RAJA RUM YANG DIMAKSUD ADALAH RAJA DINASTI OTTOMAN

Betapa istilah Raja Rum Begitu melekat didalam mitos-mitos Melayu, termasuk Batak, bahkamn didalam mantera atau doapun selalu nama Raja Rum dilibatkan. Raja Rum, selain Raja Uti, mempunyai tempat khusus dalam sejarah peradaban Bangsa Batak. Kehormatan dan persembahan diberikan ke hadirat Raja Rum yang diyakini dapat memberi restu dan berkat bagi kelangsungan kerajaan

Siapa sebenarnya Raja Rum yang terkenal itu, Siapa sebenarnya orang yang setiap tahun katanya menerima persembahan dari raja-raja di tanah Batak, tidak terkecuali Dinasti Sisingamangaraja???
Diyakini informasi mengenai eksistensi Raja Rum, kalaupun belum pernah melakukan kontak peradaban dengan Batak, masuk ke tanah Batak, kemungkinan melalui dua jalur. Pertama melalui peradaban Batak pesisir di Barus, kedua melalui kerajaan Aceh yang merupakan sekutu dekat kerajaan Batak. Namun tidak tertutup kemungkinan informasi tersebut berasal dari selatan, yakni Minangkabau yang pernah rajanya memakai gelar Raja Mughal alias Mongol. Alasan melalui pesisir Barus, sudah sejak lama Minangkabau mempunyai hubungan dengan kerajaan Barus.

Didalam mitos kepercayaan orang Batak Bahwa Iskandar Agung (Raja Yunani dari tahun 336–323 SM) mempunyai tiga anak. Anak yang pertama menjadi Raja Stambul (juga disebut Raja Rum), anak kedua menjadi Raja Cina, dan anak ketiga menjadi Raja Minangkabau. Stambul adalah Istanbul (Konstantinopel) yang pernah menjadi ibu kota kerajaan Roma (=Rum). Pada abad ke-19 Istanbul menjadi ibu kota Kekaisaran Turki Ottoman.


Didalam laporan Nomensen kepada Belanda tentang Hubungan Pasukan Aceh (yang telah menjalin hubungan dengan kerajaan Ottoman) dengan Pasukan Raja Sisingamangaraja (istilah Nomensen Orang Toba) sbb: ”…… Sekarang kita kembali pada cerita perang: Pada akhir musim gugur [akhir November–pertengahan Desember] 1877 terdengar bermacam-macam desas-desus. Orang Batak yang kembali dari pesisir membawa kabar bahwa Raja Stambul[58] (Raja Konstantinopel) bersama dengan rakyatnya[59] akan datang ke Sumatra untuk bersekutu dengan orang Aceh kalau Kerajaan Ottoman tidak lagi bisa bertahan menghadapi Rusia.[60] Harinya bendera hijau nabi berkibar sudah ditetapkan dan umat Islam akan bangkit dan membunuh semua orang kafir dan Kristen. Setiap hari ada kabar angin baru. Terdengar orang Belanda tidak lagi mempunyai tentara dan akan kalah dalam perang Aceh.
[Hal.364] Khotbah kami tidak dipercayai oleh kaum kafir, mereka percaya pada cerita bohong itu dan saling menakuti satu sama lain. Bahkan beberapa orang Kristen meminta nasihat kepada kami. Kabar bahwa ada 40 orang Aceh masuk ke Toba membuat keadaan menjadi lebih parah lagi. Masyarakat menjadi makin resah dan mulai menggali harta bendanya. Lalu datang utusan Singamangaraja ke Silindung mengumumkan di pasar-pasar bahwa Singamangaraja akan datang bersama dengan orang Aceh dan membunuh orang Eropa dan orang Kristen. Kaum kafir tidak perlu khawatir asal bersikap netral. Raja yang beragama Kristen berunding dan mempertimbangkan menyerang utusan Singamangaraja dan membawanya ke Sibolga.[61] Mereka bertanya kepada kami apakah pemerintah akan membantu mereka sekiranya mereka diserang oleh kaum kafir Silindung. Tentu saja kami tidak bisa menjaminnya. Waktu mereka berunding utusan Singamangaraja ternyata sudah pergi, barangkali karena rencana mereka tidak berhasil atau karena mereka mendengar para raja Kristen hendak menangkapnya. Beberapa raja memperlihatkan kepada mereka keuntungan yang mereka peroleh dari adanya para penginjil: 1) tiada lagi Bonjol[62] (Melayu) yang datang mengganggu sejak kedatangan para penginjil, 2) para penginjil hanya berbuat baik seperti memberi obat, dan 3) sangat tolol kalau Singamangaraja sekarang mau bersekutu dengan mereka yang membunuh neneknya.[63] Mereka juga mengatakan akan menjaga keselamatan para penginjil. Setelah utusan Singamangaraja kembali mereka membeberkan berita bahwa orang Bonjol akan menyerang lagi, dan bahwa orang Silindung sudah bersekutu dengan orang Bonjol.[64] [Hal.365]”

Sebagai catatan : Hubungan diplomasi antara Aceh dan Turki berlanjut saat Dinasti Ottoman menyelamatkan kawasan Laut Merah dari teror pada bajak laut Eropa pada tahun 1520:
Orang Aceh, mengirim utusan ke Turki dan mengemukakan pengakuan mereka atas kedaulatan Turki dengan kepemimpinan Kalifah, mengakui posisi Sinan Pasha, dan memakai bendera Usmaniyah di pelabuhan-pelabuhan, dan mengumumkan posisi Kerajaan Aceh sebagai sekutu Usmaniyah dan melakukan kerja sama saling melindungi. Sultan Selim menyetujui usulan tersebut. Kerjasama tersebut diujudkan saat Sultan memerintahkan Wazir Sinan Pasha untuk memberikan meriam dan pedang kehormatan yang sampai sekarang masih ada di Aceh.Jadi sangat masuk Akkal issue yang dilaporkan Opung Nomensen kepada Belanda sangat perlu. Sesuatu yang berhubungan dengan Mitos umumnya sangat memotivasi perjuangan.

Iklan