Guru Somalaing dan Raja Rum
Tugas berikutnya dari Guru Somalaing Pardede adalah  mengarahkan  para pengikutnya  bagaimana cara mengatasi kolonial Belanda. Dia ber Keyakinan dengan bantuan  Jehova, akan datang Raja Rum untuk menolong  gerakannya dengan masyarakat Batak Toba menghadapi kolonial belanda.

Pertemuannya dengan seorang musafir Italia, Elio Modigliani, membuat kedua belah pihak diuntungkan ,bagi Elio pertemuan dengan Guru Somalaing Pardede  tepat pada momentnya dimana  Guru Somalaing yang sangat mengharap dan mengyakini akan datang membantu gerakannya melawan Belanda, kondisi tersebut dimanfaatkanya dengan baik dengan mengaku sebagai utusan Raja Rum (sedangkan Raja Rum yang dimaksud Guru Somalaing adalah raja Rum Turki yang dahulunya adalah bekas kerajaan Romawi Timur dengan ibu kotanya Kontantinopel), dengan pengakuan tersebut membuat Guru Somalaing tidak menolak permintaan Elio mendampinginya menyelusuri Sungai Asahan menuju wilayah Asahan dalam rangka penelitiannya dalam Botani. Sedangkan bagi Guru Somalaing Pardede  pertemuan dengan Elio Modigliani menunjukkan bahwa wahyu yang diterimanya adalah benar dengan kemunculan Eio yang mengaku sebagai utusan Raja Rum, dan menambah keyakinan pertolongan akan perjuangan gerakannya akan segera datang.

Elio Modigliani tinggal di daerah Toba dari Oktober 1890 sampai Februari 1891. Bagi Batak Toba, Italia adalah Eropa yang berbeda dari Misionaris Belanda dan Jerman. Dan akan membantu mereka untuk menghadapi kekuasaan Belanda tanpa syarat harus menerima Belanda atau misionaris Belanda .   Munculnya orang Barat memungkinkan orang-orang Batak   mempertanyakan legitimasi pemerintahan Belanda dan bahkan berharap untuk menggunakan kekuasaannya untuk mengubah rezim yang ada.

 Somalaing’s next task was to show followers the way to cope with the colonial power. His conviction of sharing the power of Jehova led him to expect European newcomers to assist him in the movement. His encounter with an Italian traveller, Elio Modigliani, just after the revelation increased Somalaing’s expectation.

Modigliani stayed in the Toba area from October 1890 till February 1891. To the Toba-Batak, this Italian was a type of European different from the Dutch and German missionaries. The people who were at the same time oppressed by the colonial regime and impressed by the superiority of Dutch power, were hoping for the appearance of a different kind of European who would help them to share European power without having to accept it on Dutch or missionary terms.(37) The appearance of such a Westerner made it possible for the Batak people to question the legitimacy of Dutch rule and even hope to use his power to change the existing regime.

Sepanjang perjalanan  Modigliani  di sekitar pantai selatan Lake Toba (sebelum bertenu dengan Guru Somalaing Pardede), dia mengambil  kesempatan untuk berbicara dengan masyarakat lokal. Berbagai pertanyaan diajukannya , dan juga menjawab pertanyaan masyarakat termasuk siapa raja nya. Dia menjawab bahwa itu adalah “Raja Roma”.
Lalu muncullah sebuah pertanyan-pertanyaan yang  tak terduga diantara orang-orang. Salah satu dari mereka bertanya pada Modigliani, “Mengapa Raja Rom tidak pernah menerima salah satu dari berbagai hadiah kuda dan kerbau yang mereka secara teratur disajikan? ”

Modigliani kebingungan menjawab pertanyaan tersebut  karena  karena tidak memahami siapa Raja Rom yang dimaksud mereka (Rum) itu.

Nama Raja Rum berasal dari legenda Sultan Iskandar Dzulkarnain, Alexander Agung.
Menurut keyakinan Batak Toba, Alexander Agung memiliki tiga putra. Salah satunya adalah raja Rum (juga disebut Raja Stambul), yang kedua adalah raja China, dan ketiga adalah raja Minangkabau (39) Nama Raja Rum lebih terkenal  pada masyarakat Batak toba melalui pengaruh dari Barus dimana Islam berkembang /menyebar dimulai dari pantai barat sumatera .

When Modigliani was travelling around the southern shore of Lake Toba, he had a chance to talk with the local people.(38) He was asked various questions, including who his raja was. He answered that it was “Raja Roma”. Then there arose an unexpected stir among the people. One of them asked Modigliani, “Why did Raja Rom never accept any of the numerous gifts of horses and buffaloes which they regularly presented?” Modigliani was unable to understand who Raja Rom (correctly Rum) was. The name Raja Rum derived from the legend of Sultan Iskandar Dzulkarnain, Alexander the Great. According to the Toba-Batak, Alexander the Great had three sons. One was the king of Rum (also called Raja Stambul), the second was the king of China, and the third was the king of Minangkabau. (39) As Islam spread into the west coast of Sumatra, the name of Raja Rum came to be more well-known among the Toba-Batak through influence from Barus.

Berita  ada seorang utusan Raja Rum di Balige, tersebar di sekitar danau toba dan kabar tersebut  akhirnya sampai pada Somalaing.  Modigliani mengunjungi Datu (Somalaing)  berkali-kali, dengan sopan santun untuk menjalin persahabatan kepada datu.

Modigliani menggambarkan adegan setelah dia meminta bantuan Somalaing:

Modigliani bertanya dan memohon kepada  Somalaing agar sudi  untuk mengantar dan membimbingnya memasuki daerah Asahan  (di pantai timur Sumatera), karena  dia tidak diizinkan untuk melakukan perjalanan oleh pejabat Belanda karena di luar otoritas Belanda.

Modigliani (menggambarkan dengan jelas adegan menunggu jawaban Somalaing atas permintannya tersebut dengan khawatir) setelah dia meminta bantuan Somalaing:

Jantungku berdegup dengan pukulan ganda, sementara saya menunggu jawaban Somalaing’s. Dan dia membuat saya menunggu  sangat lama. alis hitamnya berkerut, dia tetap diam sementara wajahnya berubah  aneh. “Aku akan menawarkan pistol saya sebagai hadiah dan satu dolar per hari untuk setiap orang yang pergi dengan Anda. “Aku terus menjaga sopan santun  agar aku bisa mengatasi rasa tidaksukanya padaku.”

Tiba-tiba ia meraung tanda setuju sebagai jawabannya. Dia mengambil tanganku, menarik kedadanya, kemudian memeluk saya, mencium kedua pipiku , bahkan menggigitnya. Dan berkata “Amatta (” ayah “ditujukannya pada Raja Rom) telah mengirimkan Anda untuk mengusir Belanda dan Guru Samalaing akan membantu Anda

The rumour that a delegate of Raja Rum was staying in Balige spread around the lake-side and finally reached Somalaing. This datu visited Modigliani many times, showing much politeness and pressing friendship upon him. Modigliani accordingly asked Somalaing to guide him to the upper Asahan area (on the east coast of Sumatra) where he had not been allowed to travel by Dutch officials because it was outside Dutch authority. Modigliani vividly described the scene after he asked Somalaing for help: My heart beat with a double blow, while I waited for Somalaing’s answer.And he made me wait a very long time. His black eyebrows wrinkled, he remained silent while his face underwent queer distortions. “I will offer you my revolver as a present and one dollar per day for every man who goes with you. “I continued in order that I could overcome a dislike of him.Suddenly he roared out his agreement rather than answering. He took my hands in his, brought them to his heart, embraced me, kissed me on both cheeks, and even planted teeth in them. “Amatta [“my father”, alluding to Raja Rom] has sent you in order to drive away the Dutch and Guru Samalaingwill help you!”(40)

Beliau berpikir dia harus mencari kekuatan asing (pendatang asing), Somalaing berusaha mencari  jalan untuk mengusir Belanda keluar dari Toba. Kebenciannya terhadap Belanda sangatlah luar biasa karena dia merasa kedatangan Belanda akan merobah adat istiadat Batak yang turun temurun dari SiRAja BAtak) >Maka  melihat yang dicarinya berada did epannya  adalah orang itali (Modigliani)  yang dikiranya anak Raja Rum dan inilah sebagai  kunci keberhasilan dalam memerangi melawan Belanda. Dengan terlintasnya pemikiran tersebut maka apa yang dimohonkan Modigliani diterimanya untuk mendampingnya memasuki Asahan (melalui Porsea)

Selama perjalanan ke Asahan Modigliani berusaha mengyakinkan Somalaing, bahwa Raja Rum akan membantunya untuk mengusir Belanda dari Tanah Batak, hal ini diutarakan Modigliani ,setelah dia melihat dan mempelajari keyakinan Somalaing dan masyarakat Batak bahwa Raja Rum adalah seorang Raja yang diyakini akan datang membantu mereka dan Untuk Raja Rum  Masyarakat selalu menyajikan sajian secara kusus.

Dan Modigliani melihat Posisi Somalaing serta Masyarakat Batak melawan Belanda  sudah sangat terpojok, Belanda sudah jauh masuk kepelosok wilayah Batak bahkan pasukan Batak sudah banyak lari kehutan. Situasi ini dimanfaatkan Modigliani dengan Baik.

Modigliani meninggalkan tanah Batak melalui  Asahan atas, Selama ini dia berusaha berpenampilan sebagai  utusan atau anak  Raja Rum dengan   mengadopsi  kepercayaan Somalaing dimana  Raja Rum bagian dari ajaran Parmalim. Raja Rum dan Si Singa Mangaraja, ia klaim, sebagai  anak Allah.

Pada suatu hari Raja Rum akan datang ke Tanah Batak dengan anaknya Modigliani, untuk mengusir Belanda. Baru kemudian  Si Singa Mangaraja muncul, dan selanjutnya Batak mencapai kemuliaan, “Si harajaon Singa Mangaraja” (Kerajaan Si Singa Mangaraja), akan dipulihkan. Setelah Modigliani berangkat, Somalaing dan para pengikutnya berdoa kepada Raja Rum dengan cara yang sama seperti yang telah dilakukan dalam upacara keagamaan tradisional ketika orang-orang memohon bantuan kepada Si Singa Mangaraja atau dewa Batak.

Somalaing had been seeking for a way to drive the Dutch away. Looking for a means to master the power of the foreign newcomers, he seized upon the Italian, a supposed son of Raja Rum, as a key to success in the fight against the Dutch.Modigliani left the Batak area after travelling through the upper Asahan area, but the encounter convinced Somalaing that his claim was confirmed through the appearance of Modigliani. He adopted the belief in Raja Rum as part of his Parmalim doctrine. Raja Rum and Si Singa Mangaraja, he claimed, were sons of God.(41) Some day Raja Rum would come to the Batak area with his son, Modigliani, to expel the Dutch. Then a new Si Singa Mangaraja would arise, and the glorious Batak order, “harajaon Si Singa Mangaraja” (Kingdom of Si Singa Mangaraja), would be restored. After Modigliani’s departure Somalaing and his followers prayed to Raja Rum in the same manner as had been done in traditional religious ceremonies when people had wanted to ask Si Singa Mangaraja or Batak deities for help.

Tahap awal gerakan Parmalim   berusaha untuk menjaga tatanan sosial tradisional Batak dan arus bawah sebagai sumber daya baru. Gerakan ini cepat menyebar ke bagian timur laut Toba, (42) sedang yang radikal dipengaruhi oleh pemerintah kolonial dan ekonomi dari pantai timur Sumatera, meskipun sistem budayanya  masih utuh.

Somalaing tidak dapat menemukan banyak pengikut di selatan bagian dari Toba (Silindung) di mana Gereja Kristen telah mempunyai posisi yang dominan, atau di tempat di mana penduduk sebagian besar di bawah Pengaruh Eropa. Dia hanya mendapatkan dukungan terbesar di tempat-tempat orang baru saja mulai merasakan pengaruh Belanda dan misionaris.

Pengikut Somalaing sebagian besar kepala suku kecil dan anggota keluarganya Dalam rangka mempertahankan status mereka dan sistem sosial mereka, mereka juga mencari akses ke sumber kekuatan Eropa Untuk menanggulangi itu. Dalam upacara Parmalim, mereka berdoa kepada Jehova, sang Perawan Maria, Yesus dan Raja Rum, serta dewa Batak.

The earlier stages of the Parmalim movement can be described as anendeavour to maintain the Batak traditional social order under the new source of power. The movement spread quickly into the northeastern part of Toba,(42) which was being radically influenced by the colonial government and economy from the Sumatran east coast, though its cultural system was still intact. Somalaing was not able to find many followers in the southern part of Toba where the Christian Church had already established a dominant position, or in the places where the population was not substantially under European influence. He found the greatest support in the places where people had just started to feel the Dutch and the missionary influence. Somalaing’s followers were mostly minor chieftains and their relatives. In order to retain their status and their social system, they also sought access to the source of European power in order to combat it. In their Parmalim ceremonies, they prayed to Jehova, the Virgin Mary, Jesus and Raja Rum, as well as Batak deities.(43)

Kemudian, Parmalim mulai menghormati para misionaris Jerman yang bekerja di bagian timur laut Toba.  Modigliani, Jerman misionaris memiliki tujuan yang berbeda dari para pejabat kolonial Belanda. The Parmalim bermula mengharapkan misionaris dapat membantu mereka.

Kasus Pohlig berbangsa Jerman, berada di Toba sejak 1890, memberikan contoh dari proses ini. Dia adalah seorang insinyur dan antara misionaris dikenal sebagai “Brother Pohlig yang arif” (der tuchtige Br. Pohlig).(44)

Dia kadang-kadang memperbaiki senjata bagi pemerintah kolonial. (45)
Pengetahuan teknis, adalah merupakan aspek utama keunggulan kekuasaan Eropa, Orang yang demikianlah yang sangat dibutuhkan Parmalim. Mereka ingin dimulai dalam misteri. Menurut Pohlig, Seorang pemimpin local  parmalim mengirim surat kepadanya pada1891, mengatakan  bahwa ia akan membawa hadiah untuk merayakan kelahiran anak Pohlig’s. “Kami datang kepada Anda besok dengan istri-istri kami karena kelahiran anakmu. Allah telah menyuruh saya untuk menghormatimu “. (46)

Hari berikutnyanya ribuan pengikut parmalim datang mengunjungi Pohlig sehingga membuat ia malu atau tersipu-sipu karena penghormatan yang berlebihan dengan penembakan penghormatan dan musik atau gondang  dan diberikan kepadanya seekor kuda betina dan anak kuda.(47) Namun Pohlig, mengembalikna pemberian itu kepada mereka, karena ia berpikir bahwa menerima mereka akan menunjukkan persetujuan agama mereka.

Then, the Parmalims started to revere the German missionaries working in the northeastern part of Toba as Batak kings. Like Modigliani, the German missionaries had objectives different from the Dutch colonial officials. The Parmalims began to expect the missionaries to assist them.The case of a German named Pohlig, who had been in Toba since 1890, provides an example of this process. He was an engineer and among missionaries was known as “the capable Brother Pohlig” (der tuchtige Br. Pohlig).(44) He occasionally repaired guns for the colonial goverment.(45) Such technical knowledge, which was a major aspect of the superiority of European power, was of great interest to the Parmalims. They were eager to be initiated into its mysteries. According to Pohlig, one Parmalim local leader wrote to him in 1891 saying he would bring presents to celebrate the birth of Pohlig’s son. “We come to you tomorrow with our wives because a son is born to you. God has instructed me that we must salute this”.(46) The following day thousands of Parmalims visited the embarrassed Pohlig, firing salutes and playing music, and presented him a mare and a foal.(47) Pohlig, however, returned these presents to them, because he thought that accepting them would indicate approval of their religion.

Meskipun sambutan dan tanggapan Pohlig dingin , namun penghormatan para para Parmalim terhadapnya tetap meningkat ke arahnya. Karena pemerintah kolonial mengintensifkan pengaruhnya terhadap bagian timur laut Toba, dengan memperkenalkan tenaga kerja rodi, dari akhir 1892 , para Parmalim mulai percaya bahwa Pohlig adalah seseorang yang bisa sebagai perantara anatara mereka Parmalim dengan Belanda.
Menurut laporan Pohlig tahun 1893, ia  dianggap sebagai inkarnasi Si Singa Mangaraja.
Orang-orang Parmalim mengekspose  ide-ide yang benar-benar gila. Sekarang aku telah menjadi Singamangaraja. “Anda itu”, kata mereka. “Anda hanya berubah bentuk!”
Setelah beberapa hari dan masih ada yang tinggal disini. Aku berkata kepada mereka. “Jangan ganggu aku dengan alasan yang tidak masuk akal itu, saya bukan  Singamangaraja itu. ” Kami sangat yakin bahwa anda itu adalah dia”, kata mereka. “Debata [Allah] telah memberitahu kami”. Selain itu, kata mereka untuk meyakinkan saya bahwa Akulah Dia, “Anda ayahnya, yang
Mantan Singamangaraja, ditembak oleh Belanda di lengan, lalu pergi ke surga.
Dia telah mengutus kamu, tetapi dia telah memberikan bentuk lain, sehingga Belanda tidak bisa mengenal Anda “Mereka percaya omong kosong seperti itu., dan itu ada di injil mereka.

In spite of Pohlig’s cold response, the Parmalims increased their reverence towards him. As the colonial goverment intensified its
influence on the northeastern part of Toba, introducing corvee labour from the end of 1892,(48) the Parmalims began to believe that Pohlig was a person who could intervene with the Dutch on their behalf. According to Pohlig’s report of 1893, he came to be regarded as an incarnation of Si Singa Mangaraja. These men [Parmalims] reveal really crazy ideas. Just now I have become the Singamangaraja. “You are it”, they say. “You have only changed your form!” A few days ago some were still here. I said to them. “Don’t bother me with your absurd reasonings, I am not the Singamangaraja. ” “We know very accurately that you are it”, they said. “Debata [God] has told us”.

Moreover, they said in order to convince me that I am he, “Your father, the former Singamangaraja, was shot by the Dutch in the arm, then went toheaven. He has sent you, but he has given you another form, so that the Dutch could not recognize you.” They believe such nonsense, and that is their gospel.

bersambung…….

Iklan