Archive for September 7th, 2015

Keturunan Sorba Ni Banua Balige Mendirikan kerajaan (1)

peta barus

Sejarah kepemimpinan negeri Barus yang di dalamnya ada terdapat negeri Rembe, bermula dari negeri Toba Silalahi, Balige, Negeri Parsuluhan, dari Marga Pohan. Sedangkan sejarah negeri Barus kuno dapat dirunut dari kepindahan Raja Uti putra Guru Tatea Bulan yang membuka Barus beberapa abad sebelum Masehi.

Di negeri Toba Silalahi tersebut, dikenal seorang Raja bernama Raja Kesaktian atau Ambung Kasian yang mempunyai lima putra. Putra sulung bernama Mage Di Pohan atau Magat, yang kedua bernama Lahi Sabungan, ketiga bernama Raja Tumbuk padi, yang keempat bernama Raja Pait Tua, yang kelima bernama Raja Alang Sabatangan Pardosi.

Suatu saat, sang Raja melakukan ritual puasa. untuk mendukung ritual tersebut, dia menyuruh salah seorang anaknya bernama Alang Pardosi untuk mencari minyak jujungan atau junjong. Untuk itu, Alang Pardosi pergi kenegeri Asahan disebelah timur Sumatera. Sambil menunggu putranya tersebut sang raja memulai ritual puasanya. Namun, kepergian Alang Pardosi yang memakan waktu lama membuat Raja menjadi tidak sabar. Maka sang Raja melakukan kesepakatan dengan keempat putranya yang lain untuk memberhentikan ritual puasa karena Alang Pardosi tidak kunjung datang.
ritual
Beberapa saat kemudian dalam penantian yang lama, Alang Pardosi pun datang membawa minyak. Namun dia mendapatkan bahwa ritual puasa telah dihentikan, hal ini membuatnya berkecil hati karena sang ayah tidak berkenan untuk menanti kepulangannya. Untuk menghilangkan rasa kecewanya tersebut, diapun memutuskan untuk bermigrasi dengan mengajak istri dan beberapa orang yang bersimpati padanya pindah ke sebuah wilayah yang dirasa aman diarah matahari terbenam atau sebelah Barat. Setelah melakukan perjalanan panjang, Alan Pardosi memutuskan untuk berhenti di sebuah rimba di tengah hutan lebat dan membuka ladang beserta pemukiman. Kawasan tersebut dinamakan Tundang.
huta
Perkembangan kawasan Tundang begitu pesat sehingga mengundang kedatangan para imigran dari Toba sehingga layak disebut sebagai sebuah negeri. Alang pardosi kemudian menjadi raja dan memberlakukan berbaga peraturan dalam batas-batas wilayah yang dikuasai. Batas tersebut meliputi wilayah tersebut sampai pantai Barat Sumatera; ke barat sampai ke Huta Tondang, Simpang Kiri, Batang Singkil, lalu ke muara disebelah tenggara sampai keperbatasan tanah Pasaribu. Pesatnya perkembang mendorong penduduk mengembangkan dan membuka kawasan baru sampai ke Dairi sekarang. Dari cerita ini diketahui bahwa tanah Pasaribu di daerah pesisir telah eksis sebelumnya.

Dalam kejadian yang lain, di sebuah negeri tetangga bernama Luat Simamora di negeri Dolok Sanggul di sebuah desa bernama Lumbat Situpang terdapat beberapa kejadian yang mempengaruhi perkembangan Tundang. Disebutkan bahwa di Luat Simamora tersebut terdapat seorang Raja bernama Tuan Mirhim (di negeri Pakkat terdapat seorang tokoh bernama Tuan Sumerham?). Raja mempunyai tujuh orang putra. Seorang yang bernama Si Namora, satu-satunya yang tidak mempunyai keturunan di antara tujuh bersaudara. Hal ini mengakibatkan seringnya terjadi perselisihan. Sebuah insiden terjadi. Seorang istri saudaranya terkena terinjak kotoran. Perempuan yang kena lumpur itu bertanya kepada perempuan yang lain dengan nada heran.

” Kotoran siapa ini yang mengenai kakiku? Mengapa tidak dibuang?”.

“Siapa yang mau membuangnya? Bukan anakku yang membuat kotor. Anak siapa yang buat kotor dia yang harus membuangnya,” jawab perempuan yang lain.

“Terus punya siapa?”

“Siapa lagi kalau bukan dari anak nakal, yah anak Si Namora!”

Sindiran itu membuat istri Si Namora Simamora menangis, karena dia memang tidak mempunyai anak.

“Mungkin karena kami memelihara seekor anjing lalu mereka menyebutnya sebagai anakku,” pikir dia sambil bertambah sedih.

Kebetulan suaminya datang dan melihat kejadian tersebut.

“Mengapa kau menangis?” tanya dia

“Mereka menuduh bahwa anak kita yang membuang kotoran dilantai, padahal kita tidak punya anak.”

Sindiran tersebut dirasakan mendalam oleh Simamora dan diapun membentak istri saudaranya tersebut. Rasa sedihnya tak terobati. Tidak ada jalan keluar baginya kecuali menjauh dari mereka. Diapun mengajak istrinya untuk pindah mengasingkan diri. Mereka memilih untuk berjalan ke arah barat sampai suatu saat dia menemukan tempat yang layak untuk bermukim. Di sana dia berusaha membuka hutan dan melangsungkan hidup dengan bercocok tanam.

Suatu saat, Raja Alang Pardosi sedang menikmati hari-harinya di pinggir sebuah sungai. Matanya memandang sebuah potongan kayu yang hanyut dari hulu. Dari potongannya dia mengetahui bahwa batang kayu tersebut merupakan sisa potongan kayu. Dia menduga bahwa ada orang yang tinggal di hulu sungai tersebut tanpa sepengetahuannya.

Bersama hulu balangnya dia mendatangi orang tersebut yang kebetulan Simamora.

“Siapa kau? dari mana asalmu dan mengapa kau membuka kampung di tanahku?”

“Namaku Simamora, aku putra seorang Raja yang bernama Tuan Mirhim dari Luat Simamora, Negeri Dolok Sanggul kampung bernama Lumban Situpang.”

Simamora memperkenalkan diri dan melanjutkan

“..Adapun penyebab kedatanganku adalah karena aku bertengkar dengan saudaraku yang selalu menyindir kondisi kami yang tidak mempunyai anak. Sampai kemudian mengasingkan diri kesini. ”

“Kalau kau mau tinggal disini, maka kau harus menuruti semua peraturan dan menunaikan persyaratan adat kepadaku. ”

“Apapun peraturannya akan hamba turuti,” ujar Simamora mencoba meyakinkan sang Raja.

Pardosi kemudian menjelaskan beberapa persyaratan

“Persyaratannya adalah; apabila kau mempunyai makanan yang berdaging, maka kau harus mempersembahkan bagian kepalanya kepadaku, walaupun itu ikan, mengerti? ”

Simamora pun menurutinya.

Perjalanan nasib Simamora di huta baru tersebut akhirnya berubah. Istrinya yang telah lama menunggu akhirnya hamil juga. Dikisahkan bahwa hal ini karena dia sering memakan buah rambe, buah yang menjadi primadona daerah tersebut. Beberapa bulan kemuadian lahirlah seorang putra yang diberi nama Si Purba Uluan. Kabar gembira ini kemudian disampaikan kepada Raja. Pardosi sebagai pemimpin menunjukan kewibawaannya dengan menghadiahkan tiga potong kain, masing-masing untuk mereka. Huta tersebut kemudian berkembang pesat dan banyak imigran tinggal didalamnya. Huta tersebut dinamakan Rambe karena buah rambe menjadi primadona disana. Negeri Rambe sekarang terletak di Pakkat, Humbang Hasundutan.

Beberapa tahun kemudian dua orang putra berikutnya lahir, diberi nama Si Nalu (Manalu) dan yang bungsu bernama Si Raja. Setelah seluruh putranya menginjak dewasa, putra tertua merasa heran mengapa setiap kali mereka menyantap hidangan selalu tanpa bagian kepala.

“Ayah, dimana bagian kepalanya? lain kali aku uga ingin memakan bagian kepala gulai! ”

Simamora kemudian menjawab dengan menjelaskan perjanjiannya dahulu dengan sang Raja.

“Anak-anakku, kepala gulai tidak boleh kita makan karena saya sudah berjanji untuk memberikannya kepada Raja. ”

“Kok perjanjiannya menyusahkan sekali? apa yang akan kita lakukan nanti kalau mangadakan pesta besar, bukankah gulainya harus lengkap? ”

“Apa boleh buat, kita tetap tidak boleh. ”

“Ayah, aku punya akal untuk melepas perjanjian itu. ”

“Apa maksudmu, Nak?”

“Izinkan kami pergi kedaerah Toba untuk mencari sepotong kayu yang sangat istimewa…”

“Kalau kau mau pergi ke sana, kau dapat meminta kepada saudara kita kain dan barang-barangku dulu yang tertinggal, sebut saja nama ayah, ” kata Simamora mendukung usul putranya.

Purba beserta kedua adiknya menempuh perjalanan menuju Toba tempat kelahiran ayahnya.Saat akan memasuki sebuah huta, seorang penduduk mencegahnya dan menanyai identitasnya.

“Hei nak, dari mana asalmu? ”

“Kami berasal dari rantau sebelah, dekat tanah Dairi di sebelah Barat, ” jawab Purba

“Apa kau kenal orang bernama Si Namora di sana?”

“Aku kenal, dia ada disana sekarang, ada apa dengannya? ”

“Aku bertanya karena dulu aku mempunyai seorang adik kecil yang sudah lama minggat dari rumah kami karena perselisihan. ”

“Kalau dia saudara Tuan, maka kami adalah anak-anaknya yang datang kemari hendak mencari Bapak Tua. Disana dia telah mendirikan kampung bernama Rambe. Dia menyuruh kami mengambil barang-barang yang tertinggal, beruntung kita berjumpa disini. ”

“Kalau benar kalian anaknya marilah kerumah. ” Saudara tua mengajak ketiga anak tersebut kerumahnya.


Kesempatan yang sangat kebetulan tersebut digunakan untuk bersuka cita selama beberapa saat. Setelah beberapa lama tinggal di rumah saudaranya, Purba memohon diri untuk kembali ke kampung halaman. Bapak Tua memberikan kepadanya segala barang-barang Simamora. Kepulangan mereka ke Rambe disertai beberapa orang yang ingin bertemu ayahnya. Melihat begitu banyaknya orang-orang yang datang bersama anaknya, Simamora memberikan sambutan yang hangat. Purba memohon ayahnya untuk memburu rusa agar dipersembahkan kepada Raja Pardosi. Persembahan tersebut membuat Raja Pardosi begitu terkesan sehingga menawarkan anak-anak perempuannya kepada putra-putra Simamora. Pernikahan ketiga pasangan tersebut diselenggarakan bersamaan.

Simamora memutuskan untuk memisahkan tempat tinggal ketiga putranyatersebut. Si bungsu tinggal bersamanya. Si Sulung tinggal bersama mertuanya. Anak yang kedua dibuatkan kampung tersendiri.

Setelah mengarungi hidup beberapa lama, Purba menjenguk ayahnya di Rambe. Dia mendapati ayahnya sedang mempunyai buruan rusa. Dia teringat dengan rencana trik yang sudah laam terlupakan tersebut.

” Wahai ayah sekarang undanglah Raja Pardosi untuk menerima persembahan kepala rusa, kalu ada sesuatu biarkanlah aku yang berbicara. ”

Simamora kemudian mengundang sang Raja. Melihat ayahnya pergi membungkus rusa tersebut dengan kain candai dan beberepa lapis kain biasa. Sebuah tombak dipancangkan dekat kepala rusa. Saat Raja Pardosi dan Simamora tiba, Purba menyodorkan persembahan tersebut.

” Hai Mamakku, binatang apakah namanya ini? kami tidak mengenalinya karena tidak pernah mendapatkan binatang seperti itu, apakah manusia atau bukan, tapi ambillah kepalanya ”

” Tidak, aku tidak berkenan, ambilah bersamamu aku ngeri melihat binatang itu,” tolak sang Raja merasa curiga dengan jenis persembahan tersebut.

“Tapi ini kan harus Mamak terima karena kita sudah melakukan perjanjian. Tidak boleh dipungkiri sekarang, baik atau buruk dalam perjanjian sama saja, Mamak harus terima. ”

“Aku tidak mau mengingat perjanjian itu lagi. Persembahan itu untuk kalian saja, dan siapapun boleh memakannya, untuk selamanya aku tidak perduli lagi,” titah Raja pardosi dan diapun kembali ke hutanya. Purbapun tersenyum dan membuka, semua orang dipertemuan tersebut menyadari bahwa Raja Pardosi telah tertipu.

Lama-kelamaan, berita tentang tertipunya Raja tersebar di masyarakat, sampai akhirnya terdengar oleh telinga Raja. Dia menyadari tipu daya menantu sulungnya tersebut dan semakin membuatnya gusar serta tidak percaya pada Purba yang sudah direncanakan menjadi raja pengganti dirinya.

“Begitu cerdiknya si Purba, apa yang terjadi bila dia menjadi raja, apakah aku akan dibunuhnya? ” pikirnya. Hatinya semakin galau.

Kenyataan itu membuat raja ketakutan sendiri, perasaan was-was menyelimuti dirinya. Bagaimana mungkin ketulusan dirinya sebagai mertua telah dinodai. Raja kemudian memutuskan untuk memindahkan istananya ke sebuah kawasan baru yang dinamakan si Pigembar. Sebagian besar penduduk mengikutinya, namun banyak juga yang ingin tinggal.
barus
Kawasan itupun dibangun kembali dan menjadi tempat yang ramai. Beberapa saat kemudian Permaisuri meninggal dunia. Mendapat berita musibah tersebut, beberapa utusan dari kampung dan daerah melawat sambil membawa kerbau, kambing, kuda, dan beberapa persembahan lainnya. Saking banyaknya pelayat, suasana seperti di hari raya saja. Di antara pelayat tersebut adalah menantu Raja pardosi, Purba.

“Wahai Mamakku, aku melihat banyak orang datang membawa berbagai persembahan. Aku ingin membawa persembahan yang lain dari pada mereka, kalau seandainya mamak menyukainya.”

“Kalau seandainya aku menyukainya, aku menyukainya dalam jumlah yang besar,” jawab Raja berusaha mempersulit menantunya.

Namun Purba tidak patah arang, diapun pergi ke negeri Toba menjemput orang-orang toba dan memesan satu kuda bengkuang dan satu patung kura-kura. Setelah kedua patung persembahn itu selesai dibuat, Purba memerintahkan orang-orang Toba tersebut untuk membawa senapan dan mempersenjatai diri. Rombongan tersebut kembali ke istana dan memberi pesan bahwa besok dia akan memberi persembahan itu kepada Raja secara langsung.

Keesokan paginya Purba membawa persembahan ke Istana di ikuti oleh pengikutnya yang berkuda dan menenteng senjata yang berisi peluru. sebelum sampai ke istana Purba memrintahkan pengikutnya untuk mengamuk dan membunuh semua penduduk di kampung tersebut yang tidak mempunyai tanda. Sebelumnya. Purba telah mengatur strategi penyerangan dengan memberi tanda bagi pasukan dan warga yang tidak boleh dibunuh.

Penyerangan yang tak terduga tersebut mengakibatkan jumlah tewas dan luka yang besar. Raja Pardosi dan hulubalang beserta rakyat yang patuh dengannya berhasil melarikan diri. Mereka melariaknn diri menuju arah timur.
gunung barus
Setelah melakukan perjalanan yang melelahkan, rombongan tersebut tiba di sebuah kawasan hutan di sebuah gunung bernama Nagudang. Raja memutuskan untuk berhenti di tempat tersebut karena dirasa aman dari serangan menantunya. Sebuah hunian barupun dibina dari awal. Inilah cikal bakal negeri bernama Huta Ginjang. Raja mengatur strategi pertahan dari seranga luar bersama kepala hulubalangnya, Timba Laut. Namun untuk memenuhi makan dari laut, ditetapkanlah seorang hulubalang bermarga Pane, untuk memancing ikan di sebuah pulau demi memenuhi kebutuhan kolektif. Pulau tersebut akhirnya sekarang dinamai Pulau Pane dan sebuah pulau kecil di samping bernama pulau Belalang karena di situlah ikan Belalang, kesukaan mereka ada.

Untuk kedua kalinya, negeri yang ditinggalkan raja tersebut dikuasai oleh Purba. Dia menobatkan dirinya menjadi penguasa dan raja. Namun, karena ketidakpiawiannya dalam memerintah, kelaparan terjadi. Kelaparan ini juga dipicu oleh banyaknya petani yang meninggal dalam penyerbuan huta tersebut oleh Purba. Raja Purba melakukan konsultasi dengan seorang datu kerajaannya. Dia ingin tahu mengapa musibah ini bisa terjadi.

“Paduka yang mulia, adapun penyebab kelaparan ini adalah karena sebuah kutukan yang menimpa anda. Kutukan tersebut diakubatkan oleh kemurkaan Raja Pardosi, mengakibatkan tanaman dan tumbuhan tidak dapat hidup. Apabila Raja Pardosi tidak dijemput, maka semua penduduk kerajaan ini akan tewas,” jawab dang dukun.

Tidak ada pilihan bagi Raja Purba selian melepaskan kutukan tersebut. Dia mengutus salah satu panglimanya, Panglima Golgol untuk mencari keberadaan Raja Pardosi di hutan.

“Apabila kau berjumpa dengannya, sampaikan pesanku agar mereka datang beserta para pengikutnya, berapapun jumlahnya. Dia akan kembali menjadi raja di sini dan aku akan menuruti titahnya,” perintah raja.

Setelah melakukan pencarian yang melelahkan, Panglima berhasil menemukan Raja Pardosi yang tengah membina kawasan kerajaan yang tengah berkembang. Dia mengutarakan niatnya kepada Raja.

“Aku berkenan untuk kembali ke negeri tersebut dengan satu syarat. Purba harus membangun sebuah rumah di Gotting (nama sebuah celah dan daerah antara Pakkat dan Tukka Dolok), di atas jalan Gotting, sehingga siapapun yang ingin lewat harus melalui bawah rumahku,” titah Raja Pardosi.

Panglima Golgol kembali dan menyampaikan pesan tersebut. Raja Purba memerintahkan ahli bangunan istanya untuk membuatkan rumah sebagaimana dimaksud. Raja Pardosi dikabarkan dengan persyaratan tersebut. Dan dia beserta rakyatnya kembali semula ke rumah masing-masing.

Untuk mencegah terulangnya kejadian hilangnya daerah kekuasaannya, dia menempatkan seorang hulubalang kepercayaannya di huta-huta kecil di bawah kerajaannya. Di antaranta adalah, Batu Ringin dan Pangiringan. Diapun akhirnya memutuskan tinggal di Gotting.

Setalah lama tinggal di sana. Diapun mengunjungi daerah-daerah kekuasannya dan menetapkan beberapa peraturan, larangan dan pembentukan pasar yang disebut Onan. Diantaranya sampai ke Hulu di negeri Yakman (Aek Riman?).

Keberhasilannya membina kerajaanya membuatnya terkenal sebagi raja Batak yang paling disegani di luar Luat Toba dan Dairi. Diapun akhirnya mempunyai dua anak laki-laki dan satu perempuan dari permaisurinya yang baru. Anak perempuannya satu-satunya akhirnya disunting seorang raja di Aceh.

Putra pertaman bernama Pucaro Duan atau Pucur Dalan dan yang paling muda bernama Guru Marsakot. Raja Padosi kemudian meninggal dunia di Gotting karena ujur meninggalkan kedua putranya menjadi pemimpin di kerajaannya.

Setelah melewati masa, kedua putranya tersebut berusah untuk membangun pemukiman sendiri lepas dari bayang-bayang ayahnya.

“Lebih baik kita mebuat pemukiman masing-masing. Tinggal di sini akan membuat kita kesulitan mengatasi persoalan apabila bersama. Purba, abang kita juga telah membuka kampung yang baru,” kata Pucaro ke Guru Marsakot.
bersambung (2 tamat)

Iklan

Tuanku Dorong Hutagalung-Sultan Negeri Sibogah

ssIBOLGASULTAN SIBOLGA

 

 

 

 

 

Menurut penulis Sejarah Sibolga, Tengku Luckman Sinar dengan mengutip hasil catatan riset seorang pembesar Belanda, EB Kielstra – disebutkan bahwa sekitar tahun 1700 seorang dari Negeri Silindung bernama Tuanku Dorong Hutagalung mendirikan Kerajaan Negeri Sibogah, yang berpusat di dekat Aek Doras. Dalam catatan EB Kielstra ditulis tentang Raja Sibolga: “Disamping Sungai Batang Tapanuli, masuk wilayah Raja Tapian Nauli berasal dari Toba, terdapat Sungai Batang Sibolga, di mana berdiamlah Raja Sibolga.”
Penetapan tahun 1700 itu diperkuat analisis tingkat keturunan yakni bahwa Marga Hutagalung yang telah berdiam di Sibolga sudah mencapai sembilan keturunan. Kalau jarak kelahiran antara seorang ayah dengan anak pertama adalah 33 tahun -angka ini adalah rata-rata usia nikah menurut kebiasaan orang Batak—lalu dikalikan jumlah turunan yang sudah sembilan itu, itu berarti sama dengan 297 tahun. Maka kalau titik tolak perhitungan adalah tahun 1998, yaitu waktu diselenggarakannya Seminar Sehari Penetapan Hari Jadi Sibolga pada 12 Oktober 1998, itu berarti ditemukan angka 1701 tahun.
sibolga
Tentang nama atau sebutan Sibolga, dicerita-kan bahwa pada awal-nya Ompu Datu Hurinjom yang membuka perkampungan Simaninggir, mempu-nyai postur tubuh tinggi besar, di samping memiliki tenaga dalam yang kuat. Adalah tabu bagi orang Batak menyebut nama seseorang secara langsung apalagi orang tersebut lebih tua dan dihormati, maka untuk menyebut nama kampung yang dibuka Ompu Datu Hurinjom dipakai sebutan “Sibalgai”, yang artinya kampung atau huta untuk orang yang tinggi besar.

Asal kata Sibolga dengan pengertian tersebut lebih dapat diterima daripada untuk istilah “Bolga-Bolga”, yaitu nama sejenis ikan yang hidup di pantai berawa-rawa; atau istilah “Balga Nai” yang berarti besar untuk menunjukkan ke arah luasnya lautan. Orang Batak biasanya menggunakan kata “bidang” untuk menggambarkan sesuatu yang luas, bukan kata balga yang berarti besar.

Tapi apa pun kisah awal kelahiran nama dan Kerajaan Sibolga, kota di Teluk Tapian Nauli ini telah menjalankan peran sejarah yang sangat berarti. Di masa lalu Sibolga berjaya sebagai pelabuhan dan gudang niaga untuk barang-barang hasil pertanian dan perkebunan seperti karet, cengkeh, kemenyan dan rotan. Inggris bahkan pernah menjadikan Sibolga sebagai pelabuhan gudang niaga lada terbesar di Teluk Tapian Nauli.
sibolga -2
Lebih dari itu, berdasarkan Besluit Gubernur Jenderal Hindia Belanda pada 7 Desember 1842 tempat kedudukan Residen Tapanuli dipindahkan dari Air Bangis ke Sibolga, dan sejak itulah Sibolga resmi menjadi Ibukota Keresidenan. Meski statusnya sebagai Ibukota Keresidenan sempat dipindahkan ke Padang Sidempuan antara tahun 1885 – 1906, namun predikat itu akhirnya kembali lagi ke Sibolga berdasarkan Staadblad yang dikeluarkan pada 1906 itu.

Dalam perjalanannya, pada 1850, di masa Mohd Syarif menjadi Datuk Poncan, bersama-sama dengan Residen Kompeni Belanda bernama Conprus, mereka pindah dari Pulau Poncan ke Pasar Sibolga. Pada tahun ini pula rawa-rawa besar itu ditimbun untuk menyusunnya menjadi sebuah negeri pula.

Sibolga jolong basusuk
Banda digali urang rantau
Jangan manyasa munak barisuk
Kami sapeto dagang sansai

Maksudnya yakni bahwa pada mulanya Kota Sibolga ini dibangun dengan menggali parit-parit dan bendar-bendar untuk mengeringkan rawa-rawa besar itu, dengan menggerakkan para narapidana (rantai) serta ditambah dengan tenaga-tenaga rodi, ditim-bunlah sebagian rawa-rawa itu dan berdirilah negeri baru Pasar Sibolga.

Di masa Sibolga dibangun menjadi kota, istana raja yang berada di tepi Sungai Aek Doras dan pemukiman di sekelilingnya dipindahkan ke kampung baru, Sibolga Ilir. Di atas komplek tersebut dibangun pendopo Residen dan perkantoran Pemerintah Belanda. Walaupun pada tahun 1871 Belanda menghapuskan sistem pemerintahan raja-raja dan diganti dengan Kepala Kuria, namun Anak Negeri menganggapnya tetap sebagai Raja dan sebagai pemangku adat.
sibolga -3
Sementara Datuk Poncan di Sibolga diberi jabatan sebagai Datuk Pasar dan tugasnya memungut pajak anak negeri yang tinggal di Kota Sibolga terhadap warga Cina perantauan, Di dalam melaksanakan tugasnya, Datuk Pasar dibantu oleh Panghulu Batak, Pangulu Malayu, Pangulu Pasisir, Pangulu Nias, Pangulu Mandailing dan Pangulu Derek.

Pada 1916 Datuk Stelsel dihapuskan serta diganti dengan Demang Stelsel, mengepalai satu-satu distrik menurut pembagian yang diadakan, dalam mana Pasar Sibolga masuk Distrik Sibolga, sebagaimana beberapa resort kekuriaan. Untuk memudahkan kontrol berdasarkan Besluit Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Keresidenan Tapanuli dibagi menjadi tujuh Afdeling yaitu Afdeling Singkil, Sibolga, Nias, Barus, Natal, Angkola dan Mandailing. Sedangkan Afdeling Sibolga terdiri dari beberapa distrik yakni Distrik Sibolga, Distrik Kolang, Tapian Nauli, Sarudik, Badari, dan Distri Sai Ni Huta.

Pada masa Pemerintahan Militer Jepang, Kota Sibolga dipimpin oleh seorang Sityotyo (baca: Sicoco) di samping jabatannya selaku Bunshutyo (baca: Bunsyoco), tapi dalam kenyataanya adalah Gunyo yang memegang pimpinan kota sebagai kelanjutan dari Kepala Distrik yang masih dijabat oleh bekas demang, ZA Sutan Kumala Pontas.

Pada masa pendudukan Jepang, Mohammad Sahib gelar Sutan Manukkar ditunjuk sebagai Kepala Kuria dengan bawahan Mela, Bonan Dolok, Sibolga Julu, Sibolga Ilir, Huta Tonga-tonga, Huta Barangan dan Sarudi. Beliau inilah yang menjadi Kepala Kuria yang terakhir di Sibolga karena setelah zaman kemerdekaan, sekitar tahun 1945 istilah Kepala Kuria praktis sudah tidak ada lagi.

Mengenai Sejarah Kuno Sibolga

Tidak dapat diketahui secara pasti sejak kapan bumi Teluk Tapian Nauli mulai dihuni orang. Namun berdasarkan sejumlah catatan sejarah, diperkirakan sejak tahun 1500 sudah terjadi hubungan dagang antara para penghuni Teluk Tapian Nauli dengan dunia luar yang paling jauh yakni negeri orang-orang Gujarat dan pendatang dari negeri asing lain seperti Mesir, Siam, Tiongkok. Para golongan terkemuka Tapian Nauli juga sudah dikenal di Mesopotamia, paling tidak melalui sejarah lisan yang dibawa saudagar Arab.

Tercatat pula bahwa pada tahun 1500 itu pelaut Portugis sudah hilir mudik di lautan dalam rangka mencari dan mengumpulkan rempah-rempah untuk dibawa ke Eropa. Uang Portugis yang beredar di kalangan masyarakat yang berdiam di Teluk Tapian Nauli saat itu merupakan salah satu bukti. Ketika itu keberadaan Teluk Tapian Nauli sangat penting. Selain sebagai pangkalan pengambilan garam, dusun ini terkenal juga sebagai pangkalan persinggahan perahu-perahu mancanegara guna mengambil air untuk keperluan pelayaran jauh.

Peranan Teluk Tapian Nauli sebagai pangkalan persinggahan dan pelabuhan dagang semakin dikukuhkan ketika Belanda dan Inggris memasuki wilayah itu di kemudian hari. Kapal Belanda di bawah pimpinan Gerard De Roij datang kepantai Barat Sumatera—Teluk Tapian Nauli—pada 1601. Sedangkan Inggris memasuki wilayah ini pada 1755.

Kehadiran dan gerak langkah Belanda dan Inggris di Teluk Tapian Nauli bisa dilihat dari beberapa kronologi peristiwa berikut ini:

1604 : Perjanjian antara Aceh dengan Belanda, yaitu antara Sultan Iskandar dengan Oliver.

1632 : Kapal Belanda mulai berhadapan dengan Inggris di Pantai Barat Sumatera dalam rangka kepentingan dagang.

1667 : Belanda mendirikan benteng (loji) di Padang.

1668 : Belanda mulai dengan politik adu domba, menghasut Tiku dan Pariaman lepas dari Aceh. Barus pro Pagaruyung diusir dari berbagai tempat.

1669 : Setelah berkuasa di Sumatera Barat, Belanda mulai mengincar pesisir Tapanuli dan mendirikan loji di Barus.

1670 : Karena keserakahan Belanda (VOC) dengan praktek dagangnya yang monopolistis, pemberontakan di Barus terhadap Belanda tidak dapat dielakkan dan terus meningkat. Raja Barus dibantu oleh adiknya Lela Wangsa berhasil mengusir Belanda dan menghancurkan loji Belanda.

1678 : Belanda dapat membalas, namun pada ketika itu perang sengit antara Raja Barus dengan Belanda terus berkobar. Raja Barus melakukan taktik gerilya. Putera raja di Hulu berhasil membuhuh dokter Belanda dan seorang serdadu Belanda. Namun Belanda berhasil menangkap Raja I^ela Wangsa dan membuangnya ke Afrika Selatan.

1733 : Belanda semakin merajalela dengan berhasilnya menangkap Raja Barus. Seterusnya bukan hanya Barus saja yang diserang, tapi Belanda juga menyerang Sorkam. Kolang dan Sibolga.

1734 : Oleh karena Belanda telah melakukan penyerangan terhadap Raja-Raja yang ada di Teluk Tapian Nauli, maka Raja-Raja yang ada di Teluk Tapian Nauli mengkonsolidasikan diri, maka lahun ini terjadilah peperangan secara besar-besaran terhadap Belanda. Serangan datang dari Sibolga, Kolang, Sorkam dan Barus dipelopori anak Yang Dipertuan Agung Pagaruyung.

1735 : Belanda terkejut dan kewalahan menghadapi peperangan ini. Belanda melakukan penelitian, dan ternyata diketahui bahwa semangat patriotisme yang dikobarkan dari Raja Sibolga itulah sumber kekuatan. Belanda ingin melampiaskan rasa penasarannya kepada Raja Sibolga, namun tidak berhasil, Antara 1755-1815 pesisir Pantai Barat Sumatera Utara, Teluk Tapian Nauli, berada di bawah pengaruh Inggris. Pada 1755 Inggris memasuki Tapian Nauli dan membuat benteng di Bukit Pulau Poncan Ketek (Kecil). Mereka mulai menguasai loji-loji Belanda dan markas Aceh yang berada di pesisir Barat Tapanuli.

1758 : Pasukan Inggris mulai mengusir loji-loji Belanda dan juga markas Aceh dari pesisir barat Tapanuli. Silih berganti usir-mengusir antara Inggris dengan Belanda.

1761 : Perancis meninggalkan Poncan. Kemudian Inggris datang bekerjasama dengan penduduk Tapian Nauli dan Sibolga.

1770 : Karena suasana perdagangan mulai tenang, maka Inggris mendatangkan budak dari Afrika dan India untuk mengerjakan urusan dagang dan perkebunan Inggris. Kuria

Tapian Nauli dan Raja Sibolga merasa keberatan atas tindak tanduk Inggris ini.
1771 : Stains East Indian Company Inggris di Tapanuli dinaikkan menjadi “Residency Tappanooly”.

1775 : Karena dagang Inggris mulai menurun karena tidak mendapat simpati dari Kuria Tapian Nauli dan Raja Sibolga, maka Belanda mengambil kesempatan mengadakan perjanjian dagang dengan Kuria Tapian Nauli dan Raja Sibolga.

1780 : Puncak perselisihan antara Belanda dengan Inggris adalah persoalan monopoli garam. Kesempatan ini dipergunakan oleh Aceh untuk menyerang Inggris di Teluk Tapian Nauli. Aceh untuk sementara dapat menduduki Teluk Tapian Nauli, akan tetapi Inggris meminta bantuan dari Natal dan Inggris kembali menduduki Tapian Nauli (Poncan Ketek).

1786 : Aceh kembali menyerang Inggris di Tapian Nauli. Serangan ini tidak berhasil karena Inggris meminta bantuan ke Natal.

1801 : Jhon Prince ditetapkan menjadi Residen Tapanuli berkedudukan di Poncan Ketek. Sejak saat itu Poncan Ketek mulai ramai didatangi oleh orang Cina, India, dan lain-lain.

1815 : Residen Jhon Prince mengadakan kontrak perjanjian dengan Raja-Raja sekitar Teluk Tapian Nauli, termasuk Raja Sibolga. Perjanjian ini disebut “Perjanjian Poncan” atau “Perjanjian Batigo Badusanak”.

1825 : Inggris menyerahkan Poncan kepada Belanda, sebagai realisasi Traktat London 17-3-1824.

1850 : Belanda mulai menata pemukiman di Sibolga dengan menimbun rawa-rawa dan membuat parit-parit.

1851 : Pengukuhan Adat Pusaka di Teluk Tapian Nauli dan sekitarnya oleh Residen Tapanuli Conprus.