Archive for Januari, 2013

Keluarga Pahlawan dari Lintong (2)

 SSmXII-OB-Sitor

Pada tahun 1907 Pasukan Belanda semakin hebat melakukan serangan terhadap Sisingamangaraja XII dengan pasukannya di daerah dairi demikian juga terhadap  Ompu Raja Doli Lintong, Dalam serangan ini Ompu sodunggaron Situmorang  putra sulung dari Ompu Raja Doli Lintong Situmorang gugur dalam pertempuran disekitar Lintong Bersamaan dengan penyerangan tersebut Ompu Babiat Situmorang berada  ditempat lain memimpin pertempuran melawan Belanda

PASUKAN PADRI

Selama ini Ompu Babiat sebagai panglima memimpin langsung dalam pertempuran melawan Belanda dan beliau juga sering mengadakan pertemuan untuk mengadakan perundingan dan membicarakan strategi perang gerilya melawan pasukan Belanda di Pearaja , tidak jarang serangan Belanda tiba-tiba dan besar , dalam kondisi demikian ibu Sisingamangaraja  yang bermarga Situmorang diungsikan  ke Lintong beserta anak-anaknya .

Suatu saat pada tahun 1907 awal Belandan jauh lebih meningkatkan serangan ,Ompu Babiat beserta keluarga mengugsi masuk kehutan, beserta rakyat yang juga membantu mereka .Dari persembunyian di Huta Ompu Babiat melakukan serangan-serangan terhadap Belanda dengan cara bergerilya. Kehidupan keluarga Ompu Babiat  Situmorang yang berpindah-pindah dihutan  cukup menderita namun pada saat itupul lahirlah anak dari Ompu Sodunggaron lahir dan diberi nama Somanda yang berarti “tidak mengenal”,karena telah ditinggal meninggal oleh R.O Sodunggaron sang ayah.

Sedangkan Ompu Raja Doli Lintong Situmorang dan Isteri didalam pengungsian selalu di tandu karena kedua beliau dalam keadaan sakit karena tekanan Belanda yang sangat luar biasa dan kebetulan kedua beliau sudah tua.Keadaan mereka tambah menderita karena terus dikejar-kejar pasukan Belanda, mereka terus berpindah dari tempat yang satu ketempat yang lain dengan menggendong anak anak kecil dan menandu orang tua yang sakit., didalam pengejaran Belanda juga menyiksa penduduk yang ditemuidan  setiap melewati perkampungan atau menemui penduduk asli (kampung) pasti disiksa dengan memaksa mereka agar menunjukkan dimana posisi ompu Raja Doli Lintong Situmorang. Termasuk ipar dari RO. Sodunggaron yang bernama Ompu Batuan Sinaga mengalami siksaan yang sangat berat dan akhirnya meninggal Dunia, karena kedapatan aktif membantu iparnya selama dalam pengungsian  dan juga ikut juga berjuang di Lintong.

Anak Isteri SSM XII

Sedangkan kedudukan Sisingamangaraja XII tidak luput dari gempuran dari pasukan Belanda  yang sekain menghebat, dalam keadaan terjepit tersebut Ompu Babiat Situmorang diundang untuk mengadakan pertemuan di dairi, meskipun pertempuran di Lintong juga gencar namun Ompu Babiat memenuhi undangan Sisingamangaraja berkat desakan para keluarga agar segera ompu Babiat segera berangkat memenuhi panggilan Sisingamangaraja XII ke Dairi. Didalam pertemuan Mereka Sisingamangaraja menceritakan mimpinya kepada Ompu Babiat Situmorang. Pada malam perjamuan malam dengan beberapa orang yang hadir  (setelah Sisingamangaraja XII dengan Ompu Babiat berbicara panjang lebar,) Sisingamangaraja XII berkata bahwa Belanda akan menang nantinya tetapi pihak kita akan melihat matahari terbi (merdeka) kelak dan Ompu Babiat Situmorang akan  menyaksikan matahri tersebut nanti kurang lebih begitulah makna mimpinya tanpa menceritakan isi dari mimpi beliau. Ompu Babiat tempat curhatnya pun tidak menceritakannya juga karena isi mimpi tersebut adalah tentang nasib keluarganya yang dititipkan kepada ompu Babiat Situmorang, keesokan harinya Ompu Babiat kembali ke Lintong.

bersambung………………………….3

Keluarga Pahlawan dari Lintong (1)

Serangan yang bertubi-tubi Belanda terhadap Sisingamangaraja XII dengan pasukannya membuat beliau mengundurkan diri ke HutaPaung kemudian ke Lintong (1883), yang kemudian Sisingamangaraja XII bergabung dengan Raja Lintong yakni Ompu Raja Doli Situmorang yang berasal dari keluarga Situmorang Lintong. Semula rombongan  Sisingamangaraja XII tinggal di Lumban Sisonak yaitu kampung dari Ompu Raja Doli atau Raja Lintong, lama kelamaan banyak keluarga yang bergabung dengan Sisingamangaraja XII akhirnya beliau memilih pindah beserta pengikutnya ke Lumban Partungkoan kurang lebih 100 meter dari Lumban Sisonak.

Pada saat situasi memungkinkan  Sisingamangaraja XII bercerita kepada Ompu Raja Doli Situmorang  tentang perlawananya bersama  rakyat menghadapi Belanda di wilayah Silindung (1878) dan di Toba (1883) yang akan menguasai tanah Batak. Akhirnya Ompu Raja Doli Situmorang  sepakat dengan Sisingamangaraja XII untuk melawan Belanda dengan menggunakan taktik perang gerilya dari hutan hutan disekitar Lintong

Belanda akhirnya mengetahui bahwa Sisingamangaraja XII berada di Lintong berkat laporan penghianat-penghianat bangsa , yang kemudian Belanda mempersiapkan pasukannya untuk menyerang dan menangkap Sisingamangaraja di wilayah Lintong.

Ompu Raja Doli Situmorang memerintahkan anak-anaknya mempersiapkan dirinya untuk menghadapi pasukan Belanda, putranya yang bernama RO.Sodunggaron menggerakkan rakyat Lintong dan mengurus perbekalan bersama anaknya yang bernama Abdajonggur, sedangkan anaknya yang bernama Ompu Babiat mengatur pasukan dan memimpin pertempuran melawan Belanda, Pertempuran pertama di Lintong adalah pada tahun 1889.

Meskipun Belanda melakukan taktik bumi hangus namun RO dan Ompu Babiat tidak mengurangi daya juangnya malah sebaliknya semangat juang  Keturunan Ompu Raja Doli Situmorang alias Raja Lintong beserta rakyatnya  melawan Belanda membuat Belanda akhirnya mundur dari Lintong dan mengurangi tekanan pada pasukan Ompu Raja Doli Situmorang untuk sementara waktu. Hal ini disadari Ompu Raja Doli Situmorang bahwa Belanda pasti akan kembali menyerang mereka.

https://i0.wp.com/sipituama.com/wp-content/uploads/2012/12/sitorjaap31.jpg

Sisingamangaraja XII mempersiapkan pangkalan atau markasnya di Pearaja-Dairi kurang lebih 20 km dari Lintong dengan pertimbangan demi strategi perjuangan, daerah yang dipilih tepat berada dijalan lintong – Barus. Benar apa yang diperhitungkan Ompu Raja Doli Situmorang, Belanda kembali menyerang dengan maksud akan menangkap Ompu Raja Doli Situmorang dan keluarganya, namun Ompu Raja Doli Situmorang dengan keluarganya berhasil menghindar dengan masuk kedalam hutan Lintong.Dan setiap Belanda menyerang mereka akan menangkap dan menyiksa para penduduk disamping Belanda membakar habis rumah penduduk sebagai hukuman atas perlawanan mereka (1889,1904 dan 1907)

Segala cara diupayakan Belanda  membujuk Ompu Raja Doli Situmorang untuk menyerah melalui utusan Belanda (bangsa batak)  namun tidak pernah dihiraukan.Pada suatu saat datang utusan belanda menemui Ompu Raja Doli Situmorang dan keluarga dengan tujuan membujuknya  menyerah pada belanda ,tetapi tentara Belanda sudah memasuki Lintong untuk menangkap Ompu Raja Doli Situmorang dan keluarganya, tetapi beliau  mengetahui dan mereka segera  menghindar ke hutan Lintong dengan taktik gerilya. Ompu Raja Doli Situmorang mengetahui bahwa Belanda tidak pernah berniat baik untuk memperlakukan putra tanah batak.

Selama bergerilya Ompu Raja Doli Situmorang menerima bantuan dari beberapa orang yang simpatik akan perjuangannya seperti:

  1. Ompu Badingin Sagala dari Lumban Sagala, Harianboho
  2. Aman Sanggam Sihotang dari aek tumpahan,Harianboho
  3. Ompu Saborang dari Sidikkabor,Parbuluan
  4. Ampanggapang Situmorang dari Parbuluan
  5. Ompu Sailoan Sinaga dari Sosor Dolok,Harianboho
  6. Ompu Raja Naro Sinagadari Sosor dolok,Harianboho
  7. Ompu Batuan Sinaga dari Sosor dolok,Harianboho
  8. Ompu Biung Sinaga dari Sosor dolok,Harianboho
  9. Ompu Banua Sagala dari sagala
  10. Ompu Somba dari Sagala
  11. Ompu Djundjungan  Sinaga dari Baniara, dll

Ompu Raja Sihotang dari Huta Galung datang ke Limbong untuk bergabung dengan Ompu Babiat Situmorang melawan Belanda, anak-anaknyapun diikut sertakan seperti OR.Ingul,Aman Tumais dan Ampardjou sihotang untuk bergerilya hingga tahun 1907. Ompu Sailoan Sinaga, Ompu Raja Naro Sinaga, Ompu Batuan Sinaga,Ompu Biung Sinaga dari Sosor dolok, Harianboho  (ipar dari RO. Sodunggaron Situmorang) terkadang mengirimkan beberap orang untuk membantu perlawanan tersebut,anak-anak RO Sodunggaron sewaktu-waktu dapat diungsikan ke kampong Ompu Sailoan untuk menghindari penangkapan oleh Belanda. Ompu BAnua Sagala dan ompu Somba Sagala dari negeri Sagala juga mengirimkan bantuan tenaga. Apabila situasi genting maka anak-anak  dari Lintong dijemput dan diungsikan ke Lumban Sagala dan disembunyikan oleh OmpuBanua dan ompu Somba (ipar Ompu Babiat)

bersambung…………………………..

Perang Kebudayaan

Pertanyaan yang menggelitik di sodorkan oleh Kang Usup “Apakah Korea Bagi Indonesia : Sebuah Ancaman ?” secara spontan saya memberikan komentar diantaranya : …. Apa yang dilakukan korea juga negara2 lainnya adalah bentuk “Serangan Budaya” dengan senjata fashion, film, fun, dll yang berujung pada “imperialisme kebudayaan” jd secara tak sadar kita telah masuk pada episode perang dunia ke-tiga yaitu perang budaya..  komentar yang membuat saya mengingat-ngingat kembali pemahaman tentang perang kebudayaan.  Sedikit waktu mencari di rak buku, akhirnya ketemu dengan buku tulisan Imam Ali Khamenei yang berjudul “Perang Kebudayaan” yang diterbitkan oleh Cahaya tahun terbit 2005.

Dalam bab pertama tentang “perang kebudayaan” disitu tertulis bahwa  : Makna dan maksud “perang kebudayaan” adalah saat suatu kekuatan politik atau ekonomi melakukan penyerangan atau teror halus terhadap prinsip-prinsip dan unsur-unsur kebudayaan umat lain. Serangan tersebut bertujuan merealisasikan keinginannya dan menundukkan  umat dimaksud di bawah  kendalinya. Dalam konteks perang ini, dengan cara paksa, memberlakukan keyakinan dan kebudayaan baru sebagai ganti kebudayaan dan keyakinan lama umat itu.

Perang semacam ini bercorak budaya, karena berlangsung diam-diam tanpa menimbulkan kegaduhan atau menarik perhatian.

Perang kebudayaan menghendaki generasi baru melucuti keyakinan dirinya dengan berbagai cara. Pertama, menggoyangkan keyakinan mereka terhadap agamanya. Kedua, memutuskan hubungan mereka dari keyakinan mereka terhadap prinsip-prinsip revolusi. Ketiga, menjauhkan mereka dari pemikiran  efektif yang mampu menghasilkan kekuatan besar yang berwibawa supaya menggiring mereka  untuk merasakan keadaan yang diliputi ketakutan dan ancaman.

Dalam perang kebudayaan, para musuh  berusaha memaksakan unsur budayanya kepada negeri yang diserangnya. Mereka menanamkan keinginan dan kepentingannya jauh di lubuk jiwa bangsa yang dijadikan targetnya. Tentunya sudah diketahui pasti ada kepentingan dan keinginan musuh tersebut.

Perang kebudayaan dilakukan berdasarkan  dua pilar yang patut kita perhatikan dengan seksama. Pertama, menggantikan budaya setempat (lokal)  dengan budaya asing.  Kedua, melakukan serangan budaya terhadap nilai-nilai yang menyangga negara  dan bangsanya dengan berbagai cara dan sarana. Di antaranya, mengimpor film-film dan drama picisan  berseri produksi asing serta penyebaran buku-buku dan majalah yang ditulis berdasarkan arahan pihak asing.

Tentang “Benturan Kebudayaan” mungkin  pernah mendengar atau membaca buku karya seorang Antropolog berjudul The Clash of Civilization. Buku ini dikarang oleh seorang Antropolog bernama Samuel P Huntington. Inti dari buku ini adalah bahwa suatu ketika akan datang masa dimana kebudayaan-kebudayaan yang satu akan saling bersaing dengan kebudayaan-kebudayaan yang lain. Persaingan ini akan menyebabkan benturan-benturan kebudayaan. Akibat dari benturan ini adalah munculnya satu kebudayaan pemenang, yang artinya kebudayaan-kebudayaan lain yang mengalami kekalahan akan tersingkir bahkan terhapus dari muka bumi. Dengan kata lain perang kebudayaan melahirkan sang pemenang yang akan menjajah bangsa lain dengan budayanya.

Teori Benturan Peradaban yang dipaparkan oleh Samuel Huntington, menunjukkan bahwa para ahli teori Barat, dalam rangka menyukseskan dan memaksakan pandangan-pandangan mereka, mencanangkan perang antara peradaban dan kebudayaan Barat melawan peradaban dan kebudayaan bangsa-bangsa lain. Berbagai media massa Barat pun melancarkan propaganda luas terus menerus, menyerang nilai-nilai agama, kemanusiaan, dan nasionalisme, seperti perlawanan menentang penjajahan, perjuangan menegakkan keadilan, perdamaian dan sebagainya. Serangan propaganda ini dilakukan dengan metode-metode yang sangat halus, sehingga tidak terasa oleh masyarakat pada umumnya. Media-media ini, dalam berbagai film, berita dan laporan, secara tidak langsung, menyerang dan melecehkan kebudayaan dan peradaban bangsa-bangsa lain. Pelecehan terhadap kesucian-kesucian agama dan kehormatan nasional, termasuk diantara metode lain yang digunakan oleh media-media Barat, dengan tujuan merendahkan kesucian-kesucian tersebut dalam pandangan masyarakat umum.

Mas Itempoeti pernah memberikan ulasan menarik tentang “imperialisme budaya” melalui proses rekayasa sosial yang melibatkan dua lembaga sosial-budaya yaitu pendidikan dan media massa. Menurut beliau lembaga pendidikan dan media massa adalah dua alat yang sangat potensial untuk bisa mencetak manusia-manusia baru Indonesia yang bersikap dan berperilaku sesuai dengan standar spesifikasi yang mereka tentukan.

Dari dua lembaga sosial-budaya tersebut lahirlah anak-anak bangsa yang tak lagi mengenal nilai-nilai budaya bangsanya. Maka tak heran jika saat ini bangsa yang pernah mengalami kejayaan dan kegemilangan di masa lalu telah mengalami keterpurukan yang luar biasa di berbagai aspek kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Suka atau tidak, bangsa ini adalah bangsa yang telah kehilangan jati dirinya sebagai sebuah bangsa. Sebuah bangsa yang begitu bangga menjadi subordinasi dari imperialisme budaya bangsa lain.

Senjata budaya yang lain adalah teknologi, dengan mengangkat isu korelasi budaya dan tehnologi. Isu yang menciptakan opini bahwa setiap tehnologi itu menyimpan budaya yang khas. Dan, dimana saja teknologi itu masuk ke suatu negara, secara otomatis budayanya pun turut masuk ke dalamnya. Maka itu, kita dipaksa memilih dua pilihan; menerima teknologi dengan segenap budaya yang dikandungnya, atau sama sekali menolak secara mutlak teknologi berikut budayanya. Karena teknologi itu diperoleh dari dunia Barat, maka mau tidak mau budaya pun harus datang dari sana pula.

Kenyataannya, isu ini telah menunjukkan kegagalannya di Jepang. Mengapa? Karena di Jepang kendati secara terbuka menerima masuknya budaya Barat, namun mereka tetap menjaga dan mempertahankan adat istiadat, nilai-nilai ketimuran, serta budaya bangsanya. Dengan begitu, masyarakat Jepang mampu mencapai kemajuan yang luar biasa pesatnya, bahkan mampu melampaui pencapaian masyarakat Barat itu sendiri.

Menghadapi Perang Kebudayaan

Perang butuh kepercayaan dan keyakinan terlebih perang budaya yang bersifat non-fisik yang berlangsung diam-diam tanpa menimbulkan kegaduhan atau menarik perhatian. Kita harus benar-benar mempercayai dan meyakini bahwasanya sekarang kita menjadi target serangan bertubi-tubi perang kebudayaan dari berbagai arah baik barat maupun timur. Serangan budaya ini bersifat menyeluruh, terorganisir dan terencana.

Perang kebudayaan lebih menyerupai bom kimia yang meledak di kegelapan malam yang tak seorangpun merasakannya. Namun, setelah ledakan itu terjadi beberapa saat, niscaya kita menyaksikan banyak orang yang wajah dan tangannya terluka parah. Perang kebudayaan berlangsung dalam bentuk seperti itu (ledakan bom kimia); secara tiba-tiba kita akan melihat akibat dan dampaknya secara jelas di sekolah-sekolah, jalan-jalan, organisasi, dan diberbagai pejuru tempat lainnya.

Hal-hal yang wajib diperhatikan masyarakat dan tak boleh dibiarkan seperti ini adalah, pertama, berjaga-jaga menghadapi serangan budaya. Kedua, menjaga iman. Ketiga, tidak melupakan musuh dan tidak mengabaikan terhadap permusuhannya.

sumber:   Kopral Cepot

Pandangan Orang Modern tentang Adat terlalu sinis

Bagi orang modern, membicarakan adat adalah hal yang tak menarik, sudah ketinggalan zaman, sudah kuno, kolot, dan bukan zamannya lagi. Tapi bagi orang modern yang sudah bete dengan kemoderenan, membicarakan adat berarti keluar dari kesumpekan, keluar dari kepengapan tradisi, sejenis pembebasan, bebas dari kemonotonan, keluar dari alur utama sejarah, dan karenanya jadi ‘seksi’. Dan biasanya, yang ‘seksi’ dapat menggerakkan gairah dan merangsang gerak. Kekakuan wacana berubah jadi elastis dan, ibarat air, ia kembali mengalir.

Sudah lama kita tidak bicara tentang adat. Kalaupun bicara, paling banter hanya untuk mencela dan memakinya habis-habisan. Kita sudah lupa, bahwa sebelum kita menghayati hidup secara modern, hidup kita dulu sudah pernah dihayati dengan penghayatan total secara adat. Sekolah Adatlah yang pernah melahirkan nenek dan kakek kita, yang mengajari mereka pertama kali memandang kehidupan dan membangun peradaban yang khas yang dilandasi atas pandangan hidup itu. Adatlah ‘agama’ pertama mereka, ‘filsafat’ pertama mereka, ‘sosiologi’ pertama mereka, ‘politik’ pertama mereka, ‘ekonomi’ pertama mereka, ‘sains’ pertama mereka. Adat adalah asal mula, sangkan, alpha, genesis, ‘rumah’ pertama kita.

Karena adat adalah ‘rumah’ pertama kita, meskipun kita sudah bergelar Doctor (Ph.D) dan dididik di sekolah model modern, toh kita masih juga percaya tuyul, babi ngepet, dukun, nomor hoki, primbon, mujarobat, malam Jum’at Kliwon, kuntilanakadat tidak mungkin kita hilangkan sisa-sisanya dalam alam-bawah sadar kita, dalam dasar benak kita yang paling dalam. Kita tidak pernah bisa menjadi modern 100 %, dan itu bukanlah hal yang harus ditangisi atau disesali. Kita harus mengakui dengan amat sadar, bahwa lidah dan selera adat kita akan singkong rebus tidak akan pernah bisa hilang, walaupun 1001 Restoran McDonald’s menyerbu dan menelikung seluruh kota di Indonesia!

Saat Modernitas berkuasa, adat bungkam atau mungkin dibungkamkan. Lembaga-lembaga modern meminggirkannya. Modernisme menjadi raja wacana, adat jadi budaknya. Adat jadi kambing hitam yang gemuk untuk dicela dan dimaki-maki Modernitas. Tapi, saat Roda Takdir berputar dan Modernitas runtuh saat ‘Krisis Nasional 1998’ terjadi, Adat mulai memberanikan diri untuk lepas dari ketertindasannya dan meraih kembali kemerdekaannya. Keadaan membalik, kini adat yang bebas memaki-maki dan mencela Modernitas. Suatu tindakan balas, tapi tindakan balas yang lebih cerdas dari yang sebelumnya. Adat kini tidak memakai ‘logika lama’nya yang sudah dekaden untuk mengritik Modernitas, tapi memakai ‘logika baru’ yang lahir dari evaluasi terus-menerus dan kritik tak kenal lelah atas Modernitas. Adat menemukan angkatan baru tentara setia dari orang-orang modern yang sudah muak dengan kemoderenan. Mereka menggunakan ‘logika baru’ untuk mengritik Modernitas, sekaligus untuk mengapresiasi-ulang Adat.

‘Logika baru’ macam apa yang mereka gunakan? Yang jelas adalah ‘logika’ yang lebih cerdas dari ‘logika modern’, yakni, cara memandang realitas umum secara lebih baik, yang meluaskan cakrawalanya hingga ke aspek-aspek riel yang belum dijamah dan tersentuh oleh ‘logika modern’. ‘Logika modern’ hanya menganggap riel realitas fisikal, sedangkan realitas metafisikal dianggapnya tidak riel, tidak ada. ‘Logika baru’ memandang realitas fisikal dan realitas metafisikal sebagai dua segi dari satu hal yang sama: Realitas. Keduanya ada dan di-ada-kan, karena dipisahkan oleh definisi dan abstraksi ‘logika modern’. Mulanya Realitas itu tunggal, tapi kemudian ‘logika modern’ memisah-misahnya ke dalam dua pisahan, sebab ‘logika modern’ tidak bisa memahami banyak hal dengan representasi satu kata. ‘Logika modern’ cenderung memisah-misah dalam definisi-definisi, sehingga kenyataan seolah-olah pisah. Padahal, kepisahan hanya merupakan kesan logis yang diakibatkan oleh definisi, bukan realitas sebenarnya yang memang tidak pisah. ‘Logika baru’ menolak kesan logis yang ditimbulkan definisi dalam memandang realitas, dan kembali menyadarkan manusia bahwa Realitas sesungguhnya tunggal. Tapi bukan berarti bahwa dengan mengatakan Realitas itu tunggal, lantas ‘logika modern’ bisa seenaknya bilang bahwa Realitas itu fisikal tunggal. Tidak begitu. ‘Logika baru’ mengoreksi ‘logika modern’ yang memandang Realitas sebagai yang semata-mata fisikal, tapi Realitas adalah kesatuan tunggal metafisik dan fisik. ‘Logika baru’ ingin memakai kembali ‘saudara kembar’ fisika yang dulu ditelantarkan ‘logika modern’, yakni metafisika. Dengan menyandingkan fisika dengan metafisika, maka Realitas kembali dipahami manusia secara tunggal, utuh, integral.

‘Logika baru’ yang integral tersebut akan digunakan dalam tulisan ini untuk mengritik beberapa pandangan modern yang terbukti salah mengenai adat. Agar obyek kritikan kita kian jelas, di sini dikutip beberapa pandangan kalangan modernis mengenai adat.

Tan Malaka (sek. 1897-1949) menulis dalam bukunya Massa Actie (1926) sebagai berikut:

Zaman yang lalu, zaman penjajahan Hindu dan Islam serta zaman kesaktian yang ‘gelap’ itu, tak dapat menolong kita walaupun sedikit. Marilah sekarang kita adakan tembok baja antara zaman dulu dan zaman depan, dan jangan sekali-kali melihat ke belakang dan mencoba-coba mempergunakan tenaga purbakala itu untuk mendorong masyarakat yang berbahagia. Marilah kita mempergunakan pikiran ‘rasional’ sebab pengetahuan dan cara berpikir yang begitu adalah puncak tingkatan yang tertinggi dalam peradaban manusia dan tingkatan pertama buat zaman depan. Cara berpikir yang rasionil, membawa kita kepada kekuasaan atas tenaga-tenaga alam yang mendatangkan manfaat, dan pemakaiannya yang benar, yang kepada cara pemakaian itu makin lama makin bergantung nasib manusia. Hanya cara berpikir dan bekerja yang rasionil menarik manusia dari ketakhayulan, kelaparan, hawar dan perbudakan, dan membimbing manusia kepada kebenaran…[1]

Tan Malaka memandang adat sebagai ‘tenaga purbakala’ di ‘zaman kesaktian yang gelap’, yang penuh dengan ‘ketakhayulan, kelaparan, hawar, dan perbudakan’. Sebaliknya, Tan Malaka memuji-muji Rasionalisme sebagai ‘puncak tertinggi dalam peradaban manusia’ di ‘zaman depan’ yang akan membawa manusia Indonesia ‘kepada kekuasaan atas tenaga-tenaga alam yang mendatangkan manfaat’ dan yang dapat ‘menarik manusia dari ketakhayulan, kelaparan, hawar, perbudakan, dan membimbing manusia kepada kebenaran’.

Benarkah adat penuh berisi takhayul dan karenanya, adat tidak membimbing manusia Indonesia kepada kebenaran? Tan Malaka menggunakan Rasionalisme-Barat sebagai instrumen untuk mengukur dan menilai adat—suatu hal yang tidak adil, tapi juga yang tidak dapat dihindari. Pertama, dikatakan ‘tidak adil’, karena adat dipahami sebagai obyek untuk kacamata ontologis yang berlainan yang sungguh-sungguh membencinya. Adat diserang dari luar dirinya, dari sesuatu yang asing darinya, dari sesuatu yang tidak mengenalnya, dari sesuatu yang buta terhadapnya, dan karenanya, ia tidak mungkin dapat memahami adat sebagaimana adat memahami dirinya sendiri. Ini tidak adil. Ini penjajahan pandangan. Tapi, kedua, dikatakan ‘tidak dapat dihindari’, karena beginilah dinamika pemikiran. Suatu pemikiran tidak akan maju, jika tidak mengalami kritik. Adat harus terus-menerus dikritik, diperbarui, dimakna-ulang, didewasakan, ditinggikan kesempurnaannya, agar ia maju, kian sempurna, kian canggih. Tapi, tentunya jangan disalah-pahami, bahwa adat perlu dikritik oleh Rasionalisme. Jika adat dikritik oleh sesuatu yang membencinya, maka kritikan tersebut tidak mungkin dapat meninggikan kemajuan adat, tapi malah menolaknya, membuangnya jauh-jauh. Begitulah yang terjadi, jika Rasionalisme mengritik adat. Bukan adat kian disempurnakan oleh Rasionalisme, tapi justru adat dilemahkan dan ditaklukkan. Itulah yang diimplikasikan dari pernyataan Tan Malaka ‘marilah sekarang kita adakan tembok baja antara zaman dulu dan zaman depan, dan jangan sekali-kali melihat ke belakang dan mencoba-coba mempergunakan tenaga purbakala itu untuk mendorong masyarakat yang berbahagia,’ yang penuh kebencian terhadap adat dan mengajak untuk membuangnya jauh-jauh.

Apakah Tan Malaka hendak membuang jauh-jauh adat, lantaran adat mengandung takhayul dan kepalsuan? Sayangnya, Tan Malaka menulis karyanya ini pada tahun 1926, tahun dimana Rasionalisme belum berintrospeksi akan dirinya, belum bercermin-diri, serta belum menyadari ilusi-ilusi dan superstisi-superstisinya yang dikandungnya sendiri. Jika Tan Malaka masih hidup di tahun 2000-an dan berkenalan dengan Paskamodernisme-Barat, maka mungkin saja Tan Malaka akan mengoreksi pandangannya itu. Lagi pula, takhayul baru dibenci pada saat Rasionalisme muncul, tidak sebelumnya. Takhayul masih dimaknai secara positif oleh manusia adat, jauh sebelum Rasionalisme membencinya. Manusia adat memiliki ‘takhayul yang benar’—tentunya ‘benar’ menurut kriteria adat, bukannya ‘benar’ menurut Rasionalisme. Di zaman Paskamodern, perbedaan antara fiksi dan realitas kian blur, kian kabur, kian tidak jelas. Kebenaran pun bersifat lokal dan dipengaruhi oleh kebudayaan setempat. Obyektifitas dalam Modernisme kini dipahami sebagai ilusi dan superstisi. Bahkan, secara ekstrim dapat dikatakan, bahwa takhayul dan pentakhayulan adalah sesuatu yang sungguh-sungguh diberkati dan direstui oleh Paskamodernisme.

Apakah Tan Malaka akan memilih adat jika elemen takhayul dalam adat telah dibuang? Saya pikir tidak. Tan Malaka memandang takhayul sebagai substansi dasar adat, yang hanya dapat dihilangkan dengan mengadopsi suatu yang baru yang dianggapnya tidak mengandung takhayul: Rasionalisme. Maklumlah, sebab Tan Malaka pun belum bisa mengritisi dan melampaui MADILOGnya (Materialisme, Dialektika, Logika). Dia ‘anak kandung’ Modernisme yang belum bisa membangkangi Modernisme. Alih-alih terbebaskan dari takhayul adat, Tan Malaka malah masuk ke alam takhayul baru, yakni ‘takhayul modern’, yang dimisalkan dengan Obyektifitas, Sains Bebas-Nilai, Hukum Konstan Sejarah, Ekonomi Berkemanusiaan, Masyarakat Tak-Berkelas, dan lain-lain.

Apakah takhayul itu salah? Itu tergantung pada kacamata apa yang dipakai. Adat memandang takhayul sebagai suatu yang biasa, wajar, benar. Tapi Modernisme memandang takhayul adat sebagai suatu yang abnormal, palsu, salah. Pada gilirannya, Paskamodernisme memandang Modernisme memiliki sejumlah takhayul yang juga dianggapnya abnormal, palsu, salah. Dan pada gilirannya pula, suatu mazhab filosofis baru yang entah apa namanya di masa depan akan memandang palsu takhayul-takhayul yang dipercayai Paskamodernisme dan menganggapnya semua sebagai palsu dan salah. Lalu, pelajaran apa yang dapat dipetik dari uraian ini? Pertama, barangkali hobi manusia adalah bertakhayul; kedua, setiap ‘takhayul lama’ yang dikritik akan menghasilkan ‘takhayul baru’; dan ketiga, manusia berpindah-pindah dari satu jenis ‘takhayul sederhana’ menuju ‘takhayul yang kompleks’.

Karena istilah ‘takhayul’ sudah kadung berkonotasi negatif (lantaran Modernisme menyebutnya sebagai superstition, fallacy, delusion, false notion, misconception, falsehood, dan falsity), maka di sini akan digunakan padanan-katanya yang agak berkonotasi positif, seperti imagination atau vision. Manakah manusia yang tidak pernah melakukan semua hal itu? ‘Manusia modern’ manakah yang tidak pernah bermimpi atau berimajinasi? Bagaimana mungkin menganggap palsu suatu yang tidak pernah bisa ia hilangkan dalam hidupnya sebagai manusia? Tidakkah Karl Marx pun berimajinasi tentang Classless Society, Muhammad berimajinasi tentang Al-Jannah, Thomas More tentang Utopia, Soekarno dan Soeharto tentang Masyarakat Pancasila, dengan cara yang sama dengan orang Jawa adat asli yang berimajinasi tentang negeri yang gemah ripah loh jinawi?

Demi kuatnya argumentasi tentang hobi takhayul manusia, dikutip di sini pandangan seorang filosof Paskamodern, Susanne K. Langer (1895-1985). Dalam karyanya yang fenomenal berjudul Philosophy in A New Key: A Study in the Symbolism of Reason, Rite, and Art, Susanne menegaskan bahwa dalam memahami kenyataan di luar dirinya, manusia senantiasa memproduksi citra-citra mental yang berupa simbol-simbol, dan simbol-simbol ini senantiasa berubah-ubah (dalam ungkapan Susanne, symbolic transformation). Realitasnya mungkin saja sama, tapi simbol-simbol yang merepresentasikannya berubah-ubah sejalan dengan pemahaman manusia yang berubah-ubah. Bukan hanya sains yang dipahami manusia secara simbolis, tapi juga mitos, analogi, nalar metaforis (metaphorical thinking), dan seni. Produksi simbol-simbol yang terus berubah-ubah (symbolic transformation), dalam penelitian Susanne, merupakan aktivitas manusia yang alamiah dan wajar. Wajar berarti tak salah. Kata Susanne:

…there is a primary need in man, which other creatures probably do not have, and which actuates all his apparently unzoological aims, his wistful fancies, his consciousness of value, his utterly impractical enthusiasms, and his awareness of a “Beyond” filled with holiness. Despite the fact that this need gives rise to almost everything that we commonly assign to the “higher” life, it is not itself a “higher” form of some “lower” need; it is quite essential, imperious, and general, and may be called “high” only in the sense that it belongs exclusively (I think) to a very complex and perhaps recent genus. It may be satisfied in crude, primitive ways or in conscious and refined ways, so it has its own hierarchy of “higher” and “lower”, elementary and derivative forms.

This basic need, which certainly is obvious only in man, is the need of symbolization. The symbol-making function is one of man’s primary activities, like eating, looking, or moving about. It is the fundamental process of his mind, and goes on all the time. Sometimes we are aware of it, sometimes we merely find its results, and realize that certain experiences have passed through our brains and have been digested there.[2]

Jika dalam dirinya sendiri manusia memiliki potensi untuk senantiasa bertakhayul (imagining), mampukah ia mencapai kebenaran? Itu tergantung ukuran kebenaran apa yang dipakai. Jika yang dipakai adalah ukuran kebenaran Rasionalisme, maka takhayul tetap saja dianggap tidak benar. Tapi jika yang dipakai adalah ukuran kebenaran adat, maka takhayul dianggap benar. Apakah manusia bisa seragam, bersuara satu dengan bulat, mengukur dengan satu ukuran yang tidak tergoyahkan, untuk mencapai kebenaran? Saya pikir, tidak bisa. Manusia saja sudah berlain-lainan dalam lain dimensinya, maka bagaimana mungkin ukuran kebenarannya dapat seragam?

Yang mungkin dilakukan adalah memadukan. Memadukan ukuran kebenaran Rasionalisme dan Adat. Elemen-elemen yang berlawanan secara semu dalam Rasionalisme dan Adat dipadukan, sehingga cakrawala manusia kian luas. Fisika dan metafisika dipadukan lagi. Bahasa modern dipakai dan diperluas untuk menjelaskan ekspresi-ekspresi adat. Memang, itu bukan lagi berwujud sebagai Modernisme atau adat, tapi suatu yang baru, suatu yang Paskamodern. Susanne K. Langer di Barat sudah melangkah ke arah itu, kita yang di Timur hanya tinggal kembali ke adat dan memadukannya dengan Modernisme.

Yang juga dikritik di sini adalah pandangan Sutan Takdir Alisjahbana (1908-1994). Dalam banyak kesempatan, Takdir memuja-muja Modernisme-Barat dan memaki-maki adat. Kata Takdir:

Kalau kita analyseeren masyarakat kita dan sebab-sebabnya kalah bangsa kita dengan perlombaan bangsa-bangsa di dunia, maka nyatalah kepada kita bahwa menjadi statischnya, menjadi matinya, tiada berjiwanya masyarakat bangsa kita ialah karena berabad-abad itu kurang memakai otaknya, kurang egoisme (yang saya maksud bahagiannya yang sehat), kurang materialisme. Dalam hal intellect berabad-abad bangsa kita parasiteren, hidup seperti benalu pada masa yang silam. Bangsa kita tiada mengasah otaknya, tiada berusaha mendapat pikiran sendiri, ia menjadi Sleurmens.

Perasaan individu, persoonlijkheid di dalam bangsa kita semati-matinya, oleh karena dalam masyarakat kita yang lama individu itu terikat oleh bermacam-macam ikatan: adat-istiadat, kebiasaan, bermacam-macam tahyul, pikiran dan pemandangan yang bukan-bukan…[3]

Rakyat Indonesia ini mesti berubah, mesti menjadi manusia moderen dan melihat sejarah penjajahan dahulu sebagai kekalahan kualitas bangsa kita terhadap kualitas bangsa Belanda. Kekalahan kita sebenarnya tentang kecerdasan kita, tentang pengetahuan kita, tentang kegiatan kita. Sudah cukup kita menyalahkan Belanda. Sekarang apa boleh buat kita mesti menyalahkan juga nenek moyang kita yang dijajah Belanda. Kalau kualitas bangsa kita dulu sama baiknya dengan kualitas bangsa Belanda, sejarah akan menjadi lain, yaitu kita yang menjajah negeri Belanda yang begitu kecil.[4]

Apa yang mesti berubah dari manusia Indonesia, Takdir pun menjelaskannya:

Mau tidak mau kita mesti berubah tentang mentalitas; yaitu dari cara berpikir dan berbuat, dari kesantaian dan kepasrahan kebudayaan expresif yang berdasarkan perasaan, intuisi, dan imajinasi agama dan seni, kepada mentalitas kebudayaan progresif moderen yang berdasarkan rasio, efisiensi, dan sikap keaktifan rohani dan jasmani yang terjelma menjadi kemajuan ilmu, kemajuan teknologi dan kemajuan ekonomi.[5]

Otak Indonesia harus diasah menyamai otak Barat! Individu harus dihidupkan sehidup-hidupnya! Keinsyafan akan kepentingan diri harus disadarkan sesadar-sadarnya! Bangsa Indonesia harus dianjurkan mengumpulkan harta dunia sebanyak-banyak mungkin! Ke segala jurusan bangsa Indonesia harus berkembang![6]

Dalam pandangan Takdir, Adatlah yang membuat bangsa kita dijajah dan kalah oleh Belanda. Kenapa kita kalah oleh negeri kecil di Eropa itu? Menurut Takdir, karena adat tidak membuat individu menjadi berkembang dan maju, karena adat mengikat manusia Indonesia dengan ikatan yang tidak boleh dilanggar, karena adat tidak membolehkan manusia Indonesia untuk menggunakan otaknya, untuk menginsyafi kepentingan pribadi, serta untuk menghargai materi dan materialisme.

Kritikan yang sama juga kita tujukan kepada Takdir: bagaimana mungkin ia memahami adat secara benar, jika ia membencinya? Bukan hanya peribahasa ‘tak kenal, maka tak sayang yang relevan di sini, tapi juga ‘tak sayang, maka tak kenal’. Sebab, sebagaimana diungkap baik oleh Santo Aurelius Augustinus (l. 354), ‘tak ada kebaikan yang dapat dipahami secara sempurna, jika kebaikan itu tidak dicintai secara sempurna‘. Cintalah pendorong dasar pemahaman, bukannya pemahaman pendorong dasar cinta. ‘Cintalah yang bertanya, cintalah yang mencari-cari, cintalah yang mengetuk-ngetuk, cintalah yang menyingkap, dan akhirnya, cintalah yang mengabadikan segala yang telah tersingkap‘, demikian Santo Aurelius Augustinus.

Adatkah yang menyebabkan bangsa kita terjajah? Bisa jadi itu benar, tapi bukan berarti bahwa adat bersalah dalam hal ini. Penjajahan bukan hanya dimengerti oleh orang modern sebagai ‘dosa kemanusiaan’, tapi juga oleh orang adat. Lagipula, adat tidak mengenal ‘kebohongan-kebohongan licik’ sebagai taktik dan strategi perang—suatu yang digunakan penjajah Modern-Belanda di Indonesia untuk menangkapi pemimpin perang adat. Saat penjajah gagal dalam pertempuran-pertempuran teratur, maka mereka menggunakan strategi musyawarah, yang mereka ketahui sangat dihormati oleh adat, untuk menangkapi pemimpin perang adat yang sulit mereka taklukkan, sebagaimana dialami oleh Diponegoro. Mereka membuat ‘musyawarah-musyawarah palsu’ untuk memenangkan perang. Hukum perang adat, dalam penelitian GPH Haryomataram, justru sangat menghargai kepatriotan dan menghindari ‘kebohongan licik’.[7] Bahwa kemudian adat tidak dapat mengalahkan kecanggihan teknologi perang dan kelicikan taktik perang Belanda, bukanlah merupakan kesalahan. Adat sudah berupaya keras untuk memenangkan perang kolonial dengan taktik perang adat yang patriotik, tapi Belanda yang moderenlah yang menggunakan cara-cara licik, tidak patriotik, dan penuh kebohongan yang rupanya jadi pemenang perang.

Kita memang harus mengritik adat, agar dapat memajukan adat. Tapi mengritik adat dengan suatu yang membencinya (seperti Modernisme) tidak akan menghasilkan kritikan yang memajukan adat, tapi malah membuangnya. Dengan menyayangi adat, lalu mengritiknya atas dasar kecintaan terhadap adat, maka adat akan maju, kian baru, kian sempurna.

Di kemudian hari, menjelang wafatnya, Sutan Takdir mengoreksi pandangannya yang memaki adat, lalu memandangnya kembali sebagai suatu yang amat diperlukan orang Modern, untuk mengimbangi ekses-ekses Modernisme yang membahayakan Kemanusiaan. Kata Takdir:

…masyarakat dan kebudayaan modern itu mengalami krisis justru karena sifat-sifat kemodernannya yang dikuasai rasio, individualisme, dan keduniaan. Kedudukan rasio yang terlampau kuat dalam kehidupan masyarakat dan kebudayaan telah mengancam membuat masyarakat dan kebudayaan modern menjadi kering, kaku dan kasar; individualisme membuat perhubungan sesama manusia kehilangan kemesraan, kerukunan dan tolong-menolong, dan menjadi terpecah-pecah dan penuh kesepian pribadi. Kehidupan dan cita-cita yang berlebih-lebihan akan harta dan nilai keduniaan membuat suasana masyarakat dingin berhitung, malahan menimbulkan persaingan yang sering melampaui batas kemanusiaan. Dalam krisis ini, yang makin lama makin meluas, terutama angkatan muda di seluruh dunia mulai mencari nilai-nilai modern. Dalam hal ini kebudayaan Indonesia yang lama, seperti yang masih banyak dijelmakan oleh bahasa-bahasa daerah dalam rumusan nilai-nilai kerohanian dan kesusilaan, dapat memberi sumbangan.[8]

But in the face of the tremendously devastating modern weapons, product of the still fast progressing science and technology of our time, there is of course also the other possibility that the human race on this planet earth through the shortsightedness and narrowness of its mind and spirit, or Geist or Budi will beg down in its present insoluble, chaotic rivalries, conflicts, purposeless engine wars and commit suicide in a nuclear war. Then the human race will disappear from life on earth like formerly the mastodon and other extinct animal of prehistorical time. The evolution of human culture which started with the appearance of man on earth comes then to an end.

In the favorable and positive case, a further development of human mind-spiritual life and its cultural realization will take place. A new society and culture of the whole of humanity is then emerging, greater than any in the past…it is very likely that the great synthesizing and creative task of building up a new global society and culture of the whole of humanity will take place in Southeast Asia…which in the course of the history of the last 2,000 years has given evidence of its open-mindedness and assimilative power by accepting in its total cultural make-up not only the elements and traits of the great Chinese, Indian and Middle Age cultural tradition, but which with its native creativity has also been able to create out of this elements and traits great cultural monuments of lasting religious and aesthetic greatness.[9]

Takdir pun akhirnya menggunakan ‘logika baru’: memadukan adat dan Modernisme untuk melampaui ekses-ekses Modernisme yang membahayakan Kemanusiaan. Orang modern yang lain juga harus menyadari kesadaran yang sama dengan Takdir, bahwa Modernisme bukan segala-galanya, bukan pula adat segala-galanya. Kedua matra filosofis itu memiliki dekadensi dan kelebihan masing-masing. Yang satu tidak bisa menjatuhkan satu yang lain. Seorang filosof yang arif-bijaksana akan memadukan apa yang positif dalam adat dan Modernisme untuk memahami kenyataan secara lebih baik, sebagaimana diungkap secara baik oleh seorang filosof Uganda kontemporer, Zubairi `b. Nasseem:

If philosophy is the love of wisdom, then its function cannot be merely to reproduce the discourse and assumptions of the established powers. On the contrary, its function is to penetrate through to the other side and to create favorable conditions for the Other to come forward and express concerns, cares, disquietudes, and aspirations. In this process of recognizing and respecting the oppressed Other, the legitimacy of the Other’s discourse must first be established.[10]

___________________________

Diambil dari buku “Serat Adat” oleh: Ferry Hidayat


[1] Tan Malaka, Massa Actie, (Jakarta: CEDI & Aliansi Press, 2000), hh. 171-172

[2] Susanne Knauth Langer, Philosophy in A New Key: A Study in the Symbolism of Reason, Rite, and Art, (New York: The New American Library of World Literature, 1961), cet-11, h. 45

[3] Ignaz Kleden et.al. (eds.), Kebudayaan sebagai Perjuangan, hh. 17-21.

[4] Sutan Takdir Alisjahbana, ‘Kata Sambutan Rektor Universitas Nasional dalam menyongsong Tahun Baru 1987’, dalam Majalah Bulanan Ilmu dan Budaya, Tahun IX, No.5, Februari 1987, Jakarta, Universitas Nasional, h. 323.

[5] Sutan Takdir Alisjahbana, ‘Tugas Ilmu, Agama dan Seni dalam Krisis Poros Sejarah Dewasa Ini’, dalam Majalah Bulanan Ilmu dan Budaya, Tahun XII, No.1, Oktober 1989, Jakarta, Universitas Nasional, hh. 14-15

[6] Ignaz Kleden et.al. (eds.), Kebudayaan sebagai Perjuangan, hh. 17-21.

[7] GPH. Haryomataram et.al., Hukum Perang Tradisional di Indonesia, (Jakarta: Pusat Studi Hukum Humaniter Fakultas Hukum Universitas Trisakti, 1999), h. 35

[8] Sutan Takdir Alisjahbana, ‘Politik Bahasa Nasional dan Pembinaan Bahasa Indonesia’, h. 44.

[9] Sutan Takdir Alisjahbana, ‘Socio-Cultural Development in Global and National Perspective and Its Impacts’, dalam Majalah Bulanan Ilmu dan Budaya, Tahun X, No.10, Juli 1988, Jakarta, Universitas Nasional, hh. 730-731.

[10] Zubairi `b. Nasseem, ‘African Heritage and Contemporary Life: An Experience of Epistemological Change’, dalam AT. Dalfovo et.al. (eds.), The Foundations of Social Life, Ugandan Philosophical Studies, I, (Washington: Council for Research in Values and Philosophy [CRVP], 1992), Chapter 1, h.11

“Sangkamadeha” Pohon Kehidupan Orang Batak

 “Sangkamadeha” diartikan sebagai pengekspresian hidup dan kehidupan manusia dalam dunia nyata dengan segala kebanggaan dirinya.

“sangkamadeha” merupakan penggambaran pohon kehidupan pemberian sang pencipta (Mulajadi Nabolon) kepada manusia.
Sejak muda hingga tua, pohon ini tumbuh tegak lurus dan tajuknya “sundung” (menuju) langit.
Hidup di dunia dalam pertengahan usia adalah perkembangan sangat subur dan optimal, berkaya-nyata untuk dirinya dan orang lain.
Hasangapon, hagabeon dan hamoraon, adalah gambaran kesuburan yang dinikmati atas karunia sang khalik,
Biji berkecambah, tumbuh tunas, kemudian mekar. Dahan mengembang ke samping dan ke segenap penjuru angin, bagaikan tangan-tangan membentang (mandehai). Tumbuh makin matang (matoras) dan semakin kuat (pangko).
Dalam bahasa Batak, disebut ”torasna jadi pangkona”, diartikan sebagai kedewasaan yang dibarengi kebiasaan-kebiasaan hidup yang menjadi tabiat. Dalam kiasan (umpasa) Batak disebut “torasna jadi pangkona, somalna jadi bangkona”.
Menjelang ujur, tajuk semakin tinggi dan tetap menuju ke atas. Di masa tua, upaya pencapaian “sundung di langit” semakin terarah. Dari sana awalnya datang, di sana juga berakhirnya. Inilah akhir hidup manusia. Semua menuju ke penciptanya.
Perjalanan kehidupan manusia diakhiri, dan “sundung” ke alam penciptaan. Semua yang diperoleh di alam nyata, dunia fana, akan ditinggalkan.
Kebanggaan terpuji adalah tabiat yang baik dan benar, sesuai hukum dan adat istiadat. disebut sebagai “hasangapon”.
Cabang dan ranting yang banyak akan mempengaruhi kerimbunan dedaunan. Akar yang kokoh dan kerimbunan daun (hatoropon) sebagai gambarannya. Banyaknya populasi, disebut “hagabeon”.
 Buah adalah biji disertai zat bermanfaat untuk pertumbuhan dan stimulant kepada mahluk hidup untuk menyebarkannya. Ada buah, ada pemanfaat dan ada pertumbuhan. Inilah yang disebut “hamoraon,
Parjuragatan, mengartikan tempat bergelantungan ke sumber penghidupan. Sumber penghidupan ada beragam, seperti apa yang diberikan secara langsung (material) dan tidak langsung (non-material).Pemimpin adalah “parjuragatan”, di mana ditemukan keadilan dan pencerahan.Dia adalah “urat” (akar) hukum dan keadilan. Orang kaya (namora) adalah “parjuragatan”. Karena akar, memberi kehidupan material, penyambung hidup.
Kekayaan dengan `banyaknya buah`, bila tidak ada manfaat bagi orang lain, tidak akan ada yang berperan `menaburnya`.
Dia akan seperti ilalang yang menebar biji oleh tiupan angin karena tidak ada memberi manfaat dari buahnya bagi mahluk lain.
Kekurangan harta disebut “napogos” (miskin). Bila hartanya hanya cukup untuk bekal satu tahun disebut “parsaetaon” (pra sejahtera).
Bila sudah bisa menabung untuk cadangan pengembangan disebut “naduma” (sejahtera). Bila harta sudah menumpuk disebut `paradongan”.
“Namora” adalah sebutan kehormatan untuk yang aktif menolong sesama dengan harta bendanya sendiri. Jabatan ini, juga disandang dalam “harajaon” yang diartikan sebagai bendahara.
Kepada Raja dan “namora” disebut akar dari hukum dan kehidupan.
  •  Raja urat ni uhum,
  • Namora urat ni hosa,
Bila ada orang yang memiliki banyak harta, tapi tega membiarkan manusia di sekitarnya kelaparan, dia tidak dapat disebut “namora”, tapi “paradongan” atau “pararta.
Jika seseorang bermohon kepada Yang maha Kuasa “hamoraon”, jabarannya adalah harta benda, berikut hati yang iklas untuk mau dan mampu melakukan pertolongan kepada sesama manusia.
 Ada yang membedakan “hau sangkamadeha” dengan hau parjuragatan dan hau sundung di langit.
Menurut penjelasan beberapa orang tua dan pandai mengukir (gorga), bahwa penggambarannya adalah satu, tapi penjelasannya beragam.
Banyak yang memitoskan sebutan itu seperti pohon yang tumbuh di alam penciptaan, sehingga banyak yang tidak memahami pemaknaan beberapa perkataan itu dalam satu penggambaran.
Pada rumah “gorga” lama, gambaran “hau sangkamadeha” ini selalu dilukiskan dalam dinding samping agak di depan. Dalam penggambarannya kadang ada yang menyertakan gambar burung dan ular membelit.
Kayu yang berbuah selalu dihinggapi burung pemakan buah. Ular pun datang ke pohon itu, untuk memangsa burung (marjuragat). Semua mahluk berhak hidup, seperti manusia diberi hidup, menjadi bagian dari ekosistem.
Namun, dari semua mahluk yang “marjuragat” dalam pohon hidup, hanya manusia yang memahami “sundung di langit”.
Ada pemahaman lain yang dijelaskan, bahwa dalam menjalani hidup harus cermat dan teliti karena banyak musuh yang mengintip.
Sejak pemahaman barat masuk ke batak, dan mereka mengetahui penjelasan dari pohon (hau sangkamadeha), ada anjuran untuk tidak membuat lukisan itu lagi dalam rumah adat Batak.Pemahaman itu dianggap sesat. Sehingga, kemudian banyak rumah adat batak dibangun tidak menggambarkannya lagi. Tapi, diganti dengan gambar orang barat yang membawa hal baru, yang cenderung menyesatkan budaya batak.
Pemerhati budaya, Baginda Sahat Napitupulu, tinggal di Malaysia, menilai, orang Batak zaman dulu, cukup genius. Sebab, mereka mampu menggambarkan serta merumuskan tentang pohon kehidupan.
“Banyak filosopi yang dapat dimaknai dari sangkamadeha yang mengambarkan posisi kita sebagai orang batak. Apakah terkategori `napogos`, `parsaetaon`, `naduma`, `paradongan` dan `namora/harajaon`, “ujarnya.
Tapi, kata dia lagi, jika sudah jadi “namora”, jangan lupa membantu orang di sekeliling. Sanak saudara yang masih butuh bantuan. Kalau bisa, bantuannya jangan hanya dalam bentuk uang/materi. Melainkan, kemudahan pendidikan dan pengembangan keahlian.
Martua Sidauruk, praktisi hukum dari Jakarta, menyampaikan idenya, untuk melakukan invetarisasi tentang nilai “habatahon” di bidang hukum.
Alasannya, dia contohkan dalam “hukum kontrak”. Hukum adat Batak, jauh lebih maju dan bersifat universal dari hukum nasional.
Antara lain, disebutkannya, semua praktisi hukum umumnya mengetahui, hukum kontrak bersifat universal. Di dalamnya, terkandung satu prinsip, janji lebih kuat daya ikatnya dari undang-undang.Tapi, kata dia lagi, daya mengikatnya hanya berlaku bagi mereka yang membuat perjanjian saja. Semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya.Dilanjutkannya, dalam hukum adat batak, ada sebuah umpasa “Togu urat ni bulu, toguan urat ni padang. Togu na nidok ni uhum, toguan na ni dok ni padan”.
Artinya, kata Martua, ikrar (padan) bagi orang batak, tidak hanya berlaku bagi mereka yang membuat padan itu saja, tapi secara turun temurun.
Makanya, sebut Martua, kita sering mendengar dan menemukan, adanya pantangan atau tabu tertentu, serta ikatan tertentu bagi satu marga dengan marga lain. Juga, sesama satu rumpun marga tertentu untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu.
Bahkan, lanjutnya “pinompar” (keturunan) dari orang yang membuat padan tersebut, hingga hari ini masih menghormati dan tidak berani melanggar padan itu. Alasannya, antara lain, takut akibat pelanggaran yang dilakukan.
Dalam hal ini, keistimewaan padan atau janji dari orang Batak bukan hanya bersifat legalistik, tetapi juga bersifat magis.
Bicara tentang budaya Batak dulu dan sekarang, cenderung diklaim sebagai kekeliruan (haliluon).
Sejatinya, kebebasan berpikir tanpa terikat satu doktrin, akan menguraikan nilai budaya Batak secara total, semampunya berdasarkan pemahaman yang utuh tanpa dilatari kepentingan golongan tertentu.

Dari beberapa sumber