Latar Belakang

Kebudayaan merupakan suatu proses belajar yang kompleks. Proses belajar tersebut biasanya menghasilkan bentuk-bentuk baru dengan mengakumulasikan pengetahuan dan keterampilan.

Misalnya, dalam bidang kesenian manusia terusmenerus mencari bentuk-bentuk ekspresi baru.

Proses mencari bentuk ini, tidak berarti bahwa setiap proses belajar selalu menghasilkan bentukbentuk baru bersifat positif. Konsep trial and error menjadikan manusia lebih bijaksana yang menjadikan kesalahan dan kekeliruan mempunyai manfaat. Kebudayaan sebagai suatu proses belajar tidak menjamin kemajuan dan perbaikan yang sejati (Peursen, 1988:144).

Kebudayaan adalah semua tindakan dan hasil yang dilakukan oleh manusia yang memberi arti kepada alam sekitarnya. Dengan kata lain,kebudayaan merupakan wujud usaha dan hasil manusia untuk mempertahankan hidupnya di alam realitas dengan daya pikirnya (Poedjawajatna,1987:134). Dengan demikian, jika ingin memahami manusia sebaik mungkin maka harus sesuai dengan konteks kebudayaan. Hal ini harus dimaklumi karena kebudayaan merupakan ruang lingkup dimana manusia harus hidup. Artinya, kebudayaan merupakan dimensi hidup dengan tingkah laku manusia. Manusia lahir, tumbuh, dan berkembang bukan hanya ditentukan oleh lingkungan tetapi harus didukung oleh kebudayaannya. Hardiman (1993:115-116) mengatakan, ”Manusia adalah sejenis hewan yang tidak terspesialisasikan. Secara biologis, struktur organis, dan fisiologis, manusia tidak ditentukan lingkungannya”. Begitu erat hubungan manusia dengan kebudayaannya sehingga manusia pada hakekatnya disebut makhluk berbudaya. Jadi, kebudayaan adalah segala sesuatu yang menyangkut aktivitas manusia dalam kehidupannya.

Seni adalah salah satu dari unsur kebudayaan, merupakan kemampuan seseorang atau kelompok orang untuk menciptakan implus melalui salah satu unsur panca indra atau mungkin juga melalui kombinasi dari berbagai unsur panca indra, menyentuh rasa halus akan lingkungannnya sehingga lahir rasa dan nilai-nilai keindahan.

Dengan demikian terjadilah suatu hasil karya seni.  Salah satu dari jenis kesenian tersebut adalah seni sastra yang di dalamnya terdapat tradisi lisan. Tradisi lisan merupakan kebiasaan-kebiasaan leluhur yang disampaikan secara lisan dan disampaikan secara turun-temurun. Tradisi lisan terdiri dari beberapa jenis yang apabila dipaparkan masih dapat dikelompokkan ke dalam bentuk, seperti bahasa rakyat, ungkapan tradisional, cerita rakyat, pertanyaan tradisional, sajak atau puisi rakyat, dan nyanyian rakyat (Danandjaya, 1984:22).

Masyarakat Batak Toba memiliki salah satu tradisi lisan yang dapat dikelompokkan ke dalam bentuk puisi lama, bernama umpasa.

Umpasa digubah dengan syarat-syarat berbait, bersajak, dan berirama, serta diperkeras lagi dengan jumlah baris dan suku kata tertentu. Katakata yang tersusun dalam bentuk kalimat pada umpasa mengandung nilai kepuitisan, berisi falsafah hidup, etika kesopanan, undang-undang, dan kemasyarakatan. Umpasa lebih cenderung berisi permohonan yang menjadi cita-cita hidupsetiap masyarakat Batak Toba, berupa hagabeon (kebahagiaan), hamoraon (kekayaan), hasangapon (dihormati), dan saur matua (panjang umur dan sejahtera).

Penggunaan umpasa dilakukan ketika upacara adat perkawinan berlangsung sebagai media komunikasi dan permohonan kepada Tuhan Yang Mahaesa bagi kelompok-kelompok yang mempunyai andil pada upacara adat tersebut.

Suasana akan menjadi hidup apabila pembicara dari kelompok-kelompok yang terkait menggunakan umpasa dengan fasih dan berirama sambil menunjukkan kebolehannya sebagai symbol bahwa kelompok tersebut mengerti dan memahami upacara adat dengan baik.

 

Ulos adalah selembar kain yang ditenun sebagai kerajinan oleh wanita dengan berbagai pola dan aturan-aturan. Ulos merupakan ciri khas kebudayaan Batak Toba tradisional berwujud kebudayaan artefaks (konkrit). Sebelum masuknya agama Kristen pada masyarakat Batak Toba, ulos adalah benda yang diresapi oleh suatu kualitas/kekuatan “magis religius”. Oleh karena itu, banyak larangan dan pantangan yang tidak boleh diabaikan ketika proses penenunan karena diberkati dengan kekuatan keramat.

Panjangnya harus tertentu, jika tidak, dapat mambawa maut dan kehancuran pada “tondi” atau roh sipenerima ulos.

 Akan tetapi, jika ulos dibuat sesuai dengan aturan berupa ukuran dan pola tertentu maka ulos akan dapat dijadikan sebagai pembimbing dalam kehidupan.

Secara umum pembuatan ulos adalah sama, yang membedakannya adalah nama, corak atau motif, dan sifat kedudukan pemakaiannya yang harus sesuai dengan jenis upacara adat ketika memberikannya. Walaupun mempunyai perbedaan, akan tetapi pemberian ulos selalu diartikan dan dihubungkan dengan makna simbolsimbol.

Ulos dianggap sebagai medium konkrit sebagai “materai” agar permohonan direstui oleh Tuhan Yang Mahaesa, bersamaan dengan penggunaan umpasa yang berisi permohonan sehingga permohonan tersebut dapat diterima oleh tondi (roh) dan daging (tubuh).

  Perumusan Masalah

Berdasarkan uraian-uraian di atas, dapat diambil suatu rumusan masalah. Adapun masalah yang dapat dirumuskan adalah apakah makna simbolsimbol yang terdapat pada upacara perkawinan Batak Toba?

 Tujuan Pembahasan

Tujuan dari hasil pembahasan pada karya ilmiah ini adalah untuk mengetahui makna simbol-simbol yang terdapat ketika upacara perkawianan Batak Toba.

 Landasan Teori

Teori yang digunakan pada pembahasan adalah teori interaksi simbolik yang bercikal bakal dari faham fenomenologi, berusaha memahami tentang suatu “gejala” erat hubungannya dengan situasi, kepercayaan, motive pemikiran yang melatarbelakangi.

Moeleong, (2000:9) mengatakan, ”Penekanan kaum Fenomenologis adalah aspek subjektif dari perilaku orang. Mereka berusaha masuk ke dalam dunia konseptual para subjek yang ditelitinya sehingga mereka mangerti apa dan bagaimana suatu pengertian yang dikembangkan di sekitar peristiwa dalam kehidupannya sehari-hari.”

Selanjutnya teori interaksi simbolik berpandangan bahwa seseorang berbuat dan bertindak bersama dengan orang lain, berdasarkan konsep makna yang berlaku pada masyarakatnya; makna itu adalah produk sosial yang terjadi pada saat interaksi; aktor sosial yang terkait dengan situasi orang lain melalui proses interpretasi atau tergantung kepada orang yang menafsirkannya.

Blumer (dalam Zeitlin, 1998:331-332) mengatakan, Karakter interaksi khusus yang berlangsung antar manusia. Aktor tidak semata-mata bereaksi terhadap tindakan yang lain tetapi dia menafsirkan dan mendefenisikan setiap tindakan orang lain. Respon aktor baik secara langsung maupun tidak selalu didasarkan atas penilaian makna tersebut. Oleh karenanya, interaksi manusia dijembatani oleh penggunaan symbolsimbol penafsiran atau dengan menemukan makna tindakan orang lain.

 PEMBAHASAN

Sistem kemasyarakatan Batak Toba tertuang dalam kerangka konsep Dalihan na Tolu, artinya tungku nan bertiga. Ketiga kaki tungku masing-masing mempunyai fungsi dan kedudukan yang tidak boleh dipisahkan dan dipertukarkan untuk menjaga keseimbangan. Ketiga unsur Dalihan na Tolu terdiri dari;

Pertama, Dongan Sabutuha artinya pihak terdiri dari turunanan laki-laki satu leluhur.

Kedua, Boru artinya pihak penerima dara/perempuan mulai dari anak, suami, orang tua

dari suami. Ketiga, Hula-hula artinya pihak berdasarkan para turunan pemberi dara atau istri.

Penentuan dari sistem kemasyarakatan Batak Toba ditarik berdasarkan garis patrilineal atau garis Ayah yang setiap orang atau individu diwariskan marga. Marga adalah identitas klan atau keturunan yang diteruskan oleh laki-laki, sedangkan perempuan hanya terbatas pada individunya saja tidak sampai kepada anak-anaknya karena anak-anaknya akan mengikuti garis keturunan ayahnya (patrilineal). Patrilinial dijadikan acuan untuk menentukan posisi dalam sistem kemasyarakatan. Pergaulan dalam system kemasyarakatan Batak Toba dikatakan demokrasi, artinya setiap individu diberikan kebebasan untuk menentukan posisi kedudukannya terhadap orang lain sesuai dengan identitas marga. Apakah sebagai Dongan Sabutuha, Boru, dan Hula-hula.

Apabila seseorang telah menentukan atau mengetahui posisinya, maka dia akan menentukan sikapnya. Apabila sebagai Dongan Sabutuha hendaklah selalu seia-sekata, seperasaan, sepenanggungan, bagaikan saudara kandung dan selalu bekerja sama dalam upacara adat, maupun dalam kehidupan sehari-hari. Apabila sebagai Boru wajib menghormati Hula-hula karena Hula-hula dianggap mempunyai sahala”wibawa Roh” untuk memberikan berkat kepada pihak Boru. Demikian juga jika sebagai Hula-hula harus elek ”sayang” kepada Boru agar wibawanya bertambah kualitasnya.

Pada setiap upacara perkawinan ketiga unsur Dalihan na Tolu harus hadir dan berembuk untuk melaksanakan hak dan kewajibannya sesuai adat yang berlaku dan ada beberapa proses yang sudah dilaksanakan sebelumnya. Hak dan kewajiban dirangkum ke dalam beberapa kegiatan yang mempunyai simbol, tetapi pada kesempatan ini hanya tiga simbol besar secara umum yang dibicarakan yaitu penggunaan umpasa, pemberian mahar, dan pemberian ulos.

 Penggunaan Umpasa pada Upacara Adat Perkawinan Batak Toba

 

Masyarakat Batak Toba Tradisional adalah masyarakat tertutup yang tidak dapat mengatakan sesuatu dengan langsung. Ada suatu “nilai” yang sangat dipegang teguh oleh masyarakatnya sehingga untuk mengatakan sesuatu harus dilapisi dengan kata-kata yang membuat maknanya tersamar tetapi cukup dimengerti. Biasanya mereka menggunakan umpama (perumpamaan) dan umpasa (pantun) untuk mengatakan sesuatu kepada seseorang atau kelompok ketika melakukan komunikasi. Pengertian umpama dan umpasa tidaklah dapat disamakan seutuhnya dengan perumpamaan dan pantun di dalam kesusastraan Indonesia. Apabila ditinjau dari segi bentuk dapat dikatakan sama, tetapi apabila ditinjau dari segi makna atau gagasan yang ingin dikemukakan maka akan terjadi perbedaan karena umpama dan umpasa menekankan makna bernilai budaya dengan membandingkan sifat-sifat, kebiasaan, karakteristik, perilaku suatu binatang, tumbuhtumbuhan, dan benda-benda yang terdapat di sekililing masyarakat Batak Toba, Misalnya:

Napuran tano-tano

“Sirih yang masih menjalar di tanah

Rangging masi ranggongan

Menjalar saling tindih-menindih

Badanta padao-dao

Tubuh kita saling berjauhan

Tondintai masigonggoman

Roh kita saling berdekapan”

Umpasa di atas merupakan perbandingan kebiasaan tumbuh-tumbuhan dengan kepercayaan terhadap manusia yang memiliki roh. Umpasa terdiri dari empat baris, bersajak aa/aa atau ab/ab.

Dua baris pertama merupakan sampiran dan dua baris terakhir berisi isi. Antara sampiran dan isi terdapat hubungan yang sangat halus dan harus dimaknai dalam konsep budaya.

Umpasa ini mempunyai nilai religi tradisional yang membandingkan sifat daunan sirih dengan pemahaman religi terhadap manusia yang terdiri dari dua unsur, yaitu tubuh dan roh.

Kebiasaan dari daunan sirih apabila masih menjalar di tanah (belum menjalar di pohon atau di tembok) akan saling tindih-menindih satu dengan lainnya. Demikian jugalah halnya kebiasaan daunan sirih itu dibandingkan dengan manusia, walaupun tubuhnya saling berjauhan tetapi rohnya akan saling tindih-menindih dan berdekapan satu dengan yang lain.

Eme sitamba tua

” Padi yang merunduk

Parlinggoman ni si borok

Tempat perlindungan berudu

Tuhanta na martua

Tuhan kita yang Esa

Sudena hita diparorot

Semua kita dilindungi”

Umpasa di atas, membandingkan kebiasaan binatang dengan kepercayaan terhadap ke-Esaan Tuhan. Antara sampiran dan isi mempunyai hubungan yang sangat dekat sekali dengan “sifat memberikan perlindungan”. Pada sampiran, diuraikan sifat batang padi yang bernas akan selalu merunduk sehingga keadaan permukaan air di bawah pohon padi terlindung.

Keadaan tersebut dimanfaatkan berudu untuk berlindung dari panas matahari atau intaian dari semua pemangsa. Selanjutnya, pada isi dijelaskan ke-Esaan Tuhan pancipta langit dan bumi yang telah melindungi semua umat manusia. Oleh karena itu, Tuhanlah tempat perlindungan manusia.

Balintang ma pagabe

“Balintang adalah pagabe

Tumundalhon sitadoan

Membelakangi sitadoan

Ari muna do gabe

Kehidupan akan sejahtera

Molo masipaolo-oloan

Apabila seia-sekata”

Umpasa di atas, membandingkan cara kerja sistem peralatan bertenun dengan kehidupan manusia yang saling tolong menolong. Pada sampiran dijelaskan sistem kerja alat bertenun saling membantu satu dengan yang lain, sehingga dapat menghasilkan ulos yang kaya akan “nilai” budaya. Pada isi, diharapkan kepada keluarga yang mempunyai hajatan agar selalu seia-sekata atau bermusyawarah/mufakat dalam segala hal. Dengan demikian, kehidupan akan damai sejahtera karena saling tolong-menong atau salingtopangmenopang.

Perumpamaan “Sise mula hata, topot mula uhum” yang mempunyai arti sapa merupakan dari awal pembicaraan, mengunjungi awal dari suatu hukum. Perumpamaan ini, masih melekat pada masyarakat Batak Toba pada saat ini. Setiap pelaksanaan upacara adat akan mengaplikasikannya dalam bentuk pembicaraan,dimana akan terjadi sapaan dan jawaban yang berkenaan dengan konteks adat yang berlangsung.

Tentu saja pembicaraan yang digunakan bukanlah menggunakan bahasa sehari-hari tetapi menggunakan umpama/umpasa yang puitis dan tertutup dengan keterusterangan sehingga kesannya berbelit-belit apabila dipandang sebelah mata.

Penggunaan umpasa ketika upacara adat perkawinan Batak Toba mempunyai makna simbolik sebagai bahasa komunikasi diantara pihak-pihak yang berkompoten untuk membicarakan segala sesuatu yang berhubungan dengan pelaksanaan upacara. Setiap pembicara dari suatu utusan, pada awalnya selalu menutupi keinginannya bersembunyi dalam umpasa yang memiliki simbol. Keinginan-keinginan akhirnya, akan terjawab karena pembicara-pembicara dari utusan sudah dapat menangkap keinginankeinginan tersebut karena mereka sudah biasa melakukannya.

Selain sebagai bahasa komunikasi diantara pembicara dari setiap utusan, umpasa dapat juga berperan sebagai sarana bermohon kepada Tuhan Yang Mahaesa. Permohonanpermohonan tersebut selalu dikaitkan dengan keinginan dan kepentingan serta harapan-harapan yang diinginkan atau dicita-citakan oleh setiap orang/keluarga.

Secara umum penggunaan umpasa ketika upacara adat perkawinan, jumlahnya selalu ganjil dapat terdiri dari 3, 5, dan 7 untai umpasa, tergantung kepada orang yang menggunakannya karena angka-angka tersebut pada masyarakat Batak mempunyai pengertian yang baik, seperti yang terdapat di bawah ini:

Andor halumpang ma,

“Tumbuhan merambat halumpang,

Bahen togu-togu ni lombu,

Digunakan pengikat hidung lembu,

Saur matua ma hamu,

Semoga panjang umur kalian

Ro dinapairing-iring pahompu.

Sampai membimbing cucu”.

Sai tubu ma tambisu,

“Tumbuhlah pohon tembisu,

Di toru ni pinasa,

Di bawah pohon nangka,

Sai tubu ma dihamu anak na bisuk,

Lahirlah putra yang bijaksana,

Dohot boru na uli basa.

Dan putri yang cantik dan baik budi”.

Tubu ma dingin- dingin,

“Tumbuhlah pohon penyejuk,

Di tonga-tonga ni huta,

Di tengah-tengah perkampungan,

Saur ma hita madingin,

Semogalah kita berbahagia,

Tumangkas hita mamora.

Serta memiliki harta kekayaan”.

Eme sitamba tua,

“Padi si tamba tua,

Parlinggoman ni siborok,

Tempat perlindungan berudu,

Luhut ma hita martua,

Semua kita panjang umur

Debata ma na marorot.

Dilindungi Tuhan Yang Mahaesa”.

Sahat-sahat ni solu,

“Sampailah biduk,

Sai sahat ma tu bontean,

Sampai ke tepian,

Leleng hita mangolu,

Semoga panjang umur,

Sai sahat ma tu panggabean.

Tercapailah cita-cita dan tujuan”.

Umpasa ini selalu digunakan oleh pihak hula-hula ketika melaksanakan upacara adat perkawinan pada masyarakat Batak Toba. Umpasa mempunyai makna simbolik agar keluarga yang dibentuk mendapat berkat berupa hagabeon (memiliki putra dan putri), hamoraon (memiliki kekayaan harta benda), hasangapon (memiliki Wibawa dan terpandang), dan saur matua (panjang umur dan dapat mencapai cita-cita). Apabila umpasa ini selesai dikatakan oleh seseorang maka seluruh hadirin menjawab dengan kata Ima tutu (demikianlah adanya).

Pada akhir acara adat perkawinan, setelah semua pihak Hula-hula selesai memberikan ulos, petuah, dan kata-kata berkat/harapan kepada pengantin dan kepada semua pihak paranak, maka pihak paranak akan menjawab segala kebaikan atau kemurahan hati Hula-hula yang telah

 

bersambung—–