Archive for September, 2013

Wujud Akulturasi Kebudayaan Islam dan Kebudayaan Indonesia (1)

Pengertian Akulturasi:

Akulturasi adalah fenomena yang timbul sebagai hasil jika kelompok-kelompok manusia yang mempunyai kebudayaan yang berbeda-beda bertemu dan mengadakan kontak secara langsung dan terus-menerus; yang kemudian

menimbulkan perubahan dalam pola kebudayaan yang original dari salah satu kelompok atau kedua-duanya (Harsoyo).

Lebih jelasnya dapat dilihat pada : https://togapardede.wordpress.com/2013/02/20/wujud-akulturasi-kebudayaan-hindu-budha-dengan-kebudayaan-indonesia/

“Wujud Akulturasi Kebudayaan Hindu-Budha dengan Kebudayaan Indonesia”

Budaya Nusantara sebelum Islam datang

Sebelum Islam masuk ke bumi Nusantara, sudah terdapat banyak suku bangsa, organisasi pemerintahan, struktur ekonomi, sosial dan budaya di Nusantara yang berkembang. Semua itu tidak terlepas dari pengaruh sebelumnya, yaitu kebudayaan nenek moyang (animisme dan dinamisme), dan Hindu Budha yang berkembang lebih dulu daripada Islam.

Seperti halnya kondisi masyarakat daerah pesisir pada waktu itu, bisa dikatakan lebih maju daripada daerah lainnya. Terutama pesisir daerah pelabuhan. Alasannya karena daerah pesisir ini digunakan sebagai pelabuhan dan pusat perdagangan. Penduduk pesisir tekena percampuran budaya (akulturasi) dengan pedagang asing yang singgah. Secara tidak langsung, dalam perdagangan yang dilakukan antara keduanya, mereka menjadi mengerti kebudayaan pedagang asing. Pedagang asing ini seperti pedagang dari Arab, Persia, China, India dan Eropa.

Berbeda dengan daerah pedalaman yang lebih tertutup (konservatif) dari budaya luar. Sehingga mereka lebih condong pada kebudayaan nenek moyang mereka dan sulit menerima kebudayaan dari luar. Awalnya Islam masuk dari pesisir kemudian menuju daerah pedalaman. Masuknya Islam masih sudah terdapat kerajaan-kerajaan bercorak Hindu Budha yang masih eksis, diantaranya adalah kerajaan Majapahit dan kerajaan Sriwijaya. Selain itu terdapat kerajaan-kerajaan kecil yang tidak tersentuh oleh pengaruh Hindu dari India. Kerajaan-kerajaan di Sulawesi misalnya Gowa, Wajo, Bone dan lainnya. Kerajaan-kerajaan di Sulawesi tidak menunjukkan adanya pengaruh Hindu. Contohnya dalam penguburan pada masyarakat Gowa masih berdasarkan tradisi nenek moyang, yaitu dilengkapi dengan bekal kubur.

Hindu Budha lebih dulu masuk di Nusantara daripada Islam. Islam masuk ke Nusantara bisa dengan mudah dan lebih mudah diterima masyarakat pada waktu itu dengan berbagai alasan. Pertama, situasi politik dan ekonomi kerajaan Hindu, Sriwijaya dan Majapahit yang mengalami kemunduran. Hal ini juga disebabkan karena perluasan China di Asia Tenggara, termasuk Nusantara.

budha

 

 Penyebab akulturasi budaya Nusantara dengan nilai-nilai Islam

 

Akibat dari kemunduran situasi politik. adipati-adipati pesisir yang meklakukan perdagangan dengan pedagang muslim. Dan akhirnya mereka menjadi penerima Agama Islam. Situasi politik seperti itu mempengaruhi masuknya Islam ke Nusantara lebih mudah. Karena kekacauan politik, mengakibatkan kacauan pada budaya dan tradisi masyarakat. Kedua, kekacauan budaya ini digunakan oleh mubaligh-mubaligh dan pedagang muslim yang sudah mukim untuk menjalin hubungan yang lebih dekat. Yaitu melalui perkawinan. Akibatnya pada awal Islam di Nusantara sudah ada keturunan arab atau India. Misalnya di Surakarta terdapat perkampungan Arab, tepatnya di para Kliwon (kampung Arab).

Setelah masuknya Islam di Nusantara, terbukti budaya dan ajaran islam mulai berkembang. Hal ini tidak bisa terlepas dari peran Mubaligh-mubaligh dan peran Walisongo di Jawa. Bukti bahwa ajaran islam sudah dikerjakan masyarakat Nusantara. Di kota-kota besar dan kecil yang sudah islam, terdapat bangunan-banguna masjid yang digunakan untuk berjamaah. Hal itu merupakan bukti budaya yang telah berkembang di nusantara.

Kesejahteraan dan kedamaian tersebut dimantapkan secara sosio-religius dengan ikatan perkawinan yang membuat tradisi Islam Timur Tengah menyatu dengan tradisi Nusantara atau Jawa. Akulturasi budaya ini tidak mungkin terelakkan setelah terbentuknya keluarga muslim yang merupakan nucleus komunitas muslim dan selanjutnya memainkan peranan yang sangat besar dalam penyebaran Islam. Akulturasi budaya ini semakin menemukan momentumnya saat para pedagang ini menyunting keluarga elit pemerintahan atau keluarga kerajaan yang berimplikasi pada pewarisan “kekuatan politik” di kemudian hari.

peta

Tiga daerah asal para pedagang tersebut dari Arab (Mekah-Mesir), Gujarat (India), dan Persia (Iran) tersebut menambah varian akulturasi budaya Islam Nusantara semakin plural. Hal ini bisa dirujuk adanya gelar sultan al-Malik bagi raja kesultanan Samudra Pasai. Gelar ini mirip dengan gelar sultan-sultan Mesir yang memegang madzhab syafi’iah, gaya batu nisan menunjukkan pengaruh budaya India, sedangkan tradisi syuroan menunjukkan pengaruh budaya Iran atau Persia yang syi’ah. Budaya Islam Nusantara memiliki warna pelangi.

Di saat para pedagang dan kemunitas muslim sedang hangat memberikan sapaan sosiologis terhadap komunitas Nusantara dan mendapatkan respon yang cukup besar sehingga memiliki dampak politik yang semakin kuat, di Jawa kerajaan Majapahit pada abad ke-14 mengalami kemunduran dengan ditandai candra sangkala, sirna ilang kertaning bumi (1400/1478 M) yang selanjutnya runtuh karena perang saudara. Setelah Majapahit runtuh daerah-daerah pantai seperti Tuban, Gresik, Panarukan, Demak, Pati, Yuwana, Jepara, dan Kudus

mendeklarasikan kemerdekaannya kemudian semakin bertambah kokoh dan makmur.

Dengan basis pesantren daerah-daerah pesisir ini kemudian mendaulat Raden Fatah yang diakui sebagai putra keturunan Raja Majapahit menjadi sultan kesultanan Demak yang pertama. Demak sebagai “simbol kekuatan politik” hasil akulturasi budaya lokal dan Islam menunjukkan dari perkawinan antara pedagang Muslim dengan masyarakat lokal sekaligus melanjutkan “warisan” kerajaan Majapahit yang dibangun di atas tradisi budaya Hindu-Budhis yang kuat sehingga peradaban yang berkembang terasa bau mistik panteistiknya dan mendapat tempat yang penting dalam kehidupan keagamaan Islam Jawa sejak abad ke 15 dan 16. Hal ini bisa ditemukan dalam karya sastra Jawa yang menunjukkan dimensi spiritual mistik yang kuat.

Islam yang telah berinteraksi dengan budaya Arab, India, dan Persia dimatangkan kembali dengan budaya Nusantara yang animis-dinamis dan Hindu-Budhis. Jika ditarik pada wilayah lokal Jawa masyarakat muslim Jawa menjadi cukup mengakar dengan budaya Jawa Islam yang memiliki kemampuan yang kenyal (elastis) terhadap pengaruh luar sekaligus masyarakat yang mampu mengkreasi berbagai budaya lama dalam bentuk baru yang labih halus dan berkualitas.

Asimilasi budaya dan akomodasi pada akhirnya menghasilkan berbagai varian keislaman yang disebut dengan Islam lokal yang berbeda dengan Islam dalam great tradition. Fenomena demikian bagi sebagian pengamat memandangnya sebagai penyimpangan terhadap kemurnian Islam dan dianggapnya sebagai Islam sinkretis. Meskipun demikian, banyak peneliti yang memberikan apresiasi positif dengan menganggap bahwa setiap bentuk artikulasi Islam di suatu wilayah akan berbeda dengan artikulasi Islam di wilayah lain.

Untuk itu gejala ini merupakan bentuk kreasi umat dalam memahami dan menerjemahkan Islam sesuai dengan budaya mereka sendiri sekaligus akan memberikan kontribusi untuk memperkaya mozaik budaya Islam. Proses penerjemahan ajaran Islam dalam budaya lokal memiliki ragam varian seperti ritual suluk bagi masyarakat Minangkabau yang mengikuti tarekat Naqsyabandiyyah, sekaten di Jogjakarta, lebaran di Indonesia, dan lain sebagainya.

Persinggungan Islam di Jawa dengan budaya kejawen dan lingkungan budaya istana (Majapahit) mengolah unsur-unsur hinduisme dan budaya pedesaan (wong cilik) yang tetap hidup meskipun lambat laun penyebaran dan tradisi keislaman semakin jelas hasilnya. Budaya Islam masih sulit diterima dan menembus lingkungan budaya Jawa istana yang telah canggih dan halus itu.

Penolakan raja Majapahit tidak terhadap agama baru, membuat Islam tidak mudah masuk lingkungan istana. Untuk itu para dai agama Islam lebih menekankan kegiatan dakwahnya dalam lingkungan masyarakat pedesaan, terutama daerah pesisiran dan diterima secara penuh oleh masyarakat pedesaan sebagai peningkatan budaya intelektual mereka. Dalam kerja sosial dan dakwahnya, para Wali Songo juga merespon cukup kuat terhadap sikap akomodatif terhadap budaya tersebut. Di antara mereka yang sering disebut adalah Sunan Kalijaga.

kalijaga

Demoralisasi yang terjadi di Jawa karena perang saudara tersebut, kalangan muslim, lewat beberapa tokohnya seperti Sunan Kalijaga mampu menampilkan sosok yang serba damai dan rukun. Jawa sebagai negeri pertanian yang amat produktif, damai, dan tenang. Sikap akomodatif yang dilakukan oleh para dai ini melahirkan kedamaian dan pada gilirannya menumbuhkan simpati bagi masyarakat Jawa. Selain karena proses akulturasi budaya akomodatif tersebut, menurut Ibnu Kholdun, juga karena kondisi geografis seperti kesuburan dan iklim atau cuaca yang sejuk dan nyaman yang berpengaruh juga terhadap perilaku penduduknya. Pandangan serupa juga dikemukakan oleh Syahrastani, dalam al-Milal wa al-Nihal yang menyebutkan ada pengaruh posisi atau letak geografis dan suku bangsa terhadap pembentukan watak atau karakter penduduknya.

Faktor fisiologis mempengaruhi watak psikologis dan sosialnya. Begitu juga letak geografis, tingkat kesuburan, dan kesejukan pulau Jawa akan mempengaruhi seseorang dalam berperilaku dan bersikap. Siapapun yang ingin sukses di Jawa ia harus memperhatikan karakteristik ini sehingga strategi dan pendekatan yang digunakan bisa berjalan dengan baik dan efektif.

Akulturasi dan adaptasi keislaman orang Jawa yang didominasi keyakinan campuran mistik konsep Hindu-Budha disebut kejawen atau juga dinamakan agama Jawi. Sementara penyebaran Islam melalui pondok pesantren khususnya di daerah pesisir utara belum mampu menghilangkan semua unsur mistik sehingga tradisi Islam kejawen tersebut masih bertahan. Pemeluk kejawen dalam melakukan berbagai aktivitasnya dipengaruhi oleh keyakinan, konsep pandangan, dan nilai-nilai budaya yang berbeda dengan para santri yang mengenyam pendidikan Islam lebih murni.

Pengaruh nilai-nilai Islam dalam budaya Nusantara

 

Sejak awal perkembangannya, Islam di Indonesia telah menerima akomodasi budaya. Karena Islam sebagai agama memang banyak memberikan norma-norma aturan tentang kehidupan dibandingkan dengan agama-agama lain. Bila dilihat kaitan Islam dengan budaya, paling tidak ada dua hal yang perlu diperjelas: Islam sebagai konsespsi sosial budaya, dan Islam sebagai realitas budaya. Islam sebagai konsepsi budaya ini oleh para ahli sering disebut dengan great tradition (tradisi besar), sedangkan Islam sebagai realitas budaya disebut dengan little tradition (tradisi kecil) atau local tradition (tradisi local) atau juga Islamicate, bidang-bidang yang “Islamik”, yang dipengaruhi Islam.

Tradisi besar (Islam) adalah doktrin-doktrin original Islam yang permanen, atau setidak-tidaknya merupakan interpretasi yang melekat ketat pada ajaran dasar. Dalam ruang yang lebih kecil doktrin ini tercakup dalam konsepsi keimanan dan syariah-hukum Islam yang menjadi inspirasi pola pikir dan pola bertindak umat Islam. Tradisi-tradisi ini seringkali juga disebut dengan center (pusat) yang dikontraskan dengan peri-feri (pinggiran).

Tradisi kecil (tradisi local, Islamicate) adalah realm of influence- kawasan-kawasan yang berada di bawah pengaruh Islam (great tradition). Tradisi local ini mencakup unsur-unsur yang terkandung di dalam pengertian budaya yang meliputi konsep atau norma, aktivitas serta tindakan manusia, dan berupa karya-karya yang dihasilkan masyarakat.

Dalam istilah lain proses akulturasi antara Islam dan Budaya local ini kemudian melahirkan apa yang dikenal dengan local genius, yaitu kemampuan menyerap sambil mengadakan seleksi dan pengolahan aktif terhadap pengaruh kebudayaan asing, sehingga dapat dicapai suatu ciptaan baru yang unik, yang tidak terdapat di wilayah bangsa yang membawa pengaruh budayanya. Pada sisi lain local genius memiliki karakteristik antara lain: mampu bertahan terhadap budaya luar; mempunyai kemampuan mengakomodasi unsur-unsur budaya luar; mempunyai kemampuan mengintegrasi unsur budaya luar ke dalam budaya asli; dan memiliki kemampuan mengendalikan dan memberikan arah pada perkembangan budaya selanjutnya.

Sebagai suatu norma, aturan, maupun segenap aktivitas masyarakat Indonesia, ajaran Islam telah menjadi pola anutan masyarakat. Dalam konteks inilah Islam sebagai agama sekaligus telah menjadi budaya masyarakat Indonesia. Di sisi lain budaya-budaya local yang ada di masyarakat, tidak otomatis hilang dengan kehadiran Islam. Budaya-budaya local ini sebagian terus dikembangkan dengan mendapat warna-warna Islam. Perkembangan ini kemudian melahirkan “akulturasi budaya”, antara budaya local dan Islam.

Budaya-budaya local yang kemudian berakulturasi dengan Islam antara lain acara slametan (3,7,40,100, dan 1000 hari) di kalangan suku Jawa. Tingkeban (nujuh Hari). Dalam bidang seni, juga dijumpai proses akulturasi seperti dalam kesenian wayang di Jawa. Wayang merupakan kesenian tradisional suku Jawa yang berasal dari agama Hindu India. Proses Islamisasi tidak menghapuskan kesenian ini, melainkan justru memperkayanya, yaitu memberikan warna nilai-nilai Islam di dalamnya.tidak hanya dalam bidang seni, tetapi juga di dalam bidang-bidang lain di dalam masyarakat Jawa. Dengan kata lain kedatangan Islam di nusantara dalam taraf-taraf tertentu memberikan andil yang cukup besar dalam pengembangan budaya local.

Pada sisi lain, secara fisik akulturasi budaya yang bersifat material dapat dilihat misalnya: bentuk masjid Agung Banten yang beratap tumpang, berbatu tebal, bertiang saka, dan sebagainya benar-benar menunjukkan ciri-ciri arsitektur local. Sementara esensi Islam terletak pada “ruh” fungsi masjidnya. Demikian juga dua jenis pintu gerbang bentar dan paduraksa sebagai ambang masuk masjid di Keraton Kaibon. Namun sebaliknya, “wajah asing” pun tampak sangat jelas di kompleks Masjid Agung Banten, yakni melalui pendirian bangunan Tiamah dikaitkan dengan arsitektur buronan Portugis,Lucazs Cardeel, dan pendirian menara berbentuk mercu suar dihubungkan dengan nama seorang Cina: Cek-ban Cut.

Dalam perkembangan selanjutnya sebagaimana diceritakan dalam Babad Banten, Banten kemudian berkembang menjadi sebuah kota. Kraton Banten sendiri dilengkapi dengan struktur-struktur yang mencirikan prototype kraton yang bercorak Islam di Jawa, sebagaimana di Cirebon, Yogyakarta dan Surakarta. Ibukota Kerajaan Banten dan Cirebon kemudian berperan sebagai pusat kegiatan perdagangan internasional dengan ciri-ciri metropolitan di mana penduduk kota tidak hanya terdiri dari penduduk setempat, tetapi juga terdapat perkampungan-perkampunan orang-orang asing, antara lain Pakoja, Pecinan, dan kampung untuk orang Eropa seperti Inggris, Perancis dan sebagainya.

Dalam bidang kerukunan, Islam di daerah Banten pada masa lalu tetap memberikan perlakuan yang sama terhadap umat beragama lain. Para penguasa muslim di Banten misalnya telah memperlihatkan sikap toleransi yang besar kepada penganut agama lain. Misalnya dengan mengizinkan pendirian vihara dan gereja di sekitar pemukiman Cina dan Eropa. Bahkan adanya resimen non-muslim yang ikut mengawal penguasa Banten. Penghargaan atau perlakuan yang baik tanpa membeda-bedakan latar belakang agama oleh penguasa dan masyarakat Banten terhadap umat beragama lain pada masa itu, juga dapat dilisaksikan di kawasan-kawasan lain di nusantara, terutama dalam aspek perdagangan. Penguasa Islam di berbagai belahan nusantara telah menjalin hubungan dagang dengan bangsa Cina, India dan lain sebagainya sekalipun di antara mereka berbeda keyakinan.

Aspek akulturasi budaya local dengan Islam juga dapat dilihat dalam budaya Sunda adalah dalam bidang seni vokal yang disebut seni beluk. Dalam seni beluk sering dibacakan jenis cirita (wawacan) tentang ketauladanan dan sikap keagamaan yang tinggi dari si tokoh. Seringkali wawacan dari seni beluk ini berasal dari unsur budaya local pra-Islam kemudian dipadukan dengan unsur Islam seperti pada wawacan Ugin yang mengisahkan manusia yang memiliki kualitas kepribadian yang tinggi. Seni beluk kini biasa disajikan pada acara-acara selamatan atau tasyakuran, misalnya memperingati kelahiran bayi ke-4- hari (cukuran), upacara selamatan syukuran lainnnya seperti kehamilan ke-7 bulan (nujuh bulan atau tingkeban), khitanan, selesai panen padi dan peringatan hari-hari besar nasional.

Akulturasi Islam dengan budaya-budaya local nusantara sebagaimana yang terjadi di Jawa didapati juga di daerah-daearah lain di luar Jawa, seperti Sumatera Barat, Aceh, Makasar, Kalimantan, Sumatera Utara, dan daerah-daerah lainnya. Khusus di daerah Sumatera Utara, proses akulurasi ini antara lain dapat dilihat dalam acara-acara seperti upah-upah, tepung tawar, dan Marpangir.

bersambung……………………

Pulau Mursala Dan Putri Runduk (2-habis)

 

Masih versi sejarah kisah Putri Runduk, dari buku Sejarah Masuknya Islam ke Bandar Barus Sumatera Utara tulisan Dada Meuraxa (1973) dalam Sub Judul ”LEGENDA ABAD KE-7 TENTANG PUTRI RUNDUK DI PANTAI FANSUR ” (Hal.29) dan ”PUTRI RUNDUK RATU JAYADANA?” (Hal.31), disebutkan; Di pesisir Tapanuli Tengah di wilayah Barus tersebut terdapat satu cerita yang paling terkenal di sana yaitu Putri Runduk seorang ratu yang amat cantik. Rupanya putri itu sudah beragma Islam dan berkedudukan di Patupangan di tepi Bandar Fansur.

Oleh kecantikan sang ratu yang luar biasa itu, beberapa raja disebutkan ingin meminang ratu, antara lain; Pada tahun 732 M Raja Senjaya dari Jawa (Mataram?) , Raja Cina (tak jelas nama dan silsilahnya), juga Raja Janggi (disebut dari India, atau Sudan Afrika?).

Raja Cina berkumpul di Singkuang–Natal, Raja Janggi berkumpul di Lobu Tuo, Raja Senjaya berhasil menawan Putri Runduk.

Kisah dan cerita selanjutnya hampir seirama, kecuali tembahan informasi penolakan Putri Runduk atas pinangan Raja-Raja dari luar itu karena berbeda agama.

pulau putri Runduk

Baiknya kita ikuti salah satu legenda yang berkembang di masyarakat tentang legenda Puti Runduk:

Alkisah disuatu negeri yang berada dikawasan pesisir pantai barat yang dikenal dengan nama SIBOLGA KOTA BERBILANG KAUM, terdapat satu legenda yang dikenal dengan nama LEGENDA PUTRI RUNDUK dimana legenda tersebut dipercaya oleh penduduk Kota Sibolga sebagai satu legenda yang menceritakan tentang kecantikan seorang Putri yang berkuasa di Pulau MURSALA sebagai tahta kerajaannya. Kecantikan Putri Runduk ini sangat termasyhur sampai keseluruh pelosok Negeri bahkan sampai ke Manca Negara, sehingga banyak para Raja dan Pangeran ingin mensuntingnya. Selain itu legenda putri runduk ini juga dipercaya oleh orang pesisir Sibolga sebagai satu legenda yang merupakan cikal bakal lahirnya KESENIAN PESISIR SIBOLGA yang dikenal dengan nama KESENIAN SIKAMBANG, dimana kata Sikambang di ambil dari nama seorang dayang Putri Runduk yaitu dayang Sikambang yang di tinggalkan Putri Runduk ketika beliau melarikan diri dari kejaran Raja Janggi dengan berkata “ Tinggallah Engkau Dayang Kambang !!!”. maka oleh sebab itu orang pesisir sibolga ketika menyanyikan lagu Sikambang selalu di awali dengan jeritan “ Maule……….. Kambang!!!!!!!!”

Putri Runduk adalah putri yang sangat cantik dimana kecantikannya terkenal keseluruh pelosok negeri bahkan sampai ke Benua Eropa, sehingga banyak para raja dan pangeran ingin menjadikannya sebagai permaisuri, tapi sayangnya Putri Runduk sudah mempunyai tautan hati yaitu seorang datuk dari negeri Sorkam yang bernama DATUK ITAM.

pulau mursala

Hubungan Putri Runduk dengan Datuk Itam telah berjalan dengan baik tapi karena jarak yang cukup jauh yakni antara kepulauan Mursala dengan Sorkam, dan adat istiadat Negeri menjadikan hubungan mereka terlihat kurang harmonis, namun hati mereka berdua selalu terpaut, bak kata pepatah “ Jauh dimata, Dekat di Hati”. Hal inilah yang menyebabkan kedua sejoli tadi kurang saling berkomunikasi, sampai suatu ketika terjadilah petaka yang menimpa Putri Runduk dengan singgasana di Pulau Mursala, akibat datangnya seorang Raja dari Negeri jauh yang oleh penduduk Sibolga dipercaya sebagai Raja yang berasal dari Benua Eropa yang bernama Raja Janggi.

Suatu ketika di taman kerajaan di Pulau Mursala Putri Runduk terlihat melamun, hal itu diperhatikan oleh dayangnya sikambang. Putri Runduk duduk melamun dan termenung. “ Duhai Tuan Putri, ada apa gerangan? Mengapa wajah Tuan Putri bermuram durja tanya dayang Sikambang. “ pandanglah dayangku, dilangit awan hitam berarak, mentari tak menampakkan wajahnya, seakan-akan berbisik padaku akan ada terjadi sesuatu di negeri ini” jawab Putri Runduk. Kemudian dayang sikambang memandang kelangit dan melihat awan hitam yang mengelabuhi langit, sebenarnya dayang sikambang juga memiliki firasat yang buruk akan tetapi berusaha menghibur Putri Runduk dengan berkata “ Akh, jangan terlalu dirisaukan Tuan Putri, barangkali, itu hanya firasat saja, mungkin sebentar lagi hujan akan turun”. Putri Runduk terdiam sejenak masih dengan wajah yang tampak cemas lalu beliau berkata “ Tidak dayangku, hatiku selalu berbisik akan ada sesuatu yang terjadi di negeri ini”. Mendengar penjelasan putri runduk dayang sikambang berfikir untuk menghibur Tuan Putri agar tidak terlalu cemas dengan berkata kalau begitu bagaimana jika kami menghibur tuan Putri agar wajah tuan Putri tak lagi bersedih”. “baiklah dayang sikambang, engkau panggillah dayang – dayang yang lain kemari” jawab putri runduk. Dayang sikambang menghaturkan sembah dengan berkata “baiklah tuan Putri perintah akan segera hamba laksanakan”. Kemudian dayang sikambang berlalu dari hadapan Putri Runduk, dan tak berapa kemudian dayang sikambang beserta dayang lain itupun sampai ke taman dan mereka menghaturkan sembah dengan berkata “sembah kami tuan Putri, apa yang bisa kami lakukan untuk tuan Putri”. Putri Runduk menjawab “ dayang – dayangku, pukul gendang dengan jari ambil selendang mari menari”.

Dengan serta merta dayang – dayang itupun menarikan tari selendang, setelah selesai menari Putri Runduk pun bertepuk tangan sambil tersenyum menyaksikan kecantikan dayang – dayangnya ketika menari. Tatkala pertunjukan tari usai tiba-tiba datang seorang pengawal Putri Runduk dengan tergesa-gesa sambil menghaturkan sembah dengan berkata “ ampun Tuan Putri disana ada sesuatu yang tampak dari jauh”, Putri Runduk terkejut kemudian berkata “ ada apa pengawal !!!, apa yang kau lihat disana, katakan pengawal ada apa gerangan ? sehingga engkau tergesa-gesa”. Kemudian pengawalpun menjawab pertanyaan Tuan Putri dengan berkata “ ampun Tuan Putri di perairan kita ada sebuah kapal berhenti dan hamba tidak tahu, siapa, dari mana dan untuk apa mereka kemari”. Putri Runduk semakin gusar, hatinya semakin cemas dengan serta merta beliau berkata “ baiklah pengawal, segera engkau kesana !!! bawa pengawal lainnya dan tanyakan, siapa mereka, dari mana, dan untuk apa mereka kemari !!!”. selanjutnya pengawal menghaturkan sembah sembari berkata “ baiklah Tuan Putri perintah segera hamba laksanakan”. Setelah pengawal Putri Runduk berlalu, kemudian beliau mengajak dayang – dayangnya untuk meninggalkan taman kerajaan sembari berkata “ dayang sikambang dan dayang-dayang yang lain, marilah kita segera masuk ke istana firasatku berkata mungkin akan terjadi sesuatu yang tidak baik”.

PULAU RAJA JANGGI

Ditempat lain sebuah kapal berhenti, kemudian turunlah seorang raja lengkap dengan pengawalnya, dengan langkah yang gagah memasuki pulau Mursala tempat bertahtanya Putri Runduk, kedatangan mereka langsung disambut dengan pertanyaan “ duhai Tuanku, siapakah tuanku? Dari mana Tuan berasal dan untuk apa Tuan kemari ?. pertanyaan pengawal tersebut langsung dijawab oleh Raja yang tak lain bernama Raja Janggi, sembari berkata “ Hai pengawal !!! aku adalah Raja Janggi dari Eropa, katakan pada Tuan Putri mu, aku ingin mensuntingnya dan menjadikannya permaisuri hiasan Negeriku” pengawal Putri terkejut mendengar ucapan sang Raja, kemudian pengawal itupun berkata “ maaf tuanku, berlayar kenegeri seberang, ikat kuda dengan temali, bila tuan ingin meminang, penuhi dulu adat negeri” Raja Janggi marah, dan dengan angkuhnya dia berkata “ akh,!!! Terlampau banyak adatmu, yang ku inginkan adalah Tuan Putrimu, sekarang juga sampaikan pada Tuan Putrimu untuk segera turun menghadapku!!!”. Melihat amarah Raja Janggi, pengawal Putri pun bersiap-siap untuk menghalangi Raja Janggi dan pengawalnya seraya berkata “ maaf Tuanku, Putri Runduk putri bestari, dipuja orang diseluruh Negeri, jika Tuan inginkan Putri kami, langkahi dulu mayat kami”. Mendengar ucapan pengawal Putri Runduk, Raja Janggi semakin marah kemudian beliau memerintahkan pengawalnya untuk menyerang pengawal Putri sembari berkata “ baiklah jika itu yang kalian inginkan, pengawal!!! Bereskan mereka agar mereka tahu siapa aku, Raja Janggi sang penguasa dari Eropa”. Dengan serta merta pengawal Raja Janggi menyerang pengawal Putri Runduk, dan terjadilah pertempuran diantara keduanya, hal tersebut menyebabkan pengawal dari keduanya berguguran jatuh ke Bumi.

Dilain tempat diatas singgasananya, sang Putri melihat kejadian itu dan menyadari petaka akan segera datang, kemudian beliau turun dari singgasananya menemui sang Raja seraya berkata “ Duhai Tuanku yang gagah perkasa, siapakah Tuan? Dari manakah Tuan? dan apa tuan tujuan kemari? Dan untuk apa Tuan melakukan semua ini, sehingga Negeri ku ini beroleh petaka”. Melihat Putri Runduk Raja Janggi tercengang, terpana seakan-akan tak menyangka akan bertemu dengan Putri yang cantik, kemudian Raja Janggi berkata “ ha……haha……haha…… rupanya engkaukah Putri Runduk yang terkenal itu? Sungguh cantik rupamu, tak salah lagi banyak Raja dan Pangeran ingin merebutmu, sungguh aku ini orang yang beruntung dapat bertemu denganmu”. Putri Runduk tak menghiraukan ucapan Raja Janggi seraya berkata “ Maaf Tuanku katakan saja siapa Tuan, dari mana asal Tuan dan untuk apa Tuan kemari !!!!”. mendengar pertanyaan Tuan Putri Raja Janggi semakin cepat ingin memberitahukan niatnya, kemudian dengan sombongnya Raja Janggi berkata “ aku adalah Raja Janggi dari Negeri Eropa, datang kemari untuk mempersunting Tuan Putri”. Mendengar ucapan Raja Janggi Tuan Putri tertegun, beliau berfikir sejenak untuk mencari akal guna menghindari maksud dan tujuan Raja Janggi karena Putri Runduk Tidak bersedia menjadi permaisuri Raja Janggi seraya berkata “ baiklah Tuanku, jika itu keinginan Tuan, aku punya satu syarat, jika syarat itu telah tuan penuhi, aku bersedia menjadi permaisuri”. Dengan serta merta Raja Janggi menyambut keinginan Putri Runduk dengan berkata “ katakan segera, apa syaratnya”. Putri Runduk mengajukan satu syarat seraya berkata. “ Tariklah Negeriku ini, sampai kedekat Sorkam, dalam waktu satu malam, bila Tuan berhasil merapatkan Negeriku ke Sorkam, maka aku bersedia menjadi permaisuri Tuan”. Mendengar syarat yang diajukan Putri Runduk, Raja Janggi menyanggupinya karena beliau merasa yakin bisa memenuhi syarat tersebut, sambil tertawa Raja Janggi berkata “ Hahaha…….hahaha….. hahahaha….. alangkah mudah syaratmu itu Putri Runduk, jangankan satu malam sebelum Fajar menyingsing, Negerimu ini akan rapat dengan Sorkam”. Putri Runduk berkata “ baiklah Tuan laksanakanlah !!!, jika Tuan tak berhasil maka segeralah meninggalkan Negeriku. Seraya berucap “ Naik kuda pasang pelana, Tarik kemudi ke Sibolga, jika Tuan sudah kalah, mohon tinggalkan Negeri hamba”. Mendengar ucapan Putri Runduk, Raja Janggi semakin ingin membuktikan ucapannya, maka dengan sombongnya Raja Janggi berkata “ Baiklah Tuan Putri yang cantik aku akan buktikan kata-kataku”.

Setelah itu Raja Janggi melaksanakan ucapannya, dengan menghimpun segenap tenaga dan kekuatan yang dia miliki, Raja Janggi berusaha menarik Pulau Mursala agar mendekati Sorkam, tak berapa lama kemudian Putri Runduk merasakan Pulau Mursala bergetar, bergeser, seolah-olah bergerak menuju arahnya, dengan serta merta Putri Runduk merasa takut jika Raja Janggi benar-benar sanggup memenuhi syaratnya, diam-diam Putri Runduk masuk kedalam istananya dan berkata kepada dayang-dayangnya “ Wahai dayang-dayangku, nampaknya Raja Janggi sanggup memenuhi syaratku, sementara aku tak suka padanya, bagaimana cara kita untuk menghalanginya?”. Melihat kecemasan Tuan Putri dayang-dayangpun berfikir sembari memberikan pendapat kepada Tuan Putri seraya berkata “ Ampun Tuan Putri, bagaimana jika kita tokok lesung dengan alu, agar ayam berkokok seolah-olah hari telah pagi”. Mendengar nasehat dayangnya dengan serta merta Putri Runduk menyetujuinya seraya berkata “ Laksanakanlah wahai dayangku, sebagai wujud baktimu padaku”. Kemudian dayang itupun mengambil lesung dan alu dan memukulnya berkali-kali sehingga ayam-ayam terbangun dan berkokok dengan nyaringnya mengira hari telah pagi. Dengan tiba-tiba Putri Runduk mendekati Raja Janggi dan berkata “ Duhai Tuan Raja Janggi yang gagah dan perkasa, ternyata Tuan tak bisa memenuhi syaratku, karena Negeriku ini belum rapat dengan Sorkam sedangkan hari sudah menjelang pagi”. Mendengar ucapan Putri Runduk, Raja Janggi tertegun dan merasa tak percaya, kemudian beliau melakukan penyelidikan dan merasa adanya keganjilan, dengan marahnya Raja Janggi berkata “ Akh, Bagaimana mungkin hari masih gelap, menurut perkiraanku, hari masih separuh malam”. Putri Runduk berusaha meyakinkan Raja Janggi seraya berkata “ mengapa Tuan tak percaya,? Dengarkanlah suara kokok ayam yang bersahut-sahutan, pertanda pagi akan menjelang”. Raja Janggi kembali tertegun dan berusaha mendengarkan suara itu dengan sebaik-baiknya, tetapi Raja Janggi tetap saja menemui sesuatu keganjilan maka dengan marahnya Raja Janggi berkata kepada Tuan Putri “ Engkau curang Putri Runduk !!! hari belum pagi, tapi engkau sengaja membangunkan ayam-ayam itu, agar berkokok seolah-olah hari sudah pagi”. Putri Runduk merasa terkejut dan menyadari keadaannya seraya berkata “ Tuan Raja Janggi, aku tak sudi padamu jika Tuan ingin menyuntingku taklukkanlah dulu diriku”. Putri Runduk bersiap-siap untuk melakukan perlawanan, melihat hal itu Raja Janggi semakin marah, kemudian Raja Janggi berkata “ Baiklah jika itu kemauanmu”. Raja Janggi menyerang Putri Runduk, maka terjadilah pertempuran yang hebat diantara keduanya, setelah beberapa lama bertempur, Putri Runduk merasa tak mampu mengalahkan Raja Janggi, dengan tiba-tiba Putri Runduk mengibaskan selendangnya kearah Raja Janggi, sehingga Raja Janggi sempoyongan, dan kesempatan itu digunakan Putri Runduk untuk melarikan diri sembari membawa semua perbekalannya yang terdiri : Setrika, Bakul, Nasi Sebungkus, Sendok, Selendang Panjang, Talam, dan Sebongkah Karang seraya berkata kepada dayangnya sikambang “ Tinggallah engkau dayang kambang !!! aku akan pergi jauh dan jagalah Negeriku”. Melihat hal tersebut, dayang sikambang terpana dengan serta merta mereka menjerit dan menangis seraya berkata “ Tuan Putri………., Tuan Putri…….., jangan tinggalkan kami”

Putri Runduk tak menghiraukan panggilan dayangnya, beliau terus berlari, dan sementara itu Raja Janggi sadar dari sempoyongannya dan langsung melakukan pengejaran sehingga terjadilah kejar-kejaran antara Putri Runduk dan Raja Janggi. Lama kelamaan Putri Runduk semakin lelah dan hampir tak sanggup lagi berlari sehingga terjatuhlah perbekalannya satu persatu ke bumi yaitu disaat jatuh Setrikanmya menurut legenda terjadilah Pulau Tarika, lalu jatuhlah Bakulnya maka jadilah Pulau Baka, kemudian jatuh kembali Nasinya yang sebungkus jadilah Pulau Situngkus, jatuh sendoknya jadilah Pulau Sendok, jatuh kembali Selendang Panjangnya maka jadilah Pulau Panjang, kemudian jatuh pula Talamnya, jadilah Pulau Talam, dan akhirnya jatuhlah sebuah karang yang beliau bawa maka jadilah Pulau Karang.

Setelah semua perbekalannya berjatuhan, Raja Janggi semakin dekat mengejarnya hampir saja Putri Runduk dapat ditangkap Raja Janggi dan Putri Runduk merasa tak mampu lagi untuk berlari dengan serta merta Putri Runduk menceburkan dirinya kedalam laut, tempat Putri Runduk menceburkan dirinya ke Laut dikenal dengan nama Pulau Putri, ketika Putri Runduk berlari menghindari kejaran Raja Janggi beliau selalu di ikuti oleh seekor Burung kesayangannya, disaat Putri Runduk menceburkan dirinya kedalam laut, burung tersebut terbang jauh seolah-olah merasa takut dengan tindakan yang dilakukan putri runduk, burung tersebut terus terbang diangkasa sambil berciut dengan keras dan sampai pada suatu tempat burung tersebut berhenti dan atas kehendak Tuhan burung tersebut menjelma menjadi sebuah Pulau yang dikenal oleh masyarakat Sibolga yaitu Pulau Ungge.

Melihat kenyataan itu Raja Janggi terkejut, beliau berhenti dan menatap ke dalam laut dan tanpa disangka, atas kehendak Tuhan Yang Maha Esa Raja Janggi berubah menjadi batu yang berbentuk manusia yang berdiri membungkuk seolah – olah menatap ke dalam laut.

Di lain tempat, tepatnya di Sorkam wilayahnya Datuk Itam, tampak Datuk Itam sedang duduk di singgasananya dikelilingi oleh hulubalang dan dayangnya. Datuk Itam adalah seorang Datuk yang berasal dari Bengkulu, belayar mengharungi lautan sehingga beliau sampai di suatu Pulau yang dikenal dengan nama Pulau Poncan, disana Datuk Itam tinggal dan menetap untuk membuka perkampungan, beberapa lama kemudian, karena situasi dan kondisi yang tidak mendukung untuk kehidupan yang lebih baik, Datuk Itam berpindah ke suatu Negeri yang dikenal dengan Negeri Sorkam. Disana beliau menjadi Datuk dan ketika sedang duduk dikelilingi dayang dan hulubalangnya dengan tiba-tiba datang seorang hulubalang menghadap dengan berkata “ Ampun Tuanku, hamba mendengar berita, di Pulau Mursala tempatnya Tuan Putri Runduk bertahta telah terjadi sebuah petaka”. Mendengar laporan hulubalangnya Datuk Itam Terkejut sembari berkata “ Petaka? Petaka apa maksudmu hulubalang!!!. Dengan hati-hati hulubalang menjelaskan berita yang beliau dengar sembari berkata “Menurut berita itu tuanku Putri Runduk, telah menceburkan dirinya kedalam laut, karena tak kuasa menghadapi seorang Raja yang ingin menyuntingnya secara paksa”. Datuk Itam tercengang, hatinya merasa cemas sembari berkata “ Raja? Siapakah gerangan Raja yang engkau maksudkan itu hulubalang, dan dari mana asalnya?. Hulubalang kembali menjawab pertanyaan sang Rajanya dengan berkata “ Daulat Tuanku menurut berita Raja itu bernama Janggi berasal dari Negeri Eropa”. Dengan kesal Datuk Itam mengepalkan tangannya dengan berkata “ Alangkah Biadabnya Raja itu, dan sekarang dimana Raja itu?”. Hulubalang kembali menjelaskan semuanya dengan seksama sembari berkata “ Daulat Tuanku, menurut berita Raja tersebut telah berubah menjadi Batu”. Mendengar semua penjelasan hulubalangnya, Datuk Itam semakin sedih dengan perasan yang galau beliau berkata “ ah, alangkah malang nasibmu Putri Runduk, mengapa dikau tak memberi kabar padaku, sembari bertitah “ Baiklah hulubalangku kabarkan keseluruh Negeriku, Datuk Itam Raja Sorkam beserta seluruh rakyatnya menyatakan Belasungkawa atas petaka yang menimpa Putri Runduk wanita yang menjadi pujaanku”.

Dengan serta merta seluruh Rakyat Negeri Sorkam melaksanakan keinginan Rajanya sebagai tanda turut belasungkawa. Kisah Putri Runduk yang merupakan legenda Kota Sibolga, dikenang dengan membuat nama jalan yang ada di Kota Sibolga yaitu Jalan Putri Runduk, Jalan Janggi dan Jalan Datuk Itam yang posisinya saling berdekatan.

Dari cerita legenda Putri Runduk ini dapat diambil satu kesimpulan bahwa tidak baik bertindak sewenang – wenang terhadap orang lain meskipun kita memiliki kekuatan, selain itu cerita Putri Runduk ini mencerminkan kegigihan seorang Putri untuk mempertahankan diri dan wilayahnya dari ancaman, juga mencerminkan kesetiaan dalam membina hubungan, meskipun mengorbankan dirinya serta segala sesuatu yang dilakukan dengan itikad tidak baik, akan beroleh balasan Dari Tuhan Yang Maha Esa. 

 

Dari berbagai sumber:

Pulau Mursala Dan Putri Runduk (1)

 

Pulau Mursala atau Mansalaar Island merupakan pulau terbesar yang dimiliki Kabupaten Tapanuli Tengah, terletak di sebelah barat daya kota Sibolga dan masuk dalam wilayah Kecamatan Tapian Nauli. Pulau ini berada di antara Pulau Sumatera dan Pulau Nias.

Luas Pulau Mursala sekitar 8.000 ha dan dapat ditempuh selama 1 jam menggunakan kapal cepat dari Sibolga. Pulau ini dihuni sekitar 60-an KK, dan dikitari belasan pulau-pulau kecil yang kebanyakan tidak berpenghuni.  Air terjun Pulau Mursala terkenal sebagai salah satu dari sedikit air terjun di dunia yang langsung terjun ke laut. Beberapa di antaranya adalah Kilt Rock Waterfall di Skotlandia, Falls Sounds Milford di Fjords Selandia Baru, dan Jeongbang di Pulau Jeju, Korea Selatan.

Di sekitar Pulau Mursala juga terdapat pulau-pulau lain yang juga mempesona, di antaranya Pulau Puti, Pulau Silabu Na Godang, Pulau Kalimantung Na Menek, Pulau Jambe, dan masih banyak pulau yang lainnya. Pulau-pulau tersebut juga memiliki keindahan yang tak kalah dari Pulau Mursala. Laguna dengan pantai pasir putih yang menyatu antara Pulau Silabu Na Godang dengan Pulau Kalimantung Na Menek, serta perairan dangkal dengan aneka terumbu karang dan ikan hias yang indah di sekitar Pulau Jambe.

 

Air terjun Pulau Mursala rasanya tawar. Nah, ada yang misterius soal asal muasal sumber air terjun ini. Sebagian warga setempat menduga, sumber airnya berasal dari Danau Toba, yang mengalir lewat bawah tanah. Konon, terkadang ditemukan jerami di aliran air terjun saat musim panen padi di kawasan danau Toba. Tapi ada juga yang menyebut, airnya berasal dari sebuah sungai yang membelah Pulau Mursala. Mana yang benar? Belum ada penelitian yang membuktikannya.

Keunikan lain yang dimiliki air terjun pulau mursala ini adalah bahwa air terjun ini berasal dari aliran sungai terpendek didunia.  Memiliki lebar 400 meter dengan panjang hanya sekitar 700 meter. Mungkinkah ini berarti ada mata air yang begitu besar di pinggir laut?

Air terjun setinggi 35 meter ini langsung jatuh dari tebing pulau ke permukaan laut. Hasilnya, sekitar 100 meter air laut di sekitar air terjun rasanya tawar. Percampuran ini menghasilkan terumbu karang yang unik dan indah.  Untuk menyaksikan keindahan air terjun itu, Anda menyewa kapal dari Pantai Kahona Tapteng, dengan harga sewa Rp1 juta-Rp1,5 juta. (dame ambarita)

Putri Runduk

Kisah tentang ‘Putri Runduk’ sangat dikenal oleh masyarakat di sepanjang pesisir barat Sumatera Utara, mulai dari Barus sampai ke Natal, meski dengan versi masing-masing.

Dari sisi cerita, Putri Runduk tak kalah menarik dengan cerita lain yang ada di bagian lain tanah air kita. Ada cerita tentang Kejadian Danau Toba di Tanah Batak, Malin Kundang dari Minang, Sampuraga dari Mandailing, Putri Hijau dari Melayu Deli, Roro Jonggrang dari Jawa, Nyi Roro Kidul, dll.

Sebuah cerita rakyat biasanya dituturkan oleh para orang tua kepada anak dan cucu mereka. Demikianlah dari waktu ke waktu dari zaman ke zaman, cerita itu mengalir dan terwarisi oleh generasi berikutnya. Selain itu, cakupan wilayah kisah dan cerita yang sangat luas, menyangkut demografis wilayah lain, selayaknya menjadi pemikiran untuk dicari kesamaan versi dan alur ceritanya.

Siapakah sesungguhnya sosok Putri Runduk?

 

Menurut cerita, Putri Runduk adalah permaisuri Raja Jayadana yang memerintah Kota Kerajaan Barus Raya, sebuah kerajaan Islam di wilayah Sumatera Utara abad ke-7 M.

Dengan parasnya yang sangat cantik, Putri Runduk dikagumi oleh Raja Mataram Sanjaya dan Raja Janggi dari Sudan/India. Karena sang putri menolak, ia pun melarikan diri ke Pulau Mursala yang sudah porak poranda akibat diserang dan dikuasai oleh Raja Sanjaya, yang kemudian direbut oleh Raha Janggi.

Bahkan ada juga yang mengatakan bahwa Putri Rungguk adalah Putri Raja Barus yang sangat Cantik yang dibuang ke salah satu pulau dekat kerajaan barus bersama hulu balangnya karena melanggar tradisi atau adat. Dan ada juga kisahnya sbb:   ketika kerajaan mongol mengirimkan utusannya kepada kerajaan-kerajaan  di jawa yaitu mojopahit,dengan membawa banyak pasukan agar kerajaan mojopahit bersedia tunduk kepada kerajaan mongol.Para utusan dan pasukan kerajaan mongol singgah dikerajaan barus yang merupakan kota niaga,lalu salah satu jendral mongol menyukai putri runduk yang merupakan putri kejaan barus,tetapi putri runduk tidak bersedia untuk dinikahi.sehingga putri runduk melarikan diri ke pulau mursala,mendengar keberadaan putri runduk yang telah melarikan diri dengan menaiki sampan(kapal kecil)pasukan mongol berserta jendralnya mencoba mengejarnya,tetapi sayang mereka kehilangan jejak putri runduk sehingga mereka(pasukan mongol) sampai ke pulau nias,sebagian dari mereka menetap dan mempunyai keturunan disana dan sebagian lagi pulang kemongol,sampai saat ini saya sangat meyakini cerita tersebut melihat suku dan ras nias sangat berbeda jauh dengan suku suku batak yg ada di SUMUT,raut wajah suku nias tidak berbeda jauh dengan raut wajah bangsa mongol.Keterangan ini dikuatkan dengan informasi pelaut yang sering melihat keberadaan dua orang wanita yangmana salah satunya memakai pakai merah dan sering memanggil kapal2 yang melintasi pulau mursala yang mereka yakini itu adalah PUTRI RUNDUK

Ditinjau dari sejarah, referensi tertulis mengenai Putri Runduk tidak banyak. Namun penulis mengutip tulisan HA Hamid Panggabean, Drs H Afif Lumbantobing dkk, dalam buku Bunga Rampai Tapian Nauli terbitan tahun 1995.

Dari halaman 211–213 disebutkan: Sekitar abad ke-7 di kota Kerajaan Barus Raya, memerintah seorang raja yang cukup ternama. Raja Jayadana (tidak disebutkan keturunan dari mana ataupun berasal dari negeri mana) namanya. Wilayah kerajaan ini membawahi daerah yang sudah memasuki era Islam, disebutkan Kota Guguk dan Koota Beriang, di dekat Kade Gadang (Barus) sekarang ini. Pada masa itu Barus telah menjadi bandar niaga rempah dan kapur Barus yang terkenal itu.

Layaknya seorang Raja, maka Raja Jayadana beristerikan (permaisuri, ratu) yang bernama Putri Runduk (tidak tertulis asal dari mana dan keturunan dari siapa).

“Kecantikan sang permaisuri sampai ke luar wilayah kerajaan. Dan Barus sebagai bandar niaga antar wilayah dan kerajaan, ikut menyebarluaskan perihal kecantikan luar biasa dari sang ratu, Putri Runduk!” tulis HA Hamid Panggabean, Drs H Afif Lumbantobing dkk, dalam bunga rampai mereka.

Disebutkan, beberapa raja di luar wilayah Barus, akhirnya berspekulasi merebut Putri Runduk dari kerajaan Jayadana. Tercatat Raja Janggi dari Sudan-Afrika, dan Raja Sanjaya dari Kerajaan Mataram. Bahkan seorang Raja dari Cina datang melamar dengan baik-baik.

Selanjutnya ditulis, Raja Janggi dan Raja Sanjaya ingin menguasai Barus sebagai bandar perdagangan dunia pada masa itu, melalui peperangan sekaligus ingin memiliki sang ratu Putri Runduk.

Demikianlah, Raja Sanjaya berhasil menewaskan Raja Jayadana dan isterinya Putri Runduk ditawan, karena menolak lamaran Raja Sanjaya. Masalahnya Raja Sanjaya beragama Hindu, sedangkan sang putri beragama Islam.

Simaklah pantun berikut ini:

kota guguk kota bariang

            ka tigo kota di muaro

            ayam bakukuk ari siang

            puti runduk ditawan jao

red.     kota guguk kota beriang

            ke tiga kota di muara

            ayam berkokok hari siang

            putri runduk ditawan jawa

Ternyata..,inilah kesempatan yang dinanti oleh Raja Janggi. Mengetahui Putri Runduk telah ditawan oleh Raja Sanjaya, Raja Janggi dan pasukannya menyerang Raja Sanjaya. Pertempuran kembali terjadi di Barus, dan Kota Guguk pusat kerajaan Jayadana hancur porakporanda. Raja Janggi berhasil mempecundangi Raja Sanjaya.

Sekelompok pengawal setia dari sisa kerajaan Jayadana menyelamatkan ratu mereka Putri Runduk ke Pulau Morsala. Dalam pelarian inilah, disebutkan berceceran peralatan dan perbekalan yang dibawa oleh rombongan Putri Runduk, lalu terdampar di pulau-pulau kecil sekitar pulau Morsala. Dinamailah pulau-pulau itu sesuai barang yang terdampar di situ. Seperti, Pulau Situngkus, Pulau Lipek Kain, Pulau Tarika, Pulau Puteri, Pulau Janggi, dll.

Raja Janggi sampai juga di Pulau Morsala. Ketika hendak menangkap Putri Runduk, sang putri memukulkan tongkat akar bahar ke kepala Raja Janggi (tidak jelas ditulis, apakah Raja Janggi tewas atau ikut terjun ke laut mengejar Putri Runduk yang terlebih dulu terjun ke laut karena putus asa?).

Entah benar atau tidak, dari kejadian itu oleh masyarakat dikaitkan dengan pantun pesisir sebagai berkut:

            pulo puti pulo panginang

            ka tigo pulo anak janggi

            lapik putih bantal bamiang

            racun bamain dalam ati

Setelah peristiwa tragis itu, disebutkanlah seorang pembantu Putri Runduk, yang tugasnya mengurusi rumah tangga kerajaan, seorang pemuda anak nelayan miskin bernama ”Sikambang Bandahari.” Pemuda ini meratap dan menyesali diri, tak mampu membela dan menyelamatkan Putri Runduk. Ia juga meratapi majikan yang bunuh diri terjun ke laut, menyesali raja-raja zalim, dan kerajaan yang telah hancur.

Ratapan sedih Sikambang itulah.., yang akhirnya menjadi ”ratapan legendaris”, yang hari ini kita kenal sebagai lagu Sikambang..!

bersambung ………………

12 warisan si Raja Batak Sebagai Pedoman Hidup

 



Pertama: Sukkun mula ni hata, sise mula ni Uhum,
Artinya:
Untuk mengambil suatu keputusan harus dengan musyawarah,

Kedua: Jongjong adat nasotupa tabaon, nahot naso jadi husoron,
Artinya;
Adat yang telah dirancang moyang dari dulu, walaupun tidak tertulis tapi tak boleh dirubah,

Ketiga: Boni naso jadi dudaon,
Artinya;
Seseorang tidak boleh mengganggu kehidupan dan mata pencaharian orang lain,

Keempat: Parinaan ni manuk naso jadi siseaton,
Artinya;
Segala sesuatu yang telah dirancang oleh nenek-moyang tidak boleh kita hilangkan atau ditiadakan,

Kelima: Tokka do dohonon Goar ni Inang Bao, tung pe binoto,
Artinya;
Tidak akan membeberkan suatu rahasia walau sudah jelas ada bukti, kalau nanti itu akan membawa/mengakibatkan kekacauan dan perpecahan,

Keenam: Somba marhula-hula elek marboru manat mardongan tubu,
Artinya;
Falsafah Dalihan na Tolu adalah pondasi kehidupan masyarakat Batak yang harus di junjung tinggi,

Ketujuh: Jeppek Abor naso silakkaon, na ni handing sosirasrason napinarik pe sotolbakon,
Artinya;
Sekecil apapun
hukum tatanan yang telah disepakati, karena itu adalah hasil musyawarah maka tidak boleh dilanggar,

Kedelapan: Dang sitodo turpuk siahut lomo ni roha,
Artinya;
Kita harus tabah akan apa yang telah kita terima dan nikmati, karena segala kehidupan manusia ada ditangan Tuhan (Mulajadi Nabolon),

Kesembilan: Pattun hangoluan, tois hamagoan, unang pesalihon nalonga, jala unang ho makkilang,
Artinya;
Kita harus lemah lembut dan sopan santun diharapkan juga tidak akan mengambil riba/keuntungan dari orang miskin,

Kesepuluh: Nasojadi paboaon nasopatut tu ina-ina, alai muba do molo tu ina,
Artinya;
Jangan memberi informasi yang bersifat rahasia kepada orang yang suka atau sering menggosip,

Kesebelas: Mar-Bo lao tu Tapian, ehem laho tu jabu,
Artinya;
Harus membiasakan diri dalam tata karma yang sangat hati-hati agar tak terjerumus dalam perbuatan amoral,

Keduabelas: Alai li alai lio, singir gabe utang molo so malo,
Artinya;
Berusahalah jadi orang yang pintar dan bijak, karena orang bodoh akan selalu jadi santapan orang pintar.

Kedua belas hukum inilah yang dibuat masyarakat batak sebagai tatanan hidup sehari-hari agar menjadi masyarakat yang bersih dan berwibawa sebagai keturunan Raja, karena yang merancang hukum ini adalah seorang Raja yang bernama si Raja Batak. Inilah faktor penyebab setiap orang batak disebut anak raja.