Secara singkat telah diceritakan perjuangan Masyarakat Batak dibawah pimpinan Raja Sisingamangaraja XII, berjuang mengusir penjajah (Belanda) dari tanah Batak, dibantu oleh Toko-tokoh Batak dari berbagai Suku dan Marga.

Disamping para pejuang Batak tidak rela tanah air mereka di eksploitasi semenan-mena oleh SIbotar Mata (istilah  yang dipergunakan oleh pejuang Batak), juga mereka tidak rela adat istiadat atau budaya mereka terkontaminasi dengan Budaya luar.

Adapaun Motivasi Belanda untuk menguasaiTanah Batak adalah untuk membendung atau mensekat kekuatan Aceh dan Minang kabau yang baru tundukkannya. HAl ini sangat penting bagi mereka. Belanda cukup kewalahan menghadapi kepatriotan Aceh dan Minangkabau ( Paderi) yang mayoritas beragama Islam. Dan Belanda sangat mengetahui Pejuang-pejuang Aceh banyak bergabung dengan Pasukan Sisingamangaraja.XII, keadaan ini sangat menghawatirkan Belanda,

maka Belanda mengirim pasukan besar- besaran untuk memadamkan perjuangan Batak,baik dari Aceh dan Bukit tinggi maupun dari Batavia dan dibantu kaum Misionaris misionaris Keristen,hingga tahun 1907 Sisingamangaraja XII tertembak dan dimakamkan di Tarutung yang akhirnya dipindahkan ke Balige semasa pemerintahan Presiden Soekarno.

Menuju Masyarakat Adil dan Makmur ( Gerakan Millenarian)

One of the central problems that faced Third World peoples under European colonial rule was how to reform distorted power relations between the colonial and indigenous entities. Although indigenous peoples were generally forced to recognize the superiority of European power, the newly introduced colonial order often frustrated them. The millenarian movement(1) is one type of endeavour to overcome this dilemma by constructing a new socio-cultural order legitimized by a source of power which prophetic leaders insisted ruled their world.(The Batak Millenarian – by Masashi Hirosue)

Dari tulisan tersebut diatas umumnya bangsa-bangsa yang dijajah , termasuk bangsa Batak menghadapi distorsi antara hubungan kekuasaan kolonial Belanda dan entitas adat. Dan juga bangsa batak dipak sa mengakui keunggulan dan kekuasaan Belanda dengan memaksa tatanan budaya Kolonial (hal yang baru)  bagi masyarakat Batak, yang membuat mereka frustasi. Untuk mengatasi hal tersebu yakni penekanan-penekanan yang cukup sulit dihindari bangsa batak, maka mereka ingin membangun suatu tatanan sosial budaya yang baru dengan mendesak para pemimpin dibidang spritual. Maka gerakan inilah yang disebut Gerakan Millenarian, sebuah geraka sebagai protes terhadapa kekuasaan Belanda. Gerakan ini dipimpin oleh pemimpin yang benar-benar kharismatik yang menunjukkan Visi Millenarian dan mampu mengartikulasikan keyakinan mereka melalui kekuatan spritual,

Para pemimpin Gerakan ini tidak mungkin dapat menarik semua bangsa Batak untuk bergabung ke gerakan millenarian melalui kemampuan mereka ajaib atau ilahi berdasarkan sistem kepercayaan adat mereka magico-religius, karena orang Batak sudah banyak meninggalkan  sistem tradisional mereka dari keyakinan agama, yang telah mengalami distorsi oleh kolonialisme. Dalam rangka untuk mengubah tatanan yang ada sama sekali, pemimpin millenarian diperlukan untuk menunjukkan visi baru masyarakat dunia mereka dalam transformasi.

Memang diakui bahwa ditanah Batak sangat banyak yang mampu mengadakan kontak dengan Dewa atau roh-roh leluhur, namun hanya type tertentu pemimpin yang mampu mengatur Gerakan Millenarian . Pengikut Gerakan Millenarian harus apat diyakin bahwa mereka dipimpin oleh Pemimpin yang kharismatik yang mampu kontak dengan Dewa atau Roh kudus dan preachings (khotbah-khotbah) mereka didukung oleh kekuatan-kekuatan supranatural.

In order better to understand millenarian leadership, it is interesting to look at the religious movements which arose in the Batak area of north Sumatra beginning in 1890. The movements, called “Parmalim” and “Parhudamdam” , arose as responses to colonization and Christianization. The leaders of these movements preached a kind of “millenarian” vision, that promised the restoration of the kingdom of Si Singa Mangaraja, a Batak holy king who had been driven away from his own territory by the Dutch colonial army in 1883. These religious movements often developed into protests against the colonial order. (The Batak Millenarian – by Masashi Hirosue)

Yang artinya kurang lebih sbb:

Untuk lebih memahami kepemimpinan millenarian, menarik untuk melihat gerakan-gerakan keagamaan yang muncul di daerah Batak Sumatera utara awal tahun 1890. Gerakan, yang disebut “Parmalim” dan “Parhudamdam”, muncul sebagai tanggapan terhadap penjajahan dan Kristenisasi. Para pemimpin gerakan ini diberitakan semacam “visi millenarian”, yang menjanjikan pemulihan kerajaan Si Singa Mangaraja, raja Batak suci yang telah diusir dari wilayah sendiri oleh tentara kolonial Belanda pada tahun 1883. Gerakan-gerakan keagamaan sering berkembang menjadi protes terhadap tatanan kolonial. (The Batak Millenarian – by Masashi Hirosue)

Bersambung..