pareak.
9. Aek godang tu aek laut,
Dos ni roha sibaen na saut.
10. Napuran tano-tano rangging marsiranggongan,
Badan ta i padao-dao, tondita i marsigomgoman
11. Marmutik tabu-tabu mandompakhon mataniari,
Sai hot ma di hamu akka pasu-pasu, laho marhajophon akka na sinari.
12. Bona ni pinasa, hasakkotan ni jomuran,
Tung aha pe dijama hamu, sai tong ma dalan ni pasu-pasu.
13. Mandurung di aek Sihoru-horu, manjala di aek Sigura-gura
Udur ma hamu jala leleng mangolu, hipas matua sonang sora mahua.
14. Dolok ni Simalungun, tu dolok ni Simamora
Salpu ma sian hamu na lungun, sai hatop ma ro si las ni roha.