Pada masa lalu, orang-orang India masuk ke Tanah Batak melalui kota Barus (Baros) dan Tapanuli Selatan yang pada waktu itu merupakan kota perniagaan yang sangat penting dalam perdagangan gading badak, gading gajah, kapur barus, kemenyan, emas. Untuk memperlancar dan mempermudah penyaluran barang-barang dagangan ke luar negeri, mereka membentuk kongsi perdagangan (Gilde) dan sekaligus mendirikan sebuah perkampungan di daerah Barus. Orangorang India Selatan ini pada umumnya datang dari daerah Cola, Pandya, Malayalam. Mereka berasal dari keturunan orang Tamil yang kemudian hari tinggal menetap di Barus dan Kalasan. Sebagian dari orang-orang India Tamil ini masuk ke daerah pedalaman Tapanuli dan melakukan kontak dengan penduduk yang ada di sana. Mungkin karena putus hubungan dengan tanah airnya India, mereka berasimilasi ke dalam suku bangsa Batak. Dapat dipastikan, bahwa sebagian dari marga Sembiring adalah keturunan mereka; teristimewa yang namanama marganya menunjukkan asalnya yaitu: Colia, Pandia, Pelawi, Meliala, Brahmana, dan Keling.
Interaksi yang cukup lama antara orang India dengan orang Batak mengakibatkan terjadinya percampuran kebiasaan sehingga kebiasaan yang satu saling mempengaruhi kebiasaan yang lain. Di tanah Batak misalnya akibat pengaruh orang India beberapa perubahan-perubahan terdapat dalam kehidupan orang Batak seperti:

1. Aksara Batak adalah adaptasi dari tulisan India.Kemungkinan langsung ditiru dari orang India di Barus,mungkin juga dari aksara Jawa Kuno di Tapanuli Selatan.
Aksara Jawa Kuno sendiri ditiru dari aksara India;
Aksara India Benggala dan India Brahmi (Asoka)

Aksara dari Suku Batak:

Akasara Jawa :

2. Astrologi (perbintangan);
3. Beberapa alat berguna tentang pertanian, pertenunan, kesenian;
4. Permainan catur;
5. Kesusastraan berupa kata-kata atau istilah-istilah Sansekerta (India), dan bahkan
6. Kepercayaan-kepercayaan.

Pengaruh orang India di tanah Batak juga dapat dilihat melalui Candi Portibi yang ada di Padang Lawas (Tapanuli Selatan) sebagai salah satu saksi sejarah bekas peninggalan orang India (Hindu) di Tanah Batak. Di samping itu, pengaruh orang India juga telah sampai ke Balige (Toba-Samosir). Kata ‘Balige’ berasal dari perkataan ‘Baligeraja’ yang berasal dari kata dalam bahasa India ‘Mahligairaja’. Di pedalaman kota Balige tepatnya di desa Sibodiala masih terdapat bekas
tiang-tiang dari batu yang oleh penduduk dinamai ‘Sombaon Sibasiha’ (Keramat Tiang), yang merupakan bekas tiang-tiang candi Mahligairaja yang beralih menjadi ‘Balige raja’ lalu menjadi ‘Balige’.
Kuatnya pengaruh India di tanah Batak sampai membuat orang Batak kabur di dalam membedakan mana kebudayaan orang Batak asli dan mana yang diserap dari orang India. Memang, masuknya orang India ke tanah Batak tidak menggantikan agama Batak animisme (Batak Parmalim) menjadi agama Hindu. Tetapi banyak istilah dan tokoh kepercayaan orang India meresap masuk dan disembah dalam kepercayaan Batak (bahkan sampai sekarang). Misalnya dewa Batara Guru, dewa Soripada (jadi Balasori), dewa Mangalabulan, dewa Naga (jadi Nagapadoha), dewa Pani (ingat: Pane na Bolon), dan lain-lain yang merupakan tokoh dewa-dewa orang India yang meresap ke dalam kepercayaan orang Batak.
Sebutan Debata sebenarnya berasal dari kata Sansekerta (India) yaitu ‘Dewata’ yang berarti ‘dewa’ (= jamak). Lebih jelasnya baca buku karangan N. Siahaan, B.A. yang berjudul Sejarah Kebudayaan Batak (Terlampir sebagian dari Buku dimaksud di hal. 31). Kata atau istilah Debata berasal dari bahasa Sansekerta (India) yang mengalami penyesuaian dialek Batak. Karena dalam dialek Batak tidak mengenal huruf c, y,dan w sehingga dewata berubah menjadi Debata atau nama Charles dipanggil Sarles, hancit (sakit) dipanggil menjadi hansit.
Setiap kata atau istilah Sansekerta yang memiliki huruf w, kalau masuk ke dalam Bahasa Batak akan diganti menjadi huruf b,atau huruf yang lain.
Istilah-istilah Sansekerta yang diserap dalam bahasa Batak:


*Perhatikan huruf yang dicetak tebal

Dari contoh-contoh di atas, dapat dilihat bahwa huruf w dalam bahasa Sansekerta (India) kalau diserap ke dalam bahasa Batak akan berganti menjadi huruf b atau huruf-huruf lainnya, karena faktor pengucapan (lafal). Ini menjelaskan bahwa kata ‘Dewata’ dalam bahasa Sansekerta setelah diserap ke dalam bahasa Batak berganti menjadi Debata. Dewata inilah yang mem-‘bunglon’ ke dalam bahasa Simalungun menjadi ‘Naibata’ dan di daerah Karo menjadi ‘Dibata’ yang artinya tetap sama = ‘dewa’.

Bersambung…..