Archive for Maret, 2011

BATAK MENGENAL RAJA RUM DARI ACEH DAN MINANGKABAU


RAJA RUM YANG DIMAKSUD ADALAH RAJA DINASTI OTTOMAN

Betapa istilah Raja Rum Begitu melekat didalam mitos-mitos Melayu, termasuk Batak, bahkamn didalam mantera atau doapun selalu nama Raja Rum dilibatkan. Raja Rum, selain Raja Uti, mempunyai tempat khusus dalam sejarah peradaban Bangsa Batak. Kehormatan dan persembahan diberikan ke hadirat Raja Rum yang diyakini dapat memberi restu dan berkat bagi kelangsungan kerajaan

Siapa sebenarnya Raja Rum yang terkenal itu, Siapa sebenarnya orang yang setiap tahun katanya menerima persembahan dari raja-raja di tanah Batak, tidak terkecuali Dinasti Sisingamangaraja???
Diyakini informasi mengenai eksistensi Raja Rum, kalaupun belum pernah melakukan kontak peradaban dengan Batak, masuk ke tanah Batak, kemungkinan melalui dua jalur. Pertama melalui peradaban Batak pesisir di Barus, kedua melalui kerajaan Aceh yang merupakan sekutu dekat kerajaan Batak. Namun tidak tertutup kemungkinan informasi tersebut berasal dari selatan, yakni Minangkabau yang pernah rajanya memakai gelar Raja Mughal alias Mongol. Alasan melalui pesisir Barus, sudah sejak lama Minangkabau mempunyai hubungan dengan kerajaan Barus.

Didalam mitos kepercayaan orang Batak Bahwa Iskandar Agung (Raja Yunani dari tahun 336–323 SM) mempunyai tiga anak. Anak yang pertama menjadi Raja Stambul (juga disebut Raja Rum), anak kedua menjadi Raja Cina, dan anak ketiga menjadi Raja Minangkabau. Stambul adalah Istanbul (Konstantinopel) yang pernah menjadi ibu kota kerajaan Roma (=Rum). Pada abad ke-19 Istanbul menjadi ibu kota Kekaisaran Turki Ottoman.


Didalam laporan Nomensen kepada Belanda tentang Hubungan Pasukan Aceh (yang telah menjalin hubungan dengan kerajaan Ottoman) dengan Pasukan Raja Sisingamangaraja (istilah Nomensen Orang Toba) sbb: ”…… Sekarang kita kembali pada cerita perang: Pada akhir musim gugur [akhir November–pertengahan Desember] 1877 terdengar bermacam-macam desas-desus. Orang Batak yang kembali dari pesisir membawa kabar bahwa Raja Stambul[58] (Raja Konstantinopel) bersama dengan rakyatnya[59] akan datang ke Sumatra untuk bersekutu dengan orang Aceh kalau Kerajaan Ottoman tidak lagi bisa bertahan menghadapi Rusia.[60] Harinya bendera hijau nabi berkibar sudah ditetapkan dan umat Islam akan bangkit dan membunuh semua orang kafir dan Kristen. Setiap hari ada kabar angin baru. Terdengar orang Belanda tidak lagi mempunyai tentara dan akan kalah dalam perang Aceh.
[Hal.364] Khotbah kami tidak dipercayai oleh kaum kafir, mereka percaya pada cerita bohong itu dan saling menakuti satu sama lain. Bahkan beberapa orang Kristen meminta nasihat kepada kami. Kabar bahwa ada 40 orang Aceh masuk ke Toba membuat keadaan menjadi lebih parah lagi. Masyarakat menjadi makin resah dan mulai menggali harta bendanya. Lalu datang utusan Singamangaraja ke Silindung mengumumkan di pasar-pasar bahwa Singamangaraja akan datang bersama dengan orang Aceh dan membunuh orang Eropa dan orang Kristen. Kaum kafir tidak perlu khawatir asal bersikap netral. Raja yang beragama Kristen berunding dan mempertimbangkan menyerang utusan Singamangaraja dan membawanya ke Sibolga.[61] Mereka bertanya kepada kami apakah pemerintah akan membantu mereka sekiranya mereka diserang oleh kaum kafir Silindung. Tentu saja kami tidak bisa menjaminnya. Waktu mereka berunding utusan Singamangaraja ternyata sudah pergi, barangkali karena rencana mereka tidak berhasil atau karena mereka mendengar para raja Kristen hendak menangkapnya. Beberapa raja memperlihatkan kepada mereka keuntungan yang mereka peroleh dari adanya para penginjil: 1) tiada lagi Bonjol[62] (Melayu) yang datang mengganggu sejak kedatangan para penginjil, 2) para penginjil hanya berbuat baik seperti memberi obat, dan 3) sangat tolol kalau Singamangaraja sekarang mau bersekutu dengan mereka yang membunuh neneknya.[63] Mereka juga mengatakan akan menjaga keselamatan para penginjil. Setelah utusan Singamangaraja kembali mereka membeberkan berita bahwa orang Bonjol akan menyerang lagi, dan bahwa orang Silindung sudah bersekutu dengan orang Bonjol.[64] [Hal.365]”

Sebagai catatan : Hubungan diplomasi antara Aceh dan Turki berlanjut saat Dinasti Ottoman menyelamatkan kawasan Laut Merah dari teror pada bajak laut Eropa pada tahun 1520:
Orang Aceh, mengirim utusan ke Turki dan mengemukakan pengakuan mereka atas kedaulatan Turki dengan kepemimpinan Kalifah, mengakui posisi Sinan Pasha, dan memakai bendera Usmaniyah di pelabuhan-pelabuhan, dan mengumumkan posisi Kerajaan Aceh sebagai sekutu Usmaniyah dan melakukan kerja sama saling melindungi. Sultan Selim menyetujui usulan tersebut. Kerjasama tersebut diujudkan saat Sultan memerintahkan Wazir Sinan Pasha untuk memberikan meriam dan pedang kehormatan yang sampai sekarang masih ada di Aceh.Jadi sangat masuk Akkal issue yang dilaporkan Opung Nomensen kepada Belanda sangat perlu. Sesuatu yang berhubungan dengan Mitos umumnya sangat memotivasi perjuangan.

Iklan

Benarkah 350 tahun Indonesia dijajah Belanda ???

Kedatangan penjajah

Pada 1511, Portugis berhasil menguasai Malaka, sebuah emporium yang menghubungkan perdagangan dari India dan Cina. Dengan menguasai Malaka, Portugis berhasil mengendalikan perdagangan rempah-rempah seperti lada, cengkeh, pala, dan fuli dari Sumatra dan Maluku. Pada 1512, D`Albuquerque mengirim sebuah armada ke tempat asal rempah-rempah di Maluku. Dalam perjalanan itu mereka singgah di Banten, Sundakalapa, dan Cirebon. Dengan menggunakan nakhoda-nakhoda Jawa, armada itu tiba di Kepulauan Banda, terus menuju Maluku Utara, akhirnya tiba juga di Ternate.
Di Ternate, Portugis mendapat izin untuk membangun sebuah benteng. Portugis memantapkan kedudukannya di Maluku dan sempat meluaskan pendudukannya ke Timor. Dengan semboyan “gospel, glory, and gold” mereka juga sempat menyebarkan agama Katolik, terutama di Maluku. Waktu itu, Nusantara hanyalah merupakan salah satu mata rantai saja dalam dunia perdagangan milik Portugis yang menguasai separuh dunia ini (separuh lagi milik Spanyol) sejak dunia ini dibagi dua dalam Perjanjian Tordesillas tahun 1493. Portugis menguasai wilayah yang bukan Kristen dari 100 mil di sebelah barat Semenanjung Verde, terus ke timur melalui Goa di India, hingga kepulauan rempah-rempah Maluku. Sisanya (kecuali Eropa) dikuasai Spanyol.

Sejak dasawarsa terakhir abad ke-16, para pelaut Belanda berhasil menemukan jalan dagang ke Asia yang dirahasiakan Portugis sejak awal abad ke-16. Pada 1595, sebuah perusahaan dagang Belanda yang bernama Compagnie van Verre membiayai sebuah ekspedisi dagang ke Nusantara. Ekpedisi yang dipimpin oleh Cornelis de Houtman ini membawa empat buah kapal. Setelah menempuh perjalanan selama empat belas bulan, pada 22 Juni 1596, mereka berhasil mendarat di Pelabuhan Banten. Inilah titik awal kedatangan Belanda di Nusantara.

Kunjungan pertama tidak berhasil karena sikap arogan Cornelis de Houtman. Pada 1 Mei 1598, Perseroan Amsterdam mengirim kembali rombongan perdagangannya ke Nusantara di bawah pimpinan Jacob van Neck, van Heemskerck, dan van Waerwijck. Dengan belajar dari kesalahan Cornelis de Houtman, mereka berhasil mengambil simpati penguasa Banten sehingga para pedagang Belanda ini diperbolehkan berdagang di Pelabuhan Banten. Ketiga kapal kembali ke negerinya dengan muatan penuh. Sementara itu, kapal lainnya meneruskan perjalanannya sampai ke Maluku untuk mencari cengkih dan pala.
Dengan semakin ramainya perdagangan di perairan Nusantara, persaingan dan konflik pun meningkat. Baik di antara sesama pedagang Belanda maupun dengan pedagang asing lainnya seperti Portugis dan Inggris. Untuk mengatasi persaingan yang tidak sehat ini, pada 1602 di Amsterdam dibentuklah suatu wadah yang merupakan perserikatan dari berbagai perusahaan dagang yang tersebar di enam kota di Belanda. Wadah itu diberi nama Verenigde Oost-Indische Compagnie (Serikat Perusahaan Hindia Timur) disingkat VOC.

Pemerintah Kerajaan Belanda (dalam hal ini Staaten General), memberi “izin dagang” (octrooi) pada VOC. VOC boleh menjalankan perang dan diplomasi di Asia, bahkan merebut wilayah-wilayah yang dianggap strategis bagi perdagangannya. VOC juga boleh memiliki angkatan perang sendiri dan mata uang sendiri. Dikatakan juga bahwa octrooi itu selalu bisa diperpanjang setiap 21 tahun. Sejak itu hanya armada-armada dagang VOC yang boleh berdagang di Asia (monopoli perdagangan).

Dengan kekuasaan yang besar ini, VOC akhirnya menjadi “negara dalam negara” dan dengan itu pula mulai dari masa Jan Pieterszoon Coen (1619-1623, 1627-1629) sampai masa Cornelis Speelman (1681-1684) menjadi Gubernur Jenderal VOC,

kota-kota dagang di Nusantara yang menjadi pusat perdagangan rempah-rempah berhasil dikuasai VOC. Batavia (sekarang Jakarta) menjadi pusat kedudukan VOC sejak 1619, Ambon dikuasai tahun 1630. Beberapa kota pelabuhan di Pulau Jawa baru diserahkan Mataram kepada VOC antara tahun 1677-1705. Sementara di daerah pedalaman, raja-raja dan para bupati masih tetap berkuasa penuh. Peranan mereka hanya sebatas menjadi “tusschen personen” (perantara) penguasa VOC dan rakyat.
“Power tends to Corrupt.” Demikian kata Lord Acton, sejarawan Inggris terkemuka. VOC memiliki kekuasaan yang besar dan lama, VOC pun mengalami apa yang dikatakan Lord Acton. Pada 1799, secara resmi VOC dibubarkan akibat korupsi yang parah mulai dari “cacing cau” hingga Gubernur Jenderalnya. Pemerintah Belanda lalu menyita semua aset VOC untuk membayar utang-utangnya, termasuk wilayah-wilayah yang dikuasainya di Indonesia, seperti kota-kota pelabuhan penting dan pantai utara Pulau Jawa.
Selama satu abad kemudian, Hindia Belanda berusaha melakukan konsolidasi kekuasaannya mulai dari Sabang-Merauke. Namun, tentu saja tidak mudah. Berbagai perang melawan kolonialisme muncul seperti:


Perang Padri (1821-1837),


Perang Diponegoro (1825-1830),


Perang Aceh (1873-1907), Perang di Jambi (1833-1907), Perang di Lampung (1834-1856), Perang di Lombok (1843-1894), Perang Puputan di Bali (1846-1908), Perang di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah (1852-1908), Perlawanan di Sumatra Utara (1872-1904),

Perang di Tanah Batak (1878-1907),


dan Perang Aceh (1873-1912).
Peperangan di seluruh Nusantara itu baru berakhir dengan berakhirnya Perang Aceh. Jadi baru setelah tahun 1912, Belanda benar-benar menjajah seluruh wilayah yang kemudian menjadi wilayah Republik Indonesia (kecuali Timor Timur). Jangan lupa pula bahwa antara 1811-1816, Pemerintah Hindia Belanda sempat diselingi oleh pemerintahan interregnum (pengantara) Inggris di bawah Letnan Gubernur Thomas Stamford Raffles.
Saat-saat akhir
Pada 7 Desember 1941, Angkatan Udara Jepang di bawah pimpinan Laksamana Nagano melancarkan serangan mendadak ke pangkalan angkatan laut AS di Pearl Harbour, Hawaii. Akibat serangan itu kekuatan angkatan laut AS di Timur Jauh lumpuh. AS pun menyatakan perang terhadap Jepang. Demikian pula Belanda sebagai salah satu sekutu AS menyatakan perang terhadap Jepang.

Pada 18 Desember 1941, pukul 06.30, Gubernur Jenderal Hindia Belanda Jenderal Tjarda van Starkenborgh Stachouwer melalui radio menyatakan perang terhadap Jepang. Pernyataan perang tersebut kemudian direspons oleh Jepang dengan menyatakan perang juga terhadap Pemerintah Hindia Belanda pada 1 Januari 1942. Setelah armada Sekutu dapat dihancurkan dalam pertempuran di Laut Jawa maka dengan mudah pasukan Jepang mendarat di beberapa tempat di pantai utara Pulau Jawa.
Pemerintah Kolonial Hindia Belanda memusatkan pertahanannya di sekitar pegunungan Bandung. Pada waktu itu kekuatan militer Hindia Belanda di Jawa berjumlah empat Divisi atau sekitar 40.000 prajurit termasuk pasukan Inggris, AS, dan Australia. Pasukan itu di bawah komando pasukan sekutu yang markas besarnya di Lembang dan Panglimanya ialah Letjen H. Ter Poorten dari Tentara Hindia Belanda (KNIL). Selanjutnya kedudukan Pemerintah Kolonial Belanda dipindahkan dari Batavia (Jakarta) ke Kota Bandung.
Pasukan Jepang yang mendarat di Eretan Wetan adalah Detasemen Syoji. Pada saat itu satu detasemen pimpinannya berkekuatan 5.000 prajurit yang khusus ditugasi untuk merebut Kota Bandung. Satu batalion bergerak ke arah selatan melalui Anjatan, satu batalion ke arah barat melalui Pamanukan, dan sebagian pasukan melalui Sungai Cipunagara. Batalion Wakamatsu dapat merebut lapangan terbang Kalijati tanpa perlawanan berarti dari Angkatan Udara Inggris yang menjaga lapangan terbang itu.
Pada 5 Maret 1942, seluruh detasemen tentara Jepang yang ada di Kalijati disiapkan untuk menggempur pertahanan Belanda di Ciater dan selanjutnya menyerbu Bandung. Akibat serbuan itu tentara Belanda dari Ciater mundur ke Lembang yang dijadikan benteng terakhir pertahanan Belanda.
Pada 6 Maret 1942, Panglima Angkatan Darat Belanda Letnan Jenderal Ter Poorten memerintahkan Komandan Pertahanan Bandung Mayor Jenderal J. J. Pesman agar tidak mengadakan pertempuran di Bandung dan menyarankan mengadakan perundingan mengenai penyerahan pasukan yang berada di garis Utara-Selatan yang melalui Purwakarta dan Sumedang. Menurut Jenderal Ter Poorten, Bandung pada saat itu padat oleh penduduk sipil, wanita, dan anak-anak, dan apabila terjadi pertempuran maka banyak dari mereka yang akan jadi korban.
Pada 7 Maret 1942 sore hari, Lembang jatuh ke tangan tentara Jepang. Mayjen J. J. Pesman mengirim utusan ke Lembang untuk merundingkan masalah itu. Kolonel Syoji menjawab bahwa untuk perundingan itu harus dilakukan di Gedung Isola (sekarang gedung Rektorat UPI Bandung). Sementara itu, Jenderal Imamura yang telah dihubungi Kolonel Syoji segera memerintahkan kepada bawahannya agar mengadakan kontak dengan Gubernur Jenderal Tjarda van Starkenborgh Stachouwer untuk mengadakan perundingan di Subang pada 8 Maret 1942 pagi. Akan tetapi, Letnan Jenderal Ter Poorten meminta Gubernur Jenderal agar usul itu ditolak.

Jenderal Imamura mengeluarkan peringatan bahwa “Bila pada 8 Maret 1942 pukul 10.00 pagi para pembesar Belanda belum juga berangkat ke Kalijati maka Bandung akan dibom sampai hancur.” Sebagai bukti bahwa ancaman itu bukan sekadar gertakan, di atas Kota Bandung tampak pesawat-pesawat pembom Jepang dalam jumlah besar siap untuk melaksanakan tugasnya.

Melihat kenyataan itu, Letnan Jenderal Ter Poorten dan Gubernur Jenderal Tjarda beserta para pembesar tentara Belanda lainnya berangkat ke Kalijati sesuai dengan tanggal dan waktu yang telah ditentukan. Pada mulanya Jenderal Ter Poorten hanya bersedia menyampaikan kapitulasi Bandung. Namun, karena Jenderal Imamura menolak usulan itu dan akan melaksanakan ultimatumnya. Akhirnya, Letnan Jenderal Ter Poorten dan Gubernur Jenderal Tjarda menyerahkan seluruh wilayah Hindia Belanda kepada Jepang tanpa syarat. Keesokan harinya, 9 Maret 1942 pukul 08.00 dalam siaran radio Bandung, terdengar perintah Jenderal Ter Poorten kepada seluruh pasukannya untuk menghentikan segala peperangan dan melakukan kapitulasi tanpa syarat.
Itulah akhir kisah penjajahan Belanda. Setelah itu Jepang pun menduduki Indonesia hingga akhirnya merdeka 17 Agustus 1945. Jepang hanya berkuasa tiga tahun lima bulan delapan hari.
Analisis
Berdasarkan uraian di atas, kita bisa menghitung berapa lama sesungguhnya Indonesia dijajah Belanda. Kalau dihitung dari 1596 sampai 1942, jumlahnya 346 tahun. Namun, tahun 1596 itu Belanda baru datang sebagai pedagang. Itu pun gagal mendapat izin dagang. Tahun 1613-1645, Sultan Agung dari Mataram, adalah raja besar yang menguasai seluruh Jawa, kecuali Banten, Batavia, dan Blambangan. Jadi, tidak bisa dikatakan Belanda sudah menjajah Pulau Jawa (yang menjadi bagian Indonesia kemudian).
Selama seratus tahun dari mulai terbentuknya Hindia Belanda pascakeruntuhan VOC (dengan dipotong masa penjajahan Inggris selama 5 tahun), Belanda harus berusaha keras menaklukkan berbagai wilayah di Nusantara hingga terciptanya Pax Neerlandica. Namun, demikian hingga akhir abad ke-19, beberapa kerajaan di Bali, dan awal abad ke-20, beberapa kerajaan di Nusa Tenggara Timur, masih mengadakan perjanjian sebagai negara bebas (secara hukum internasional) dengan Belanda. Jangan pula dilupakan hingga sekarang Aceh menolak disamakan dengan Jawa karena hingga 1912 Aceh adalah kerajaan yang masih berdaulat. Orang Aceh hanya mau mengakui mereka dijajah 33 tahun saja.
Kesimpulannya, tidak benar kita dijajah Belanda selama 350 tahun. Yang benar adalah, Belanda memerlukan waktu 300 tahun untuk menguasai seluruh Nusantara. ***

Raja Rum adalah Raja kerajaan Ottoman bukan Raja Romawi (Roma)

Raja Rum bukan Raja Romawi (Roma)

Pendahuluan:
Mengenai Raja Rum adalah mitos yang berkembang di Asia Tenggara, demikian juga di tanag Batak berkembang dalam mistik Batak.
Raja Rum diyakini adalah sesuatu kekuatan misterius dari Barat dan China di timur.
Di Sumatera dan umumnya di semananjnng melayu ada cerita berkembang ,bahwa Iskandar Dzul karnain (Alexander Agung) memiliki tiga putra dari putri Raja Samudra. yang tertua pergi ke Barat untuk menjadi Raja Rum, ke Timur anak kedua untuk menjadi Raja Cina, sementara yang ketiga untuk memulai dinasti Minangkabau nanti. [William Marsden, The Sejarah Sumatera 3rd ed., (London, 1811)]. Pada abad kedelapan belas, penguasa Minangkabau sendiri ditata adik dari penguasa Rum dan Cina [Ibid.. pp.338-41.]

Raja Rum oleh Batak ;

Raja Rum, selain Raja Uti, mempunyai tempat khusus dalam sejarah peradaban Bangsa Batak. Kehormatan dan persembahan diberikan ke hadirat Raja Rum yang diyakini dapat memberi restu dan berkat bagi kelangsungan kerajaan.

Walaupun begitu, tidak ada catatan pasti sejarah, bagaimana Bangsa Batak berhubungan dengan Raja Rum tersebut. Itulah makanya, Modiglinai, pernah menipu orang Batak dengan mengaku sebagai utusan Raja Rum saat menyusup ke tanah Batak. Tipuan ala Eropa tersebut ternyata manjur saat ketahuan oleh pimpinan Batak di tanah Batak.(kisah ini diabadikan dalam bentuk mitos di Gayo, seorang anak Raja Rum/Roma terdampar ) sbb: …….. namanyaanak terdampar tersebut masih sangat kuat masih sangat mythically kuat pada tahun 1890 bahwa perjalanan Italia Elio Modigliani, setelah mengakui ia datang dari Roma, mendapati dirinya memperoleh berikut sebagai tersebar kabar bahwa ia adalah seorang utusan, atau mungkin suatu inkarnasi yang ajaib. Raja yang kuat Rum [Sebuah terjemahan dari bagian yang relevan dari Elio Modigliani Fra Saya Battachi Indipendenti (1892) adalah Saksi-saksi Sumatera: A Travellers ‘Anthology, ed. Anthony Reid (Kuala Lumpur: Oxford University Press, 1995), pp.199-209]. (Mengenai Elio Modigliani pernah diulas dengan Judul “Guru Somalaing Pardede termakan Rayuan Elio Modigliani”

Kerajaan Otaman’Usmaniyah-(Raja Rum)

Siapa sebenarnya Raja Rum yang terkenal itu, dan setiap tahun katanya menerima persembahan dari raja-raja di tanah Batak, tidak terkecuali Dinasti Sisingamangaraja
Kerajaan Ottoman ibukotanya adalah Istambul dulu bernama Konstantinopel (kerajaan Romawi timur), Jadi Kerajaan Ottoman merebut Konstantinopel dari kerazaan Byzantium selama ini dikuasai Romawi.
Zaman dibawah sultan Sulaiman kerajan Ottoman salah satu Negara terkuat baik didarat dan dilaut, oleh karena itu Kerajaan-kerajaan yang ada di Asia tenggara umumnya dan Nusantara Khususnya selalu memintak bantuan apabila direng Kerajaan Portugis yang mengusai wilayah Asia tenggara seperti Nusantara bagian timur dan Malaka dll. Karena Kapal-kapal Portugis selalu menyerang kapal-kapal dagang yangakan menuju Timur tengah dan eropah , membuat petani rempah-rempah gelisah oleh karena itu kerajaan Aceh memintak bantuan kepada kerajaan Ottoman (Raja Rum). Kerajaan Ottoman selalu membantu kerajaan-kerajaan Islam yang diserang Portugis , membuat Kerajaan Ottoman yang juga disebut sebagai Raja Rum menjadi Mitos yang sngat kuat bagi Suku bangsa di Asia Tenggara.

Diyakini informasi mengenai eksistensi Raja Rum, kalaupun belum pernah melakukan kontak peradaban dengan Batak, masuk ke tanah Batak, kemungkinan melalui dua jalur. Pertama melalui peradaban Batak pesisir di Barus, kedua melalui kerajaan Aceh yang merupakan sekutu dekat kerajaan Batak. Namun tidak tertutup kemungkinan informasi tersebut berasal dari selatan, yakni Minangkabau yang pernah rajanya memakai gelar Raja Mughal alias Mongol.

Saat kerajaan Aceh digempur oleh Belanda pada tahun 1873, kerajaan tersebut meminta bantuan dari semua teman sekutunya untuk datang menolongnya. Di antaranya Inggris, Prancis, AS dan Italia. Namun semua negara-negara yang mempunyai kontrak persahabatan tersebut menghianatinya dan tidak mau membantu, Turki tampil dipermukaan untuk membantu mengembalikan kedamaian di wilayah tersebut dari para aksi terror Belanda.

Turki mengemukakan klaimnya bahwa antara Turki dan Aceh sudah terjalin komunikasi persahabatan sejak abad ke-16. Persahabatan tersebut bahkan diperkuat kembali dengan penandatanganan perjanjian tahun 1850 tentang hubungan diplomatik.(zaman pemerintahan Sultan Abd-ul-Mejid (1839-1861)

Hubungan diplomasi antara Aceh dan Turki berlanjut saat Dinasti Usmaniyah menyelamatkan kawasan Laut Merah dari teror pada bajak laut Eropa pada tahun 1520:

Orang Aceh, mengirim utusan ke Turki dan mengemukakan pengakuan mereka atas kedaulatan Turki dengan kepemimpinan Kalifah, mengakui posisi Sinan Pasha, dan memakai bendera Usmaniyah di pelabuhan-pelabuhan, dan mengumumkan posisi Kerajaan Aceh sebagai sekutu Usmaniyah dan melakukan kerja sama saling melindungi. Sultan Selim menyetujui usulan tersebut. Kerjasama tersebut diujudkan saat Sultan memerintahkan Wazir Sinan Pasha untuk memberikan meriam dan pedang kehormatan yang sampai sekarang masih ada di Aceh.

Raja Rum

Di negara-negara Asia Tenggara di abad ke-15, nama Rum menggambarkan simbol kekuasaan yang sangat misterius yang terletak di arah Barat- yang meliputi nama Roma, Konstantinopel dan Iskandar. Cerita-cerita di Sumatera dan semenanjung Malaysia mengasosiasikan Raja Rum, raja agung dari barat dengan Raja Cina, raja agung dari Timur.

Menurut cerita-cerita rakyat di Johor dan Minangkabau, Iskandar Zulkarnain atau Alexandre the Great mempunyai tiga anak dari anak perempuannya Ratu Samudera. Setelah sebuah kontes adu kesaktian antara ketiganya di Selat Singapura, yang tua mengembara ke barat dan menjadi Raja Rum, dan yang kedua mengembara ke timur dan menjadi Raja Cina sementara yang ketiga bertahan di Asia alias Johor untuk memulai sebuah Dinati Minangkabau.

Di abad ke-18, penguasah di Minangkabau mengklaim dirinya adik laki-laki dari penguasa di Rum dan Cina.
Salah satu legenda di masyarakat Gayo Batak juga terdapat mengenai kondisi seorang anak Raja Rum yang terdampar di pantai. Sementara itu dalam peradaban Batak sendiri secara umum, nama tersebut sangat sakti dan secara legenda sangat berpengaruh ke pemahaman supranatural bangsa Batak. Sebegitu perkasanya nama tersebut, sehingga, dengan mudahnya, Modigliani dari Italia, berbohong dan mengaku sebagai perwakilan dan reinkarnasi Raja Rum, yang begitu saja dipercayai oleh orang Batak secara tulus.

Namun di abad ke-16, mulailah orang-orang di Asia Tenggara mengerti seluk beluk Raja Rum yang misterius tersebut. Raja Rum yang dimaksud dalam legenda-legenda tersebut ternyata adalah Kesultanan Usmaniyah. Lucunya, bangsa Portugislah yang kemudian memaksan penduduk setempat untuk berhubungan dengan ‘Raja Rum’ di Turki tersebut. Kebengisan bangsa Portugis dan invasi ke Aceh di tahun 1498 yang memaksan Aceh melakukan hubungan diplomatik dengan Turki yang sangat misterius itu. Sebelumnya hubungan tersebut tidak dapat dilakukan kecuali melalui mitos-mitos dan legenda.

Di abad ke-15, rempah-rempah dari Sumatera hampir semuanya dimonopoli oleh Cina apalagi dengan hadirnya bajak-bajak laut Cina seperti Chuan-chou yang mengintimidasi pribumi untuk menjual hasil-hasil rempah hanya untuk dirinya sendiri. Sementara perdagangan ke arah barat terganggu dengan hadirnya kebengisan Portugis tersebut.

Namun pihak-pihak Sumatera dapat mempertahankan hubungan dagang mereka dengan India Selatan, sementara itu, komoditas-komoditas tersebut dijual lagi seterusnya ke Arab dan Afrika oleh orang-orang Gujarat dan pedagang Arab di sana ke Laut Merah dan pelabuhan Teluk Persia.

Rempah-rempah


Suasana peperangan di atas kapal. Sultan Muhammad II memimpin peperangan.

Kehadiran Potugis tersebut benar-benar membuat industri perkapalan serta alur pelayaran memburuk di tahun-tahun 1500 M, terutama kapal-kapal yang sudah dirampok ketika akan menuju Laut Merah, Mekkah atau Kairo. Lebih lanjut para perompak kapal tersebut bergerak maju dan menguasai Malaka pada tahun 1511, dan dari sini mereka melakukan intimidasi terhadap kesultanan-kesultanan kecil di Sumatera penghasil rempah-rempah.

Pada saudagar-saudagar yang menjadi korban kejahatan dan kebrutalan bangsa barbar Eropa tersebut, berlindung di daerah-daerah yang cukup kuat untuk memberikan perlindungan, seperti Aceh di Asia Tenggara, Calicut di India Selatan dan Turkey di Laut Merah. Turki sendiri sejak tahun 1512-1520 berhasil mengembalikan kedamaian di Laut Merah di pemeritahan Selim I.

* Selim I (1512-1520)

Namun, kedamaian tidak langsung dapat diciptakan. Kapal-kapal tersebut menjadi lebih berbahaya berlayar sendirian di lautan luas saat predator Portugis merampoknya. Berlayar sendirian bukanlah sebuah jalan keluar. Kapal-kapal dari Asia Tenggara menjadi sangat tidak mungkin untuk berlayar langsung sampai ke Kairo, Aleksandria dan Venice. Oleh karena itu, sebuah rute alternatif diciptakan oleh saudagar-saudagar Muslim, dimana kapal-kapal Gujarat, Arab dan Turki serta Aceh berlayar langsung ke Laut Merah dengan menghindari sarang bajak laut Portugis di pantai India khususnya di Goa.

Sejarah mencatat pelayaran pertama melalui jalur ini ke Laut Merah tahun 1530. Namun pada tahun 1560, hampir semua kapal-kapal Asia Tenggara ke Eropa dibajak oleh Portugis dan dibawa lari ke Lisbon melalui Cape. Aceh dan Turki, yang mempunyai kepentingan ekonomi yang sama, memulai berinisiatif untuk melakukan penyelesaian atas kebrutalan Portugis ini.

Sultan Usmaniyah, Sulaiman “the Magnificent” (1520-66) merupakan pimpinan pertama yang bersedia mengirimkan kekuatan tentaranya untuk mengembalikan kedamaian di Lautan Hindia. Pada tahun 1537, dia memerintahkan Gubernur Mesir, Sulaiman Pasha, untuk mempersenjatai kapal-kapal perangnya untuk menghalau para bangsa perompak tersebut.

Armada tersebut mencapai Gujarat dan berhadapan dengan kelompok bajak laut Portugis di Diu selama beberapa bulan di tahun 1538, namun usaha ini tidak membuahkan hasil. Namun beberapa pasukan dari ekspedisi ini berlayar sampai Asia Tenggara, saat Mendez Pinto, menggambarkan kehadiran mereka justru memperkuat Aceh dalam perangnya melawan orang Batak dan Portugis, dan juga membuat Aceh dapat membantu Demak dalam perang melawan kebengisan Portugis.

Sulit untuk menemukan bukti-bukti sejarah, dimana dan kapan orang Aceh berperang melawan Batak ini, seperti yang disebut Pinto. Namun besar kemungkinan yang dimaksud oleh Pinto adalah perang perluasan Aceh di Aceh sekarang ini, dimana mereka mesti berhadapan dengan penduduk Aceh yang dulunya memang serumpun dengan Batak. Mereka ini menganut Hindu kala itu. Besar kemungkinan yang dimaksud Batak tersebut adalah Batak Mante. Mante adalah pribumi aseli Aceh.

Tahun 1560-an, hubungan perdagangan rempah-rempah mencapai puncaknya. Beberapa sumber sejarah dari Venetia, Turki dan Aceh menyebutkan eksistensi kapal-kapal Aceh yang berlayar sampai ke Laut Merah.

Dokumen pertama yang ditemukan dalam misi Aceh ke Istambul bertanggal 1561-2. Dalam merespon surat tersebut pemerintah Turki saat itu mengirimkan delegasi teknisi ahli ke Aceh pada tahun 1564, dan benar-benar disambut oleh Aceh dalam sebuah surat balasan.

Dubes lainnya, Husain, memimpin rombongan dari Turki pada tahun 1566-8, bahkan sampai menghasilkan kerjasama kedua negara dengan sangat sukses. Kedua negara ini kemudian setuju untuk memberikan perlindungan kepada kapal-kapal yang berlayar ke Mekkah untuk melakukan ibadah haji dari kejahatan perang Portugis.

Orang-orang Asia mulai memahami karakter Eropa yang semakin sering menjarah bumi yang makmur tersebut. Aceh, setelah dijarah bertahun-tahun mulai melakukan kekuatan penuh dengan menggempur sarang Portugis di Malaka tahun 1568 dan tahun 1570 serta tahun 1573. Orang-orang India melalui kesultanan Bijapur, Golconda, Bidar dan Ahmadnagar menggalang kekuatan untuk menyerang sarang Portugis di Goa. Di Maluku, Sultan Baab Ullah dari Kesultanan Ternate (r. 1570-83) melemparkan bajak laut Portugis dari ‘spice island’ tersebut.

Mengenai hubungan antara Aceh dan Turki disebutkan oleh Nuruddin ar-Raniry:
Dia [Sultan Alau’d-Din Ria’ayat Shah al-Kahar] mencipatakan sistem pemerintahan Aceh Daru’s-Salam and mengirimkan utusan ke Sultan Rum, ke Istambul, untuk memperkuat daerah-daerah Islam. Sultan Rum mengirimkan beberapa teknisi dan ahli yang mengerti cara membuat senjata. Saat itulah senjata besar dibuat. Dia juga yang mendirikan Aceh Dar al-Salam. Dia juga yang memerangi orang kafir (Portugis) dengan pasukan yang dipimpinnya sendiri. (Bustan al-Salatin bab II, Fasal 13)

Diyakini melalui Aceh inilah teknologi senjata masuk ke tanah Batak. Sebuah pabrik senjata buatan orang-orang Batak telah didirikan di Lintong Nihuta, tanah Batak pada era pemerintahan Sisingamangaraja XI, pabrik inilah yang menjamin keberlangsungan perang gerilya Sisingamangaraja XII melawan Belanda selama bertahun-tahun sampai akhirnya dihancurkan Belanda. Sekarang ini sisa-sisa senjata ‘made in’ Batak tersebut sudah jarang ditemukan kecuali dalam gambar-gambar di buku sejarah dan antropologi. Sejak Ompu Sotaronggal (Sisingamangaraja VIII) sampai Sisingamangaraja XII hubungan diplomatik dan ekonomi antara Aceh dan Batak sudah lama terjalin pada puncaknya.

Mitos mengenai Raja Rum tersebut juga diyakini masuk melalui Aceh ini. Kemungkinan sumber lain juga tetap ada karena bangsa Batak banyak menjalin hubungan dengan bangsa-bangsa lain seperti Minangkabau dan lain-lain.

Mengenai Raja Cina, yang menjadi penguasa di Timur, diyakini masuk ke dalam peradaban Batak melalui ekspedisi armada Ceng Ho khususnya di Natal atau Singkuang. Dengan demikian kedua mitos tersebut yakni Raja Rum dan Raja Cina, tercipta berkat hubungan simbiosis mutualisme dan saling membangun antara peradaban di Asia Tenggara dengan kedua wilayah tersebut.

Sejarah Pembagiam waktu Indonesia

PEMBAGIAN WILAYAH WAKTU INDONESIA


Sejarah Pembagian wilayah waktu di Indonesia dimulai dengan terbitnya Keputusan Presiden RI. No.243 Tahun 1963 yang membagi Indonesia dalam 3 (tiga) wilayah waktu dan berlaku mulai 1 Januari 1964. Prinsip yang digunakan dalam pembagian wilayah waktu tersebut adalah :

1. Menuju kebentuk peraturan yang sesederhana mungkin.
2. Waktu Matahari sejati jangan sampai berbeda terlalu besar dengan waktu tolok,
terutama bagi kota-kota besar/penting.
3. Batas wilayah jangan sampai membelah suatu propinsi dan pulau.
4. Memperhatikan faktor – faktor agama, politik, kegiatan masyarakat dan ekonomi,
kepadatan penduduk, lalu lintas/perhubungan, sosio-psikologis serta
perkembangan pembangunan.

Maka saat itu diputuskan pembagian wilayah waktu sebagai berikut :

1. Waktu Indonesia Barat meliputi daerah – daerah Tingkat I dan Istimewa di
Sumatera, Jawa, Madura dan Bali dengan waktu tolok GMT+07.00 jam dan
derajat tolok 105° BT.
2. Waktu Indonesia Tengah meliputi daerah – daerah Tingkat I di Kalimanatan,
Sulawesi dan Nusa Ternggara dengan waktu tolok GMT+08.00 jam dan derajat
tolok 120° BT.
3. Waktu Indonesia Timur meliputi daerah – daerah Tingkat I di Maluku dan Irian
Jaya dengan waktu tolok GMT+09.00 jam dan derajat tolok 135° BT.

Pembagian wilayah waktu di Indonesia pada saat itu oleh beberapa pihak dirasakan sudah kurang tepat lagi sehubungan dengan perkembangan pembangunan seta kegiatan ekonomi yang makin mengingkat.Sebagai contoh kota Pontianak dan kota Tegal yang terletak dalam bujur yang sama, ternyata berbeda wilayah waktunya , yaitu Pontianak masuk dalam wilayah Waktu Indonesia Tengah dan Tegal Waktu Indoensia Barat. Demikian pula dengan Denpasar yang masuk dalam wilayah Waktu Indonesia Barat, sedangkan Banjarmasin dalam wilayah Waktu Indonesia Tengah.Maka akhirnya berdasarkan berbagai pertimbangan, maka diputuskan perubahan melalui Kep.Pres RI No.41 Tahun1987 dan berlaku mulai 1 Januari 1988 jam 00.00 WIB.

Pembagian waktu tetap menjadi 3 (tiga) bagian, yaitu Waktu Indonesia Barat (WIB), Wakatu Indonesia Tengah (WITA) dan Waktu Indonesia Timur (WIT) sesuai dengan pembagian waktu sebelumnya.Terhadap pulau Kalimantan dibagi menjadi dua wilayah, yaitu propinsi Kalimantan Barat dan Kalimanatan Tengah masuk wilayah kedalam wilayah Waktu Indoneisa Barat, sedangkan Propinsi Kalimantan Timur dan Kalimnatan Selatan tetap masuk wilayah Waktu Indonesia Tengah. Propinsi Bali dimasukan kedalam wilayah Waktu Indonesia Tengah.

Perubahan pembagian wilayah waktu di Indonesia ini pada dasarnya tidak akan menggangu pelaksanaan ibadah beragama, khususnya umat Islam. Hanya saja perubahan tersebut bagi daerah yang mengalami perubahan akan mempunya dampak berubahnya waktu sholat yang telah ditetapkan bagi daerah yang bersangkutan dan berubahnya waktu bayang-bayang yang dipedomani untuk penentuan arah kiblat.


Kesimpulan:


Peta Pembagian Daerah Waktu di Indonesia

Wilayah negara Indonesia sangat luas. Indonesia terletak pada garis bujur 950 BT sampai 1410 BT. Berdasarkan kesepakatan di atas, Indonesia dibagi menjadi tiga daerah waktu, yaitu Waktu Indonesia Barat (WIB), Waktu Indonesia Tengah (WITA), dan Waktu Indonesia Timur (WIT).
1. Waktu Indonesia Barat (WIB) mengikuti waktu pada bujur 1050 BT. Daerahnya meliputi Sumatra, Jawa, Madura, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Tengah. WIB dihitung tujuh jam lebih cepat dari GMT (Greenwich Mean Time, yaitu waktu matahari baku pada garis bujur 00).
2. Waktu Indonesia Tengah (WITA) mengikuti waktu pada garis bujur 1200 BT. Daerahnya meliputi Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi. WITA dihitung delapan jam lebih cepat dari GMT.
3. Waktu Indonesia Timur (WIT) mengikuti garis bujur 1350 BT. Daerahnya meliputi Kepulauan Maluku dan Irian Jaya. WIT dihitung sembilan jam lebih cepat dari GMT.

Sebagai contoh, bila di London pukul 00.00, maka di wilayah WIB misalnya di Jakarta pukul 07.00, di wilayah WITA misalnya di Makassar pukul 08.00, dan di wilayah WIT misalnya di Jayapura pukul 09.00. Selisih waktu antara WIB dan WITA adalah satu jam. Selisih waktu antara WIB dan WIT adalah dua jam. Selisih antara WITA dan WIT adalah satu jam. Contoh, bila di Medan pukul 07.00 berarti di Denpasar pukul 08.00 dan di Ambon pukul 09.00.