Lokasi Aceh Kabupaten Aceh Singkil.svg

Kenegerian Trumon

merupakan bagian dari salah satu kehulubalangan Kesultanan Aceh di daerah yang sekarang disebut Aceh Selatan.

Bangunan benteng Kuta Batee dibangun ketika Kerajaan Trumon dipimpin atau di bawah pemerintahan Teuku Raja Fansuri Alamsyah yang juga dikenal dengan sebutan Teuku Raja Batak. Dalam masa ini pula, Trumon meraih kejayaannya hingga berhasil mencetak mata uang sendiri sebagai alat tukar yang sah.

Teuku Raja Batak ini merupakan raja ketiga, menggantikan ayahnya bernama Teuku Raja Bujang yang sebelumnya menerima tahta dari kakeknya (ayah Raja Bujang) yaitu Teuku Djakfar selaku pendiri Kerajaan Trumon dan Kerajaan Singkil.

 sejarah:

Bangunan bersejarah

Selain berfungsi sebagai benteng pertahanan ketika diserang musuh (penjajah), benteng ini juga digunakan sebagai kantor pusat pengendalikan pemerintahan oleh raja. Di dalamnya juga terdapat istana raja dan sebuah gudang tempat menyimpan barang-barang penting milik kerajaan.

Luas bangunannya sekitar 60 x 60 meter dengan tinggi sekira empat meter. Sedangkan tebal dindingnya mencapai satu meter dengan tiga lapisan. Dinding bagian luar terbuat dari batu bata, kemudian pasir setebal tiga puluh sentimeter dan dinding bagian dalam terbuat dari batu bata tanah liat.

Di sekeliling benteng terdapat balai sidang. Balai ini biasanya digunakan untuk kegiatan rapat atau sidang-sidang adat kerajaan yang dipimpin langsung oleh raja. Selain itu juga terdapat rumah sula (penjara). Sula adalah besi-besi yang diruncingkan dan terpancang di tanah sebagai tempat hukuman mati bagi penjahat yang divonis hukuman mati.

Pendiri kerajaan

Almarhum H. Mohammad Said, dalam bukunya Aceh Sepanjang Abad menceritakan, Kerajaan Trumon didirikan oleh seorang saudagar sekaligus pemuka agama (labai) berasal dari XXV Mukim Aceh Besar dalam abad ke-18. Ia tidak lain adalah Labai Daffa (Labai Dafna-sebutan Belanda) yang nama aslinya adalah Teuku Djakfar.

Raja ini sebelum mendirikan Kerajaan Trumon dan Singkil, sempat belajar agama Islam di Ujung Serangga, Kecamatan Susoh, Aceh Barat Daya sehingga meraih gelar labai atau teungku, panggilan ulama dalam masyarakat Aceh.

Dengan demikian tidak heran, kalau Benteng Kuta Batee ini akhirnya selamat dan terhindar dari bencana gelombang tsunami, berkat doa Raja-raja Trumon yang terkenal alim heroik itu.

KESULTANAN TRUMON

Kesultanan Trumon merupakan kerajaan Batak yang diakuisisi oleh Kesultanan Aceh setelah rajanya masuk Islam. Bendera Kerajaan Trumon merupakan cikal-bakal bendera yang dipakai oleh Sisingamangaraja XII. Kerajaan Batak Sisingamangaraja XII disinyalir masih mempunyai hubungan kekerabatan dengan Kerajaan di Singkil khususnya Kerajaan Trumon ini. Karena sebelum diakuisisi oleh Aceh, Kerajaan Trumon merupakan provinsi dari Kesultanan Barus. Kesultanan Barus di Kawasan Fansur, bukan yang Hulu, didirikan oleh Keturunan Raja Uti dimana Raja Uti diyakini masih merupakan “paman adat” Dinasti Sisingamangaraja di Bakkara. Sekarang ini masih terdapat bangunan benteng di Trumon sebagai bukti sejarah kerajaan ini. Bangunan benteng Kuta Batee dibangun ketika Kerajaan Trumon dipimpin atau di bawah pemerintahan Teuku Raja Fansuri Alamsyah yang juga dikenal dengan sebutan Teuku Raja Batak. Dalam masa ini pula, Trumon meraih kejayaannya hingga berhasil mencetak mata uang sendiri sebagai alat tukar yang sah. Teuku Raja Batak ini merupakan raja ketiga, menggantikan ayahnya bernama Teuku Raja Bujang yang sebelumnya menerima tahta dari kakeknya (ayah Raja Bujang) yaitu Teuku Djakfar selaku pendiri Kerajaan Trumon dan Kerajaan Singkil.
KESULTANAN TRUMON DI SINGKIL


Merupakan Kesultanan Batak di Singkil. Terakhir berakuisisi menjadi bagian dari Kerajaan Aceh. Bendera Kesultanan Tarumon inilah yang mengilhami bendera Dinasti Sisingamangaraja di Tanah Batak. Founded By: Kelompok Masyarakat Adat Kesultanan Tarumon Jumlah Penduduk Laki-Laki Tahun 2003 Prop. : NANGGROE ACEH DARUSSALAM Kab. : ACEH SELATAN Kec. : TRUMON Desa Jiwa KUTA PADANG 122 RAKET 116 GAMPONG TENGAH 57 TEPIN TINGGI 203 IE MEUDAMA 126 TITI POBEN 72 ALUR BUJOK 68 SEUNEUBOK PUNTHO 139 UJONG TAN0H 144 KEUDE TRUMON 406 KUTA BARU 120 SINGLENG 127 PANTON BILI 73 GUN0NG KAPHO 190 GAMPONG TEUNGOH 77 KRUENG BATEE 347 PULO PAYA 274 LADANG RIMBA 751 JAMBO PAPEUN 174 NACA 175 IE JEUREUNEH 377 PINTO RIMBA 456 KRUNG LUAS 423 JAMBO DALEM 756 KAPAI SEUSAK 810 UPT I SNB PUSAKA 555 UPT II PD HARAPAN 60 UPT III COT BAYU 331 LHOK RAYA(EX.UPTIV) 59 SEUNABOK JAYA (EX UPT V) 72 Jumlah 7,660

Sejarah maritim singkil

A. Latar Belakang Masalah
Singkil sangat menarik untuk dikaji, terutama dari segi ekonomi (maritim). Selain berfungsi sebagai pusat administrasi, kota Singkil juga berfungsi sebagai pusat perdagangan. Setelah pindah ke kota Singkil Baru, Singkil kembali menemukan kejayaannya sebagai kota perdagangan yang cukup dikenal di pantai selatan Aceh. Singkil merupakan tempat transitnya barang-barang yang akan diperdagangkan, terutama barang-barang yang berasal dari Alas, Dairi, Simeulue, dan Pulau Banyak, demikian pula sebaliknya. Pada zaman Belanda, kota Singkil secara teratur dalam dua minggu disinggahi oleh Kapal KPM.
Puncak kejayaan Singkil, terutama di bidang ekonomi terjadi sekitar abad ke-18 ketika Kota Singkil menjadi Banda (pelabuhan) di bagian pantai selatan Aceh dan sekaligus menjadi kota perdagangan. Pada saat itu segala macam mata perdagangan terutama lada yang akan diekspor ke luar negeri seperti Amerika Serikat harus melalui pelabuhan Singkil. Dengan kegiatan ekonomi itu Singkil menjadi daya tarik penduduk daerah lain sebagai tempat untuk bekerja. Daerah Trumon merupakan salah satu daerah penghasil lada di pantai barat yang saat itu berada dalam pengaruh Singkil.
Singkil sebagai bandar dan kota perdaganngan tentunya mempunyai daya tarik tersendiri bagi penduduk dari daerah lain serbagai tempat mencari nafkah. Fenomena ini telah menyebabkan penduduk daerah tersebut sangat hiterogen jika ditinjau dari suku bangsa. Di Singkil dahulu terdapat 2 kelompok suku bangsa dari luar, yaitu Arab dan Cina yang secara turun temurun mempunyai budaya yang cukup kuat dalam berdagang. Kehadiran kedua kelompok suku bangsa tersebut kiranya dapat memperkuat hipotesis yang mengatakan bahwa Singkil memang merupakan kota perdagangan.
Selanjutnya pada tahun 1894 Kota Singkil didatangi oleh orang-orang Melayu dari Kesultanan Pahang (P.Sj. van Koningvelds, 1990). Mereka adalah orang-orang Melayu yang melarikan diri karena Kerajaan Pahang diduduki oleh pasukan Inggris.
Dari latar belakang singkat itu dapat difahami bahwa perdagangan maritim di Singkil pada zaman dahulu ternyata sangat berkembang dan penting bagi perkembangan ekonomi masyarakat. Oleh karena itu, penelitian ini mencoba menelusuri kembali sejarah perdagangan maritim di Singkil demi pengembangannya untuk masa yang akan datang. Karena ternyata kawasan itu pada zaman sekarang ini masih tetap strategis untuk dikembangkan bagi peningkatan ekonomi rakyat di bidang perdagangan (maritim). Itulah yang menjadi salah satu alasan pemilihan judul penelitian ini.
Dalam penelitian ini ruang lingkup wilayah adalah Singkil karena perdagangan maritim pada zaman dahulu sangat berkembang dan besar pengaruhnya bagi kehidupan ekonomi masyarakat. Adapun ruang lingkup waktu adalah zaman Kolonial Belanda di Aceh.

SEKILAS SEJARAH SINGKIL

Awal Mula Sejarah Singkil
Sejarah Singkil sangat menarik untuk dikaji, baik dari segi sejarah, sosial, ekonomi, budaya, dan politik. Hal itu disebabkan kota tersebut pernah mengalami kejayaan, terutama di bidang ekonomi sekitar abad ke-18 ketika Kota Singkil menjadi Banda (pelabuhan) di bagian pantai selatan Aceh dan sekaligus menjadi kota perdagangan. Pada saat itu segala perdagangan lada yang akan diekspor ke Amerika Serikat harus melalui Kota Singkil (A.Doup, 1899). Bahkan kota tersebut menjadi daya tarik penduduk daerah lain sebagai tempat untuk bekerja. Pada saat itu memang ada istilah bagi penduduk di Aceh yang mengatakan pergi ke rantau barat yang berarti pergi ke pantai selatan Aceh untuk mencari nafkah dan sekaligus bertanam lada (C. Snouck Hurgronje, 1906). Daerah Trumon merupakan salah satu daerah penghasil lada di Pantai Barat yang saat itu berada di wilayah Singkil (G.A. Fokker, 1935 dan J.Siegner, 1940).
Menentukan kapan kota Singkil dibangun pertama kali tentunya merupakan pekerjaan yang sangat sulit apabila menentukan tanggal, bulan atau tahun. Pendekatan yang digunakan paling maksimal kemungkinan hanya dapat memperkirakan pada abad keberapa sebenarnya kota Singkil dibangun. Keterbatasan ini kiranya berkaitan dengan bukti sejarah dan empiris yang ada saat ini yang tidak dapat mendukung secara maksimal dalam menentukan kapan kota tersebut sebenarnya mulai dibangun. Oleh karena itu, berbagai pendekatan yang sifatnya tidak langsung, terutama melalui pendekatan sejarah mutlak harus dilakukan dan kemudian dilanjutkan dengan pendekatan empiris melalui sebuah penelitian yang komprehensif dan melibatkan berbagai pakar, terutama dalam bidang Arkeologi dan Paleantropologi. Seperti diketahui bahwa Syekh Abdurrauf Al Singkili lahir pada pertengan abad ke –17 (1616-1693) (Liaw Yock Fang, 1993). Apabila dikaitkan dengan kelahirannya secara tidak langsung menunjukkan bahwa kemungkinan Kota Singkil telah dibangun pada abad tersebut. Hal ini mengingat bahwa Abdurrauf Al Singkili lahir di kota tersebut.
Catatan-catatan asing yang tertua mengenai Singkil masih sedikit didapatkan, kecuali Barus dan Fansur (walaupun dahulunya Singkil juga termasuk wilayah Fansur) yang memang sudah banyak dikenal karena hasil alamnya yaitu kapur barus. Baru setelah abad ke-9 M, di samping Barus dan Fanshur sudah mulai banyak catatan, terutama dari pelawat Islam tentang Niyan (Nias). Buzurg ibn Shahriyar Ramhurnuz (850 M) dalam bukunya Akhbar al Sin wal Hind, menyebutkan bahwa ”penduduk yang ada di sekitar Barus masih primitif. Kalau ada kapal yang karam di laut dekat Fanshur, para pelawat asing tersebut berusaha mencapai Lamuri, karena di sana ada teman sebangsanya dan untuk dapat memudahkan pulang ke negerinya dengan menumpang kapal.”
Agresi Belanda ke Singkil melalui Perang Batu-Batu, menyebabkan wilayah singkil berada dalam sistem pemerintahan langsung (Gubernemen Gebied) seperti halnya Aceh Besar, sebagai daerah yang berhasil dikuasai oleh Belanda melalui perang. Belanda kemudian mendirikan pemerintahan di Singkil, dan antara tahun 1903-1908 Landschap Trumon termasuk dalam kekuasaan onderafdeling Singkil.
Apabila ditinjau perkembangan ekonomi Kota Singkil pada abad ke-18 ternyata cukup maju sebagai kota perdagangan. Dijelaskan bahwa nilai ekspor barang dikirim melalui pelabuhan Singkil pada tahun 1851 mencapai 300.000 Gulden. Barang-barang yang paling bernilai diekspor melalui pelabuhan Kota Singkil adalah lada. Hasil bumi lainnya yang berasal dari wilayah Singkil yang di ekspor melalui pelabuhan Singkil adalah minyak nilam, damar, karet, gambir, kelapa, rotan dan kapur barus.
Perkembangan kota Singkil selanjutnya bagaikan sebuah drama yang meninggalkan sebuah tragedi yang memilukan. Pada saat kota tersebut mengalami perkembangan ekonomi yang sangat pesat tiba-tiba pada tanggal 12 Februari 1861, kota Singkil hancur karena dilanda gempa bumi (tektonik) dan gelombang laut yang sangat dahsyat (E.B. Kielstra, 1892). Daerah lain di pantai barat Aceh yang dilanda gempa bumi tersebut adalah sebagian dari wilayah Aceh Selatan, seperti Meukek, Susoh, dan Kuala Batee. Gempa bumi tersebut telah mengakibatkan hancurnya hampir semua infrastruktur yang dibangun pemerintah Belanda sebelum tahun 1852 dan juga telah menghancurkan perkebunan lada penduduk tidak hanya di Singkil, melainkan juga di daerah lain di pantai barat Aceh.
Secara administrasi kota Singkil mempunyai 4 desa, yaitu desa Kilangan, Ujung, pasar, dan desa Pulau Sarok. Pada tahun 1905 penduduk Kota Singkil berjumlah 1.665 orang, namun pada tahun 1930 jumlah penduduk berjumlah 5 kali lipat, menjadi 3.301 orang (W.K.H. Ypes,1907 :284 dan J.Pauw, 1935 : 75). Meningkatnya jumlah penduduk tersebut berkaitan erat dengan status kota Singkil sebagai pusat administrasi dan perdagangan, sehingga merupakan faktor penarik bagi penduduk daerah lain untuk bermigrasi ke daerah tersebut.
Selain berfungsi sebagai pusat administrasi, kota Singkil juga berfungsi sebagai pusat perdagangan. Setelah pindah ke kota Singkil Baru, Singkil kembali menemukan kejayaannya sebagai kota perdagangan yang cukup dikenal di pantai selatan Aceh. Kota Singkil merupakan tempat transit barang-barang yang akan diperdagangkan, terutama barang-barang yang berasal dari Alas, Dairi, Simeulue, dan Pulau Banyak, demikian pula sebaliknya (G.A. Fokker, 1936). Pada zaman Belanda, kota Singkil secara teratur dalam dua minggu sekali disinggahi oleh kapal KPM. (J.J. van de Velde, 1987).
Salah satu peninggalan yang cukup penting dan merupakan bukti bahwa kota Singkil merupakan kota perdagangan dapat dilihat dari bentuk rumahnya. Sebagian besar bangunan rumah bertingkat dua, sebelumnya rumah-rumah tersebut berfungsi sebagai tempat berjualan dan tempat tinggal. Pada bagian bawah biasanya digunakan sebagai tempat berjualan, sedangkan di bagian atas berfungsi sebagai tempat tinggal. (Kompas, 1991). Pada saat ini kebanyakan rumah tersebut berfungsi sebagai tempat tinggal dan hanya sebagian kecil dari penduduk yang menggunakan sebagai tempat berjualan.
Menurut legenda atau cerita orang tua-tua, bahwa asal-usul Singkil itu dari tiga tempat yaitu Kampung Gelombang di alur Lae Souraya Simpang Kiri adalah daerah yang pertama sekali terhempas oleh gelombang pasang naik, dan sebagai muaranya adalah Kuala Kapeng. Akibat erosi sungai, lama-kelamaan menimbulkan tanah yang muncul ke permukaan sehingga sungai menjadi dangkal dan beralih ke daerah lain. Akibat erosi sungai tersebut muncul daerah Paya Bumbung, Rantau Gedang, Teluk Ambon, Kuala Baru. Kampung Singkil Lama, menurut cerita sudah tenggelam. Daerah itu dahulu terletak di depan daerah Kilangan yang bernama Pasir Tangah. Menurut cerita, sekitar tahun 1890 pada hari Jumat terjadi amukan Lautan Hindia (Lautan Indonesia), air laut mengadakan pergeseran yang begitu cepat dengan membawa arus gelombang yang membersihkan pantai pelabuhan Singkil, sehingga hilang dari permukaan. Sebagian dari mereka dapat menyelamatkan diri dan pindah ke daerah Singkil sekarang, yang disebut daerah Singkil Baru, oleh Belanda menamakannya dengan Niew Singkil. Dari tiga daerah itulah disebutkan asal wilayah Singkil. Wilayah Pasir Tangah manakala air surut dapat kelihatan batu-batuan bekas rumah. Daerah ini menjadi lautan yang berbahaya bagi para nelayan, yang disebut Ujung Singkil.
Cerita lain menyebutkan, bahwa Singkil pada mulanya terletak di daerah yang telah mempunyai bahasa sendiri sehingga disebut Singkel, yang berasal dari kata Sikkel (suka, senang atau ingin), yang kemudian berubah menjadi Singkel. Hal ini terjadi dari asimilasi para pedagang Timur Tengah dengan suku Hindia, dan penduduk asli, sehingga muncul suatu kebudayaan tersendiri. Asal kata Singkil juga disebutkan bahwa pada zaman perdagangan dengan perahu layar dahulu, ketika terjadi angin ribut dan badai, maka para awak perahu tersebut menyingkir mencari tempat perlindungan dengan memasuki teluk-teluk yang ada di sekitarnya. Disebabkan kebiasaan menyingkir itu, maka lama-kelamaan menjadi Singkil, yang maksudnya menyingkir.
Nama Singkil mulai banyak terdapat dalam catatan asing sekitar abad ke-16 M, bahkan seorang ulama yang terkenal di Aceh dan juga Nusantara yaitu Syaikh Abdurrauf Syiah Kuala juga berasal dari Singkil. Seorang pencatat bangsa Portugis terkenal bernama Tome Pires, menulis buku laporan mengenai Nusantara dari tempat tinggalnya di Malaka antara tahun 1512-1515 M. Ia menulis mengenai pantai barat Sumatera, seperti Andalor (Andalas), Tiquo (Tiku), Pariaman, Minhac Barras (Nias) serta Baruus (Barus), juga untuk pertama kalinya menyinggung tentang kerajaan Chinquelle atau Quinchell (Singkil). Tome Pires menyebutkan bahwa Kerajaan Singkil berbatasan dengan Kerajaan Barus, di sebelah utara berbatasan dengan Kerajaan Mancopa atau Daya, Aceh Barat (sekarang Aceh Jaya), sedangkan penduduknya yang di pedalaman bersifat kanibal. Raja Singkil pada waktu itu belum beragama. Di wilayah kerajaan Singkil ini banyak menghasilkan damar, sutera, lada, emas. Mempunyai perahu yang laju dan ada sungai-sungai. Kerajaan Singkil itu melakukan hubungan dagang dengan Pasai, Barus, Tiku dan Pariaman. Penduduk yang tinggal di pedalaman memakan daging manusia dari musuh-musuh mereka yang tertangkap. Menurut Veth (1873) nama Sinckel juga sudah mulai ada dalam peta Petrus Plancius pada tahun 1592 M.
Tom Pires juga menyebutkan bahwa Singkil dibagi dalam dua kerajaan, yaitu Singkil Hulu dan Singkil Hilir. Dalam Kerajaan Singkil Hulu terdapat sekitar sebelas kerajaan kecil di kawasan Simpang Kanan, dan sepuluh kerajaan kecil di kawasan Simpang Kiri. Sedangkan kerajaan-kerajaan Singkil Hilir termasuk Pulau Banyak dibagi dalam tujuh daerah kerajaan.
Secara administratif pemerintah kolonial Belanda membagi keresidenan Aceh menjadi dua wilayah yang mereka sebut rechtreeks bestuur gebied daerah yang diperoleh oleh Belanda melalui perang. Kepala pemerintahan disebut districthoofd dan daerah taklukan atau zelfbestuur gebied, juga disebut landschap (swapraja), yang dikepalai oleh zelfbestuurder. Onderafdeling Singkil pada waktu itu termasuk dalam Onderafdeling Zuidelijk Atjeh Landschappen, yang terdiri atas distrik Singkil, Simpang Kanan, Simpang Kiri, dan Onderafdeling Banyak Einlanden (Pulau Banyak). Distrik Hoofd Singkil adalah Datuk A. Murad, Simpang Kanan oleh T. Raja Hidayo, Simpang Kiri oleh Ruhum, dan Onder District Pulau Banyak oleh Raja Alamsyah. Controleur onderafdeling Singkil pernah dipegang oleh A.J. Piekaar.
Pada tahun 1861 hingga 1907, untuk lebih mudah pengawasan, maka Pemerintah Hindia Belanda atas permintaan komandan tentara Belanda di Kutaraja menugasi Pootman sebagai residen yang sekaligus diperbantukan kepada tentara KNIL, memegang pemerintahan militer selama pemerintahan sipil belum terbentuk, dan memutuskan bahwa wilayah Singkil tunduk kepada Gubernur Sipil dan Militer Aceh yang berkedudukan di Kutaraja. Hal tersebut ditetapkan pada tahun 1905 dengan Stbl. No. 440.
Controleur J.C. Tigelman sesuai dengan laporan terakhirnya pada tanggal 15 Nopember 1941, bahwa wilayah Singgkil terdiri atas 4 jabatan districthoofd dan 16 onderdistricthoofd, yaitu: District Benaden Singkil terdiri atas Onderdistrict Benaden Singkil adalah Datuk A. Murad, Onderdistrict Rantau Gadang, Onderdistrict Teluk Ambon, dan Onderdistrict Paya Bumbung oleh Raja Maholi. Distrik Simpang Kanan terdiri atas Onderdistrict Tanjung Mas oleh Datuk Bambon, Onderdistrict Belegen, Onderdistrict Kombih oleh Datuk Ruhum, Onderdistrict Kota Baru oleh Raja Baharu, Onderdistrict Tualang oleh Raja Gontar, Onderdistrict Longkip oleh Raja Kuta, Onderdistrict Pasir Belo oleh Raja Yusuf, serta Onderdistrict Batu-Batu oleh Raja Kamaruddin. District Banyak Einlanden oleh Sutan Umar, terdiri dari Onderdistrict Pulau Tuanku oleh Datuk Somik dan Onderdistrict Pulau Delapan oleh Datuk Badiaga.

Tata Letak
Dalam beberapa almanak Pemerintah Hindia Belanda diterangkan bahwa Kota Singkil (Singkil pertama) telah dibangun pada tahun 1841. Dijelaskan bahwa pada saat itu daerah tersebut merupakan salah satu wilayah yang tergabung dalam Keresidenan Tapanuli. Data atau informasi yang disajikan tersebut kiranya perlu disikapi secara hati-hati, apakah Kota Singkil memang baru dibangun pertama kali pada tahun 1841 atau pada saat itu kota tersebut hanya melanjutkan program pembangunan yang telah ada sebelumnya. Akan tetapi yang jelas semenjak saat itu mulailah di Kota Singkil dibangun berbagai fasilitas pemerintahan, seperti rumah controleur (1843), Pendopo (1847), Kantor Keuangan (1850), Kantor Bea Cukai dan Pelabuhan (1850), dan sebuah Rumah Sakit Militer (1949). Selain itu, dibangun pula pemukiman penduduk dan pasar. Pada saat pemerintahan Belanda melakukan Sensus Sosial Ekonomi pada tahun 1852 diterangkan, bahwa semua infrastruktur yang telah dibangun sebelumnya masih dalam kondisi yang baik kecuali rumah controleur. Kemudian pada tahun 1857 dibangun pula sebuah penjara.
Secara geografis kota Singkil pertama terletak di sebelah barat kota Singkil yang sekarang yaitu tepatnya terletak di ujung kota Singkil. Bekas kota Singkil pertama tersebut saat ini terletak jauh di tengah laut dan daerah itu merupakan jalur yang berbahaya bagi pelayaran kapal. Para nelayan Singkil menyebut lokasi tersebut dengan nama Berok. Pada saat pasang surut kadang-kadang bekas bangunan perumahan penduduk pada jaman dahulu muncul ke permukaan dan dapat dilihat, terutama oleh nelayan-nelayan yang sedang menangkap ikan. Selain itu, bekas-bekas bangunan dan peralatan rumah tangga penduduk kota Singkil pertama sering pula didapatkan penduduk pada saat mereka melaut. Hanya sayangnya berbagai bukti sejarah tersebut tidak pernah diinventarisasi dan diteliti.
Setelah kota Singkil pertama hancur mulailah pemerintah Belanda mempersiapkan sebuah kota baru yang lokasinya agak menjorok ke darat dan persiapannya dimulai sejak tahun 1861 sampai tahun 1863. Kota tersebut mulai ditempati pada pertengahan tahun 1863 dan dikenal dengan kota Singkil kedua. Kota Singkil kedua tersebut terletak berseberangan dengan kota Singkil yang sekarang. Kota Singkil kedua sering juga disebut dengan Singkil Lama. Sedangkan kota Singkil yang sekarang disebut dengan Singkil Baru (Niew Singkil). Kota Singkil kedua tersebut terpaksa harus ditinggalkan karena terjadinya pendangkalan di muara sungai Singkil yang mengakibatkan jauhnya kapal-kapal untuk bongkar muat barang, terutama untuk kepentingan militer Belanda.
Kota Singkil sekarang terletak di tepi muara sungai Singkil dan pinggir pantai barat Aceh. Kota Singkil merupakan kota yang dipersiapkan Belanda sebagai pusat administrasi. Sebelum memindahkan Kota Singkil lama tersebut, pemerintah Belanda terlebih dahulu mengatur tata kota Singkil Baru dengan mendirikan kantor-kantor pemerintah, rumah controleur, tangsi Militer, rumah Beacukai, Dermaga, Mercusuar, Lapangan Bola Kaki, Gedung Sekolah, lokasi rumah penduduk, dan pengaturan jalan-jalan. Rumah-rumah orang Eropa sengaja dibangun tersendiri dan menghadap sebuah danau besar yang semula merupakan alur sungai Singkil. Bekas danau tersebut saat ini telah ditumbuhi berbagai tumbuhan rawa, seperti nipah dan eceng gondok yang mengakibatkan terjadinya pendangkalan di muara sungai Singkil.
Pemerintah Hindia Belanda juga membangun rumah Datuk Besar Singkil yang biasa disebut dengan Rumah Gadang dan sebuah mesjid besar. Selain itu, pemerintah Hindia Belanda juga membangun sebuah kantor pos serta kantor telegram yang dapat menghubungkan kota Singkil dengan berbagai kota lainnya di Indonesia. Sebagian bangunan peninggalan Belanda tersebut masih dapat dijumpai di kota Singkil seperti rumah Gadang, rumah controleur dan dermaga. Sebaliknya bekas-bekas rumah orang Eropa kebanyakan sudah diruntuhkan dan diganti dengan bangunan kantor pemerintah.
Wilayah Singkil yang terletak di pantai barat Sumatera, berdasarkan keputusan Pemerintah Hindia Belanda tanggal 10 Oktober 1908 No. 3 serta Stbl. No. 604 tahun 1908, sebagai berikut:
Di pantai Lautan Hindia (Indonesia) pada ketinggian puncak dari Blang Sulpa ke Lae Muntu, kemudian ke arah kanan dari ujung sungai dan terdapat jalan kecil dari pangkalan Cinendang yang membelah dari Sukananing dan pangkalan Puge. Dari pangkalan Puge sampai ketinggian puncak Dleng Pemberangan dan Deleng Belilingen, Deleng Cambaren, Deleng Pangulubalang, Deleng Pabaken Singkeruh ke Muara Sibalik. Selanjutnya menuju ke depan dari seberang Simpang Kiri ke Lae Bengkong dengan perbatasan sungai. Garis perbatasan utara Singkil dengan Alas dapat dilihat dari Lae Bengkong sampai pantai laut Itam.
Perbatasan sebelah barat sesuai dengan surat keputusan Gubernur Hindia Belanda pada tanggal 27 Januari 1930 No. 32/p.z, sebagai berikut: sebelah kiri dari Alur Putih atau arah timur menuju Gunung Manu dan ke arah selatan menuju Titi Orat. Dari Titi Orat ke arah Selatan menuju Titi Toro. Arah sebelah barat menuju Suak Mangkuto sampai ke ujung Lintang Utara sungai-sungai yang membelok dari arah barat kemudian ke batas berikutnya sampai pada tempat Mampelam dan terakhir ke arah kanan Barat Daya mengarah ke Ujung Pasir Galak. Sebelah selatan merupakan batas lautan Indonesia termasuk Pulau Banyak di sebelah barat daya Singkil serta lima pulau besar di Ujung Manuk-Manuk.

Masyarakat Singkil
Sejarah dan kebudayaan daerah Singkil tidak terlepas dari suku-suku yang ada di Sumatera Utara, terutama dengan suku Dairi. Hal ini dapat dikaitkan dengan catatan Residen Pootman, bahwa pada zaman dahulu suku Gayo, Alas, dan Dairi adalah yang pertama sekali masuk dari pelabuhan Singkil. Mereka menyusuri alur sungai Lae Cinendang terus ke Dairi dan Lae Souraya terus ke Gunung Louser. Pada sepanjang alur tersebut mereka bermukim dan menetap, sehingga lama-kelamaan kelompok marga atau suku menjadi besar.
Di antara suku tersebut yang paling besar adalah Ennem Koden (satu priuk enam marga), yaitu Tinambunan, Tumanggor, Maharaja, Turutan, Pinayungan, dan Nahampun. Ditambah lagi dengan perkawinan silang antarsuku, yaitu antara anak dari suku Timbunan kawin dengan anak dari suku Tomanggor, yang melahirkan nantinya suku Bancin. Selain itu, masih ada suku-suku seperti Berampu, Berutu, Kombih, Angkat, Manik, Sibero, Baluara, yang kesemuanya berasal dari suku Dairi, Tanjung, Pohan, Pasaribu, dari marga Tapanuli Tengah, Caniago, Guci, dan Tanjung dari Paris (Pariaman dan sekitarnya).
Jumlah Penduduk Singkil 1905-1930

Tahun
Jumlah Penduduk
1905- 1.665
1930- 3.301

Asal etnis yang paling dominan adalah dari Minang dan Dairi, suku Minang banyak menguasai dalam bahasa pengantar dagang, sedangkan mayoritas suku Dairi berbahasa Ulu (mudik), yaitu bahasa Dairi dialek Singkil dan bahasa Minang dilalek pesisir.
Singkil sebagai bandar dan kota perdaganngan tentunya mempunyai daya tarik tersendiri bagi penduduk dari daerah lain sebagai tempat mencari nafkah. Fenomena ini telah menyebabkan penduduk daerah tersebut sangat hiterogen jika ditinjau dari suku bangsa. Pada tahun 1852 jumlah penduduk Kota Singkil sebanyak 2.104 orang yang terdiri dari 6 orang Eropa, 55 orang Cina, 183 orang Arab dan sisanya adalah penduduk setempat dari berbagai kelompok suku bangsa. Memperhatikan data tersebut terlihat bahwa di Kota Singkil dahulu terdapat 2 kelompok suku bangsa dari luar, yaitu Arab dan Cina yang secara turun temurun mempunyai budaya yang cukup kuat dalam berdagang. Kehadiran kedua kelompok suku bangsa tersebut kiranya dapat memperkuat hipotesis yang mengatakan bahwa Singkil memang merupakan kota perdagangan.
Selanjutnya pada tahun 1894 Kota Singkil didatangi oleh orang-orang Melayu dari Kesultanan Pahang. Mereka adalah orang-orang Melayu yang melarikan diri karena Kerajaan Pahang diduduki oleh pasukan Inggris. Di Kota Singkil mereka mempersiapkan diri untuk berjihad dan mengharap dapat bantuan dari Kerajaan Aceh dalam melawan agresi pasukan Inggris tersebut. Mereka baru kembali ke Pahang setelah mendapat himbauan dari para ulama kesultanan supaya mereka melakukan perjuangan dari dalam negeri.
Tentang agama penduduk pada masa itu, bahwa umumnya masyarakat Singkil beragama Islam, dan sebagian kecil memeluk agama Kristen, yang terletak di daerah Simpang Kanan di desa Kutakerangan. Sesuai dengan keputusan Gubernur Hindia Belanda diberikan penetapan pada Huria Kristen Batak Protestan tanggal 10 Januari 1935 No. 37 atas permintaan dari ketua Huria untuk diberikan izin mendirikan sebuah gereja, yang kemudian dinamakan Gereja Zending Batak.
Dalam sebuah laporan W.L. Ritter menyebutkan bahwa penduduk Singkil sekitar 600 orang atau sekitar 150 buah rumah tangga, akan tetapi apabila diperkirakan sampai kepada penduduk yang ada di pedalaman mencapai 10.000 jiwa. Hubungan penduduk Singkil dengan Pak-pak yang belum beragama di pedalaman umumnya berjalan harmonis.
Ritter juga menambahkan bahwa Bangsa Proto Malayan yang terdesak oleh bangsa Mongolia, mengarungi Lautan Hindia (Indonesia) menuju ke wilayah Singkil. Sebagian dari mereka itu memasuki ke arah arus Simpang Kanan terus ke Dairi, sehinga mereka menjadi marga Dairi. Sebagian daerah itu bercampur dengan suku asli dan disertai dengan masuk suku Minang. Dari itu muncullah suku Singkil yang terdiri dari campuran suku pendatang dari suku Minang, Batak, Nias, Aceh, suku Singkil.
Tentang jumlah penduduk Kota Singkil pada waktu itu tidak disebutkan dalam laporan penyelidikan Belanda ketika akan menyerbu Aceh pada abad ke-19. Belanda hanya menyebutkan bahwa Tapaktuan adalah sebenarnya pemukiman dari orang Pasaman di wilayah gunung opir, dan merupakan pelabuhan utama untuk ekspor lada karena tidak saja ditanam di sekitarnya, tetapi juga di tempat-tempat lebih ke selatan seperti Asahan, Terbangan, Sinabu dan Bakongan.
Seorang penduduk dari XXV Mukim Aceh Besar dengan pengikutnya pindah ke Susoh (Aceh Selatan), lalu menjadi kepala kampung di Susoh. Dua orang keturunannya, yang pertama bernama Bassa Bujang (Bujang Bapa) pindah ke Trumon, dan yang kedua bernama Lebai Dapha (Haji Dafna) pindah ke Singkil, dan berhasil mengembangkan pertanian lada di Singkil. Penguasa daerah Singkil pada waktu itu menaruh simpati kepada Haji Dafna dan menikahkan anak putrinya dengan Lebai Dapha (Haji Dafna), bahkan menyerahkan pimpinan kenegerian tersebut kepada Lebai Dapha. Bassa Bujang yang kurang berhasil di Trumon mengundang adiknya (Haji Dafna), supaya pindah ke Trumon. Permintaan itu dituruti oleh Lebai Dapha tanpa melepaskan kedudukannya di Singkil. Kedua daerah itu kemudian berkembang dengan pertanian lada.
Hasil pertanian tersebut dapat meningkatkan pendapatan mereka yang memimpin kenegerian itu. Lebai Dapha kemudian meninggal dan meninggalkan 17 orang putri dan 10 orang putri. Putranya yang laki-laki bernama Raja Bujang menggantikannya menjadi raja di Trumon dan putranya yang kedua bernama Muhammad Arif memerintah di Singkil.

Tokoh Islam Singkil: Misionaris Bangun Gereja, Datangkan Pekerja Non Muslim

Salah satu program kristenisasi adalah inflitrasi budaya secara perlahan. Minum tuak, misalnya, dianggap budaya nenek moyang mereka, sehingga masyarakat Muslim mengamini

Tgk Zainal Abidin Tumengger

Meski Aceh dikenal sebagai Serambi Makkah, namun sebagaian warga Muslim percaya gerakan kristenisasi sangat marak, lebih-lebih pasca musibah tsunami.

Ditengarai, upaya kristenisasi di Aceh Singkil dilakukan melalui jalur ekonomi, pendidikan, budaya bahkan perkawinan.

Tak sedikit pula para misionaris membeli tanah kemudian mendirikan banyak gereja dan undung-undung.

“Di pekarangaan rumah mereka, ada yang memelihara babi. Belum lagi praktek rentenir yang diduga didanai gereja. Yang tak kalah meresahkan adalah keberadaan minuman keras (miras) atau tuak yang dianggap budaya masyarakat non Muslim,” ujar tokoh Islam Aceh Singkil, Tgk Zainal Abidin Tumengger.

Pertengahan Juni 2012 di Kabupaten Aceh Singkil sempat digemparkan dengan banyaknya buku penghinaan ajaran Islam yang disebarkan ke tempat-tempat rumah ibadah, seperti masjid, musholla, dan di jalan-jalan. Termasuk menyebarkan bible atau selebaran terkait kristenisasi.

“Salah satu program kristenisasi adalah inflitrasi budaya secara perlahan. Minum tuak, misalnya, dianggap budaya nenek moyang mereka, sehingga masyarakat Muslim mengamini anggapan itu,” tambah Azwar, salah seorang warga Lipat Kajang, Aceh Singkil.

Misionaris

Menurut catatan Aliansi Sumut Bersatu (ASB), agama Kristen pertama kali masuk ke wilayah Aceh Singkil pada tahun 1930 melalui seorang penginjil yang berasal dari Salak Pakpak Barat, bernama Evangelist I.W Banurea.

Pada tahun 1932 Evangelis bekerjasama dengan Perkebunan Socfindo mendirikan gereja, kemudian satu demi satu, desa-desa itu dikunjungi dan terbentuklah gereja-gereja. Sampai saat ini sudah sekitar 1.700 kepala keluarga atau sekitar 15.000 jiwa yang menganut agama Kristen di wilayah Aceh Singkil dan Sulubussalam.

Pertambahan jumlah pemeluk agama Kristen yang cukup signifikan ini mendorong pihak gereja untuk melakukan penambahan jumlah rumah ibadahnya sebagai upaya untuk menjawab kebutuhan para umatnya dalam melakukan peribadatan.

Penelusuran lapangan menunjukkan, hampir di setiap kecamatan di Kabupaten Aceh Singkil didominasi oleh gereja Kristen Protestan Pakpak Dairi (GKPPD).

Masih menurut ASB, dahulu orang Pakpak tidak punya agama, mereka menganut animisme yang disebut Pelebegu, agama asal suku Batak sebelum kedatangan Islam dan Kristen ke tanah Batak. Agama Pelebegu dianut oleh masyarakat Mandailing, Angkola, Karo dan Pakpak sebelum Islam, kemudian disebarkan ke seluruh Sumatera Utara. Di tanah Karo agama ini disebut Perbegu.

Malah dikatakan agama Pelebegu adalah perintis kepada agama Parmalim yang telah diazaskan oleh Sisingamangaraja XII dengan pelopornya Guru Somalaing. Kemudian, muncul aliran kepercayaan yang disebut Pambi.

“Kemudian datang penjajah yang menguasai perkebunan. Kedatangan suku Pakpak dari Bungus dan wilayah Sumut lainya kemudian membuat komunitas di Aceh Singkil. Masyarakat Pakpak datang ke Aceh Singkil diantaranya bermarga Tumengger dan Bancin. Di Aceh Singkil, mereka bekerja di kebun kelapa sawit, menetap hingga beranak pinak,” papar Tgk Zainal Abidin Tumengger, yang juga anggota Majelis Permuswaratan Ulama (MPU) Aceh Singkil.

Ketika Kristen masuk ke Aceh Singkil, misionaris membangun gereja dan mendatangkan pekerja non Muslim ke sini. Sejak itulah Gereja GKPPD berkembang di Aceh Singkil.

“Sucfindo, sebuah perusahaan kelapa sawit yang sebagian besar sahamnya milik Belgia, punya peran pembangunan gereja di Aceh Singkil ketika itu,” ujar Zainal.

Dikatakan Zainal Abidin, di masa kolonial Belanda, hanya ada satu gereja di Aceh Singkil. Tapi kemudian, sejak Indonesia merdeka, bahkan diberlakukan syariat Islam di Aceh, keberadaan rumah ibadah Kristiani justru berkembang hingga 24 gereja (versi pemerintah), sedangkan masyarakat muslim Aceh mencatat terdapat 27 gereja.*

Iklan