REKONSTRUKSI SEJARAH INDONESIA- ZAMAN HINDU

Pembukaan Kata!!

Saya mencoba memaparkan tulisan Warsito sastroprajitno tentang sejarah Indonesia. Beliau mengatakan didalam menyusun bukunya ini dia mendapat pengarahan dan petunjuk dari Prof.Dr.Purbatjaraka dan Romo.Dr.Zoetmulder, meskipun demikian beliau menyadari masih banyak hal-hal yang gelap dalam sejarah Indonesi , yang memerlukan penyelidikan lebih jauh dan akurat. Sebab hampir semua ahli dan penyelidik sejarah Indonesia ,terutama para filologis (yang berhubungan dengan studi budaya dan kerohanian), dengan secara fanatik bersitegang mengira bahwa:
1- Yavadvipa dari semula adalah Jawa sekarang dan Suvarnadvipa dari semula adalah Sumatera sekarang.
2- Kerajaan Sriwijaya dari keluarga Sailendra dan dari semula berpusat di Palembang
Anggapan yang salah itulah yang menyebabkan sejarah Indonesia dalam Zaman Hindu ruwet dan gelap
Jadi tulisan beliau ini adalah salah satu acuan dan melanjutkan penyelidikan terdahulu. Dan kita layaknyalah menghargai dan menghormati kepada penyelidik-penyelidik Sejarah Indonesia seperti “KROM, STUTTERHEIM, MOENS, PELLIOT, FERRAND, COEDES, MAJUMDAR, NILAKANTA SASTRI, TAKAKUSU,” dan lain-lainnya.Karena merekalah maka kita banyak mengetahui tentang sejarah Indonesia.
Kemudian Ws melanjutkan harapannya agar generasi muda termotivasi akan tulisan beliau yang sangat kontroversial dengan sejarah yang kita ketahui selama ini.
Site Blog Toga Laut sengaja menulis kembali untuk memenuhi harapan beliau dalam rangka menemui sejarah yang sebenarnya tentang Indonesia pada “Zaman Hindu”. Ini adalah sangat penting karena Budaya Indonesia tidak terlepas dari pengaruh Hindu. Dan kami mencoba menyajikannya tanpa mengurangi makna dari isi meskipun buku aslinya masih berupa ejaan lama.
Terima kasih!

Yavadvipa

A-Kekhilafan menafsirkan “yavadvipa”:

Keruwetan yang terdapat dalam sejarah Indonesia pada zaman Hindu terutama disebabkan oleh karena hampir semua penyelidik/ahli sejarah beranggapan bahwa “Yavadvipa” dari semula adalah Jawa sekarang,kekeliruan itu berpangkal pada penafsiran secara FILOLOGIS, dan karena itu lalu menganggap nama-nama asing lainnya yang terdapat dalam berita atau tulisan asing hanya sebagai transkripsi saja dari kata Yavadvipa tersebut.Kekeliruan itu menyebabkan perisistiwa-peristiwa historis yang sesungguhnya terjadi di dan bersangkutan dengan negeri lain dianggap terjadi di dan bersangkutan dengan Jawa.
Kebanyakan Penyelidik mengabaikan keterangan-keterangan Geografis dan kemungkinan ekonomis. Mereka melupakan sifat typis bangsa timur yaitu sifat gemar membawa-bawa nama-nama negeri asalnya dan sifat gemar menulis kan peristiwa-peristiwa dengan lambang-lambang dan kias-kias.Mereka juga melupakan kenyataan, bahwadalam sejarah sering terjadi perpindahan-perpindahan pusat-pusat kerajaan dan penggantian nama negeri.
Nama-nama asing yang disangka dan dianggap “Jawa” itu antara lainialah:
1- “Yavadvipa” dalam kakawin Ramayana, yang ditulis sebelum tahun 500 sebelum masehi.
2- “Ye-tiao” dalam tarikh Tiongkok pada tahun 132 sesudah masehi .
3- “labadiou” dalam berita Mesir -Junani dari tahun 160 sesudah masehi.
4- “Ye-p’o-ti” dari Fa-Hien, yang pada tahun 414 terdampar dipantai negeri itu.
5- “Cho-p’o” dari Gunawarman dan dalam berita Tiongkok sekitar pertengahan abad ke 5.
6- “Bhumi Java” dalam inskripsi kota kapur (Bangka) tahun 686.
7- “Yava” dalam inskripsi Canggal(Sanjaya) tahun 732.
8- “Yavabhumi” dalam maklumat Nalanda tahun 883.
9- “Zabag”, “Zabaj” dan “Jawaga” dalam berita Arab sesudah abad ke 9.

Secara filologis nama-nama tersebut diatas semuanya berarti “Jawa” tetapi tidak semua yang dimaksud Jawa sekarang.
Selanjutkan akan kita ulas bahwa nama-nama tersebut, sebagian besar bukanlah Jawa sekarang.

(bersambabung …………………2)

Iklan