Van Der Tuuk, nama lengkapnya adalah Herman Neubronner Van Der Tuuk  adalah kelahiran Asia tepatnya di Malaka dengan ayah berkebangsaan Jerman dan ibu  separoh Jerman dan separoh Indo, kemudian keluarga ini pindah ke Surabaya pada tahun 1836, sebagai akibat perjanjian London Tractak London tahun 1824 antara Belanda dan Inggeris, Malaka menjadi Wilayah Inggeris, Van Der Tuuk disekolahkan di Belanda pada tahun 1840 pada umur 16 tahun , ia mulai kuliah hukum Groningen dan Leiden. Disana dia mempelajari bahasa Arab,Farsi dan Sansekerta.

Karena Bakatnya yang luar biasa dibidang bahasa, dia mampu mempelajari satu bahas dalam waktu relative singkat yakni 3 bulan saja, oleh karena nya dia diterima kerja di Nederlands Bijbel Genootschap (NBG) untuk meneliti bahasa-bahas  Batak dan menerjemahkan Injil. Selama berada di tanah Batak (1851-1857),Van Der Tuuk menerjemahkan sebagian dari Kitab Injil kedalam bahasa Toba, menyusun kamus bahasa Batak (Mandailing,Toba dan Pakpak)-Belanda, menyusun tatabahasa toba yang menjadi terkenal sebagai tata bahasa pertama yang ilmiah di Hindia Belanda, dan menyusun pula sebuah kumpulan cerita rakyat dalam bahasa Toba,Mandailing dan Pakpak

Meskipun NBG mengetahui Van Der Tuuk adalah seoranf atheis,berkat kemampun inteleknya NBG tetap mempergnakannya, meskipun Van Der Tuuk sering menghina para penginjil dengan kata-kata “pengobral buku murahan”, namun dia tetap setia kepada NBG. Walaupun seorang atheis Van Der Tuuk sependapat dengan Junghuhn bahwa orang Batak harus diinjilkanuntuk membendung pengaruh Islam dibagian utara pulau sumatera

Pada tanggal 23 Agustus 1856,dimana Van der tuuk sudah hamper selesai meneliti bahasa Batak (menulis sebuah kamus /1864-sebuah tata bahasa/1867,beberapa buku bacaan/1860 dan perjanjian baru dalam tujuh bagian/1853,1859),NBG mengirim surat kepada menteri Urusan Jajahan untuk member tahu bahwa NBG telah mengadakan penelitian atas bahasa Batak dan hendak menyebarkan agama Kristen untuk menghindari agama Islam dapat masuk ke tanah Batak.Mengingat bahwa Islam pada hakikatnya bersifat anti Belanda maka peng Kristenan orang Batak juga menjadi kepentingan pemerintah.Oleh karena itu NBG meminta agar pemerintah Hindia Belanda jangan menggunakan huruf Arab  dalam mata pelajaran bahasa melayu.Mereka minta agar para pegawai negeri hendaknya diangkat dari kalangan Batak Kristen dan agar mereka berbahasa Batak dan bukan bahasa Melayu dikantor.

dikutip dari tulisan Uli Kozok