Archive for Juni, 2011

Wahai Pemerintah tolonglah Serius Melindungi TKI?

Saksikan Pelaksanaan Hukuman Mati Ruyati binti Satubi:

SURABAYA – Sekira 6 Juta Tenaga Kerja Indonesia (TKI) tersebar di 48 Negera. Tiap tahun mereka mengirimkan uang kepada keluarganya hingga triliunan rupiah.

Pada tahun 2010, Bank Indonesia mencatat jumlah remitansi US$ 6,73 miliar atau sekira Rp60 triliun. Namun, Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan TKI memperkirakan jumlahnya secara keseluruhan di atas Rp100 triliun.

Sayangnya, negara tidak memberikan perlindungan yang setimpal atas besarnya devisa yang dikirim para pekerja migran tersebut. Walaupun, kepergian mereka ke luar negeri tak terlepas dari kegagalan pemerintah dalam menyediakan lapangan kerja.

“Banyaknya TKI itu tentunya harus membuat pemerintah sadar bahwa tidak bisa menyediakan lapangan kerja bagi warganya,” kata Manajer Migrant Institute Ali Yasin kepada okezone di kantornya, Jalan Ngagel Jaya Selatan, Surabaya, Rabu (29/6/2011).

Dia membandingkan dengan kebijakan pemerintah Filipina. Menurutnya, pemerintah di negera tersebut sangat sadar tidak bisa memberikan lapangan pekerjaan kepada warganya. Sehingga, warga yang bekerja di luar negeri memperoleh jaminan perlindungan yang maksimal dari negaranya. Hal itu ditunjukkan oleh mantan Presiden Filipina Gloria Macapagal Arroyo yang selalu turun langsung ke lapangan setiap ada persoalan yang membelit tenaga kerjanya.

Misalnya saat pekerja mogok di Brunei Darussalam. Presiden Filipina langsung bernegoisasi. Tak hanya, itu, Filipina juga berani mengambil risiko dengan cara memulangkan warganya yang bekerja di luar negeri jika tidak diberikan haknya di negara tujuan.

“Indonesia harusnya belajar dari pengalaman itu. Persoalan TKI adalah persoalan hubungan bilateral sebuah negara. Jadi yang turun jangan sekelas Menteri atau lembaga lain,” kata Ali. “Presiden lah yang harus turun. Jangan menyuruh anak buahnya.”

Apa tindakan Pemerintah Indonesia ,bila TK mati atau cacat di Negara Lain

JAKARTA (Suara Karya): Pemerintah diminta membuktikan kepedulian dengan segera menyelesaikan kasus tenaga kerja Indonesia (TKI) yang terancam hukuman mati di Arab Saudi dan negara Timur Tengah, serta sejumlah negara tujuan penempatan lainnya.

Pemerintah juga harus mengusut tuntas kasus TKI, khususnya pembantu rumah tangga (PRT) yang mengalami penganiayaan dan disiksa hingga mati. Terakhir, kasus tewasnya TKI Ernawati binti Sujono yang diduga akibat disiksa majikannya di Arab Saudi.

Direktur Eksekutif Migrant Care Anis Hidayah mengatakan, selain menyelesaikan kasus Ruyati binti Satubi yang dihukum pancung serta menyelamatkan puluhan TKI yang juga terancam dipancung, kasus kematian TKI Ernawati juga perlu diungkapkan oleh pemerintah. Dalam hal ini pemerintah terlihat tidak mampu melakukan penyelamatan terhadap Ernawati yang diduga dianiaya majikannya di Riyadh, Arab Saudi, hingga tewas.

“Yang menyakitkan, kenapa Kementerian Luar Negeri dan KBRI Riyadh melegitimasi informasi dari majikan bahwa Ernawati meninggal bukan karena disiksa. Bahkan dikatakan karena bunuh diri akibat minum racun. Padahal autopsi belum dilakukan. Fakta ini mempertegas instansi pemerintah terkait telah lalai memberikan perlindungan bagi TKI atau warga negara Indonesia di luar negeri,” kata Anis kepada wartawan di Jakarta kemarin.

Menurut dia, Ernawati meninggal pada 10 Februari 2010 akibat penganiayaan oleh majikannya. Berdasarkan kartu keluarga (KK), wanita kelahiran Kudus, 12 Agustus 1992, ini sebelum meninggal sempat melakukan kontak dengan keluarga pada akhir Desember 2010.

“Pada Januari 2011 Ernawati mengabarkan bahwa majikannya telah melakukan penganiayaan dengan memukul, menampar hingga mengakibatkan muntah darah. Selanjutnya, pada 31 Januari 2011 keluarga melaporkan masalah Ernawati ke Kemenlu dan BP2NTKI dengan harapan bisa dievakuasi dan menyelamatkan Ernawati,” tuturnya.

Berdasarkan laporan ini, seharusnya pihak pemerintah bisa melakukan langkah penyelamatan, sehingga korban bisa terhindar dari kematian. “Jadi, mengapa KBRI Riyadh tidak mampu menyelamatkan?” ucapnya.

Kakak perempuan Ernawati, Yenni Larasati (35), dalam keterangannya menyebutkan, sebelum dikabarkan meninggal, Ernawati sempat menyampaikan keluhan kerap dianiaya keluarga majikannya. Ernawati dipukul dengan selang air, ditampar, sampai ditendang. Sedangkan pelaku penganiayaan adalah majikan yang merupakan seorang janda, anak laki-laki majikan, hingga pasangan majikannya.

KEMATIAN ERNAWATI

Terakhir kali Ernawati menghubungi Yenni, 1 Februari 2011, atau 9 hari sebelum dikabarkan meninggal. Menurut Yenni, saat itu adiknya sedang menangis karena hendak diperkosa anak majikan. “Mbak, saya sudah tidak kuat lagi. Tolong, jaga Bapak sama Ibu,” kata Yenni mengulangi ucapan almarhumah adiknya. Untuk itu, Yenni percaya adiknya meninggal karena penganiayaan dan bukan karena minum racun.

Yenni menyampaikan harapan keluarganya agar proses hukum terhadap kasus kematian Ernawati dapat dilanjutkan. “Harapan saya, pelaku dihukum maksimal. Kalau membunuh orang itu hukumannya dipancung, ya, pembunuh Ernawati harus dipancung juga,” ujar Yenni.

Dalam surat tertanggal 12 Februari 2011 yang ditujukan kepada Kemenlu, menyusul kabar kematian Ernawati, ayah korban, Sujono, mengungkapkan, Ernawati bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Arab Saudi dan diberangkatkan PT Boughsan Labrindo yang berkantor di Ciracas, Jakarta Timur.

“Permintaan kami, usut tuntas dan adili pelaku penyebab kematian Ernawati. Pulangkan jenazahnya ke kampung halaman, berikan hak-hak baik gaji, asuransi dan lainnya yang melekat atas almarhum Ernawati,” ujarnya.

Lakukan Pembenahan

Pengurus Himpunan Pengusaha Kosgoro 1957 Dina Risjad mengatakan, persoalan yang dihadapi TKI di Arab Saudi dan negara lainnya, terutama terkait kasus kematian Ruyati dan Ernawati, mengharuskan pemerintah segera melakukan pembenahan agar peristiwa serupa tidak terulang. Selain pembenahan terkait kemampuan teknis TKI, juga diperlukan pembekalan spiritual dan pengetahuan tentang kehidupan sosial-budaya di negara tujuan penempatan. Ini agar TKI memiliki wawasan dan pengetahuan mengenai etika.

“TKI perlu juga diajari cara bersikap, beretika, dan nilai-nilai positif lainnya biar lebih sabar dan bijak. Untuk itu, perlu pelibatan lembaga kemasyarakatan dan keagamaan, misalnya MDI (Majelis Dakwah Indonesia) atau pesantren-pesantren,” kata Dina.

Selain itu, untuk melindungi TKI, pemerintah harus melakukan audit terhadap asuransi dan menindak tegas agen-agen nakal yang kerap membuat asuransi fiktif. Pemerintah juga harus bisa memastikan majikan sang TKI dan apakah sudah memenuhi kewajibannya.

Di lain pihak, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengatakan, Indonesia dan Arab Saudi sama-sama dapat menarik pelajaran berharga dari kasus tewasnya TKI Ruyati. Terutama untuk peningkatan hubungan kedua negara yang lebih baik ke depan. Hal ini ditegaskan Presiden SBY saat menerima Duta Besar Arab Saudi untuk Indonesia, Abdulrahman Mohammed Amen Aikhayyat, di Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa (28/6).

Menurut SBY, terlepas dari penghormatan Indonesia terhadap penerapan hukum di Arab Saudi, harus digarisbawahi pentingnya penginformasian rencana pelaksanaan eksekusi hukuman mati kepada Pemerintah Indonesia. Ini sesuai kebiasaan dan aturan internasional.

Tim 20

Menteri Hukum dan HAM Patrialis Akbar mengatakan, pihaknya akan memberangkatkan Tim 20 untuk mendalami berbagai masalah TKI di Arab Saudi. “Kita menyiapkan Tim 20 untuk mempelajari segala sesuatunya tentang Arab Saudi. Sesuai namanya, akan ada 20 orang yang segera dikirim ke sana (Arab Saudi),” katanya.

Dia menjelaskan, tugas Tim 20 mempelajari segala sesuatu yang berkaitan dengan TKI mulai dari sistem hukum, budaya, sosial, peradaban maupun sistem kekeluargaan hingga ekonomi. “Saya berharap Pemerintah Arab Saudi dapat memfasilitasi kita untuk bekerja di sana,” ujar Patrialis.

Dia juga mengungkapkan, Indonesia sudah menyampaikan sikap tegas terkait penempatan TKI ke Arab Saudi. Dalam hal ini Indonesia akan menghentikan sementara (moratorium) pengiriman TKI ke Arab Saudi mulai 1 Agustus 2011.

“Moratorium ini berlaku sampai Pemerintah Arab Saudi bisa memberikan satu jaminan terhadap TKI yang bekerja di sana. Mereka harus menjamin dapat memenuhi persyaratan-persyaratan bahwa TKI kita dapat bekerja pada majikan yang benar. Jadi, nanti akan ketat aturannya,” tuturnya.

Di sisi lain, Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Kemennakertrans) menyempurnakan standar kompetensi kerja nasional Indonesia (SKKNI) bidang tata laksana rumah tangga dan pengasuh. Terutama untuk TKI yang bekerja di sektor rumah tangga di luar negeri.

Untuk mempercepat proses penyempurnaan standar kompetensi ini, Mennakertrans Muhaimin Iskandar menginstruksikan Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan TKI (BNP2TKI) dan Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) untuk berkoordinasi. Khususnya dalam menyempurnakan SKKNI dan sertifikasi kompetensi untuk TKI pembantu rumah tangga.

“Pemerintah segera menuntaskan penmyempurnaan standar kompetensi untuk TKI dengan melibatkan ahli pakar hukum, bahasa, dan psikologi. Yang ditekankan adalah kematangan emosional, penguasaan bahasa, dan penguasaan aspek hukum. Ini dilakukan agar TKI bisa menyadari hak dan kewajibannya di negara penempatan,” tutur Muhaimin.

Muhaimin mengatakan, sebelum berangkat ke luar negeri, para TKI harus lulus tes dan memiliki sertifikasi kompetensi kerja. Dengan ini, TKI dapat bekerja dengan baik di lingkungan rumah tangga dengan menerapkan standar keselamatan dan kesehatan kerja.

“Selain menguasai keterampilan teknis yang berhubungan dengan urusan kerja rumah tangga, para TKI pun harus menguasai bahasa. Ini agar tidak menimbulkan masalah komunikasi serta mengerti hukum di negara penempatan,” ujarnya. (Indra/Hanif S/Andrian/Bayu)

Iklan

Kepercayaan Masyarakat akan keberadaan Gunung-Gunung di Jawa (Mistis Jawa)

Gunung Merapi meletus. Letusannya mengundang banyak tafsir. Di balik itu, Gunung Slamet dan Gunung Dieng di Jawa Tengah berstatus waspada. Juga Gunung Bromo dan Gunung Semeru di Jawa Timur. Tanda apakah gerangan?
Inilah kalkulasi mistik soal itu. Boleh percaya boleh tidak, tapi inilah kepercayaan sebagian masyarakat Jawa. Jika tidak percaya anggap ini bagian dari pengetahuan tentang budaya. Namun kalau percaya, begitulah nenek-moyang manusia Jawa melihat jaman ke depan melalui tanda-tanda. Dalam keyakinan Jawa, tertib jagat sangat penting. Itu dalil aksioma. Alam dan manusia ciptaanNya, dan satu serta yang lain tidak boleh mengganggu, gangguan bersifat destruktif. Sebab jika satu terganggu yang lain krodit. Dan kroditisitas itu bersifat cakramanggilingan. Berlaku asas roda pedati yang berputar. Pengganggu akan terganggu dan kena ganggu.
Dalam menggambarkan tertib dunia itu, manusia Jawa memampangkan melalui sketsa kuasa dan keraton. Keraton ini bisa ditafsir sebagai kerajaan atau negara. Keraton pertama disebut sebagai Keraton Manusia yang diperintah manusia. Keraton kedua adalah Keraton Api yang berupa gunung-gunung berapi. Dan keraton ketiga adalah Keraton Laut yang kekuasaannya di lautan.
Jika Keraton Manusia bisa ditafsir penguasanya sekarang adalah Sultan Hamengkubuwono X atau Susilo Bambang Yudhoyono sebagai Presiden Republik Indonesia yang bisa berganti-ganti, maka Kraton Api justru lebih permanen. Juga sinyal mistik yang ditangkap darinya.
Kraton Api ini dalam keyakinan itu terbagi dalam tiga grade. Grade pertama dipandegani trah Mataram dan trah Majapahit. Trah Mataram itu diidentifikasi manjing (tinggal) di Gunung Merapi. Itu tersurat jelas dalam babad, saat Pajang menyerang Mataram, Panembahan Senopati berbagi tugas dengan Ki Ageng Selo, dan Gunung Merapi meletus membinasakan pasukan Pajang (de Han & de Graff).

Sedang trah Majapahit manjing di Gunung Lawu. Itu bisa dirujuk dari keyakinan mokswa-nya Raja Brawijaya di Alang-Alang Kumitir di Candi Cetho, Jenawi, dan bukti sejarah Candi Sukuh sebagai area ritus sang raja sehabis lengser keprabon dan madeg pandhito. (Turun tahta sebagai raja dan menjadi pendeta).
Kelak ketika Islam kian subur menjamur di Tanah Jawa, maka Gunung Lawu mendapat sebutan baru sebagai areanya Sunan Lawu, yang konotasinya sama, mimikri Brawijaya. Untuk apologia mitos ini, maka dalam serat digambarkan bagaimana prosesi Brawijaya masuk Islam yang tidak disetujui Sabdo Palon Noyo Genggong sebagai penasehat spiritual Brawijaya. Juga diikuti ancaman ‘Sang Raja Demit’ ini kelak membinasakan Tanah Jawa di lima ratus tahun sejak Brawijaya jadi mualaf. Padahal sejarah mencatat, Brawijaya wafat dan diperabukan di Candi Brahu.

Grade kedua adalah Keraton Api sekadar sebagai tanda. Gunung yang berfungsi seperti ini adalah Gunung Slamet yang bertindak sebagai tetenger (tanda) adanya kebaikan. Gunung Dieng sebagai tetenger nikmatnya mereka yang melakukan kebaikan yang disimbolisasikan dengan Istana Kahyangan. Dan Gunung Bromo sebagai tetenger penggembira. Amuk akan tambah njegadrah (berkobar-kobar) jika Gunung Merapi meletus diikuti dengan letusan Gunung Bromo. Kalau ini terjadi, maka dalam keyakinan Jawa ada kemungkinan suksesi di Tanah Jawa terrealisasi.

Sedang grade ketiga adalah Kraton Api sebagai kekuatan konstruktif, pinandito, dan gunung sepuh (tua). Gunung yang masuk kategori ini adalah Gunung Kelud yang berada di wilayah Kediri dan Blitar. Gunung ini diyakini sebagai manjing Raja Jayabaya yang akan datang di akhir jaman yang dijemput senopati Tunggul Wulung.
Nama ini acap dikaitkan dengan Kristenisasi di daerah Mojowarno. Tokoh asal Pati sebagai cikal-bakal Kristen Jawi Wetan itu menyebut dirinya Kiai Tunggul Wulung yang kelak ‘melahirkan’ Kiai Sadrach (1835) yang mengamalkan sinkretisme Kristen. Dia merasa terdapat kemiripan antara Nabi Isa dan Raja Jayabaya, serta melakukan dakwah itu setelah turun dari bertapa di Gunung Kelud (van Akkeren).

Gunung lain yang masuk klasifikisai gunung tua adalah Semeru. Gunung ini simbol kearifan, kesaktian, dan peredam gejolak amarah. Gunung Semeru diyakini tempat bertapanya Semar. Tokoh wayang ini merupakan personifikasi orang Jawa yang sempurna. Berwatak rendah hati, sederhana, ikhlas menerima suratan miskin, hidup di desa, tapi punya kewaskitaan dan kesaktian luar biasa. Ini senjata pamungkas kalau sewaktu-waktu dinista dan dizalimi penguasa.

Sedang Kraton Laut diperintah perempuan dengan nama bervariasi tetapi satu. Ada yang menyebut Dewi Lanjar, Nyi Ratu Kidul, Nyi Roro Kidul, atau Nyi Loro Kidul. Dalam mitos tokoh ini dekat dengan Mataram. Konon pernah bertemu dengan Panembahan Senopati di Parang Kusumo, pernah sua dengan Sunan Kalijogo di Gua Langse, dan bercinta dengan Sultan Agung sambil mengitari dunia.
Namun itu semua hanyalah simbol. Ekspresi dari keyakinan Jawa tentang sangkan-paraning dumadi. Tentang asal dan akhir manusia. Dari pertemuan lingga (kemaluan laki-laki disimbolkan gunung) dan yoni (kemaluan perempuan disimbolkan lautan) menjadi embrio, lahir, hidup, dan kelak kembali ke asal tanah (serat wirid hidayat jati). Namun simbol-simbol yang sangat filosofis itu inheren terkandung perspektif kejadian yang akan datang. Tertib dunia yang konotasinya harmoni merupakan pakem soal itu. Artinya, sebelum amuk laut dan amuk gunung ini mereda, masih akan ada amuk pamungkasnya. Itu adalah amuk di jagat manusia.
Berdasar kepercayaan itu, maka hari ini dan hari-hari yang akan datang suasana panas akan melanda negeri ini. Keributan rentan tersulut. Manusia gampang terpancing emosi. Perselisihan diselesaikan melalui adu phisik. Dan dari sisi politik, rebut kekuasaan, perang intrik dan fitnah tak terhindarkan. Ritme ini terus meninggi sampai semuanya reda kembali. Lahir kembali harmonisasi Kraton Laut, Kraton Api, dan Kraton Manusia. Namun jika Gunung Merapi bertahan dengan letusannya sekarang disusul letusan Gunung Bromo, gunung-gunung lain di luar Jawa dan diimbangi dengan tenangnya Gunung Semeru, Gunung Dieng, Gunung Slamet, dan Gunung Kelud, maka ini yang sangat bahaya bagi ketentraman negeri ini. Sebab situasinya akan chaostis yang mungkin saja disusul suksesi.

Dan sebagai penutup, sekarang kita amati pergerakan amuk gunung yang puluhan berstatus waspada itu. Kita cocokkan prediksi serat-serat kuno itu masih mempunyai relevansi atau tidak sambil introspeksi diri agar tidak terpancing emosi. Selain itu, kita juga jangan terlalu percaya dengan suratan ini. Sebab hakekatnya para pujangga yang menuliskan itu sedang mengamalkan sastra puja. Suratan metafisis untuk menambah spirit sang raja.
Mari kita lihat, pantau, dan renungkan berbagai bencana yang sedang melanda negeri ini. Tentu, sambil berdoa.