REKONSTRUKSI SEJARAH INDONESIA- ZAMAN HINDU

Setelah sekian lama kita tidak membahas tentang Rekonstruksi Awal sejarah Indonesia pada zama Hindu, mudah-mudahan seterusnya dapat kita lanjutkan tanpa halangan, Semoga Bermanfaat bagi kita pemerhati sejarah

Kebanyakan Penyelidik mengabaikan keterangan-keterangan Geografis dan kemungkinan ekonomis. Mereka melupakan sifat typis bangsa timur yaitu sifat gemar membawa-bawa nama-nama negeri asalnya dan sifat gemar menulis kan peristiwa-peristiwa dengan lambang-lambang dan kias-kias.Mereka juga melupakan kenyataan, bahwadalam sejarah sering terjadi perpindahan-perpindahan pusat-pusat kerajaan dan penggantian nama negeri.
Nama-nama asing yang disangka dan dianggap “Jawa” itu antara lainialah:
1- “Yavadvipa” dalam kakawin Ramayana, yang ditulis sebelum tahun 500 sebelum masehi.
2- “Ye-tiao” dalam tarikh Tiongkok pada tahun 132 sesudah masehi .
3- “labadiou” dalam berita Mesir -Junani dari tahun 160 sesudah masehi.
4- “Ye-p’o-ti” dari Fa-Hien, yang pada tahun 414 terdampar dipantai negeri itu.
5- “Cho-p’o” dari Gunawarman dan dalam berita Tiongkok sekitar pertengahan abad ke 5.
6- “Bhumi Java” dalam inskripsi kota kapur (Bangka) tahun 686.
7- “Yava” dalam inskripsi Canggal(Sanjaya) tahun 732.
8- “Yavabhumi” dalam maklumat Nalanda tahun 883.
9- “Zabag”, “Zabaj” dan “Jawaga” dalam berita Arab sesudah abad ke 9.

ad1- Yavadvida:

Valmiki pengarang Ramayana ,menulis tentang sebuah nama negeri yang bernama Yavadvida dalam bukunya bukan lah Jawa yang dimaksudnya dengan alasan Ramayana berkisah tentang peristiwa tahun 500 S.M (sebelum Masehi), apakah orang India sudah mengetahui p.Jawa yang berada beberapa derajat diselatan Khatulistiwa?, dan alasan kedua kalau kita mengamati pemaparan Valmiki tentang Yavadvida, bahwa Yavadvida dihiasi tujuh kerajaan ,pulau emas dan perak. kaya akan tambang Emas dan disitu terdapat gunung Çiçira (=dingin) puncaknya menyentuh langit.
Anggapan bahwa bagian Ramayana yang memuat bab “Yavadvida” ditulis atau disisipkan kemudian , yaitu sekitar tahun 150 adalah alasan yang dicari-cari , itu hanya terjadi karena dalam tarikh Tiongkok tahun 132 sudah disebutkan tentang “Raja Yavadvida yang mengirim utusannya kepada kaisar Tiongkok.Jadi tentang bab Yavadvida tidak mungkin ditulis atau disisipkan kemudian, sebab kalau kita mengamati “Kawruh Kejawen” yang inti sarinya diambil dari ajaran Hindu Budha yaitu tentang ajaran “Manunggaling Kawula Ian Gusti”, atman dan Brahman , puruça dan prakreti. Itu semua adalah bagian pokok dari isi Ramayana. Bagian itu (Bab Yavadvida) adalah bagian “Rama Duta” yang mengajarkan bahwa Rama (sebagai manusia) belumlah Ikhlas (legawa= sempuna) sebab bathinnya (Shinta= isinya) masih terbelenggu keduniawian (ingin kidang kencana), oleh karena itu tertawan angkara murka (Dasamuka) dan untuk membasmi itulah, maka angkara-maya (Hanoman = mayangkara = angkara yang sudah tipis) ditugaskan sebab hanya dialah (mayangkara) yang dapat membasmi angkaramurka (Dasamuka).
Ramayana selain sebagai kitab pelajaran agama, juga sebagai kisah pahlawan yang berdasarkan peristiwa historis , yang terjadi didaerah sungai Gangga (Benggala), yaitu penyerbuan bangsa Arya (pendukung kebudayaan dan peradaban dunia terhadap bangsa Dravida yang dipandang sebagai kemenangan “Hrrenvolk” terhadap “Schlavenvolk”
Jadi yang dimaksud denga Yavadvida iru adalah Daerah Sungai Gangga yang sampai sekarang itu masih merupakan negeri Jelai yang luar biasa, sedangkan “Suvarnadvipa” ialah daerah sungai Iravadi yang hulunya menghasilkan emas dan bagian hilirnya menghasilkan perak dulunya merupakan kloni pertambangan-pertambangan Tiongkok (yang dilukiskan Valmiki sebagai gunung Çiçira tidak lain adalah gunung Himalaya. dengan puncaknya Mount Everest atau Gauri Sankar yang tingginya kurang lebih 8800 meter.
Kesimpulannya dari sudut pandang “Ramayana” bahwa Yavadivida itu adalh nama klasik bagi India dan “ Suvarnadvipa adalah Birma , kesimpulan ini sesuai dengan pendapat “Maha Yazawin (babad Birma) yang menamakan India “Zacudipa” atau “Zambudipa” sedangkan negerinya sendiri disebut “Sona PAranta atau Sona Aparanta” (Bahasa Pali yang artinya sama)

ad2. Ye-tiao

Nama ini berasal dari tarikh Tiongkok,yang menggambarkan bahwa pada tahun 132 Raja Ye-tiao bernama Tiao-pien mengirim utusan ke tiongkok dan Raja itu menerima hadiah kehormatan.
Bersambung —– 3)