Budaya suku Batak Toba » Patuan Raja Bonar Siahaan, seorang budayawan Batak Toba yang tinggal di Siboruon, Kecamatan Balige, Kabupaten Toba Samosir, menyebutkan kebiasaan adat pernikahan yang salah kaprah dalam hal pemberian uang “tintin marangkup” dan “sinamot ni boru”. Hal ini diungkapkan Bonar ketika diwawancarai koran Media Tapanuli lewat sambungan telepon, Selasa (26/1).

Dijelaskannya, pada pesta perkawinan orang Batak Toba, kedua belah pihak pengantin selalu memberikan sejumlah uang terhadap “tulang” (paman) mempelai laki-laki yang disebut tintin marangkup. Istilah tintin marangkup berasal dari kata “tarintin marangkup” yang digunakan sebagai tanda pada anak ternak yang telah dipilih agar kelak menjadi miliknya. Setelah anak ternak yang dipilih telah dapat dipisah dari induknya, pada saat itulah diberikan uang atau apa pun sesuai kesepakatan, dan itu dinamai “tobus tarintin”.

Dalam adat masyarakat Batak Toba, lanjut Bonar Siahaan, laki-laki yang akan menikah selalu lebih dulu “manulang tulang” untuk memohon doa restu agar dia kelak serasi dan bahagia dengan calon isteri serta mendapat keturunan putera dan puteri.

Pada saat manulangi inilah orang tua si laki-laki menyerahkan sejumlah uang sebagai tobus tarintin, sebab anak laki-lakinya tidak berniat mempersunting puteri tulangnya.

“Pada zaman dulu pemuda atau anak gadis yang marpariban harus saling permisi bila salah satu dari mereka lebih dulu menikah, dan itulah penyebab uang yang diserahkan dinamai tobus tarintin,” kata Siahaan.

Sebagai wujud doa restu, maka saat itu sang tulang mangulosi berenya yang disebut “ulos panghopol”. Seterusnya bila suatu saat berenya (keponakan) itu menikah dengan perempuan dari marga lain, maka tulang tidak wajib lagi mangulosi sebab itu dianggap “manumpahi” (membantu) pihak pengantin perempuan.

Ada falsafah bagi orang Batak Toba, kata Bonar Siahaan, yaitu “dangha do dupang amak do rere, ama do tulang, anak do bere.” Seandainya orangtua dari berenya tidak mampu menikahkan berenya, maka tulangnya berkewajiban menikahkan atau setidaknya membantu pembiayaan pernikahan berenya.

Dan itulah sebabnya bila berenya menikah, seluruh tulang membawa beras di dalam tandok untuk meringankan beban orang tua berenya, bukan “si pir ni tondi” seperti anggapan zaman sekarang.

Apabila seseorang tidak atau belum manulangi tulang, maka sang tulang enggan menghadiri pernikahan dan tidak akan “martogi”, sebab itu dianggap tidak menghargai atau menghormatinya. Namun setelah orang Batak telah banyak merantau, mulailah ditinggalkan kebiasaan manulangi tulang sebelum menikah dengan alasan waktu yang kurang mendukung.

Maka pada saat pesta pernikahan, kedua belah pihak mempelai secara bersama-sama datang menemui tulang untuk menyerahkan penghormatan yang kita kenal dengan tintin marangkup, disertai ungkapan “hot do jabu i, hot margulang- gulang, boru ni ise pe nahuoli i, hot do i boru ni Tulang.”

“Maka sampai saat ini keturunan dari berenya tetap dianggap sebagai boru, bukan bere atau ibebere, dan itu dapat dibuktikan dengan kata ‘boru natua-tua dan boru naposo’, bukan ‘bere natua-tua atau bere naposo.’ Tapi sekarang sering kita melihat…”

“…walau dalam perkawinan antar-keluarga atau namarpariban, pihak ‘haha anggi tulang’ menuntut tintin marangkup padahal mereka telah menerima sinamot ni boru. Ini sesuatu yang menggelikan,” kata Patuan Raja Bonar Siahaan.

Sumber:JararSiahaan.com