images_112

 339

DALIH PEMBUNUHAN MASSAL: GERAKAN 30 SEPTEMBER DAN KUDETA SUHARTO

[cengkeraman] terhadap TNI jang ada di kota. Suasana di mana2

belum mengutuk G-30-S. Dalam tiap2 perang revolusioner,

seorang pemimpin harus sanggup membangkitkan di kalangan

pengikutnja:

  1. Djiwa kepahlawanan.
  2. Kebulatan pikiran dan tekad.
  3. Semangat berkorban.
  4. Ada hal jang perlu dipelajari setjara mendalam. Kawan2

jang selama ini hidup di organisasi tentara bordjuis, sangat

sulit dan mirip tidak sampai hati untuk mendahului teman2

seangkatannja. Hal ini terdjadi djuga pada bataljon jang berasal

dari Djateng,18 dan djuga pada peristiwa jang kami dengar

kemudian, waktu menghadapi Pangdam Surjosumpeno.19

Mungkin letaknja pada kelemahan pandangan ideologi,

kelemahan dalam pandangan kelas. Adjaran Marxisme-

Leninisme bahwa “Kalau tidak mereka jang kita basmi, maka

merekalah jang akan membasmi kita.”20 Belum meresap, dan

belum mendjadi keyakinan kawan2 di ABRI pada umumnja.

Dari pengalaman ini maka pendidikan ideologi dan kesadaran

pandangan kelas perlu mendjadi program Partai.

  1. Strategi jang dianut dalam gerakan keseluruhan adalah

sematjam strategi: “Bakar Petasan.” Tjukup sumbunja dibakar

di Djakarta dan selandjutnja mengharap dengan sendirinja

bahwa meretjonnja akan meledak di daerah2. Ternjata tjara

ini tidak berhasil. Ada dua sebab: mungkin sumbunja kurang

lama membakar atau mesiu jang ada dalam tubuh meretjon itu

sendiri dalam keadaan masih basah, kami hubungkan ini dengan

pekerdjaan2 di waktu jang lampau, tjara2 menarik kesimpulan

tentang kawan2 jang di ABRI dan massa adalah subjektif. Dari

pengalaman ini kita harus bikin kebiasaan membesar2-kan

situasi jang sebenarnja.21 Biasanja kalau ada 10 orang sadja

dalam satu peleton jang sudah dapat kita hubungi, dilaporkan

bahwa seluruh peletonnja sudah kita (kawan). Kalau ada seorang

Dan Jon jang kita hubungi, maka ada kemungkinan bahwa

340

LAMPIRAN-LAMPIRAN

seluruh Bataljon itu sudah kawan. Kekeliruan strategi G-30-S

itu disebabkan djuga banjak kawan2 dari ABRI maupun dari

daerah2 jang melaporkan bahwa massa sudah tidak dapat

ditahan lagi. Bila pimpinan tidak mengambil sikap, maka rakjat

akan 22 djalan sendiri (ber-revolusi). Mengikuti suara2 jang

belum diperiksa kebenarannja berarti kita kena “agitasi” massa,

sama halnja tidak mendjalankan “garis mangsa setjara tepat.”

  1. Melihat kemampuan dan kebesaran organisasi Partai di waktu2

jang lalu maka asalkan sadja kita taktis menggerakannja, kami

rasa PKI tidak perlu kalah. Saja ibaratkan seorang pemasak

jang mempunjai bumbu, sayur2 jang serba tjukup, tetapi kalau

tidak pandai menilai temperatur dari panasnja minjak, besarnja

api, bilamana bumbu2 itu ditjemplungkan dan mana jang

didahulukan dimasak maka masakan itu pun tidak akan enak,

satu tjontoh misalnja. Kami membawahi 18 Bataljon,23 3 di

antaranja bisa dikerahkan untuk tugas2 revolusi, dan sudah

dipersiapkan lengkap dengan pesawat angkutan Hercules

berkat solidaritas dari kawan2 perwira di AD, jang mempunjai

kedudukan komando, tetapi semua ini tidak dimanfaatkan,

sehingga bukan kita jang menghantjurkan lawan “satu demi

satu”, tetapi sebaliknja kita jang di hantjurkan setjara “satu demi

satu.”

Sekian,

 

CATATAN

1 Saya tidak tahu mengapa frasa ini diberi tanda petik ganda.

2 Dari keseluruhan dokumen, cukup jelas bahwa yang dimaksud Supardjo adalah  pimpinan PKI. Ada kemungkinan bahwa Supardjo menyerahkan analisis ini kepadaSudisman, pimpinan Politbiro yang tersisa, yang sedang mempersiapkan otokritikterhadap partai pada pertengahan 1966.

3 Pada 30 September 1965 malam Presiden Sukarno menghadiri upacara penutupan

 

341

DALIH PEMBUNUHAN MASSAL: GERAKAN 30 SEPTEMBER DAN KUDETA SUHARTO

6-Soeharto 22-2-1967 -21-5-1998

Konferensi Nasional Ahli Teknikdi stadion Senayan. Letnan Kolonel Untung

menjadi bagian pengamanan untuk kehadiran Sukarno di dalam acara ini.

4 Perwira ini boleh jadi Mayor Bambang Supeno, komandan Batalyon 530 JawaTimur. Dalam laporan interogasinya (yang ditulis oleh tim intelijen AngkatanDarat), Supardjo diduga mengatakan (ini laporan interogasi yang harus dibacadengan skeptisisme) Sjam memberitahu dia pada 1 Oktober pagi bahwa MayorSupeno “masih diragukan.” (Departemen Angkatan Darat Team Optis-Perpu-Intel,“Laporan Interogasi Supardjo di RTM,” 19 Januari 1967, 4; dokumen ini termaktubdalam berkas rekaman persidangan Mahmilub untuk Supardjo.) Pasukan-pasukanMayor Supeno merupakan yang pertama mundur; mereka menyerahkan diri keKostrad pada sore hari 1 Oktober meski Mayor Supeno sendiri tinggal dipangkalan

Halim dengan anggota komplotan yang lain sampai dini hari 2 Oktober. MayorSupeno menjemput wakil komandan batalyon, Letnan Ngadimo, di istana padasekitar pukul 14.00 saat pasukan-pasukannya mulai menyerah, dan membawanyake Halim, menurut kesaksian Letnan Ngadimo di persidangan Untung. KomandanBatalyon 454, sebaliknya, berusaha mempertahankan pasukan-pasukannya diLapangan Merdeka; ketika ia akhirnya meninggalkan posisi tersebut, ia membawasebagian besar anak buahnya ke Halim.

5 Istilah pung-pung tampaknya salah ketik. Seharusnya mumpung.

6 Sasaran utama kemungkinan adalah Jenderal Nasution. Pasukan-pasukan yangdikirim untuk menculiknya dipimpin oleh seorang prajurit.

7 Nato adalah singkatan cerdas yang dibuat Supardjo untuk Nasution dan

Suharto.

8 Istilah ini merupakan kombinasi kata Indonesia off ensi yang berasal dari kataBelanda off ensief dan kata Belanda geest yang berarti semangat.

9 Para panglima keempat angkatan – Angkatan Udara, Angkatan Laut, AngkatanDarat, Angkatan Kepolisian – adalah menteri-menteri dalam kabinet Sukarno.

10 Suharto, bukan Nasution, yang melarang Pranoto pergi ke Halim.

11 Pak Djojo adalah nama samaran untuk Mayor Soejono dari AURI, komandanpasukan-pasukan yang menjaga pangkalan Halim. Supardjo mungkin menggunakannama samaran dalam dokumen ini karena ia tidak tahu nama Soejono sebenarnja.

Ini kemungkinan yang nyata karena Supardjo baru bergabung dengan komplotanini sehari sebelumnya dan mungkin diperkenalkan kepada anggota-anggota lainnyasaat mereka menggunakan nama-nama sandi. Nama Pak Djojo juga disebut olehNjono, ketua CDB (Comite Daerah Besar) PKI Jakarta, pada pengadilannya diMahmilub. Menurut Njono, Pak Djojo adalah nama samaran seorang perwiramiliter yang mencari sukarelawan PKI untuk dilatih di Lubang Buaya dari Juni sampai September 1965 (G-30-S Dihadapan Mahmillub, Perkara Njono, 53-54,

64-65, 79-82). Heru Atmodjo menegaskan dalam pembicaraan dengan saya bahwaPak Djojo adalah nama alias Mayor Soejono.

12 Supardjo tampaknya menerjemahkan dan menulis ulang (memparafrasakan)

 

342

LAMPIRAN-LAMPIRAN

salah satu bagian dari Revolution and Counter-revolution in Germany (1896),kumpulan artikel-artikel koran yang aslinya diterbitkan pada 1852 dengan namaMarx tapi terutama ditulis oleh Engels: “[Posisi] defensif adalah kematian setiappemberontakan bersenjata; pemberontakan itu kalah sebelum ia mengukur dirinyadengan musuh-musuhnya. Kejutkan musuh-musuhmu ketika kekuatan merekamasih tercerai-berai, siapkan sukses-sukses baru, betapapun kecilnya, tapi setiap hari;pertahankan peningkatan moral yang diberikan oleh keberhasilan pemberontakan

pertama padamu; galang elemen-elemen yang ragu dan goyah itu ke sisimu yangselalu mengikuti letupan terkuat, dan yang selalu mencari sisi lebih aman; paksamusuh-musuhmu ke posisi mundur sebelum mereka mampu mengumpulkankekuatan mereka untuk melawanmu.” (www.marxist.org/archive/marx/works/1852/germany/ch17.htm) Supardjo mungkin tidak membaca teks ini; dalam kumpulan

karya Marx dan Engels teks ini kurang dikenal. Supardjo mungkin membaca esaiLenin “Advice of an Onlooker” (yang ditulis pada 21 Oktober 1917), yang mengomentaribagian teks di atas. Karya-karya Lenin lebih jamak dibaca pada masasebelum 1965 di Indonesia. Tak bisa diragukan karena karya-karya Lenin lebihmudah dipahami dan lebih relevan bagi suatu partai komunis yang begitu disibukkandengan berstrategi politik dari hari ke hari.

13 Kodam Siliwangi di Jawa Barat terkenal oleh anti-komunismenya; pasukanpasukannyadigunakan oleh kepemimpinan nasionalis untuk menjerang PKI diJawa Timur pada 1948. Jenderal Nasution berasal dari Kodam Siliwangi.

14 Pernyataan ini tampaknya merupakan kritik terhadap pengumuman radio dariG-30-S yang mendemisionerkan kabinet Sukarno.

15 Saya tidak tahu Supardjo mengacu ke brigade yang mana. Pranoto adalah asistenYani untuk personalia dan tidak membawahi pasukan langsung.

16 Identitas Kawan Endang tak diketahui.

17 Penggunaan kata unsur-unsur untuk mengacu pada “perwira-perwira demokrasirevolusioner“ adalah suatu keanehan yang tidak bisa saya jelaskan.

18 Batalyon dari Jawa Tengah harus mengacu ke Batalyon 454, yang mendudukiLapangan Merdeka pada pagi hari dan kemudian meninggalkan posisi itu di sorehari setelah menerima perintah Suharto untuk menyerah. Namun aneh bahwaSupardjo tidak menyalahkan para perwira dari Batalyon 530 dari Jawa Timur jugayang menjerah ke Kostrad. Paling tidak ketika pasukan-pasukan Batalyon 454meninggalkan Lapangan Merdeka, mereka menghindar untuk masuk Kostrad.Mereka melarikan diri ke Halim.

19 Surjosumpeno adalah Pangdam Diponegoro. Para perwira Gerakan 30 Septembermengambil alih markas kodam di Semarang pada 1 Oktober dan menahannya.

Anderson dan McVey mencatat bahwa “Surjosumpeno berhasil mengecoh perwiraperwiramuda yang mudah terkesan untuk meninggalkan dia sendiri cukup lamasehingga memungkinkan dia melarikan diri.” (Preliminary Analysis, 46) Supardjomengacu ke insiden ini ketika mengkritik ketidakmampuan perwira-perwira junior

 

343

DALIH PEMBUNUHAN MASSAL: GERAKAN 30 SEPTEMBER DAN KUDETA SUHARTO

untuk menentang atasan-atasan mereka.

20 Saya belum berhasil menemukan sumber kutipan ini.

21 Tampaknya ada kata “tidak” sebelum kata “membesar2-kan” yang tak tertulisentah oleh Supardjo sendiri atau oleh pengetik salinan dokumen ini.

23 Terjemahan Fic atas dokumen ini menyebut jumlah batalyon adalah tigabelas.

Dokumen versi saya jelas-jelas menunjukkan delapanbelas

Iklan