Posts from the ‘Sejarah’ Category

Benarkah 350 tahun Indonesia dijajah Belanda ???

Kedatangan penjajah

Pada 1511, Portugis berhasil menguasai Malaka, sebuah emporium yang menghubungkan perdagangan dari India dan Cina. Dengan menguasai Malaka, Portugis berhasil mengendalikan perdagangan rempah-rempah seperti lada, cengkeh, pala, dan fuli dari Sumatra dan Maluku. Pada 1512, D`Albuquerque mengirim sebuah armada ke tempat asal rempah-rempah di Maluku. Dalam perjalanan itu mereka singgah di Banten, Sundakalapa, dan Cirebon. Dengan menggunakan nakhoda-nakhoda Jawa, armada itu tiba di Kepulauan Banda, terus menuju Maluku Utara, akhirnya tiba juga di Ternate.
Di Ternate, Portugis mendapat izin untuk membangun sebuah benteng. Portugis memantapkan kedudukannya di Maluku dan sempat meluaskan pendudukannya ke Timor. Dengan semboyan “gospel, glory, and gold” mereka juga sempat menyebarkan agama Katolik, terutama di Maluku. Waktu itu, Nusantara hanyalah merupakan salah satu mata rantai saja dalam dunia perdagangan milik Portugis yang menguasai separuh dunia ini (separuh lagi milik Spanyol) sejak dunia ini dibagi dua dalam Perjanjian Tordesillas tahun 1493. Portugis menguasai wilayah yang bukan Kristen dari 100 mil di sebelah barat Semenanjung Verde, terus ke timur melalui Goa di India, hingga kepulauan rempah-rempah Maluku. Sisanya (kecuali Eropa) dikuasai Spanyol.

Sejak dasawarsa terakhir abad ke-16, para pelaut Belanda berhasil menemukan jalan dagang ke Asia yang dirahasiakan Portugis sejak awal abad ke-16. Pada 1595, sebuah perusahaan dagang Belanda yang bernama Compagnie van Verre membiayai sebuah ekspedisi dagang ke Nusantara. Ekpedisi yang dipimpin oleh Cornelis de Houtman ini membawa empat buah kapal. Setelah menempuh perjalanan selama empat belas bulan, pada 22 Juni 1596, mereka berhasil mendarat di Pelabuhan Banten. Inilah titik awal kedatangan Belanda di Nusantara.

Kunjungan pertama tidak berhasil karena sikap arogan Cornelis de Houtman. Pada 1 Mei 1598, Perseroan Amsterdam mengirim kembali rombongan perdagangannya ke Nusantara di bawah pimpinan Jacob van Neck, van Heemskerck, dan van Waerwijck. Dengan belajar dari kesalahan Cornelis de Houtman, mereka berhasil mengambil simpati penguasa Banten sehingga para pedagang Belanda ini diperbolehkan berdagang di Pelabuhan Banten. Ketiga kapal kembali ke negerinya dengan muatan penuh. Sementara itu, kapal lainnya meneruskan perjalanannya sampai ke Maluku untuk mencari cengkih dan pala.
Dengan semakin ramainya perdagangan di perairan Nusantara, persaingan dan konflik pun meningkat. Baik di antara sesama pedagang Belanda maupun dengan pedagang asing lainnya seperti Portugis dan Inggris. Untuk mengatasi persaingan yang tidak sehat ini, pada 1602 di Amsterdam dibentuklah suatu wadah yang merupakan perserikatan dari berbagai perusahaan dagang yang tersebar di enam kota di Belanda. Wadah itu diberi nama Verenigde Oost-Indische Compagnie (Serikat Perusahaan Hindia Timur) disingkat VOC.

Pemerintah Kerajaan Belanda (dalam hal ini Staaten General), memberi “izin dagang” (octrooi) pada VOC. VOC boleh menjalankan perang dan diplomasi di Asia, bahkan merebut wilayah-wilayah yang dianggap strategis bagi perdagangannya. VOC juga boleh memiliki angkatan perang sendiri dan mata uang sendiri. Dikatakan juga bahwa octrooi itu selalu bisa diperpanjang setiap 21 tahun. Sejak itu hanya armada-armada dagang VOC yang boleh berdagang di Asia (monopoli perdagangan).

Dengan kekuasaan yang besar ini, VOC akhirnya menjadi “negara dalam negara” dan dengan itu pula mulai dari masa Jan Pieterszoon Coen (1619-1623, 1627-1629) sampai masa Cornelis Speelman (1681-1684) menjadi Gubernur Jenderal VOC,

kota-kota dagang di Nusantara yang menjadi pusat perdagangan rempah-rempah berhasil dikuasai VOC. Batavia (sekarang Jakarta) menjadi pusat kedudukan VOC sejak 1619, Ambon dikuasai tahun 1630. Beberapa kota pelabuhan di Pulau Jawa baru diserahkan Mataram kepada VOC antara tahun 1677-1705. Sementara di daerah pedalaman, raja-raja dan para bupati masih tetap berkuasa penuh. Peranan mereka hanya sebatas menjadi “tusschen personen” (perantara) penguasa VOC dan rakyat.
“Power tends to Corrupt.” Demikian kata Lord Acton, sejarawan Inggris terkemuka. VOC memiliki kekuasaan yang besar dan lama, VOC pun mengalami apa yang dikatakan Lord Acton. Pada 1799, secara resmi VOC dibubarkan akibat korupsi yang parah mulai dari “cacing cau” hingga Gubernur Jenderalnya. Pemerintah Belanda lalu menyita semua aset VOC untuk membayar utang-utangnya, termasuk wilayah-wilayah yang dikuasainya di Indonesia, seperti kota-kota pelabuhan penting dan pantai utara Pulau Jawa.
Selama satu abad kemudian, Hindia Belanda berusaha melakukan konsolidasi kekuasaannya mulai dari Sabang-Merauke. Namun, tentu saja tidak mudah. Berbagai perang melawan kolonialisme muncul seperti:


Perang Padri (1821-1837),


Perang Diponegoro (1825-1830),


Perang Aceh (1873-1907), Perang di Jambi (1833-1907), Perang di Lampung (1834-1856), Perang di Lombok (1843-1894), Perang Puputan di Bali (1846-1908), Perang di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah (1852-1908), Perlawanan di Sumatra Utara (1872-1904),

Perang di Tanah Batak (1878-1907),


dan Perang Aceh (1873-1912).
Peperangan di seluruh Nusantara itu baru berakhir dengan berakhirnya Perang Aceh. Jadi baru setelah tahun 1912, Belanda benar-benar menjajah seluruh wilayah yang kemudian menjadi wilayah Republik Indonesia (kecuali Timor Timur). Jangan lupa pula bahwa antara 1811-1816, Pemerintah Hindia Belanda sempat diselingi oleh pemerintahan interregnum (pengantara) Inggris di bawah Letnan Gubernur Thomas Stamford Raffles.
Saat-saat akhir
Pada 7 Desember 1941, Angkatan Udara Jepang di bawah pimpinan Laksamana Nagano melancarkan serangan mendadak ke pangkalan angkatan laut AS di Pearl Harbour, Hawaii. Akibat serangan itu kekuatan angkatan laut AS di Timur Jauh lumpuh. AS pun menyatakan perang terhadap Jepang. Demikian pula Belanda sebagai salah satu sekutu AS menyatakan perang terhadap Jepang.

Pada 18 Desember 1941, pukul 06.30, Gubernur Jenderal Hindia Belanda Jenderal Tjarda van Starkenborgh Stachouwer melalui radio menyatakan perang terhadap Jepang. Pernyataan perang tersebut kemudian direspons oleh Jepang dengan menyatakan perang juga terhadap Pemerintah Hindia Belanda pada 1 Januari 1942. Setelah armada Sekutu dapat dihancurkan dalam pertempuran di Laut Jawa maka dengan mudah pasukan Jepang mendarat di beberapa tempat di pantai utara Pulau Jawa.
Pemerintah Kolonial Hindia Belanda memusatkan pertahanannya di sekitar pegunungan Bandung. Pada waktu itu kekuatan militer Hindia Belanda di Jawa berjumlah empat Divisi atau sekitar 40.000 prajurit termasuk pasukan Inggris, AS, dan Australia. Pasukan itu di bawah komando pasukan sekutu yang markas besarnya di Lembang dan Panglimanya ialah Letjen H. Ter Poorten dari Tentara Hindia Belanda (KNIL). Selanjutnya kedudukan Pemerintah Kolonial Belanda dipindahkan dari Batavia (Jakarta) ke Kota Bandung.
Pasukan Jepang yang mendarat di Eretan Wetan adalah Detasemen Syoji. Pada saat itu satu detasemen pimpinannya berkekuatan 5.000 prajurit yang khusus ditugasi untuk merebut Kota Bandung. Satu batalion bergerak ke arah selatan melalui Anjatan, satu batalion ke arah barat melalui Pamanukan, dan sebagian pasukan melalui Sungai Cipunagara. Batalion Wakamatsu dapat merebut lapangan terbang Kalijati tanpa perlawanan berarti dari Angkatan Udara Inggris yang menjaga lapangan terbang itu.
Pada 5 Maret 1942, seluruh detasemen tentara Jepang yang ada di Kalijati disiapkan untuk menggempur pertahanan Belanda di Ciater dan selanjutnya menyerbu Bandung. Akibat serbuan itu tentara Belanda dari Ciater mundur ke Lembang yang dijadikan benteng terakhir pertahanan Belanda.
Pada 6 Maret 1942, Panglima Angkatan Darat Belanda Letnan Jenderal Ter Poorten memerintahkan Komandan Pertahanan Bandung Mayor Jenderal J. J. Pesman agar tidak mengadakan pertempuran di Bandung dan menyarankan mengadakan perundingan mengenai penyerahan pasukan yang berada di garis Utara-Selatan yang melalui Purwakarta dan Sumedang. Menurut Jenderal Ter Poorten, Bandung pada saat itu padat oleh penduduk sipil, wanita, dan anak-anak, dan apabila terjadi pertempuran maka banyak dari mereka yang akan jadi korban.
Pada 7 Maret 1942 sore hari, Lembang jatuh ke tangan tentara Jepang. Mayjen J. J. Pesman mengirim utusan ke Lembang untuk merundingkan masalah itu. Kolonel Syoji menjawab bahwa untuk perundingan itu harus dilakukan di Gedung Isola (sekarang gedung Rektorat UPI Bandung). Sementara itu, Jenderal Imamura yang telah dihubungi Kolonel Syoji segera memerintahkan kepada bawahannya agar mengadakan kontak dengan Gubernur Jenderal Tjarda van Starkenborgh Stachouwer untuk mengadakan perundingan di Subang pada 8 Maret 1942 pagi. Akan tetapi, Letnan Jenderal Ter Poorten meminta Gubernur Jenderal agar usul itu ditolak.

Jenderal Imamura mengeluarkan peringatan bahwa “Bila pada 8 Maret 1942 pukul 10.00 pagi para pembesar Belanda belum juga berangkat ke Kalijati maka Bandung akan dibom sampai hancur.” Sebagai bukti bahwa ancaman itu bukan sekadar gertakan, di atas Kota Bandung tampak pesawat-pesawat pembom Jepang dalam jumlah besar siap untuk melaksanakan tugasnya.

Melihat kenyataan itu, Letnan Jenderal Ter Poorten dan Gubernur Jenderal Tjarda beserta para pembesar tentara Belanda lainnya berangkat ke Kalijati sesuai dengan tanggal dan waktu yang telah ditentukan. Pada mulanya Jenderal Ter Poorten hanya bersedia menyampaikan kapitulasi Bandung. Namun, karena Jenderal Imamura menolak usulan itu dan akan melaksanakan ultimatumnya. Akhirnya, Letnan Jenderal Ter Poorten dan Gubernur Jenderal Tjarda menyerahkan seluruh wilayah Hindia Belanda kepada Jepang tanpa syarat. Keesokan harinya, 9 Maret 1942 pukul 08.00 dalam siaran radio Bandung, terdengar perintah Jenderal Ter Poorten kepada seluruh pasukannya untuk menghentikan segala peperangan dan melakukan kapitulasi tanpa syarat.
Itulah akhir kisah penjajahan Belanda. Setelah itu Jepang pun menduduki Indonesia hingga akhirnya merdeka 17 Agustus 1945. Jepang hanya berkuasa tiga tahun lima bulan delapan hari.
Analisis
Berdasarkan uraian di atas, kita bisa menghitung berapa lama sesungguhnya Indonesia dijajah Belanda. Kalau dihitung dari 1596 sampai 1942, jumlahnya 346 tahun. Namun, tahun 1596 itu Belanda baru datang sebagai pedagang. Itu pun gagal mendapat izin dagang. Tahun 1613-1645, Sultan Agung dari Mataram, adalah raja besar yang menguasai seluruh Jawa, kecuali Banten, Batavia, dan Blambangan. Jadi, tidak bisa dikatakan Belanda sudah menjajah Pulau Jawa (yang menjadi bagian Indonesia kemudian).
Selama seratus tahun dari mulai terbentuknya Hindia Belanda pascakeruntuhan VOC (dengan dipotong masa penjajahan Inggris selama 5 tahun), Belanda harus berusaha keras menaklukkan berbagai wilayah di Nusantara hingga terciptanya Pax Neerlandica. Namun, demikian hingga akhir abad ke-19, beberapa kerajaan di Bali, dan awal abad ke-20, beberapa kerajaan di Nusa Tenggara Timur, masih mengadakan perjanjian sebagai negara bebas (secara hukum internasional) dengan Belanda. Jangan pula dilupakan hingga sekarang Aceh menolak disamakan dengan Jawa karena hingga 1912 Aceh adalah kerajaan yang masih berdaulat. Orang Aceh hanya mau mengakui mereka dijajah 33 tahun saja.
Kesimpulannya, tidak benar kita dijajah Belanda selama 350 tahun. Yang benar adalah, Belanda memerlukan waktu 300 tahun untuk menguasai seluruh Nusantara. ***

Iklan

Raja Rum adalah Raja kerajaan Ottoman bukan Raja Romawi (Roma)

Raja Rum bukan Raja Romawi (Roma)

Pendahuluan:
Mengenai Raja Rum adalah mitos yang berkembang di Asia Tenggara, demikian juga di tanag Batak berkembang dalam mistik Batak.
Raja Rum diyakini adalah sesuatu kekuatan misterius dari Barat dan China di timur.
Di Sumatera dan umumnya di semananjnng melayu ada cerita berkembang ,bahwa Iskandar Dzul karnain (Alexander Agung) memiliki tiga putra dari putri Raja Samudra. yang tertua pergi ke Barat untuk menjadi Raja Rum, ke Timur anak kedua untuk menjadi Raja Cina, sementara yang ketiga untuk memulai dinasti Minangkabau nanti. [William Marsden, The Sejarah Sumatera 3rd ed., (London, 1811)]. Pada abad kedelapan belas, penguasa Minangkabau sendiri ditata adik dari penguasa Rum dan Cina [Ibid.. pp.338-41.]

Raja Rum oleh Batak ;

Raja Rum, selain Raja Uti, mempunyai tempat khusus dalam sejarah peradaban Bangsa Batak. Kehormatan dan persembahan diberikan ke hadirat Raja Rum yang diyakini dapat memberi restu dan berkat bagi kelangsungan kerajaan.

Walaupun begitu, tidak ada catatan pasti sejarah, bagaimana Bangsa Batak berhubungan dengan Raja Rum tersebut. Itulah makanya, Modiglinai, pernah menipu orang Batak dengan mengaku sebagai utusan Raja Rum saat menyusup ke tanah Batak. Tipuan ala Eropa tersebut ternyata manjur saat ketahuan oleh pimpinan Batak di tanah Batak.(kisah ini diabadikan dalam bentuk mitos di Gayo, seorang anak Raja Rum/Roma terdampar ) sbb: …….. namanyaanak terdampar tersebut masih sangat kuat masih sangat mythically kuat pada tahun 1890 bahwa perjalanan Italia Elio Modigliani, setelah mengakui ia datang dari Roma, mendapati dirinya memperoleh berikut sebagai tersebar kabar bahwa ia adalah seorang utusan, atau mungkin suatu inkarnasi yang ajaib. Raja yang kuat Rum [Sebuah terjemahan dari bagian yang relevan dari Elio Modigliani Fra Saya Battachi Indipendenti (1892) adalah Saksi-saksi Sumatera: A Travellers ‘Anthology, ed. Anthony Reid (Kuala Lumpur: Oxford University Press, 1995), pp.199-209]. (Mengenai Elio Modigliani pernah diulas dengan Judul “Guru Somalaing Pardede termakan Rayuan Elio Modigliani”

Kerajaan Otaman’Usmaniyah-(Raja Rum)

Siapa sebenarnya Raja Rum yang terkenal itu, dan setiap tahun katanya menerima persembahan dari raja-raja di tanah Batak, tidak terkecuali Dinasti Sisingamangaraja
Kerajaan Ottoman ibukotanya adalah Istambul dulu bernama Konstantinopel (kerajaan Romawi timur), Jadi Kerajaan Ottoman merebut Konstantinopel dari kerazaan Byzantium selama ini dikuasai Romawi.
Zaman dibawah sultan Sulaiman kerajan Ottoman salah satu Negara terkuat baik didarat dan dilaut, oleh karena itu Kerajaan-kerajaan yang ada di Asia tenggara umumnya dan Nusantara Khususnya selalu memintak bantuan apabila direng Kerajaan Portugis yang mengusai wilayah Asia tenggara seperti Nusantara bagian timur dan Malaka dll. Karena Kapal-kapal Portugis selalu menyerang kapal-kapal dagang yangakan menuju Timur tengah dan eropah , membuat petani rempah-rempah gelisah oleh karena itu kerajaan Aceh memintak bantuan kepada kerajaan Ottoman (Raja Rum). Kerajaan Ottoman selalu membantu kerajaan-kerajaan Islam yang diserang Portugis , membuat Kerajaan Ottoman yang juga disebut sebagai Raja Rum menjadi Mitos yang sngat kuat bagi Suku bangsa di Asia Tenggara.

Diyakini informasi mengenai eksistensi Raja Rum, kalaupun belum pernah melakukan kontak peradaban dengan Batak, masuk ke tanah Batak, kemungkinan melalui dua jalur. Pertama melalui peradaban Batak pesisir di Barus, kedua melalui kerajaan Aceh yang merupakan sekutu dekat kerajaan Batak. Namun tidak tertutup kemungkinan informasi tersebut berasal dari selatan, yakni Minangkabau yang pernah rajanya memakai gelar Raja Mughal alias Mongol.

Saat kerajaan Aceh digempur oleh Belanda pada tahun 1873, kerajaan tersebut meminta bantuan dari semua teman sekutunya untuk datang menolongnya. Di antaranya Inggris, Prancis, AS dan Italia. Namun semua negara-negara yang mempunyai kontrak persahabatan tersebut menghianatinya dan tidak mau membantu, Turki tampil dipermukaan untuk membantu mengembalikan kedamaian di wilayah tersebut dari para aksi terror Belanda.

Turki mengemukakan klaimnya bahwa antara Turki dan Aceh sudah terjalin komunikasi persahabatan sejak abad ke-16. Persahabatan tersebut bahkan diperkuat kembali dengan penandatanganan perjanjian tahun 1850 tentang hubungan diplomatik.(zaman pemerintahan Sultan Abd-ul-Mejid (1839-1861)

Hubungan diplomasi antara Aceh dan Turki berlanjut saat Dinasti Usmaniyah menyelamatkan kawasan Laut Merah dari teror pada bajak laut Eropa pada tahun 1520:

Orang Aceh, mengirim utusan ke Turki dan mengemukakan pengakuan mereka atas kedaulatan Turki dengan kepemimpinan Kalifah, mengakui posisi Sinan Pasha, dan memakai bendera Usmaniyah di pelabuhan-pelabuhan, dan mengumumkan posisi Kerajaan Aceh sebagai sekutu Usmaniyah dan melakukan kerja sama saling melindungi. Sultan Selim menyetujui usulan tersebut. Kerjasama tersebut diujudkan saat Sultan memerintahkan Wazir Sinan Pasha untuk memberikan meriam dan pedang kehormatan yang sampai sekarang masih ada di Aceh.

Raja Rum

Di negara-negara Asia Tenggara di abad ke-15, nama Rum menggambarkan simbol kekuasaan yang sangat misterius yang terletak di arah Barat- yang meliputi nama Roma, Konstantinopel dan Iskandar. Cerita-cerita di Sumatera dan semenanjung Malaysia mengasosiasikan Raja Rum, raja agung dari barat dengan Raja Cina, raja agung dari Timur.

Menurut cerita-cerita rakyat di Johor dan Minangkabau, Iskandar Zulkarnain atau Alexandre the Great mempunyai tiga anak dari anak perempuannya Ratu Samudera. Setelah sebuah kontes adu kesaktian antara ketiganya di Selat Singapura, yang tua mengembara ke barat dan menjadi Raja Rum, dan yang kedua mengembara ke timur dan menjadi Raja Cina sementara yang ketiga bertahan di Asia alias Johor untuk memulai sebuah Dinati Minangkabau.

Di abad ke-18, penguasah di Minangkabau mengklaim dirinya adik laki-laki dari penguasa di Rum dan Cina.
Salah satu legenda di masyarakat Gayo Batak juga terdapat mengenai kondisi seorang anak Raja Rum yang terdampar di pantai. Sementara itu dalam peradaban Batak sendiri secara umum, nama tersebut sangat sakti dan secara legenda sangat berpengaruh ke pemahaman supranatural bangsa Batak. Sebegitu perkasanya nama tersebut, sehingga, dengan mudahnya, Modigliani dari Italia, berbohong dan mengaku sebagai perwakilan dan reinkarnasi Raja Rum, yang begitu saja dipercayai oleh orang Batak secara tulus.

Namun di abad ke-16, mulailah orang-orang di Asia Tenggara mengerti seluk beluk Raja Rum yang misterius tersebut. Raja Rum yang dimaksud dalam legenda-legenda tersebut ternyata adalah Kesultanan Usmaniyah. Lucunya, bangsa Portugislah yang kemudian memaksan penduduk setempat untuk berhubungan dengan ‘Raja Rum’ di Turki tersebut. Kebengisan bangsa Portugis dan invasi ke Aceh di tahun 1498 yang memaksan Aceh melakukan hubungan diplomatik dengan Turki yang sangat misterius itu. Sebelumnya hubungan tersebut tidak dapat dilakukan kecuali melalui mitos-mitos dan legenda.

Di abad ke-15, rempah-rempah dari Sumatera hampir semuanya dimonopoli oleh Cina apalagi dengan hadirnya bajak-bajak laut Cina seperti Chuan-chou yang mengintimidasi pribumi untuk menjual hasil-hasil rempah hanya untuk dirinya sendiri. Sementara perdagangan ke arah barat terganggu dengan hadirnya kebengisan Portugis tersebut.

Namun pihak-pihak Sumatera dapat mempertahankan hubungan dagang mereka dengan India Selatan, sementara itu, komoditas-komoditas tersebut dijual lagi seterusnya ke Arab dan Afrika oleh orang-orang Gujarat dan pedagang Arab di sana ke Laut Merah dan pelabuhan Teluk Persia.

Rempah-rempah


Suasana peperangan di atas kapal. Sultan Muhammad II memimpin peperangan.

Kehadiran Potugis tersebut benar-benar membuat industri perkapalan serta alur pelayaran memburuk di tahun-tahun 1500 M, terutama kapal-kapal yang sudah dirampok ketika akan menuju Laut Merah, Mekkah atau Kairo. Lebih lanjut para perompak kapal tersebut bergerak maju dan menguasai Malaka pada tahun 1511, dan dari sini mereka melakukan intimidasi terhadap kesultanan-kesultanan kecil di Sumatera penghasil rempah-rempah.

Pada saudagar-saudagar yang menjadi korban kejahatan dan kebrutalan bangsa barbar Eropa tersebut, berlindung di daerah-daerah yang cukup kuat untuk memberikan perlindungan, seperti Aceh di Asia Tenggara, Calicut di India Selatan dan Turkey di Laut Merah. Turki sendiri sejak tahun 1512-1520 berhasil mengembalikan kedamaian di Laut Merah di pemeritahan Selim I.

* Selim I (1512-1520)

Namun, kedamaian tidak langsung dapat diciptakan. Kapal-kapal tersebut menjadi lebih berbahaya berlayar sendirian di lautan luas saat predator Portugis merampoknya. Berlayar sendirian bukanlah sebuah jalan keluar. Kapal-kapal dari Asia Tenggara menjadi sangat tidak mungkin untuk berlayar langsung sampai ke Kairo, Aleksandria dan Venice. Oleh karena itu, sebuah rute alternatif diciptakan oleh saudagar-saudagar Muslim, dimana kapal-kapal Gujarat, Arab dan Turki serta Aceh berlayar langsung ke Laut Merah dengan menghindari sarang bajak laut Portugis di pantai India khususnya di Goa.

Sejarah mencatat pelayaran pertama melalui jalur ini ke Laut Merah tahun 1530. Namun pada tahun 1560, hampir semua kapal-kapal Asia Tenggara ke Eropa dibajak oleh Portugis dan dibawa lari ke Lisbon melalui Cape. Aceh dan Turki, yang mempunyai kepentingan ekonomi yang sama, memulai berinisiatif untuk melakukan penyelesaian atas kebrutalan Portugis ini.

Sultan Usmaniyah, Sulaiman “the Magnificent” (1520-66) merupakan pimpinan pertama yang bersedia mengirimkan kekuatan tentaranya untuk mengembalikan kedamaian di Lautan Hindia. Pada tahun 1537, dia memerintahkan Gubernur Mesir, Sulaiman Pasha, untuk mempersenjatai kapal-kapal perangnya untuk menghalau para bangsa perompak tersebut.

Armada tersebut mencapai Gujarat dan berhadapan dengan kelompok bajak laut Portugis di Diu selama beberapa bulan di tahun 1538, namun usaha ini tidak membuahkan hasil. Namun beberapa pasukan dari ekspedisi ini berlayar sampai Asia Tenggara, saat Mendez Pinto, menggambarkan kehadiran mereka justru memperkuat Aceh dalam perangnya melawan orang Batak dan Portugis, dan juga membuat Aceh dapat membantu Demak dalam perang melawan kebengisan Portugis.

Sulit untuk menemukan bukti-bukti sejarah, dimana dan kapan orang Aceh berperang melawan Batak ini, seperti yang disebut Pinto. Namun besar kemungkinan yang dimaksud oleh Pinto adalah perang perluasan Aceh di Aceh sekarang ini, dimana mereka mesti berhadapan dengan penduduk Aceh yang dulunya memang serumpun dengan Batak. Mereka ini menganut Hindu kala itu. Besar kemungkinan yang dimaksud Batak tersebut adalah Batak Mante. Mante adalah pribumi aseli Aceh.

Tahun 1560-an, hubungan perdagangan rempah-rempah mencapai puncaknya. Beberapa sumber sejarah dari Venetia, Turki dan Aceh menyebutkan eksistensi kapal-kapal Aceh yang berlayar sampai ke Laut Merah.

Dokumen pertama yang ditemukan dalam misi Aceh ke Istambul bertanggal 1561-2. Dalam merespon surat tersebut pemerintah Turki saat itu mengirimkan delegasi teknisi ahli ke Aceh pada tahun 1564, dan benar-benar disambut oleh Aceh dalam sebuah surat balasan.

Dubes lainnya, Husain, memimpin rombongan dari Turki pada tahun 1566-8, bahkan sampai menghasilkan kerjasama kedua negara dengan sangat sukses. Kedua negara ini kemudian setuju untuk memberikan perlindungan kepada kapal-kapal yang berlayar ke Mekkah untuk melakukan ibadah haji dari kejahatan perang Portugis.

Orang-orang Asia mulai memahami karakter Eropa yang semakin sering menjarah bumi yang makmur tersebut. Aceh, setelah dijarah bertahun-tahun mulai melakukan kekuatan penuh dengan menggempur sarang Portugis di Malaka tahun 1568 dan tahun 1570 serta tahun 1573. Orang-orang India melalui kesultanan Bijapur, Golconda, Bidar dan Ahmadnagar menggalang kekuatan untuk menyerang sarang Portugis di Goa. Di Maluku, Sultan Baab Ullah dari Kesultanan Ternate (r. 1570-83) melemparkan bajak laut Portugis dari ‘spice island’ tersebut.

Mengenai hubungan antara Aceh dan Turki disebutkan oleh Nuruddin ar-Raniry:
Dia [Sultan Alau’d-Din Ria’ayat Shah al-Kahar] mencipatakan sistem pemerintahan Aceh Daru’s-Salam and mengirimkan utusan ke Sultan Rum, ke Istambul, untuk memperkuat daerah-daerah Islam. Sultan Rum mengirimkan beberapa teknisi dan ahli yang mengerti cara membuat senjata. Saat itulah senjata besar dibuat. Dia juga yang mendirikan Aceh Dar al-Salam. Dia juga yang memerangi orang kafir (Portugis) dengan pasukan yang dipimpinnya sendiri. (Bustan al-Salatin bab II, Fasal 13)

Diyakini melalui Aceh inilah teknologi senjata masuk ke tanah Batak. Sebuah pabrik senjata buatan orang-orang Batak telah didirikan di Lintong Nihuta, tanah Batak pada era pemerintahan Sisingamangaraja XI, pabrik inilah yang menjamin keberlangsungan perang gerilya Sisingamangaraja XII melawan Belanda selama bertahun-tahun sampai akhirnya dihancurkan Belanda. Sekarang ini sisa-sisa senjata ‘made in’ Batak tersebut sudah jarang ditemukan kecuali dalam gambar-gambar di buku sejarah dan antropologi. Sejak Ompu Sotaronggal (Sisingamangaraja VIII) sampai Sisingamangaraja XII hubungan diplomatik dan ekonomi antara Aceh dan Batak sudah lama terjalin pada puncaknya.

Mitos mengenai Raja Rum tersebut juga diyakini masuk melalui Aceh ini. Kemungkinan sumber lain juga tetap ada karena bangsa Batak banyak menjalin hubungan dengan bangsa-bangsa lain seperti Minangkabau dan lain-lain.

Mengenai Raja Cina, yang menjadi penguasa di Timur, diyakini masuk ke dalam peradaban Batak melalui ekspedisi armada Ceng Ho khususnya di Natal atau Singkuang. Dengan demikian kedua mitos tersebut yakni Raja Rum dan Raja Cina, tercipta berkat hubungan simbiosis mutualisme dan saling membangun antara peradaban di Asia Tenggara dengan kedua wilayah tersebut.

Rekonstruksi Sejarah Indonesia,zaman Hindu(3)

REKONSTRUKSI SEJARAH INDONESIA- ZAMAN HINDU

ad2. Ye-tiao
Nama ini berasal dari tarikh Tiongkok,yang menggambarkan bahwa pada tahun 132 Raja Ye-tiao bernama Tiao-pien mengirim utusan ke tiongkok dan Raja itu menerima hadiah kehormatan.
Tidak dapat disangkal,bahwa Ye-Tiao itu adalah Yavadvipa dan Tiao-pien ialah Devavarman ,tetapi Ye-Tiao itu bukanlah Jawa sekarang,sebab pada tahun132 itu belum ada hubungan dagang yang ramai, apalagi dengan Jawa, baru pada abad ke dua hubungan perdagangan antara India dengan Tiongkok mulai ramai dan padat. Ini diketahui dari berita Mesir dan Yunani pada tahun 160 . dan Jawa ketika itu belum diketemukan pengaruh Hindu, olehkarena itu tidak masuk akal kalau di Jawa sudah ada kerajaan Hindu di Jawa. Dengan demikian Orang di Jawa belum menganut Agama Hindu karenah pengaruh hindu belum masuk ke JAwa . Jadi Pastilah Bahwa kerajaan “Ye-Tiao “ itu bukan di pulau Jawa melainkan dikontinen India dan Tiongkok.

Ad3. labadio


PETA PTOLEMAEUS

Nama ini bisa kita temukan pada buku karangan Claudius Ptolemaeus, ahli ilmu falak Iskandariah. Yang diterjemahkan dalam bahasa Inggeris “The Great System”, sedang orang Arab menyebut “Almagest” dan diterbitkan di Iskandaria sekitar tahun 160. Bahan-bahan yang digunakan dalam menyusun buku tersebut adalah dari pedagang-pedagang Mesir Junani, dimana pada pertengahan abad ke 2 sudah berlayar sampai ujung selatan India. Sedang pedagang-pedagang Mesir-Yunani mengenal Labadio dari pedagang-India . Dalam Buku Ptolemaeus itu dikatakan bahwa Labadio adalah negeri yang subur,menghasilkan Emas dan mempunyai sebuah kota dagang bernama Argyre (kota Perak) diujung barat.. Selanjutnya Ptolemaeus menyebutkan uruturutan negeri sebagai berikut: Crysè, Chersonesos, Sabadebai, Labadiou atau Sabadiou, Barousai, Satyroi dan Maniola
Labadiou memang identik dengan Yavadvipa (juga Sabadebai, Sabadiou,), tetapi Yavadvipa yang dimaksud bukanlah Jawa sekarang. Ptolemous juga mengatakan bahwa Labadio itu adalah suatu “Chersonesos”(Zajirah/semenanjung). Kota Argyre adalah Ligor, karena kota tua itu terletak tepat ditanah genting(isthmus) Kra dan tepat pula diujung barat, selain itu daerah terutara dari semenanjung oleh Ptolemaeus juga menyebut “Argentea Regio” (daerah perak) dan menurut penyelidikan Geologis memang negeri itu merupakan daerah Perak yang sangat tua.

Jadi Nama-nama negeri yang ada dalam buku Ptolemaeus tersebut adalah nama negeri yang terletak pada jalan dagang antara India dan Tiongkok.”Crysè, Chersonesos” (Semenanjung emas) adalah kerajaan Prome, yang didirikan oleh Abhi Raja (Maha Thambawa) dan kemudian terkenal dengan nama kerajaan FOU-NAN (Fu-nan) yang berarti negeri selatan. Sabadebai, adalah kerajaan sajanalaja yang didirikan oleh Raja Parama (Tiao-Pien,Devavarman) yang kemudian dikenal dengan nama kerajaan Langkasuka , mula-mula didaerah muara sungai Menam di Siam. Sedang Barousai, adalah Kerajaan Barus di Sumatera Utara , Kapur barus merupakan hasil Utama negeri itu membuat negeri itu terkenal di mana-mana.Dalam berita Tiongkok kemudian kerajaan itudisebut Po-Lo-She atau Lang-pó-lou-sseu (negeri barus), sedang hasilnya disebut “ku-pu-po-lu”. Didalam dongeng India “Kathasaritsagara” (atau Katha sari sagara) disebut “Karpuradvipa” (pulau kapur). Maniola adalah Pilipina sekarang merupakan Bandar dagang yang penting ketika itu, dan letaknya pun lintasan dagang India Tiongkok, dan disana Kapal-kal ditambatkan di opask-pasak besi , dan hasilnya adalah tali-tali dari sisal sebagai bahan tali temali kapal. Satyroi bidsa saja Kalimantan atau Sulawesi bisa saja adalah transkripsidari Strirajya (kerajaan wanita), bisa juga Transkripsi dari Çrivijaya sebab di Camboja ada tempat yang bernama Bin-dinh (ajaan Kamboja untuk Vijaya). Dengan demikian jelaslah bahwa Jawa pada akhir abad ke 2 belum menjadi daerah perdagangan bangsa India.Dan kenyataan Labadiou terletak di semenanjung.

Bersambung…4

Rekonstruksi Sejarah Indonesia,zaman Hindu(2)

REKONSTRUKSI SEJARAH INDONESIA- ZAMAN HINDU

Setelah sekian lama kita tidak membahas tentang Rekonstruksi Awal sejarah Indonesia pada zama Hindu, mudah-mudahan seterusnya dapat kita lanjutkan tanpa halangan, Semoga Bermanfaat bagi kita pemerhati sejarah

Kebanyakan Penyelidik mengabaikan keterangan-keterangan Geografis dan kemungkinan ekonomis. Mereka melupakan sifat typis bangsa timur yaitu sifat gemar membawa-bawa nama-nama negeri asalnya dan sifat gemar menulis kan peristiwa-peristiwa dengan lambang-lambang dan kias-kias.Mereka juga melupakan kenyataan, bahwadalam sejarah sering terjadi perpindahan-perpindahan pusat-pusat kerajaan dan penggantian nama negeri.
Nama-nama asing yang disangka dan dianggap “Jawa” itu antara lainialah:
1- “Yavadvipa” dalam kakawin Ramayana, yang ditulis sebelum tahun 500 sebelum masehi.
2- “Ye-tiao” dalam tarikh Tiongkok pada tahun 132 sesudah masehi .
3- “labadiou” dalam berita Mesir -Junani dari tahun 160 sesudah masehi.
4- “Ye-p’o-ti” dari Fa-Hien, yang pada tahun 414 terdampar dipantai negeri itu.
5- “Cho-p’o” dari Gunawarman dan dalam berita Tiongkok sekitar pertengahan abad ke 5.
6- “Bhumi Java” dalam inskripsi kota kapur (Bangka) tahun 686.
7- “Yava” dalam inskripsi Canggal(Sanjaya) tahun 732.
8- “Yavabhumi” dalam maklumat Nalanda tahun 883.
9- “Zabag”, “Zabaj” dan “Jawaga” dalam berita Arab sesudah abad ke 9.

ad1- Yavadvida:

Valmiki pengarang Ramayana ,menulis tentang sebuah nama negeri yang bernama Yavadvida dalam bukunya bukan lah Jawa yang dimaksudnya dengan alasan Ramayana berkisah tentang peristiwa tahun 500 S.M (sebelum Masehi), apakah orang India sudah mengetahui p.Jawa yang berada beberapa derajat diselatan Khatulistiwa?, dan alasan kedua kalau kita mengamati pemaparan Valmiki tentang Yavadvida, bahwa Yavadvida dihiasi tujuh kerajaan ,pulau emas dan perak. kaya akan tambang Emas dan disitu terdapat gunung Çiçira (=dingin) puncaknya menyentuh langit.
Anggapan bahwa bagian Ramayana yang memuat bab “Yavadvida” ditulis atau disisipkan kemudian , yaitu sekitar tahun 150 adalah alasan yang dicari-cari , itu hanya terjadi karena dalam tarikh Tiongkok tahun 132 sudah disebutkan tentang “Raja Yavadvida yang mengirim utusannya kepada kaisar Tiongkok.Jadi tentang bab Yavadvida tidak mungkin ditulis atau disisipkan kemudian, sebab kalau kita mengamati “Kawruh Kejawen” yang inti sarinya diambil dari ajaran Hindu Budha yaitu tentang ajaran “Manunggaling Kawula Ian Gusti”, atman dan Brahman , puruça dan prakreti. Itu semua adalah bagian pokok dari isi Ramayana. Bagian itu (Bab Yavadvida) adalah bagian “Rama Duta” yang mengajarkan bahwa Rama (sebagai manusia) belumlah Ikhlas (legawa= sempuna) sebab bathinnya (Shinta= isinya) masih terbelenggu keduniawian (ingin kidang kencana), oleh karena itu tertawan angkara murka (Dasamuka) dan untuk membasmi itulah, maka angkara-maya (Hanoman = mayangkara = angkara yang sudah tipis) ditugaskan sebab hanya dialah (mayangkara) yang dapat membasmi angkaramurka (Dasamuka).
Ramayana selain sebagai kitab pelajaran agama, juga sebagai kisah pahlawan yang berdasarkan peristiwa historis , yang terjadi didaerah sungai Gangga (Benggala), yaitu penyerbuan bangsa Arya (pendukung kebudayaan dan peradaban dunia terhadap bangsa Dravida yang dipandang sebagai kemenangan “Hrrenvolk” terhadap “Schlavenvolk”
Jadi yang dimaksud denga Yavadvida iru adalah Daerah Sungai Gangga yang sampai sekarang itu masih merupakan negeri Jelai yang luar biasa, sedangkan “Suvarnadvipa” ialah daerah sungai Iravadi yang hulunya menghasilkan emas dan bagian hilirnya menghasilkan perak dulunya merupakan kloni pertambangan-pertambangan Tiongkok (yang dilukiskan Valmiki sebagai gunung Çiçira tidak lain adalah gunung Himalaya. dengan puncaknya Mount Everest atau Gauri Sankar yang tingginya kurang lebih 8800 meter.
Kesimpulannya dari sudut pandang “Ramayana” bahwa Yavadivida itu adalh nama klasik bagi India dan “ Suvarnadvipa adalah Birma , kesimpulan ini sesuai dengan pendapat “Maha Yazawin (babad Birma) yang menamakan India “Zacudipa” atau “Zambudipa” sedangkan negerinya sendiri disebut “Sona PAranta atau Sona Aparanta” (Bahasa Pali yang artinya sama)

ad2. Ye-tiao

Nama ini berasal dari tarikh Tiongkok,yang menggambarkan bahwa pada tahun 132 Raja Ye-tiao bernama Tiao-pien mengirim utusan ke tiongkok dan Raja itu menerima hadiah kehormatan.
Bersambung —– 3)

ReKonstruksi Sejarah Indonesia, zaman Hindu (1)

REKONSTRUKSI SEJARAH INDONESIA- ZAMAN HINDU

Pembukaan Kata!!

Saya mencoba memaparkan tulisan Warsito sastroprajitno tentang sejarah Indonesia. Beliau mengatakan didalam menyusun bukunya ini dia mendapat pengarahan dan petunjuk dari Prof.Dr.Purbatjaraka dan Romo.Dr.Zoetmulder, meskipun demikian beliau menyadari masih banyak hal-hal yang gelap dalam sejarah Indonesi , yang memerlukan penyelidikan lebih jauh dan akurat. Sebab hampir semua ahli dan penyelidik sejarah Indonesia ,terutama para filologis (yang berhubungan dengan studi budaya dan kerohanian), dengan secara fanatik bersitegang mengira bahwa:
1- Yavadvipa dari semula adalah Jawa sekarang dan Suvarnadvipa dari semula adalah Sumatera sekarang.
2- Kerajaan Sriwijaya dari keluarga Sailendra dan dari semula berpusat di Palembang
Anggapan yang salah itulah yang menyebabkan sejarah Indonesia dalam Zaman Hindu ruwet dan gelap
Jadi tulisan beliau ini adalah salah satu acuan dan melanjutkan penyelidikan terdahulu. Dan kita layaknyalah menghargai dan menghormati kepada penyelidik-penyelidik Sejarah Indonesia seperti “KROM, STUTTERHEIM, MOENS, PELLIOT, FERRAND, COEDES, MAJUMDAR, NILAKANTA SASTRI, TAKAKUSU,” dan lain-lainnya.Karena merekalah maka kita banyak mengetahui tentang sejarah Indonesia.
Kemudian Ws melanjutkan harapannya agar generasi muda termotivasi akan tulisan beliau yang sangat kontroversial dengan sejarah yang kita ketahui selama ini.
Site Blog Toga Laut sengaja menulis kembali untuk memenuhi harapan beliau dalam rangka menemui sejarah yang sebenarnya tentang Indonesia pada “Zaman Hindu”. Ini adalah sangat penting karena Budaya Indonesia tidak terlepas dari pengaruh Hindu. Dan kami mencoba menyajikannya tanpa mengurangi makna dari isi meskipun buku aslinya masih berupa ejaan lama.
Terima kasih!

Yavadvipa

A-Kekhilafan menafsirkan “yavadvipa”:

Keruwetan yang terdapat dalam sejarah Indonesia pada zaman Hindu terutama disebabkan oleh karena hampir semua penyelidik/ahli sejarah beranggapan bahwa “Yavadvipa” dari semula adalah Jawa sekarang,kekeliruan itu berpangkal pada penafsiran secara FILOLOGIS, dan karena itu lalu menganggap nama-nama asing lainnya yang terdapat dalam berita atau tulisan asing hanya sebagai transkripsi saja dari kata Yavadvipa tersebut.Kekeliruan itu menyebabkan perisistiwa-peristiwa historis yang sesungguhnya terjadi di dan bersangkutan dengan negeri lain dianggap terjadi di dan bersangkutan dengan Jawa.
Kebanyakan Penyelidik mengabaikan keterangan-keterangan Geografis dan kemungkinan ekonomis. Mereka melupakan sifat typis bangsa timur yaitu sifat gemar membawa-bawa nama-nama negeri asalnya dan sifat gemar menulis kan peristiwa-peristiwa dengan lambang-lambang dan kias-kias.Mereka juga melupakan kenyataan, bahwadalam sejarah sering terjadi perpindahan-perpindahan pusat-pusat kerajaan dan penggantian nama negeri.
Nama-nama asing yang disangka dan dianggap “Jawa” itu antara lainialah:
1- “Yavadvipa” dalam kakawin Ramayana, yang ditulis sebelum tahun 500 sebelum masehi.
2- “Ye-tiao” dalam tarikh Tiongkok pada tahun 132 sesudah masehi .
3- “labadiou” dalam berita Mesir -Junani dari tahun 160 sesudah masehi.
4- “Ye-p’o-ti” dari Fa-Hien, yang pada tahun 414 terdampar dipantai negeri itu.
5- “Cho-p’o” dari Gunawarman dan dalam berita Tiongkok sekitar pertengahan abad ke 5.
6- “Bhumi Java” dalam inskripsi kota kapur (Bangka) tahun 686.
7- “Yava” dalam inskripsi Canggal(Sanjaya) tahun 732.
8- “Yavabhumi” dalam maklumat Nalanda tahun 883.
9- “Zabag”, “Zabaj” dan “Jawaga” dalam berita Arab sesudah abad ke 9.

Secara filologis nama-nama tersebut diatas semuanya berarti “Jawa” tetapi tidak semua yang dimaksud Jawa sekarang.
Selanjutkan akan kita ulas bahwa nama-nama tersebut, sebagian besar bukanlah Jawa sekarang.

(bersambabung …………………2)

Guru Somalaing Termakan Rayuan Elio Modigliani (2)

Secara singkat telah diceritakan perjuangan Masyarakat Batak dibawah pimpinan Raja Sisingamangaraja XII, berjuang mengusir penjajah (Belanda) dari tanah Batak, dibantu oleh Toko-tokoh Batak dari berbagai Suku dan Marga.

Disamping para pejuang Batak tidak rela tanah air mereka di eksploitasi semenan-mena oleh SIbotar Mata (istilah  yang dipergunakan oleh pejuang Batak), juga mereka tidak rela adat istiadat atau budaya mereka terkontaminasi dengan Budaya luar.

Adapaun Motivasi Belanda untuk menguasaiTanah Batak adalah untuk membendung atau mensekat kekuatan Aceh dan Minang kabau yang baru tundukkannya. HAl ini sangat penting bagi mereka. Belanda cukup kewalahan menghadapi kepatriotan Aceh dan Minangkabau ( Paderi) yang mayoritas beragama Islam. Dan Belanda sangat mengetahui Pejuang-pejuang Aceh banyak bergabung dengan Pasukan Sisingamangaraja.XII, keadaan ini sangat menghawatirkan Belanda,

maka Belanda mengirim pasukan besar- besaran untuk memadamkan perjuangan Batak,baik dari Aceh dan Bukit tinggi maupun dari Batavia dan dibantu kaum Misionaris misionaris Keristen,hingga tahun 1907 Sisingamangaraja XII tertembak dan dimakamkan di Tarutung yang akhirnya dipindahkan ke Balige semasa pemerintahan Presiden Soekarno.

Menuju Masyarakat Adil dan Makmur ( Gerakan Millenarian)

One of the central problems that faced Third World peoples under European colonial rule was how to reform distorted power relations between the colonial and indigenous entities. Although indigenous peoples were generally forced to recognize the superiority of European power, the newly introduced colonial order often frustrated them. The millenarian movement(1) is one type of endeavour to overcome this dilemma by constructing a new socio-cultural order legitimized by a source of power which prophetic leaders insisted ruled their world.(The Batak Millenarian – by Masashi Hirosue)

Dari tulisan tersebut diatas umumnya bangsa-bangsa yang dijajah , termasuk bangsa Batak menghadapi distorsi antara hubungan kekuasaan kolonial Belanda dan entitas adat. Dan juga bangsa batak dipak sa mengakui keunggulan dan kekuasaan Belanda dengan memaksa tatanan budaya Kolonial (hal yang baru)  bagi masyarakat Batak, yang membuat mereka frustasi. Untuk mengatasi hal tersebu yakni penekanan-penekanan yang cukup sulit dihindari bangsa batak, maka mereka ingin membangun suatu tatanan sosial budaya yang baru dengan mendesak para pemimpin dibidang spritual. Maka gerakan inilah yang disebut Gerakan Millenarian, sebuah geraka sebagai protes terhadapa kekuasaan Belanda. Gerakan ini dipimpin oleh pemimpin yang benar-benar kharismatik yang menunjukkan Visi Millenarian dan mampu mengartikulasikan keyakinan mereka melalui kekuatan spritual,

Para pemimpin Gerakan ini tidak mungkin dapat menarik semua bangsa Batak untuk bergabung ke gerakan millenarian melalui kemampuan mereka ajaib atau ilahi berdasarkan sistem kepercayaan adat mereka magico-religius, karena orang Batak sudah banyak meninggalkan  sistem tradisional mereka dari keyakinan agama, yang telah mengalami distorsi oleh kolonialisme. Dalam rangka untuk mengubah tatanan yang ada sama sekali, pemimpin millenarian diperlukan untuk menunjukkan visi baru masyarakat dunia mereka dalam transformasi.

Memang diakui bahwa ditanah Batak sangat banyak yang mampu mengadakan kontak dengan Dewa atau roh-roh leluhur, namun hanya type tertentu pemimpin yang mampu mengatur Gerakan Millenarian . Pengikut Gerakan Millenarian harus apat diyakin bahwa mereka dipimpin oleh Pemimpin yang kharismatik yang mampu kontak dengan Dewa atau Roh kudus dan preachings (khotbah-khotbah) mereka didukung oleh kekuatan-kekuatan supranatural.

In order better to understand millenarian leadership, it is interesting to look at the religious movements which arose in the Batak area of north Sumatra beginning in 1890. The movements, called “Parmalim” and “Parhudamdam” , arose as responses to colonization and Christianization. The leaders of these movements preached a kind of “millenarian” vision, that promised the restoration of the kingdom of Si Singa Mangaraja, a Batak holy king who had been driven away from his own territory by the Dutch colonial army in 1883. These religious movements often developed into protests against the colonial order. (The Batak Millenarian – by Masashi Hirosue)

Yang artinya kurang lebih sbb:

Untuk lebih memahami kepemimpinan millenarian, menarik untuk melihat gerakan-gerakan keagamaan yang muncul di daerah Batak Sumatera utara awal tahun 1890. Gerakan, yang disebut “Parmalim” dan “Parhudamdam”, muncul sebagai tanggapan terhadap penjajahan dan Kristenisasi. Para pemimpin gerakan ini diberitakan semacam “visi millenarian”, yang menjanjikan pemulihan kerajaan Si Singa Mangaraja, raja Batak suci yang telah diusir dari wilayah sendiri oleh tentara kolonial Belanda pada tahun 1883. Gerakan-gerakan keagamaan sering berkembang menjadi protes terhadap tatanan kolonial. (The Batak Millenarian – by Masashi Hirosue)

Bersambung..

Mengenal Islam pada era Tuanku Rao (4) ……..?

Tuanku Rao Orang Batak
Salah satu sumber kontroversi dalam historiografi tradisional Batak adalah tentang asal usul Tuanku Rao. Kebanyakan tulisan, begitu juga tradisi lisan menganggap Tuanku Rao adalah orang Batak Toba, jadi sama sekali bukan orang Minang atau orang Rao. Penulis historiografi Batak bernama Batara Sangti dalam bukunya Sejarah Batak (1977) mengaku telah melakukan riset pada tahun 1930 sampai 1933 untuk mengukuhkan kebatakan Tuanku Rao.. Tentulah “riset” yang dimaksud Batara Sangti ini pengumpulan tradisi lisan yang pada kurun waktu itu masih kuat dalam ingatan kolektif orang Batak Toba. Menurut Batara Sangti, nama asli Tuanku Rao adalah pongki Nangolngolan. Pongki Nangolngolan pernah dibuang oleh Singa Mangaraja X ke Danau Toba dimana dia dimasukkan dalam sebuah peti mati yang dibuat dari batang kayu yang bernama “Pongki”. Sedang Nangolngolan berasal dari Nangirngiran’, yang ditunggu-tunggu. Kayu Pongki sebagai kayu keras di pusat negeri Toba merupakan jenis kayu sangat kuat yang lama sekali baru bisa tumbuh besar. Makna simbolik dari nama Pongki Nangolngolan itu adalah sosok atau tokoh yang sudah lama ditunggu-tunggu.

Penyebab mengapa Singa Mangaraja X membuang Sipongki ke perairan Toba menurut Batara Sangti karena Sipongki Nangolngolan telah menunjukkan tanda-tanda kesaktian seperti yang dimiliki oleh dinasti Tuan Singa Mangaraja umumnya. Singa Mangaraja X merasa Sipongki Nangolngolan akan menjadi saingannya sehingga dengan alasan yang dibuat-buat maka Sipongki Nangolngolan dibuang keperairan Toba.

Batara Sangti meluruskan tulisan Guru Kenan Hutagalung yang mengatakan bahwa Pongki Nangolngolan telah memenggal kepala Singa Mangaraja X dan membawa kepala tersebut pulang ke negrinya. Batara Sangti meyakinkan bahwa cerita seperti yang telah diuraikan di atas terus menerus hidup di tengah-tengah masyarakat Batak di pusat Negeri Toba dan di catat dalam Pustaha Batak (kitab-kitab kuno beraksara batak) , kecuali mengenai kepala Tuan Singa Mangaraja yang terpotong dan di bawa pulang oleh Sipongki Nangolngolan.

Menurut Batara kepala raja itu sebenarnya tidak sempat jatuh ke tangan Sipongki Nangolngolan, tetapi secara gaib benar-benar jatuh ke tangan Permaisuri Tuan Singa Mangaraja X di Bakkara. Pada waktu pemakaman tulang belulang Si Singa Mangaraja XII di Soposurung Balige pada tanggal 17 Juni 1953, secara diam-diam menurut Batara turut juga kepingan-kepingan tengkorak kepala Tuan Singa Mangaraja X di bawa oleh pihak keluarga ke sana.

Batara Sangti membantah pendapat Muhammad Said (1961) yang menyebut bahwa Singa Mangaraja XII dalam sebuah pertemuan dengan rakyatnya di Balige menyebut bahwa kakeknya (Singa Mangaraja X) telah dibunuh oleh Belanda. Menurut Batara Sangti tidak benar Singa Mangaraja XII pernah menyatakan bahwa Singa Mangaraja X dibunuh oleh Belanda. Menurut Batara sangti berita seperti itu tidak pernah ada terdengar di tengah-tengah masyarakat Toba dari dulu hingga saat ini walaupun hanya desas-desus atau selentingan. Batara Sangti juga membantah pendapat Hamka yang menyebut bahwa Tuanku Rao adalah orang Minangkabau sejati.

Adniel Lumbantobing dalam bukunya Sejarah Si Singa Mangaraja (1967) menyebutkan bahwa Pongki Nangolngolan pada waktu kecilnya bernama Tangkal Batu. Dia dibuang oleh Singa Mangaraja X ke Danau Toba dengan memasukkannya ke dalam peti. Tapi dia selamat karena kebal. Tangkalbatu mengganti namanya menjadi Pongki Nangolngolan. Nama itu disesuaikan dengan kekebalan dan penderitaannya. Pada waktu Pongki berumur 17 tahun, ia berangkat ke Bakkara untuk menemui pamannya Singa Mangaraja X. Tetapi pamannya tidak mengakuinya sebagai kemanakan walaupun dia telah menunjukkan bukti-bukti yang menandakan dia adalah keluarga dari Singa Mangaraja. Karena tidak diakui oleh pamannya Si Pongki meneruskan perjalanannya ke Sumatra Barat. Ketika sampai ke daerah kekuasaan Tuanku Rao, Pongki ditangkap. Tapi pada waktu itu ia mendapat tawaran dari Tuanku Rao untuk membunuh musuhnya. Jika Pongki berhasil maka ia akan dikawinkan dengan putrinya. Dengan dipelopori oleh Pongki beberapa raja-raja disekitar wilayah Bonjol menyerah kepada Tuanku Rao. Si Pongki akhirnya kawin dengan putri baginda yang bernama Aysjah Siti Wagini.

Ketika Pongki telah menjadi kepala tentara di seluruh Tanah Bonjol, ia pun terus melakukan agresi ke wilayah Tapanuli. Disini ia merencanakan membunuh pamannya (Singa Mangaraja X) dengan cara mengelabui pamannya. Pada waktu yang telah ditentukan Pongki berpura-pura menangis dan melihat hal itu pamannya memeluk Pongki Nangolngolan. Sewaktu berangkulan, Pongki Nangolngolan pelan-pelan mencabut pisau dari pinggangnya dan dengan tiba-tiba sekali memotong batang leher pamannya sehingga terputus sama sekali. Tetapi kepala mamaknya melambung ke atas, kemanapun dicari Pongki Nangolngolan beserta orang-orangnya, kepala itu tidak dijumpainya.

Pengolahan tradisi lisan paling monumental tentang asal usul Tuanku Rao dalam historiografi tradisonal Batak adalah apa yang dilakukan Mangaradja Onggang Parlindungan (MOP). Monumental karena karya ini banyak dirujuk penulis-penulis Batak untuk mengukuhkan pembenaran tradisi lisan yang ada. Menurut MOP Si Pongkinangolngolan lahir dari hubungan incest antara putra dari Singa Mangaraja VIII yang bernama Gindoporang Sinambela dan Putri dari Singa Mangaraja IX yang bernama Putri Gana Sinambela. Oleh karena orang Batak tidak membolehkan kawin semarga maka Singa Mangaraja IX mengusir mereka agar tidak di hukum oleh khalayak ramai.

Mereka berdua keluar dari Bakkara dan menuju Singkil lalu masuk Islam, dengan nama Muhammad Zainal Amiruddin Sinambela dan istrinya tetap pada kepercayaannya, sehingga mereka tidak dapat menikah secara Islam. Putri Gana Sinambela melahirkan seorang putra dan diberi nama Muhammad Fakih Amirudin Sinambela dan Putri Gana Sinambela menyebutnya “Pongki Na Ngolngolan” = “Fakih yang menunggu-nunggu”. Ketika Pongkinangolngolan datang ke Bakkara/Toba, ia menjadi anak mas dari Singa Mangarja X.

Mengenai hukuman yang diberikan kepada Pongkinangolngolan sebagai akibat dari incest yang dilakukan oleh orang tuanya, sesuai tuntutan pemuka masyarakat (datu) maka Singa Mangarja menjatuhkan vonis ditenggelamkan di Danau Toba. Tetapi Singa Mangaraja X melonggarkan tali-tali yang mengikat Pongkinangolngolan. Ia mengapung di atas air sampai ke permulaan sungai Asahan, dimana dia kemudian di tolong oleh seseorang yang bernama Lintong Marpaung.

Pongkinangolngolan kemudian merantau ke Minangkabau, atas anjuran Tuanku Nan Rentjeh. Pongkinagolngolan di chitan sesuai dengan sarat-sarat chitan serta syahadat, pada tanggal 9 Rabiulawal 1219/H = 1804/M diislamkan dengan nama: “Umar Katab” dibalik menjadi “Umar Batak”. Pongkinangolngolan Sinambela alias Umar Katab menjadi General Officer Padry Army, dengan gelar Tuanku Rao. Oleh Padri Army Command Tuanku Rao diperintahkan tugas belajar ke Luar Negeri.

Sementara itu satu versi lain tentang asal usul Tuanku Rao diungkapkan oleh Basyral dalam bukunya Greget Tuanku Rao (2007). Bagi Basyral Tuanku Rao bukan berasal dari Batak Utara tapi dari kawasan Batak Selatan. Menurutnya Tuanku Rao adalah orang Mandailing asli. Basyral mendasarkan argumennya dari sumber naskah Tuanku Imam Bonjol yang menyebut Tuanku Rao adalah Pakih Muhammad, ayahnya orang Huta Gadang [Hutanagodang di Mandailing Kecil] dan Ibunya orang Rao.

Menarik untuk melihat keberadaan Pakih Muhammad sebagai Imam Besar Nagari Rao gelar Tuanku Rao. Ayah Tuanku Rao menurut sumber Basyral adalah orang Huta Gadang (Hutanagodang?) dan ibunya orang Rao sehingga Basyral membuat kesimpulan Tuanku Rao adalah orang Mandailing. Sayang sekali, dalam uraian asal-usul Tuanku Rao ini Basyral belum mengeksplorasi sumber-sumber Mandailing lainnya. Muhammad Said (1961) berdasar sumber yang dikutipnya meresepsi historiografi Batak tentang asal usul Tuanku Rao. Menurut Said Si Pokki Nangolngolan adalah “agresor” yang pernah datang ke tanah Batak untuk melaksanakan pengislaman. Tuanku Rao adalah Si Pokki Nangolngolan yang telah membunuh pamannya yaitu Ompu Tuan Na Bolon atau Singa Mangaraja X. Tetapi Said sangat menyayangkan sekali peristiwa penetrasi orang-orang Bonjol apalagi mengenai riwayat hidup Tuanku Rao tidak di dapat dalam sumber Padri atau sumber yang dipertahankan kenetralannya. Dalam hal ini Said memegang sumber yang lebih dianggap netral karena sumber yang diperoleh dari tangan pertama, dimana orang-orangnya masih berada dan turut serta dalam kejadian itu. Sumber tersebut ditulis oleh J.B. Neumann 1866 seorang Kontelir B.B yang menulis tentang “Studies ever Bataks en Batakschelanden” (hal 51) dan menyebut bahwa Tuanku Rao adalah berasal dari Padang Matinggi, tidak disebut bahwa Tuanku Rao berasal dari Toba. Neumann sendiri mengambil sumber karangannya dari Residen T.J Willer yang berada di Tapanuli tahun 1835. Tapi dengan menyatakan bahwa Tuanku Rao adalah si Pongki, maka sebenarnya Said lebih setuju kalau Tuanku Rao memang berasal dari tanah Batak, bukan sebagaimana disebut sumber-sumber Belanda.

Hamka (1974) merupakan penulis yang mencoba mengoreksi historiografi Batak tentang asal usul Tuanku Rao sebagai orang Batak. Menurut Hamka dongeng-dongeng (mitos) tentang Tuanku Rao ini dalam kalangan orang Batak Toba banyak tersiar, dimana Hamka menemukan dalam tulisan-tulisan itu bahwa Tuanku Rao adalah anak Batak sejati. Hamka mengatakan bahwa riwayat Tuanku Rao yang di ungkapkan dari beberapa penulis Batak seperti Guru Kenan Hutagalung, Adniel Lumbantobing, Sutan Pane Paruhum merupakan mitos. Hamka juga mengkritik tulisan MOP tentang riwayat Tuanku Rao sebagai karangan yang dibuat-buat dan menganggap Parlindungan adalah orang yang mahir “menyusun” suatu cerita. Dengan mengemukakan bukti-bukti, Hamka menyebut MOP dalam membuat tulisannya tentang asal-usul Tuanku Rao banyak mengemukakan hal-hal yang mengandung kebohongan. Asal-usul Tuanku Rao menurut Hamka membenarkan bahwa Tuanku Rao telah kawin dengan puteri Yang Dipertuan Rao dan karena Yang Dipertuan Rao bukan panganut Wahabi maka pimpinan diambil alih oleh menantunya yang dikenal dengan Tuanku Rao.

Selain itu Hamka juga menekankan Tuanku Rao adalah orang Padang Matinggi. Bukan orang Bakkara. Sebab itu beliau orang Minang. Bukan orang Batak. Ungkapan Hamka tersebut dimantapkan dengan cara melakukan wawancara kepada orang Rao sendiri, yaitu Drs. H. Asrul Sani yang merupakan keturunan Yang Dipertuan Padang Nunang Rao. Untuk membenarkan dan memperkuat pernyataannya, Hamka mengutip sumber dari penulis Batak, Sanusi Pane yang tidak membayangkan bahwa Tuanku Rao adalah orang Batak. Riset akademis terakhir tentang asal usul tokoh ini dengan memperhatikan berbagai sumber masih jarang dilakukan. Salah seorang sejarahwan yang menyinggung masalah ini adalah Christine Dobbin (2008). Menurut Dobbin Tuanku Rao dari perspektif sejarah merupakan tokoh yang kabur tapi diakuinya tokoh ini sangat dikenal dalam sejarah Batak. Akan tetapi kata Dobbin, kebanyakan yang ditulis tentang dirinya didasarkan atas tradisi lisan Batak awal abad ke 20 dan tak bisa dikomfirmasikan dalam sumber-sumber Belanda yang ada. Ini mengherankan Dobbin karena katanya, surat-surat yang ditulis oleh pejabat-pejabat Belanda pada waktu itu secara teratur menceritakan tentang rekan sejamannya, Tuanku Tambusai penakluk tanah Batak bagian timur.
Tidak adanya informasi tentang Tuanku Rao menurut Dobbin sebagian bisa dijelaskan dengan kenyataan bahwa ia meninggal pada tahun1833, tak lama sesudah Belanda memasuki Rao. Dengan demikian, ia tidak mempunyai jabatan lain yang bisa mengundang penyelidikan Belanda mengenai kegiatan-kegiatan awalnya. Akan tetapi yang mengherankan dari pendapat Dobin adalah sikap menduanya, disatu pihak dia mengatakan : ”Dapat diterima bahwa Tuanku Rao adalah seorang Batak yang dulunya dikenal dengan Pongki na Ngolngolan.” Tapi dipihak lain dia mengatakan : ”Akan tetapi ada tradisi lisan Batak yang menyatakan bahwa ia adalah keponakan Raja Imam Batak, Sisingamangaraja X, yang menguasai daerah Bakara-Toba. Namun, ini pun tidak bisa dipastikan.” Apa pun asalmuasalnya, kata Dobbin, Pongki na Ngolngolan adalah seorang petualang Batak yang pada tahap tertentu dalam kariernya tiba di Lembah Rao. Dia menemukan seorang pelindung di sehari-harinya. Pada akhirnya di tahun 1808, ia menjadi Islam. Kemudian ia berhubungan dengan ajaran Padri di daerah lebih ke selatan dan rupanya mereka merasa bahwa dengan memperoleh pengakuan sebagai eksponen ajaran ini, posisinya sebagai orang luar atau orang datang dalam masyarakat Rao akan jauh lebih baik. Sayang kata Dobbin, kita tidak memiliki gambaran yang jelas mengenai hubungannya dengan Imam Bondjol.

3. Kekejaman Tuanku Rao dan Paderi di Tanah Batak
Bagian ini saya ulas dengan menguraikan pendapat Dobbin yang membahas historiografi Batak tentang serangan Paderi ke Tapanuli. Laporan Batak yang dibaca Dobbin diakuinya cenderung menekankan kekerasan dan kekacauan yang terjadi selama periode Padri. Namun, Tuanku Rao menurut Dobbin telah berusaha untuk memperkenalkan bentuk administrasi Padri ke desa-desa Batak. Akan tetapi, bagaimana system ini dilembagakan dan berapa besar dukungan yang diterima adalah pertanyaan yang tidak dapat dijawab. Beberapa orang Batak memang sudah beragam Islam sebelum serbuan Padri. Ada orang-orang muslim yang tinggal di Panyabungan ketika diserbu. Bahkan desa-desa tertentu didekatnya ada yang mempunyai hubungan dagang dengan pantai barat dan telah menjadi Islam selama beberapa tahun.

Namun pada masa awal pemerintahannya penyerbu dari Rao menurut Dobbin mengandalkan kekuatanya sendiri dan mengangkat orang-orang Minagkabau sebagai kadi di desa-desa Batak. Hakim-hakim ini mendasarkan administrasinya pada Quran secara kata perkata. Mereka juga mencoba memberlakukan semua puritanisme lahiriah gerakan mereka. Tentu saja kata Dobbin orang-orang dipaksa menjadi Islam dan terjadi banyak pembunuhan, disamping itu, para Padri juga sangat bersemangat menghancurkan kesastraan Batak. Pada mulanya penyerbuan Padri kata Dobbin sukar dibedakan dari penyerbuan dan pendudukan asing. Selain telah mengarahkan perdagangan Batak ke kelompok pelabuhan khusus di pantai barat, Tuanku Rao juga mewajibkan membiayai upeti kepada Rao dan Alahan Panjang dalam bentuk beras, kerbau dan budak-budak . Wilayah-wilayah bawahan juga mewajibkan membiayai pemeliharaan pasukan Minangkabau di desa-desa mereka dan menyediakan pasukan bersenjata untuk kegiatan Padri di daerah lebih ke utara lagi.

Pada tahun 1822, para Padri telah berada di belakang Tapanuli, setelah menyapu seluruh wilayah Angkola. Menurut laporan Batak yang menurut Dobbin harus ditanggapi dengan hati-hati, Tuanku Rao mengangkat seorang Tuanku Lelo, anggota marga Nasution dan putra seorang Batak pedagang garam, menjadi “gubernur” Angkola. Selain itu, ia juga membangun benteng di Padang Sidempuan. Daerah ini adalah lokasi yang strategis karena terletak dipersimpangan rute dagang penting yang menuju ke pantai dan ke daerah Mandailing dan Silindung. Di tempat inilah ia menjalankan kebijakan Padri untuk memajukan perdagangan, membuka jalan – jalan dagang, dan mendukung para pedagang.

Dobbin mengungkapkan tradisi lisan Batak yang menyebut segerombolan Padri di bawah Tuanku Rao masuk sampai sejauh Butar di utara, di plato Humbang. Ditempat ini, Tuanku Rao menghadapi wakil dinasti iman Raja Sisingamangaraja pada waktu itu, yang tinggal dilembah Bakkara yang berdinding batu di barat laut Danau Toba. Menurut tradisi Batak, Tuanku Rao adalah kemenakan yang disia-siakan oleh Sisingamangaraja. Keterangan ini adalah usaha untuk menjelaskan mengapa Tuanku Rao dikatakan membunuh. Tragedi ini terjadi di pasar Butar, sesudah tuanku mengundang Sisingamangaraja untuk suatu pertemuan. Namun, Sisingamangaraja sebagai tokoh berbahaya karena dianggap dapat mengerahkan marga-marga Batak Toba untuk melawan Islam. Faktor lainnya karena Sisingamangaraja mempunyai hubungan dengan Barus. Padahal, jalinan inilah kata Dobbin, yang ingin dipatahkan oleh kaum Padri.

Sebagaimana disebut Dobbin, tradisi Batak menggambarkan kekejaman-kekejaman serangan Padri ke tanah Batak. Dalam karangan yang ditulis orang Batak sampai saat ini, sebagaimana tulisan Sihombing (2008) tetap dikenang pahitnya invasi kaum Pidari (tulisan-tulisan Batak penyebut pidari untuk paderi) sehingga dianggap merupakan salah satu periode yang paling hitam dan gelap dalam sejarah orang Batak, Angkola-Mandailing-Padang Lawas dan Toba. Dalam tulisannya Sihombing menyebut situasi Tanah Batak menjadi begitu morat-marit sepeninggal pasukan Pidari dan segala kekacauan hukum yang terjadi di tanah Batak selanjutnya dianggap sebagai dampak dari serangan Paderi. Menurut Sihombing, untuk waktu yang cukup lama, hukum dan tata-krama yang mengatur masyarakat dalam zaman pemerintahan bius-bius menjadi berantakan. Bila pun masihb ada agaknya tal perlu diindahkan lagi. Sering terjadi saling-serang dan saling curiga di antara satu kelompok terhadap kelompok lain ( umumnya berdasarkan wilayah “saompu” atau seketurunan). Konon, pada tahapan waktu inilah mereka malah justru mulai “bisa” membunuh serta “memakan” (secara harfiah) daging dari musuh yang ditaklukkan atau dari pangkahap (mata-mata) yang menyamar dan tertangkap, sebagai akibat kegeraman hati.

Dalam buku lain Bisuk Siahaan (2005) mengatakan bahwa dampak buruk perang Padri di Toba bukan saja hanja secara materiil, tapi juga secara sosial dalam tatakrama kehidupan masyarakat, termasuk terjadinya perubahan patik dohot uhum (peraturan dan hukum). Sebagai contoh, katanja, sebelum serbuan kaum Pidari, orang Toba memiliki hukum yang mengatur tatacara berperang yang tak boleh dilanggar. Kode etik-perang oang Batak sebelumnya menetapkan berbagai larangan, seperti menyerang musuh pada malam hari, membakar rumah musuh; membunuh perempuan, dll.
Sihombing menganggap, orang Batak sejak dulu mengenal etika perang internasional dimana kedua belah pihak yang akan berperang lebih dahulu harus mendeklarasikan tantangan, niat dan keputusan perangnja. Menurut catatan Sihombing, : tatakrama perang itu dilakukan dengan tulus oleh Raja Sisingamangaraja XII, ketika mendeklarasikan (Pulas) Perang Batak, dimana serangan harus dilakukan secara frontal, dengan aba-aba “siap”. Berarti semua orang dalam pasukan kedua belah fihak memang benar-benar sudah siap untuk berperang, lahir dan bathin. Suatu sikap kesatria, jauh dari kepengecutan. Tapi semua tata-krama “internasional dan regional Batak” menurut ukuran zamannya masing-masing itu, kata Sihombing, telah dilanggar oleh pasukan kaum Pidari.

Mungkin, demikian Sihombing selanjutnya mengatakan, karena beratnya penderitaan dan trauma dari masa nightmare (mimpi neraka) penghancuran oleh pasukan Pidari, itulah sebabnya bahwa sepeninggalan kaum perusuh, orang Batak yang masih sisa justru malah meniru dan melakukan perilaku yang sama dengan kaum Pidari.

Tapi kenapa dikatakan “orang yang masih sisa”? Sihombing seperti juga penulis Batak lainnya merujuk MOP yang mengatakan bahwa pasukan Pidari yang mundur dengan sangat cemas dan tergesa-gesa karena landaan wabah begu antuk (Kolera) dari Tanah Batak bagian utara, sisa orang Batak yang bisa hidup bertahan dan kemudian keluar dari persembunyian di gua-gua dan hutan selama tiga tahun serbuan dan pendudukan, hanya tinggal 25 % saja. Konon, demikian juga kondisi sisa pasukan Pidari penyerbu, hanya tersisa 25 sampai 30 % juga. Meskipun statistik jumlah penyerbu (30 ribu orang) dari buku MOP itu dianggap Sihombing mungkin terlalu dilebih-lebihkan, namun kata Sihombing, berapa besarpun jumlah pasukan penyerbu, kita bisa membayangkan betapa besar destruksi terhadap segala aspek kehidupan yang ditinggalkannya.
Untuk menguatkan kekejaman perang Paderi di tanah Batak, Sihombing juga merujuk Basyral Hamidy Harahap (2007) untuk menekankan pemberitaan perihal hebatnya destruksi yang dilakukan dalam masa pendudukan kaum Pidari dari Minangkabau di Tanah Batak Mandailing-Sipirok-Padang Lawas sampai Toba dalam kuarter pertama abad 19. Agaknya, buku tersebut ditulis oleh Harahap, demikian Sihombing, antara lain dengan niat untuk mengoreksi dan menyempurnakan bagian-bagian tertentu buku Tuanku Rao, seraya menguatkan pembenaran berita tentang “mimpi neraka” yang dialami oleh orang Batak bagian selatan dan utara, sebagai akibat serbuan dan pendudukan kaum Pidari itu.

Sihombing menyatakan, selanjutnya kebanyakan orang Batak dari generasi lebih muda, memang sengaja tidak terlalu intensif diceritai (kalau tak akan dikatakan kisahnya dideponir) oleh tetuanya tentang betapa ngerinya pengalaman kakek-moyang “bangso” Batak pada dasawarsa 1820-1830-an, yang porak poranda akibat serbuan kaum Pidari. Bahwa ribuan sanak saudara yang tidak mati karena serbuan, tokh harus mati karena wabah mengerikan. Ribuan dari sisa yang hidup, demikian Sihombing, dibajak pula dengan penderitaan tak terkirakan, diperjualbelikan menjadi budak di Tapanuli Selatan dan pantai-pantai barat Sumatra. Maksud tua-tua Batak yang kala itu ingin mendeponir cerita invasi kaum Pidari, ialah supaya aib yang sangat memalukan itu tak perlu diketahui generasi mudanya. Umumnya mereka mencatat singkat begini: pernah ada mimpi buruk dialami orang Batak yang disebut “Tingki ni Pidari (masa Pidari)” Almanak Tahunan HKBP saja, dalam catatan tonggak-tonggak bersejarahnya yang dirujuk Sihombing, setiap terbit-tahunan, hanya mencatat singkat begini: 1825-1829 Porang ni Tuanku Rao (Porang Bonjol) na mamorangi bangso Batak (Perang Tuanku Rao(Perang Bonjol) yang datang memerangi “bangsa” Batak).
Sama seperti Sihombing, penulis lain yang tadi sudah disebut yakni Siahaan (2005) dalam uraiannya tentang Padri juga tidak melewatkan untuk merujuk buku MOP. Dijelaskan MOP, demikian Siahaan, antara tahun 1816-1818 tentara Padri mulai menyerbu Tapanuli Selatan dan menduduki Mandailing, Sipirok dan Padang Lawas, sekaligus mengislamkan penduduk yang masih menyembah berhala. Setelah Tapanuli Selatan dikuasai, beberapa tahun kemudian dilakukan penyerbuan ke Tapanuli Utara dengan sasaran Pahae, Silindung, Humbang dan Toba. Tentara Padri membakar berpuluh-puluh rumah, menawan dan membunuh penduduk tanpa memperdulikan apakah mereka wanita, anak-anak atau orang tua yang tak berdaya. Bahkan kekejaman yang tidak ada taranya terjadi di daerah Pahae, Humbang dan Silindung. Penduduk yang tidak mau tunduk kepada tentara Padri ditawan, lalu matanya dicungkil. Selama penyerangan tersebut beratus-ratus penduduk yang tidak bersalah dibunuh secara kejam, mayat bergelimpangan menutupi jalan setapak, sehingga tidak mungkin lagi menguburnya dengan baik. Dimana –mana terlihat bangkai membusuk, menyebabkan wabah penyakit kolera dan tifus mengganas. Efidemi berjangkit secara tiba-tiba, tidak hanya menyerang penduduk setempat,tetapi juga tenatra Padri. Disebabkan sangat banyak penduduk dan tentara Padri yang meninggal terserang penyakit kolera, pemimpin tentara Padri yang memerintahkan supaya semua serdadunya segera meninggalkan Tapanuli Utara. Sangat sulit membayangkan betapa kejamnya perlakuan tentara Padri kepada penduduk yang tidak berdosa, menyebabkan sampai hari ini bila masyarakat hendak menggambarkan sesuatu yang sangat bengis dan tak beradab, dikatakan “seperti di masa Pidari” (“di tingki ni Pidari).
Meskipun tentara Padri telah meninggalkan Tapanuli Utara, namun penduduk menurut Siahaan masih tetap waswas, takut jika pada suatu hari tentara Padri muncul kembali menyiksa mereka. Menyaksikan kekejaman perang yang baru saja berlalu, meyebabkan penduduk tidak lagi sepenuhnya patuh pada ajaran “berperang menurut aturan Patik dohot Uhum” seperti yang dianut selama ini. Mereka telah berubah dan menetapkan aturan perang sendiri, sesuai dengan selera masing-masing. Hal ini menurut Siahaan, dilaporkan oleh Kontelir G.W.W.C Baron van Hoevel yang turut dalam pasukan militer Belanda di bawah komando Kapten Infanteri Scheltens, dan dibenarkan oleh raja-raja di Silindung dan Toba. Sebelum Scheltens memulai ekspedisinya (perjalananya) ke daerah Toba dan Silindung, terlebih dulu mereka mempelajari semua arsip-arsip Belanda yang tersimpan sejak tahun 1845, khusus mengenai adat dan cara orang Batak berperang. Ternyata tulisan yang ada di arsip tidak sesuai lagi dengan kenyataan. Pasukan Scheltens sangat terkejut sewaktu mereka secara tiba-tiba diserang oleh pengikut Si Singamangaraja pada malam hari, padahal menurut aturan Patik dohot Uhum yang mereka pelajari, orang Batak tidak diperkenankan menyerang musuh pada malam hari, selain itu, beberapa rumah pejabat dan tangsi tentara Belanda dicoba hendak dibakar, padahal menurut Patik dohot Uhum dilarang membakar rumah musuh.
Sejak peristiwa tersebut, serdadu Belanda menurut Siahaan sadar bahwa keadaan sudah berubah, penyerbuan tentara Padri yang sangat kejam ke Tanah Batak, telah mengubah cara berpikir penduduk. Rupanya, demikian Siahaan, penderitaan yang dialami selama perang paderi, telah meninggalkan truma yang sulit dipupus dari benak penduduk, mereka merasa dirinya senantiasa terancam oleh bahaya maut. Untuk mengamankan diri, bahkan benteng perlindungan kampung ditinggikan dan diperkuat dengan bambu-bambu berduri sebagaimana sampai saat ini jejaknya masih bisa dilihat di desa-desa Batak.

4. Penutup
Uraian di atas memperlihatkan bagaimana penulisan historiografi tradisional Batak yang sebenarnya sepenuhnya berasal dari tradisi lisan Batak memberikan pengabsahan bahwa Tuanku Rao adalah asli orang Batak Toba (Sipongki Nangolngolan), lahir dari hubungan gelap, memiliki hubungan keluarga dengan raja Singamangaraja, merantau ke Rao, masuk Islam dan menyerbu tanah Batak dengan kejam karena ingin membalas dendam. Selanjutnya dia berhasil membunuh pamannya Singamangaraja X dan menyebarkan Islam yang sekalipun dilakukan dengan paksaan, sadis, tidak berperikemanusiaan dan sangat berdarah, tapi tidak berhasil mengislamkan Tanah Batak bagian utara.
Diperlukan kehati-hatian berhadapan dengan tradisi lisan yang penuh kontroversi ini. Sejarahwan seperti Dobbin juga bisa terjebak menguraikan ”episode” Tuanku Rao di tanah Batak dengan mendasarkan uraiannya semata dari tradisi lisan Batak yang diakuinya tidak bisa diklarifikasi ke sumber-sumber sejarah yang lain. Ironisnya tradisi lisan yang didapat Dobbin adalah tradisi lisan yang telah dikembangkan, difiksikan dengan imajinasi seperti yang terdapat dalam tulisan MOP. Uraian Dobbin memperlihatkan seakan dia meneruskan tradisi lisan Batak ke dalam karya akademisnya dan sangat disayangkan dia tidak mengeksplorasi dan membandingkannya dengan tradisi lisan yang berkembang di Tapanuli Selatan, Rao dan Minangkabau.
Menurut saya, tradisi lisan Batak yang kemudian dituliskan itu merupakan hasil konstruksi dari satu kurun waktu tertentu, di wilayah tertentu dan untuk kepentingan tertentu. Saya perkirakan, pada waktu cerita itu dikontruksi, penguasa Belanda dan para zending penyebar agama kristen di Toba mencemaskan penyebaran Islam ke tanah Batak dan mereka berusaha untuk menghambat penyebaran itu dengan berbagai cara termasuk membentengi diri dengan menciptakan dan mengembangkan kekejaman Padri di tanah Batak dan mereproduksinya lewat tokoh-tokoh Batak beragama kristen dari generasi pertama kristenisasi di tanah Batak. Reproduksi itu dilakukan dikawasan Toba dan Humbang yang terancam dan tidak terjadi di kawasan Samosir.
Dalam penyelidikan saya atas tradisi lisan tentang Tuanku Rao sebagai Si Pongki Nangolngolan saya ketahui tradisi lisan ini tidak dikenal di pulau Samosir. Juru pelihara kompleks makam Raja Sidabutar di Tomok, Samosir tepat di tepi Danau Toba, ketika saya wawancarai di akhir tahun 2007 tidak mengenal Si Pongki Nangolngolan. Bahkan dia menunjuk pohon Pongki yang ada di kompleks makam itu sebagai pohon tua yang sangat keras dan kuat tanpa ada hubungannya dengan simbol dari seorang tokoh yang kemudian dikonstruksikan sebagai Tuanku Rao. Kisah tentang legenda Si Pongki ini juga tidak ditemukan di kawasan tapanuli Selatan.
Penyerangan Padri ke tanah Batak, khususnya Toba, merupakan penyerangan yang juga diakui terjadi oleh sumber-sumber yang ada di Minangkabau sendiri. Tapi versi tradisi lisan tentang penyerangan itu dan genealogi Tuanku Rao dalam tradisi Batak adalah hasil konstruksi. Tidak merupakan kebetulan jika penulis yang mereproduksi tradisi lisan itu beragama kristen, bahkan diantara mereka termasuk pemuka agama kristen. Sekalipun MOP beragama Islam, tapi bahan baku dari semua penulisannya tentang Batak berasal dari arsip ayahnya, Sutan Martua Radja (SMR), seorang tokoh kristen di Pematang Siantar.
Dalam analisisnya Dobbin akhirnya memang mengakui, barang kali garis keturunan ini diciptakan untuk menjelaskan beberapa keunggulan Tuanku Rao dalam kemiliteran. Dia menurut Dobbin, memang memimpin pengikut-pengikutnya melakukan serangkaian perjalanan paksaan yang luar biasa ke utara, langsung memasuki wilayah orang-orang Batak Toba. Disini ia bertemu dan membunuh Sisingamangaraja X. Dengan menganggap dia sebagai kemenakan raja yang kehilangan haknya, menurut Dobbin tradisi Batak dapat memberikan motivasi yang masuk akal untuk serangan militer ini, yaitu balas dendam.
Tapi motivasi itu menurut saya justru tidak masuk akal dan penuh kontroversi. Bagaimana mungkin Tuanku Rao yang dicitrakan sebagai pembunuh dan penyerbu yang sadis dan menganiaya orang Batak itu dikonstruksi sebagai keturunan Batak? Bagaimana kita memahami logika Si Pongki : dijatuhi hukuman mati (harus ditenggelamkan di Danau Toba karena dia anak haram hasil hubungan incest dari keluarga Singamangaraja) kemudian diselamatkan oleh raja Singamangaraja X pamannya sendiri, dan setelah Si Pongki menjadi Tuanku Rao datang membunuh Singamangaraja X paman yang justru menyelamatkannya? Konstruksi tradisi lisan ini menurut saya berkepentingan untuk mensubordinatkan dua pencitraan, pertama Islam dari selatan dan kedua Singamangaraja serta keturunan dan pengikutnya yang tidak bisa dijinakkan oleh zending dan penguasa Belanda. Diperlukan suatu penyelidikan yang lebih mendalam tentang konstruksi yang terlanjur sudah dianggap sebagai realitas ini.