Archive for Agustus 21st, 2012

Sistem Kekarabatan Batak

Ada tiga bagian kekerabatan, dinamakan ” Dalihan Na Tolu ” ( Dalihan Na Tolu juga akan saya tuliskan lengkap pada kesempatan mendatang ). Adapun isi :

  • Manat mardongan tubu = hati-hati bersikap terhadap dongan tubu
  • Elek marboru = memperlakukan semua perempuan dengan kasih
  • Somba marhulahula = menghormati pihak keluarga perempuan

Yang dimaksud dengan dongan tubu ( sabutuha ) :

  1. Dongan sa-ama ni suhut = saudara kandung
  2. Paidua ni suhut ( ama martinodohon ) = keturunan Bapatua/Amanguda
  3. Hahaanggi ni suhut / dongan tubu ( ompu martinodohon ) = se-marga, se-kampung
  4. Bagian panamboli ( panungkun ) ni suhut = kerabat jauh
  5. Dongan sa-marga ni suhut = satu marga
  6. Dongan sa-ina ni suhut = saudara beda ibu
  7. Dongan sapadan ni marga ( pulik marga ), mis : Tambunan dengan Tampubolon ( Padan marga akan saya tuliskan juga nanti, lengkap dengan ‘Padan na buruk’ =sumpah

mistis jaman dulu yang menyebabkan beberapa marga berselisih, hewan dengan marga, kutukan yang abadi, dimana hingga saat ini tetap ada tak berkesudahan )

Kata-kata bijak dalam berhubungan dengan dongan sabutuha :

  • Manat ma ho mardongan sabutuha, molo naeng sangap ho
  • Tampulon aek do na mardongan sabutuha
  • Tali papaut tali panggongan, tung taripas laut sai tinanda do rupa ni dongan

Yang dimaksud dengan boru :

  1. Iboto dongan sa-ama ni suhut = ito kandung kita
  2. Boru tubu ni suhut = puteri kandung kita
  3. Namboru ni suhut
  4. Boru ni ampuan, i ma naro sian na asing jala jinalo niampuan di huta ni iba = perempuan pendatang yang sudah diterima dengan baik di kampung kita
  5. Boru na gojong = ito, puteri dari Amangtua/Amanguda ataupun Ito jauh dari pihak ompung yang se-kampung pula dengan pihak hulahula
  6. Ibebere/Imbebere = keponakan perempuan
  7. Boru ni dongan sa-ina dohot dongan sa-parpadanan = ito dari satu garis tarombo dan perempuan dari marga parpadanan ( sumpah ).
  8. Parumaen/maen = perempuan yang dinikahi putera kita, dan juga isteri dari semua laki-laki yang memanggil kita ‘Amang’

Kata-kata bijak dalam berhubungan dengan boru :

– Elek ma ho marboru, molo naeng ho sonang
– Bungkulan do boru ( sibahen pardomuan )
– Durung do boru tomburon hulahula, sipanumpahi do boru tongtong di hulahula
– Unduk marmeme anak, laos unduk do marmeme boru = kasih sayang yang sama terhadap putera dan puteri
– Tinallik landorung bontar gotana, dos do anak dohot boru nang pe pulikpulik margana

Kata-kata bijak perihal bere :

Amak do rere anak do bere, dangka do dupang ama do tulang
Hot pe jabu i sai tong do i margulanggulang, tung sian dia pe mangalap boru bere i sai hot do i boru ni tulang

Yang dimaksud dengan hulahula :

  • Tunggane dohot simatua = lae kita dan mertua
  • Tulang
  • Bona Tulang = tulang dari persaudaraan ompung
  • Bona ni ari = hulahula dari Bapak ompung kita ( rumit). Pokoknya, semua hulahula yang posisinya sudah jauh di atas, dinamai Bona ni ari.
  • Tulang rorobot = tulang dari lae/isteri kita, tulang dari nantulang kita, tulang dari ompung boru lae kita dan keturunannya. Boru dari tulang rorobot tidak bisa kita nikahi, merekalah yang disebut dengan inang bao.
  • Seluruh hulahula dongan sabutuha, menjadi hulahula kita juga ( ya ampunnn )

Kata-kata bijak penuntun hubungan kita dengan hulahula :

  • – Sigaiton lailai do na marhulahula, artinya ; sebagaimana kalau kita ingin menentukan jenis kelamin ayam (jantan/betina ), kita terlebih dulu menyingkap lailai-nya dengan ati-hati, begitupula terhadap hulahula, kita harus terlebih dulu mengetahui sifat-sifat dan tabiat mereka, supaya kita bisa berbuat hal-hal yang menyenangkan hatinya.
  • Na mandanggurhon tu dolok do iba mangalehon tu hulahula, artinya ; kita akan mendapat berkat yang melimpah dari Tuhan, kalau kita berperilaku baik terhadap hulahula.
    – Hulahula i do debata na tarida
    – Hulahula i do mula ni mata ni ari na binsar. Artinya, bagi orang Batak, anak dan boru adalah matahari ( mata ni ari ). Kita menikahi puteri dari hulahula yang kelak akan memberi kita hamoraon, hagabeon, hasangapon, yaitu putera dan puteri (hamoraon, hagabeon, hasangapon yang hakiki bagi orang Batak bukanlah materi, tetapi keturunan,selengkapnya baca di ‘Ruma Gorga’ )
  •  Obuk do jambulan na nidandan baen samara, pasupasu na mardongan tangiang ni hulahula do mambahen marsundutsundut so ada mara
  •  Nidurung Situma laos dapot Porapora, pasupasu ni hulahula mambahen pogos gabe mamora

Nama-nama partuturon dan bagaimana kita memanggilnya ( ini versi asli, kalau ternyata dalam masa sekarang kita salah menggunakannya, segeralah perbaiki ) (sekali lagi,kita semua memposisikan diri kita sebagai laki-laki )

A. Dalam keluarga satu generasi :

(1) Amang/Among : kepada bapak kandung
(2) Amangtua : kepada abang kandung bapak kita, maupun par-abangon bapak dari dongan sabutuha, parparibanon. Namun kita bisa juga memanggil ‘Amang’ saja
(3) Amanguda : kepada adik dari bapak kita, maupun par-adekon bapak dari dongan sabutuha, parparibanon. Namun bisa juga kita cukup memanggilnya dengan sebutan “Amang’ atau ‘Uda’
(4) Haha/Angkang : kepada abang kandung kita, dan semua par-abangon baik dari amangtua, dari marga
(5) Anggi : kepada adik kandung kita, maupun seluruh putera amanguda, dan semua laki-laki yang marganya lebih muda dari marga kita dalam tarombo. Untuk perempuan yang kita cintai, kita juga bisa memanggilnya dengan sebutan ini atau bisa juga ‘Anggia’
(6) Hahadoli : atau ‘Angkangdoli’, ditujukan kepada semua laki-laki keturunan dari ompu yang tumodohon ( mem-per-adik kan ) ompung kita
(7) Anggidoli : kepada semua laki-laki yang merupakan keturunan dari ompu yang ditinodohon ( di-per-adik kan ) ompung kita, sampai kepada tujuh generasi sebelumnya. Uniknya, dalam acara ritual adat, panggilan ini bisa langsung digunakan ( tidak perlu memakai Hata Pantun atau JagarJagar ni hata : tunggu artikel berikut )
(8) Ompung : kepada kakek kandung kita. Sederhananya, semua orang yang kita panggil dengan sebutan ‘Amang’, maka bapak-bapak mereka adalah ‘Ompung’ kita. Ompung juga merupakan panggilan untuk datu/dukun, tabib/Namalo.
(9) Amang mangulahi : kepada bapak dari ompung kita. Kita memanggilnya ‘Amang’
(10) Ompung mangulahi: kepada ompung dari ompung kita
(11) Inang/Inong : kepada ibu kandung kita
(12) Inangtua : kepada isteri dari semua bapatua/amangtua
(13) Inanguda : kepada isteri dari semua bapauda/amanguda
(14) Angkangboru : kepada semua perempuan yang posisinya sama seperti ‘angkang’
(15) Anggiboru : kepada adik kandung. Kita memanggilnya dengan sebutan ‘Inang’
(16) Ompungboru : lihat ke atas
(17) Ompungboru mangulahi : lihat ke atas

B. Dalam hubungan par-hulahula on


(a) Simatua doli : kepada bapak, bapatua, dan bapauda dari isteri kita. Kita memangilnya dengan sebutan ‘Amang’
(b) Simatua boru : kepada ibu, inangtua, dan inanguda dari isteri kita. Kita cukup memangilnya ‘Inang’
(c) Tunggane : disebut juga ‘Lae’, yakni kepada semua ito dari isteri kita
(d) Tulang na poso : kepada putera tunggane kita, dan cukup dipangil ‘Tulang’
(e) Nantulang na poso : kepada puteri tunggane kita, cukup dipanggil ‘Nantulang’
(f) Tulang : kepada ito ibu kita
(g) Nantulang : kepada isteri tulang kita
(h) Ompung bao : kepada orangtua ibu kita, cukup dipanggil ‘Ompung’
(i) Tulang rorobot : kepada tulang ibu kita dan tulang isteri mereka, juga kepada semua hulahula dari hulahula kita (amangoi…borat na i )
(j) Bonatulang/Bonahula : kepada semua hulahula dari yang kita panggil ‘Ompung’
(k) Bona ni ari : kepada hulahula dari ompung dari semua yang kita panggil ‘Amang’, dan generasi di atasnya

C. Dalam hubungan par-boru on

(1) Hela : kepada laki-laki yang menikahi puteri kita, juga kepada semua laki-laki yang menikahi puteri dari abang/adik kita. Kita memanggilnya ‘Amanghela’
(2) Lae : kepada amang, amangtua, dan amanguda dari hela kita. Juga kepada laki-laki yang menikahi ito kandung kita
(3) Ito : kepada inang, inangtua, dan inanguda dari hela kita
(4) Amangboru : kepada laki-laki ( juga abang/adik nya) yang menikahi ito bapak kita
(5) Namboru : kepada isteri amangboru kita
(6) Lae : kepada putera dari amangboru kita
(7) Ito : kepada puteri dari amangboru kita
(8) Lae : kepada bapak dari amangboru kita
(9) Ito : kepada ibu/inang dari amangboru kita
(10) Bere : kepada abang/adik juga ito dari hela kita
(11) Bere : kepada putera dan puteri dari ito kita
(12) Bere : kepada ito dari amangboru kita

Alus ni tutur tu panjouhon ni partuturan na tu ibana ( hubungan sebutan kekerabatan timbal balik )Kalau kita laki-laki dan memanggil seseorang dengan : Orang itu akan emanggil kita:

  • amang, amangtua VS amanguda amang
    inang, inangtua VS inanguda amang
    angkang VS anggi(a)
    ompungdoli (suhut = dari pihak laki-laki) VS anggi(a)
    ompungboru ( suhut ) VS anggi(a)
    ompungdoli ( bao = dari pihak perempuan ) VS lae
    ompungboru ( bao ) VS amangbao
    inang ( anggiboru ) VS amang
    anggia VS angkang
    anggia ( pahompu ) VS ompung
    inang ( bao ) VS amang
    inang ( parumaen ) VS amang
    amang ( simatua ) VS amanghela
    inang ( simatua ) VS amanghela
    tunggane VS lae
    tulang VS bere
    nantulang VS bere
    tulang na poso VS amangboru
    nantulang na poso VS amangboru
    bere VS tulang
    ito VS ito
    parumaen/maen VS amangboru
    amang ( na mambuat maen ni iba ) VS amang

Kalau kita perempuan dan memanggil seseorang dengan : Orang itu akan memanggil kita:

  • amang, amangtua, VS amanguda inang
    inang, inangtua, VS inanguda inang
    angkang VS anggi(a)
    ompungdoli (suhut = dari pihak laki-laki) VS ito
    ompungboru ( suhut ) VS eda
    ompungdoli ( bao = dari pihak perempuan ) VS ito
    ompungboru ( bao ) VS eda
    inang ( anggiboru ) VS #####
    anggia VS angkang
    anggia ( pahompu ) VS #####
    inang ( bao ) VS #####
    inang ( parumaen ) VS inang
    amang ( simatua ) VS inang
    inang ( simatua ) VS inang
    tunggane VS #####
    tulang VS bere
    nantulang VS bere
    tulang na poso VS #####
    nantulang na poso VS #####
    bere VS nantulang
    ito VS ito
    parumaen/maen VS nanmboru
    amang ( na mambuat maen ni iba ) VS inang

Beberapa hal yang perlu di ingat :
– Hanya laki-laki lah yang mar-lae, mar-tunggane, mar-tulang na poso dohot nantulang na poso
– Hanya perempuan lah yang mar-eda, mar-amang na poso dohot inang na poso
– Di daerah seperti Silindung dan sekitarnya, dalam parparibanon, selalu umur yang menentukan mana sihahaan (menempati posisi haha ), mana sianggian ( menempati posisi anggi ). Tapi kalau di Toba, aturan sihahaan dan sianggian dalam parparibanon serta dongan sabutuha sama saja aturannya.

Ada lagi istilah LEBANLEBAN TUTUR, artinya pelanggaran adat yang dimaafkan. Misalnya begini : saya punya bere, perempuan, menikah dengan laki-laki, putera dari dongan sabutuha saya. Nah, seharusnya, si bere itu memanggil saya ‘Amang’ karena pernikahan itu meletakkan posisi saya menjadi mertua/simatua, dan laki-laki itu harus memanggil saya ‘Tulang rorobot’ karena perempuan yang dia nikahi adalah bere saya. Tapi tidaklah demikian halnya. Partuturon karena keturunan lebih kuat daripada partuturon apa pun, sehingga si bere harus tetap panggil saya ‘Tulang’ dan si laki-laki harus tetap memanggil saya ‘Bapatua/bapauda’

 

Kesalahan ‘tintin marangkup’ dan ‘sinamot’

 Budaya suku Batak Toba » Patuan Raja Bonar Siahaan, seorang budayawan Batak Toba yang tinggal di Siboruon, Kecamatan Balige, Kabupaten Toba Samosir, menyebutkan kebiasaan adat pernikahan yang salah kaprah dalam hal pemberian uang “tintin marangkup” dan “sinamot ni boru”. Hal ini diungkapkan Bonar ketika diwawancarai koran Media Tapanuli lewat sambungan telepon, Selasa (26/1).

Dijelaskannya, pada pesta perkawinan orang Batak Toba, kedua belah pihak pengantin selalu memberikan sejumlah uang terhadap “tulang” (paman) mempelai laki-laki yang disebut tintin marangkup. Istilah tintin marangkup berasal dari kata “tarintin marangkup” yang digunakan sebagai tanda pada anak ternak yang telah dipilih agar kelak menjadi miliknya. Setelah anak ternak yang dipilih telah dapat dipisah dari induknya, pada saat itulah diberikan uang atau apa pun sesuai kesepakatan, dan itu dinamai “tobus tarintin”.

Dalam adat masyarakat Batak Toba, lanjut Bonar Siahaan, laki-laki yang akan menikah selalu lebih dulu “manulang tulang” untuk memohon doa restu agar dia kelak serasi dan bahagia dengan calon isteri serta mendapat keturunan putera dan puteri.

Pada saat manulangi inilah orang tua si laki-laki menyerahkan sejumlah uang sebagai tobus tarintin, sebab anak laki-lakinya tidak berniat mempersunting puteri tulangnya.

“Pada zaman dulu pemuda atau anak gadis yang marpariban harus saling permisi bila salah satu dari mereka lebih dulu menikah, dan itulah penyebab uang yang diserahkan dinamai tobus tarintin,” kata Siahaan.

Sebagai wujud doa restu, maka saat itu sang tulang mangulosi berenya yang disebut “ulos panghopol”. Seterusnya bila suatu saat berenya (keponakan) itu menikah dengan perempuan dari marga lain, maka tulang tidak wajib lagi mangulosi sebab itu dianggap “manumpahi” (membantu) pihak pengantin perempuan.

Ada falsafah bagi orang Batak Toba, kata Bonar Siahaan, yaitu “dangha do dupang amak do rere, ama do tulang, anak do bere.” Seandainya orangtua dari berenya tidak mampu menikahkan berenya, maka tulangnya berkewajiban menikahkan atau setidaknya membantu pembiayaan pernikahan berenya.

Dan itulah sebabnya bila berenya menikah, seluruh tulang membawa beras di dalam tandok untuk meringankan beban orang tua berenya, bukan “si pir ni tondi” seperti anggapan zaman sekarang.

Apabila seseorang tidak atau belum manulangi tulang, maka sang tulang enggan menghadiri pernikahan dan tidak akan “martogi”, sebab itu dianggap tidak menghargai atau menghormatinya. Namun setelah orang Batak telah banyak merantau, mulailah ditinggalkan kebiasaan manulangi tulang sebelum menikah dengan alasan waktu yang kurang mendukung.

Maka pada saat pesta pernikahan, kedua belah pihak mempelai secara bersama-sama datang menemui tulang untuk menyerahkan penghormatan yang kita kenal dengan tintin marangkup, disertai ungkapan “hot do jabu i, hot margulang- gulang, boru ni ise pe nahuoli i, hot do i boru ni Tulang.”

“Maka sampai saat ini keturunan dari berenya tetap dianggap sebagai boru, bukan bere atau ibebere, dan itu dapat dibuktikan dengan kata ‘boru natua-tua dan boru naposo’, bukan ‘bere natua-tua atau bere naposo.’ Tapi sekarang sering kita melihat…”

“…walau dalam perkawinan antar-keluarga atau namarpariban, pihak ‘haha anggi tulang’ menuntut tintin marangkup padahal mereka telah menerima sinamot ni boru. Ini sesuatu yang menggelikan,” kata Patuan Raja Bonar Siahaan.

Sumber:JararSiahaan.com

Tata Cara Pelaksanaan adat Batak (12)

Pembicara PB:

“Ah, raja ni parboruon , ndang masuk diakal nami holan nasa I di tonahon suhut muna. Jadi nuaeng pe, ndada porlu masitaoaran ditingki na “Marhusip” . Paboa hamu ma torang sadia ditonahon suhut muna”.

(artinya: Ah, rajani parboruon, tidak masuk akal kami Cuma hanya sekian yang dipesan suhut kalian, jadi sekarang tidak perlu kita saling tawar menawar sewaktu Marhusip. Beritahu secara jelas berapa sebenarnya yang dipesan suhuit kalian)

 

Pembicara PL:

“Ba molo songon I do, rajanami, an a uli, ba pinaboa ma tutu. Tona ni suhut nami ,upa suhut Rp.100.000. Jala manurut tusi ma tu angka pangalabungi, jadi songon I ma da, raja nami, naboi tuhuhon nami, botima.

(Kalau begitu  raja nami, baiklah kami beritahulah kepada kalian yang sebenarnya berapa yang dipesankan suhut kami, upa suhut Rp. 100.000. termasuk untuk para pangalabungi, begitulah raja nami, yang dapat kami tanggung. Botima.)

 

Jawaban PB:

„Mauliate ma di hatamuna i, raja ni parboruon. Jadi songon on ma dohonon nami taringot tusi: Hujalo hami ma songon na pinaboa muna i, molo olat ni i nama na boi sombahonon muna tu hami, alai ingkon hamu ma mananggung pesta ro sude na mardomu tusi. Ianggo so songoni do, tung soboi do haoloan hami hatamuna i. Songon I ma hatanami, botima, ai patar ma paboaon nami tu hamu, sinamot na nilehon muna I do na naeng pangkehon nami tu haporluan ni nanaeng parumaen muna on, songon I ma hata nami, botima.

(artinya: Terima kasi atas jawaban kalian itu raja ni parboruon, jadi beginilah jawaban kami tentang itu: Kami menerima seperti jumlah yang klalian sampaikan, kalau Cuma samapai disitu kesanggupan untuk dipersembahkan kepada kami, tetapi kalianlah yang menanggung pesta serta semua yang berhubungan dengan itu, kalau tidak begitu kami tidak dapat menerima apa yang kalain katakan itu. Begitulah jawaban kami Botima, jelas-jelaslah kami sampaikan kepada kalian, sinamot yang kalian berikan itu yang akan dipergunakan untuk keperluan bakal menantu kalian itu, begitulah jawabna kami ,Botima)

Pembicara PL:

Taringot tusi, rajanami ianggo tona ni suhut nami songon on do;sian hami do panjuhuti, alai ianggo na mambahen pesta I, ba hamu parboru do. Jadi molo tung so boi do songon I, an ang tarlehon hami nuaeng putusan taringot tu na nidok ni rajai. Alai ba paboaon nami ma I tu suhut nami.”

(artinya: Mengenai itu raja nami, pesan suhut kami begini; Dari kami panjuhuti, tetapi yang mengadakan pesta kalian pihak parbopru. Jadi kalaupun tidak an  begitu kami tidak sanggup memutuskan sekarang raja nami, tetapi akan kami sampaikan permintaan itu kepada suhut kami.)

 

Pembicara PB:

“Molo songoni, ba pasahat hamu ma hatanami I tu suhut muna alai paboa hamu, tung gomos do hami di pangidoan nami I, botima”

(artinya: Kalu begitu, kalian sampaikanlah usul kami itu kepada suhut kalian, tetapi harus kalian sampaikan dengan tegas permintaan kami itu, botima.)

 

Jawaban PL:

“an a uli rajanami pasahaton nami ma hatamuna I tu suhut nami, jala tibu do hami ro mamboan alus sian suhut nami botima.”

(artinya: Sangatlah baik itu raja nami, kami akan sampaikan usul kalian itu kepada suhut kami, serta kamia akan segera memberi jawaban dari suhut kami, botima)

 

Sampai disini akhir pembicaraan yang terjadi untuk saat itu, (kesimpulannya masih terjadi tawar menawar siapa yang mengadakan pesta keramaiannya, juru bicara pihak perempuan meminta agara pesta dilaksanakn oleh pihak laki-laki, namun juru bicara pihak laki-laki menolak dan meminta agar pesta dilakukan oleh pihak perempuan, namun keputusan akan dirundingkan dengan orang tua calon laki-laki/suhut yang nanti akan diberi jawabnnya segera ) laki-laki menawarkalau datang untuk kedua kalinya  hanya untuk menyampaikan jawaban dari orang tua calaon mempelai laki-laki.

 

Marhata sinamaot: (membicarakan mas kawin)

Ada falssafah orangtua terdahulu yang perlu diingat sebagai berikut:

  1. Aek godang aek lau;

      Dos ni roha sibaen nasut

  1. Balinta ma pagabe tumandangkon sitadoan;

      Arinta ma gabe  molo masipaoloan.

  1. Amporik marlipik, onggang marbahang;

      Gabe do parboli na otik, laos gabe do nang parboli na godang

  1. Na mandanggurhon tu dolok do molo basa marhulahula.

(maksudnya Apa saja yang dilempar ke gubnung, seperti batu, pasti batu tersebut meluncur/jatuh kearah kita, dan pasti batu lainpun yang tersenggol akan terikut. Jadi sama berlipat ganda diterima keuntungan yang baik, kalau kita menghormati Hulahula.)

Setelah jadawal pembicaraan tentang Mas kawin (sinamot) telah ditetapkan pada waktu Marhusip dan pesan akan kedatangan pihak Pengantin Laki-lakipun disampaikan pada pihak pengantin perempuan. Maka Pihak perempuanpun mempersiapkan penyambutan dan menerima “Suhi ni ampang“, dan memberi tahu pada orang yang berkaitan dengan acara itu untuk hadir yaitu:

1-      Suhut (parboru)

2-      Sijalo bara,

3-      Tulang

4-      Simandokkon,

5-      Pariban. Dan ditambah sebagai saksi yaitu:

6-      Dongan sahuta (1 atau 2 orang)

Inilah yang yang menerima pihak Paranak dalam membicarakan sinamot .Adapun falsafah yang terkandung dalam “Ampang” adalah sebagai berikut:

 

 

Ampang didalam masyarakat Batak adalah suatu penerimaan, dimana ampang ini diperbuat dari rotan , dan rotan ini adalah dahulu digunakan sebagai pengikat rumah yang disatukan (diserupakan) dengan tali ijuk dari pohon aren dimana oleh masyarakat Batak mengumpamakan aren itu (bagot) sebagai kejiwaan wanita. Maka anak laki-laki dan anak perempuan itulah pengikat satu rumah tangga, didalam masyarakat Batak, itulah makanya didalam perkawinan itu selalu disebut:

  1. Nialap ni ampang, >< Suhut itulah empunya anak perempuan
  1. Marsuhat di ampang,>< Sijalo bara, adalah Abang adik dari suhut, inilah yang disebut horong ni na tua-tua
  1. Mangihut di ampang,>< Tulang, adalah saudara laki dari isterinya suhut.
  2. Sihunti ampang, >< Simandokkon, adalah anak laki-laki,dari suhut
  3. Tutup ni ampang, >< Pariban adalah boru atau itonya suhut.

 

Jadi yang hadir dalam mebicarakan sinamot itu ialah:

  • 3 orang dari pihak Paranak (meminta)
  • 5 orang dari pihak parboru (menerima)
  • 2 orang sebagai saksi (penggerak)

Cukup 10 orang yang membicarakan (marhata sinamot)

Biasanya waktu untuk membicarakan sinamot idealnya adalah waktu malam, dan ini yang sering dilakukan dahulu.

Setelah rombongan dipersilahkan masuk, tudutudu  ni sipanganon yang dibawa pihak paranakpun diletakkanlah dihadapan tuan rumah (parboru), kemudian tuan rumah pun membagikan hidangan untuk tamu-tamu dari pihak paranak. Setelah selesai makan,  lalu ditutup lagi dengan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Kemudia protokol dari pihak pengantin perempuan mengatur letak duduk sesuai dengan aturan yang telah ada , maka dimulailah berunding pihak pengantin perempuan dengan pihak pengantin laki.untuk menentukan juru bicara (raja parhata) dari kedua belah pihak.Setelah itu maka pihak pengantin laki menyuruh pihak borunya (parboruon na) meletakkan „Tudu-tuduni sipanganon“ itu kehadapan raja parhata pihak pengantin perempuan  yang telah ditunjuk/dipilih.

 

Membagi Tudutudu ni sipanganon:

Setelah diletakkan Tudutudu ni sipanganon dihadapan Raja parhata pihak pengantin  perempuan sambil mengatakan:

“ On ma da rajanami, tudutudu ni sipanganon na so sadia i, jalo hamu ma botima.“.

(artinya:Inilah raja nami, tudu-tudu ni sipanganon yang tidak seberapa, kalian terima lah, botima)

 

Maka diterima oleh Raja parhata pihak pengantin perempuan sambil berkata

“Mauliate ma di hamu raja ni parboruon, ai nunga dipasangap hamu hami, jala nunga dipeakkon hamu dijolonami tudutudu ni sipanganon na nadipatupa muna i, ba hujalo hami ma i, botima“.

(artinya:Terima kasih raja ni parboruon, sudah kalian hormati kami, serta telah kalian letakkan dihadapan kami tudutudu ni sipanganon yang kalian sediakan itu, sekarang kami terima, botima)

 

Raja parhata pihak pengantin perempuan melanjutkan bicaranya:

“Nuaeng udutankuma hatangku, jala na manungkun ma ahu tu hamu raja ni parboruon nami, beha saonari ma tabagi tudutudu ni sipanganon i, alai hira na sohea do i masa, sai pintor torus nama dibagi tudutudu ni sipanganon i, ai nunga binoto hian ndang boi be so saut.“

(artinya: Sekarang saya lanjutkan pembicaraansaya, serta saya akan akan bertanya pada kalian raja ni parboruon nami, bagaimana sekarang apa kita bagi tudutudu ni sipanganan ini, tetapi itu bukan suatu kebiasaan, biasanya kita terus bagi saja, karena tidak mungkin lagi tidak jadi)

 

Jawaban dari Raja parhata pihak pengantin laki :

“ba saonari ma da, raja nami“.

(artinya: Sekarang saja dibagi, raja nami.)

 

Kemudian Raja parhata pihak pengantin perempuan mengatakan :

“Antong denggan ma i, tabagi ma tutu, alai parjolo ma jolo sungkunonku tu hamu rajani parboruon nami: Dia ma dipangido rohamuna sipasahataon nami tu hamu?“

(artinya: kalau begitu baiklah, kita bagi sekarang, tetapi saya tanya dahulu pada kalian raja parboruon nami: Apa yang kalian minta yang harus kami sampaikan pada kalian)

 

Maka dijawab Raja parhata pihak pengantin laki:

“Ba pangalehon muna ma da raja nami sian i,ndada be podaon nami raja i, ai nungga diboto hamu hian i manang aha na patut jaloon nami, jadi bahen hamu ma na denggan i,raja nami.

(artinya: Terserah pada kalian raja nami dari sana, tidak perlu lagi diajari kalian untuk itu, sudah lebih mengerti kalian apa yang pantas kami terima, jadi silahkan saja diatur yang terbaik raja nami.)

 

Raja parhata pihak pengantin perempuan mengatakan :

“Tutu do i nian na nidok muna i, alai nang hamu pe di boto hamu do, ndang sai dos na taulahon di angka ulaon sisongonon on :

  • Asing duhutna, asing do dihaporna;
  • Asing luatna, asing do pamboanhonna.

On pe boti ma I, jolo hubahen hami ma “konsepna” manuru na somal di hami. Molo nunga ditolopi roha muna I ba laos I ma taihuthon, alai molo adong dope na hurang di roha muna ba paboa hamu annon.”

(artinya: Benar apa yang kalian katakan itu, tetapi kalain pun mengetahui juga, soalnya belum tentu sama kebiasaan kita  sebagai mana yang dikatakan Umpasa:

  • Asing duhutna, asing do dihaporna;
  • Asing luatna, asing do pamboanhonna.

(artinya:Kalau begitu, duluan kami buat konsepna, sesuai dengan kebiasaan kami.Kalau kalian setuju iytulah yang kita laksanakan, tetapi kalau ada yang kurang tolong diberi tahu pada kami nanti)

bersambung ………13