III-Parhataan :

Dalam setiap upacara adat, betutur kata mempunyai persyaratan tertentu, tidak boleh asal bicara, kasar unsur marah,menyindir menyinggung perasaan, jadi harus wajar tepat dan pantas, tulus, dan kekeluargaan. Karena ada keyakinan orang Batak kalau berbicara dengan perkataan buruk akan mendapat dampak buruk pula dan kehancuran dan dan sebaliknya berkata baik akan mendapat yang baik dan keberuntungan.Oleh karena itu didalam parhataan selalu diselipkan peribahasa atau perumpamaan yang keindahan dan nilai-nilai moralnya sangat menentukan kesopansantunan didalam setiap berbicara. Peranan Raja parhata (juru bicara) yang mempunyai kemampuan bertutur kata yang baik sangatlah penting agar terhindar dari dampak negatif.

IV- Umpasa dan Umpama :

Hampir boleh dikatakan disetiap berbicara tentang budaya Batak, Umpasa berperanan besar, suatu bentuk puisi yang bernafaskan pemberian berkat (hata pasu-pasu), jadi suatu permohonan kepada yang Maha Kuasa agar kandungan makna rangkaian klimat tersebut benar-benar dapat terwujud dan menjadi kenyataan nikmat yang dapat dirasakan oleh orang yang dituju sesuai dengan falsafa dan kepercayaan Orang Batak.

Umpasa bukan saja hanya sekedar puisi berpantun, yang dibuat orang karena suatu keahlian semata-mata dan tercipta seketika pada saat kita diberi kesempatan memperoleh jambar hata, namun Umpasa tercipta melalui suatu kejadian yang kemudian diambil hikmahnya dengan penuh sakral sejalan dengan alam pikiran dan falsafah orang Batak.

Oleh karena Umpasa tercipta berdasarkan pengalaman pada ompu sijolojolo tubu, maka isi selalu berdasarkan perumpamaan alam ketika itu. Memamng sekarang sering dimasukkan unsur-unsur modern dengan mengganti kata-kata yang dikenal saat sekarang. Baiknya demi menjaga ke sakralan dan keindahan umpasa sebaiknya kita pertahankan Umpasa yang dibuat oleh pendahulu (ompu sijolojolo tubu. Tidak masalah umpasa tersebut bolak balik atau sering diucapkan, yang penting makna dan tujuannya yang perlu dikhayati dan di resapi.

Umpasa di ucapkan setelah inti masalah di utarakan, untuk menekankan bahwa inti kata-kata yang diutarakannya itu layak dan didukung oleh ompu sijolojolo tubu dalam bentuk Umpasa yang dibuat mereka.

Adapun perbedaan Umpasa dengan Umpama adalah :

Umpasa adalah sebagai Tamsil berbentuk pantun dua atau empat baris: Baris pertama sebagai sampiran dan baris kedua asebagai isi, mis:

Ø Landit jala porhot ni simargalagala;

Ø Hansit jala ngotngot naung adong gabe soada.

Sedang kan Umpama adalah: perumpamaan atau peribahasa . sebgai contoh :

Ø Siganda sigandua, tu pusuk ni singgolom;

Ø Nasada gabe dua, utang ni sipahilolong.

Jadi perbedaan antara Umpasa dengan Umpama hanya perbrdaan makna sakral, Umpasa lebih dipergunakan memberi pasupasu.

V-Ulos:

image

Adalah suatu kain tenun taradisional Batak, dengan bermacam corak dan masing-masing mempunyai nama dan makna serta fungsi yang berbeda pula. Umumnya ini diberikan oleh pihak hulahula kepada borunya. Karena Ulos ini memiliki makna religi maka pembuatannya mempunyai persyaratan religi pula, didalam pemberian pasu-pasu oleh hula-hula kepada boru seiring dengan memberi ulos, orang Batak yakin ulos memiliki nilai-nilai sakral itulah sebabnya pihak boru yang mendapat ulos dari hulahulanya merasa mendapat restu (pasupasu) yang dapat memberikan berkat kebahagiaan hidup bagi penerimanya.

Hingga sekarang tradisi memakai ulos masih dapat kita lihat terutama pada acara-acara adat Batak, yang sering dipakai adalah seperti ulos Jugia, Ragi hotang ragi dup, sadum, dan tidak semua ulos dapat dipakai sehari-hari.

Ulos dalam proses pembuatannya, terbuat dari bahan yang sama yaitu benang yang dipintal dari kapas. Dan yang membedakan sebuah ulos adalah proses pembuatan nya yang dapat merupakan ukuran dalam penentuan nilai sebuah ulos

Sedangkan pemberian warna dasar pada sebuah ulos adalah dari sejenis tumbuhan Nila (salaon) yang dimasukkan didalam sebuah periuk tanah yang telah diisi air. Tumbuhan ini direndam (digon-gon) berhari-hari, sampai getahnya keluar, lalu diperas dan ampasnya dibuang.Hasilnya ialah sebuah cairan berwarna hitam ke biru-biruan disebut Itom.

Dalam periuk lain yang disebut (palabuan) disediakan air hujan yang tertampung pada lekuk batu (aek ni naturige) dicampur dengan air kapur secukupnya . Cairan yang berwarna hitam kebiru-biruan tadi dimasukkan kedalam palabuan tadi, lalu diaduk hingga larut, ini disebut manggaru.

Kedalam cairan inilah benang tadi dicelupkan (disop). Sebelum dicelup benang terlebih dahulu dililit dengan benang lain pada bagian tertentu menurut warna yang diinginkan. Baru proses pencelupan dimulai, berulang ulang hingga warna yang diharapkan dapat dicapai, proses ini memakan waktu yang sangat lama, berbulan-bulan bahkan ada yang sampai tahunan.

Setelah warna yang diharapkan tercapai, benang tadi disepuh dengan air lumpur yang dicampur dengan air abu yang dimask hingga mendidih sampai benang benang tadi kelihatan mengkilat. Ini disebut mar-sigira, biasanya pekerjaan ini dilakukan pada waktu pagi ditepi kali.

Bila warna yang diharapkan sudah cukup matang, lilitan benang kemudian dibuka untuk diunggas agar benang menjadi kuat.

Benang ini sebelumnya direndam dulu dengan nasi yang lembek/bubur nasi yang kental, dan sesudah cairan ini meresap keseluruh benang, digantung pada sebuah penggunggasan untuk diunggas. Setiap jenis warna digulung pada hul-hul yang beda. Inilah yang kemudian di ani (dirajut), lalu ditenun.

Bila kita memeperhatikan ulos Batak secara teliti, maka akan kelihatan bahwa cara pembuatannya yang tergolong primitif bernilai seni yang sangat tinggi, tidak kalah bila dibandingkan dengan karya daerah lain.

Tingkatan ulos:

Seperti yang dikatakan tadi bahwa yang membedakan nilai ulos adalah tergantung proses pembuatannya yang mempunyai tingkatan tertentu.

Misalnyabagi seorang gadis yang belajar bertenun, baru diperkenankan membuat ulos parompa (yang dipergunakan untuk menggendong anak) ini disebut Mallage.

Tingkatan ini diukur dari jumlah lidi yang dipakai untuk memebri warna yang diinginkan. Tingkatan yang paling tinggi ialah bila dia telah mampu mempergunakan 7 (tujuh) buah lidi ( marsi pitu lili) dimana yang bersangkutan telah dianggap cukup mampu bertenun segala jenis ulos.

Filsafat tentang Mangulosai:

image

Ini adalah bagian yang penting karena dilatar belakangi sistem perkampungan yang umumnya hidup disekitar pegunungan atau ditepian danau (tao) maka cuzcany/iklimnya selalu dingin, karena itu orang batak sangat mengharapkan/ merindukan panas (halason), yang dapat kita dari umpasa/peribahasanya sbb: “ Sinuan bulu mambahen las, Sinuan partuturan sbahen horas”. Karena itu pada perkampungan Batak umumnya ditananm bambu disamping pertahanan (menjaga musuh) juga berfungsi sebagai penahan angin yang terlalu kencang (membawa dingin) disekitar pegunungan. Ada tiga yang dapat membuat senang “las roha), bagi leluhur di zaman dahulu yaitu: 1- Matahari, 2- Api, 3- Ulos. Masalah Api bukan menjadi sesuatu yang dipikirkan karena itu tetah ada dan teatp ada sesuai dengan waktyunya, sedangkan Api dapat dibuat, tetapi tidak praktis untuk dipergunakan untuk menghangatkan badan terutama pada malam hari, sangat berbeda dengan Ulos hanya tinggal menyelimutkan kebadan saja sudah hangat.Oleh karena itu nenek moyang zaman dahulu untuk memanaskan atau kiasan dari menyenangkan hati anak- anaknya maka diberilah ulos. Begitulah sangat berartinya ulos bagi kehidupan masyarakat Batak, hingga untuk kepesat atau ke pakan (onanpun sering orang batak zaman dulu menyandangkannya ( dialiton). Akhirnya Mangulosi masuk sebagai salah satu unsur dari adat. Dan mempunyai tata cara dalam mempergunakannya sbb: Pemberian Ulos umunya dilakukan oleh yang dituakan maksudnya Dari Tulang (hula-hula) kepada boru (parboruan), Orang tua kepada anak, Amang boru tu pormaen, Haha tu anggi. Dan ulos yang diberikanpun harus lah Ulos yang pantas, seperti: Ragidup sebagai ulos pargomgom kepada ibunya menantu (hela). Sibolang atau Ragihotang sebagai pansamot kepada bapaknya menantu (hela), begitu juga yang akan diberikan kepada menantu (hela). Ragi dup juga diberi kepada boru sebagai ulos mula gabe ( sewaktu mengharap kelahiran anak pertama).

Ditinjau dari segi pemakaian maka ada 3macam ulos yaitu:

1- Siabitonon: ragidup, Sibolang, Runyat, Jobit, Simarinjamisi, Ragi pangko dll.

2- Sihadangkononhon (sampesampe): Sirara, Sumbat, Bolean, Mangiring, Surisuri, Sadum, dll

3- Sitalitalihonon: Tumtuman, Mangiring, Padangrusa, dll

(bersambung –7)