Posts from the ‘Budaya.’ Category

“Sangkamadeha” Pohon Kehidupan Orang Batak

 “Sangkamadeha” diartikan sebagai pengekspresian hidup dan kehidupan manusia dalam dunia nyata dengan segala kebanggaan dirinya.

“sangkamadeha” merupakan penggambaran pohon kehidupan pemberian sang pencipta (Mulajadi Nabolon) kepada manusia.
Sejak muda hingga tua, pohon ini tumbuh tegak lurus dan tajuknya “sundung” (menuju) langit.
Hidup di dunia dalam pertengahan usia adalah perkembangan sangat subur dan optimal, berkaya-nyata untuk dirinya dan orang lain.
Hasangapon, hagabeon dan hamoraon, adalah gambaran kesuburan yang dinikmati atas karunia sang khalik,
Biji berkecambah, tumbuh tunas, kemudian mekar. Dahan mengembang ke samping dan ke segenap penjuru angin, bagaikan tangan-tangan membentang (mandehai). Tumbuh makin matang (matoras) dan semakin kuat (pangko).
Dalam bahasa Batak, disebut ”torasna jadi pangkona”, diartikan sebagai kedewasaan yang dibarengi kebiasaan-kebiasaan hidup yang menjadi tabiat. Dalam kiasan (umpasa) Batak disebut “torasna jadi pangkona, somalna jadi bangkona”.
Menjelang ujur, tajuk semakin tinggi dan tetap menuju ke atas. Di masa tua, upaya pencapaian “sundung di langit” semakin terarah. Dari sana awalnya datang, di sana juga berakhirnya. Inilah akhir hidup manusia. Semua menuju ke penciptanya.
Perjalanan kehidupan manusia diakhiri, dan “sundung” ke alam penciptaan. Semua yang diperoleh di alam nyata, dunia fana, akan ditinggalkan.
Kebanggaan terpuji adalah tabiat yang baik dan benar, sesuai hukum dan adat istiadat. disebut sebagai “hasangapon”.
Cabang dan ranting yang banyak akan mempengaruhi kerimbunan dedaunan. Akar yang kokoh dan kerimbunan daun (hatoropon) sebagai gambarannya. Banyaknya populasi, disebut “hagabeon”.
 Buah adalah biji disertai zat bermanfaat untuk pertumbuhan dan stimulant kepada mahluk hidup untuk menyebarkannya. Ada buah, ada pemanfaat dan ada pertumbuhan. Inilah yang disebut “hamoraon,
Parjuragatan, mengartikan tempat bergelantungan ke sumber penghidupan. Sumber penghidupan ada beragam, seperti apa yang diberikan secara langsung (material) dan tidak langsung (non-material).Pemimpin adalah “parjuragatan”, di mana ditemukan keadilan dan pencerahan.Dia adalah “urat” (akar) hukum dan keadilan. Orang kaya (namora) adalah “parjuragatan”. Karena akar, memberi kehidupan material, penyambung hidup.
Kekayaan dengan `banyaknya buah`, bila tidak ada manfaat bagi orang lain, tidak akan ada yang berperan `menaburnya`.
Dia akan seperti ilalang yang menebar biji oleh tiupan angin karena tidak ada memberi manfaat dari buahnya bagi mahluk lain.
Kekurangan harta disebut “napogos” (miskin). Bila hartanya hanya cukup untuk bekal satu tahun disebut “parsaetaon” (pra sejahtera).
Bila sudah bisa menabung untuk cadangan pengembangan disebut “naduma” (sejahtera). Bila harta sudah menumpuk disebut `paradongan”.
“Namora” adalah sebutan kehormatan untuk yang aktif menolong sesama dengan harta bendanya sendiri. Jabatan ini, juga disandang dalam “harajaon” yang diartikan sebagai bendahara.
Kepada Raja dan “namora” disebut akar dari hukum dan kehidupan.
  •  Raja urat ni uhum,
  • Namora urat ni hosa,
Bila ada orang yang memiliki banyak harta, tapi tega membiarkan manusia di sekitarnya kelaparan, dia tidak dapat disebut “namora”, tapi “paradongan” atau “pararta.
Jika seseorang bermohon kepada Yang maha Kuasa “hamoraon”, jabarannya adalah harta benda, berikut hati yang iklas untuk mau dan mampu melakukan pertolongan kepada sesama manusia.
 Ada yang membedakan “hau sangkamadeha” dengan hau parjuragatan dan hau sundung di langit.
Menurut penjelasan beberapa orang tua dan pandai mengukir (gorga), bahwa penggambarannya adalah satu, tapi penjelasannya beragam.
Banyak yang memitoskan sebutan itu seperti pohon yang tumbuh di alam penciptaan, sehingga banyak yang tidak memahami pemaknaan beberapa perkataan itu dalam satu penggambaran.
Pada rumah “gorga” lama, gambaran “hau sangkamadeha” ini selalu dilukiskan dalam dinding samping agak di depan. Dalam penggambarannya kadang ada yang menyertakan gambar burung dan ular membelit.
Kayu yang berbuah selalu dihinggapi burung pemakan buah. Ular pun datang ke pohon itu, untuk memangsa burung (marjuragat). Semua mahluk berhak hidup, seperti manusia diberi hidup, menjadi bagian dari ekosistem.
Namun, dari semua mahluk yang “marjuragat” dalam pohon hidup, hanya manusia yang memahami “sundung di langit”.
Ada pemahaman lain yang dijelaskan, bahwa dalam menjalani hidup harus cermat dan teliti karena banyak musuh yang mengintip.
Sejak pemahaman barat masuk ke batak, dan mereka mengetahui penjelasan dari pohon (hau sangkamadeha), ada anjuran untuk tidak membuat lukisan itu lagi dalam rumah adat Batak.Pemahaman itu dianggap sesat. Sehingga, kemudian banyak rumah adat batak dibangun tidak menggambarkannya lagi. Tapi, diganti dengan gambar orang barat yang membawa hal baru, yang cenderung menyesatkan budaya batak.
Pemerhati budaya, Baginda Sahat Napitupulu, tinggal di Malaysia, menilai, orang Batak zaman dulu, cukup genius. Sebab, mereka mampu menggambarkan serta merumuskan tentang pohon kehidupan.
“Banyak filosopi yang dapat dimaknai dari sangkamadeha yang mengambarkan posisi kita sebagai orang batak. Apakah terkategori `napogos`, `parsaetaon`, `naduma`, `paradongan` dan `namora/harajaon`, “ujarnya.
Tapi, kata dia lagi, jika sudah jadi “namora”, jangan lupa membantu orang di sekeliling. Sanak saudara yang masih butuh bantuan. Kalau bisa, bantuannya jangan hanya dalam bentuk uang/materi. Melainkan, kemudahan pendidikan dan pengembangan keahlian.
Martua Sidauruk, praktisi hukum dari Jakarta, menyampaikan idenya, untuk melakukan invetarisasi tentang nilai “habatahon” di bidang hukum.
Alasannya, dia contohkan dalam “hukum kontrak”. Hukum adat Batak, jauh lebih maju dan bersifat universal dari hukum nasional.
Antara lain, disebutkannya, semua praktisi hukum umumnya mengetahui, hukum kontrak bersifat universal. Di dalamnya, terkandung satu prinsip, janji lebih kuat daya ikatnya dari undang-undang.Tapi, kata dia lagi, daya mengikatnya hanya berlaku bagi mereka yang membuat perjanjian saja. Semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya.Dilanjutkannya, dalam hukum adat batak, ada sebuah umpasa “Togu urat ni bulu, toguan urat ni padang. Togu na nidok ni uhum, toguan na ni dok ni padan”.
Artinya, kata Martua, ikrar (padan) bagi orang batak, tidak hanya berlaku bagi mereka yang membuat padan itu saja, tapi secara turun temurun.
Makanya, sebut Martua, kita sering mendengar dan menemukan, adanya pantangan atau tabu tertentu, serta ikatan tertentu bagi satu marga dengan marga lain. Juga, sesama satu rumpun marga tertentu untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu.
Bahkan, lanjutnya “pinompar” (keturunan) dari orang yang membuat padan tersebut, hingga hari ini masih menghormati dan tidak berani melanggar padan itu. Alasannya, antara lain, takut akibat pelanggaran yang dilakukan.
Dalam hal ini, keistimewaan padan atau janji dari orang Batak bukan hanya bersifat legalistik, tetapi juga bersifat magis.
Bicara tentang budaya Batak dulu dan sekarang, cenderung diklaim sebagai kekeliruan (haliluon).
Sejatinya, kebebasan berpikir tanpa terikat satu doktrin, akan menguraikan nilai budaya Batak secara total, semampunya berdasarkan pemahaman yang utuh tanpa dilatari kepentingan golongan tertentu.

Dari beberapa sumber

Tata Cara Pelaksanaan adat Batak (10)

Tentang pengucapan Umpasa;

a) Kalau kita hendak mengucapkan umpasa terlebih dahulu dikatakan:”Sai dilehon Tuhanta pardenggan basa i ma di hamu songon nani dokni umpasa on,”
b) Siapa yang layak mengucapakan umpasa Pasu-pasu?
Biasanya dahuu hanya pihak hula-hula yang mengucapkan umpasa pasu-pasu kepada parboruonnya, orang tua kepada anak-anaknya, abangan kepada adik-adiknya, jadi tidak boleh pihak boru mengucapkan umpasa pasu-pasu kepada hula-hulanya. Tetapi kalau keadaan sangat perlu boleh saja asalkan didahului dengan ucapan sbb:”Santabi di hula-hula nami, ndada na naeng mamasumasu hami rajanami ia hudok pe angka umpasa annon songon tangiang pangidoan nami doi tu Tuhanta,”.
(artinya: Maaf kan kami Hulahula kami, tidak ada maksud kami untuk mamasu-masu raja kami, kalaupun ada kata umpasa yang saya tuturkan itu adalh sebagai do’a memohon kepada Tuhan adanya). Setelah itu diucapakn umpasa tersebut.
Tetapi didalam pangampuan tidak perlu mengatakan sesuatu permohonan maaf untuk mengucapakna umpasa pasu-pasu seperti:
• Tur-tur ma inna anduhur, tio ninna lote
Angka pasupasumuna i sai unang muba unang mose.“
c) Selayaknya pengucapan umpasa harus teratur .Kalau banyak umpasa yang akan diucapkan, harus dijaga keterarturan dalam pengutaraannya jangan diucapkanumpasa seperti:
• Andor hadupang togutogu ni lombu;
Sai sarimatua ma hamu sahat tuna mangiringngiring pahompu.
Setelah itu dilanjutkan pula dengan umpasa :
• Giringgiring gostagosta;
Sai tibu ma hamu mangiringngiring jala mangompaompa,
Urutan umpasa dalam pengucapan tidak tepat lagi.Sebaiknya seperti yang tertera dibawah ini:
1-Umpasa untuk harapan agara kokoh dan rukun rumah tangga sbb:
• Bagot na mararirang ditoruna panggongonan,
Badan muna ma na so ra sirang, tondimuna masigonggoman.
2- Umpasa untuk keturunan yang banyak (hagabeon):
• Bintang ma na rumiris tu ombun na sumorop;
Anak pe dihamu sai riris, boru pe antong torop.
3- Umpasa agar mempunyai harta/kekayaan (Maradong):
• Urat ni nangka ma tuurat ni hotang;
Batudia pe hamu malangalangka, ba sai disi ma hamu dapotan.
4- Umpasa agar selalu Tuhan bersama mereka :
• Eme sitambatua parlinggoman ni soorok;
Dilehon Tuhanta ma di hamu tua jala sai hotma hamu diparorot.
5- Umpasa Penutup:
• Sahatsahat ni solu sahat ma tu bontean;
Sahat ma hamu leleng mangolu,
Sahat tu parhorasan dohut tu panggabean.

d- Sering juga diucapkan kepada pihak hulahula kata permintaan:
”Sai manumpak ma tondi muna, manuai sahalamu dihami parboruon muna“.
Kalimat ini dahulu adalah sesuatu permintaan yang sering diajukan kepada pihak hulahula kerna dahulu ada perumpamman bahwa hulahula adalag tuhan yang nampak. Tetapi sekarang setelah orang batak sudah mengenal Agama dan Tuhan Yang satu maka kata permintaan tersebut diatas tidak dipergunakan lagi,tetapi tidak secara keseluruhan dihapus ada sebagian yang ditiadakan dan diganti sesuai dengan perkembangan orang batak yang sudah mengenal Tuhan,Tuhan sajalah yang berhak memberi „Tua“. Adapun kata permintaan pada pihak hulahula diucapkan sebagai berikut:
„ Sai manumpak ma tondimu manuai sahalamu marhite tangiangmuna mangido pasupasu sian Tuhanta dihami parboruon muna“

e- Jangan terlalu mengotot.
Sewaktu membicarakan mahar/beli (sinamot), parjambaran serta yang berkaitan dengan acara tersebut sering ada yang terlalu mengotot untuk mempertahankan kehendaknya atau kebolehannya (nabinotona) atau yang sering dilakukan didaerahnya. Sekarang hal seperti itu tidak lagi pantas dilakukan. Ini yang perlu diingat:
a- Saling mencintai dan menyayangi yang harus ditonjolkan ini sebagai dasar adat yang baik.
b- Sekerang tidak ada lagi yang menguasai/ mengerti dengan pas mengenai adat secara 100 %, oleh karenanya alangkah baiknya saling pengertian.
c- Jadi kebiasaan dimana dilaksanakan acara (pesta) dilaksanakan:“ Solup na didapot do, parsuhathonon.”

f- Haruslah kita ingat pada pesan-pesan”Dalihan Na Tolu” dari orang-orang tua kita yang terdahulu.yaitu:
a. Hati-hati sesama semarga, “Manat mardongan tubu”
b. Lemah lembut pada pihak boru;”Elek Marboru,” serta
c.. Sujud pada pihak hulahula “Somba marhulahula”
d. Juga harus sopan berbicara, dan jangan terlalu rakus (hisabhu) pada makanan yang disajikan. Sehubungan dengan pesan dan petuah-petuah dari orang-orang tua dahulu adalah:
1) Pangkuling hasesega, papangan hasisirang.“
2) Ndada ala ni godangna umbahen na didapothon, ndada ala ni otikna umbahen na tininggalhon.
3) Hata mamunjung hata lalaen,hata torop sabungan ni hata.
4) Tuat siputi, nangkok sideak.
5) Ia i na umuli, i ma tapareak’
6) Niarit lili mambahen pambaba
7) Jolo nidilat bibir asa nidok hata.
g-Yang perlu diingat pada penyampaian atau mengucapkan tudutudu ni sipanganon,atau sewaktu penyampaian( acara) Upa-upa.:
Sewaktu penyampaian Tudutudu ni sipanganon dan upaupa harus dipegang tepi piring (pinggan) oleh kedua belah pihak baik si pemberi maupun sipenerima

h- Berdoa:
Kalau kita dari pihak hasuhutan (tuan rumah) jangan lupa memulainya dengan berdoa agar hajat kita terlaksana dengan baik dan diselalu dilindungi oleh Tuhan Yang Maha Kuasa.

Filsafat Batak disetiap pekerjaan Adat Batak:

1- Filsafat tentang “Juhut ni boru” : Mengikuti adat Batak “Hosa do alini hosa” artinya kalau kita mengambil yang bernyawa maka kita akan mengembalikan dengan yang bernyawa pula. Jadi kalau kawin anak kita laki-laki maka dia akan meminang anak perempuan dari marga lain (kalau menurut hukum diatas maka
akan diganti pula dengan orang) tetapi itu mustahil maka digantilah dengan hewan (Kerbau, lembu atau kambing dan bagi yang beragama Keristen Babi), jadi hewan itu menjadi ganti tubuh/daging dari anak perempuan yang kita ambil (lamar).Karena itulah dinamakan “ mangan juhut ni boru, dan itupula sebabnya siwanita tersebut tidak boleh memakan daging tadi, begitu juga pihak laki-laki tidak ikut sebagai parjambar.
2- Filsafat tentang “Hagabeon,Hasangapon,Hamoraon”:

Ada tiga nasihat/ pesan yang harus diingat masyarakat Batak, sehubungan dengan Dalihan Natolu yaitu
I- Manat mardongan tubu: artinya kalau kita ingin dihormati, maka hendaknyalah kita hati-hati, maksudnya panggillah Bapak (amang) kepada tingkatan Bapak (sai paramaon), Abang (hahang) kepada tingkat abang (parhahaon), Adik (anggia) kepada tingkat adik (si paranggion). Jangan selalu memposisikan diri kepada yang tidak patut, meskipun kita sudah kaya atau berpangkat, seperti dalam suatu acara meskipun kita sebagai haha partubu kalau masih ada didalam acara itu tingkatan Bapak (Bapak Uda), maka sepantasnya-lah kita harus mendahulukan beliau untuk berbicara (pajolohon).
II- Somba marhula-hula artinya: kalau kita hendak bahagia atau mempunyai anak cucu yang banyak dan baik (gabe), maka hormatlah marhula-hula (prinsip ini samapai sekarang masih tetap dijalankan orang batak). Pada Zaman dahulu orang batak beranggapan bahwa ditangan Hula-hula itulah hagabean.
III- Elek ma Boru, artinya: kalau mau kaya (mamora), lemah lembutlah pada boru, maksudnya: Jangan sekali-kali boru (hela) seenaknya saja menyuruh seperti menyuruh anak-anak atau dipaksa disetiap/ sembarang waktu dan dalam segala hal. Ataupun dibentak sesuka hati, hal itu tidak diperbolehkan untuk dilakukan. Yang seharusnya adalah harus kita membujuk dengan kata-kata yang menyejukkan untuk menyuruhnya. Kalaupun pihak boru menolak karena sesuatu hal dapat diterima akal jangan marah dan mengeluarkan kata-kata yang tidak senonoh. Kalu kita elek marboru bagaimanapun pihak boru tidak akan tega sampai hati menolak kita, dan boru tidak akan membiarkan kita susah, dan kita sebagai pihak hula-hula selalu diposisikan di tempat yang terhormat. Inilah yang dinamakan kekayaan yang sebenarnya.
bersambung—11

Tata Cara Pelaksanaan adat Batak (9)

Tata cara Berbicara (Ruhut-ruhut ni Pangkataion) :


1- Sebaiknya ditentukan lebih dahulu siapa juru bicara (parhata), agar dapat dia mengatur waktunya dan dipersiapkan apa yang akan dibicarakannya, karena kesiapan sangat menentukan kesuksesan pembicaraan. Biasanya parjambaran yang berbicara atas dasar kesepakatan.
2- Setiap akan berbicara sebaiknya berdiri apabila yang dalam acara tersebut lebih dari 30 orang (torop), dan suaranya seharusnya kuat agar semua dapat mendengar.
3- Sebaiknya bentuk kalaimat yang akan diucapkan sebaiknya dalam ketulusan, wajar dan dalam suasana kekeluargaan. Jangan ada dalam pembicaraan kita unsur-unsur negatif, seperti kasar, marah,mengkritik,juga humor ynag dapat menyinggung perasaan.
4- Berbicara jangan terlalu panjang, kata-kata jangan diulang-ulang, tidak terarah, menjaga waktu.
5- Apabila ada yang mengatakan hal yang tidak benar seharusnya diperbaiki dengan keramah tamahan dan lembut.
6- Bila mempergunakan Umpama, cukup 1 atau dua umpama, Dan sebaiknya umpama atau umpasa, diucapakan sesuai dengan aslinya, jangan dirobah .
7- Jangan sampai terjadi, yang pantas berbicara atau yang layak menerima Jambar hata (Yan pantas berbicara) tidak berbicara. Lebih baik singkat dari pada kurang.
8- Bila kebetulan ada seseorang yang terkemuka hadir dalam acara tersebut (Punguan), yang terpandang kedudukannya dimasyarakat atau dalam hal kepintaran dan pengalaman sebaiknya diusahakan agar diberi kesempatan berbicara.
9- Sebelum acara ditutup atau paampuhon tu suhut (Acara ditutup oleh pihak yang mempunyai hajat (Hasuhutan). Kalau masih ada waktu sebaiknya ditawarkan juga pada orang yang ingin berbicara..
Yang perlu diperhatikan:

1-Tentang Raja Parhata (Juru bicara):
Dalam semua acara Adat yang besar seperti (marhata sinamot, marunjuk, mangadaton/ mangadati, mangopoi jabu, mamestahon tambak ni ompu) dll, selalu ada juru bicara/ pande hata dari yang punya acara(hasuhutan), rapat yang singkat dengan sabutuhanya untuk menetapkan siapa diantara mereka yang memimpin acara (raja parhata) dalam rapat tersebut kurang lebih begini dialoknya:
Protokol pihak punya hajat memulai:
” Hamu angka haha doli dohot anggidolinami, ia dihita pomparanni ompu…… nunga tahasomalhon, molo masa dihita pomparan ni omputa paitonga ulaon songon na taadopi sadarion, ba hamu hahadoli manang anggidoli ma gabe raja parhata. Nuaengpe, ba mardos ni tahi ma hamu hahadoli dohot anggidolinami manang na ise bahenon muna na gabe raja parhata sian hamu. Botima.”
(artinya: Kalian Haha doli dan Anggi doli kami, kita sudah membiasakan kalau ada pesta, seperti yang kita hadapi sekarang, maka salah satu dari Haha doli atau Anggi doli yang menjadi juru bicara/ raja parhata , botima)
Jawaban dari pihak hahadoli:
”ido tutu anggi doli,toho do na nidokmi, jadi ala hami do na baruon gabe raja parhata di ulaon muna parpudi, ba ianggo sadarion sian anggi dolita ma na gabe raja parhata, botima.”
(artinya: Benar itu Anggi doli apa yang engkau katakan, tetapi karena kami dahulu yang menjadi raja parhat pada pesta mu, maka sekarang giliran Anggi doli kitalah yang menjadi raja parhata, botima)
Jawaban dari pihak anggidoli:
”tutu doi, haha doli na nidok munai. Ba hami pe atong ndada manjua disi, rade do hami nagabe raja parhata.”
(artinya: Benar itu Haha doli apa yang kau katakan itu, kamipun tidak menolak untuk menjadi raja parhata)
(setelah itu menghadaplah dia pada kumpulan saompunya lalu dia mengutarakan penawaran tersebut) Nunga sude hita mambege hatai.Jadi nuaeng, ba ise ma sian hita na gabe parhata?.: biasanya yang terpilih adalah yang pandai berbicara )
2- Umpama serta Umpasa.:
Bagi Orang Batak sangatlah penting Umpama dan Umpasa tersebut disetiap acara-acara adat, terutama sewaktu acara formal dlm permufakatan.(marhata-sidenggandenggan).
Karena didalam pembicaraan tersebut sangatlah diutamakan kasih sayang tanpa menyinggung perasaan dari pihak manapun karena didalam umpama dan umpasa penuh dengan unsur-unsur kesopanann dan perumpamaan yang sangat indah dan sangat mudah dimengerti semua pihak makna yang dikandung perumpamaan dan umpasa tersebut. Dan meninggalkan kesan bagi yang mendengarnya. Misalnya untuk menasihati seseorang:
„Ua jolo tangkas ma pingkiri hata sidohononmu”, itu sebenarnya sudah baik tetapi lebih tepat dn berkesan kalau diucapkan ditambah dengan umpama:“
• Niarit lili bahen pambaba,
• Jolo nidilat bibir asa nidok hata;
Begitu juga kalau menunjukkan kebenaran suatu perbuatan misalnya:’Ikon patut do tongtong pasangapon jala oloan hulahula“, dan lebih berkesan kalau dimtambah dengan umpasa yang telah dibuat oleh orangtua dahuli sebagai berikut:
• Lata pe na lata, duhutduhut do sibutbuton,
• Hata pe nahata, pangidoan ni hulahula do situruton.
Dibawah ini disertakan beberapa contoh-contoh yang berkaitan dengan umpama serta Umpasa sebagai berikut:
1- mengenai guna Adat dengan Hukum nya:
• Sinuan bulu, sibahen na las,
• Sinuat adat dohot uhum, sibahen na horas;
2- Mengenai kewajiban mengikuti Adat:
• Omputa raja di jolo martungkot sialagurdi,
• Angka nauli tinonahon ni angka omputa parjolo, siihutonon nihita parpudi
3- Maengenai kepatuhan pada Raja dan menghormati Hulahula:
• Barisbaris ni gaja dirura pangaloan,
• Molo marsuru raja daedo so oloan.
• Dijolo raja aipareahan,
• Dipudi sipaimaon
4- Mengenai Janji (padan)
• Habang ambaroba, paihutihut rura,
• Padan naung nidok, ndang jadi mubauba.
5- Mengenai Harta warisan (arta Teantanan):
• Niarit tarugi porapora,
• Molo tinean uli, ingkon teanon do dohot gora.
6- Mengenai Piutang dan Utang:
• Jolo binarbardo sumban, asa binarbar pardingdingan,
• Jolo ginarar do utang, asa tinumggu parsingiran.
• Molo mauas haluang,laho ma tu dangirdangir,
• Molo nunga diudean parutang, ndang margogo be parsingir;
7- Mengenai Rumah tangga:
• Butarbutar mataktak, butarbutar maningkii,
• Molo mate hahana, anggina ma maningkii;
• Ndang boi dua pungga saihot ( maksudnya tidak bisa dikawini dua laki-laki yang satu bapa satu ibu perempuan sebapa seibu)
• Ansuan sisadasada, pago di panguaan,
• Sisamudar sisamarga, tongka masibuatan.
• Sidangka ni arirang,
• Na so tupa sirang.
8- Mengenai permusuhan:
• Ndang boi bingkas bodil so jolo sampak aek.
( maksudnya: kalau tidak ada sebab)
• Pisang na marsantung ndang tabaon.
(maksudnya: Orang yang telah bersembah/bersujud dan menyerah tidak boleh dibunuh. Begitujuga halnya marboruboru yang sedang hamil, tidak boleh dibunuh).
9- Mengenai hukum(Uhum):
• Panggu maniktihi, hudali mangula saba;
Molo baoa do magigi (ndiniolina), ba simago ugasanna.
• Sidangka sidangkua, tu dangka ni singgolom,
Na sada gabe dua natolu gabe onom, utang ni sipahilolong.
• Sineat niraut, gambiri tat daonna.
(Maksudnya: kalau ada orang menghina temannya serta ada niat berdamai/minta maaf , harus memotong hewan untuk dimakan oleh yang dihina beserta raja dan teman sekampung.)
• Pat ni lote tu pat ni satua;
Sai mago do pangose, mamora na niuba
• Na tartolon jabu, anak ni manuk daonna.
(maksudanya: tartolon jabu = kesasar dia memilih tempat tidurnya, sehingga pergi ketempat tiduk adik perempuannya (isteri adiknya) atau ipar (isteri saudara laki dari isterinya), masalah ini dahulu sering trejadi karena rumah zaman dahulu tidak mempunyai kamar-kamar. Malahan dalam satu rumah ada samapai 5 rumah tangga bahkan lebih. Dan Lampu pada malam hari dipadamkan. Jadi jangan sampai terjadi perkelahian diantara yang bersaudara maka harus mengakui kesalahan (ma na tolon jabu) dengan memotong hewan (Ayam) untuk dimakan seisi rumah.
• Hinurpas batu, sinigat oma;
Molo ro tuhas, gana ma daonna.
10- Memberi Nasihat :
• Molo litok aek ditoruan, tingkiron ma tu julu.
• Unang songon taganing marguru tu anakna.
• Tiniptip sanggar bahen huruhuruan;
Jolo siningkun marga asa binoto partuturan
(bersambung ….10)

Adakah Hubungan Budaya Batak dengan budaya India ??? ..(1)

Pada masa lalu, orang-orang India masuk ke Tanah Batak melalui kota Barus (Baros) dan Tapanuli Selatan yang pada waktu itu merupakan kota perniagaan yang sangat penting dalam perdagangan gading badak, gading gajah, kapur barus, kemenyan, emas. Untuk memperlancar dan mempermudah penyaluran barang-barang dagangan ke luar negeri, mereka membentuk kongsi perdagangan (Gilde) dan sekaligus mendirikan sebuah perkampungan di daerah Barus. Orangorang India Selatan ini pada umumnya datang dari daerah Cola, Pandya, Malayalam. Mereka berasal dari keturunan orang Tamil yang kemudian hari tinggal menetap di Barus dan Kalasan. Sebagian dari orang-orang India Tamil ini masuk ke daerah pedalaman Tapanuli dan melakukan kontak dengan penduduk yang ada di sana. Mungkin karena putus hubungan dengan tanah airnya India, mereka berasimilasi ke dalam suku bangsa Batak. Dapat dipastikan, bahwa sebagian dari marga Sembiring adalah keturunan mereka; teristimewa yang namanama marganya menunjukkan asalnya yaitu: Colia, Pandia, Pelawi, Meliala, Brahmana, dan Keling.
Interaksi yang cukup lama antara orang India dengan orang Batak mengakibatkan terjadinya percampuran kebiasaan sehingga kebiasaan yang satu saling mempengaruhi kebiasaan yang lain. Di tanah Batak misalnya akibat pengaruh orang India beberapa perubahan-perubahan terdapat dalam kehidupan orang Batak seperti:

1. Aksara Batak adalah adaptasi dari tulisan India.Kemungkinan langsung ditiru dari orang India di Barus,mungkin juga dari aksara Jawa Kuno di Tapanuli Selatan.
Aksara Jawa Kuno sendiri ditiru dari aksara India;
Aksara India Benggala dan India Brahmi (Asoka)

Aksara dari Suku Batak:

Akasara Jawa :

2. Astrologi (perbintangan);
3. Beberapa alat berguna tentang pertanian, pertenunan, kesenian;
4. Permainan catur;
5. Kesusastraan berupa kata-kata atau istilah-istilah Sansekerta (India), dan bahkan
6. Kepercayaan-kepercayaan.

Pengaruh orang India di tanah Batak juga dapat dilihat melalui Candi Portibi yang ada di Padang Lawas (Tapanuli Selatan) sebagai salah satu saksi sejarah bekas peninggalan orang India (Hindu) di Tanah Batak. Di samping itu, pengaruh orang India juga telah sampai ke Balige (Toba-Samosir). Kata ‘Balige’ berasal dari perkataan ‘Baligeraja’ yang berasal dari kata dalam bahasa India ‘Mahligairaja’. Di pedalaman kota Balige tepatnya di desa Sibodiala masih terdapat bekas
tiang-tiang dari batu yang oleh penduduk dinamai ‘Sombaon Sibasiha’ (Keramat Tiang), yang merupakan bekas tiang-tiang candi Mahligairaja yang beralih menjadi ‘Balige raja’ lalu menjadi ‘Balige’.
Kuatnya pengaruh India di tanah Batak sampai membuat orang Batak kabur di dalam membedakan mana kebudayaan orang Batak asli dan mana yang diserap dari orang India. Memang, masuknya orang India ke tanah Batak tidak menggantikan agama Batak animisme (Batak Parmalim) menjadi agama Hindu. Tetapi banyak istilah dan tokoh kepercayaan orang India meresap masuk dan disembah dalam kepercayaan Batak (bahkan sampai sekarang). Misalnya dewa Batara Guru, dewa Soripada (jadi Balasori), dewa Mangalabulan, dewa Naga (jadi Nagapadoha), dewa Pani (ingat: Pane na Bolon), dan lain-lain yang merupakan tokoh dewa-dewa orang India yang meresap ke dalam kepercayaan orang Batak.
Sebutan Debata sebenarnya berasal dari kata Sansekerta (India) yaitu ‘Dewata’ yang berarti ‘dewa’ (= jamak). Lebih jelasnya baca buku karangan N. Siahaan, B.A. yang berjudul Sejarah Kebudayaan Batak (Terlampir sebagian dari Buku dimaksud di hal. 31). Kata atau istilah Debata berasal dari bahasa Sansekerta (India) yang mengalami penyesuaian dialek Batak. Karena dalam dialek Batak tidak mengenal huruf c, y,dan w sehingga dewata berubah menjadi Debata atau nama Charles dipanggil Sarles, hancit (sakit) dipanggil menjadi hansit.
Setiap kata atau istilah Sansekerta yang memiliki huruf w, kalau masuk ke dalam Bahasa Batak akan diganti menjadi huruf b,atau huruf yang lain.
Istilah-istilah Sansekerta yang diserap dalam bahasa Batak:


*Perhatikan huruf yang dicetak tebal

Dari contoh-contoh di atas, dapat dilihat bahwa huruf w dalam bahasa Sansekerta (India) kalau diserap ke dalam bahasa Batak akan berganti menjadi huruf b atau huruf-huruf lainnya, karena faktor pengucapan (lafal). Ini menjelaskan bahwa kata ‘Dewata’ dalam bahasa Sansekerta setelah diserap ke dalam bahasa Batak berganti menjadi Debata. Dewata inilah yang mem-‘bunglon’ ke dalam bahasa Simalungun menjadi ‘Naibata’ dan di daerah Karo menjadi ‘Dibata’ yang artinya tetap sama = ‘dewa’.

Bersambung…..

TATA CARA PELAKSANAAN ADAT BATAK (2)

Pendahuluan

Harian Kompas pada tanggal 19 Oktober 2000 dengan tulisan seorang warga negara dari salah satu tetangga dekat Sumatera bernama Prof.Bilver Sing yang menetap di Australia sebagai staff Pusat studi Pertahanan dan strategi di Australia National University mengatakan dengan tegas “bahwa ditinjau dari segi Politik, Hukum, Sosial dan Ekonomi dan Budaya sebenarnya negara Indonesia sudah hancur!”

Sungguh tepat apa yang dikatakan pepatah “Semut dipelopak mata tak nampak, Gajah diseberang lautan kelihatan. Apa yang terjadi diluar dari Nusantara sungguh cepat kelihatan dan diketahui bahkan di adopsi, sedangkan bagaimana dan apa yang terjadi di sekitar sendiri tidak diperdulikan, apakah baik atau buruk, turun atau naik, hilang atau berkembang ini tidak menjadi pusat perhatian putra-putra Indonesia yang berpendidikan, apakah dia jebolan universitas ternama di Indonesia atau produk university-university made in Amerika, Inggeris , Jerman, atau eropah lainnya. Yang jelas mereka tidak begitu berminat untuk pembenahan yang nuansa kemasyarakatan atau Budaya Tradisional, pada umumnya mereka berorientasi pada Kekayaan atau kemewahan.

Alangkah aibnya kita bangsa Indonesia dengan penilaian seorang Ilmuawan Asia, apakah pernyataan beliau sebagai tegoran kepada rekan-rekannya Ilmuawan atau sekedar sindiran bagi kaum intelektual Indonesia yang hanya dapat memandang Gajah diseberang lautan. Namu demikian masih cukup banyak anak bangsa Indonesia menyadari keadaan yang melanda bangsa ini.

Kalau ditinjau dari pokok penilaian Bilver yaitu “Politik,Hukum,sosial,ekonomi dan Budaya”, tidak lain menunjukkan kebobrokan Moral yang sangat pada Bangsa Indonesia, yang notabene berlandaskan Pancasila dan asas National spritual, dengan Agama Islam mayoritas diatas 80 0/0 dari jumlah penduduk Indonesia. Apa yang terjadi sebenarnya pada bangsa ini. Apakah masih kita tuding dengan Arus Globalisasi, apa dengan seiring dengan Eforia demokrasi dan reformasi muncul ekses negatif yang menyertainya antara lain kegiatan melecehkan Pancasila dan UUD 1945 baik berupa tulisan di koran-koran, maupun di seminar atau ceramah.Kalau itu masalahnya, maka sama dengan mencoba mengaburkan bahkan menghilangkan Jati diri Bangsa, yang juga merembes kesetiap sendi-sendi masyarakat Indonesia termasuk pada budaya suku-suku yang begitu banyak jumlahnya di bumi Nusantara.

Dan yang sangat memprihatinkan terjadinya gentok-gentokan bahkan mengorban-kan nyawa sesama suku tapi berbeda keyakinan, karena tidak menghayati makna budaya yang ditanamkam leluhur mereka. Yang sangat menonjol pada suku Batak khususnya dansuku-suku di sumatera umumnya adalah dapatnya rukun serta toleran dengan menetrapkan prinsip-prinsip budaya didalam bermasyarakat disetiap suku meskipun berbeda agama. Masalah yang pokok adalah harus kita menyadari dengan dasar apa terbentuknya Republik ini, meskipun pada saat pendeklarasian republik ini mayoritas beragama Islam namun dengan kesadaran yang tinggi para tokoh-tokoh Islam pada saat itu dapat menerima setiap usul kelompok-kelompok minoritas (Nasrani, maluku, Banten, Batak dan lain-lainnya). Oleh karena itu budaya pada setiap suku pada negara kita yang plurastik ini sebenarnya sangat berperan dalam membentuk moral dan kestabilan , disamping faktor-faktor lain.

Seiring dengan masalah itu, maka penyusun berpendapat perlu disusun kembali pada sebuah buku sebagai salah satu penuntun mencari dan mengembalikan Jati diri utamanya bagi suku Batak. Penilaian Bilver terhadap Indonesia, harus dapat menjadi pendorong pembenahan kembali bangsa ini, sebelum terlanjur Total kehancurannya. Tidak ada istilah terlambat, itulah prinsip penyusun Buku ini, atau lebih baik terlambat daripada masa bodoh. Meskipun penyusun tidak dilatar belakangi Ilmu khusus tentang Bataklogi, namun berlandaskan kesadaran dan keyakinan serta keprihatinan, penyusun mencoba mebolak balik lembaran-lembaran halaman Buku dari perpustakaan.

Tidak ada maksud penyusun untuk berpretensi menonjolkan diri ataupun pembenaran mutlak akan isi Buku ini, hanya ingin menggugah para intelektual yang berwawasan luas tentang ke Batakan mau menyisihkan sebagian waktunya menggali kembali jati diri bangsa khususnya Intelektual Batak yang cukup berprestasi. Tolong sapa dan ingatkan penyusun kalau ada kesalah disana sini tetapi jangan saya tegor karena elat dan late , ini bukan membangun, kalau tidak benar katakan dimana yang tidak benar dan tunjuki penyusun demi kebaikan bersama kita orang Batak . Tidak ada Gading yang tidak retak, tidak ada manusia yang lepas dari kesalahan dan kekhilafan atau dengan kata lai tidak ada manusia yang sempurna..

Kritik hanya bisa berlaku apabila ada objek yang dikritik. Jadi buku ini terbuka untuk dikritik demi kesempurnaan dalam rangka menemukan jati diri suku Batak.

Buku ini dimulai dengan sejarah Batak, dan sedikit silsilah Batak hingga empat genarasi, kemudian kepercayaan nenek moyang Batak, serta beberapa budaya Batak yang boleh dikatakan menonjol, dan bebarapa tata acara Adat lengkap dengan dialok-dialoknya.

Dalam hal dialok upacara Adat dalam buku ini, tidaklah menjadi keharusan sama dengan dalam buku ini, namun bisa menjadi pedoman atau gambaran semata,tergantung situasi dan kondisi upacara diadakan.

Mauliate

Penyusun:

DAFTAR ISI ADAT BATAK

 

  1. Pendahuluan hal -1
  2. Daftar isi —————————————————–
  3. Bab.I- Sekilas sejarah Suku Batak ———————

clip_image001Siapakah orang Batak ? ————————————

clip_image001Sebelas dari sub etnis Batak adalah: hal——————

  1. Bab-II-Kepercayaan atau Agama Leluhur Batak

clip_image001Legenda Suku Batak ————————————–

clip_image001Silsilah ——————————————————-

  1. Baba.III – Kemelut melanda suku Batak ———–
  2. Bab. IV.Kebudayaan Batak – —————————

clip_image001Adat ———————————————————–

clip_image001Gondang sabangunan —————————————

clip_image001Seni tari ——————————————————

clip_image001Astronomi,Alamanak Pertanggalan ———————-

clip_image001Nama Bulan

clip_image001Nama Hari

clip_image001Pembagian waktu dalam sehari

clip_image001Mata Angin

clip_image001Aksara / Alfabet

clip_image001Seni bangunan

clip_image001Seni Tenun

Bab. V- Adat Batak –Dalihan Na tolu

  1. Kekerabatan/ Partuturan :-38
  2. Implementasi (penerapan) Dalihan Na tolu:-45
  3. Alaman- 45
  4. Sipanganon -46
  5. Parhtaan – 48
  6. Umpama / umpasa- 48
  7. Ulos-49
  8. Filsafat tentang mangulosi.-50
  9. Makna atau arti Ulos -51
  10. Aturan-aturan tentang pemberian ulos – 54
  11. Tata cara pemberian ulos -55
  12. Pemberian ulos kepada anak yangbaru lahir:-55

 

  1. Ulos pada upacara kematian -58
  2. Memberi Ulos Panggabei:-60
  3. Beras (sipir Ni tondi) :-60
  4. Bab. VI- Tata Cara Adat– 61
  5. Tata cara Berbicara (Ruhut-ruhut ni Pangkataion) :-61
  6. Yang perlu diperhatikan:-61
  7. Tentang pengucapan Umpasa;- 64
  8. Filsafat Batak disetiap pekerjaan Adat Batak:-66
  9. Tata cara Perkawinan Dengan adapt Batak -67
  10. Membagi Tudutudu ni sipanganon:-72
  11. Membicarakan Mas Kawin ( Marhata Sinamot):-74
  12. Tata cara Marhata sinamot, – 85
  13. Manikir Lobu:-88
  14. Tonggo raja:-89
  15. Panganon sibuahabuhai:-93
  16. Pesta unjuk – 94
  17. Manulangi- 95
  18. Membagi Jambar-96
  19. Mangulosi -100
  20. Marhata sigabe-gabe- 103
  21. Kelahiran/Melahirkan Anak Pertama -106
  22. Penabalan Marga pada orang yang bukan orang Batak-115
  23. LARI KAWIN-121

Bab I.

Sekila sejarah Suku Batak

Menurut kepercayaan Batak, Pusuk Buhit adalah asal muasal suku Batak, yang kemudian berpencara kesekitar nya hingga ke Aceh, karena tidak memiliki bukti sejarah secara ilmiah maka dianggap sebgai suatu mitos yang disampaikan secara turun temurun. Ada beberapa versi tentang keberadaan suku Batak: menurut

Cunningham dalam bukunya “The postwar migration of the toba bataks to east sumatra”, mengatakan bahwa perpindahan orang Batak bersamaan dengan gelombang perpindahan besar-besaran bangsa Melayu Tua pada sekitar tahun 2000 sebelum masehi.

Sedangkan menurut Harahap dalam bukunya “Perihal Bangsa Batak” mengatakan bahwa nenek moyang orang batak berasal dari utara, yang berpindah kekepulauan Filipina dan berpindah lagi kesulawesiselatan, mereka kemudian berlayar kearah barat versama angin timur di sumatera selatan, disekitar lampung , setelah menyelusuri pantai barat mereka mendarat dipelabuhan Barus sekarang, lalu pindah ke pedalaman dan menetap dikaki gunung Pusuk Buhit ditepi pulau samosir, yang dianggap sebagai tempay asal usul ketutunan Batak, versi lain dari Harhap juga mengatakan :bahwa nenekmoyangBatak berasal dari Hindia muka (india), pindah ke Burma, lalu turun ketanah genting kera di utara Malaysia, dari sana berlayar kearah barat dan mendarat disalah satu atau beberapa tempat dipantai timur sumatera Utara seperti Tanjung Balai dan Batubara, dikabupaten Asahan, serta Pangkalan brandan atau Kuala simpang dikabupaten Aceh Timur, dari tempat-tempat inilah mereka masuk kepedalaman disekitar danau toba, dan ada sebagian menuju Pelabuhan Deli, lalu menyusuri sungai wampu kearah hulu samapai kepegunungan Karo, dan dari sana turun kepinggiran Danau Toba . Dan sebagian berlayar dari Malak menyusuri pantai barat sumatera arah ke utara lalu mendarat di pantai Barus dan Sibolga serta Tapong kanan singkil di Aceh Barat, terus masuk kepedalaman kabupaten Dairi, dan perjalanan dilanjutkan hingga Pusuk Buhit lalu menetap disana.

Namun berdasarkan sejarah yang umun diketahui bahwa si Raja Batak dan rombongannya datang dari Hindia belakang, akibat imigran besar-besaran akibat gejolak di India,diimana kerajan dari utara menyerang kerajaan yang ada diselatan India, kerajaan-kerajaan yang ditundukkan mengungsi kewilayah asia tenggara, terus ke Semenanjung Malaysia lalu menyeberang ke Sumatera dan menghuni Sianjur Mula Mula, lebih kurang 8 Km arah Barat Pangururan, pinggiran Danau Toba sekarang.Versi lain mengatakan, dari India melalui Barus atau dari Alas Gayo berkelana ke Selatan hingga bermukim di pinggir Danau Toba.

Diperkirakan Si Raja Batak hidup sekitar tahun 1200 (awal abad ke-13). Raja Sisingamangaraja XII salah satu keturunan si Raja Batak yang merupakan generasi ke-19 (wafat 1907), maka anaknya bernama si Raja Buntal adalah generasi ke-20. Batu bertulis (prasasti) di Portibi bertahun 1208 yang dibaca Prof. Nilakantisasri (Guru Besar Purbakala dari Madras, India) menjelaskan bahwa pada tahun 1024 kerajaan COLA dari India menyerang SRIWIJAYA yang menyebabkan bermukimnya 1.500 orang TAMIL di Barus. Pada tahun 1275 MOJOPAHIT menyerang Sriwijaya, hingga menguasai daerah Pane, Haru, Padang Lawas. Sekitar rahun 1.400 kerajaan NAKUR berkuasa di sebelah timur Danau Toba, Tanah Karo dan sebagian Aceh.

Pengaruh Hindu terhadapa orang Batak sangat jelas kelihatan pada bentuk aksara Batak yang mirip tulisan Awalokitecwara (seperti aksara Jawa Hindu), dan juga mitos-mitos orang Batak.

Dengan memperhatikan tahun tahun dan kejadian di atas diperkirakan :

  • Si Raja Batak adalah seorang aktivis kerajaan dari Timur danau Toba (Simalungun sekarang), dari selatan danau Toba (Portibi) atau dari barat danau Toba (Barus) yang mengungsi ke pedalaman, akibat terjadi konflik dengan orang orang Tamil di Barus.
  • Akibat serangan Mojopahit ke Sriwijaya, Si Raja Batak yang ketika itu pejabat Sriwijaya yang ditempatkan di Portibi, Padang Lawas dan sebelah timur Danau Toba (Simalungun)

Sebutan Raja kepada si Raja Batak diberikan oleh keturunannya karena penghormatan, bukan karena rakyat menghamba kepadanya. Demikian halnya keturunan si Raja Batak seperti Si Raja Lontung, Si Raja Borbor, Si Raja Oloan dsb, meskipun tidak memiliki wilayah kerajaan dan rakyat yang diperintah. Selanjutnya menurut buku TAROMBO BORBOR MARSADA anak si Raja Batak ada 3 (tiga) orang yaitu : GURU TETEABULAN, RAJA ISUMBAON dan TOGA LAUT. Dari ketiga orang inilah dipercaya terbentuknya Marga Marga Batak.

clip_image003

SIAPAKAH ORANG BATAK? :

  1. Batak Toba (Tapanuli) : mendiami Kabupaten Toba Samosir, Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah mengunakan bahasa Batak Toba.
  2. Batak Simalungun : mendiami Kabupaten Simalungun, sebagian Deli Serdang, dan menggunakan bahasa Batak Simalungun.
  3. Batak Karo : mendiami Kabupaten Karo, Langkat dan sebagian Aceh dan menggunakan bahasa Batak Karo
  4. Batak Mandailing : mendiami Kabupaten Tapanuli Selatan, Wilayah Pakantan dan Muara Sipongi dan menggunakan bahasa Batak Mandailing
  5. Batak Pakpak : mendiami Kabupaten Dairi, dan Aceh Selatan dan menggunakan bahasa Pakpak.
Orang Batak terdiri dari 5 sub etnis yang secara geografis dibagi sbb:

Suku Nias yang mendiami Kabupaten Nias (Pulau Nias) mengatakan bahwa mereka bukanlah orang Batak karena nenek moyang mereka bukan berasal dari Tanah Batak. Namun demikian, Ada yang berpendapat dan berkeyakinan bahwa etnis Batak bukan hanya 5, akan tetapi sesungguhnya ada 11 [sebelas], ke 6 etnis batak tersebut adalah : 1. Batak Pesisir, 2. Batak Angkola, 3. Batak Padang lawas, 4.Batak Melayu, 5.Batak Nias, 6.Batak Alas Gayo.

Sebelas dari sub etnis Batak adalah:

1- Batak TOBA ,di- Kab.Tapanuli Utara, Tengah, Selatan

2- Batak SIMALUNGUN,di- Kab.Simalungun,sebelah Timur danau Toba

3- Batak KARO,di- Kab Karo, Langkat dan sebagian Aceh

4- Batak PAKPAK [Dairi],di- Kab Dairi dan Aceh Selatan

5- Batak MANDAILING,di- Wilayah Pakantan dan Muara Sipongi

6- Batak PASISIR,di- Pantai Barat antara Natal dan Singkil

7- Batak ANGKOLA,di- Wilayah Sipirok dan P. Sidempuan

8- Batak PADANGLAWAS ,di- Wil. Sibuhuan, A.Godang, Rambe, Harahap

9- Batak MELAYU,di- WiL Pesisir Timur Melayu

10- Batak NIAS,di- Kab/Pulau Nias dan sekitarnya

11- Batak ALAS GAYO,di- Aceh Selatan,Tenggara, Tengah

Yang disebut wilayah Tanah Batak atau Tano Batak ialah daerah hunian sekeliling Danau Toba, Sumatera Utara. Seandainya tidak mengikuti pembagian daerah oleh Belanda [politik devide et impera] seperti sekarang, Tanah Batak konon masih sampai di Aceh Selatan dan Aceh Tenggara.

BATAK ALAS GAYO

Beberapa lema/dialek di daerah Alas dan Gayo sangat mirip dengan lemah bahasa Batak. Demikian juga nama Si Alas dan Si Gayo ada dalam legenda dan tarombo Batak. Dalam Tarombo Bona Laklak [tarombo pohon Beringin] yang dilukis cukup indah oleh L.Sitio [1921] nama Si Jau Nias, dan Si Ujung Aceh muncul setara nama Sorimangaraja atau Si Raja Batak I. Disusul kemudian hadirnya Si Gayo dan Si Alas setara dengan Si Raja Siak Dibanua yang memperanakkan Sorimangaraja, kakek dari Si Raja Batak.

BATAK PAKPAK

Sebagian kecil orang Pakpak enggan disebut sebagai orang Batak karena sebutan MPU Bada tidak berkaitan dengan kata OMPU Bada dalam bahasa Batak. Kata MPU menurut etnis Pakpak setara dengan kata MPU yang berasal dari gelar di Jawa [MPU Sendok, MPU Gandring]. Tetapi bahasa Pakpak sangat mirip dengan bahasa Batak, demikian juga falsafah hidupnya.

BATAK KARO

Sub etnis ini juga bersikukuh tidak mau disebut sebagai kelompok etnis Batak. Menurut Prof Dr. Henry G Tarigan [IKIP Negeri Bandung] sudah ada 84 sebutan nama marga orang Karo. Itu sebabnya, orang Karo tidak sepenuhnya berasal dari etnis Batak, karena adanya pendatang kemudian yang bergabung, misalnya marga Colia, Pelawi, Brahmana dsb. Selama ini di Tanah Karo dikenal adanya MERGA SILIMA [5 Marga].

BATAK NIAS

Suku Nias yang mendiami Kabupaten Nias (Pulau Nias) mengatakan bahwa mereka bukanlah orang Batak karena nenek moyang mereka bukan berasal dari Tanah Batak, bukan dari Pusuk Buhit. Masuk akal karena secara geografis pulau Nias terleta agak terpencil di Samudera Indonesia, sebelah barat Sumatera Utara.Namun demikian, mereka mempunyai marga marga seperti halnya orang Batak.

Catatan:
Di antara masyarakat Batak ada yang mungkin setuju bahwa asal usul orang Batak dari negeri yang berbeda, tentu masih sangat masuk akal. Siapa yang bisa menyangkal bahwa Si Raja Batak, antara tahun 950-1250 Masehi muncul di Pusuk Buhit, adalah asli leluhur Orang Batak? Sejak jaman dahulu orang Batak memang perantau ulung. Di Sunatera Utara saja banyak orang Batak yang bermukim di daerah Asahan, Labuhan Batu Sumatera Utara, Dan yang lebih menyolok lagi adalah setelah Belanda membuka perkebunan-perkebunan di sumatera timur sedang di daerah Toba pada saat itu sangat kritis kondisi prekonomian. Mereka yang merantau kedaerah yang mayoritas memeluk Agama Islam banyak menghilangkan atau merobah marganya, karena daerah asalnya mayoritas memeluk keristen Seperti daerah Silindung dan Toba, contohnya: keturunan sibagot ni Pohan yang merantau ke Tapanuli selatan, mereka merobah marganya menjadi Marga Pohan sedang marganya di tempat asalnya adalah Siahaan, Simanjuntak atau Napitupulu dll, dan yang merantau kedaerah Asahan sama sekali mereka menyembunyikan marga mereka, dengan pertimbangan agar dapat diterima masyarakat setempat. Bahkan di daerah Langkat ditemukan penduduk bermarga seperti Gerning, Lambosa, Ujung Pinayungan, Berastempu,Sibayang, Kinayam, Merangin angin, dll yang konon merupakan kelompok marga Malau .Belakangan ini setelah berdirinya organisasi PBI ( Persatuan Batak Islam) secara lambat laun mereka menampakkan marga mereka.Untuk dapat Hidup apapun yang dilakukan bagi Orang Batak Perantau dimana Langit dijujung disitu adalah kampungnya, bagaimana cara akan dilakukan itulah tekad, mereka akan mudah beradaptasi.Pada zaman dahulu Agama monoteis agdalah agama yang tidak dikenal dan boleh dikatakan suatu hal yang baru. Yang menjadi pegangan bagi Orang Batak perantau pada masa itu adalah adat atau budaya jangan sampai hilang (mago)

Banyak literatur literatur tersimpan di Negeri Belanda yang mengungkap bagaimana sesungguhnya pluralisme di Nusantara. Namun dengan kacamata Nasional kita melihat bahwa Indonesia sangat kaya dengan adat dan budaya daerah, salah satunya adalah budaya Batak! Keaneka ragaman ini dipelajari oleh Belanda dengan cermat, sebagai alat melemahkan perjuangan dari kelompok suku atau etnis dan terakhir mengadu domba antar Agama dan antar suku. Ini dapat dilihat dengan membawa putra-putra suku bagian timur Indonesia yang beragama Kristen menyerang pejuang-pejuang bagian Barat Nusantara misalnya Aceh, Jawa dan sumatera, dan sebaliknya untuk melemahkan perjuangan orang-orang bagian timur mempergunakan putra-putra bagian Barat yang beragama Islam. Contoh yang nyata Untuk melemahkan perjuangan kaum Paderi Belandan mempergunakan putra-putra Batak sebagai pasukannya yang diperbantukan. Harus diakui keaneka ragaman mempunyai kelemahan sensitif akan suatu prinsip.

Dan yang harus diakui mengenai sejarah Suku Batak berbeda- beda disetiap Sub suku Batak, terutama dari sudut Mitosnya ataupun legenda-legendanya. Seperti di suku Batak simalungun, ada keyakinan dari orang simalungun bahwa mereka adalah keturunan Majapahit. Dan ada diantara suku Bangsa Batak, bahwa nenek moyang mereka mereka adalah dari India. Namun ini tidak perlu dipersoalkan yang benar adalah semua suku Batak berbudaya sama meskipun ada perbedaan disana sini, disebabkan perobahan jaman dengan masuknya agama-agama Monoteis kewilayah Batak. Dan hal itu sangat memungkinkan karena keberadaan Barus sebagai kota atau pelabuhan terbuka sejak zaman dahulu kala atau dengan kata lain sebelum masehi.

Perbedaan pandangan tentang Sejarah suku Batak menandakan keperdulian setiap orang Batak terhadap sukunya, dan ini adalah suatu kekayaan. Banyak Bukti-bukti sejarah yang membuktikan Barus sebagai wilayah kerajaan Batak menjadi persinggahan pedagang-pedagang baik dari Kerajaan-kerajaan di Nusantara maupun dari kerajaan-kerajaan dari luar untuk keperluan akan Damar atau Kapur Barus dan Kemenyan dan Hasil Bumi lainnya.

Kebesaran nama Barus mengundang dunia luar singgah, Bangsa Asing dari berbagai belahan bumi membuat suatu perobahan langsung atau tidak langsung bagi masyarakat sekitar Barus yang mayoritas suku Batak. Perobahan-perobahan tersebut berdampak positif bagai masyarakat Batak, baik dari segi pengetahuan tentang Alam, sosial dan Hukum.termasuk, tidak ketinggalan pedagang-pedagang dari India pada tahun 1088 berdasarkan Tiang bertulis dari Lobu tua dan juga pedagang dari Arab yang beragama Islam juga mengunjungi Barus untuk mendapatkan Damar. Jadi hampir boleh dikatakan Barus menjadi pusat budaya dan Agama.

clip_image005

Sejarah asal usul nenek moyang Si Raja Batak dari Pusuk Buhit

Bab II.

KEPERCAYAAN ATAU AGAMA LELUHUR BATAK:


Legenda Suku Batak

Agama atau Kepercayaan Orang Batak:

Orang Batak Percaya kepada adanya Tuhan Yang Maha Esa Yang disebut:”Ompu Mulajadi Nabolon”

Dia yang menjadikan apa-apa yang ada, dan tidak kawin dan tidak beranak, dan menjadikan sesuatu hanya dengan ucapan saja, dari tidak ada bisa dijadikan menjadi ada. Karena itu Mulajadi Nabolon disebut juga Ompu Raja Mulamula, Ompu Raja Mulajadi, menunjukkan Dialah permulaan dari yang tidak ada. (kutipan dari Pustaha Batak oleh WM.Hutagalung halaman.2)

Kepercayaan keagamaan Batak asli bertumpu pada kekuatan Roh yang dinamakan Tondi maupun hantu (begu), untuk berhubungan dengan Begu maka diperlukan media perantara yang berbnama Datu (dukun). Dengan Mantera yang dilantunkan seorang datu dapat berhubungan dan berkomunikasi dengan Roh dan begu.

Dan mengyakini bahwa Ompu Mulajadi Na Bolon menciptakan 7 (tujuh) lapis Langit, yang setiap langitnya dihuni oleh roh-roh yang telah mati sesuai dengan amal perbuatan-nya semasa hidup, adapun ketujuh lapis langit itu adalah sebagai berikut:

  1. Langit Pertama:

Dijadikan untuk tempat orang mngerjakan pekerjaan yang terbalik/bertentangan (suhar), Jadi setiap orang yang pekerjaannnya bertentangan (suhar) selama hidupnya maka dia akan di balikkan oleh Mulajadi Nabolon kepalanya kebawah dan kakinya keatas setalh dia mati tetapi itu begunya.

  1. Langit kedua :

Tempat orang-orang kerjanya semasa hidupnya adalah pencuri, dan apa yang dicuri selama hidupnya,akan selalu dipegangnya

  1. Langit Ketiga:

Tempat orang-orang yang suka menambah-nambah omongan (siganjang dila), disinilah tempat begunya, dan lidahnya akan ditarik oleh Mulajsdi Nabolon sampai 10 sampai 100 depa agar terseret-seret sewaktu berjalan.Inilah hukumannya bagi siganjang dila.

  1. Langit keempat :

Tempat orang bunuh diri dan orang yang selalu buat keributan semasa hidupnya, dan pada tempat ini mereka saling membuat keributan, dan bagi orang yang bunuh diri dia akan dipasung dengan besi pasung agar tidak dapat bergerak, oleh karena begu orang bunuh diri tidak dapat siar (nyusup kepada orang hidup).

  1. Langit kelima:

Adalah tempat bagi orang-orang suka menolong orang yang susah dan orang miskin. Nanti disana dia akan berkumpul dengan orang yang pernah dibantunya dan dia akan menerima balasan dari Mulajadi Nabolon berlipat ganda segala apa yang pernag yang baik dibuatnya kerna itu dikatakan orang Batak : “ Ia uli sinuan, uli do gotilon, ia duri sinuan duri do gotilon.”

  1. Langit keenam:

Disini Mula jadi Nabolom menanamkan segala suhatsuhat setiap manusia (menanamkan bentuk/ sifat ). Apabila baik suhatsuhat yang ditanamkan pada manusia di langit keenam (banua ginjang) maka orang itu akan memiliki suhasuhat baik pula di Benua Tonga (bumi), Dan sebaliknya bila buruk maka buruk pula di bumi (banua tonga).

  1. Langit Ketujuh:

Disinilah tempat Mula jadi Nabolon, karena itu adalah langit diatas langt. Kesinilah segala orang-orang yang baik terhormat

Setelah selesai diciptakan Langit maka Mulajadi Nabolon menciptakan; Mata Hari, kemudian Bulan, dan Bintang-bintang, dan bintang-bintang ini dinamai: Bintang Ilala, Sijombut, Sigarani api, Sidongdong, Sialapariama, Sialasungsang, Marihur,

Martimus, Bisnu, Borma, Sori dan lain-lainnya.

Manukmanuk Hulambujati:

Keyakinan orang Batak yang pertama sekali diciptakan Mulajdi Nabolon adalah Manukmanuk Hulambujati, Moncongnya besi, berkuku gelang yang berkilau. Dan besarnya sebesar kunang-kunang besar. Alkisah Manukmanuk Hulambujati memiliki Telur tiga buah yang besarnya jauh lebih besar dari badannya. Oleh karena itu dia menghubungi Leangleang mandi untunguntung na bolon, dan berkata:

“Wahai Leangleang mandi untunguntung na bolon! Kasihanilah aku sampaikanlah dulu keluhanku ini pada Mulajadi Nabolon, saya tidak tahu apa yang harus kubuat telur (tinaru) yang tiga ini, diselimutipun tidak bisa“.

Maka pergilah Leangleang mandi menyampaikan pesan tersebut pada Mulajadi Nabolon :”Ale Ompung, dahanon dibosta do ahu na so marlaok botabota, na so lopa dihata na so lolos di tona, Pesan dari Manukmanuk hulambungjati, bagaimana harus dibuatnya telur (tinaruna) yang tiga itu?“.

Maka Mulajadi Nabolon berkata:

“ Katakanlah biar dierami telurnya itu, aku lebih tahu, tapi bawalah 12 petik makanan (dahanon), itulah yang dimakannya setiap petiknya dimakan setiap bulan, kalau sudah putus muncungnya maka pukulkanlah ketelurnya, itulah sampaikan padanya,“ kataNya pada Leangleang mandi.

Maka kembalilah Leangleang mandi menyampaikan pesan dari Mulajadi Nabolon pada Manukmanuk Hulambajati, setelah mendapat petunjuk maka dilaksanakannya apa yang dipesankan kepadanya melalui Leangleang mandi.

Setelah genap 12 bulan, putus (rumintop) lah moncong manukmanuk hulambungjati, setelah itu maka dipukulkanlah muncungnya itu pada telur yang tiga, maka lahirlah dari setiap telur seperti manusia laki-laki (sesuatu yang tidak bisa terpikir ciptaan Tuhan), dari Telur pertama lahir:

1- Batara Guru:

Batara Guru doli, Batara guru panungkunan, Batara Guru Pandapotan setiap kerajaan, Yang memegang timbangan disetiap yang diciptakannya.

(Mula ni gantang tarajuan, hatian sibola timbang, ninggala sibola tali, tu atas so ra mungkit, tu toru sora monggal, tu lambung so ra teleng)

2- Raja Odapodap

Ini adalah yang mengamati semua segala perbuatan yan diciptakan

Dari telur kedua lahir:

1- Batara Sori (debata Sori) dari telur kedua:

Sori-sori haliapan, Sori-sori habubuhan na pitu hali malim, napitu hali solam, sinolamhon ni ibotona si boru panolaman. Yang bernamakan si boru “Anting Malela” yang tidak bisa bersumpah dan tidak bisa disumpahi, yang tidak boleh mencuri dan tidak dapat kecurian, yang membuat parsorion yaitu sori Gabe, sori Mago atau nasib dari setiap manusia yang dapat kita lihat dari umpa orang batak sebagai berikut: ”Andilo nahinan, handangkadangan ma nuaeng, pinangido nahinan, jaloon ma nuaeng.” Inilah yang mengirim Sisingamangaraja.

2- Tuan Dihurmajati dari telur ketiga:

Ini adalah ompu ni Panenabolon yang menempati

Dari Telur ketiga lahirlah:

1- Balabulan.

Balabulan matabun, Balabulan na rubunan, na rubun di pucuknya, Datu Paratalatal, Datu Parusulusul, Berkudakan Sibaganding Tua, Parpiso Simangan mangeluk, Bertombak dua ujung, dialah mulanya hadatuaon pada manusia.

Catatan: Batara Guru, Batara sori, Balabulan yang sering dikatakan debata na tolu, natolu suhu, natolu harajaon (jadi bukan Mulajadi Nabolon)

2- Raja Padoha atau Partanduk Pitu

Yang bertempat di Banua toru, yang menbuat Gempa (lalo)

Pemberian Nama pada setiap yang menetas tersebut atas petunjuk Mulajadi Na Bolon melalui Leangleang Mandi dan atas perintah Mulajadi Na Bolon,

Setelah ketiga putranya dewasa, ia merasa bahwa mereka memerlukan seorang pendamping wanita. Manukmanuk Hulambujati kembali memohon pada melalui Leangleang Mandi dan Mulajadi Na Bolon mengirimkan 3 wanita cantik :

SIBORU PAREME untuk istri Tuan Batara Guru, dan mendapatkan 2 orang anak laki laki dan 2 orang anak perempuan diberi nama:

  1. TUAN SORI MUHAMMAD,
  2. DATU TANTAN DEBATA GURU MULIA
  3. SIBORU SORBAJATI
  4. SIBORU DEAK PARUJAR.

Anak kedua, Tuan Soripada diberi istri bernama SIBORU PAROROT yang melahirkan anak laki-laki bernama:

  1. TUAN SORIMANGARAJA

sedangkan anak ketiga, Ompu Tuan Mangalabulan, diberi istri bernama SIBORU PANUTURI yang melahirkan:

  1. TUAN DIPAMPAT TINGGI SABULAN.

Dari pasangan Ompu Tuan Soripada-Siboru Parorot, lahir seorang anak laki-laki, namun karena wujudnya seperti kadal, Ompu Tuan Soripada menghadap Mulajadi Na Bolon (Maha Pencipta). "Tidak apa apa, berilah nama SIRAJA ENDA ENDA," kata Mulajadi Na Bolon. Setelah anak-anak mereka dewasa, Ompu Tuan Soripada mendatangi abangnya, Tuan Batara Guru menanyakan bagaimana agar anak-anak mereka dikawinkan.

Batara Guru menanya: "Kawin dengan siapa? Anak perempuan saya mau dikawinkan kepada laki-laki mana?"

Maka dijawab Ompu Soripada dengan penuh kekhawatiran karena anaknya yang ditawarkan adalah berwujud Kadal:"Bagaimana kalau putri abang SIBORU SORBAJATI dikawinkan dengan anak saya Siraja Enda Enda. Mas kawin apapun akan kami penuhi, tetapi syaratnya putri abang yang mendatangi putra saya,".

Akhirnya mereka sepakat. Pada waktu yang ditentukan Siboru Sorbajati mendatangai rumah Siraja Enda Enda dan sebelum masuk, dari luar ia bertanya apakah benar mereka dijodohkan. Siraja Enda Enda mengatakan benar, dan ia sangat gembira atas kedatangan calon istrinya. Dipersilakannya Siboru Sorbajati naik ke rumah. Namun betapa terperanjatnya Siboru Sorbajati karena lelaki calon suaminya itu ternyata berwujud kadal. Dengan perasaan kecewa ia pulang mengadu kepada abangnya Datu Tantan Debata: "Lebih baik saya mati daripada kawin dengan kadal," katanya terisak-isak.

"Jangan begitu adikku," kata Datu Tantan Debata. "Kami semua telah menyetujui bahwa itulah calon suamimu. Mas kawin yang sudah diterima ayah akan kita kembalikan 2 kali lipat jika kau menolak jadi istri Siraja Enda Enda."

Siboru Sorbajati tetap menolak. Namun karena terus-menerus dibujuk, akhirnya hatinya luluh tetapi kepada ayahnya ia minta agar menggelar "gondang" karena ia ingin "manortor" (menari) semalam suntuk. Permintaan itu dipenuhi Tuan Batara Guru. Maka sepanjang malam, Siboru Sorbajati manortor di hadapan keluarganya. Menjelang matahari terbit, tiba-tiba tariannya (tortor) mulai aneh, tiba-tiba ia melompat ke "para-para" dan dari sana ia melompat ke "bonggor" kemudian ke halaman dan yang mengejutkan tubuhnya mendadak tertancap ke dalam tanah dan hilang terkubur!

Keluarga Ompu Tuan Soripada amat terkejut mendengar calon menantunya hilang terkubur dan menuntut agar Keluarga Tuan Batara Guru memberikan putri ke-2 nya, Siboru Deak Parujar untuk Siraja Enda Enda. Sama seperti Siboru Sorbajati, ia menolak keras. "Sorry ya, apa lagi saya," katanya. Namun karena didesak terus, ia akhirnya mengalah tetapi syaratnya orang tuanya harus menggelar "gondang" semalam suntuk karena ia ingin "manortor" juga. Sama dengan kakaknya, menjelang matahari terbit tortornya mulai aneh dan mendadak ia melompat ke halaman dan menghilang ke arah laut di benua tengah (Banua Tonga).

Di tengah laut ia digigit lumba-lumba dan binatang laut lainnya dan ketika burung layang-layang lewat, ia minta bantuan diberikan tanah untuk tempat berpijak. Sayangnya, tanah yang dibawa burung layang-layang hancur karena digoncang NAGA PADOHA. Siboru Deak Parujar menemui Naga Padoha agar tidak menggoncang Banua Tonga. "Ya" katanya. "Sebenarnya aku tidak sengaja, kakiku rematik. Tolonglah sembuhkan." Siboru Deak Parujar berhasil menyembuhkan dan kepada Mulajadi Na Bolon dia meminta alat pemasung untuk memasung Naga Padoha agar tidak mengganggu. Naga Padoha berhasil dipasung hingga ditimbun dengan tanah dan terbenam ke bawah tanah (Banua Toru).

Bila terjadi gempa, itu pertanda Naga Padoha sedang meronta di bawah sana itulah keyakinan orang Batak .

Alkisah, Mulajadi Na Bolon menyuruh Siboru Deak Parujar kembali ke Benua Atas. Tetapi dia memilih tinggal di Banua Tonga (bumi), maka Mulajadi Na Bolon mengutus RAJA ODAP ODAP untuk menjadi suaminya dan mereka tinggal di SIANJUR MULA MULA di kaki gunung Pusuk Buhit. Dari perkawinan mereka lahir 2 anak kembar :

  1. RAJA IHAT MANISIA (laki-laki) dan
  2. BORU ITAM MANISIA (perempuan).

Tidak dijelaskan Raja Ihat Manisia kawin dengan siapa, ia mempunya 3 anak laki laki :

  1. RAJA MIOK MIOK,
  2. PATUNDAL NA BEGU dan
  3. AJI LAPAS LAPAS.

Raja Miok Miok tinggal di Sianjur Mula Mula, karena 2 saudaranya pergi merantau karena mereka berselisih paham.

Raja Miok Miok mempunyai anak laki-laki bernama:

  1. ENGBANUA,

dan 3 cucu dari Engbanua yaitu:

  1. RAJA UJUNG,
  2. RAJA BONANG BONANG dan
  3. RAJA JAU.

Konon Raja Ujung menjadi leluhur orang Aceh dan Raja Jau menjadi leluhur orang Nias. Sedangkan Raja Bonang Bonang (anak ke-2) memiliki anak bernama:

  1. RAJA TANTAN DEBATA,

Dan anak dari Tantan Debata inilah disebut SI RAJA BATAK, Yang menjadi leluhur orang Batak dan berdiam di Sianjur MulaMula di kaki Gunung Pusuk Buhit!

Silsilah/ Tarombo :

Sebagai gambaran singkat cikal baklal Orang Batak digambarkan dalam bentuk schema sebagai berikut:

clip_image011
clip_image012
clip_image013

Alkisah tentang si Raja Batak, yang mempunyai anak dua orang yaitu Guru TateaBulan dan Raja Isumbaon,setelah kedua anaknya itu beranjak dewasa dan kemudian kawin maka kedua anakpun memohon sesuatu untuk bagian Mereka:

”Amang aha do bagisn silehononmu di hami be, paboa anakmu hami?” (wahai Bapak apakah yang akan kau berikan kepada kami ,tanda kami anakmu?)

Raja Batak menyahut pertanyaan kedua anaknya:

”Apa yang ada padaku itulah yang akan kubagikan pada kalian itulah adat, yang akan dibagikan anak adalah milik Bapaknya .”

Kemudian disela kedua anaknya:

” Memang benar bapak tetapi bukan itu saja yang kami mintak, berikanlah kepada kami yang belum pernah kami lihat, dan yang tidak kami ketahui?”

Raja Batak menjawab anaknya:

”Yang kalian mintak itu belum dapat saya penuhi, tetapi marilah sama-sama kita mohonkan kepafda Omputa Mulajadi Nabolon.”

Setelah sepakat akan usul Bapaknya si Raja Batak ,maka merekapun mempersiapkan perlengkapan untuk memohon kepada Ompung Mulajadi Nabolon dengan mencari Ayam Jantan dan betina. Untuk dipersembahkan kepada Mulajadi Nabolon., maka mulailah si Raja Batak berdoa atau membaca mantera-manteranya.

Setelah beberapa lama jawaban doa mereka dijawab oleh Ompung Mulajadi Nabolo dengan mengirimkan dua gulungan terbuat dari tikar, yang masing-masing isinya sebagai berikut: Gulungan pertama berisi surat Agong yang tertulis berupa:

  1. Tentang perdukunan (Hadatuon).
  2. Ilmu tentang hantu (Habeguon.)
  3. Ilmu Pencak silat (Parmonsahon).
  4. Ilmu menghilang, (Pangaliluon)

Gulungan pertama ini diberikan kepada anaknya Guru TateanBulan. Sedangkan Gulungan kedua diberikan kepada anaknya Raja Isumbaon, yang berisi tentang:

1- Kerajaan (Harajaon).

2- Ilmu Hukum (paruhumon)

3- Parumaon.

4- Partiga-tigaon.

5- Paningaon.

clip_image014

clip_image015

Berdasarkan silsilah atau Tarombo Batak maka Si Raja Batak sebagai leluhurnya melalu keturunannya Guru Tatean Bulan dan Raja Isumbaon.Namun menurut versi R Sinaga ada 3 anak dari si Raja Batak yaitu yang ketiga Toga laut yang dikatakannya sebagai leluhur dari orang-orang Nias.

Tuan Sori mangaraja mempunyai tiga isteri;isteri pertama adalah : Nai Ambaton, Nai Rasaon dan Nai Suanon. Keturunan Nai suanon adalah Sorba dibanua Sebagai generasi ke 4 (empat) dari si Raja Batak

Sorba dijulu berdomisili di Pangururan, dan anak kedua Sorba dijae bermukim di Sibisa, uluan sedangkan anak ketiga yang bungsu Sorba dibanua berdomisili di Lumban gorat Balige dan keturnan dari Sorba dibanua adalah SiBagotni pohan sebagai generasi ke 5 (lima) dari si Raja Batak.

Pada Umumnya Orang Tua zaman dahulu selalu menanamkan moral tinggi kepada anak-anaknya dan dipesankan agar ajaran tersebut diajarkan secara turun temurun. Salah satu contoh saya mengutip pesan Raja SiBagot ni pohan kepada anak-anaknya (ada empat orang), sebagai berikut:

”Parjolo ma hudok tu hamu; Ingkon denggan hamu tongtong masi ajarajaran, masianjuanjuan, jala Masihaholongan. Sai Pasiding hamu ma nasa parbadaan, alai eahi hamu ma pardamean. Ai:

  • Metmet bulung ni baja, metmetan do bulung ni banebane;
  • Ndang adong laba ni marbada , alai lehetan do na mardame.

Ikon marsada ni tahi jala saoloan hamu tongtong di ganup siulaon, asa saut na sinangkap ni rohamuna ,

  • Aek godang do aek laut;
  • Dos ni roha do sibahen na saut.

Ingot hamu tongtong adat dohot uhum maradophon angka dongan tubu, Hulahula, boru nang aleale.

  • Sai unang ma lupa horbo sian barana,
  • Sai unang ma peut ulos sian sangkotanna.

Ingkon tigor tongtong uhum dohot pambahenan tu saluhut (ingkon sijujung ni ninggor, sitingkos ni ari)

Ingkon hormat jala pantun hamu maradophon halak.

  • Pantun do hangoluan, tois do hamagoan

Ndang jadi lea roha mamereng na pogos dohot na marsiak bagi, alai ingkon asi do roha mamereng nasida.Ingkon urupan do halak na di bagasan hagogotan manang parmaraan.Ingkon pasangapon do angka natua-tua jala oloan hatana,ai:

  • Tahuak manuk di tanonbara ni ruma,
  • Halak na pasangap natuatua, ido halak na martua.

Kurang lebih begitulah pesan beliau dan masih banyak lagi pesan-pesan terutama bagai mana agar keturunannya jangan lupa kepada Maha Pencipta Ompung Mulajadi Na Bolon. Dan arti pesan-pesan diatas sebagai berikut:

(Yang Pertama saya pesankan pada kalian anak-anakku dan semua keturunan ku:” Haruslah kalian tetap saling mengajari, saling memaafkan, serta saling mengasihi. Harus kalian hindari pertengkaran. Tapi kalian ciptakan lah perdamean.

  • Metmet bulung ni baja, metmetan do bulung ni banebane;
  • Ndang adong laba ni marbada , alai lehetan do na mardame.

Artinya:

Kecik daun baja , lebih kecil daun banebane;

Tidak ada gunanya pertengkar, tetapi lebih baik kalau berdame.

Kalian harus sehati dan seia sekata disetiap ada pekerjaan, agar bisa terwujud apa yang kalian cita-citakan.

  • Aek godang do aek laut;
  • Dos ni roha do sibahen na saut.

Artinya :

Air besar adalah air laut;

Kesepakatan membuat segalanya terjadi.

Kalian harus mengingat tetap akan adat dan hukum(uhum) bagaimana menghadapi dongan tubu, Hulahula, Boru serta Aleale.

  • Sai unang ma lupa horbo sian barana,
  • Sai unang ma peut ulos sian sangkotanna.

Artinya:

Jangans sampai lupa kerbau akan kandangnya;

Jangan sampai lepas Ulos dari sangkutannya.

Jadi harus lurus dan benar hukum(uhum) dan perbuatan dijalankan untuk semuanya.

Harus kalian hormat dan sopan menghadapi orang-orang. Sikap sopan santun adalah jalan kehidupan , dan ceroboh/tidak beradat sumber malapetaka. Tidak boleh kalian hina melihat orang miskin serta orang yang susah, tetapi harus kalian mengasihi mereka, harus dibantu orang didalam kesusahan dan orang yang ditimpa kemalangan.

Kalian harus menghormati Orang tua , serta didenga dan dituruti nasihatnya ai:

  • Tahuak manuk di tanonbara ni ruma,
  • Halak na pasangap natuatua, ido halak na martua.

Artinya:

Berkokok ayam di bawah rumah;

Orang yang menghormati orang tua dialah yang mendapat rahmat.

Kurang lebih begitulah terjemahan dari pesan-pesan dari Raja Bangot Ni Pohan kepada anak dan keturunannya yang menanamkan nilai moral. Dan layak di patuhi.

Kita cukupkan dahulu sampai disini tentang asal muasal dari orang Batak untuk dapat menjadi pedoman dalam memaknai ulasan tentang adat istiadat dihalaman selanjutnya, dan akan lebih muda menyelami tata cara adat yang diuraikan nanti, karena laku tata cara adat tersebut tidak terlepas dari muatan muatan moral yang berintikan saling mengasihi dan menghormati hak-hak yang telah di hukumkan didalam prinsip “Dalihan Na tolu“

Bab.III.

KEMELUT MELANDA SUKU BATAK


Sejarah Batak mencatat bahwa Batak telah mengalami cobaan-cobaan yang sangat berat dan menentukan dalam kesatuan dan keutuhan yang dapat kita bagi dalam 3 priode yaitu :

1- Priode I tahun 1820 – 1821: Orang Padri (beragama Islam) dari Sumatera Barat menyerang tanah Batak yang pepuler dikalangan Batak (tingki ni Pidari). Tentang Perang Paderi ini sangat banyak versinya, salah satu versi yang mengatakan terjadinya penyerangan kaum Paderi menyerang ketanah Batak Toba adalah untuk membalas dendam oleh salah seorang dari clan Sinambela (Pongki Nangolngolan yang bermarga sinambela), yang lain memang adalah strategi yang dilakukan Paderi membendung masuknya Belanda dari Aceh ke Minangkabau melalui Tanah Batak, maka perlu direbut Tanah Batak. Terlepas dari semua versi tersebut, dampak dari penyerangan kaum paderi ketanah Batak sangat luar biasa, Korban manusia tidak terbilang banyaknya hingga tidak sempat menguburkannya dan membuang mayat-mayat tersebut ke Danau Toba hingga korban bertambah akibat epidemi penyakit menular. Disamping itu Rumah dan materi tidak terkecuali jadi sasaran penyerangan tersebut. Pada priode ini boleh dikatakan priode yang sangat menentukan dalam kesatuan Batak . Sebelum terjadinya penyerangan Paderi ke Tanah Batak boleh dikatakan orang Batak dikawasan Sumatera Utara masih bersatu dalam lingkungan Kerajaan dinasti Sisingamangaraja (negeri Toba tua) yang terdiri 3 puak (sub suku bangsa) : 1- Gayo Alas (Aceh tua), 2- Pakpak 3- Toba. Tetapi akibat agresi tentera padri timbullah Impasse (kesulitan yang susah dipecahkan) dalam segala bidang, baik dalam kemasyarakatan maupun dalam kerohanian, Dan ini dimulai dengan gugurnya SisingamangarajaX (ompu Tuan Nabolon) sebagai Maharaja yang dipercayai kesaktiannya dan tidak terkalahkan oleh siapapun karena adalah wakil dari Mulajadi Nabolon di Tanah Batak .

Tujuan Penyerangan ketanah Batak adalah untuk mengembangkan Agama Islam dan menbendung perkembangan Keristen yang berbarengan dengan kedatangan penjajah Belanda. Tetapi karena dilancarkan dengan kekerasan terhadap suatu suku bangsa yang fanatik terhadap kebudayaannya, maka akhirnya gagal, sebaliknya impasse ini kemudian telah menjadi pucuk dicinta ulam tiba bagi penjajah Belanda dan penyebaran ke keristenan sehingga separatisme dan desintegrasi menjadi-jadi ditengah-tengah masyarakat sukubangsa Batak , dimana timbullah puakpuak baru: 1- Simalungun, 2- Dairi, 3- Karo, 4- Angkola-Mandailing dan 5- Batak Melayu. ( dikutip dari Sejarah Batak oleh Batara Sangti hal. 25)

Penyerangan kaum paderi hanya mampu mengislamkan sampai batas sipirok atau sebata Tapanuli selatan, dengan demikian hampir boleh dikatakan semua daerah tapanuli selatan menganut Agama islam, meskipun sebelum penyerangn secara prontal dari tuanku Rao dengan pasukan paderinya ke daerah Batak telah lebih dahulu mubalik-mubalik dari daerah minangkabau memasuki daerah terdekat dengan Minangkabau.

2. Priode kedua ini masuknya Misionari-misionari dari Eropah dan Amerika .

Dimulai dengan Burton dan Ward dari Inggeris tahun diperkirakan pada tahun Priode II Masuknya Missionari-missionari dari Eropah. Dimulai dengan Burton dan Ward dari Inggeris yandiperkirakan 1824, kemudian diusir oleh Orang Batak dan kemudian Lyman dan Munson yang akhirnya dibunuh oleh orang Batak yang tidak berkenan dengan kehadiran mereka ditanah Batak yang kemudian kemudian masuknya Belanda ketanah Batak untuk memotong hubungan anatara pejuang-pejuang Aceh dengan Minangkabau yang terus bergolak, penyekatan yang efisien hanyalah dengan menduduki Tanah Batak, tetapi ditanah Batak pun Belanda menghadapi pejuang-pejuang Batak yang lebih gigih menentang kehadiran Belanda, hal ini dapat terjadi adalah jauh sebelum masuknya Belanda di Aceh, Suku Batak telah mengadakan hubungan dengan orang-orang Aceh, banyak orang Batak yang menuntut ilmu peperangan dan lainnya ke kerajaan Aceh, saat Belanda akan memasukli tanah Batak Aceh mengirimkan beberapa ahli perangnya membantu pejuang-pejuang Batak yang dipimpin Sisingamangaraja ke XII. Seiring masuknya Belanda ketanah Batak kelompok Missionari dari Jerman yaitu Dr.I.L.Nommensen memanfaatkan situasi tersebut untuk melakukan missinya dan berhasil. Nomensen cukup pandai, beliau beradaptasi dengan budaya Batak yang sangat dijunjung tinggi orang Batak, sakit dan penderitaan oleh pasukan Islam melalui pasukan paderi diobati oleh kelembutan Nomensen, dan kemampuan Nomensen mengadakan negoisasi dengan pemerintahan Belanda untuk memposisikan putra-putra Batak yang telah memeluk agama Keristen menjadi pemimpin (jaihutan, demang) didaerah daerah tertentu. Strategi ini sangat didukung oleh Belanda.

Pada tanggal 11 oktober 1833 dikeluarkan komisaris jenderal pemerintahan Hindia Belanda bernomor:310. yang menyatakan resminya dibentuk distrik Batak maka secara juridis Belanda resmi menguasai tanah Batak, bersamaan dengan kekalahan Kaum Paderi, meskipun telah distrik Batak telah menjadi kekuasaan Belanda namun perlawanan Orang Batak masih terus dibawah pimpinan Sisinga mangaraja XII

3- Priode Perang dunia ke 2. Setelah kekalahan Jerman maka sekutu memusatkan kekuatannya melumpuhkan Jepang. Sebelum Jepang menginjak tanah Batak Belanda telah menguasai pemerintahan dan mengatur administrasi di Tanah Batak.Masuknya Jepang di tanah Batak, membuat kekuasaan Belanda pudar dan tersingkir kemudian diganti oleh jepang dengan semboyan “saudara tua“, meskipun mengaku saudara tua bukan berarti sikapnya lebih bersaudara namun sebaliknya Jepang lebih kejam menindas dan memperlakukan orang batak diperlakukan tidak layak sebagai manusia. Orang-orang Batak yang telah didik dan diberi kesempatan belajar oleh Belanda, serta pemuda-pemuda Batak yang latih oleh Jepang didalam kemeliteran mempelopori perlawanan terhadap kemungkaran Jepang.Dan boleh dikatan pada priode ini boleh dikatakan priode pematangan dalam hal berpolitik bagi putra-putra Batak. Yang tertekan dan yang dibesarkan belanda dalam pendidikan bersama-sama bangkit dengan putra-putra Indonesia lainnya untuk mendeklerasikan diri untuk merdeka menjadi satu negara.banyak orang batak yang jadikan romusa.

Tidaklah berlebihan kalau dikatakan ketiga priode ini membuat dinamika kehidupan yang berlandaskan nilai-nilai budaya berubah, bahkan kestuan orang Batakpun terancam, pengaruh agama Keristen di Batak Toba sangat kuat dan sebaliknya pada Batak Mandailing dan Angkola, Agama Islam sangat dominan. Dengan demikian nilai-nilai budaya dan nilai-nilai religi Batak pun terkontaminasi dengan Agama yang dianut, seperti Batak Toba budaya dan agama leluhur telah di injilisasikan dan Batak Mandailing dan Angkola unsur-unsur keislaman. Namun yang tetap utuh prinsip kekarabatan “Dalihan natolu baik didaerah Batak toba maupun didaerah Mandailing dan Angkola; yaitu di Batak toba disebut :dongan sabutuha, Boru dan Hulahula sedang di Mandailing dan Angkola disebut; Kaha anggi, anak boru dan Mora. Dan tradisi Martarombo atau Martutur menjadi nilai budaya yang melestarikan semangat primordialisme. Jadi kesimpulan dari dampak dari ketiga priode tersebut Bagi kelompok orang Batak yang beragama kristen maka landasan utama perikehidupannya adalah kristen misalnya Batak Toba. Orang Batak yang bergama Islam, seperti Mandailing dan Angkola landasan utama perikehidupannya adalah Islam. Meskipun ada nilai tambah bagi Orang Batak Toba dalam mengamalkan ajaran-ajaran adat istiadat jauh lebih kuat, bahkan dalam situasi tertentu bisa lebih kuat dibandingkan dengan kekristenannya. Dan tidak jarang urusan gereja menjadi tersisih karena kepentingan adat yang mendesak, ini besarkemungkinan karena kemampuan orang Batak toba menyelaraskan prinsip-prinsip adat dengan ajaran injil, seperti penyebutan Ompung atau dewa menjadi Debata dan yang lain-lainnya.

Dan yang menarik untuk diperhatikan beberapa nilai yang paling menonjol pada orang Batak khususnya Batak toba sangat peka terhadap konflik dan Uhum dan kemampuan menyelesaikannya dengan berbagai argumentasi berdasarkan pengamalan mereka terhadap petuah-petuah “Ompung sijolojolo tubu“ oleh karena itu hampir boleh dikatan konflik tidak menjadi aib bagi orang Batak Toba. Selain itu apresiasi (penilaian dan penghargaan) orang Batak terhadap nilai-nilai hukum dengan menelaah suatu ungkapan yang terkenal sebagai berikut:

  • Togu urat ni bulu, toguan urat ni padang;

Togu hata ni uhum toguan hata ni padan

Maksudnya :“walaupun kuat akar bambu, lebih kuat lagi akar ilalang, walaupun kuat keputusan hukum lebih kuat lagi keputusan janji. (ini sebagai versi Batak Toba). Pada orang Batak Mandailing dan angkola yang mayoritas beragama Islam sebagai berikut:

  • Togu urat ni bulu, togu dope urat ni antoladan,

Togu pe hata ni uhum, toguan dope hata ni janji dohot padan.

Artinya : walaupun akar bambu kuat, lebih kuat lagi akar antoladan, walau kuat keputusan hukum, lebih kuat lagi keputusan janji dan ikrar.

Orang Batak hampir boleh dikatakan bergumul dan hidup didalam konflik dalam pengertian positif, karena setiap ada hajat untuk mengadakan suatu acara orang Batak akan mengadak permusyawaratan terlebih dahulu dalam suatu forum formal , dalam forum tersebut sering terjadi perdebatan bahkan terjadi konflik meskipun akhirnya dapat diselesaikan secara kekeluargaan. Kebiasaan-kebiasaan ini membuat orang Batak menghadapi konflik dapat dengan tenang sambil berpikir mencari jalan keluar.

Kemelut yang dihadapi suku Batak tidak saja membuat perpecahan yang sengaja diciptakan oleh kaum penjajah, tetapi juga mematangkan dan pembelajaran bagi orang-orang Batak untuk dapat menemukan jati dirinya. Tidak ada maksud untuk membuka luka lama atau mendeskritkan suatu kelompok, setidaknya melalui sejarah ataupun pengalaman suku bangsa dan dengan memahaminya bisa menjadi tolak ukur untuk mawas diri. Pada hakikatnya manusia cenderung untuk lupa dan melupakan sejarahnya, tanpa menyadarai banyak hal-hal yang perlu di hayati apa makna kejadian tersebut, dan tantangan apa yang akan dihadapi dan bagaimana menghadapinya. Harus ditanamkan didalam diri setiap Orang Batak atau siapapun bahwa tidak ada istilah terlambat untuk pembenahan diri ataupun menemukan Jati diri.

Kesimpulan :

Sebab-sebab Stagnan penggalian sejarah dan kebudayaan Batak :

satu; Akibat politik Belanda untuk mengurangi kefanatikan dari orang-orang batak, patuh kepada hukum adat, patuh kepada yang dihormati dll, dan mempengaruhi setiap penulis-penulis asing tentang Sejarah Batak, agar mengutamakan kepentingan kolonialisme Belanda.

Kedua; adalah sikap Animisme phobi dari kalangan batak yang telah memasuki Agama monotisme, seperti pihak Keristen, melarang margondang didalam setiap pesta seperti pesta memasuki rumah, acara adat sewaktu orang tua yang meninggal, perkawinan dll., atau dengan kata lain melakukan acara spritual yang ada indikasi mengundang Roh. Demikian juga Islam fanatik yang berpaham Wahabi (hambali), melarang segala aktifitas spritual diluar rukun Islam. Melarang bergaul atau bersilaturahmi dengan orang-orang ynag bukan Islam (kristen) yang dianggap kafir, kelompok Islam fundamental kadang kadang sangat berlebihan didalam penafsirn ajaran-ajaran agama Islam yang akhirnya membuat suatu suku bangsa dapat berpecah bahakan yang satu keluarga karena perbedaan paham mazhab bisa retak, ini bukan lah yang dikehendaki oleh Tuhan Maha Pencipta.

Kedua faktor diatas membuat lambatnya kemajuan orang Batak, masih bergulat disekitar keyakinan berdasarkan Agama yang dianut. Kekaburan sejarah, tidak musatahil orang Batak Gayo Alas tidak mengaku sebagai orang Batak demikian juga Karo,Simalungun, Nias, Mandailing Angkola, sipirok, masing-masing menyebut kelompoknya dengan Orang Batak karo menyebut dirinya suku Karo, suku Mandailing atau selatan, dll tanpa memakai embel-embel Batak.

Memang diatas tadi telah dijelaskan secara sekilas tentang Agama leluhur atau Keparcayaan orang Batak, yang juga salah satu dari bagaian Budaya, Namun selanjutnya akan dibahas adalah tentang tata cara dari bagian Budaya.

Bersambung ……(tata cara pelaksanaan adat batak 3)

Bahasa Batak Toba – 3

Perbedaan Lafal (Ucapan)

Perbedaan itu berada pada pemakaian bahasa :

  • Lafal dialek Silindung dan Sibolga halus dan lembut,
  • lafal dialek Humbang agak halus,
  • lafal dialek Toba dan Samosir agak keras

Perbedaan Semantis.

Kata [lae] “ipar” dipergunakan pada dialek Silindung,Toba,Samosir, dan Sibolga, sedangkan pada dialek Humbang kata lae berarti saudara perempuan ayah. Kata “opung”, anak saudara laki-laki ibu  dipergunakan pada dialek Toba dan Samosir, sedangkan pada dialek Humbang, Silindung, dan Sibolga untuk mengatakan anak saudara laki-laki ibu dipergunakan kata “tunggane”.Disamping itu kata tunggane dipakai juga untuk mengatakan saudara laki-laki isteri

Untuk mengatakan “belum lagi “ pada dialek Toba, Silindung dan Sibolga dipergunakan kata “ndang do pe” , pada dialek Humbang dipergunakan kata “ndang kede”, dan pada dialek Samosir dipergunakan kata “ndang poso” atau “ndang koso”

Kata “puang” (panggilan kepada orang kedua, menunjukkan hubungan yang akrab), dipergunakan pada dialek Silindung, Sibolga dan Humbang, sedangkan pada dialek Toba dipergunakan kata “kedan” dan puang . Pada dialek Samosir kedua kata itu dianggap kasar, hanya dipergunakan kepada orang kedua yang statusnya jauh lebih rendah daripada kita.

Watas Isoglos diantara dialek-dialek Bahasa Batak Toba.

Seperti yang sudah dijelaskan didepan bahwa isoglos (garis watas kata) adalah garis yang memisahkan setiap gejala bahasa dari dua lingkungan kata atau bahasa berdasarkan wujud atau sistem kedua lingkungan itu yang berbeda, yang dinyatakan pada peta bahasa .

GAris watas kata itu kadang-kadang juga disebut heteroglos, oleh karena itu untuk memperoleh gambaran yang benar mengenai batas-batas dialek ,harus dibuat watas kata yang merangkumsegala segi kebahasaan dari hal-hal yang diperkirakan akan memberikan hasil yang memuaskan.

Dari garis watas kata itu terlihat bahwa tidak akan ada satupun diantara anasir yang memberikan garis yang benar-benar sama sehingga akan selalu terdapat beberapa perbedaan . Walaupun demikian pada garis besarnya akan terlihat adanya suatu irama atau gerak garis itu yang sama sehingga dapat diperkirakan dimana batas-batas dialek yang dimaksud itu. Dalam baha BAtak Toba watas kata diantar dialek dialek itu dapat dilihat pada peta  diatas.

(bersambung –4)

Tata Cara Pelaksanaan Adat …8

BAB VI

TATA CARA ADAT

-Tata Acara dan Urutan Sistem Pernikahan Adat Na Gok

1. Mangarisika.

Adalah kunjungan utusan pria yang tidak resmi ke tempat wanita dalam rangka penjajakan. Jika pintu terbuka untuk mengadakan peminangan maka pihak orang tua pria memberikan tanda mau (tanda holong dan pihak wanita memberi tanda mata). Jenis barang-barang pemberian itu dapat berupa kain, cincin emas, dan lain-lain.

2. Marhori-hori Dinding/marhusip.

Pembicaraan antara kedua belah pihak yang melamar dan yang dilamar, terbatas dalam hubungan kerabat terdekat dan belum diketahui oleh umum.
3. Marhata Sinamot.

Pihak kerabat pria (dalam jumlah yang terbatas) datang oada kerabat wanita untuk melakukan marhata sinamot, membicarakan masalah uang jujur (tuhor).
4. Pudun Sauta.

Pihak kerabat pria tanpa hula-hula mengantarkan wadah sumpit berisi nasi dan lauk pauknya (ternak yang sudah disembelih) yang diterima oleh pihak parboru dan setelah makan bersama dilanjutkan dengan pembagian Jambar Juhut (daging) kepada anggota kerabat, yang terdiri dari :

A.Kerabat marga ibu (hula-hula)

B.Kerabat marga ayah (dongan tubu)

C.Anggota marga menantu (boru)

D.Pengetuai (orang-orang tua)/pariban, Diakhir kegiatan Pudun Saut maka pihak keluarga wanita dan pria bersepakat menentukan waktu Martumpol dan Pamasu-masuon.
5. Martumpol (baca : martuppol).

Penanda-tanganan persetujuan pernikahan oleh orang tua kedua belah pihak atas rencana perkawinan anak-anak mereka dihadapan pejabat gerejab.. Tata cara Partumpolon dilaksanakan oleh pejabat gereja sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Tindak lanjut Partumpolon adalah pejabat gereja mewartakan rencana pernikahan dari kedua mempelai melalui warta jemaat, yang di HKBP disebut dengan Tingting (baca : tikting). Tingting ini harus dilakukan dua kali hari minggu berturut-turut. Apabila setelah dua kali tingting tidak ada gugatan dari pihak lain baru dapat dilanjutkan dengan pemberkatan nikah (pamasu-masuon).
6. Martonggo Raja atau Maria Raja.

Adalah suatu kegiatan pra pesta/acara yang bersifat seremonial yang mutlak diselenggarakan oleh penyelenggara pesta/acara yang bertujuan untuk :
A. Mempersiapkan kepentingan pesta/acara yang bersifat teknis dan non teknisb..

B. Pemberitahuan pada masyarakat bahwa pada waktu yang telah ditentukan ada pesta/acara pernikahan dan berkenaan dengan itu agar pihak lain tidak mengadakan pesta/acara dalam waktu yang bersamaan.
C. Memohon izin pada masyarakat sekitar terutama dongan sahuta atau penggunaan fasilitas umum pada pesta yang telah direncanakan.

7. Manjalo Pasu-pasu Parbagason (Pemberkatan Pernikahan).
A. Pengesahan pernikahan kedua mempelai menurut tatacara gereja (pemberkatan pernikahan oleh pejabat gereja).

B. Setelah pemberkatan pernikahan selesai maka kedua mempelai sudah sah sebagai suami-istri menurut gereja.

C.Setelah selesai seluruh acara pamasu-masuon, kedua belah pihak yang turut serta dalam acara pamasu-masuon maupun yang tidak pergi menuju tempat kediaman orang tua/kerabat orang tua wanita untuk mengadakan pesta unjuk

D.Pesta unjuk oleh kerabat pria disebut Pesta Mangalap parumaen (baca : parmaen)
8. Pesta Unjuk.

Suatu acara perayaan yang bersifat sukacita atas pernikahan putra dan putri.

Ciri pesta sukacita ialah berbagi jambar :

[a]. Jambar yang dibagi-bagikan untuk kerabat parboru adalah jambar juhut (daging) dan jambar uang (tuhor ni boru) dibagi menurut peraturan.

.Jambar yang dibagi-bagikan bagi kerabat paranak adalah dengke (baca : dekke) dan ulos yang dibagi menurut peraturan. Pesta Unjuk ini diakhiri dengan membawa pulang pengantin ke rumah paranak.

9. Mangihut di ampang (dialap jual).

Yaitu mempelai wanita dibawa ke tempat mempelai pria yang dielu-elukan kerabat pria dengan mengiringi jual berisi makanan bertutup ulos yang disediakan oleh pihak kerabat pria.
10. Ditaruhon Jual.

Jika pesta untuk pernikahan itu dilakukan di rumah mempelai pria, maka mempelai wanita dibolehkan pulang ke tempat orang tuanya untuk kemudian diantar lagi oleh para namborunya ke tempat namborunya. Dalam hal ini paranak wajib memberikan upa manaru (upah mengantar), sedang dalam dialap jual upa manaru tidak dikenal.

11. Paranak makan bersama di tempat kediaman si Pria (Daulat ni si Panganon)


A. Setibanya pengantin wanita beserta rombongan di rumah pengantin pria, maka diadakanlah acara makan bersama dengan seluruh undangan yang masih berkenan ikut ke rumah pengantin pria.
B. Makanan yang dimakan adalah makanan yang dibawa oleh pihak parboru

12. Paulak Une.


A. Setelah satu, tiga, lima atau tujuh hari si wanita tinggal bersama dengan suaminya, maka paranak, minimum pengantin pria bersama istrinya pergi ke rumah mertuanya untuk menyatakan terima kasih atas berjalannya acara pernikahan dengan baik, terutama keadaan baik pengantin wanita pada masa gadisnya (acara ini lebih bersifat aspek hukum berkaitan dengan kesucian si wanita sampai ia masuk di dalam pernikahan).

B. Setelah selesai acara paulak une, paranak kembali ke kampung halamannya/rumahnya dan selanjutnya memulai hidup baru.
13. Manjahe.

Setelah beberapa lama pengantin pria dan wanita menjalani hidup berumah tangga (kalau pria tersebut bukan anak bungsu), maka ia akan dipajae, yaitu dipisah rumah (tempat tinggal) dan mata pencarian.

14. Maningkir Tangga (baca : manikkir tangga)


A. Beberapa lama setelah pengantin pria dan wanita berumah tangga terutama setelah berdiri sendiri (rumah dan mata pencariannya telah dipisah dari orang tua si laki-laki) maka datanglah berkunjung parboru kepada paranak dengan maksud maningkir tangga (yang dimaksud dengan tangga disini adalah rumah tangga pengantin baru).

B. Dalam kunjungan ini parboru juga membawa makanan (nasi dan lauk pauk, dengke sitio tio dan dengke simundur-mundur).Dengan selesainya kunjungan maningkir tangga ini maka selesailah rangkaian pernikahan adat na gok.

(bersambung ..9)

Asal Mula Dalihan Na Tolu

D.natolu

Dalihan Natolu

Alkisah sbb:

Pada suatu hari Raja Panggana yang terkenal pandai memahat dan mengukir mengadakan pengembaraan keliling negeri. Untuk biaya hidupnya, Raja Panggana sering memenuhi permintaan penduduk untuk memahat patung atau mengukir rumah.

Walaupun sudah banyak daerah/ negeri yang dilaluinya dan banyak sudah patung dan ukiran yang dikerjakannya, masih terasa padanya sesuatu kekurangan yang membuat dirinya selalu gelisah.

Untuk menghilangkan kegelisahannya, ia hendak mengasingkan diri pada satu tempat yang sunyi. Di dalam perjalanan di padang belantara yang penuh dengan alang-alang ia sangat tertarik pada sebatang pohon tunggal yang hanya itu saja terdapat pada padang belantara tersebut. Melihat sebatang pohon tunggal itu Raja Panggana tertegun.

Diperhatikannya dahan pohon itu, ranting dan daunnya. Entah apa yang tumbuh pada diri Raja Panggana, ia melihat pohon itu seperti putri menari. Dikeluarkannya alat-alatnya, ia mulai bekerja memahat pohon itu menjadi patung seorang putri yang sedang menari. Ia sangat senang, gelisah hilang. Sebagai seorang seniman ia baru pernah mengagumi hasil kerjanya yang begitu cantik dan mempesona. Seolah-olah dunia ini telah menjadi miliknya. Makin dipandangnya hasil kerjanya, semakin terasa pada dirinya suatu keagungan.

Pada pandangan yang demikian, ia melihat patung putri itu mengajaknya untuk menari bersama. Ia menari bersama patung dipadang belantara yang sunyi tiada orang. Demikianlah kerja Raja Panggana hari demi hari bersama putri yang diciptakannya dari sebatang kayu. Raja Panggana merasa senang dan bahagia bersama patung putri.

Tetapi apa hendak dikata, persediaan makanan Raja Panggana semakin habis. Apakah gunanya saya tetap bersama patung ini kalau tidak makan ? biarlah saya menari sepuas hatiku dengan patung ini untuk terakhir kali. Demikian Raja Panggana dengan penuh haru meninggalkan patung itu. dipadang rumput yang sunyi sepi tiada berkawan. Raja Panggana sudah menganggap patung putri itu sebagian dari hidupnya.

Berselang beberapa hari kemudian, seorang pedagang kain dan hiasan berlalu dari tempat itu. Baoa Partigatiga demikian nama pedagang itu tertegun melihat kecantikan dan gerak sikap tari patung putri itu. Alangkah cantiknya si patung ini apabila saya beri berpakaian dan perhiasan. Baoa Partigatiga membuka kain dagangannya. Dipilihnya pakaian dan perhiasan yang cantik dan dipakaikannya kepada patung sepuas hatinya.

Ia semakin terharu pada Baoa Partigatiga belum pernah melihat patung ataupun manusia secantik itu. dipandanginya patung tadi seolah-olah ia melihat patung itu mengajaknya menari. Menarilah Baoa Partigatiga mengelilingi patung sepuas hatinya. Setelah puas menari ia berusaha membawa patung dengannya tetapi tidak dapat, karena hari sudah makin gelap, ia berpikir kalau patung ini tidak kubawa biarlah pakaian dan perhiasan ini kutanggalkan. Tetapi apa yang terjadi, pakaian dan perhiasan tidak dapat ditanggalkan Baoa Partigatiga. Makin dicoba kain dan perhiasan makin ketat melekat pada patung. Baoa Partigatiga berpikir, biarlah demikian. Untuk kepuasan hatiku baiklah aku menari sepuas hatiku untuk terakhir kali dengan patung ini. Iapun menari dengan sepuas hatinya. Ditinggalkannya patung itu dengan penuh haru ditempat yang sunyi dan sepi dipadang rumput tiada berkawam.

Entah apa yang mendorong, entah siapa yang menyuruh seorang dukun perkasa yang tiada bandingannya di negeri itu berlalu dari padang rumput tempat patung tengah menari. Datu Partawar demikian nama dukun. Perkasa terpesona melihat patung di putri. Alangkah indahnya patung ini apabila bernyawa. Sudah banyak negeri kujalani, belum pernah melihat patung ataupun manusia secantik ini. Datu Partawar berpikir mungkin ini suatu takdir. Banyak sudah orang yang kuobati dan sembuh dari penyakit. Itu semua dapat kulakukan berkat Yang Maha Kuasa.

Banyak cobaan pada diriku diperjalanan malahan segala aji-aji orang dapat dilumpuhkan bukan karena aku, tetapi karena ia Yang Maha Agung yang memberikan tawar ini kepadaku. Tidak salah kiranya apabila saya menyembah Dia Yang Maha Agung dengan tawar yang diberikannya padaku, agar berhasil membuat patung ini bernyawa. Dengan tekad yang ada padanya ini Datu Partawar menyembah menengadah keatas dengan mantra, lalu menyapukan tawar yang ada pada tangannya kepada patung. Tiba-tiba halilintar berbunyi menerpa patung. Sekitar patung diselimuti embun putih penuh cahaya.

Waktu embun putih berangsur hilang nampaklah seorang putri jelita datang bersujud menyembah Datu Partawar. Datu Partawar menarik tangan putri, mencium keningnya lalu berkata : mulai saat ini kau kuberi nama Putri Naimanggale. Kemudian Datu Partawar mengajak Putri Naimanggale pulang kerumahnya. Konon kata cerita kecantikan Putri Naimanggale tersiar ke seluruh negeri. Para perjaka menghias diri lalu bertandang ke rumah Putri Naimanggale. Banyak sudah pemuda yang datang tetapi belum ada yang berkenan pada hati Putri Naimanggale.

Berita kecantikan Putri Naimenggale sampai pula ketelinga Raja Panggana dan Baoa Partigatiga. Alangkah terkejutnya Raja Panggana setelah melihat Putri Naimanggale teringat akan sebatang kayu yang dipahat menjadi patung manusia. Demikian pula Baoa Partigatiga sangat heran melihat kain dan hiasan yang dipakai Putri Naimanggale adalah pakaian yang dikenakannya kepada Patung, Putri dipadang rumput. Ia mendekati Putri Naimanggale dan meminta pakaian dan hiasan itu kembali tetapi tidak dapat karena tetap melekat di Badan Putri Naimanggale. Karena pakaian dan hiasan itu tidak dapat terbuka lalu Baoa Partigatiga menyatakan bahwa Putri Naimanggale adalah miliknya. Raja Panggana menolak malahan balik menuntut Putri Naimanggale adalah miliknya karena dialah yang memahatnya dari sebatang kayu.

Saat itu pula muncullah Datu Partawar dan tetap berpendapat bahwa Putri Naimanggale adalah miliknya. Apalah arti patung dan kain kalau tidak bernyawa. Sayalah yang membuat nyawanya maka ia berada di dalam kehidupan. Apapun kata kalian itu tidak akan terjadi apabila saya sendiri tidak memahat patung itu dari sebatang kayu. Baoa Partigatiga tertarik memberikan pakaian dan perhiasan karena pohon kayu itu telah menajdi patung yang sangat cantik. Jadi Putri Naimanggale adalah milik saya kata Raja Panggana. Baoa Partigatiga balik protes dan mengatakan, Datu Partawar tidak akan berhasrat membuat patung itu bernyawa jika patung itu tidak kuhias dengan pakaian dan hiasan. Karena hiasan itu tetap melekat pada tubuh patung maka Raja Partawar memberi nyawa padanya. Datu Partawar mengancam, dan berkata apalah arti patung hiasan jika tidak ada nyawanya ? karena sayalah yang membuat nyawanya, maka tepatlah saya menjadi pemilik Putri Naimanggale.

Apabila tidak maka Putri Naimanggale akan kukembalikan kepada keadaan semula. Raja Panggana dan Baoa Partigatiga berpendapat lebih baiklah Putri Naimanggale kembali kepada keadaan semula jika tidak menjadi miliknya. Demikianlah pertengkaran mereka bertiga semakin tidak ada keputusan. Karena sudah kecapekan, mereka mulai sadar dan mempergunakan pikiran satu sama lain. Pada saat yang demikian Datu Partawar menyodorkan satu usul agar masalah ini diselesaikan dengan hati tenang didalam musyawarah. Raja Panggana dan Baoa Partigatiga mulai mendengar kata-kata Datu Partawar. Datu Partawar berkata : marilah kita menyelesaikan masalah ini dengan hati tenang didalam musyawarah dan musyawarah ini kita pergunakan untuk mendapatkan kata sepakat. Apabila kita saling menuntut akan Putri Naimanggale sebagai miliknya saja, kerugianlah akibatnya karena kita saling berkelahi dan Putri Naimanggale akan kembali kepada keadaannya semula yaitu patung yang diberikan hiasan. Adakah kita didalam tuntutan kita, memikirkan kepentingan Putri Naimanggale? Kita harus sadar, kita boleh menuntut tetapi jangan menghilangkan harga diri dan pribadi Putri Naimanggale. Tuntutan kita harus kita dasarkan demi kepetingan Putri Naimanggale bukan demi kepentingan kita. Putri Naimanggale saat sekarang ini bukan patung lagi tetapi sudah menjadi manusia yang bernyawa yang dituntut masing-masing kita bertiga. Tuntutan kita bertiga memang pantas, tetapi marilah masing-masing tuntutan kita itu kita samakan demi kepentingan Putri Naimanggale.

si gale-gale

Raja Panggana dan Baoa Partigatiga mengangguk-angguk tanda setuju dan bertanya apakah keputusan kita Datu Partawar ? Datu Partawar menjawab, Putri Naimanggale adalah milik kita bersama. Mana mungkin, bagaimana kita membaginya. Maksud saya bukan demikian, bukan untuk dibagi sahut Datu Partawar. Demi kepentingan Putri Naimanggale marilah kita tanyakan pendiriannya. Mereka bertiga menanyakan pendirian Putri Naimanggale. Dengan mata berkaca-kaca karena air mata, air mata keharuan dan kegembiraan Putri Naimanggale berkata : “Saya sangat gembira hari ini, karena kalian bertiga telah bersama-sama menanyakan pendirian saya.

Saya sangat menghormati dan menyayangi kalian bertiga, hormat dan kasih sayang yang sama, tiada lebih tiada kurang demi kebaikan kita bersama. Saya menjadi tiada arti apabila kalian cekcok dan saya akan sangat berharga apabila kalian damai. Mendengar kata-kata Putri Naimanggale itu mereka bertiga tersentak dari lamunan keakuannya masing-masing, dan memandang satu sama lain. Datu Partawar berdiri lalu berkata : Demi kepentingan Putri Naimanggale dan kita bertiga kita tetapkan keputusan kita :

a. Karena Raja Panggana yang memahat sebatang kayu menjadi patung, maka pantaslah ia menjadi Ayah dari Putri Naimanggale. SUHUT

b. Karena Baoa Partigatiga yang memberi pakaian dan hiasan kepada patung, maka pantaslah ia menjadi Amangboru dari Putri Naimanggale. BORU

c. Karena Datu Partawar yang memberikan nyawa dan berkat kepada patung, maka pantaslah ia menjadi Tulang dari Putri Naimanggale. HULA-HULA

Mereka bertiga setuju akan keputusan itu dan sejak itu mereka membuat perjanjian, padan atau perjanjian mereka disepakati dengan :

Pertama, bahwa demi kepentingan Putri Naimanggale Raja Panggana, Baoa Partigatiga dan Datu Partawar akan menyelesaikan semua permasalahan yang terjadi dan mungkin terjadi dengan jalan musyawarah.

Kedua, bahwa demi kepentingan Putri Naimanggale dan turunannya kelak, Putri Naimanggale dan turunannya harus mematuhi setiap keputusan dari Raja Panggana, Baoa Partigatiga dan Datu Partawar.

Kesimpulan:

Dari cerita tersebut, bahwa hakikat DALIHAN NA TOLU adalah musyawarah untuk menyelesaikan masalah demi kebaikan orang yang dikasihi dalam hal ini PUTRI NAI MANGGALE.

Tata cara pelaksanaan adat Batak – 7

Makna atau arti dari Ulos:

image

1- Mangiring: Ulos ini mempunyai ragi saling iring beriring, melambangkan kesuburan dan kesepakatan.Ulos ini sering dipakai sebagai parompa (menggendong anak) dengan harapan agar mendapat anak lagi anak yang digendong. Dan ulos ini juga diberikan kepada boru yang baru berumah tangga dengan harapan sianak segera mempunyai keturunan (anak), cara memakaikannya adalah : pinartalitali atau di sinampesampehon. Juga ulos dapat dipakai sebagai tali-tali (detar) bagi laki-laki dan untuk wanita disebut saong atau tudung. Sedang pada saat paapeho goar ulos ini dapat dipakai sebagai bulang-bulang.

2- Mangiring Pinarsunsang: dipakai ulos ini apabila ada dalam keluarga marsisuharan partuturan, sebagai contoh dulunya dia adalah Hula-hula menjadi Parboruan (Pinarhulahula hian gabe pinarboru). Jadi Ulos ini diberikan kepada penganten atau parompa dari anaknya, sewaktu memberikan ulos ini selalu diiringi dengan umpama sbb: “ Rundut biur ni eme mambahen tu porngisna, masijaitan andor nigadong mambahen tu ramosna.”

3- Bintang Maratur : Ulos ini raginya menggambarkan jejeran Bintang yang teratur, Jejaran bintang ini menggambarkan orang yang patuh ,rukun seia sekata dalam ikatan kekeluargaan juga dalam sidangonon (kekayaan)atau hasangapon ( kemuliaan) tidak ada yang timpang. Semuanya berada dalam tingkatan yang rata-rata sama. Leluhur (omputa sijolojolo tubu) pernah berkata bahwa “Ulos siboru Habonaran, Siboru Deak Parujar, mulani panggantion dohot parsorhaon,pargantang pamonori na so boi lobinaso boi hurang. maka ulos itu disebut adalah: Bintang maratur (marotur), Siatur maranak, siatur marboru, siatur hagabeon, siatur hamoraon., bagi orang yang mau memintaknya kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Oleh karena itu didalam menyampaikan ulos ini sering diiringi dengan Kata-kata sbb: “ Ulos bintang marotur do on, asa sai anggiat ma diatur jala dilehon Tuhanta yang Maha pengasih (Debata parasi ro ha) di hamu hagabeon dohot pansamotan, asa ro nian angka i di tingki na lehet, diombas na denggan jala mambahen tua dihamu”. Kalau ulos ini jadi Parompa untuk diuloskan maka dikatakanlah sbb: “ Ia ulos on bintang marotur do, asa sai anggiat ma diparbisuhi Tuhanta Yang Maha Pengasih (debata Parasi ro ha) I hamu manogunogu jala mangatur dakdanakon dohot angka tinodohonna na naeng ro dope, sai gabe jolma na olo aturon ma ibana jala ibana sandiri gabe jolma n malo mangatur angka tinodohonna, tu hadengganon dohot harentaon.”.

4- Ulos Godang: kadang disebut juga ini adalah “Sadum- Angkola”, memang diakui Ulos ini sangat bagus dan Cantik harganyapun termasuk mahal dan lebih mahal dari Ragidup meskipun derajatnya lebih rendah dari Ragidup. Ulos ini sering diuloskan kepada anak kesayangan, filsafat dari ulos ini adalah sbb: Agar harapan kepada anak yang diulosi dapat seperti nama ulos tersebut “Ulos Godang” dihari kemudian dan memberi kebaikan atau dapat menyenangkan keluarga dekat dan teman-temannya, kerna perbuatan baiknya itu maka anak tersebut mendapat berkah dari Tuhan.

5- Ulos Ragihotang : Pada zaman dahulu rotan (hotang) adalah tali pengikat sebuah benda yang sangat kuat dan ampuh. Inilah yanglambangkan oleh ragi tersebut, oleh karena itu ulos ini diberikan kepada pengantin disebut sebagai „ulos Hela“. Dengan pemberian ulos ini maka maksudnya adalah agar ikatan batin kedua pengantin dapat teguh dan kokoh seperti rotan. Dan cara memberikannya pada kedua pengantin ial;ah disampirkan dari sebelah kanan pengantin, ujungnya dipegang dengan tangan kanan laki-laki, dan ujung sebelah kiri dipegang tangan kiri pengantin perempuan lalu disatukan ditengah dada seperti terikat. Umumnya ulos ini sering dipergunakan masyarakat Batak karena kharisma yang dimilikinya, Ulos Ragi Hotang yang baik namanya adalah “ Potir si na gok”.

6- Ulos Sitolu (n) Tuho: Disebut sitoluntuho, karena raginya berjejer tiga merupakan tuyho atau tugal (yang biasanya dipakai untuk melonangi tanah menanam benih). Ini adalah ulos yang sesuai dengan simbol Dalihan natolu. Jadi kalau ulos ini diuloskan kepada penganten atau untuk paropa diiringi dengan : “Manat mardongan tubu, elek marboru, somba marhulahula”, dan ditambahi dengan kata-kata lain, atu umpasa yang sesuai dengan tujuan atau kepada siapa dan dalam rangka apa pemberian ulos itu, apakah untuk memberi pasu-pasu agar saling mencintai dan sampai hari tuanya, untuk pasu-pasu Hagabeon, atau untuk pasu-pasu pansamotan. Juga ulos ini diberikan oleh Hulahula kepada pihak boru yang masih terhitung jauh maka disebut “ulos panoropi“

7- Bolean : Ulos ini sering diberikan kepada anak atau keturunanya yang sedang mengalami kemalangan/kesulitan sebagai penghiburan (mangapuli).

8- Sibolang : dulu namanya “siBulang”. Dahulu Ulos ini diberikan sebagai penghormatan kepada orang pantas di hormati karena berjasa. Kalau sekarang diberikan untuk mangulosi Hela maka diberilah namanya “Ulos Pansamot”, dengan harapan kepada yang diulosi, agar dapat menjadi tempat pengaduan. Juga ulos ini sering juga dibuat untuk menghadapi adat kepada yang meninggal, juga dibuat sebagai “tujung” bagi janda atu duda (namabalu). Dengan kata lain ulos ini dapat dipergunakan untuk suka cita dan duka cita, kalau ulos dipergunakan untuk duka cita biasanya dipilih yang warnanya hitam menonjol, sedangkan untuk suka cita diberikan yang berwarna putihnya menonjol. Dalam acara duka cita ulos yang berwarna hitamnya menonjol paling sering dipergunakan untuk “ulos saput“. Sedang dalam perkawinan ulos ini dipergunakan sebagai tutup ni Ampang, dan ulos yang warna putih menonjol digunakan dengan menyandangkan disebut „ulos Pamotari“.

9- Ragidup : Membuat Ulos ini memang sangat sulit dan rumit, dan ulos ini termasuk ulos yang bernilai tinggi atau mempunyai kelas, karena bila diperhatikancorak ulos ini sepertinya hidup, dan ada juga mengatakan ulos ini sebagai “simbol ni ngolu” . oleh karenanya Orang Batak tidak takut miskin asal bisa hidup seperti dikatakan umpasa; “ Agia lapalapa asal ditoru sobuan, agia pe malapalap asal ma di hangoluan; Ai sai naboi do partalaga gabe parjujuon.” Karena ulos ini termasuk istimaewa maka semua bagian-bagian dari ulos ini mempunyai makna seperti: 1- Dua sisinya boleh dikatakan sebagai batas, yang berarti bahwa ada batis didunia ini. 2- Diantara sisi dua itu ada tiga bagian yaitu bagian tengah dari yang tiga itu disebut “badan” sedangkan yang dua lagi bagian ujung (hampir sama bentuknya) disebut “inganan ni na pi narhalak baoa, sedang yang satu lagi adalah inganan ni napinarhalak ni boru.” Badan warnanya “merah pangko birong” bentuknya dan bergaris-garis putih (“honda”, sedangkan nadiparhalak baoa dan nadiparhalak boru sebagai simbol hagabeon mendapat anak dan boru dan didalamnya terdapat juga 3 bunga (Gorga) yang dinamakan : 1- “Antinganting” sebagai simbol kekayaan. 2- “Sigumang” sebagai simbol ketekunan dan kemakmuran , karena Sigumang adalah hewan yang termasuk rajin dan tekun. 3- “Batu ni ansimun” sebagai simbol kesehatan sebagai mana yang sering disebut “ Ansimun sipalambok, tawar sipangalamuni.” Karena Ulos ini adalah ulos yang sanagt berarti dan bermakna maka untuk membeli atau mendapatkan ulos ini harus hati hati , semua bentuk ataupun gorga yang ada di ulos itu sangat menentukan oleh karenanya ulos itu haru mempunyai syarta sbb: 1- Harus Terang dan bersih (tio/torang) dilihat ulos tersebut. 2- Harus rapi tenunannya. 3- Harus ganjil bilangan “honda”. 4- harus tepat bilangan “ipon” nya. (yaitu beberapa ragi bunga yang posisinya ada diantara “ Sigumang” dengan “Batu ni ansimun”.

10- Ragidup silinggom : Perbedaan Ragidup Silinggom dengan Ragidup yang biasa adalah warna/bentuknya holom (linggom) karena itu disebut Rgidup siLinggom, Ulos ini diberikan kepada anak yang mempunyai pangkat (kekuasaan) Filsafatnya “ agar dapat berlindung pada orang yang diberikan ulos, bagi orang yang lemah dan miskin, kalau ini dipenuhi oleh yang mendapatkan ulos maka dianya akan mendapat pasu-pasu dari Tuhan. Dan ulos ini jarang dijual belikan kalaupun ingin mendapatkannya harus dipesan kepada partonun. Ulos ini sekarang sering diberikan kepada pejabat yang sedang berkunjung kedaerah.

11- Ulos surisuri togutogu : Ada keistimewaan ulos ini rambu-rambunya tidak dipotong bahkan dia terus bersambung (mardomu), jadi layaknya seperti sarung, karena itu memakaikannya harus disarungkan, oleh karena itu ulos ini sering disebut “ulos Lobulobu” dengan arti biar masuk segala yang baik kerumah orang yang memakainya. Kalau ulos ini dipakai anak gadis untuk menggendong adiknya (ibotonya) sering dia bersenandung sbb: “ Ulos lobulobu, marrambu ho ditongatonga, tibuma ho ito dolidoli, jala mambahen silasni roha.” Tetapi kalau yang digendongnya adalah adiknya perempuan maka senandungnya adalah sbb : “ Ulos lobulobu, marrambu ho ditongatonga, sinok mamodom ho anggi, suman tu boru ni namora.”

12- Ulos Jungkit : Ulos ini disebut ulos na ni dondang atau ulos purada. Purada atau permata merupakan penghias dari ulos tersebut. Dahulu ulos ini dipakai oleh para anak gadis dari keluarga Raja-raja merupakan hoba-hoba yang dipakai hingga batas dada. Juga pada waktu menerima tamu pembesar atau pada waktu kawin. Dahulu Purada atau permata ini dibawa oleh saudagar dari India lewat pelabuhan Barus, akan tetapi pada pertengahan abad XX ini, permata tersebut tidak lagi diperdagangkan maka bentuk permata dari ragi ulos tersebut diganti dengan cara manjungkit benang ulos tersebut. Ragi yang diperoleh hampir mirip dengan kain songket buatan Rejang dan lebong, karena proses pembuatannya yang sangat sulit menyebabkan ulos ini merupakan barang langka sehingga kedudukannya diganti dengan kain songket tersebut. Inilah sebabnya baik didaerah leluhur siraja Batakpun pada waktu acara perkawinan kain songket ini dipakai pengganti ulos na didondang. Ini salah satu bukti bahwa nilai ulos sudah pudar bagi orang Batak

13- Ulos Jugia : Ulos disebut juga “ulos na so ra pipot“ atau Pinunsan. Biasanya disimpan di „parmonang-monang“ sebagai ulos komitan. Menurut kepercayaan lama ulos ini tidak dapat dipakai sembarang orang kecuali orang yang sudah saur matua (mempunyai cucu dari anaknya laki-laki dan anaknya perempuan). Selama masih ada anaknya yang belum kawin atau belum punya keturunan, walaupun telah mempunyai cucu dari anak laki-laki dan anak perempuan biasanya masih sungkan untuk memakai ulos Jugia ini. Hanya orang yang disebut “na gabe” yang berhak memakai ulos ini karena ukuran hagabeon dalam adat Batak bukanlah ditinjau dari kedudukan satau pangkat melainkan keturunannya apakah semua sudah “hot ripe”.Beratnya aturan pemakaian jenis ulos ini menyebabkan ulos ini merupakan benda langka hingga banyak orang yang tidak mengenalnya. Ulos Jugia sering merupakan barang warisan orang tua kepada anaknya karena nilainya sama dengan Sitoppi ( emas yang dipakai oleh isteri Raja-raja pada waktu pesta).

14- Ulos Runjat: Ulos ini biasanya dipakai oleh orang-orang kaya atau orang terpandang sebagai ulos edang-edang (pada waktu pergi keundangan). Ulos ini dapat juga diberikan kepada pengantin oleh keluarga dekat menurut versi (tohonan) Dalihan Na Tolu diluar husuhutan Bolon. Misalnya oleh Tulang, Pariban dan Paramai.. Juga ulos Runjat ini dapat diberikan pada waktu mangupa-upa atau ulaon si las ni roha(acara gembira). Ulos Ragidup, ulos Jugia, Ragi Hotang,Ulos Sadum, dan ulos Runjat boleh dikatan jenis ulos homitan (simpanan) yang hanya kelihatan pada waktu tertentu saja. Karena ulos ini jarang dipakai , hingga tidak perlu dicuci. Ya cukup dijemur di siang hari pada waktu bulan purnama (tula)

15- Ulos Surisuri Ganjang: Ulos ini bernama ulos surisuri. Karena raginya berbentuk sisir yang memanjang maka dinamakan ulos surisuri ganjang. Dahulu ulos ini dipergunakan sebagai ampe-ampe/hande-hande . Pada waktu margondang ,ulos ini dipergunakan oleh pihak hulahula untuk manabei pihak borunya. Karena ulos ini sering juga disebut ulos sabe-sabe. Ada keistimewaan ulos ini yaitu ukuran panjang melebihi ulos biasa, dan bisa dipakai sebagai ampe-ampe bila dipakai dua lilit pada bahu kiri dan kanan sehingga kelihatan ssipemakai sepertinya memakai dua ulos.

image

Aturan-aturan tentang pemberian Ulos:

Berbicara adat Batak maka Ulos membawa peranan besar, jadi dalam setiap upacara adat Batak maka Prinsip Dalihan Natolu berlaku dengan demikian Ulos sebagai sarana Hula-hula memberi pasupasunya kepada hasuhutan .

Pihak mana yang memberi Ulos dan kepada siapa diberi Ulos diantara suku Batak ada beberapa perbedaan, seperti didaerah Toba, Simalungun, dan Karo yang memberi Ulos adalah pihak Hula-hula kepada Boru. Sedangkan di Papak (Dairi), Tapanuli Selatan, pihak borulah yang memberikan ulos kepada Hulahula (Moranya), atau Kula-kula.

Meskipun ada perbedaan ini bukan berarti mengurangi nilai dan makna suatu ulos dalam upacara Adat.

Disamping Hula-hula yang dapat memberikan ulos ,juga Dongan tubu, dan pariban yang lebih tua bisa memberi ulos kepada orang yang berhajat. Jadi kesimpulannya yang dapat memberi ulos adalah orang yang mempunyai kedudukan lebih tinggi (dalam urutan kekeluargaan) dari sipenerima Ulos.

Dalam pesta perkawinan umpamanya tat urutan pemberi ulos adalah sebagai berikut:

  1. Orang tua Pengantin perempuan.
  2. Tulang pengantin perempuan, termasuk tulang rorobot.
  3. Dongan sabutuha dari orang tua pengantin perempuan yang dalam hal ini disebut Paidua (pamarai)
  4. Pariban yaitu boru ni hulahula (orangtua penganti perempuan)
  5. terakhir tulang pengantin laki-laki, setelah kepadanya diberikan bahagian dari sinamot yang diterima orang tua pengantin perempuan dari pihak paranak (Titin marakup) yaitu sebanyak 2/3 dari pihak parboru dan 1/3 dari Paranak. Tintin Marakup ini disampaikan oleh orang tua pengantin perempuan kepada tulang sianak (pengantin laki-laki), maka dinamaknlah “Tintin Marakup”.

Tata cara pemberian Ulos:

Menurut tatacara adat Batak setiap orang akan menerima minimum 3 macam ulos, dari mulai lahir sampai akhir hayatnya. Ulos inilah yang disebut ulos na marsituhu yang dapat digolongkan sebagai ulos ni tondi, menurut falsafah Dalihan na tolu.

Adapun perincian ketiga ulos tersebut adalah :

  1. Diterima sewaktu dia dilahirkan disebut ulos “Parompa”.
  2. Diterima pada masuk jenjang perkawinan disebut “Ulos Hela”.
  3. Diterima sewaktu meninggal disebut “Ulos Saput”

Bila seseorang meninggal dalam usia muda atau meninggal tanpa meninggalkan keturunan (mate hadiaranna) maka kepadanya diberikan ulos yang disebut “Ulos par olang-olangan”

Bila meninggal dan meninggalkan anak masih kecil-kecil (sapsap mar dum), bila laki-laki disebut “Matipul Ulu”, bila perempuan disebut “Marompas tataring”,maka kepadanya diberi ulos Saput.

Bila meninggal sari/saur matua maka dia mendapat “Ulos Panggabei” yang diterima dari semua hulahula , baikhulahula sendiri maupun hulahula ni anak serta hulahula dari cucu. Biasanya ulos panggabei ini diterima oleh seluruh turunannya. Pada saat seperti inilah berjalan ulos “Jugia”, dan ulos jugia ini diberikan kepada orangtua yang turunannya belum ada yang meninggal (martilaha matua).

I- Pemberian ulos kepada anak yang baru lahir:

Bila anak lahir, ada dua hal yang perlu diperhatikan :

1- apakah anak yang lahir tersebut anak sulung atau tidak;

2- Apakah anak tersebut anak sulung dari seorang anak sulung dari satu keluarga?“

Pada point pertama , bila anak tersebut adalah anak sulung dari seorang Ayah yang bukan anak sulung maka yang menamakan nama (mampe goar) cukup orang tuanya saja. Tetapi pada point kedua yang lahir itu adalah anak sulung dari seorang Ayah sulung pula pada satu keluarga maka yang bmemberi nama (mampe goar) adalah Ayahnya sendiri dan kakeknya. ( amani si…. dan Ompu ni……).

Perlu diperhatikan pada gelar ompu……, Bila gelar tersebut tidak mempunyai kata sisipan „Si“ maka gelar yang diperoleh itu adalah dari anak sulung perempuan (ompu bao). Dan sebaliknya pabila mendapatan sisipan „Si“ menjadi Ompu si…., maka berarti gelar ompu tersebut berasal dari anak sulung laki-laki (ompu suhut).

Untuk point pertama tadi, pihak hulahula hanya menyediakan 2 buah ulos yaitu 1- ulos Parompa untuk sianak 2- Ulos Pargomgom mampe goar untk Ayahnya.Untuk si anak sebagai parompa dapat diberikan ulos Mangiring, sedangkan untuk Ayahnya diberikan ulos Suri-suri ganjang.

Untuk point kedua, pihak Hulahula harus menyediakan ulos sebanyak 3 buah, yaitu 1- ulos Parompa untuk sianak, 2- ulos Pargomgom untuk si Ayah, 3- Ulos Sitolutruho sebgai bulang untuk ompungnya.

Seiring dengan pemberian ulos tersebut , maka kata-kata yang diucapkan sebagai berikut( untuk anak yangbaru lahir):

“Ucok, sadarion nunga pinuka goarmu, sai anggiat ma goar mi goar marsarak, goar na mura jou-jou on, hipas-hipas ho mamboan. Dison pasahaton nami ma tu ho ulos pangiring, asa mangiring anak dohot boru ho sian on tu joloan on, Horas ma“.

(artinya: Ucok, hari ini sudah ditabalkan namamu, semoga namamu itu nama yang terkenal dan mudah di sebu-sebut, semoga kau sehat-sehat membawa namamu itu, disini kami sampaikan untukmu satu ulos pangiring, agar membawa anak dan boru kau pada waktu yang akan datang, Horasma)

Sedangkan kata-kata untuk si Ayah dan Ibunya sebagai berikut:

“Di hamu hela/boru nami, mulai sadarion marbonsir naung pinuka goar ni buha baju muna, sadarion mulai mampe goar ni buha baju muna, sadarion mulai mampe ma goar dihamu mar amni dohot inani…., dison pasahatan nami ma tu hamu ulos suri suri ganjang, asa ganjang umurmu mamboan goar panggoari ni pahompu i. Hata ni umpama ma dohonon nami;

(artinya: Bagi kalian Menantu dan boru kami, mulai sekarang sehubungan dengan ditabalkan nama anak pertama kalian, mulai sekarang kalian ditabalkan dengan nama anak kalian tersebut menjadi amani…. Dan ina ni…..; disini kami sampaikan satu ulos suri-suri ganjang, agar panjang umur kalian membawa nama cucu tersebut, seperti kata umpasa kami katakan)

§ Tubu ma hariara, diatsa nitorna di ginjang, lehetma I boroytan ni horbo siopat pusoran.

Mantak goar sijou-jou on mai, hipasjala mariang, goar na mura jouon, dirgak bohi mamboan.

Kata-kata yang diucapkan kepada sikakek (ompung):

“Di hamu lae dohot ito, dibagasan sadarion ditonga ni jabu na marsangap namartua on, ima jabu sigomgom pangisi na on marlas ni roha hita, ala nunga jumpang na niluluan, tarida na dijalahan. Mula sadarion mampe goar do hamu lae, ito , marompuni… ala marbonsir sian goar ni pahompunta na ta pungka sadarion. Hupasahat hami ma tu hamu ulos ragi idup songon patuduhon balga ni roha nami. Hata ni umpasa do honon nami dihamu:

(artinya: Bagi kalian lae dan ito, pada hari ini ditengah rumah na marsangap na martua ini, yaitu rumah yang melindungi penghuni yang sedang bersukacita karena kita telah menemui yang dicari , dan nampak yang dicari. Mulai sekarang kalian menyandang nama Marompu…. Sehubungan dengan nama cucu kita yang kita tabalkan sekarang. Kami sampaikanlah satu ulos ragi idup sebagai menunjukkan senang hati kami . seperti kata umpasa kami katakan pada kalian)

§ Andor hadumpang ma togu-togu ni lobu;

Saur matua ma hamu lae ito, mamboan goar I huhut mangiring-iring pahompu.

II- Tata cara pemberian Ulos pada saat perkawinan:

image

Dalam upacara perkawinan ,pihak hulahula harus menyediakan ulos si tot ni pansa yaitu:

1- Ulos marjabu (hela dohot boru)

2- Ulos pansamot/gomgom untuk orang tua pengantin Laki-laki.

3- Ulos Pamarai diberikan kepada saudara yang lebih tua dari pengantin laki-laki atau saudara kandung Ayah.

4- Ulos Simolohon diberikan kepada iboto pengantin laki-laki atau bila belum ada yang menikah iboto dari Ayah.

Ulos yang tersebut diatas disebut adalah ulos yang paling minimal harus disediakan oleh hula-hula (orang tyua pengantin perempauan).

Adapun ulos tutup ni ampang diterima oleh boru diampuan hanya bila perkawinan tersebut dilakukan ditempat pihak keluarga perempuan (dialap jual). Bila perkawinan tersebut dilaksanakan ditempat keluarga laki-laki (ditaruhon jual) ulos tutup ni ampang tidak diberikan.

Sering kita lihat banyak ulos yang diberikan kepada pengantin oleh keluarja dekat, dahulu ulos inilah yang disebut ragi-ragi ni sinamot. Biasanya yang mendapat ragi ni sinamot (menerima sebahagian dari sinamot) memberi ulos sebagian imbalannya, dalam umpama disebut: “Malo manapol,ingkon mananggal”, Umpasa ini mengandung pengertian, orang Batak itu tidak mau terutang adat, tetapi dengan adanya istilah rambu pinudun yang dimaksud kan semula untuk mempersingkat waktu, berakibat kaburnya, siapa penerima gologoli dari ragi-ragi ni sinamot. Ini berakibat timbulnya kedudukan yang tidak sepatutnya (margoli-goli). Maksudnya untuk membalas undangan pesta adat yang diberikan kepada ale-ale (umum), kadang-kadang disamping memberi tumpak/kado bahkan para undangan memberi ulos atau dengan istilah Ulos Holong. Sedangkan Istilah Ulos Holong sebenarnya adalah diluar prinsip “Dalihan Na Tolu”.

Cara pemberian ulos:

Ulos Ragihotang telah dipersiapkan Hulahula (orang tua pengantin perempuan) untuk diberikan kepada pengantin yang disebut Ulos Hela (ulos marjabu).

Tetapi apabila orang tua pihak perempuan diakili oleh keluarga dekat maka dia berhak memberikan ulos tersebut kepada pengantin. Dan sebaliknya apabila Orang tua laki-laki yang diwakili maka ulos pansamaot tersebut harus diserahkan dala keadaan terlipat, sedang ulos Pargomgom (untuk pangamai) dapat diserahkan secara biasa. Biasanya pada acara demikian pihak Hula-hula harus mempersiapkan ulos sebanyak 20 (dua puluh) ulos untuk ulos Pansamot dan ulos Pargomgom.

Sedangkan kata-kata yang diaturkan oleh Hulahula adalah sebagai berikut:

”Hupasahat hami dison sada ulos tu hamu amang hela dohot tu ho borungku, sada ulos herbang na ganjang, hapal jala bidang. Taringot tu ganjang na, tujuan na sai tu ganjang na ma antong umurmu songon ni dok ni umpasa:

(artinya: kami sampaikan disini untuk kalian menantu kami serta untuk kau boruku satu ulos yang lebar dan panjang, tebal serta besar. Mengingat panjangnya agar panjang umur kalian seperti yang dikatakan umpasa)

  • Ni umpat padang togu, mangihut simar bulu-bulu;

Tu lelengna hamu mangolu, rodi na sarsar uban di ulu.

Taringot dihapalna, tujuanna sai tu hapal ma holong ni roha di hamu na nadua songon nidok ni umpama:

(artinya: mengingat tebalnya, tujuannya agar tebal rasa cinta mencintai pada kalian seperti yang dikatakan umpasa)

  • Mar siamin aminan ma hamu, songon lampak ni gaol;

Marsitungkol tungkolan songon suhat di robean,

Ia mangangkat rap tu ginjang, manimbung rap tu toru,

Tongon ma hamu sahata saoloan

Taringot tu bidang na on natujuanna sai tubuan tampuk ma hamu sian asi ni rohani Tuhanta songon nidok ni umpasa:

(artinya: mengingat lebarnya bermaksud semoga kalian melahirkan keturunan berkat kasih dari Tuhanseperti yang dikatakan umpasa)

  • Situmbur ni pakkat, tu situmbur ni hotang;

Tusi hamu mangalangka, disi ma hamu dapotan.

  • Binanga ni sihombing ma, binongka di tara bunga;

Tu sanggar ma amporik, tu lubang ma satua,

Sai siur ma na pinahan, gabe na ni ula.

Kemudian disandangkan ulos tersebut kekedua pengantin, setelah selesai pemberian ulo maka dijemputlah sedikit beras (boras sipir ni tondi) ditaburkan kepada umum sambil menyerukan Horas 3 kali.

Kemudian menyusul pemberi ulos kepada orang tua pengantin laki-laki atau wakilnya. Umpasa berikut sering disampaikan seiring dengan pemberian ulos:

“Jongjong do hami dison lae , ito pasahathon sada ulos na margoar ulos pansamot tu hamu siala naung hujalo hami sinamotmu, marbonsir diulaonta sadarion. Jala laos on ma ito lau ulos pargomgom asa mulai sadarion, gomgomonmu ma anakmu dohot parumaenmu.Songon nidok ni umpasa ma:

(artinya: Kami berdiri disini lae, ito untuk menyampaikan satu ulos yang bernama ulos pansamot untuk kalian karena kami telah menerima sinamot/mas kawin kalian, sehubungan dengan acara kita hari ini. Jadi inilah ito ulos panggomgom agar mulai sekarang kau ayomi anakmu serta menantumu seperti apa yang dikatakan umpasa:)

  • Manginsir ma sidohar, diuma ni palipi;

Tudeak na ma hamu marpinompar, jala bagasmu sitorop pangisi.

Songon panutup ito:

(artinya: sebagai penutup ito:)

  • Sahat sahat ni solu ma sahat tu bontean;

Nunga saut tu parhorasan, sahat tu panggabean.

Sesudah itu berjalanlah pemberi ulos (sitot ni Pansa) kepada pamarai dan simolohon. Pemberian ulos ini biasanya diwakilkan kepada suhut paidua.

Setelah ulos-ulos lainnya berjalan maka sebagai penutup adalah pemberian ulos dari tulang laki-laki di sebut Ulos panggabei. Ini dilaksanakan setelah acara pemberian Tintin marangkup.

III- Ulos pada upacara kematian

image

Ulos yang diserahkan pada waktu meninggal, Apabila seseorang meninggal, seperti dikatakan tadi inilah yang terakhir dia menerima ulos dari Hulahulanya.

Tingkat kematian menentukan jenis ulos yang diberikan. Jika seseorang meninggal muda maka ulos yang diberikan dinamai ulos „Parolang-olangan“ dan biasanya dari jenis parompa . Dan bila yang meninggal adalah telah berkeluarga (matipul ulu/ marompas tataring), maka ulos yang diserahkan pada orang yang meninggal adalah „Ulos Saput“, dan pada isterinya/jandanya diberikan „Ulos Tujung“.. Bila yang meninggal saur atau sari matua maka kepadanya diberikan „Ulos Panggabei“.

Tentang Ulos Saput dan Tujung perlu dijelasjkan tentang pemberiannya. Menurut para orang tua, yang memeberikan saput ialah pihak Tulang sebagai bukti bahwa tulang masih tetap ada hubungannya dengan berenya. Sedang Ulos Tujung diberikan oleh pihak Hula-hula .Ini penting agar tidak terjadi kesalahan.

Tata cara pemberiannya:

Bila yang meninggal seorang anak (belum berkeluarga) maka tidak ada acara pemberian sapaut. Bila yang meninggal adalah orang yang telah berkeluarga maka pihak pihak hula-hula mempersiapkan ulos Tujung dan Pihak Tulang menyediakan Ulos Saput, untuk diserahkan, seiring dengan pemberian ulos tersebut maka pihak Tulang memberi ulos Saput dari Tulang menyerahkannya dengan kata-kata:

“Dison bere hupasahat hami dope sada ulos tu ho songon saput ni dagingmu, ulos parpudi laho manopot sambulom. Songon tanda do on na dohot do hami mar habot ni roha di halalaom. Pabulus ma roham, topot ma ingananmu rap dohot Tuhanta na patulus pardalanmu”.

(artinya: Disisni bere kami sampaikan lagi sebuah ulos untuk kamu sebagai pembalut badanmu, ulos terakhir untuk menemui tanah asalmu. Ini sebagai tanda menunjukkan bahwa kami ikut berduka cita atas keberangkatanmu. Ikhlaskanlah, dan pergilah kau menemui Tuhanmu)

Kemudian pihak hulahula memeberikan tujung:

“Sadarion (ito/hela) pasahaton nami do tuho ulos tujung. Boha bahenon ito/hela, nunga songon i huroha bagian mu, marbahir siubeonmu, sambor nipim mabalu ho. Alani I unduk ma panailim marnida halak, patoru ma dirim maringot Tuhan, songon nidok ni umpasa ma dohonon nami:

(artinya: Hari ini ito/hela kami sampaikanlah kepadamu Ulos Tujung. Apa yang harus dikatakan lagi ito/hela sudah harus begitu nasibmu, marbahir siubeonmu, sambor nipim kau menjadi janda/duda. Oleh karena itu tunduklah pandangan mu melihat orang, dan rendahkan lah hatimu mengingat Tuhan)

  • Hotang binebe-bebe, hotang punulos-pulos;

Unang iba mandele, ai godang do tudos-tudos.

Setelah beberapa hari berselang maka dilanjutkan dengan upacara mengungkap tujung yang dilakukan oleh pihak Hula-hula. Mengenai waktunya tergantung kesepakatan kedua belah pihak.

Hulahula menyediakan beras dipiring, air bersih untuk mencuci muka dan air puti satu gelas, Acara dibuat pada waktu pagi (parnakok ni mataniari). Kata-kata untk mengiringi acara tersebut adalah:

”Sadarion ungkapon nami ma tujung on sian simajujungmu, asa ungkap na ari matiur, ungkap silas niroha tu hamu di joloanon, husuapi ma dainang/ helangku asa bolong sude ilu ilum, na mambahen golap panailian.

(artinya: Hari ini kami buka tujung ini dari kepala kamu, agar terbuka hari yang cerah, membuka kesenangan pada masa-masa yang akan datang, saya cuci mukamu ito/hela agar terbuang semua kesedihanmu yang membuat gelap penglihatanmu.)

  • Sai bagot na ma dungdung ma tu pilopilo na marajar;

Sai mago ma na lungun tu joloanon, ro ma na jagar.

Dison muse aek sitiotio, tio inum dainang/ laengku ma on, sai tio ma panggabean tio parhorasan di hamu tu joloanon. Huhut dison boras sipir ni tondi, sai pir ma nang tondim.

( artinya: Ini ada air yang sangat jernih, jernih diminum oleh ito/lae, agar terang panggabean, terang parhorasan bagi kalian dihari mendatang. Serta disini ada beras spir ni tondi agar kuat tondimu.)

  • Martantan ma baringin, marurat jabi-jabi

Horas ma tondi madingin, tumpakon ni Mulajadi.

Beras kemudian dijemput lalu ditaburkan diatas kepala sebanyak tiga kali. Biasanya seluruh anak yang ditinggalkan almarhumpun dicuci mukanya dan ditaburkanberas dikepalanya.

Dahulu kepada sipemberi ulos biasanya diberikan piso-piso sebagai panggarar adat. Sekarang ini sering diganti dengan uang.

IV- Memberi Ulos Panggabei:

Bila seorang tua yang sari atau atau saur matua meninggal, maka seluruh hulahula akan memberikan ulos panggabei. Dan biasanya ulos ini tidak lagi diberikan kepada yang meninggal akan tetapi kepada seluruh turunannya (anak, pahompu, cicit).

Kata-kaya yang mengiringi pemberian ulos adalah sebagai berikut:

“Di hamu pomparan ni lae nami (amang boru) on. Dison hupasahat hami tu hamu sada ulos panggabei. Ulos on ulos panggabei,sai mangulosipanggabean ma on, mangulosi parhorasan, mangulosi daging dohot tondimu, hamu sude pomparan ni lae/amangboru on. Horas ma dihita sude..”

(artinya: Untuk kalian semua keturunan lae/ amang boru kam, idisini kami sampaikan satu ulos panggabei. Ulos ini ulos panggabei, agar mangulosi panggabean bagi kalian, mangulosi parhorasan, dan mangulosi badan dan tondi kaliansemua keturunan lae/amang boru ini, horas bagi kita semua.)

Biasanya ulos ini jumlahnmya sesuai dengan urutan hulahula mulai dari hulahula, bona tulang, bona ni ari, dan seluruh hulahula anaknya maupun hulahula cucunya.

Begitulah kurang lebih tentang Ulos dengan filsafat hidup yang terkandung didalamnya.

Beras (sipir Ni tondi) :

image

Sebagai bahan pokok sehingga beras dianggap sebagai bahan sumber kehidupan yang sangat penting, oleh karena itu Beras dianggap memiliki kekuatan magis memberikan kehidupan bagi manusia, itulah sebabnya harus dijaga dan diurus dengan baik, tidak boleh dbuang sembarangan dan harus disimpan ditempat khusus, karena itulah Beras dibuat sebagai simbol pemberian atau mengukuhkan tondi ”Sipir ni tondi”, (penguat jiwadan roh) yang bermakna jauh dari gangguan roh-roh jahat. Beras umumnya diberikan oleh pihak Hulahu pada borunya.

Tata cara pelaksanaan adat Batak – 6

III-Parhataan :

Dalam setiap upacara adat, betutur kata mempunyai persyaratan tertentu, tidak boleh asal bicara, kasar unsur marah,menyindir menyinggung perasaan, jadi harus wajar tepat dan pantas, tulus, dan kekeluargaan. Karena ada keyakinan orang Batak kalau berbicara dengan perkataan buruk akan mendapat dampak buruk pula dan kehancuran dan dan sebaliknya berkata baik akan mendapat yang baik dan keberuntungan.Oleh karena itu didalam parhataan selalu diselipkan peribahasa atau perumpamaan yang keindahan dan nilai-nilai moralnya sangat menentukan kesopansantunan didalam setiap berbicara. Peranan Raja parhata (juru bicara) yang mempunyai kemampuan bertutur kata yang baik sangatlah penting agar terhindar dari dampak negatif.

IV- Umpasa dan Umpama :

Hampir boleh dikatakan disetiap berbicara tentang budaya Batak, Umpasa berperanan besar, suatu bentuk puisi yang bernafaskan pemberian berkat (hata pasu-pasu), jadi suatu permohonan kepada yang Maha Kuasa agar kandungan makna rangkaian klimat tersebut benar-benar dapat terwujud dan menjadi kenyataan nikmat yang dapat dirasakan oleh orang yang dituju sesuai dengan falsafa dan kepercayaan Orang Batak.

Umpasa bukan saja hanya sekedar puisi berpantun, yang dibuat orang karena suatu keahlian semata-mata dan tercipta seketika pada saat kita diberi kesempatan memperoleh jambar hata, namun Umpasa tercipta melalui suatu kejadian yang kemudian diambil hikmahnya dengan penuh sakral sejalan dengan alam pikiran dan falsafah orang Batak.

Oleh karena Umpasa tercipta berdasarkan pengalaman pada ompu sijolojolo tubu, maka isi selalu berdasarkan perumpamaan alam ketika itu. Memamng sekarang sering dimasukkan unsur-unsur modern dengan mengganti kata-kata yang dikenal saat sekarang. Baiknya demi menjaga ke sakralan dan keindahan umpasa sebaiknya kita pertahankan Umpasa yang dibuat oleh pendahulu (ompu sijolojolo tubu. Tidak masalah umpasa tersebut bolak balik atau sering diucapkan, yang penting makna dan tujuannya yang perlu dikhayati dan di resapi.

Umpasa di ucapkan setelah inti masalah di utarakan, untuk menekankan bahwa inti kata-kata yang diutarakannya itu layak dan didukung oleh ompu sijolojolo tubu dalam bentuk Umpasa yang dibuat mereka.

Adapun perbedaan Umpasa dengan Umpama adalah :

Umpasa adalah sebagai Tamsil berbentuk pantun dua atau empat baris: Baris pertama sebagai sampiran dan baris kedua asebagai isi, mis:

Ø Landit jala porhot ni simargalagala;

Ø Hansit jala ngotngot naung adong gabe soada.

Sedang kan Umpama adalah: perumpamaan atau peribahasa . sebgai contoh :

Ø Siganda sigandua, tu pusuk ni singgolom;

Ø Nasada gabe dua, utang ni sipahilolong.

Jadi perbedaan antara Umpasa dengan Umpama hanya perbrdaan makna sakral, Umpasa lebih dipergunakan memberi pasupasu.

V-Ulos:

image

Adalah suatu kain tenun taradisional Batak, dengan bermacam corak dan masing-masing mempunyai nama dan makna serta fungsi yang berbeda pula. Umumnya ini diberikan oleh pihak hulahula kepada borunya. Karena Ulos ini memiliki makna religi maka pembuatannya mempunyai persyaratan religi pula, didalam pemberian pasu-pasu oleh hula-hula kepada boru seiring dengan memberi ulos, orang Batak yakin ulos memiliki nilai-nilai sakral itulah sebabnya pihak boru yang mendapat ulos dari hulahulanya merasa mendapat restu (pasupasu) yang dapat memberikan berkat kebahagiaan hidup bagi penerimanya.

Hingga sekarang tradisi memakai ulos masih dapat kita lihat terutama pada acara-acara adat Batak, yang sering dipakai adalah seperti ulos Jugia, Ragi hotang ragi dup, sadum, dan tidak semua ulos dapat dipakai sehari-hari.

Ulos dalam proses pembuatannya, terbuat dari bahan yang sama yaitu benang yang dipintal dari kapas. Dan yang membedakan sebuah ulos adalah proses pembuatan nya yang dapat merupakan ukuran dalam penentuan nilai sebuah ulos

Sedangkan pemberian warna dasar pada sebuah ulos adalah dari sejenis tumbuhan Nila (salaon) yang dimasukkan didalam sebuah periuk tanah yang telah diisi air. Tumbuhan ini direndam (digon-gon) berhari-hari, sampai getahnya keluar, lalu diperas dan ampasnya dibuang.Hasilnya ialah sebuah cairan berwarna hitam ke biru-biruan disebut Itom.

Dalam periuk lain yang disebut (palabuan) disediakan air hujan yang tertampung pada lekuk batu (aek ni naturige) dicampur dengan air kapur secukupnya . Cairan yang berwarna hitam kebiru-biruan tadi dimasukkan kedalam palabuan tadi, lalu diaduk hingga larut, ini disebut manggaru.

Kedalam cairan inilah benang tadi dicelupkan (disop). Sebelum dicelup benang terlebih dahulu dililit dengan benang lain pada bagian tertentu menurut warna yang diinginkan. Baru proses pencelupan dimulai, berulang ulang hingga warna yang diharapkan dapat dicapai, proses ini memakan waktu yang sangat lama, berbulan-bulan bahkan ada yang sampai tahunan.

Setelah warna yang diharapkan tercapai, benang tadi disepuh dengan air lumpur yang dicampur dengan air abu yang dimask hingga mendidih sampai benang benang tadi kelihatan mengkilat. Ini disebut mar-sigira, biasanya pekerjaan ini dilakukan pada waktu pagi ditepi kali.

Bila warna yang diharapkan sudah cukup matang, lilitan benang kemudian dibuka untuk diunggas agar benang menjadi kuat.

Benang ini sebelumnya direndam dulu dengan nasi yang lembek/bubur nasi yang kental, dan sesudah cairan ini meresap keseluruh benang, digantung pada sebuah penggunggasan untuk diunggas. Setiap jenis warna digulung pada hul-hul yang beda. Inilah yang kemudian di ani (dirajut), lalu ditenun.

Bila kita memeperhatikan ulos Batak secara teliti, maka akan kelihatan bahwa cara pembuatannya yang tergolong primitif bernilai seni yang sangat tinggi, tidak kalah bila dibandingkan dengan karya daerah lain.

Tingkatan ulos:

Seperti yang dikatakan tadi bahwa yang membedakan nilai ulos adalah tergantung proses pembuatannya yang mempunyai tingkatan tertentu.

Misalnyabagi seorang gadis yang belajar bertenun, baru diperkenankan membuat ulos parompa (yang dipergunakan untuk menggendong anak) ini disebut Mallage.

Tingkatan ini diukur dari jumlah lidi yang dipakai untuk memebri warna yang diinginkan. Tingkatan yang paling tinggi ialah bila dia telah mampu mempergunakan 7 (tujuh) buah lidi ( marsi pitu lili) dimana yang bersangkutan telah dianggap cukup mampu bertenun segala jenis ulos.

Filsafat tentang Mangulosai:

image

Ini adalah bagian yang penting karena dilatar belakangi sistem perkampungan yang umumnya hidup disekitar pegunungan atau ditepian danau (tao) maka cuzcany/iklimnya selalu dingin, karena itu orang batak sangat mengharapkan/ merindukan panas (halason), yang dapat kita dari umpasa/peribahasanya sbb: “ Sinuan bulu mambahen las, Sinuan partuturan sbahen horas”. Karena itu pada perkampungan Batak umumnya ditananm bambu disamping pertahanan (menjaga musuh) juga berfungsi sebagai penahan angin yang terlalu kencang (membawa dingin) disekitar pegunungan. Ada tiga yang dapat membuat senang “las roha), bagi leluhur di zaman dahulu yaitu: 1- Matahari, 2- Api, 3- Ulos. Masalah Api bukan menjadi sesuatu yang dipikirkan karena itu tetah ada dan teatp ada sesuai dengan waktyunya, sedangkan Api dapat dibuat, tetapi tidak praktis untuk dipergunakan untuk menghangatkan badan terutama pada malam hari, sangat berbeda dengan Ulos hanya tinggal menyelimutkan kebadan saja sudah hangat.Oleh karena itu nenek moyang zaman dahulu untuk memanaskan atau kiasan dari menyenangkan hati anak- anaknya maka diberilah ulos. Begitulah sangat berartinya ulos bagi kehidupan masyarakat Batak, hingga untuk kepesat atau ke pakan (onanpun sering orang batak zaman dulu menyandangkannya ( dialiton). Akhirnya Mangulosi masuk sebagai salah satu unsur dari adat. Dan mempunyai tata cara dalam mempergunakannya sbb: Pemberian Ulos umunya dilakukan oleh yang dituakan maksudnya Dari Tulang (hula-hula) kepada boru (parboruan), Orang tua kepada anak, Amang boru tu pormaen, Haha tu anggi. Dan ulos yang diberikanpun harus lah Ulos yang pantas, seperti: Ragidup sebagai ulos pargomgom kepada ibunya menantu (hela). Sibolang atau Ragihotang sebagai pansamot kepada bapaknya menantu (hela), begitu juga yang akan diberikan kepada menantu (hela). Ragi dup juga diberi kepada boru sebagai ulos mula gabe ( sewaktu mengharap kelahiran anak pertama).

Ditinjau dari segi pemakaian maka ada 3macam ulos yaitu:

1- Siabitonon: ragidup, Sibolang, Runyat, Jobit, Simarinjamisi, Ragi pangko dll.

2- Sihadangkononhon (sampesampe): Sirara, Sumbat, Bolean, Mangiring, Surisuri, Sadum, dll

3- Sitalitalihonon: Tumtuman, Mangiring, Padangrusa, dll

(bersambung –7)