Archive for Januari 11th, 2017

Apa Kata Brigadir Jenderal Supardjo Tentang “G30S” (2)

images_112

 339

DALIH PEMBUNUHAN MASSAL: GERAKAN 30 SEPTEMBER DAN KUDETA SUHARTO

[cengkeraman] terhadap TNI jang ada di kota. Suasana di mana2

belum mengutuk G-30-S. Dalam tiap2 perang revolusioner,

seorang pemimpin harus sanggup membangkitkan di kalangan

pengikutnja:

  1. Djiwa kepahlawanan.
  2. Kebulatan pikiran dan tekad.
  3. Semangat berkorban.
  4. Ada hal jang perlu dipelajari setjara mendalam. Kawan2

jang selama ini hidup di organisasi tentara bordjuis, sangat

sulit dan mirip tidak sampai hati untuk mendahului teman2

seangkatannja. Hal ini terdjadi djuga pada bataljon jang berasal

dari Djateng,18 dan djuga pada peristiwa jang kami dengar

kemudian, waktu menghadapi Pangdam Surjosumpeno.19

Mungkin letaknja pada kelemahan pandangan ideologi,

kelemahan dalam pandangan kelas. Adjaran Marxisme-

Leninisme bahwa “Kalau tidak mereka jang kita basmi, maka

merekalah jang akan membasmi kita.”20 Belum meresap, dan

belum mendjadi keyakinan kawan2 di ABRI pada umumnja.

Dari pengalaman ini maka pendidikan ideologi dan kesadaran

pandangan kelas perlu mendjadi program Partai.

  1. Strategi jang dianut dalam gerakan keseluruhan adalah

sematjam strategi: “Bakar Petasan.” Tjukup sumbunja dibakar

di Djakarta dan selandjutnja mengharap dengan sendirinja

bahwa meretjonnja akan meledak di daerah2. Ternjata tjara

ini tidak berhasil. Ada dua sebab: mungkin sumbunja kurang

lama membakar atau mesiu jang ada dalam tubuh meretjon itu

sendiri dalam keadaan masih basah, kami hubungkan ini dengan

pekerdjaan2 di waktu jang lampau, tjara2 menarik kesimpulan

tentang kawan2 jang di ABRI dan massa adalah subjektif. Dari

pengalaman ini kita harus bikin kebiasaan membesar2-kan

situasi jang sebenarnja.21 Biasanja kalau ada 10 orang sadja

dalam satu peleton jang sudah dapat kita hubungi, dilaporkan

bahwa seluruh peletonnja sudah kita (kawan). Kalau ada seorang

Dan Jon jang kita hubungi, maka ada kemungkinan bahwa

340

LAMPIRAN-LAMPIRAN

seluruh Bataljon itu sudah kawan. Kekeliruan strategi G-30-S

itu disebabkan djuga banjak kawan2 dari ABRI maupun dari

daerah2 jang melaporkan bahwa massa sudah tidak dapat

ditahan lagi. Bila pimpinan tidak mengambil sikap, maka rakjat

akan 22 djalan sendiri (ber-revolusi). Mengikuti suara2 jang

belum diperiksa kebenarannja berarti kita kena “agitasi” massa,

sama halnja tidak mendjalankan “garis mangsa setjara tepat.”

  1. Melihat kemampuan dan kebesaran organisasi Partai di waktu2

jang lalu maka asalkan sadja kita taktis menggerakannja, kami

rasa PKI tidak perlu kalah. Saja ibaratkan seorang pemasak

jang mempunjai bumbu, sayur2 jang serba tjukup, tetapi kalau

tidak pandai menilai temperatur dari panasnja minjak, besarnja

api, bilamana bumbu2 itu ditjemplungkan dan mana jang

didahulukan dimasak maka masakan itu pun tidak akan enak,

satu tjontoh misalnja. Kami membawahi 18 Bataljon,23 3 di

antaranja bisa dikerahkan untuk tugas2 revolusi, dan sudah

dipersiapkan lengkap dengan pesawat angkutan Hercules

berkat solidaritas dari kawan2 perwira di AD, jang mempunjai

kedudukan komando, tetapi semua ini tidak dimanfaatkan,

sehingga bukan kita jang menghantjurkan lawan “satu demi

satu”, tetapi sebaliknja kita jang di hantjurkan setjara “satu demi

satu.”

Sekian,

 

CATATAN

1 Saya tidak tahu mengapa frasa ini diberi tanda petik ganda.

2 Dari keseluruhan dokumen, cukup jelas bahwa yang dimaksud Supardjo adalah  pimpinan PKI. Ada kemungkinan bahwa Supardjo menyerahkan analisis ini kepadaSudisman, pimpinan Politbiro yang tersisa, yang sedang mempersiapkan otokritikterhadap partai pada pertengahan 1966.

3 Pada 30 September 1965 malam Presiden Sukarno menghadiri upacara penutupan

 

341

DALIH PEMBUNUHAN MASSAL: GERAKAN 30 SEPTEMBER DAN KUDETA SUHARTO

6-Soeharto 22-2-1967 -21-5-1998

Konferensi Nasional Ahli Teknikdi stadion Senayan. Letnan Kolonel Untung

menjadi bagian pengamanan untuk kehadiran Sukarno di dalam acara ini.

4 Perwira ini boleh jadi Mayor Bambang Supeno, komandan Batalyon 530 JawaTimur. Dalam laporan interogasinya (yang ditulis oleh tim intelijen AngkatanDarat), Supardjo diduga mengatakan (ini laporan interogasi yang harus dibacadengan skeptisisme) Sjam memberitahu dia pada 1 Oktober pagi bahwa MayorSupeno “masih diragukan.” (Departemen Angkatan Darat Team Optis-Perpu-Intel,“Laporan Interogasi Supardjo di RTM,” 19 Januari 1967, 4; dokumen ini termaktubdalam berkas rekaman persidangan Mahmilub untuk Supardjo.) Pasukan-pasukanMayor Supeno merupakan yang pertama mundur; mereka menyerahkan diri keKostrad pada sore hari 1 Oktober meski Mayor Supeno sendiri tinggal dipangkalan

Halim dengan anggota komplotan yang lain sampai dini hari 2 Oktober. MayorSupeno menjemput wakil komandan batalyon, Letnan Ngadimo, di istana padasekitar pukul 14.00 saat pasukan-pasukannya mulai menyerah, dan membawanyake Halim, menurut kesaksian Letnan Ngadimo di persidangan Untung. KomandanBatalyon 454, sebaliknya, berusaha mempertahankan pasukan-pasukannya diLapangan Merdeka; ketika ia akhirnya meninggalkan posisi tersebut, ia membawasebagian besar anak buahnya ke Halim.

5 Istilah pung-pung tampaknya salah ketik. Seharusnya mumpung.

6 Sasaran utama kemungkinan adalah Jenderal Nasution. Pasukan-pasukan yangdikirim untuk menculiknya dipimpin oleh seorang prajurit.

7 Nato adalah singkatan cerdas yang dibuat Supardjo untuk Nasution dan

Suharto.

8 Istilah ini merupakan kombinasi kata Indonesia off ensi yang berasal dari kataBelanda off ensief dan kata Belanda geest yang berarti semangat.

9 Para panglima keempat angkatan – Angkatan Udara, Angkatan Laut, AngkatanDarat, Angkatan Kepolisian – adalah menteri-menteri dalam kabinet Sukarno.

10 Suharto, bukan Nasution, yang melarang Pranoto pergi ke Halim.

11 Pak Djojo adalah nama samaran untuk Mayor Soejono dari AURI, komandanpasukan-pasukan yang menjaga pangkalan Halim. Supardjo mungkin menggunakannama samaran dalam dokumen ini karena ia tidak tahu nama Soejono sebenarnja.

Ini kemungkinan yang nyata karena Supardjo baru bergabung dengan komplotanini sehari sebelumnya dan mungkin diperkenalkan kepada anggota-anggota lainnyasaat mereka menggunakan nama-nama sandi. Nama Pak Djojo juga disebut olehNjono, ketua CDB (Comite Daerah Besar) PKI Jakarta, pada pengadilannya diMahmilub. Menurut Njono, Pak Djojo adalah nama samaran seorang perwiramiliter yang mencari sukarelawan PKI untuk dilatih di Lubang Buaya dari Juni sampai September 1965 (G-30-S Dihadapan Mahmillub, Perkara Njono, 53-54,

64-65, 79-82). Heru Atmodjo menegaskan dalam pembicaraan dengan saya bahwaPak Djojo adalah nama alias Mayor Soejono.

12 Supardjo tampaknya menerjemahkan dan menulis ulang (memparafrasakan)

 

342

LAMPIRAN-LAMPIRAN

salah satu bagian dari Revolution and Counter-revolution in Germany (1896),kumpulan artikel-artikel koran yang aslinya diterbitkan pada 1852 dengan namaMarx tapi terutama ditulis oleh Engels: “[Posisi] defensif adalah kematian setiappemberontakan bersenjata; pemberontakan itu kalah sebelum ia mengukur dirinyadengan musuh-musuhnya. Kejutkan musuh-musuhmu ketika kekuatan merekamasih tercerai-berai, siapkan sukses-sukses baru, betapapun kecilnya, tapi setiap hari;pertahankan peningkatan moral yang diberikan oleh keberhasilan pemberontakan

pertama padamu; galang elemen-elemen yang ragu dan goyah itu ke sisimu yangselalu mengikuti letupan terkuat, dan yang selalu mencari sisi lebih aman; paksamusuh-musuhmu ke posisi mundur sebelum mereka mampu mengumpulkankekuatan mereka untuk melawanmu.” (www.marxist.org/archive/marx/works/1852/germany/ch17.htm) Supardjo mungkin tidak membaca teks ini; dalam kumpulan

karya Marx dan Engels teks ini kurang dikenal. Supardjo mungkin membaca esaiLenin “Advice of an Onlooker” (yang ditulis pada 21 Oktober 1917), yang mengomentaribagian teks di atas. Karya-karya Lenin lebih jamak dibaca pada masasebelum 1965 di Indonesia. Tak bisa diragukan karena karya-karya Lenin lebihmudah dipahami dan lebih relevan bagi suatu partai komunis yang begitu disibukkandengan berstrategi politik dari hari ke hari.

13 Kodam Siliwangi di Jawa Barat terkenal oleh anti-komunismenya; pasukanpasukannyadigunakan oleh kepemimpinan nasionalis untuk menjerang PKI diJawa Timur pada 1948. Jenderal Nasution berasal dari Kodam Siliwangi.

14 Pernyataan ini tampaknya merupakan kritik terhadap pengumuman radio dariG-30-S yang mendemisionerkan kabinet Sukarno.

15 Saya tidak tahu Supardjo mengacu ke brigade yang mana. Pranoto adalah asistenYani untuk personalia dan tidak membawahi pasukan langsung.

16 Identitas Kawan Endang tak diketahui.

17 Penggunaan kata unsur-unsur untuk mengacu pada “perwira-perwira demokrasirevolusioner“ adalah suatu keanehan yang tidak bisa saya jelaskan.

18 Batalyon dari Jawa Tengah harus mengacu ke Batalyon 454, yang mendudukiLapangan Merdeka pada pagi hari dan kemudian meninggalkan posisi itu di sorehari setelah menerima perintah Suharto untuk menyerah. Namun aneh bahwaSupardjo tidak menyalahkan para perwira dari Batalyon 530 dari Jawa Timur jugayang menjerah ke Kostrad. Paling tidak ketika pasukan-pasukan Batalyon 454meninggalkan Lapangan Merdeka, mereka menghindar untuk masuk Kostrad.Mereka melarikan diri ke Halim.

19 Surjosumpeno adalah Pangdam Diponegoro. Para perwira Gerakan 30 Septembermengambil alih markas kodam di Semarang pada 1 Oktober dan menahannya.

Anderson dan McVey mencatat bahwa “Surjosumpeno berhasil mengecoh perwiraperwiramuda yang mudah terkesan untuk meninggalkan dia sendiri cukup lamasehingga memungkinkan dia melarikan diri.” (Preliminary Analysis, 46) Supardjomengacu ke insiden ini ketika mengkritik ketidakmampuan perwira-perwira junior

 

343

DALIH PEMBUNUHAN MASSAL: GERAKAN 30 SEPTEMBER DAN KUDETA SUHARTO

untuk menentang atasan-atasan mereka.

20 Saya belum berhasil menemukan sumber kutipan ini.

21 Tampaknya ada kata “tidak” sebelum kata “membesar2-kan” yang tak tertulisentah oleh Supardjo sendiri atau oleh pengetik salinan dokumen ini.

23 Terjemahan Fic atas dokumen ini menyebut jumlah batalyon adalah tigabelas.

Dokumen versi saya jelas-jelas menunjukkan delapanbelas

Iklan

 Apa Kata Brigadir Jenderal Supardjo Tentang “G30S”(1)

 

suparjo 

Catatan Pengantar

Dokumen ini merupakan bagian dari berkas rekaman persidangan

Mahmilub untuk Supardjo pada 1967. Petugas-petugas militer memperoleh

salinan dari dokumen asli mungkin ketika mereka menangkap

Supardjo pada Januari 1967 atau ketika mereka menyita dokumendokumen

yang diselundupkan ke dalam penjara. Anggota staf Mahmilub

menyalin dari aslinya dengan mengetik. Satu orang yang membaca

dokumen asli pada akhir 1960-an saat berada di dalam penjara bersama

Supardjo adalah Heru Atmodjo. Ia menegaskan bahwa salinan yang saya

perlihatkan kepadanya sama dengan yang pernah ia baca. Ketika saya

memperlihatkan salinan yang sama kepada salah satu putra Supardjo,

Sugiarto, ia mengenali gaya penulisan ayahnya dan argumen-argumen

yang dikemukakan ayahnya kepada keluarganya secara lisan.

Pengetik di Mahmilub kemungkinan sudah membuat kesalahankesalahan

dalam proses penyalinan. Ia juga mungkin memberi

terjemahan bahasa Indonesia dalam tanda kurung biasa untuk istilah324

LAMPIRAN-LAMPIRAN

istilah Belanda. Semua komentar dalam tanda kurung siku dari saya.

Motto: Dalam kalah terkandung unsur2 menang!

(Falsafah “Satu petjah djadi dua.”)

Kawan pimpinan,

Kami berada di “Gerakan 30 September” selama satu hari

sebelum peristiwa, “pada waktu peristiwa berlangsung” dan “satu hari

setelah peristiwa berlangsung.”1 Dibanding dengan seluruh persiapan,

waktu jang kami alami adalah sangat sedikit. Walaupun jang kami

ketahui adalah hanja pengalaman selama tiga hari sadja, namun adalah

pengalaman saat2 jang sangat menentukan. Saat2 dimana bedil mulai

berbitjara dan persoalan2 militer dapat menentukan kalah menangnja

aksi2 selandjutnja. Dengan ini kami sampaikan beberapa pendapat,

dipandang dari sudut militer tentang kekeliruan2 jang telah dilakukan,

guna melengkapi bahan2 analisa setjara menjeluruh oleh pimpinan

dalam rangka menelaah peristiwa “G-30-S.”2

Tjara menguraikannja mula2 kami utarakan fakta2 peristiwa

jang kami lihat dan alami, kemudian kami sampaikan pendapat kami

atas fakta2 tersebut.

Fakta2 pada malam pertama sebelum aksi dimulai:

  1. Kami djumpai kawan2 kelompok pimpinan militer pada malam

sebelum aksi dimulai, dalam keadaan sangat letih disebabkan kurang

tidur. Misalnja: kawan Untung tiga hari ber-turut2 mengikuti rapat2

Bung Karno di Senajan dalam tugas pengamanan.3

  1. Waktu laporan2 masuk, tentang pasukan sendiri dari daerah2,

misalnja Bandung, ternjata mereka terpaksa melaporkan siap,

sedangkan keadaan jang sebenarnja belum.

  1. Karena tidak ada uraian jang jelas bagaimana aksi itu akan

dilaksanakan maka terdapat kurang kemufakatan tentang gerakan

itu sendiri dikalangan kawan2 perwira di dalam Angkatan Darat.

Sampai ada seorang kawan perwira jang telah ditetapkan duduk dalam

team pimpinan pada saat jang menentukan menjatakan terang2-an

325

 DALIH PEMBUNUHAN MASSAL: GERAKAN 30 SEPTEMBER DAN KUDETA SUHARTO

mengundurkan diri.4

  1. Waktu diteliti kembali ternjata kekuatan jang positip di fi hak kita

hanja satu kompi dari Tjakrabirawa. Pada waktu itu telah timbul keragu2-

an, tetapi ditutup dengan sembojan “apa boleh buat, kita tidak

bisa mundur lagi.”

  1. Dengan adanja kawan perwira jang mengundurkan diri, maka

terasa adanja prasangka dari team pimpinan terhadap kawan lain di

dalam kelompok itu. Saran2 dan pertanjaan2 dihubungkan dengan

pengertian tidak kemantapan dari si penanja. Misalnja, bila ada jang

menanjakan bagaimana imbangan kekuatan, maka didjawab dengan

nada jang menekan: “ja, Bung, kalau mau revolusi banjak jang

mundur, tetapi kalau sudah menang, banjak jang mau ikut.” Utjapan2

lain: “kita ber-revolusi pung-pung5 kita masih muda, kalau sudah tua

buat apa.”

  1. Atjara persiapan di L.B. [Lubang Buaya] kelihatan sangat padat,

sampai djauh malam masih belum selesai, mengenai penentuan code2

jang berhubungan dengan pelaksanaan aksi. Penentuan dari peleton2

jang harus menghadapi tiap2 sasaran, tidak dilakukan dengan

teliti. Misalnja, terdjadi bahwa sasaran utama mula2 diserahkan

pelaksanaannja kepada peleton dari pemuda2 jang baru sadja

memegang bedil, kemudian diganti dengan peleton lain dari tentara,

tetapi ini pun bukan pasukan jang setjara mental telah dipersiapkan

untuk tugas-tugas chusus.6

Fakta2 pada hari pelaksanaan:

  1. Berita pertama jang masuk bahwa Djenderal Nasution telah

disergap, tetapi lari. Kemudian team pimpinan kelihatan agak bingung

dan tidak memberikan perintah2 selandjutnja.

  1. Menjusul berita bahwa Djenderal Nasution bergabung dengan

Djenderal Suharto dan Djenderal Umar di Kostrad. Setelah menerima

berita ini pun, pimpinan operasi tidak menarik kesimpulan apa2.

326

LAMPIRAN-LAMPIRAN

  1. Masuk berita lagi bahwa pasukan sendiri dari Jon Djateng dan Jon

Djatim tidak mendapat makanan, kemudian menjusul berita bahwa

Jon Djatim minta makan ke Kostrad. Pendjagaan RRI ditinggalkan

tanpa adanja instruksi.

  1. Menurut rentjana, kota Djakarta dibagi dalam tiga sektor, Selatan,

Tengah dan sektor Utara. Tetapi waktu sektor2 itu dihubungi, semuasemua

tidak ada di tempat (bersembunji).

  1. Suasana kota mendjadi sepi dan lawan selama 12 djam dalam

keadaan panik.

  1. Djam 19.00 (malam kedua). Djenderal Nasution-Harto dan

Umar membentuk suatu komando. Mereka sudah memperlihatkan

tanda2 untuk tegenaanval [serangan balik] pada esok harinja.

  1. Mendengar berita ini Laksamana Omar Dani mengusulkan

kepada Kw. Untung agar AURI dan pasukan “G-30-S” diintegrasikan

untuk menghadapi tegenaanval Nato cs (Nasution-Harto).7 Tetapi

tidak didjawab setjara kongkrit. Dalam team pimpinan G-30-S, tidak

memiliki off ensi-geest [semangat menyerang] lagi.8

  1. Kemudian timbul persoalan ketiga. Ja, ini dengan hadirnja Bung

Karno di Lapangan Halim. Bung Karno kemudian melantjarkan

kegiatan sbb:

  1. a) Memberhentikan gerakan pada kedua belah pihak (dengan

keterangan bila perang saudara berkobar, maka jang untung

Nekolim).

  1. b) Memanggil Kabinet dan Menteri2 Angkatan.9 Nasution-

Harto dan Umar menolak panggilan tersebut. Djenderal Pranoto

dilarang oleh Nasution untuk memenuhi panggilan Bung

Karno.10

  1. c) Menetapkan caretaker bagi pimpinan A.D.

327

DALIH PEMBUNUHAN MASSAL: GERAKAN 30 SEPTEMBER DAN KUDETA SUHARTO

Hari kedua:

  1. Kawan2 pimpinan dari “G-30-S” kumpul di L.B. Kesatuan

RPKAD mulai masuk menjerang, keadaan mulai “wanordelik

[wanordelijk] (katjau). Pasukan2 pemuda belum biasa menghadapi

praktek perang jang sesungguhnja. Pada moment jang gawat itu, sadja

mengusulkan agar semua pimpinan sadja pegang nanti bila situasi

telah bisa diatasi, sadja akan kembalikan lagi. Tidak ada djawaban jang

kongkrit.

  1. Kemudian diadakan rapat, diputuskan untuk memberhentikan

perlawanan masing2 bubar, kembali ke rumahnja, sambil menunggu

situasi. Bataljon Djateng dan sisa Bataljon Djatim jang masih ada akan

diusahakan untuk kembali ke daerah asalnja.

  1. Hari itu djuga keluar perintah dari Bung Karno agar pasukan

berada di tempatnja masing2 dan akan diadakan perundingan. Tetapi

fi hak Nato tidak menghiraukan dan menggunakan kesempatan itu

untuk terus mengobrak-abrik pasukan kita dan bahkan P.K.I.

Demikianlah fakta2 jang kami saksikan sendiri dan dari fakta2

ini tiap2 orang akan dapat menarik peladjaran atau kesimpulan jang

berbeda-beda.

Adapun kesimpulan jang dapat kami tarik adalah sbb:

  1. Keletihan dari kawan2 team pimpinan jang memimpin aksi di

bidang militer sangat mempengaruhi semangat operasi, keletihan ini

mempengaruhi kegiatan2 pengomandoan pada saat2 jang terpenting

di mana dibutuhkan keputusan2 jang tjepat dan menentukan dari

padanja.

  1. Waktu info2 masuk dari daerah2, sebetulnja daerah belum dalam

keadaan siap sedia. Hal ini terbukti kemudian bahwa masih banjak

penghubung2 belum sampai di daerah2 jang ditudju dan peristiwa

sudah meletus (kurir jang ke Palembang baru sampai di Tandjung

Karang). Di Bandung siap sepenuhnja tapi untuk tidak repot2

menghadapi pertanjaan2 didjawab sadja “sudah beres.”

328

LAMPIRAN-LAMPIRAN

  1. Rentjana operasinja ternjata tidak djelas. Terlalu dangkal. Titik berat

hanja pada pengambilan 7 Djenderal sadja. Bagaimana kemudian

bila berhasil, tidak djelas, atau bagaimana kalau gagal djuga tidak

djelas. Dan apa rentjananja bila ada tegenaanval, misalnja dari

Bandung, bahkan tjukup dengan djawaban: “sudah, djangan pikir2

mundur!” Menurut lazimnja dalam operasi2 militer, maka kita sudah

memikirkan pengunduran waktu kita madju dan menang, dan sudah

memikirkan gerakan madju menjerang waktu kita dipukul mundur.

Hal demikian, maksud kami persoalan mundur dalam peperangan

bukanlah persoalan hina, tetapi adalah prosedur biasa pada setiap

peperangan atau kampanje. Mundur bukan berarti kalah, adalah suatu

bentuk dalam peperangan jang dapat berubah menjadi penjerangan

dari kemenangan. Membubarkan pasukan adalah menjerah kalah.

Hal ini pula jang menjebabkan beberapa kawan militer

mengundurkan diri, selain kawan tsb di hinggapi unsur ragu2,

tetapi bisa ditutup bila ada rentjana jang djelas dan mejakinkan atas

djalannja kemenangan.

  1. Waktu dihitung2 kembali kekuatan jang bisa diandalkan hanja satu

kompi dari Tjakrabirawa, satu bataljon diperkirakan dari Djateng

dapat digunakan dan satu bataljon dari Djatim bisa digunakan

sebagai fi guran. Ditambah lagi dengan seribu lima ratus pemuda jang

dipersendjatai. Waktu diajukan pendapat, apakah kekuatan jang ada

dapat mengimbangi, maka djawaban dengan nada menekan, bahwa

bila mau revolusi sedikit jang turut, tetapi kalau revolusi berhasil

tjoba lihat nanti banjak jang turut. Ada pula pendjelasan jang sifatnja

bukan tehnis, misalnja, “kita masih muda, kalau sudah tua, bakal

apa revolusi.” Kembali lagi mengenai masalah kekuatan kita, tjukup

mempunjai kekuatan di Angkatan Darat jang tjukup tangguh.

Dipandang dari segi tehnis militer, maka serangan pokok, dimana

komandan operasi tertinggi sendiri memimpin, harus memusatkan

kekuatannja pada sasaran jang menentukan. Saja berpendapat bahwa

strategi kawan pimpinan adalah strategi “menjumet sumbu petasan”

di Ibu kota, dan diharapkan mertjonnja akan meledak dengan

sendirinja, jang berupa pemberontakan Rakjat dan perlawanan di

daerah2 setelah mendengar isjarat tersebut. Disini terdapat sesuatu

329

DALIH PEMBUNUHAN MASSAL: GERAKAN 30 SEPTEMBER DAN KUDETA SUHARTO

kekeliruan: pertama: Tidak memusatkan induk kekuatan pada sasaran

pokok. Kedua: Tidak bekerdja dengan perhitungan kekuatan jang

sudah kongkrit.

  1. Kami dan kawan2 di Staf melakukan kesalahan sebagai

berikut: Menilai kemampuan kawan pimpinan operasi terlalu tinggi.

Meskipun fakta2 njata tidak logis. Tetapi percaya bahwa pimpinan

pasti mempunjai perhitungan jang ulung, jang akan dikeluarkan

pada waktunja. Sesuatu keajaiban pasti akan diperlihatkan nanti,

sebab pimpinan operasi selalu bersembojan “Sudah kita mulai sadja,

dan selandjutnja nanti djalan sendiri.” Kami sendiri mempunjai

kejakinan akan hal ini, karena terbukti operasi2 jang dipimpin oleh

partai sekawan, seperti kawan Mao Tzetung jang dimulai dengan satu

regu, kemudian kita menumbangkan kekuatan Tjiang Kai Sek jang

djumlahnja ratusan ribu. Setelah peristiwa jang pahit ini, maka kita

sekalian perlu kritis dan bekerdja dengan perhitungan2 jang kongkrit.

Apa jang kami lihat di Lobang Buaja, sebetulnja taraf mempersiapkan

diri sadja belum selesai. Pada malam terachir bematjam2 hal jang

penting belum terselesaikan, umpama: Pasukan jang seharusnja

datang, belum djuga hadir (dari AURI). Ketentuan atau petundjuk2

masih dipersiapkan. Peluru2 di peti2 belum dibuka dan dibagikan.

Dalam hal ini kelihatan tidak ada pembagian pekerdjaan, semua

tergantung dari Pak Djojo.11 Kalau Pak Djojo belum datang,

semua belum berdjalan. Dan kalau Pak Djojo datang, waktu sudah

mendesak.

Ketika masuk berita bahwa Nasution tidak kena dan melarikan

diri, kelompok pimpinan mendjadi terperandjat, kehilangan akal

dan tidak berbuat apa2. Meskipun ada advis untuk segera melakukan

off ensip lagi, hanja didjawab: “Ja”, tetapi tidak ada pelaksanaannja.

Selama 12 djam, djadi satu siang penuh, musuh dalam keadaan panik.

Tentara2 dikota diliputi suasana tanda tanja, dan tidak sedikit jang

kebingungan. (Waktu ini kami di istana, djadi melihat sendiri keadaan

di kota.)

Disini kami mentjatat suatu kesalahan jang fundamentil jang

pernah terdjadi dalam suatu operasi (kampanje), jani: “Tidak uitbuiten

[memanfaatkan] sesuatu sukses” (prosedur biasa dalam melaksanakan

330

LAMPIRAN-LAMPIRAN

prinsip2 pertempuran jang harus dilakukan oleh tiap2 komandan

pertempuran). Prinsip tersebut diatas, sebetulnja bersumber dari

adjaran Marx jang mengatakan: “Bahwa setelah terdjadi suatu

pemberontakan, tidak boleh ada sesaat pun dimana serangan terhenti.

Ini berarti bahwa massa jang turut dalam pemberontakan dan

mengalahkan musuh dengan mendadak, tidak boleh memberikan

suatu kesempatan pun kepada kelas jang berkuasa untuk mengatur

kembali kekuasaan politiknja. Mereka harus menggunakan saat jang

itu sepenuhnja, untuk mengachiri kekuasaan rezim dalam negeri.”12

Kami berpendapat, bahwa sebab dari semua kesalahan ini karena

staf pimpinan dibagi 3 sjaf: a) Kelompok Ketua, b) Kelompok Sjam

cs, c) Kelompok Untung cs. Seharusnja operasi berada di satu tangan.

Karena jang menondjol pada ketika itu adalah gerakan militer, maka

sebaiknja komando pertempuran diserahkan sadja kepada kawan

Untung dan kawan Sjam bertindak sebagai Komisaris politik. Atau

sebaliknja, kawan Sjam memegang komando tunggal sepenuhnja.

Dengan sistim komando dibagi ber-syaf2, maka ternjata pula terlalu

banjak diskusi2 jang memakan waktu sangat lama sedangkan pada

moment tsb. dibutuhkan pengambilan keputusan jang tjepat, karena

persoalan setiap menit ber-ganti2, susul-menjusul dan tiap2 taraf

persoalan harus satu persatu setjepat mungkin ditanggulangi.

[tidak ada poin enam]

  1. Setiap penjelenggaraan perang, seharusnja djauh sebelumnja

mempunjai “Picture of the Battle” (Gambaran Perang). Apa jang

mungkin terdjadi setelah peristiwa penjergapan, bagaimana situasi

lawan pada setiap saat dan setiap taraf pertempuran, bagaimana situasi

pasukan sendiri, bagaimana situasi pasukan di Djakarta, bagaimana

situasi di Bandung (ingat pusat Siliwangi13), bagaimana situasi di

Djateng dan Djatim, dan bagaimana situasi diseluruh pelosok tanah

air (dapat diikuti via radio). Dengan berbuat demikian, maka kita bisa

melihat posisi taktis di Djakarta dalam hubungannja dengan strategi

jang luas. Dan sebaliknja, perhubungan strategi jang menguntungkan

atau merugikan dapat tjepat2 kita mengubah taktik kita di medan

pertempuran.

331

DALIH PEMBUNUHAN MASSAL: GERAKAN 30 SEPTEMBER DAN KUDETA SUHARTO

Pada waktu musuh panik seharusnja tidak usah diberi waktu.

Kita harus masuk menjempurnakan kemenangan kita. Dalam keadaan

demikian musuh dalam keadaan serba salah dan kita dalam keadaan

serba benar. Satu bataljon jang panik akan dapat dikuasai oleh hanja

kekuatan satu regu sadja. Tetapi hal jang menguntungkan ini tidak

kita manfaatkan. Bahkan kita berlaku sebaliknja:

1) Komandan Sektor (Selatan/Tengah/Utara) dalam keadaan

dimana kita sedang djaya, malah pada menghilang. Mereka

bertugas di antaranja mengurus soal2 administrasi, terhadap

pasukan jang beroperasi dan berada di masing2 sektornja.

Tetapi semua sektor seperti jang telah ditetapkan, hanja tinggal

di atas kertas sadja. Dari sini kita menarik peladjaran dengan

tidak adanja kontak antara satu sama lain (faktor verbindingkomunikasi),

maka masing2 mendjadi terdjerumus dalam

kedudukan terasing, sehingga buta situasi dan menimbulkan

ketakutan.

2) Siaran radio RRI jang telah kita kuasai tidak kita manfaatkan.

Sepandjang hari hanja dipergunakan untuk membatjakan

beberapa pengumuman sadja. Radio stasion adalah alat

penghubung (mass media). Seharusnja digunakan semaksimal

mungkin oleh barisan Agitasi Propaganda. Bila dilakukan,

keampuhannja dapat disamakan dengan puluhan Divisi tentara.

(Dalam hal ini lawan telah sukses dalam perang radio dan pers.)

3). Pada djam2 pertama Nato cs menjusun komando kembali.

Posisi jang sedemikian ialah posisi jang sangat lemah. Saat itu

seharusnja pimpinan operasi musuh disergap tanpa chawatir

resiko apa2 bagi pasukan kita.

  1. Semua kematjetan gerakan pasukan disebabkan diantaranja tidak

makan. Mereka tidak makan semendjak pagi, siang dan malam,

hal ini baru diketahui pada malam hari ketika ada gagasan untuk

dikerahkan menjerbu kedalam kota. Pada waktu itu Bataljon Djateng

berada di Halim. Bataljon dari Djatim sudah ditarik ke Kostrad

332

LAMPIRAN-LAMPIRAN

dengan alasan makanan. Sebetulnja ada 2 djalan jang bisa ditempuh,

pertama: Komandan Bataljon diberi wewenang untuk merektuir

makanan di tempat2 dimana ia berada. Hubungan dengan penduduk

atau mengambil inisiatip membuka gudang2 makanan, separo bisa

dimakan dan selebihnja diberikan kepada Rakjat jang membantu

memasaknja. Dengan demikian ada timbal balik dan tjukup simpatik

dan dapat dipertanggung djawabkan. Djalan kedua: Organisasi sektor

seharusnja menjelenggarakan hal tsb.

  1. Setelah menerima berita bahwa Djenderal Harto menjiapkan

tegenaanval dan Laksamana Omar Dani menawarkan integrasi untuk

melawan pada waktu itu, harus disambut baik. Dengan menerima

itu maka seluruh kekuatan AURI di seluruh tanah air, akan turut

serta. Tetapi karena tidak ada kepertjajaan, bahwa kemenangan

harus ditempuh dengan darah, maka tawaran jang sedemikian

pentingnja tidak mendapat djawaban jang positip. Pak Omar Dani

telah bertindak begitu djauh sehingga telah memerintahkan untuk

memasang roket2 pada pesawat.

  1. Faktor2 lain jang menjebabkan kematjetan, terletak pada tiada

pembagian kerdja. Bila kita ikuti sadja prosedur staf jang lazim

digunakan pada tiap2 kesatuan militer, maka semua kesimpang siuran

dapat diatasi. Seharusnja dilakukan tjara bekerdja sbb: Pertama,

perlu ditentukan siapa komandan jang langsung memimpin aksi

(kampanje). Kawan Sjam-kah atau kawan Untung. Kemudian

pembantu2nja atau stafnja dibagi. Seorang ditunjuk bertanggung

djawab terhadap pekerdjaan intel (penjelidikan/informasi). Jang

kedua, ditundjuk dan bertanggung djawab terhadap persoalan

situasi pasukan lawan maupun pasukan sendiri. Dimana, bagaimana

bergeraknja pasukan lawan, bila demikian, apakah advisnja tentang

pasukan sendiri kepada komandan. Kawan jang ketiga ditundjuk

untuk bertanggung djawab terhadap segala sesuatu jang berhubungan

dengan perorangan (personil). Apakah ada jang luka atau gugur,

apakah ada pasukan jang absen, apakah ada anggauta jang morilnja

merosot. Djuga personil lawan mendjadi persoalannja umpama:

soal tawanan, pemeliharaanja, pengamannja dan dsb. Kemudian

333

DALIH PEMBUNUHAN MASSAL: GERAKAN 30 SEPTEMBER DAN KUDETA SUHARTO

kepada kawan jang keempat, ditugaskan untuk memikirkan hal2

jang ada sangkut pautnja dan logistik, pembagian sendjata dan

munisi, pakaian, makanan, kendaraan dsb. Karena menang kalahnja

pertempuran pada dewasa ini tergantung djuga pada peranan bantuan

Rakjat, maka ditundjuk kawan jang kelima, untuk tugas seperti

tersebut di atas. Djadi singkatnja, komandan dibantu oleh staf-1,

staf-2, staf-3, staf-4, staf-5. Komandan, bila terlalu sibuk, ia bisa

menundjuk seorang wakilnja. Selandjutnja tjara bekerdjanja staf, saja

rasa tidak ada bedanja dengan prinsip2 pekerdjaan partai, berlaku

djuga prinsip sentralisme demokrasi. Staf memberikan pandangan2-

nja dan komandan mendengarkan, mengolahnja di dalam fi kiran dan

kemudian menentukan. Berdasarkan keputusan ini staf memberikan

directive [perintah] untuk melaksana oleh echelon2 bawahan. Dengan

tjara demikian maka seorang komandan terhindar dari pemikiran

jang subjektif. Tetapi djuga terhindar dari suasana jang liberal. Apa

jang terdjadi pada waktu itu adalah suatu debat, atau diskusi jang

langdradig (tak berudjungpangkal), sehingga kita bingung melihatnja,

siapa sebetulnja komandan: kawan Sjamkah, kawan Untungkah,

kawan Latifkah atau Pak Djojo? Mengenai hal ini perlu ada

penindjauan jang lebih mendalam karena letak kegagalan kampanje

di ibu kota sebagian besar karena tidak ada pembagian komandan dan

kerdja jang wajar.

  1. Adalah hal jang remeh, tetapi hal ini perlu mendapat

perhatian. Umpamanja, tjara2 diskusi terutama jang banjak

dilakukan oleh kawan Latif. Tidak mendahulukan soal2 jang lebih

pokok untuk dipetjahkan terlebih dahulu. Soal2 jang masih bisa

ditunda dibitjarakan kemudian. Di waktu mulut meriam diarahkan

kepada kita, maka jang urgen adalah bagaimana tindakan kita untuk

membungkam meriam tsb, bukan membitjarakan soal2 lain jang

sebetulnja bisa dibitjarakan kemudian.

  1. Dengan kehadirannja Bung Karno di Halim, maka persoalan

telah mendjadi lain. Pada waktu itu, kita harus tjepat dalam silat

politik. Harus tjepat menentukan titik berat strategi kita. Apakah kita

berdjalan sendiri, apakah kita berdjalan dengan Bung Karno. Kalau

334

LAMPIRAN-LAMPIRAN

kita merasa mampu, segera tentukan garis djalan sendiri. Kalau kita

menurut perhitungan, tidak mampu untuk memenangkan revolusi

sendirian, maka harus tjepat pula merangkul Bung Karno, untuk

bersama2 menghantjurkan kekuatan lawan. Menurut pendapat saya

pada saat2 itu situasi telah berubah dengan keterangan sbb:

1) Bung Karno: a. Memanggil kabinet dan para Menteri Angkatan.

  1. Mengeluarkan surat perintah, kedua fi hak agar

tidak bertempur.

  1. Memegang sementara pimpinan A.D. dan

menundjuk seorang caretaker untuk pekerjaan intern

A.D.

2) Omar Dani: Tidak mau kalau harus berhadapan dengan Bung

Karno, dan sarannja supaya bersama-sama dengan

Bung Karno melanjutkan revolusi.

3) Ibrahim Adji: Mengeluarkan pernjataan, bila terdjadi apa2 terhadap

Bung Karno, maka Siliwangi akan bergerak ke

Djakarta.

4) M. Sabur: Menilpun RPKAD untuk siap sewaktu2 Bung Karno

dalam bahaya.

5) NATO cs: Menolak panggilan Bung Karno untuk hadir di

Halim.

6) G-30-S: Kawan Sjam tetap revolusi harus djalan sendiri tanpa

Bung Karno. Keadaan Jon Djateng sudah letih dan

belum selesai memetjahkan soal bagaimana makan.

Keadaan pimpinan dalam keadaan bimbang.

7) “Daerah”: Baru Nusatenggara jang memberikan reaksi, Bandung

sepi, Djateng sepi, djuga Djatim sepi.

Massa di Djakarta sepi. Daerah2 di seluruh kepulauan

Indonesia, pada waktu itu tidak terdengar tjetusan2

imbangan.

bersambung…………….