Posts from the ‘Uncategorized’ Category

Pemahaman Soekarno Sang Prokamator tentang Islam

bk-islam

Ir. Soekarno dan Islam

Oleh: Subairi

Islam yang kita catut dari Kalam Ilahi dan sunnah bukan apinya, bukan nyalanya, bukan! Tapi abunya, debunya, ach, ya asapnya, abunya yang berupa celak mata dan surban……..abunya yang bisanya cuma baca Fatihah dan tahlil, bukan apinya yang menyala-nyala dari ujung zaman  satu ke zaman yang lain.

(Ir. Soekarno, 1940)

Dalam diskursus politik Islam Indonesia, Sukarno selalu diposisikan sebagai penentang gerakan Isam paling wahid yang harus berhadapan dengan pemikir-pemikir Islam taat seperti M. Natsir. Bahkan, H. Agus Salim pernah menuduhnya telah keluar dari Islam. Tidak hanya itu, tidak jarang namanya diidentikkan dengan Kemal at-Taturk yang menghapus lembaga khilafat dan melakukan sekularisasi menyeluruh di Turki. Sangat gampang mencari pembenaran atas sekularisme Sukarno. Dia-lah penentang gigih visi Islam sebagai asas negara. Dia pula yang telah membubarkan partai Islam terbesar, Masyumi.

Parahnya, dia sempat diposisikan sebagai musuh Islam karena hubungan dekatnya dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). Begitulah aktivis Islam Politik pada waktu itu merayakan kebenciannya pada Sukarno dengan mendukung Suharto naik tahta. Tentu, sangat tidak adil kalau hanya menuduh tanpa menelaah pemikiran dan dasar-dasar keyakinannya. Risalah pendek ini berambisi membuka (kembali) lembaran pemkirian keIslaman dan relijiusitas Sukarno.

Menggunakan pernyataan Robert N. Bellah, sebagai analogi, bahwa ajaran (nabi) Muhammad sangat modern dan justeru karena terlalu modern sehingga masyarakan Arab belum siap menerimanya. Maka banyak ajarannya yang kemudian diselewengkan. Dalam tingkatan yang berbeda, juga bisa dikatakan bahwa pemikiran keIslaman Sukarno terlalu maju, sehingga masyarakatnya belum siap menerimanya. Maka dia harus rela ditentang oleh umat yang justeru mau dibela. Sukarno sadar akan kondisi ini, menurutnya hal itu terjadi karena jiwa umat Islam sudah begitu lama dikerangkeng oleh doktrin kolot. Mereka sudah menjadi umat Islam sontoloyo yang enggan melangkah. Padahal Islam itu sendiri sangat progress, Islam adalah kemajuan (Benhard Dahm, Sukarno dan Perjuangan Kemerdekaan, LP3ES, 1987).

Sebelum terlalu jauh memasuki alam fikir Islam Sukarno, risalah ini akan memulai pengembaraannya dengan mencatat biografi singkat dan proses sosialisasi politik Sukarno dengan harapan bisa melacak jejak pengaruh dalam proses pematangan pemikirannya. Setelah itu, risalah ini akan  berusaha masuk ke dalam dunia fikir Islam Sukarno yang pada masanya selalu mengandung daya kejut atau dalam bahasa Nurcholis Madjid Psycological Striking Force.

bk

Biografi dan Sosialisasi Politik Sukarno

Sukarno lahir pada tanggal 06 Juni 1901, tapat pada saat fajar bersiap menyinari bumi manusia. Karena itu, ibunya selalu memenggil Sukarno sebagai putra fajar yang pada suatu saat akan membawa cahaya penerang bagi tanah airnya. Lahir dari hasil perkawinan silang budaya memeliki pengaruh kuat terhadap Sukarno. Ayahnya, Raden Sukemi, bangsawan rendahan Jawa sedangkan ibunya, Ayu Nyoman Rai Sarimben, putri Bali kasta Brahmana. Perkawinan Sukemi dan Ayu Nyoman ini adalah bentuk pemberontakan terhadap tradisi. Sebab pada waktu, kasta Brahmana tidak boleh kawin dengan orang Jawa. Kawin dengan orang Jawa berarti menjadi Islam, itu tidak diinginkan oleh kasta Brahmana yang memiliki strata terhormat di Bali.

Nama Sukarno kecil adalah Koesnososro, tapi karena sering sakit, kemudian namanya diganti Sukarno.  “Nama kelahiranku adalah Kusno. Aku memulai hidup ini sebagai anak yang penyakitan. Aku mendapat malaria desenti, semua penyakit dan setiap penyakit. Bapak menerangkan, namanya tidak cocok dan harus diganti supaya tidak sakit lagi. Aku belum mencapai masa pemuda ketika bapak menyampaikan penggantian nama padaku. Dia bilang “Kus engkau akan kami beri nama Karno”. Karno adalah pahlawan terbesar dalam cerita Mahabarata”. Begitulah Sukarno menceritakan kisah hidupnya. (Cindy Adam, Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, Gunung Agung, 1966)

Sukarno melewati masa kecilnya di Tulungagung (Kediri) bersama kakeknya yang kesohor, Raden Hardjodikromo. Di Tulungagung Sukarno selalu menikmati malam dengan menonton pertunjukan wayang. Dia menghayati cerita-cerita wayang yang diambil dari tokoh-tokoh sejarah dan legenda Jawa. Salah satu cerita kesukaannya adalah perang Bharata Yudha yang mengisahkan perjuangan kaum Pandawa melawan kaum Kurawa dalam memperebutkan kerajaan Ngastina yang merupakan hak kaum Pandawan tapi sudah dikuasai oleh kaum Kurawa.

Sekolah formalnya dia tempuh di Sekolah Dasar Bumi Putra Mojokerto, kemudian melanjutkan ke Sekolah Dasar Belanda (Eoropees Logere School, ELS). Setelah lulus dia melanjutkan ke sekolah lanjutan, Hogere Burger School (HBS) di Surabaya. Di sana dia tinggal bersama Tjokroaminoto, pimpinan Sarekat Islam (SI). Setelah itu, Sukarno melanjutkan ke sekolah tinggi teknik, Tesnische Hogere School (THS) di Bandung.

Surabaya adalah kota persentuhan Sukarno dengan dunia pemikiran. Tjokroaminito sering mengajak Sukarno menghadiri acara SI dan ikut nimbrung dalam pertemuan-pertemuan tokoh-tokoh SI di rumah Tjokroaminoto. Salah satu tokoh yang saering diikuti obrolan dan ceramahya oleh Sukarno adalah kyai Haji Ahmad Dahlan, pendiri dan pimpinan Muhammadiyah.

Namun, pematangan pemikiran Sukarno terjadi ketika berada di penjara Sukamiskin. Di tempat inilah Sukarno mengkaji al-Quran dalam terjemahan Inggrisnya dan juga banyak belajar dari buku-buku Lathrop Stoddard tentang sejarah Islam dan Syed Ameer Ali tentang semangat Islam. Pematangan yang ke dua terjadi di Endeh, tempat pembuangannya di Flores. Di tempat ini, Sukarno menunjukan minat yang tinggi terhadap Islam, dia selalau mengirim surat ke A. Hasan, Pimimpin Persatuan Islam (PERSIS) di Bandung, meminta buku-buku keIslaman dan bertukar pendapat. Di tempat ini juga dia menunjukkan minatnya mempelajari Hadits dan Fiqh, bahkan dia bebeapa kali mendesak A. Hasan dalam suratnya agar cepat dikirimi kumpulan Hadits Bukhori Muslim walaupun pada akhirnya A. Hasan tidak menemukan kitab itu dalam bahasa yang Sukarno mengerti (Sukarno tidak bisa bahasa Arab).

Namun justeru persentuhannya dengan Hadits dan Fiqh inilah, Sukarno menemukan penyebab kemunduran Islam, yakni banyaknya hadits dhaif  yang terlanjur diterapkan dan kerangkeng fiqh terhadap jiwa Islam. Dalam suaratnya yang ketiga kepda A. Hasan, Sukarno mengatakan bahwa hadits dhaif dan palsu inilah penyebab Islam diliputi kabut kekolotan, ditambah lagi dengan fiqh yang hampir memadamkan api Islam. Padahal menurutnya, tidak ada agama yang sangat rasional dan maju seperti Islam. Dan dalam suratnya yang keempat Sukarno mengatakan bahwa tugas utama pemimpin Islam saat ini adalah perjuangan melawan kekolotan, perjuangan melawan Islam sontoloyo agar Islam kembali pada jiwanya sebagai Islam kemajuan. (Sukarno, Surat-Surat Islam dari Endeh, dimuat kemabil dalam Dibawah Bendera Revolusi, 1964)

Menuju Islam Kemajuan

Dalam tulisannya berjudul Masyarakat Onta dan Masyarakat Kapal Udara, Sukarno terusik dengan perkataan Prof. Tor Andrea bahwa Islam saat ini sedang manjalani “ujian apinya sejarah. Kalau ia menang, ia akan menjadi teladan bagi seluruh dunia; kalau ia kalah, ia akan merosot ketinggalan selaman-lamanya”. Perkataan ini sangat menggelisahkan Sukarno, maka pemikiran keIslamannya ia maksudkan agar Islam menang dalam ujian apinya sejarah itu. Untuk menang, yang harus dilakukan Sukarno adalah mencari hukum-hukum sejarah, termasuk sebab-sebab kemunduran dan kemajuan umat Islam. Tema ini sebenarnya merupakan tema sentral dalam pergulatan pembaharuan Islam yang dimulai oleh Jamaluddin al-Afghani dan Muhammad Abduh.

Mula-mula mereka terusik oleh kemajuan Barat, lalu bertanya kenapa Islam mundur. Kemudian, Afghani mengeluarkan diktum terkenal: Barat maju karena meninggalkan agamanya dan Islam mundur juga karena meninggalkan agamanya. Maka untuk maju umat Islam harus memperkuat tali agamanya dengan kempali pada Islam otentik (quran-hadits). Dengan pergulatan yang sama, Sukarno mengatakan bahwa penyebab kemunduran Islam adalah kesenjangan yang lebar antara perkembangan masyarakat yang tunduk pada hukum-hukum sejarah dengan pemahaman dan doktrin Islam. Masyarakat sudah hidup di zaman kapal udara sementara pemahaman dan doktrin Islam masih hidup di zaman onta. Kembali ke quran dan hadits saja tidak cukup jika cara berfikir dan pemahamannya masih pemahaman zaman onta.

Yang dibutuhkan oleh umat Islam adalah lompatan historis dan berani memandang zamannya sesuai dengan pemahaman dan cara fikir zamannya dengan dilandasi kalam ilahi. Dalam suratnya yang terahir kepada A. Hasan, Sukarno mengatakan bahwa quran dan hadits bisa menjadi pembawa kemajuan, suatu api yang menyala, kalau kita baca quran dan hadits itu berdasar pengetahuan umum dan science. (Sukarno, Surat-surat Islam dari Endeh, dimuat kembali dalam DBR, 1964)

Sukarno menyaksikan peristiwa aneh karena di zaman kapal udara masih ada orang yang mau kembali pada zaman onta, dan bahkan ada pula yang tidak mau maju tapi juga tidak mau mundur. Mereka duduk termangu menyaksikan lalu lalang perubahan dan kemajuan yang suatu saat akan melindasnya.

Dengan mengutip Heraclitos, Sukarno mengatkan bahwa seumuanya akan berubah, berubah ke arah kemajuan. Tidak mau berubah berarti menentang hukum sejarah, menentang berarti siap dipinggirkan oleh sejarah. Itulah tanda-tanda kekalahan Islam dalam ujian apinya sejarah, karena mereka lamban atau tidak mau menerima perubahan. Mereka statis dan telah terbiasa dengan Islam sontoloyo. Menurut Sukarno, penyebab statisme ini adalah pensakralan fiqh dan berbagai ijma’ ulama’ yang kemudian berujung pada penutupan pintu ijtihad. Fiqh telah menjadi algojo roh-semangat Islam. (Sukarno, Islam Sontojo dalam DBR, 1964)

Dalam tulisannya berjudul Me “muda” kan Pengertian Islam, Sukarno menguti Prof. Farid Wajdi yang mengatakan bahwa Islam bisa maju jika dilandaskan pada kemerdekaan roh, kemerdekaan akal, dan kemerdekaan pengetahuan. Maka, roh yang selama ini dirantai oleh fiqh haruslah dilepas rantainya, akal yang selama ini dipasung oleh ijma’ ulama’ haruslah dibuka pasungannya, dan pengetahuan yang selama ini ditutup oleh bab el-Ijtihad haruslah dibuka tutupnya. Dengan mengutip Sajid Amir Ali, Sukarno mengatakan bahwa Islam itu sperti karet, karena itu tidak ada yang bisa membatasi kemerdekaan roh, akal,dan pengetahuan dalam Islam.

Islam menghargai kemerdeaan roh, akal, dan pengetahuan karena Islam agama rasional. Dengan rasio kita melakukan rethinking of Islam untuk membuang abu Islam dan menangkap apinya. Dan dengan rasio juga kita menangkap makna atau roh dibalik huruf-huruf dalam kalam ilahi. Hanya dengan menangkap roh atau apinya, Islam bisa kembali menjadi Islam Kemajuan seperti yang pernah dialami oleh Islam generasi pertama

Orang Jenius Indonesia membuat sejarah baru dunia

 

Orang Indonesia selama ini rata-rata dianggap sebagai orang yang bodoh, bahkan ada lelucon yaitu otak orang Indonesia bagus untuk penelitian karena masih fresh alias tidak pernah dipakai. Kita juga terkadang muak dengan ocehan orang Negara sebelah yang bilang Indon yang identic dengan kebodohannya. Namun sebenarnya orang Indonesia nggak kalah pinter disbanding orang dari Negara maju sekalipun. Yang membedakan adalah mereka memiliki system pendidikan dan infrastruktur yang modern, yang bias memaksimalkan potensi a.k.a otak dari setiap peserta didik.
Lalu mana buktinya kalau orang Indonesia ada yang jenius layaknya orang baratm Jepang, atau Amerika? Sebenarnya tinggal jawab Habibie aja orang pintar seluruh dunia juga sudah tahu. Tapi Habibie tidak sendirian, banyak orang jenius Indonesia yang sukses di luar negeri, bahkan memiliki prestasi yang mengagumkan. Menempuh pendidikan di universitas terkenal yang tentu saja bukan STIS, bekerja di lembaga riset terkenal dunia yang juga tentu saja bukan BPS. Sudah sangat banyak media yang membahasnya, tapi tak salah jika membaca lagi. Berikut beberapa contohnya :

1.    Profesor Nelson Tansu

nelson-tansu

Pria kelahiran 20 Oktober 1977 ini adalah seorang jenius. Ia adalah pakar teknologi nano. Fokusnya adalah bidang eksperimen mengenai semikonduktor berstruktur nano. Teknologi nano adalah kunci bagi perkembangan sains dan rekayasa masa depan. Inovasi-inovasi teknologi Amerika, yang mempengaruhi kehidupan sehari-hari seluruh orang di dunia, bertopang pada anak anak muda brilian semacam Nelson. Nelson, misalnya, mampu memberdayakan sinar laser dengan listrik superhemat. Sementara sinar laser biasanya perlu listrik 100 watt, di tangannya cuma perlu 1,5 watt. Pada usia yang belum 32 tahun, Nelson diangkat sebagai profesor di Universitas Lehigh. Itu setelah ia memecahkan rekor menjadi asisten profesor termuda sepanjang sejarah pantai timur di Amerika. Ia menjadi asisten profesor pada usia 25 tahun, sementara sebelumnya, Linus Pauling, penerima Nobel Kimia pada 1954, menjadi asisten profesor pada usia 26 tahun. Mudah bagi anak muda semacam Nelson ini bila ingin menjadi warga negara Amerika. Sampai kini ia getol merekrut mahasiswa Indonesia untuk melanjutkan riset S-2 dan S-3 di Lehigh. Ia masih memiliki ambisi untuk balik ke Indonesia dan menjadikan universitas di Indonesia sebagai universitas papan atas di Asia

2.    MUHAMMAD ARIEF BUDIMAN

Arif.jpg

Di sebuah ruang kerja di kompleks Orion Genomic, salah satu perusahaan riset bioteknologi terkemuka di Saint Louis, Missouri, Amerika Serikat. Seorang lelaki Jawa berwajah “dagadu”—sebab senyum tak pernah lepas dari bibirnya—kerap terlihat sedang salat. Dialah, Muhammad Arief Budiman, anak pekerja pabrik tekstil GKBI itu sekarang menjadi motor riset utama di Orion. Jabatannya: Kepala Library Technologies Group. Menurut BusinessWeek, ia merupakan satu dari enam eksekutif kunci perusahaan genetika itu.
Arief tak hanya terpandang di perusahaannya. Namanya juga moncer di antara sejawatnya di negara yang menjadi pusat pengembangan ilmu tersebut: menjadi anggota American Society for Plant Biologists dan—ini lebih bergengsi baginya karena ia ahli genetika tanaman—American Association for Cancer Research. Agar seseorang bisa menjadi anggota asosiasi ini, ia harus aktif meneliti penyakit kanker pada manusia. Ia juga harus membawa surat rekomendasi dari profesor yang lebih dulu aktif dalam riset itu serta tahu persis riset dan kontribusi orang itu di bidang kanker. Arief mendapatkan kartu itu karena, “Meskipun latar belakang saya adalah peneliti genome tanaman, saya banyak melakukan riset genetika mengenai kanker manusia,” ujarnya.

3. Prof Dr. KHOIRUL ANWAR

anwar.jpg

Para ilmuwan dunia berkhidmat ketika pada paten pertamanya Khoirul, bersama koleganya, merombak pakem soal efisiensi alat komunikasi seperti telepon seluler. Graduated from Electrical Engineering Department, Institut Teknologi Bandung (with cum laude honor) in 2000. Master and Doctoral degree is from Nara Institute of Science and Technology (NAIST) in 2005 and 2008, respectively. Dr. Anwar is a recipient of IEEE Best Student Paper award of IEEE Radio and Wireless Symposium (RWS) 2006, California, USA. Prof Dr. Khoirul Anwar adalah pemilik paten sistem telekomunikasi 4G berbasis OFDM (Orthogonal Frequency Division Multiplexing) adalah seorang Warga Negara Indonesia yang kini bekerja di Nara Institute of Science and Technology, Jepang.
Pada paten kedua, lagi-lagi Khoirul menawarkan sesuatu yang tak lazim. Untuk mencapai kecepatan yang lebih tinggi, dia menghilangkan sama sekali guard interval (GI). “Itu mustahil dilakukan,” begitu kata teman-teman penelitinya. Tanpa interval atau jarak, frekuensi akan bertabrakan tak keruan. Persis seperti di kelas saat semua orang bicara kencang secara bersamaan. Istilah ilmiahnya, terjadi interferensi yang luar biasa. Namun, dengan algoritma yang dikembangkan di laboratorium, Khoirul mampu menghilangkan interferensi tersebut dan mencapai performa (unjuk kerja) yang sama. “Bahkan lebih baik daripada sistem biasa dengan GI,” kata pria 31 tahun ini. Itulah yang mengantarkan alumnus Jurusan Teknik Elektro Institut Teknologi Bandung tersebut kini menjadi asisten profesor di JAIST, Jepang. Dia mengajar mata kuliah dasar engineering, melakukan penelitian, dan membimbing mahasiswa. 

4.    Profesor Dr. Ken Kawan Soetanto

Ken.jpg

Prestasi membanggakan ditorehkan Profesor Dr. Ken Kawan Soetanto. Pria kelahiran Surabaya ini berhasil menggondol gelar profesor dan empat doktor dari sejumlah universitas di Jepang. Lebih hebatnya, puncak penghargaan akademis itu dicapainya pada usia 37 tahun. ia sudah mematenkan 31 penemuannya, 29 di Jepang, dua di AS, untuk bidang interdisipliner ilmu elektronika, kedokteran, dan farmasi.
Sebegitu terkenalnya Soetanto di Jepang sampai-sampai oleh mahasiswanya ia memiliki metode khusus mengajar yang diberi nama “Metode Soetanto” atau “Efek Soetanto”. Pada 1988-1993, dia tercatat sebagai direktur Clinical Education and Science Research Institute (CERSI) merangkap associate professor di Drexel University dan School Medicine at Thomas Jefferson University, Philadelphia, AS. Dia juga pernah tercatat sebagai profesor di Biomedical Engineering, Program University of Yokohama (TUY). Selain itu, pria kelahiran 1951 tersebut saat ini masih terdaftar sebagai prosefor di almameternya, School of International Liberal Studies (SILS) Waseda University, serta profesor tamu di Venice International University, Italia.
Otak arek Suroboyo itu memang brilian. Dia berhasil menggabungkan empat disiplin ilmu berbeda. Hal tersebut terungkap dari empat gelar doktor yang diperolehnya. Yakni, bidang applied electronic engineering di Tokyo Institute of Technology, medical science dari Tohoku University, dan pharmacy science di Science University of Tokyo. Yang terakhir adalah doktor bidang ilmu pendidikan di almamater sekaligus tempatnya mengajar, Waseda University. “Sistem pendidikan di sini (Indonesia) sudah tertinggal jauh”. Satu penemuannya bernama NEDO (The New Energy and Industrial Technology Development Organization) memberinya penghormatan sebagai penelitian puncak di Jepang dalam rentang 20 tahun, 1987-2007.

5.    Prof Dr. Ing BJ Habibie

habibie.jpg

Prof. Dr.-Ing. Dr. Sc. H.C. Mult. Bacharuddin Jusuf Habibie lahir tanggal 25 Juni 1936 di Parepare, Sulawesi Selatan Indonesia. Setelah menyelesaikan kuliahnya dengan tekun selama lima tahun, B.J. Habibie memperoleh gelar Insinyur Diploma dengan predikat Cum Laude di Fakultas Teknik Mekanik Bidang Desain dan Konstruksi Pesawat Udara. Kejeniusannya membawanya memperoleh Gelar Doktor Insinyiur di Fakultas Teknik Mekanik Bidang Desain dan Konstruksi Pesawat Udara dengan predikat Cum Laude tahun 1965.
B.J. Habibie memulai kariernya di Jerman sebagai Kepala Riset dan Pembangunan Analisa Struktur Hamburger Flugzeugbau Gmbh, Hamburg Jerman (1965-1969). Kepala Metode dan Teknologi Divisi Pesawat Terbang Komersial dan Militer MBB Gmbh, Hamburg dan Munchen (1969-1973). Wakil Presiden dan Direktur Teknologi MBB Gmbh Hambur dan Munchen (1973-1978), penasehat teknologi senior untuk Direktur MBB bidang luar negeri (1978). Pada tahun 1977 dia menyampaikan orasi jabatan guru besarnya tentang konstruksi pesawat terbang di ITB Bandung. Tergugah untuk melayani pembangunan bangsa, tahun 1974 B.J. Habibie kembali ke tanah air, ketika Presiden Soeharto memintanya untuk kembali. Dia memulai kariernya di tanah air sebagai Penasehat Pemerintah Indonesia pada bidang teknologi tinggi dan teknologi pesawat terbang yang langsung direspon oleh Presiden Republik Indonesia (1974-1978). Pada tahun 1978 dia diangkat sebagai Menteri Negara Riset dan Teknologi merangkap sebagai kepala BPPT. Dia memegang jabatan ini selama lima kali berturut-turut dalam kabinet pembangunan hingga tahun 1998.
Presiden B.J. Habibie memegang jabatan presiden selama 518 hari dan sukses menyelenggarakan Pemilu paling demokratis yang pernah ada yaitu Pemilu 1999. Prof. B.J. Habibie mempunyai medali dan tanda jasa nasional dan internasional, termasuk ‘Grand Officer De La Legium D’Honour, hadiah tertinggi dari Pemerintah Perancis atas konstribusinya dan pembangunan industri di Indonesia pada tahun 1997; ‘Das Grosskreuz’ medali tertinggi atas konstribusinya dalam hubungan Jerman-Indonesia tahun 1987; ‘Edward Warner Award, pemberian dari Dewan Eksekutif Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO) pada tahun 1994; ‘Star of Honour ‘Lagran Cruz de la Orden del Merito Civil dari Raja Spanyol tahun 1987. Dia juga menerima gelar doktor kehormatan dari sejumlah universitas, seperti Institut Teknologi Cranfield, Inggris; Universitas Chungbuk Korea dan beberapa universitas lainnya.
Habibie terlibat dalam proyek perancangan dan desain pesawat terbang seperti Fokker 28, Kendaraan Militer Transall C-130, CN-235, N-250 dan N-2130. Dia juga termasuk perancang dan desainer yang jlimet Helikopter BO-105, Pesawat Tempur, beberapa missil dan proyek satelit.Banyak orang menganggap beliaulan orang tercerdas, terpintar yang pernah dimiliki Indonesia

6.      JOHNY SETIAWAN, Ph.D

setiawan.jpg

Johny Setiawan membuat mata dunia tercengang dengan penemuan planet pertama yang mengelilingi bintang baru TW Hydrae. Penemuan itu sangat spektakuler karena dari 270 planet di luar tata surya yang telah ditemukan astronom dalam 12 tahun terakhir, tak satu pun planet yang muncul dari bintang muda. Johny yang memimpin tim peneliti di Max Planck Institute for Astronomy (MPIA), Heidelberg, Jerman itu menemukan planet pertama yang disebut TW Hydrae b dan bintang baru TW Hydrae dengan menggunakan teleskop spektrograf F EROS sepanjang 2,2 meter di La Silla Observatory, Chile. Setamat SMA, pada 1992–1993,Johny mengenyam pendidikan pra-universitas di Studienkolleg Heidelberg,Jerman. Johny kemudian mempelajari Fisika di Albert-Ludwigs-Universitat, Freiburg, Jerman, dan mengambil Master di Kiepenheuer-Institute for Solar Physics, Freiburg. Disertasinya di Kiepenheuer-Institute for Solar Physics, Freiburg, berjudul Radial velocity variation of G and K Giants. Sejak Juni 2003, Johny bekerja sebagai peneliti post-doctoral di MPIA, di Department of Planet and Star Formation (Prof. Dr.Thomas Henning). Wilayah risetnya saat ini meliputi planet-planet di luar tata surya di sekitar bintangbintang muda dan bintang-bintang yang sedang terbentuk. Selain itu,Johny yang tinggal di Bintaro Sektor IX ini juga meneliti atmosfer yang berperan sebagai bintang.


7.    Yow-Pin Lim

You.jpg

Yow-Pin Lim, putra kelahiran Surabaya adalah contoh lain kisah sukses putra Indonesia di luar negeri. Ia adalah pendiri Chief Scientific Officer Pro Thera Biologics, sebuah perusahaan di Rhode Island, AS. Pro Thera dibentuk sebagai keberlanjutan teknologi yang telah dikembangkan di Rhode Island Hospital, dengan misi mengembangkan dan memasarkan produk berbasiskan protein theranostic dan therapeutic. Riset yang dihasilkan pria kelahiran Cirebon 49 tahun yang lalu ini berkontribusi pada pemahaman terhadap molekul kompleks pada fisiologi manusia dan berbagai macam penyakit, terutama sepsis, anthrax, dan kanker. Lim kini memiliki beberapa paten, antara lain Preparative Electrophoresis Device and Methods for Detecting Cancer of the Central Nervous System. Hebatnya penemuan Lim menjadi acuan utama rumah sakit-rumah sakit di AS saat ini. 

8.    Yanuar Nugroho

Yanuar.jpg

Tahun 2009 lalu, seorang putra Indonesia menyedot perhatian dunia akademik di Inggris . Namanya Yanuar Nugroho, pengajar di Institut Kajian Inovasi ata Manchester Institution of Innovation Research dan Pusat Informatika Pembangunan Universitas Manchester. Yanuar meraih penghargaan sebagai dosen terbaik 2009 dan hebatnya ia adalah satu-satunya orang Indonesia yang jadi dosen di Inggris. Menurut Yanuar, Desember tahun lalu, kriteria utama penilaian penghargaan tersebut adalah sumbangan akademik lewat penelitian, tulisan, seminar, kuliah dan konferensi. Selama dua tahun terakhir ini, ia terlibat pada lebih dari 15 penelitian yang didanai oleh Uni Eropa, Dewan Riset Inggris, Dewan Riset Eropa, serta Departemen Industri dan Perdagangan Inggris.
Selain mempublikasikan tulisannya di berbagai jurnal internasional, presentasi di konferensi kelas dunia, dan menjadi dosen tamu di beberapa universitas termasyhur, seperti Oxford dan Cambridge. Nugroho adalah alumnus Teknik Industri ITB tahun 1994. Ia mendapatkan gelar PhD-nya dari Universitas Manchester dalam waktu kurang dari tiga tahun pada 2007, dan menyelesaikan post-doctoral pada 2008. Sejak Agustus 2008, Nugroho menjadi staf penuh di Universitas Manchester.

9.    Andreas Raharso

andreas.jpg

Satu lagi putra Indonesia yang membanggakan di luar negeri adalah Andreas Raharso. Pria berusia 44 tahun itu saat ini menduduki pimpinan atau CEO pada sebuah lembaga riset global Hay Group. Hay Group mempunyai jaringan di hampir belahan dunia dan berkantor pusat di Amerika. Klien dari Hay Group ini kebanyakan adalah para pemimpin dunia seperti AS, Perancis, dan Inggris. Jabatan yang diraih Andreas cukup fenomenal, karena merupakan satu-satunya orang Asia yang berhasil menduduki posisi puncak. Selama ini jabatan itu didominasi warga Amerika dan Eropa.
Menilik prestasi dan kegigihan orang-orang Indonesia ini memang tidak kalah bahkan setara dengan ilmuwan dunia. Kesadaran bahwa kondisi pendidikan di Tanah Air masih belum kondusif membuat mereka harus meninggalkan Indonesia untuk meraih sukses. Di Tanah Air, dunia pendidikan kita saat ini malah masih mempersoalkan perlu tidaknya ujian nasional (UN).

10. March Boedihardjo

March.jpg

Bocah Indonesia, March Boedihardjo, mencatatkan diri sebagai mahasiswa termuda di Universitas Baptist Hong Kong (HKBU). March akan memiliki gelar sarjana sains ilmu matematika sekaligus master filosofi matematika. Karena keistimewaannya itu, perguruan tinggi tersebut menyusun kurikulum khusus untuknya dengan jangka waktu penyelesaian lima tahun(dari 2007). Ketika ditanya tentang cara beradaptasi dengan lingkungan dan orang-orang baru, March mengaku tidak pernah cemas berhadapan dengan teman sekelas yang lebih tua darinya. ”Ketika saya di Oxford, semua rekan sekelas saya berusia di atas 18 tahun dan kami kerap mendiskusikan tugas-tugas matematika,’’ kisahnya. March memang menempuh pendidikan menengah di Inggris. Hebatnya, dia masuk dalam kelas akselerasi, sehingga hanya perlu waktu dua tahun menjalani pendidikan setingkat SMA itu. Hasilnya, dia mendapat dua nilai A untuk pelajaran matematika dan B untuk statistik. Dia juga berhasil menembus Advanced Extension Awards (AEA), ujian yang hanya bisa diikuti sepuluh persen pelajar yang menempati peringkat teratas A-level. Dia lulus dengan predikat memuaskan. Dalam sejarah AEA, hanya seperempat peserta AEA yang bisa mendapat status tersebut.
Itulah beberapa nama orang Indonesia yang bias dikatakan jenius dan sukses dalam karir akademisnya. Mungkin bias dikatakan anda boleh jenius, tapi jika ingin sukses jangan berkarir di Indonesia. Memang miris melihat banyak orang pintar Indonesia yang tinggal dan meneliti untuk Negara lain. Tapi hal ini masuk akal karena perhatian pemerintah terhadap riset masih sangat kurang. Hal ini bias dilihat dari sikap pemerintah yang lebih sibuk menaikkan gaji pejabat dan PNS daripada menaikkan anggaran penelitian. Lebih sibuk menganggarkan dana pembelian mobil baru, gedung baru, renovasi ini itu daripada hal yang jauh lebih penting untuk perkembangan ilmu pengetahuan di Indonesia. Kalo buat naikin ID kami sih masih dapat diampuni

 

RAJA UTI DARI DINASTI HATORUSAN

 

raja-uti

 

Kisah Raja UTI

Ketika Sibasoburning hendak melahirkan, berkicaulah burung Patiaraja di dahan Pohon Beringin Tumburjati, beterbangan pula hulis-hulis, petir bergelegar, tibalah waktunya lahirlah anaknya laki-laki. Tetapi ada kekurangannya, karena kaki dan tangannya pendek bahkan hampir tak kelihatan

 

Maka Sibasoburning pun menangis melihat anaknya itu, tetapi dia dihibur Gr Tateabulan, karena Mulajadinabolon sudah terlebih dahulu memberitahu hal itu kepadanya bahkan sejak dia membuat parit perlindungan kampungnya

Merekapun membesarkan anak itu, dia cepat besar dan berbicara, tetapi nggak bisa duduk, dia hanya tidur-tiduran seperti miok-miok, itulah sebabnya dia disebut Siraja Miok-miok, yang lain menyebutnya Siraja Gumeleng-geleng

 

Setelah Siraja Miok-miok besar, dia minta kepada Ibunya Sibasoburning agar dia diantar ke Pucuk gunung Pusukbuhit, biar dia bisa martonggo (berkomunikasi) dengan Mulajadi Nabolon. Maka dia diletakkan Ibunya di bawah pohon Piu-piu Tanggule biar kalau buahnya jatuh ada buat makanannya. Dia juga diberi Pungga haomasan, biar ada buat dijilat-jilat apabila dia lapar. Di tempat itulah Siraja Miok-miok martonggo Siraja Miok-miok biar Mulajadi Nabolon berkenan melengkapi keadaan tubuhnya. Mulajadi Nabolon pun meluluskan permintaannya, tangannya dan kakinya pun makin panjang, tetapi tumbuh juga ekornya seperti ekor bajonggir dan ada pula kulit tipis nenyambung ruas tangan dan kakinya seperti sayap kelelawar

D.natolu

Siraja Miok-miok kemudian martonggo. Kenapa dia bernasib seperti itu, dulu ada kekurangannya, tetapi sekarang jadi lebih. Mulajadi Nabolon menjelaskan bahwa tubuhnya harus seperti itu supaya dia tidak bisa bergaul dengan manusia, karena dia akan jadi Malim yang dapat meneruskan permintaan manusia kepada Mulajadi Nabolon dan menyampaikan pesan Mulajadi Nabolon kepada manusia. Itulah sebabnya dia digelar Raja Hatorussan atau Raja Uti

Maka Gr Tateabulan mendirikan tempat perteduhannya di pohon Piu-piu Tanggule itu. Maka dia ditemani ular bagandingtua dan bujonggir, untung2 besar, burung layang-layang mandi. Tidak ada lagi yang bisa melihat Raja Hatorusan selain Gr Tateabulan, Ibunya Sibasoburning dan adiknya Tn. Sariburaja

Sariburaja mencari Raja Uti sampai ke puncak Pusukbuhit dan dia melihat sudah ada isterinya yang bernama Siboru Lindungbulan, borunya Tn. Bataraguru. Maka diberitahukanlah kepada Sariburaja bahwa nama Raja Uti sudah diganti Mulajadi Babolon menjadi Raja Hatorusan, raja so haliapan raja so halompoan. Dipesankan agar ada keturunan Sariburaja yang mengambil nama Raja Hatorusan, karena dia akan pindah dari situ ke tempat yang akan ditentukan oleh Mulajadi Nabolon. Sejak itu tidak ada orang yang melihat Raja Hastorusan akan tetapi berita mengenai dia tersebar ke mana-mana. Dia disebut tidak bisa mati dan tidak bisa tua

Setelah tiba waktunya yang ditetapkan Mulajadi Nabolon, Raja Uti pun terbang atau pindah ke Ujung Barus yang juga bernama Ujung Aceh karena persis di perbatasan Aceh dan Barus, di tengah2 Aek Uti kanan dan Aek Uti kiri. Disitulah didirikan rumah persaktian dan mimbar persembahannya. Hanya Raja Uti yang tinggal di tempat itu dikelilingi ulubalangnya (pengawal2nya), merekalah yang meneruskan perintah dan yang menyampaikan berita kepada Raja Uti kepada kerajaannya. Sekeliling perkampungan itu ada 3 lapis penjaga. Lapis paling dalam adalah macam-macam yang punya sengat yang punya sayap sseperti daldal, harinuan, altong, naning dll (sejenis lebah/tawon), lapis kedua binatang-bilnatang berbisa seperti kala, lipan, bermacam-macam ular berbisa, dll. Lapis paling luar adalah binatang buas seperti harimau, beruang, gajah, dll. Juga di Aek Uti kanan dan kiri dan ke arah laut ada buaya putih.

Tidak ada orang dalam kerajaannya itu yang bisa me.lihatnya akan tetapi berita mengenai Raja Uti tersebar ke mana2. Semua orang dalam kerajaannya mematuhi perintahnya dan pesannya

Jika ada bencana, kemarau panjang, menjauhkan penyakit maka Raja Utilah utusan martonggo kepada Mulajadi Nabolon

 

Manusia yang dalam kerajaannya percaya bahwa. Raja Uti tidak bisa mati dan tidak bisa tua karena tidak ada yang bisa melihatnya. Tetapi dari kepala pengawalnya kemudian ada cerita yang bocor yang mengatakan bahwa kerajaan Raja Uti sudah berganti bbrp kali tetapi nggak ada yang tau pergantiannya. Beginilah ceritanya:

batak+Rum.

  1. Raja Miok-miok, Raja Hatorusan, Raja Uti I, isterinya br. Lindungbulan.
  2. II. Dt. Pejel, Raja Uti II, karena cepat meninggal kerajaannya digantikan isterinya yang digelar Raja Uti III.
  3. Dt. Borsak Maruhum, anak Dt Pejel yang kemudian menjadi Raja Uti IV.
  4. Dt. Alongniaji, yang digelar Raja Uti V
  5. Gr. Longgam Pamunsak, digelar Raja Uti VI
  6. Dt. Mambang Diatas yang mengambil isteri br. Mompul Sohapurpuran, kemudian menjadi Raja Uti VII, yang terakhir dan yang memberikan kerajaannya dan kesaktiannya kepada Raja Humuntal, Si Singamangaraja I

Si Singa Mangaraja berselisih paham dengan namborunya Nai Hapatian dari Muara dan Nai Paltiraja dari Urat. Kata namborunya: “Asalkan kamu nggak bawa gajah saja, kalau bedil yang kamu bawa ada juga lawannya bedil”

Maka pergilah Si Singa Mangaraja mencari kampungnya Raja Uti ke Barus karena dia tahu ada gajah putih di sana. Semua Pengawal Raja Uti merasa heran karena Si Singa Mangaraja bisa sampai ke sana, melewati penjagaan yang begitu ketat yaitu melewati pasukan gajah, harimau, ular dan binatang2 berbisa dan penyengat karena belum pernah ada orang yang bisa melewatinya. Datanglah br. Mompul Sohapurpuron menemui rombongan Si Singa Mangaraja dan memberitahukan bahwa Raja Uti sudah 4 hari pergi berlayar (marparau), tetapi mereka disuruh duduk di tengah halaman agar mereka makan dulu sebelum pulang.

Tetapi Si Singa Mangaraja tidak begitu saja percaya, dia pikir Raja Uti paling pergi ke bagian atas rumahnya (songkor); jadi dia menyuruh anak buahnya agar disediakan sayur ubi untuk makanannya walaupun sudah disediakan makanan dan lauk buat mereka di bawah.

Isteri Si Singa Mangaraja mengajak Si Singa Mangaraja makan di dalam rumah sedangkan rombongannya tetap makan di halaman rumah. Sambil duduk di atsas tikar yang disediakan, Si Singa Mangaraja bersandar ke tiang. Setelah makanan dltersedia dia mengambil sayur ubi itu sambil melirik ke atas (songkor) maka dia pun saling pandang dengan Raja Uti, karena Raja Uti juga ingin melihat apakah Si Singa Mangaraja mau memakan sayur ubi tsb. Akhirnya Raja Uti turun dari atas dan mereka pun bercakap-cakap.

 

Si Singa Mangaraja memberitahukan niatnya untuk meminta gajah satu ekor untuk dipelihara. Raja Uti berkata: “Boleh saja saya memberikannya asalkan kamu sendiri yang menarik talinya, dan kamu harus memenuhi permintaan saya”

Carilah untuk saya:
1. Satu kerbau tunggal, Sihalung dan punya gigi di atas.
2. Satu daun lalang, lebarnya selebar daun talas,
3. Satu pungga yang berbulu.
4. Satu lote (burung puyuh) yang berekor.
5. Satu tali kuda yang terbuat dari pasir.
6. Seekor kambing tunggal bertanduk 7.
7. Seorang manusia yang daun telinganya bisa ditarik menutupi kepalanya dan susunya bisa diparsabe-sabe.

 

Maka pergilah Si Singa Mangaraja mencari permintaan Raja Uti dia pun menemukan puyuh yang berekor di Pangururan Samosir, manusia yang bisa menutupi kepalanya dengan kupingnya dari Uluan, Tali Pasir dari R. Sijorat Sitorang, pungga yang berbulu dari Laguboti, daun alang2 selebar daun talas dari Sianjur Humbang dan seekor kerbau tunggal sihalung yang bergigi di atas dari Silindung. Dia membawa semuanya ke hadapan Raja Uti sambil menerangkan artinya satu persatu.

Karena dia sanggup melaksanakan semua permintaan Raja Uti maka dia diberkati Raja Uti karena ternyata dia benar-benar Raja yang diminyaki dan dipilih Mulajadi Nabolon. Disampaikanlah pusaka kerajaan kepada Si Singa Mangaraja, yaitu: Pisau Gajah Dompak, Pisau Salam Debata yang menjadi pusaka Raja Si Singa Mangaraja turun-temurun, tiksar keemasan, tabu2 sitarapullang, bunga yang tak bisa layu.

Mereka pun mengadakan perjanjian bahwa Si Singa Raja tidak akan memberitahu rupa atau tampang Raja Uti kepada siapapun. Kalau janji tsb dilanggar maka tabu2 sitarapullang akan kembali kepada Raja Uti yang berarti dari mana dia datang ke situlah dia pulang. Setelah mereka sepakat turunlah Si Singa Mangaraja ke halaman rumah, dia pun mengajak rombongannya mengikat gajah itu dan pulang ke Bakara.

Tetapi di tengah jalan sebelum mereka sampai ke Bakara, tanpa sengaja Si Singa Mangaraja membisikkan kepada si Raja Sijorat tampang Raja Uti, sehingga tabu-tabu sitaratullang terbang kembali kepada Raja Uti. Tersebarlah berita itu ke semua daerah, berakhirlah kerajaan Raja Uti dan Si Singa Mangaraja pun menggantikannya jadi Raja Batak.

 

AH.Pasaribu

Jose Mujica Presiden Termiskin Di Dunia

Jose Mujica Presiden Termiskin Di Dunia Seorang presiden umumnya hidup enak dan nikmat dengan berbagai fasilitas dan kemudahan yang diberikan dan tentu saja gaji yang besar. Namun percaya atau tidak, hal berbeda didapatkan oleh presiden yang satu ini. Dia mendapat sebuah julukan dari rakyatnya sebagai ‘presiden paling miskin di dunia’.
www.anehdidunia.com

Dialah Jose Mujica, presiden Uruguay dijuluki sebagai “el presidente mas pobre” yang berarti presiden termiskin. Ini disebabkan karena presiden yang berusia 77 tahun tersebut menyumbangkan hampir seluruh gajinya sebagai orang nomer satu untuk rakyat.
Kepada surat kabar Spanyol, El Mundo, Sahabat anehdidunia.com Jose Mujica mengaku menerima gaji sebesar USD 12.500. Namun ia hanya mengambil USD 1.250 dari gajinya. Alhasil ia pun dianugerahi gelar lain sebagai presiden paling dermawan di dunia.

www.anehdidunia.com

“Saya baik-baik saja dengan jumlah (uang) itu, karena di Uruguay banyak yang hidup dengan penghasilan yang penghasian yang jauh lebih sedikit dari itu.” tuturnya merendah. Seperti yang dilansir oleh Yahoo, Jose Mujica juga mengajak istrinya yang merupakan seorang senator untuk melakukan hal yang sama.

Langka! Presiden Jose Mujica bersedia mendonasikan 90 persen gajinya untuk rakyat. Jose Mujica tinggal di rumah pertanian di Montevideo. Selama dirinya menjadi presiden, pengeluaran terbesar yang pernah ia keluarkan adalah pembelian sebuah mobil Volkswagen Beetle, senilai USD 1.945.

Hal positif lain yang patut diacungi jempol di masa kepemimpinan Mujica adalah tingkat korupsi yang paling sedikit di antara negara di benua Amerika Selatan. Pria yang merupakan mantan pejuang gerilya ini sama sekali tidak memiliki rekening bank ataupun utang. Meski begitu ia mengaku memiliki satu hal berharga yang tidak bisa dibeli oleh uang, yaitu anjingnya, Manuela.
Di bawah kepemimpinannya, Uruguay mendapat julukan sebagai negara dengan tingkat korupsi paling kecil. Diketahui, Jose Mujica bukanlah presiden pertama yang menyumbangkan gajinya. Presiden AS John F. Kennedy, menyumbangkan gajinya, hal serupa juga dilakukan Presiden Herbert Hoover. Selayaknya hal ini patut di contoh bagi para pemimpin di dalam negeri kita. Pemimpin yang benar-benar mengabdikan diri dan kekayaannya untuk rakyat. Bukan hanya untuk kekuasaan dan harta.

Parmalim bukan agama Sisingamangaraja XII

Parmalim

 Pendahuluan;

  Sidjabat berpendapat  (1983:326) dan percaya bahwa Sisingamangaraja sendiri sebagai penemu/pendiri sekte Parmalim.

Sedangkan Sitor Situmorang (1993) menjelaskan sebuah interpretasi historis mengenai munculnya sekte Parmalim dengan Sedikit  berbeda. Ia (Situmorang 1993:63) mengatakan bahwa Somaliang telah datang kepada Raja Sisingamangaraja XII dan menyatakan mengenai ‘visi’nya untuk mendirikan sekte Parmalim masyarakat Batak Toba, namun ‘Raja Sisingamangaraja menjadi marah dan menolak Somaliang’. Dan pada

suatu ketika, Sisingamangaraja telah ditanya oleh seseorang mengenai agamanya; ia kemudian menjawab,‘Agamaku adalah agama di atas segala agama.’

 sitor

Parmalim: diskursus kesejarahan dan proses rasionalisasi religius

 

Secara historis, religi Parmalim pertama kali diprakarsai oleh seorang datu bernama Guru Somaliang Pardede (Horsting 1914; Tichelman 1937; Helbig 1935), seorang yang sangat dekat dengan Sisingamangaraja XII (raja terakhir dari dinasti Sisingamangaraja). Menurut beberapa penulis Barat, ajaran ini dijalankan oleh para pengikut Sisingamangaraja (khususnya oleh dua orang pemimpin perangnya, Guru Somaliang dan Raja Mulia Naipospos), dengan tujuan untuk melindungi kepercayaan dan kebudayaan tradisional Batak Toba dari

pengaruh Kristen, Islam, dan kolonialis Belanda (Sidjabat 1983:326) 8 . Masashi Hirosue (1988:75-76) berpendapat bahwa gerakan Parmalim merupakan ‘gerakan anti mesianis-kolonial’ yang ingin menghancurkan kerajaan Sisingamangaraja.  Ia selanjutnya menjelaskan,‘gerakan religi baru’ dari Somaliang pada umumnya bisa dipahami sebagai gerakan mesianis yang mengantisipasi kemunculan

kembali dari Si Singamangaraja, dan sekaligus juga merupakan sebuah reaksi terhadap pemerintah kolonial Belanda dan Kristenisasi terhadap masyarakat Batak Toba.

Di dalam kehidupan masa lalunya Somaliang Pardede pernah bertemu dengan Dr.Modigliani—seorang pendeta Katolik,

sekaligus juga seorang ahli tumbuhan, berkebangsaan Itali—yang bekerja di tanah Toba sejak 1889 hinga 1891. Ia telah menjadi pemandu Modigliani selama periode waktu itu.

SSmXII-OB-Sitor

Pada saat bersamaan, Somaliang juga mempunyai kontak dengan warga Muslim Aceh di timur Sumatera. Hubungan Somaliang dengan orang Aceh pada dasarnya merupakan suatu kolaborasi untuk menghadapi opresi kolonial Belanda di wilayah utara Sumatera.

Karena Somaliang telah diasumsikan oleh Belanda sebagai seorang ekstrimis yang berbahaya, ia akhirnya ditangkap dan dibuang ke Pulau Jawa pada tahun 1896. Namun demikian, ajaran Parmalim tetap dipraktekkan oleh murid-murid Somaliang dan pengikutnya yang lain setelah pengasingannya. Tetapi mereka menghadapi opresi yang baru, yakni berbagai tekanan dari misionaris Kristen (Horsting 1914:163).

Tichelman (1937:27-28) menyatakan bahwa terjadinya kontak kebudayaan telah mempengaruhi terbentuknya ajaran Parmalim,dan menghasilkan produk religi ‘sinkretis’ sebagai contoh dapat ditemukan beberapa elemen Katolik di dalamnya, seperti ‘Jahowa’ (Jehovah, nama Tuhan dalam ajaran Katolik),

‘Maria, Yesus’, dan nama-nama orang suci dalam ajaran Katolik. Pengaruh Islam juga terdapat di dalam ajaran tersebut.

Nama ‘parmalim’ itu sendiri berasal dari kata ‘malim’,

yakni dari kata Melayu ‘malim’ yang berarti “ahli dalam pengetahuan agama’ (dalam bahasa Arab, ‘muallim’).

 

Tidak seperti Tichelman, interpretasi Horsting (1914) terhadap

historiografi religi Parmalim sedikit berbeda. Ia menyatakan, religi Parmalim merupakan percampuran (blend) dari ajaran Jahudi, Katolik,Islam dan ajaran Sipelebegu 9 .

 

Tuhan mereka adalah Jehowah yang mengirim/menghadirkan Si Singamangaraja untuk menggantikan diriNya. Setelah kematiannya, para pengikut Parmalim percaya bahwa jiwanya mendapat tempat ‘di sisi tangan kanan dari Jahowa’ (Horsting 1914:1963-164; lihat juga Helbig 1935).

 

Pendapat dan pandangan mengenai keberadaan religi Parmalim juga banyak dibicarakan oleh para peneliti penduduk asli

Batak Toba sendiri; di antaranya Nurmasita R.Gultom (1990), Bernard Purba (1986); dan Gerfarius Aritonang (1991).

 

Gultom (1990) menyatakan bahwa ‘agama’ tradisional Batak Toba dikombinasikan dalam beberapa organisasi religius yang di antaranya disebut Parmalim, Si Raja Batak, dan kelompok

masyarakat tradisional yang tidak memeluk satu pun dari keduanya. Setelah agama Kristen dan Islam masuk ke tanah Batak, sebagian masyarakat menerima dan berpindah ke salah

satu dari kedua agama tersebut.

 

Meskipun mereka telah menganut salah satu agama,berbagai konsep berasal dari kepercayaan tradisional tetap dipraktek-kan, khususnya pada masyarakat yang berdiam di pedesaan.

Kebanyakan masyarakat menganggap, konsep maupun perilaku tradisional tersebut hanya sebagai ‘adat’. Kenyataannya, sulit untuk membedakan/memisahkan antara ‘adat’ dan ‘religi’ dalam kehidupan orang Batak Toba.Kedua aspek tersebut menyatu di dalam kebudayaan spiritualnya (Gultom 1990:31; lihat juga Pelly 1986/87:2).

 

Interpretasi lain dari religi Parmalim datang dari Aritonang10 , seorang penduduk asli Batak Toba yang sedang melakukan penelitian intensif di tengah masyarakatnya. Ia menduga

bahwa Parmalim berasal atau bersumber dari berbagai kepercayaan tradisional Batak Toba yang ‘secara ritual dan politis diorganisasi/diformulasikan’, sebagai suatu reaksi terhadap situasi sosial politis yang terjadi. Ia menyatakan

bahwa terdapat kesamaan antara tonggo (satu upacara religius-tradisional persembahan)—khususnya di dalam upacara Saem (lit.:‘penyembuhan’)—dengan ritual yang terdapat di dalam religi Parmalim.

Meskipun dalam kepercayaan tradisional Batak Toba, tiap upacara memiliki cara tersendiri dalam pelaksanaannya, di dalam Parmalim, para anggotanya telah mengakumulasi upacaraupacara yang berbeda-beda tadi ke dalam ritualritual ‘khusus’ yang ‘baku’ dengan cara-cara dan terminologi tersendiri.

Sehubungan dengan kata ‘parmalim’ itu sendiri, Aritonang menolak berbagai asumsi yang dikemukakan terutama oleh para ilmuwan seperti Tichelman, Horsting, dan Helbig.

Ia berpendapat bahwa kemungkinan besar kata ‘parmalim’ berasal dari vokabuler bahasa BatakToba sendiri. Setelah meneliti dan menganalisis gambaran linguistik (linguistic

features) dari konsep dan penggunaan bahasa Batak Toba, ia memunculkan hipotesa bahwa kata ‘parmalim’ dapat disarikan berasal dari beberapa fonem, ‘par-mala-ham’ (lit.: ‘orang yang baik’) yang memiliki akar kata ‘mala’ (lit.:‘sesuatu yang ditanyakan/diminta, itu akandiberikan’).

 

Parmalim: religi lokal versus agama negara

 

Mengacu pada asumsi serta kebijakan pemerintah bahwa dalam beberapa hal, kebudayaan lokal-tradisional harus

‘dipreservasi’ dan ‘dikembangkan’—sejalan dengan idealisasi terhadap apa yang disebut ‘kebudayaan nasional Indonesia’—pemerintah Indonesia mempromosikan ‘riset dan penelitian’ terhadap berbagai kebudayaan lokal-tradisional melalui sensus yang langsung berada di bawah koordinasi program Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Dalam gerakan nasional ini, riset terhadap kepercayaan/religi tradisional pun diikutsertakan sebagai bagian dari program. Pada kenyataannya, religi Parmalim telah menjadi salah satu dari 6 (enam) kepercayaankepercayaan lokal yang akan diteliti olehpemerintah sejak tahun 1985 (lihat Pelly 1986/1987).

 

Parmalim sebenarnya telah terdaftar secara formal empat tahun sebelumnya sebagai salah satu ‘aliran kepercayaan’ melalui sebuah surat yang dilegitimasi oleh Kementrian

Pendidikan dan Kebudayaan di tahun 1980.

Tetapi, untuk mendapatkan status/pengakuan‘religius’ tersebut, para pengikut Parmalim harus mengisi berbagai kriteria-tertulis yang ‘disyaratkan’ oleh pemerintah Indonesia.

Kriteria-prasyarat yang harus dipenuhi oleh para pengikut Parmalim, sesuai tuntutan pemerintah, ialah adanya ‘pedoman dasar’ dan ‘pedoman pelaksanaan’ dari religi yang ada.

Hal yang harus mampu direfleksikan di kedua pedoman tersebut adalah di antaranya kesimpulan dari nama religi, tujuan, latar belakang ideologis, fungsi dan hak-hak dari

para pengikut, dukungan keuangan, dan konstruksi dari sistem kepercayaan-religiusnya.

Salah seorang dari informan warga Parmalim memberikan komentarnya atas kebijakan/tuntutan pemerintah ini, ‘…semua kriteria itu tidak masuk akal sama sekali, itu terlalu

institusional dan politis, … namun, sepanjang kriteria itu dipenuhi tanpa ada hal yang tidak sesuai [bertentangan] dengan hukum dan peraturan pemerintah Indonesia, tidak akan ada masalah; kami (kepercayaan kami) akan diterima’.

Cara pengikut Parmalim menghadirkan dan mengonstruksi religi mereka dalam memenuhi kebutuhan/kepentingan ‘standardisasi agamanegara’ dapat dilihat sebagai berikut:

 

‘… Kepercayaan UGAMO MALIM adalah salah satu kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa sebagai perwujudan sila pertama PANCASILA, dan diatur dalam UUD-1945.

Karenanya warga Penghayat UGAMO MALIM bertanggungjawab serta berkewajiban menghayati, mengamalkan PANCASILA,

serta melestarikan dan menjaga kemurniannya secara utuh sebagai Dasar Negara dan Falsafah hidup bangsa Indonesia’ (Naipos-pos1987:1).’ [Teks diambil dari proposal Parmalim, ‘Pedoman Dasar dan PedomanPelaksanaan: Kelompok Warga PenghayatKepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa

“Ugamo Malim” (Parmalim)’].

 

Sehubungan dengan ide monoteisme,pengikut Parmalim secara sadar menempatkan di depan figur supernatural Mulajadi Na Bolon(lit.: ‘Yang Besar, Yang Mengawali’) untuk

‘menyesuaikan’ konsep tradisional mengenai keTuhanan (divinity) dengan konsep monoteistik negara. Di dalam kepercayaan Parmalim, sesungguhnya terdapat kompleksitas figur supernatural yang memiliki peran dan kepentingan religius yang dapat ditemukan di berbagai praktek-praktek ritual maupun seremonial Parmalim.

Meskipun Parmalim telah diakui oleh pemerintah Indonesia sebagai satu ‘aliran kepercayaan’ yang sah, namun (seperti apa yang dikatakan Raja Marnakkok Naipospos/ Pemimpin Parmalim di Huta Tinggi, Tapanuli Utara), amat sulit bagi pengikut Parmalim untuk mendapatkan kesempatan yang sama di berbagai bidang kehidupan. Beberapa restriksi yang sering dialami meliputi kesulitan untuk mendapatkan posisi tertentu di dalam pekerjaan, memasuki perguruan tinggi, terutama di universitas-universitas negeri, menjadi tentara, dan terkadang juga untuk mendapatkan surat tanda kawin atau kelahiran dari instansi pemerintah terkait. Alasan mengapa ini terjadi,kembali Naipos-pos menyatakan, ‘…sedikit sekali pengetahuan orang Indonesia mengenai keberadaan dari ragam sistem kepercayaan tradisional yang mereka miliki; lebih buruk lagi,masyarakat kelihatannya kurang memahami esensi dari makna religius’. Menanggapi keadaan dan situasi ini, Naipos-pos selanjutnya mengatakan, ‘…kami gembira karena

kepercayaan kami telah diakui pemerintah Indonesia, tidak seperti banyak kepercayaan lain yang masih dianggap “ilegal”. Kami percaya bahwa persepsi masyarakat akan berubah di dalam kehidupan religius masyarakat Indonesia mendatang’.

Di dalam menanggapi keberadaan agamaagama negara, seperti Islam, Kristen dan Budha dan lainnya, para pengikut Parmalim memiliki cara dan interpretasi tersendiri. Bagian dari

dasar interpretasi terkait dengan salah satu konsep dasar ajaran Parmalim, yakni hagogoton 11 .

Hagogoton , secara literalreligius bermakna ‘jika terjadi sesuatu/ kejadian yang tidak benar di suatu tempat tertentu di dunia, Mulajadi Nabolon akan mengutus seorang yang baik yang mampu mengatasi kejadian yang ada’. Dengan konsep dan kesadaran tersebut, para pengikut Parmalim percaya bahwa setiap agama akan melahirkan pemimpinnya masing-masing. Jadi, mereka percaya Musa, Yesus, Muhammad, dan lainnya,muncul untuk kepentingan bangsanya, sama dengan Sisingamangaraja bagi orang Batak-Toba.

 

Gerakan pelestarian budaya yang diprakarsai oleh pemerintah Indonesia, dalam tingkat tertentu, juga telah mempengaruhi

diskursus religius Batak Toba, terlebih dalam menginter pretasikan isu tersebut. Sebagian dari masyarakat Batak Kristen berpendapat bahwa melestarikan kebudayaan Batak Toba atau ‘adat’ adalah bagian dari menegakkan kembali

(re-establihsing ) identitas etnis maupun kultural mereka. Hal ini bukan berarti harus kembali pada kepercayaan tradisional yang ada.

Sebagian yang lain ternyata berpendapat berbeda. Memisahkan adat dari berbagai aspek yang terdapat di dalam kehidupan masyarakat Batak Toba (termasuk aspek religius) adalah suatu hal yang mustahil. Perdebatan pandangan semacam ini kelihatannya terus berlangsung di tengah masyarakat Batak Toba hingga kini.

Hal yang menarik dari adanya fenomena pertentangan ini, terutama bagi masyarakat Kristen Batak Toba yang masih memiliki keinginan atau perasaan yang kuat dan terikat

dengan kepercayaan tradisionalnya, adalah upaya mereka untuk mencoba merekonstruksi satu konsep religius tradisional apa yang disebut ‘hahomion’12 (lit.: ‘rahasia’) menjadi

bagian dari praktek keagamaan. Karena para misionaris Kristen melarang berbagai tipe upacara, terutama yang berbau kepercayaan tradisional, masyarakat akan menggunakan

hahomion untuk menyembunyikan aktivitas ritual seperti ini dari pandangan publik.

Kelihatannya, masyarakat Batak Toba sangat memperhatikan dan saling memaklumi akan kebutuhan itu. Seperti komentar sebagian besar informan penduduk asli yang saya temui

di lapangan, ‘…memberi penghargaan/persembahan kepada roh leluhur sebagai bagian penting dari kehidupan spiritual orang Batak Toba, kelihatannya sama pentingnya bagi yang telah menganut Kristen atau tidak’. Dalam pandangan saya, telah terjadi dualisme kepercayaan di tengah kehidupan masyarakat Batak Toba, terutama yang bermukim di

pedesaan.

 

Kesimpulan

Pandangan maupun kesadaran masyarakat Indonesia, khususnya mengenai penilaian terhadap isu agama-religi-kepercayaan—dalam beberapa tingkatan—telah terbentuk secara politis oleh persepsi maupun asumsi yang dikembangkan oleh pemerintah, baik secara eksplisit maupun implisit. Di satu sisi, idea ‘monoteisme’, sebagai dasar filosofi ‘agama negara’, kelihatannya hanya sekedar bermakna

politis, tanpa usaha untuk memahami berbagai esensi, terutama berkaitan dengan kompleksitas dinamika keagamaan yang terjadi di Indonesia. Berbagai permasalahan yang

dihadapi komunitas warga pengikut Parmalimtelah menjadi contoh. Di sisi lain, peran ilmuwan sosial dalam ‘menegaskan’ dan ‘meligitimasi’ kepentingan politis negara/pemerintah

merupakan hal yang sangat ‘berbahaya’, sebab sifat nature dari berbagai kajian keilmuan yang terus berkembang tidak semata sesuai dengan kebutuhannya. Kekhawatiran ini sesungguhnya telah disinggung dan dikemukakan oleh

Hefner (1993), terutama ketika ia mencoba mempertanyakan kembali pemahaman teks dan konteks rasionalisasi kultural (cultural rationalization)yang ‘sempit’ dengan konsep

rasionalisasi yang lebih luas. Setidaknya,dengan konsep rasionalisasi itu kita tidak mudah terjebak pada penilaian-penilaian ideologis yang subyektif.

Dari sisi pandang linguistik, kekaburan batas antara definisi ‘agama, religi’, dan ‘kepercayaan’ dapat dipahami. Hal itu menjadi wajar saat kita melihat penggunaan kata tidak

hanya terbatas pada eksklusivitas pengertian yang kaku, tetapi menempatkanya pada konteks kompleksitas makna-makna yang lain. Dengan sendirinya, ideologi kebebasan beragama tidak hanya dipahami sebatas hal yang idealnormatif,

tetapi lebih merupakan sesuatu yang muncul dari kesadaran kemanusiaan yang fundamental.

Berbagai kompleksitas persoalan maupun permasalahan sosial yang terjadi di Indonesia saat ini sedikit banyak diakibatkan oleh minimnya kesadaran para ilmuwan sosial di Indonesia

untuk menempatkan serta mensosialisasikan wawasan keilmuan berdasarkan tuntutan dan realitas obyektif di

lapangan. Kecenderungan orientasi disiplin Antropologi di Indonesia (setidaknya, menurut saya) lebih mengarah pada penyesuaian terhadap berbagai kepentingan rezim

pemerintah. Berbagai isu maupun persoalan etnisitas, identitas, multikulturalisme, dan religi di Indonesia mendapat perhatian yang relatif kurang dalam kajian-kajian antropologis, paling tidak sepanjang 32 tahun kekuasaan Orde Baru di Indonesia. Padahal, semua point di atas merupakan bagian dari persoalan yang mendasar yang harus dipahami bangsa yang

multi kompleks ini.

 

 

 

8 Sidjabat (1983:326) percaya bahwa Sisingamangaraja sendiri sebagai penemu/pendiri sekte Parmalim. Sitor Situmorang (1993) menjelaskan sebuah interpretasi historis mengenai munculnya sekte Parmalim dengan Sedikit  berbeda. Ia (Situmorang 1993:63) mengatakan bahwa Somaliang telah datang kepada Raja Sisingamangaraja XII dan menyatakan mengenai ‘visi’nya untuk mendirikan sekte Parmalim masyarakat Batak Toba, namun ‘Raja Sisingamangaraja menjadi marah dan menolak Somaliang’. Dan pada

suatu ketika, Sisingamangaraja telah ditanya oleh seseorang mengenai agamanya; ia kemudian menjawab,‘Agamaku adalah agama di atas segala agama.’

 

9 Sipelebegu adalah terminologi Batak Toba yang secara literal mengandung arti ‘pemuja roh’. Term ini telah digunakan khususnya oleh para misionaris Kristen untuk menandakan segala tipe dari kepercayaan tradisional Batak Toba dalam kesan religius yang negatif sebagai ‘pemuja setan/hantu’. Namun, beberapa dari konsultan penduduk asli yang pernah saya wawancarai menolak pendapat tersebut dan menyatakan bahwa sipelebegu, di dalam konsepsi dan

pemahaman religius mereka adalah sebutan untuk orang-orang yang mempraktekkan ajaran ilmu hitam (black magic). Religi Parmalim berbeda dengan hal semacam itu. Seperti apa yang sering mereka katakan,‘kolonial Belanda dan misionaris Kristen tidak dapat serta tidak ingin untuk memisahkan antara kedua hal tersebut sebab untuk kepentingan politis mereka.’

 

10 Aritonang adalah mahasiswa Jurusan Etnomusikologi Fak. Sasra USU yang sedang melakukan penelitian intensif di tengah masyarakat Batak Toba, khususnya memfokuskan pada analisis terhadap tonggo-tonggo (teks-teks religius tradisional) di dalam beberapa upacara Saem yang berbeda. Data yang saya kemukakan di atas merupakan hasil komunikasi pribadi saya dengannya, 9 Oktober 1994.

 

11Terima kasih kepada Aritonang yang telah membagi pengalaman lapangannya, khususnya mengenai konsep maupun pemahaman dari kepercayaan Parmalim.

 

12 Hahomion merupakan kepercayan tradisional yang mengharuskan seorang individu, sekelompok keluarga atau pun marga (klen) mempersiapkan dan

melaksanakan upacara untuk mendapat anugerah dari para arwah leluhur. Upacara dilaksanakan secara khusus dan bersifat rahasia, dilakukan hanya oleh parapemrakarsa perencana upacara.

Legenda Marga Lubis

 candi p lawas
 

 

 

Selama berabad-abad lamanya dan sampai sekarang masyarakat Mandailing mempercayai bahawa Namora Pande Bosi adalah nenek moyang orang-orang Mandailing yang bermarga Lubis.

Menurut legendanya, Namora Pande Bosi berasal dari Bugis di Sulawesi Selatan. Dalam pengembaraannya dia sampai ke satu tempat yang bernama Sigalangan di Tapanuli Selatan. Kemudian dia berkahwin dengan puteri raja di tempat tersebut dan terkenal sebagai pandai besi yang mulia. Namora Pande Bosi dan isterinya yang bergelar Nan Tuan Layan Bolan mendapat dua orang anak lelaki yang diberi nama Sutan Borayun dan Sutan Bugis. (Dalam tarombo marga Lubis yang disusun oleh Raja Junjungan pada tahun 1897, ada juga tercatat bahawa nama isteri Namora Pande Bosi ialah Boru Dalimunte Naparila, artinya puteri Dalimnte yang pemalu).

Pada suatu ketika Namora Pande Bosi pergi meyumpit burung ke tengah hutan dan di sana dia bertemu dengan seorang puteri orang bunian dan mengahwininya. Menurut satu cerita, wanita itu adalah orang Lubu (orang asli). Dari perkahwinannya itu, Namora Pande Bosi mendapat dua orang anak lelaki kembar yang masing-masing diberi nama Si Langkitang dan Si Baitang. Ketika kedua anak tersebut masih dalam kandungan, Namora Pande Bosi meninggalkan isterinya dan kembali ke Hatongga.

Menjelang dewasa Si Langkitang dan Si Baitang pergi mencari bapa mereka dan menemukannya di Hatongga. Lalu mereka tinggal bersama keluarga bapa mereka di tempat tersebut.

Tidak beberapa lama kemudian, terjadilah perselisihan antara anak-anak Namora Pande Bosi itu dengan anak-anaknya bersama puteri raja Sigalangan.

Maka Namora Pande Bosi menyuruh anaknya Si Langkitang dan Si Baitang meninggalkan Hatongga. Mereka disuruhnya pergi ke daerah Mandailing dan jika mereka menemukan tempat di mana terdapat dua sungai yang mengalir dari dua arah yang tepat bertentangan (dalam bahasa Mandailing dinamakan muara patontang) di situlah mereka membuka tempat pemukiman baru.

Setelah lama mengembara akhirnya Si Langkitang dan Si Baitang menemukan muara patontang, lantas mereka membuka pemukiman baru di tempat itu.

Tidak lama setelah ditinggalkan anaknya Si Langkitang dan Si Baitang, Namora Pande Bosi meninggal dunia dan dimakamkan di Hatongga. Makam tersebutlah yang akan dipugar. Isterinya Nan Tuan Layan Bolon yang meninggal kemudian dimakamkan di satu tempat yang bernama Hombang Bide, kurang lebih 2km dari Hatongga. Makamnya masih ada di situ sampai sekarang.

Semua keturunan Si Langkitang dan Si Baitang yang menyebar di seluruh tanah Mandailing dan di tempat-tempat lain dikenali sebagai orang-orang Mandailing yang bermarga Lubis.

Pada tahun 1963, makam Namora Pande Bosi ditemukan di Hatongga, dengan petunjuk dari keturunan Raja Sigalangan. Makam tokoh legendaris yang sangat terkenal itu terletak di tengah persawahan penduduk setempat.

Makam tersebut berada kurang lebih 2km jauhnya dari Jalan Raya Lintas Sumatra yang melalui desa Sigalangan, kurang lebih 14km jauhnya dari kota Padang Sidimpuan (ibu kota Kabupaten Tapanuli Selatan).

Atas usaha sejumlah orang Mandailing bermarga Lubis, kurang lebih 1.6km panjangnya jalan dari desa Sigalangan ke arah makam Namora Pande Bosi sudah dibangunkan sehingga dapat ditempuh dengan kenderaan bermotor (kereta). Tetapi jalan menuju ke makam tersebut, yang panjangnya kurang lebih 232 meter masih harus dibangun supaya dapat dilalui dengan berjalan kaki atau dengan menggunakan kenderaan.

Jika jalan yang panjangnya kurang lebih 232 meter tersebut sudah dibangun, maka para penziarah yang selalu banyak berdatangan mengunjungi Namora Pande Bosi, di antaranya dari Malaysia, akan mudah mendatangi makam yang dimuliakan itu. Menurut rencana jalan yang panjangnya 232 meter itu akan dibangun dengan lebar 3 meter.

 p lawas
Namora Pande Bosi

 

Mohammad Said, pengarang terkenal termasuk Atjeh Sepanjang Sejarah, memberi tanggapan tentang kemungkinan masa munculnya tokoh Namora Pande Bosi yang dipandang sebagai nenek moyang marga Lubis. “Dalam tahun 1887 diketahui oleh penguasa Belanda bahwa Raja Gunung Tua (Padang Lawas) menyimpan sebuah patung pusaka dari tembaga, dikenal sebagai patung batara Lokanatha. Patung itu diambil Belanda dan kini disimpan di Museum Pusat. Sarnaja Brandes yang segera meneliti patung itu, berhasil memperkenal teksnya huruf Kawi sebagai berikut:

Sarjana tersebut menterjemahkan kalimat permulaaan prasasti di atas ke bahasa Belanda sebagai berikut:

“Heil” Caka-jaren verloopen 946, in de maand Caitra op den derden dag van lichte helft dan de maand of vrijdag, toen heeft Surya, de meester smid did beeld van den). Heere Lokanatha vervaardigd…”

Terjemahan bebas ke bahasa Indonesia demikian:

“Dirgahayu Tahun Caka 946 bulan Caitra, hari ke-3 bertepatan Juma’at dewasa itulah Surya, panda besi, selesai mengukir (patung) batara Lokanatha ini…”

Diperlihatkan pada teks aslinya tentang tokoh Surya, disebut jurupandai. Pada salinan bahasa Belanda dipertegaskan dengan istilah meester smid, yang artinya tidak lain pandai besi. Ini serta merta mengingatkan kita akan nama Pande Bosi, jelasnya Namora Pande Bosi. Dari ukiran itu dapat dipahami bahwa Suraya telah berhasil membuat patung seorang dewa atau batara yang tentunya untuk dipersonifikasikan menjadi pujaan rakyat dewasa itu. Seorang ahli dan tanpa kuatir akan tertimpa ketulahan menukangi tembaga untuk jadi pujaan, bukannya seorang sembarangan atau tukang biasa saja. Ia tentunya selain ahli adalah juga seorang yang terkemuka, berderajad dan amat disegani. Sedikit banyaknya dengan nama itu biasa juga membuat kita mengarahkan pertanyaan, apakah tokoh itu bukan tokoh zaman dulu yang dikenal rakyat bernama Namora Pande Bosi. Tentunya bukan sekedar kebetulan saja ada seorang jurupandai de meester smid pembuat Lokanatha, sedangkan ada juga Pandai Bosi yang dikenal oleh rakyat dari abad ke abad.

Dari sumber lain dapat ditambahkan, bahwa sebelum Namora Pande Bosi yang bermukim di Hutalobu Hatongga Sigalangan masih ada lagi yang bernama Namora Pande Bosi, yaitu kakek (datuk) dari kakek Namora Pande Bosi yang di Hutalobu tersebut di atas. Namora Pande Bosi I tersebut bermukim di Padang Bolak Ruar Tonga (Sahit ni Huta).

Menoleh latar belakang ini 3 kemungkinan dapat diperkirakan mengenai kapan Namora Pande Bosi itu. Yakni:

1) Zaman Surya tahun 946 atau sekitar tahun 1024 M, karena Surya adalah seorang juru pandai besi
2) Zaman eskpansi Majapahit tahun Caka 1287 (1365 M) karena Gajah Mada mengetahui suatu kerajaan Mandailing yang tentunya dipimpin oleh seorang terkemuka, diperkirakan Namora Pande Bosi
3) Zaman yang lebih muda yaitu hanya sekitar abad ke 16 M. Menurut tambo (stamboom) yang diperbuat atau disimpan oleh Soetan Koemala Boelan.

Mengenai zaman Surya, kemungkinanya dapat diperhatikan dari patung Lokanatha tersebut di mana disebut ada seorang pandai besi bernama Snya. Bahwa nama itu tidak pernah dikenal (baca: tidak pernah disebut-sebut) oleh penduduk, tidaklah merupakan persoalan, sebab adalah biasa bahwa penduduk tidak pernah menyebut nama pribadi tokoh yang dihormati, sehingga apa yang diketahui adalah gelar yang diambil dari keistimewaannya, yaitu Namora Pande Besi. Bahwa jarak zaman itu cukup jauh dengan apa yang sebegitu jauh diketahui oleh penduduk nama keturunan terdekat sesudah Namora Pande Bosi, si Langkitang dan si Baiting (pura kembar Namora Pande Bosi) bukan sesuatu yang mustahil. Karena bukan jarang, sesuatu cerita dari mulut ke mulut bisa saja melangkahi beberapa generasi sebelum sampai kepada si Langkitang dan si Baitang. Atau sesudah si Langkitang dan si Baitang ada lagi beberapa generasi di antaranya sebelum sampai kepada si Alogo Raja Partomuan (yang disebut sebagai anak si Baitang).

Mengenai masa ke-2 (zaman Majapahit), kemungkinannya dapat dilihat dari masa ekspansi kerajaan tersebut ke Mandailing, yaitu sekitar tahun 1365. Bukan mustahil bahwa di bawah Namora Pande Bosilah kerajaan Majapahit terdengar kepada Mangkubumi Gajah Mada, yang membuat ia merencanakan nama Mandailing turun dalam sumpah Palapanya.

Mengenai masa ke-3, bila diambil dari nama tokoh-tokoh yang diketahui menjadi keturunan dinasti Pande Bosi dari sekedar mendapat 12 generasi, sebagai yang dapat diteliti dari silsilah atau keturunan Namora Pande Bosi itu ke sebelah cabang yang menurun kepada Soetan Koemala Boelan, * kalau ini hendak dijadikan pegangan jaraknya dari zaman Namora Pande Bosi sampai Soetan Koemala Boelan hanya sekitar 300 tahun saja.

Mana yang lebih tempat dari 3 masa tersebut, tentu meminta waktu untuk memperoleh penegasannya. Saya sekedar memperlihatkan arah studi. Andai kata Namora Pande Bosi memerintah Tapanuli Selatan termasuk Padang Lawas, mungkin ia pernah beribu kota di Gunung Tua tempat patung Lokanatha disimpan sebagai barang pusaka oleh raja Gunung Tua yang disebut oleh kontroler Belanda ditemunya pada tahun 1885 itu”.

Kutipan panjang di atas jelas menunjukkan betapa sukarnya mencari kepastian mengenai sejarah dan perkembangan masyarakat Mandailing di masa lalu.

* Soetan Koemala Boelan lahir 8 Maret/Mac 1888, meninggal 21 Juni/Jun 1932. Beliau menjadi Raja Panusunan Bulung di Tamiang, Mandailing Julu dari tahun 1915 sampai tahun 1932. Beliau adalah seorang raja marga Lubis keturunan Namora Pande Bosi

 

Sumber: Mohammad Said

TERJADINYA PULAU MALAU

p

Pulau Malau atau Pulau Tao

 Nantinjo adalah putri bungsu dari Guru Tatea Bulan/Sibaso Bolon dari sepuluh bersaudara, anak yang

• pertama adalah Raja Uti,
• ke dua Saribu Raja,
• ke tiga Limbong Mulana,
• ke empat Sagala Raja,
• ke lima Lau Raja

sedangkan perempuan yang

• pertama adalah Biding Laut,
• ke dua Boru Pareme,
• ke tiga Anting Haumasan,
• ke empat Sinta Haumasan dan
• ke lima Nantinjo.

Semasa hidupnya, Nantinjo mengalami penderitaan yang cukup berat, sebab ketika lahir kedunia ini saja dia tidak sempuma, dikatakan wanita bukan, pria juga bukan. Pada saat umurnya sepuluh tahun kedua orang tua Nantinjo telah di panggil Yang Kuasa. Semenjak ditinggal kedua orang tuanya semakin beratlah penderitaan yang dialaminya. Nantinjo tinggal bersama abangnya Limbong Mulana, karena yang tinggal dikampung pada saat itu hanyalah ketiga abangnya Limbong Mulana, Sagala Raja serta Lau Raja, sedangkan abangnya Raja Gumeleng-Geleng telah pergi dibawa oleh Yang Kuasa kepuncak Gunung Pusuk Buhit.
Abangnya yang nomor dua Saribu Raja telah pergi juga merantau entah kemana rimbanya, dikarenakan adanya skandal cinta dengan adiknya sendiri Boru Pareme.

Kemelut keluarga yang begitu hebat telah melanda keluarga Nantinjo sehingga abangnya yang nomor tigalah yang harus bertanggung jawab atas diri Natinjo sepeninggal kedua orang tuanya.

Walaupun Nantinjo tinggal dirumah abangnya sendiri, penderitaan yang dialaminya sangat berat karena begitu besar tanggungjawab yang dibebankan abangnya terhadap dirinya mulai dari mengurus rumah, mengasuh anak-anak, serta mencari bahan makanan ke hutan.

Dan yang membuat hati Nantinjo sangat menderita apabila Nantinjo salah sedikit saja pastilah dia mendapat hukuman dari abangnya. Siksaan demi siksaan diterima Natinjo hari lepas hari dari abangnya tersebut.

Meskipun begitu berat penderitaannya Nantinjo pasrah, sebab tumpuan harapan pengaduannya telah pergi merantau entah kemana. Nantinjo mempunyai keahlian bertenun, maklumlah pada saat itu dia harus bertenun jika ingin mempunyai pakaian. Setiap bertenun, Nantinjo selalu melantunkan syair lagu penderitaannya dengan berlinang air mata sambil memohon kepada yang Kuasa agar ditunjukkan jalan padanya untuk dapat keluar dari deritanya.

Melihat dan mendengar penderitaan serta jeritan hati Nantinjo, Yang Kuasa akhirnya menunjukkan jalan keluar kepada Nantinjo.

Pada suatu saat datanglah abangnya Lau Raja bertamu kerumah Limbong Mulana, melihat adiknya sedang menangis hatinya sedih, sebagai abangnya Lau Raja penasaran dan bertanya kepada sang adik, mengapa engkau menangis Nantinjo? namun pertanyaan abangnya itu bukan membuat Nantinjo diam malah membuat tangisan Nationjo semakin keras. Lau Raja pun mendekati adiknya, dipeluk dan dihibur adiknya dengan penuh kasih sayang sambil bertanya ada apa gerangan yang membuat hati adiknya begitu pilu dan sedih?

Sadar bahwa abangnya begitu sayang kepadanya, Nantinjo akhirnya menceritakan segala penderitaannya dan menunjukkan luka dipunggungnya akibat siksaan yang kerap dilakukan abangnya Limbong Mulana kepadanya.

Tanpa sadar Lau Raja memanggil nama ibunya “Sibaso Bolon” sambil berujar “teganya kamu Ibu, membiarkan putri bungsumu mengalami penderitaan yang begitu berat dan tidak berkesudahan”.

Sambil membelai adiknya, Lau Raja mengajak Natinjo pergi dari rumah Limbong Mulana dan ia berjanji akan menyayangi Natinjo.

Mendengar ucapan dan janji abangnya, Nantinjo langsung mengikuti ajakan Lau Raja. Akhirnya Lau Raja membawa Nantinjo ke Simanindo Pulau Samosir tempatnya tinggal.

Semenjak tinggal dengan Lau Raja. Nantinjo merasa senang, tenang dan bahagia. Nantinjo diberi kebebasan untuk melakukan kesenangannya bertenun walaupun abangnya miskin . Hari lepas hari berganti, tak terasa Nantinjo sudah mulai berkembang menjadi gadis remaja yang anggun, cantik dan bersahaja. Kecantikan wajah dan sikap Nantinjo yang tidak pernah membedakan teman-temannya semakin menambah harum namanya terlebih dikalangan pemuda. Nantinjo menjadi gadis pujaan semua lelaki baik dikampungnya maupun dari kampung seberang danau toba.

Seorang pemuda dari perkampungan (Huta) Silalahi sangat tertarik kepada Nantinjo dan ingin menjadikannya sebagai pendampingnya seumur hidup. Tanpa mengadakan pendekatan kepada Nantinjo, pemuda tersebut langsung meminta kedua orang tuanya untuk segera meminang Nantinjo. mendengar permintaan sang anak, orang tua pemuda tersebut sangat senang dan bangga ternyata putra mereka bemiat meminang bunga desa dari Simanindo.

simanindo

Simanindo

Tanpa membuang banyak waktu, pihak keluarga tersebut akhirnya berangkat beserta rombongan ke rumah Lau Raja. Dengan maksud untuk meminang Nantinjo yang akan dijadikan istri dari putranya. Setelah mendengar dan mendapat pinangan tersebut, Lau Raja mengundang kedua abangnya Limbong Mulana dan Sagala Raja untuk mengadakan rapat keluarga, untuk menentukan apakah pinangan tersebut diterima atau tidak. Ternyata, kedua abangnya mempunyai pendapat yang sama yaitu menerima pinangan tersebut. Namun Lau Raja berpendapat bahwa Nantinjo yang harus menentukan keputusan itu, diterima atau tidaknya lamaran tersebut. Kemudian mereka memanggil Nantinjo untuk hadir dalam rapat keluarga tersebut, dan mempertanyakan kepada Natinjo apakah ia bersedia menerima pinangan pihak laki-Iaki dari seberang danau toba itu? Sadar akan keberadaan dirinya yang laki-laki bukan perempuan juga bukan dengan spontan Nantinjo menjawab bahwa dirinya belum siap untuk berumah tangga. Dengan alas an Natinjo ingin menyelesaikan tenunannya terlebih dahulu agar dia bisa memakainya suatu saat nanti jika ia telah siap untuk berumah tangga.

Namun abangnya Limbong Mulana tidak memperdulikan jawaban Nantinjo dan tidak memberikan kesempatan kepada Nantinjo untuk menolak. Katanya “kamu harus menerima pinangan tersebut”. Mendengar paksaan dari abangnya itu tanpa sadar air mata Nantinjo menetes dipipi, dia berpikir tidak akan bisa melawan keinginan abangnya Limbong Mulana.

Nantinjo melayangkan pandangan kepada abangnya Lau Raja dengan harapan dapat membela dirinya, namun Lau Raja pun tidak dapat membela adik yang sangat disayanginya itu karena dia sendiripun takut akan amarah abangnya Limbong Mulana.

Melihat situasi seperti itu Nantinjo hanya dapat menangis dan menjerit meratapi nasibnya dalam hati. Hanya Nantinjo sendiri yang tahu siapa dirinya yang sebenarnya. Ketiga abangnya tidak mengetahui bahwa Nantinjo tidak sempurna dilahirkan kedunia ini sebagai seorang wanita. Nantinjo menolak karena dia menyadari bahwa dia tidak akan dapat membahagiakan calon suaminya dikemudian hari.

Nantinjo berusaha berpikir keras, alasan apalagikah yang tepat untuk dapat menolak lamaran tersebut. Nantinjo terus berfikir, berusaha mencari alasan untuk menolak lamaran tersebut. Akhirnya dia mendapat ide dan mengatakan kepada abangnya: “saya bersedia menerima pinangan dengan syarat pihak laki-laki itu harus dapat menyediakan emas satu perahu penuh serta uang ringgit satu perahu penuh” Mendengar persyaratan yang diberikan Nantinjo ternyata orang tua calon suaminya siap memenuhi permintaannya itu, bahkan calon mertuanya mengatakan lebih dari permintaanmu kami dapat kami penuhi.

Setelah kedua belah pihak sepakat, pihak lelaki kembali ke kampungnya diseberang Pulau Samosir. Keesokan harinya, pihak laki-laki itupun datang kembali beserta rombongan dengan membawa persyaratan yang diminta Nantinjo, yaitu emas satu perahu dan ringgit satu perahu. Melihat emas satu perahu dan ringgit satu perahu keserakahan Limbong Mulana timbul, sikapnya langsung berubah lembut kepada Nantinjo. Dengan lembut Limbong Mulana mengatakan kepada adiknya
“sekarang kamu tidak memiliki alasan lagi untuk menolak pinangan calon suamimu itu adikku, sebab calon mertuamu sudah memenuhi permintaanmu disaksikan ketiga abang¬abangmu serta khalayak ramai. Begitu tulusnya calon mertuamu menjadikan kamu sebagai menantu, dan sebagai abangmu yang tertua diantara kami, aku memutuskan bahwa kamu harus berangkat saat ini juga ikut dengan suamimu, Doa Restu dari kami abang-abangmu menyertai keberangkatanmu. Kami mendoakan kiranya Tuhan memberikan kebahagian lahir maupun batin kepada kamu”

kata Limbong Maulana panjang lebar. Dengan hati yang hancur Nantinjo menatap abangnya satu persatu sambil berkata kepada abangnya Lau Raja :
“Jikalau memang saya harus berangkat untuk berumah tangga dengan calon suami saya yang bukan pilihan hati saya, tetapi dikarenakan godaan emas dan ringgit satu perahu, ternyata kalian tega memaksa saya untuk berumah tangga, bagiku tidak ada pilihan kecuali menerima namun permintaanku pada abang” :
” Kumpulkanlah semua apa yang menjadi milikku termasuk alat yang selalu kupakai untuk bertenun. Bambu turak ini tempat benang tenunku tolong tanamkan di ujung desa ini, suatu saat nanti semua keturunan Bapak dan Ibuku akan melihat dan mengingat saya yang penuh dengan penderitaan.”

Lau Raja memenuhi permintaan adiknya dan berjanji akan melaksanakannya. Nantinjopun akhirnya menaiki perahu kesayangannya dan berangkat meninggalkan kampung itu mengikuti rombongan calon suaminya. Sambil mendayung perahu hati Nantinjo terus gusar. Dia tidak dapat membayangkan apa yang bakal terjadi setelah sampai dikampung calon suaminya nanti. Kegundahan dan kekalutan pikiran Nantinjo tidak menemukan jawaban, kemudian Nantinjo memohon dan berseru kepada ibunya Sibaso Bolon,

“Bu, mengapa ini harus terjadi, seandainya dahulu ibu cerita kepada semua abangnya tentang keadaan Natinjo yang sebenarnya, mungkin ini tidak akan terjadi. lbulah yang bersalah serlo Limbong Mulana yang tergoda dengan emas dan ringgit satu perahu”.
Dengan hati yang sangat pilu Nantinjo bertanya kepada Ibunya, “masihkah lbu sayang pada putrimu ini? kalau lbu benar-benar masih sayang dengarkanlah jeritan hati putrimu ini yang pal¬ing dalam. lbu! saya tidak mau berumah tangga sebab itu hanya akan membuat aib dikeluarga, Putrimu ini rela berkorban demi nama baik keturunan Bapak dan lbu di kemudian hari. Saya tahu ibu dapat berkomunikasi langsung dengan Yang Kuasa, Pintalah kepada Yang Kuasa agar saya lepas dari penderitaan ini dan persatukanlah saya dengan ibu”.

Mendengar jeritan sang putri yang sangat memilukan hati, ibunya pun meminta kepada Yang Kuasa. Maka seketika itu juga turunlah hujan yang sangat lebat, angin dan badaipun datang menerjang perahu Nantinjo. Gemuruh ombak disertai halilintar turut menangis melihat penderitaan Nantinjo.

Akhirnya perahu Nantinjopun tenggelam ditelan ombak danau toba. Nantinjo menemui ajalnya seketika itu juga. Ketiga abangnya yang menyaksikan hal itu merasa bersalah serta takut. Bahkan setelah Limbong Mulana memeriksa emas dan ringgit satu perahu yang diberikan calon suami adiknya ternyata hanya diatasnya saja emas dan ringgit dibawahnya hanya gundukan pasir dan tanah. Penyesalan yang timbul selalu datang terlambat, apa mau dikata Nantinjo sudah tenggelam kedasar danau toba.

Keesokan harinya disaat orang masih tertidur pulas Lau Raja pergi kepantai tempat perahu Nantinjo diberangkatkan dengan harapan dapat menemukan adiknya hidup maupun mati. Ditelusurinya sepanjang pantai namun tidak ditemukan jasad adiknya. Sambil menangis tersedu-sedu Lau Raja meminta dalam hatinya kepada Yang Kuasa agar jasad adik yang disayanginya dapat ditemukan. Sayup-sayup Lau Raja mendengar bisikan:
“Adikmu Nantinjo sudah saya bawa ketempat yang aman, sekarang dia bersama ibumu. Anakku hapuslah air matamu, dan lihatlah ketempat dimana perahu adikmu tenggelam, disitu kau akan melihat satu keajaiban dunia, perahu adikmu akan muncul kembali berupa pulau. “

Inilah sebagai pertanda bagi keturunanku di kemudian hari betapa tulus dan mulia pengorbanan adikmu, tidak pernah mau membuat saudaranya malu dan terhina dihadapan orang “.

Tiba-tiba Lau Raja tersadar dan melihat dimana perahu adiknya tenggelam, dengan rasa kaget dia melihat apa yang dibisikkan oleh ibunya. Timbulnya pulau itu membuat Lau raja merasa adiknya Nantinjo serasa hidup kembali, dan dia berjanji pada diri sendiri bahwa ia beserta seluruh keturunannya harus menjaga dan merawat serta menyayangi pulau itu, sebagaimana dia menyayangi adiknya. Lau Raja memberi nama pulau itu “Pulau Malau”.

  TUAN SUMERHAM DENGAN BUAH RAMBE (1)

Rambe : antara Buah dan Marga (Paling Indonesia)

Toga Sumba, mempunyai  dua orang anak yaitu:

Toga Simamora dan Toga Sihombing.

Toga Simamora memperistri putrid dari keluarga Saribu Raja, sedangkan Toga Sihombing memperistri putrid dari Siraja Lotung,

Toga Simamora, mempunyai anak dari hasil perkawinannya dengan putri dari keluarga Saribu Raja*, bernama Tuan Sumerham, dan seorang putri yang buta.

Istri pertama Toga Simamora adalah Boru Pasaribu, pomparan dari Saribu Raja. Sedangkan Toga Sihombing mempunyai istri boru Lottung ( Lottung, delapan bersaudara, tujuh marga, satu perempuan) Dari boru Lottung lahir empat orang anak. yaitu : (Toga Sihombing vs Br.Lotung)

  1. Silaban,
  2. Nababan,
  3. Hutasoit,

(setelah ini keturunan keduanya menjadi marga untuk keturunan selanjutnya. Sebelumnya adalah nama) 
Kemudian Toga Simamora, Mangabia/ manhappi  mengawini istri dari Toga Sihombing, (apakah karena meninggal di kedua belah pihak, tidak jelas dalam sejarahnya), dan lahir tiga orang anak yaitu: Toga Simamora vs br.Lotung)

  1. Purba,
  2. Manalu,

 

Maka ke-tujuh marga ini merupakan satu ibu, lain bapak. Kita tinggalkan sejarah tersebut kita focus kepada sejarah selanjutnya tentang Tuan Sumerham. Keturunan Toga Simamora dan Toga Sihombing, bermukim di Tano Tipang Bakkara.

Tuan Sumerham bersama tiga orang Saudara tirinya, tinggal serumah dan keturunan Toga Sihombing berada serumah di tempat lain.

Tuan Sumerham memperistri putri dari keluarga marga Siregar juga cucu dari Lottung.

Kemudian sejarahnya, semuanya sudah berkeluarga.
Purba, Manalu, Debataraja masing-masing segera dikaruniai anak. Sedangkan Tuan Sumerham dengan istrinya Tiopipian br. Siregar belum juga mempunyai anak. Hal inilah salah satu yang menganjal hubungan antara keluarga Tuan Sumerham dengan ketiga Saudara tirinya. Berbagai ejekan dan hinaan hampir setiap hari diterima oleh boru Siregar tetapi dia masa bodoh dan  tidak menjadi “dihailahon tondi na” Hal ini juga disadari Tuan Sumerham. Pada suatu saat isteri Tuan Sumerham boru Siregar memohon kepada Tuan Sumerham, agar mereka pergi jauh dari ketiga Saudaranya, karena boru Siregar sudah tidak tahan lagi atas ejekan dan hinaan para istri ketiga Saudara tirinya. Akhirnya pada suatu malam, saat Saudara tirinya tertidur, mereka meninggalkan Tano Tipang Bakkara dengan terlebih dahulu mengamankan pusaka Toga Simamora yaitu,

  1. Pedang sitastas nambur yang diikat oleh emas, Tetapi Sarung dari Pedangdisembunyikan di Bonggar-bonggar.
    2. Tombak, tangkainya (stik) di kubur di salah satu tiang rumah.
    3. Pustaha (buku lak-lak).
    4. Gong (ogung sarabanan) di kubur di pokok nangka silambuyak (pinasasilambuyak).

Setelah Tuan Sumerham mengamankan ke-empat barang pusaka tersebut, maka merekapun pergi menuju suatu tempat yang belum mereka ketahui. Sebagai acuan mereka tinggal di mana?, Tuan Sumerham mempersiapkan sekepal tanah dari Tano Tipang Bakkar, yang akan di bandingkan dengan tanah pilihan mereka dimana kelak akan berdiam/tinggal. Rupanya Tuan Sumerham, masih mempunyai keyakinan, kelak akan kembali dan mempunyai keturunan. Hal ini ditandai oleh, :”setiap belokan Tuan Sumerham menjepitkan lidi pohon aren (pakko) dengan ujung lidi tersebut mengarah ke arah dari mana mereka datang”
(ceritra tambahan, sesampainya mereka di bukit, untuk beristirahat, karena bukit tersebut tidak cocok dengan tanah yang mereka bawa lalu bergegas untuk melanjutkan perjalanan, ternyata, sanggul /konde br.siregar   tertinggal di sana, maka disebut Dolok Sanggul. Setelah menuruni bukit tadi, mereka beristirahat sambil mencocokan tanah yang mereka bawa. Ternyat tidak cocok juga maka mereka kembali bergegas melanjutkan perjalanan. Rupanya tongkat br. Siregar yang terbuat dari bambu, ketinggalan ditempat mereka istirahat. Maka tempat itu dinamakan Sibuluan)

Tibalah mereka (Tuan Sumerham dan Tiopipian br Siregar) di suatu tempat pebukitan, yang kita kenal sekarang bernama “LOBU TONDANG” Pebukitan tersebut sangat cocok dan pas dengan tanah yang mereka bawa dari Tipang Bakkara. Mereka pun tinggal di sana. Dipelataran Lobu Tondang, terdapat sebuah pohon, yang disebut pohon rambe, yang setiap saat berbuah banyak. Tidak mengenal musim, kembang dan buah matang silih berganti setiap saat. Itu sebabnya buah matang tidak pernah kosong dan lumayan banyak. Rasanya manis asam dan lebih dominant rasa manisnya kalau sudah matang sempurna. Buah inilah yang menjadi makanan mereka setiap hari, ditambah dengan hasil berburu, sebelum hasil tani mereka panen. Sedikit ke lereng pebukitan tersebut, terdapat mata air yang keluar dari Batu sangat segar dan jernih, menjadi sumber air bersih dan cuci mandi bagi Tuan Sumerham dan boru Siregar.
Dalam keadaan tanah tercangkul di di areal mereka tinggal, Tiopipian br Siregar bingung, mau menanam apa? Sementara sebiji benihpun tidak mereka bawa. Tanpa diketahui dari mana asalnya, tumbuh sebatang padi di lading yang merka cangkul, lalu mereka rawat dan dibuat menjadi benih, itulah asal mula mereka bertanam padi. Padinya disebut disebut padi sisior berasnya merah, dan sering dikatakan orang di kampung Pakkat, padi si Rambe. Padi tersebut punah akibat bibit padi unggul dari pemerintah.
Ternyata buah rambe ini mungkin mempunyai khasiat, menyuburkan keduanya Tuan Sumerham dan boru Siregar. Maka pada suatu saat  Tiopipian br Siregar mengandung anak pertamanya. dan seterusnya hingga mempunyai tiga orang putra dan satu orang putrid bernama Surta Mulia br. Rambe.

 

  • Anak Pertama diberi namaRambe Toga Purba,
  • Anak Kedua diberi nama Rambe Raja Nalu,
  • yang terakhir Rambe Anak Raja

 

dan Rambe menjadi icon ketiga anaknya dengan keyakinan, karena Buah Rambe itulah Tuan Sumerham dan boru Siregar dapat berketurunan yang selanjutnya menjadi marga keturunan Tuan Sumerham. 
Ada beberapa orang parumaen Rambe yang lama tidak mempunyai keturunan, dengan hati yang tulus dan tekat yang murn, pergi ke Lobu Tondang untuk memakan buah Rambe, ternyata menjadi punya anak. Ketulusan dan kemurnian tekad serta tidak ada rasa ego dan serakah, akan membuahkan hasil.

Pertemuan Tuan Sumerham dengan Raja Tuktung Pardosi 
Tempat yang dipilih Tuan Sumerham dan Br Siregar menjadi tano tombangan mereka, ternyata masuk wilayah kekuasaan Raja Tuktung Pardosi. Tanpa sepengetahuan Raja mereka tinggal di sana. Raja pardosi sendiri mengawasi kerajaannya melalui benda-benda yang hanyut pada sungai yang mengalir di wilayahnya. Dia tidak perlu menyisir wilayah untuk mengetahui keadaan di pedalaman. Satu ketika, Raja mengamati wilayahnya dengan emlihat yang hayut di Sungai Sirahar. Alangkah kagetnya Raja setelah melihat, ada potongan kayu dan jerami yang hanyut di sungai tersebut. Dengan melihat yang hanyut itu, Raja berkesimpilan, ada penduduk gelap yang berdsiam di wilayah kekuasaanya tanpa ada laporan. Segera raja dan pengawalnya mencari penduduk gelap tersebut untuk dimintai keterangan dan memberi sanksi. Bertemulah Raja Pardosi dengan Tuan Sumerham. Setelah pertanyaan serta berbagai penjelasan Tuan Sumerham dan keluarga di jatuhi sanksi “harus memberikan upeti setiap mendapatkan hasil dari pekerjaan”. Hasil buruan, harus diberi kepala buruan kepada raja. Hasil pertanian setiap pertama panen setiap musing lebih dahulu diberikan ke Raja baru bisa di makan oleh keluarga Tuan Sumerham.
Satu hal yang menguntungkan keluarga Tuan Sumerham, Raja tidak memberi kategori tawanan kepada keluarga Tuan Sumerham.  Dengan demikian Tuan Sumerham dapat berusaha melepaskan diri dari segala sanksi.
Lepas dari Upeti
Untuk melepaskan diri dari Upeti, (apakah karena tuntutan anaknya atau untuk masa depan keluarganya, tentu Tuan Sumerham yang tau. Dia membuat pekerjaan yang jitu. Sebagaimana biasa dipagi hari Tuan Sumerham pergi melihat jebakan rusa (sambil/jorat). Dia melihat joratnya menjebak Rusa yang sangat besar dan berbulu panjang, lalu Tuan Sumerham meberi bulang-bulang rusa di kepala dengan warna Putih, Hitam dan Merah dia atur sedemikian seolah bukan buatan manusia. Dan bekas jejaknya dia rapikan kembali, sehingga kelihatannya belum ada yang melihat rusa tersebut dari dekat. Tempat itu sampai sekarang disebut Panambilan (asal kata sambil atau jorat)
Tuan Sumerham dengan segera menemui Raja Tuktung Padosi dan menceritrakan Rusa tersebut, kira-kira beginilah dialognya:
“Yang Mulia Raja yang dihormati, mengingat perjanjian kita saya tidak mau inkar, tetapi saya takut. Saya tidak tau apagerangan yang akan terjadi kelak dengan tanda rusa yang saya dapatkan. Saya tidak berani membunuh sebelum saya tanyakan kepada Sang Raja. Itu sebabnya saya dating”
“Ada apa rupanya Tuan Sumerham?”
“Raja yang saya hormati, jebakan saya mendapatkan seekor rusa yang besar, tetapi saya takut mendekatinya, silakan kita lihat yang mulia”

Berangkat lah Raja dengan panduan Tuan Sumerham ke tempat Jebakan tersebut. Dari kejauhan Tuan Sumerham sudah menunjuk kepada rusa yang bermahkota kain putih, hitam, dan merah. Ternyata benar yang disiasatkan Tuan Sumerham. Sang Raja kaget melihat rusa yang bermahkota tersebut sangat menyeramkan dan berkata;

 “di ho ma na di ho!?. Mulai saonari, unang be lean ugut ni na ni ulam. Aha pe boa-boa ni ursa I sahat di ho ma I, ndang sahat tu au dohot harajaonhu I” (artinya, kaulah yang betanggung jawab atas alamat apa yang akan terjadi oleh rusa tersebut. Jangan lah beralamat ke saya dan kerajaan saya. Mulai sekarang tidak usah kau laksanakan sanksi sesuai perjanjian kita.)
Sejak saat itu Tuan Sumerham dan keluarga lepas dari segala upeti kepada Raja. Mereka bebas melakukan apa saja tanpa dibebani oleh peraturan Raja.
Raja Tuktung Pardosi, mempunyai tiga orang Putri,

  1. yang tertua mernama Nanja br Pardosi,
  2. kedua Kirri br Pardosi,
  3. ketiga Rubi br Pardosi.

 

Sementara Rambe Purba, Rambe Raja Nalu, dan Rambe anak Raja sudah berajnjak dewas, demikian juga ketiga boru Pardosi. Oleh Kuasa maha Pencipta, mereka dipertemukan menjadi Pemuda dan Pemudi yang saling mengikat Janji. Untuk merealisasikan janji mereka, maka Raja Tuktung memberi syarat. Tuan Sumerham dan keluarga harus ramai menghadiri pernikahan tersebut. Suatu hal yang sulit bagi Tuan Sumerham, megingat kepindahanya ke Lobu Tondang karena perlakuan Saudara tirinya yang menyakitkan. Tetapi karena sudah merupakan syarat dari Raja, maka Tuan Sumerham memberangkatkan ketiga anaknya untuk mengundang Saudara Tirinya dari Tano Tipang Bakkara.
Sebelum berangkat, Tuan Sumerham memberi nasehat, pesan dan petunjuk yang harus mereka lakukan.

 

  1. Mereka harus selalu mengarah kepada ujung lidi (tarugi) pohon aren yang di jepitkan pada kayudi setiap belokan.
  2. Sesampainya mereka di sana, mereka akan di tangkap dan dipasung, kemudian pada pagi hari akan disembelih/dibunuh. (demikian lah ceritanya, dahulu, kalau ada orang yang tidak dikenal masuk kampung, ditangkap dan lalu dibunuh)
  3. Pada saat di pasung, mereka harus melantunkan lagu berulang-ulang sambil menangis. Bahasa lagunya

“mago do hape horbo namulak tu barana”,
“mago do hape takke namulak tu sokkirna”,
“mago do hape jolma namulak tu hutana”
artinya suatu hal yang tidak mungkin terjadi, apabila mata kampak kembali ke tangkainya menjadi hilang, kerbau menjadi hilang kalau kemali kek kandang, juga manusia menjadi hilan pabila kembali ke kampong. Tetapi itu akan terjadi pada mereka bertiga kalau tidak menayakan mereka anak siap.

 

  1. Mereka punya Namboru yang buta bernama Si Buro Aek So Hadungdungan
  2. Tanda tanda, yang dapat mereka berikan yaitu, Ogung sarabanan dikubur di pohon nangka silambuyak dekat rumah, Tangkai tombak dikubur di kayu Pilar pertenghan Rumah Bolon, Sarung dari pedang, disimpan diplafon rumah bolon.

Tuan Sumerham memberangkatkan anaknya yang tiga dalam kekawatiran, maka berkali-kali dipesankan agar mereka mengikuti petunjuk dan pesan serta menjawab pertanyaan sesuai substansinya dan tidak perlu menjawab apabila tidak ditanya.
Berangkatlah mereka bertiga dengan mengikuti lidi tarugi yang sudah ditunjukkan Tuan Sumerham sebagai awal melangkah. Apabila mereka sudah menemukan lidi selanjutnya mengikuti arah ujung lidi itu, sampai menemukan lagi lidi berikutnya dan mengarah kea rah ujung lidi tersebut. Demikian mereka menelusuri hingga sampai ke tempat tujuan.
Tibalah mereka di Tano Tipang Bakkara. Apa yang diisyaratkan Tuan Sumerham terjadilah kepada mereka ditangkap dan dipasung ditempatkan bawah Rumah. (Dahulu rumah batak bertiang tinggi dan dibawah sebagai kandang ternak seperti sapid an kerbau) Pada malam hari mulailah mereka melantunkan syair yang diajari Tuan Sumerham dengan penuh ketakutan dan menagis, terus menerus (diandunghon), Pada tengah malam, Namborunya mendengar andung mereka semakin di cermati semakin berdiri bulu kuduknya lalu ia menemui Saudara tirinya yang sedang Rapat acara pembunuhan ketiga orang itu di pagi hari. Lalu Namborunya angkat bicara.

 

Hamu akka hula-hulaku, atik boha tu julu uluni na mate maup. Adong dongan tubu mu/Abang mu na mago. Atik boha dung dipangarantoan mamoppar. Asing hubege adung nasida. Dao-daoma jea sukkun hamu jolo nasida,”

 

Mendengar itu, mereka pun stop rapat dan memperhatikan dan mencermati lantunan adung mereka bertiga. Merka pun turn dan bertanya;
“Siapa kalian sebenarnya?”
“Bagaimana kami menjawab? Sedangkan kami dalam keadaan terpasung?”

 

Maka mereka di lepaskan dan diajak naik ke rumah lalu ditanyalah seperti layaknya Tamu terhormat.
“kami adalah anak dari Tuan Sumerham”
“Apa bukti kalau kalian anaknya”
“Ogung Sarabanan di kubur dekat pohon nangka silambuyak”

Lalu mereka menggali pada malam itu juga. dan mereka menemukannya.
“Apalagi tanda yang dapat kamu berikan?”
“Tangkai tombak di kubur di tiang tengah/pilar tengah rumah bolon”

 

Merka juga langsung menggali, dan menemukannya.
“Apalagi?”
“Sarung pedang ada di plapon/bonggar-bonggar rumah bolon”
Mereka cari juga ketemu. Dan apa lagi,

“kalau pustaha dibawa ke perantauan, dan ada sama bapak sekarang”

 

Dengan senang hati namborunya mendengar semua peristiwa itu, dalam hatinya dia berdoa, terimakasih mula jadi nabolo hidup dan berketurunan rupanya hula-hula saya itu. Terima kasih mula jadi nabolon, begitulah dalah hatinya. Lalu mereka ditanya kembali.
“Ya… kami sudah percaya, lalu apa maksud kedatangan kalian?
“Kami bertiga mau menikahi tiga orang putrid Raja Tuktung di panombagan nami, tetapi raja bersyarat, kita sekeluargan harus ramai. Maka kami datang untuk mengundang”
“ooOOooo, ,,kami akan datang, “marhoda-hoda bakkuang, marbonceng-bonceng ihurna””

 

bersambung………2

SiBagot ni Pohan, Isteri dan anak-anaknya

Si Bagotni Pohan adalah anak tertua  dari Tuan Sorba Di Banua yang berdomisili di Lobu Parserahan di Lumban Gorat Balige Ibunya adalah  Nai Anting malela boru Pasaribu.

Mereka ada lima orang satu ibu yaitu: Sibagot ni Pohan, Sipaet Tua anak kedua, Silahhi Sabungan anak ketiga, Si Raja Oloan anak keempat dan anak kelima adalah Siraja Hutalima

Sedangkan anak Tuan Soba Dibanua dari isteringa boru Sibasopaet ada tiga orang Yaitu: Toga Sumba, Toga Sobu dan Nai pospos anak bungsunya.

Dari kecil Si Bagot Ni Pohan berparangai baik dan sopan dan dia selalu mengerjakan pekerjaan yang yang membuat orang tuanya senang, melihat perangai yang baik dari Si bagot ni pohan tersebu membuat orang tuanya terutama Ayahnya sangat menyayangi Si Bagot Ni Pohan, disamping itu diapun sangat rendah hati, dan sangat rajin belajar dan menanyai orang orang tua mengenai hukum hukum adat (Paradaton), serta pengetahuan lainnya, inilah yang membuat SiBagot Ni Pohan bertambah ilmu pengetahuannya baik tentang paradaton maupun tentang kehidupan. Oleh karenanya dia menjadi tempat bertanya hal-hal yang tidak dapat dijawab adik adiknya dan orang lain.

Si Bagot Ni Pohan terkenal dengan kegantengan dan  berbadan tinggi, besar serta ahli memanah dan mangultop, sekali kali dia pergi berburu ke hutan untuk mencari hiburan.

Suatu hari siBagot Ni Pohan pergi berburu burung  (mangultop),kehutan  diperjalanan dia ketemu dengan seorang gadis yang sangat cantik  lalu dia menanyai gadis itu  boru apa  Sibagot ni Pohanpun sangat gembira mengetahui  si gadis bermarga sama dengan marga ibundanya yaitu boru Pasaribu,Didalam hatinya terbesitlah untuk mempersunting sang gadis, niat tersebut disampaikannya pada si gadis. Tetapi gadis boru Pasaribu tidak menjawab begitu saja dan sigadis cukup pintar menjawab nya.

“ Menurut orang tua yang bijak dan orang tua saya tidak lah pantas menanyai  anak perempuan yang ingin dilamar dan  diperisterinya di tengah jalan, kalau lah kau merasa anak raja sepantasnya kau datang kekampung dan menemui orang tuaku .” Si Bagot ni Pohan mem benarkan ucapan  si gadis  boru pasribu tersebut lalu menjawabnya lagi

“ Sungguh benar kau, ito justru aku terpana akan kecantikanmu maka aku  tidak sabar untuk tidak menanyaimu ditengah jalan ini dengan melupakan adat dan tatakrama, maafkan aku ito.

Disuatu hari berangkat lah si Bagot ni Pohan  dengan membawa temannya kekampung sang Gadis boru Pasaribu, yang mebuat dia jatuh cinta. Saat mendekati kampung si gadis mereka bertemu dengan sang gadis yang kebetulan akan kepancuran mengambil air. Si Bagot ni Pohan pun menegur si gadis dengan “Marbodiaek” ( memperingatkan orang orang yang mandi dengan seruan yang teresebut) karena begitu tradisinya; ‘”Bo di aek i,leinang partuaek”

”Ba ro ma hamu sian i” jawab sang gadis

(Artinya)

“datanglah kalian  kesini” jawab sang gadi dari pemandian

“Ai begu do ahu didok roham umbahen di paro ho?” kata Si Bagot ni Pohan, kemudian dia mengulangi kembali marbodiaek,lalu si  boru Pasaribupun kembali menjawab “Ba mijur ma hanu sian i”,

(Artinya)

“Kau pikir aku ini hantu maka kau undang aku?”

“Ba beranjaklah lkalian dari situ”

“Ai hoda manang horbo  do ahu hu roha  di dok roham umbahen suruon mu ahu mijur”  (artinya: “kau pikir aku kuda atau kerbau maka kau suruh aku beranjak”) jawab sisibagot ni pohan, membuat hati si gadis boru Pasaribu  kesal sambil berpikir “ sungguh laki laki akan melamar yang pintar bicara dan memiliki pengetahuan luas tentang paradaton, kalau dia marbodiaek kembali apa jawaban ku nanti” si boru Pasaribu terus berpikir sambil menutup mukanya dengan sedih, untung tidak berapa lama namborunya datang yang bernama Nai Raramosan menemuinya, dan melihat maen ( anak permpuan dari saudara lakilaki) bersedih maka si namboru meneggurnya “ Siruba siruba i, silolom silolom on, na so dung songoni mangidai rohakon. Aha do hu ro ha parmulaan ni singkam mabarbar jala mula ni padang matutung. Aha do bingkas dohot bonsir umbahen sai marsak ho jala tangis ?” tanya namborunya serius,  “Aha ma na sai sinungkunan mu  disi namboru, unang ma ho sai pahutur hutur bulung ni bulu,parigat rigat bulung ni gaol,unang hopasunggul sunggul hinalungun jala parukar rukar hinadangol. Anduhur do lompanhhu,marsaorsaor amporik, ba tung adong do nangkin namboru dolidoli marbodiaek dari bukit sana,sungguh pintsr kedengarannya”, kata boru Pasaribu, kemudian dilanjutkanya “ sedang kan aku tidak begitu pintarberbicara apalagi hukum tentang paradaton, kepada kalian orang tualah kami harus lebih banyak belajar dan bertanya.

Maka si Namboru mengajari si gadis boru Pasaribu, kalau kalau si Bagot Ni Pohan atau pemuda lain marbodiaek

Tidak berapa lama si Bagot ni Pohanpun kembali marbodiaek,dan langsung dijawab boru Pasaribu:”Sulusulu ni bintang tu laklak ni antaladan, niarit hotang garudu bahen simpe ni tangan. Naso lupa di uhum naso lolos di padan na talu di undangundang i ma na so haulahan. Silaklak ni antajau, siregerege ni ampang; Sianak ni namboru sibebere ni damang.Hundul ma jolo damangdisi marnaati maradian asa tangkas damang marpanarian. Ba ro ma muse damang sian i mandapothon aek sitio tio asa maranggir jala martapian. Asa tiur dlan boluson tio aek dapoton tumpahon ni omputa Debata.”

Mendengar tutur kata sigadis boru Pasaribu, hati si Bagot ni Pohan pun dapat menerimanya serta dia berbisik dalam hatinya “ Betul betul Gadis inni borunya Raja (anak perempuan seorang terhormat), yang mengerti adat” kemudian Si Bagot Ni Pohan langsung menemui boru Pasaribu di pancuran, Setelah boru Pasaribu melihat siBagot Ni Pohan langsung dia mengenalnya, setelah berbincang bincang sebentar sigadis boru Pasaribupun lang pulang kerumahnya, dan kemudian mempersiapkan makanan mana tau nanti Si Bagot ni Pohan datang .Berselang beberapa lama Si Bagot Ni Pohan pun datang menemui siboru Pasaribu, kedatangannya disambut boru pasaribu dan mempersilahkannya duduk dilage tihar, siBagot ni Pohan menyempatkan berbicara: “Amang na di dolok i pangidoan hotang, amang na di holbung i pangidoan mual.Pinasae ma bona ni gorat,parbuena ma na niida, ni dapothon ma boru ni tulangi, ba napuran na ma na diida”; mnedengar ucapan si Bagot ni Pohan  boru Pasaribu langsung memberikan Napuran kepada si Bagot Ni Pohan sambil tersenyum kemudian mereka saling bertukar pikiran tentang paradaton.

Sebelum nasinya masak, datang boru Pasaribu membawa sebutir telur Ayam sambil mengatakan “Ianggo hami tung na pogos do, ndang tartabunihonb hapogoson.Dibahen i on ma pira ni manuk on seat hamu asa adong lompanta”.

“Denggan boru ni rajanami,alai tiop ma jolo patna i asa huseat, molo so tioponmu pat na i dang olo ahu maneat” kata si Bagot ni pohan.

“Ah tung ompu ni bisuk do hape on jala sabungan ni roha”, kata boru Pasaribu dalam jhatinya.

Setelah masak masakannya maka dikasih lah makan si Bagot ni Pohan , setelah selesai makan maka mereka saling memberikan tanda  (tanda jadian).

Sesampai dilumban Paserahan LumbanGorat dirumahnya, Sibagot Ni Pohan pun menceritakan pengalamannya dengan gadis boru Pasaribu kepada orang tuanya, semua tentang boru Pasribu di ceritakan dengan semangat serta berbunga bunga akan cintanya kepada boru Pasaribu baik tentang kecantikan maupun kepintaran dalam paradaton sang gadis.

Singkat cerita diresmikanlah perkawinan antara Si Bagot Ni Pohan denganGadis perawan boru Pasaribu, mereka direstui kedua belah pihak serta raja-Raja dari delapan penjuru desa, pesta besar besaran pun dilaksanakan dengan restu:

“Sai donganmu gabe ma inanta on, donganmu mamora,jala donganmu sarimatua.Sai marokap ma i songon bagot,marsibar songon ambalang, sai marsigomgoman ma tondimu  tu na tama.Molo tung adong na hurang pangalahona ingkon anjuonmu do,ingkon sai masidungkapna bikbikna do halak jala masijarum na tombukna.Ai na tinapu salaon, salaon situa tua,manang beha pe pangalaho ni dongan saripe niba ingkon denggan ma nianju anju asal ma adong dongan niba gabe jala dongan niba sarimatua”.

Kemudian merestui lagi pihak orang tua si boru Pasaribu”:

“Nunga marbagas do hamu nuaeng inang,dibaheni sai denggan ma hamu masianju anjuan jala masihaholongan.Sai situbu laklak ma hamu situbu singkoru di dolok ni pubatua,sai situbu anak ma hamu situbu bopru donganmu sari matua,Sai marurat ma hamu tu toru marjujungan  tu ginjang,mardakka tu lambung sigodang pangisi jala sideak pinompar.Martumbur ma baringin mardangka ma hariara, sai ma torop ma hamu maribur,martangkang ma juara sai matorop mariburma hamu songon siatur maranak, sai matorop serema hanu songon siatur nabolon”.

Rumah tangga SiBagot ni Pohan menjadi Rumah tengga teladan karena membina rumah tangga yang harmonis dan saling menyayangi.

Kemudian Isteri iBagot ni Pohan boru Pasaribu melahhirkan  empat orang anak yaotu:

  1. Tuan Sihubil
  2. Tuan Somanimbil
  3. Tuan Dibangarna
  4. dan Sonakmalela

menjelang dewasa keampat anak anak mereka mulai diajari lah berperilaku yang baik sesuai dengan tradisi batak dan patuh berorang tua dan menghormati setiap orangtua saling menyayangi sesama. Setelah beranjak Dewasa merekapu belajar tata cara paradaton dan mempelajari segala Ilmu yang berhubungan dengan kehidupan. Mereka menyontoh peri laku Ayahnya Si Bagot Ni Pohan.

Berita tentang  Si Bagot Ni pohan sudah terkabar kemana-mana, bahwa beliau sungguh bijak dan layak untuk dihormati dan tempat setiap orang bertanya karena kelengkapan Ilmunya (panjaha jaha di bibir jala parpustaha di toloan).

Sibagot Ni Pohan juga pemberani Cuma taku pada Opu Mulajadi Nabolon hanya (sesembahan Orang Batak zaman dulu).

Si Bagot Ni Pohan dengan Isterinya boru Pasaribu mulai tua  merekapun memperdalam ilmu anak anakmya yang empat orang. Suatu hari keempat anaknya dikumpulkan di Partungkoan (tempat bersidang),Lalu si Bagot Ni Pohanmembuka pembicaraan:

“Ada yang akan saya utarakan pada kalian anakanakku, Badanku lam kelamaan semakin tua, dan tidak tau apa yang akan dibuat ditakdirkan oleh omputa mulajadi nabolon, mana tau apakah Andor yang duluan putus atau Punggur yang duluan jatuh, Semasih aku hidup masih bisa aku menasihati kalian serta kukasih tahu sama kalian tentang pati yang menjadi ikutan kalian dan orang lain.

Pertama sekali yang saya katakan pada kalian adalah:

“Ingkon denggan hamu tongtong masiajarajaran masianjuanjuan jala masihaholongan. Sai pasing hamu na masa parbadaan,alai eahi hamu ma pardamean.Ai metmet bulung ni baja metmetan do bulung ni banebane.Ai metmet ni na marbada alai lehetan do na mardamedame.

Ingkon marsada ni tahi jala saoloan hamu tongtong di ganup siulaon,asa saut na sinakap ni rohamu Aek godang do aek laut, dos ni roha do sibahen na saut.

Ingot hamu tongtong adat dohot uhum maradophon angka dongan tubu, hulahula,boru nang maradophon ale-ale .Sai unang ma lupa horbo sian bara na,sai unang ma peut ulos sian sangkotanna.Ingkon tigor tongtong uhum dohot pambahenan tu saluhut.(ingkon sijujung ni ninggor,sitingkos ni ari)

Ingkon Hormat jala pantun hamu maradophon halak.Pantun dohangoluan,tois do hamagoan.ndang jadi lea roha mamereng na pogos dohot na marsiak bagi,alai ingkon asi do roha mamereng nasida.Ingkon urupan do halak na di bagasan hagogotan manag parmaraan.Ingkon pasangapon do angka natuatua jala oloan hatana.Ai tahuak mannuk di taonbaru ni ruma,halak na pasangap natuatua ido halak na martua”.

Sebenarnya masih banyak petuah petuah yang akan disampaikan Si Bagot Ni Pohan kepada anak-anaknya.Umur dari Si Bagot Ni Pohan  cukup panjang .

Image result for spiritual batak

Hingga sampai saatnya SiBagot Ni Pohanpun meninggal dan dikebumikan di Onan Raja Balige sedangkan isterinya boru Pasaribu dimakamkan di Sianipar Paindoan,tidak sama dengan Suaminya di Onan Raja. Ceritanya sebagai berikut.

Anak dari SiBagot Ni Pohan siahaan(anak tertua) yaitu Tuan Sihubil tinggal di Huta Surungan Paindoan karena disanalah Tuan Sihubil membuka perkampungannya, sang Ibu boru Pasaribu cukup lama tinggal bersama anak sulungnya sampai meninggalnya.

Cukup sekianlah ringkasan Riwayat Ompung Si Bagot Ni Pohan semoga bermanfaat- Thpardede

Teuku Markam Penyumbang Emas Tugu Monas

Monumen Nasional ( Monas ) setinggi 132 meter yang terletak di Lapangan Medan Merdeka Jakarta Pusat adalah merupakan salah satu lambang kebanggaan Indonesia. Tugu Monas yang di pucuknya menjulang dibuka untuk umum pada tanggal 12 Juli 1975. Tugu ini dimahkotai lidah api yang dilapisi lembaran emas yang melambangkan semangat perjuangan yang menyala – nyala.

www.belantaraindonesia.org

Emas yang dipasang di Tugu Monas seberat 38 kg emas. Terdapat berbagai versi tentang emas di puncak Monas tersebut. Ada yang menyebutkan, emas seberat 28 kg itu adalah sumbangan dariTeuku Markam, seorang saudagar Aceh yang pernah menjadi orang terkaya Indonesia.

Namun, tak ada catatan resmi tentang penyumbang emas itu. Ceritanya pun menjadi simpang siur. Sejarawan juga tak tahu menahu tentang kisah emas di puncak Monas. Kisah tentang Teuku Markamsumbernya dari cerita mulut ke mulut. Meski ada sebagian orang yang menyakini kebenaran cerita itu.

Konon ceritanya, dari berbagai sumber, disebutkan Teuku Markam adalah saudagar Aceh yang lahir pada tahun 1925. Ayahnya, Teuku Marhaban berasal dari kampung Seuneudon dan Alue Capli, Panton Labu Aceh Utara. Teuku Markam sudah menjadi yatim piatu ketika berusia 9 tahun. Lalu ia diasuh oleh kakaknya yang bernama Cut Nyak Putroe.

Ia sempat bersekolah sampai kelas 4 Sekolah Rakyat ( SR ). Teuku Markam kemudian tumbuh menjadi pemuda yang mengikuti pendidikan wajib militer di Kutaraja yang sekarang bernama Banda Aceh.

Sebagai prajurit penghubung, ia diutus oleh Panglima Jenderal Bejo ke Jakarta untuk bertemu pimpinan pemerintah. Oleh pimpinan, Teuku Markam diutus lagi ke Bandung untuk menjadi ajudan Jenderal Gatot Soebroto. Tugas itu diembannya sampai Gatot Soebroto meninggal dunia.

www.belantaraindonesia.org
Teuku Markam

Tahun 1957, Teuku Markam berpangkat kapten. Ia kembali ke Banda Aceh dan mendirikan sebuah lembaga usaha yang bernama PT Karkam. Perusahaan ini dipercaya oleh Pemerintah RI mengelola rampasan perang untuk dijadikan dana revolusi. Ia berhenti menjadi tentara, kemudia ia melanjutkan karirnya dengan menggeluti usaha dengan sejumlah aset berupa kapal dan beberapa dok kapal di Palembang, Medan, Jakarta, Makassar, Surabaya.

Ia juga bisnis ekspor – impor, antara lain mengimpor mobil Toyota Hardtop dari Jepang, besi beton, plat baja, bahkan sempat mengimpor senjata atas persetujuan Dephankam dan Presiden. Ia mendukung pembebasan Irian Barat serta pemberantasan buta huruf. Ia juga menyukseskan KTT Asia Afrika.

Ia termasuk salah satu konglomerat Indonesia yang dikenal dekat dengan pemerintahan Soekarno. Berkat bantuan para konglomerat itulah KTT Asia Afrika berhasil memerdekakan negara-negara yang ada di Asia dan Afrika.

Namun, sejarah kemudian berbalik. Peran dan sumbangan Teuku Markam dalam membangun perekonomian Indonesia seakan menjadi tak ada artinya di mata pemerintahan Soeharto. Dengan sepihak ia difitnah sebagai PKI dan dituding sebagai koruptor dan penganut Soekarnoisme. Akibat tuduhan itu, ia dipenjarakan pada tahun 1966. Ia dijebloskan ke dalam sel tanpa melalui proses pengadilan.

Pertama – tama ia dimasukkan ke tahanan Budi Utomo, lalu dipindahkan ke Guntur. Selanjutnya ia dipindah ke penjara Salemba di jalan Percetakan Negara. Tak lama ia dipindahkan lagi ke tahanan Cipinang, lalu terakhir ia dipindah lagi ke tahanan Nirbaya di Pondok Gede Jakarta Timur. Pada tahun 1972 ia jatuh sakit dan terpaksa dirawat di RSPAD Gatot Soebroto selama kurang lebih dua tahun.

Pemerintah Orde Baru juga merampas hak milik PT. Karkam dan mengubahnya menjadi atas nama pemerintah. Teuku Markam hidup sengsara di hari tuanya. Ahli warisnya juga hidup terlunta – lunta sampai ada yang menderita depresi mental. Hingga kekuasaan Orba berakhir, nama baik Teuku Markam tak pernah direhabilitasi.

Anak – anaknya mencoba bertahan hidup dengan segala daya dan memanfaatkan bekas koneksi – koneksi bisnis Teuku Markam. Dan kini, ahli waris Teuku Markam tengah berjuang mengembalikan hak – hak orang tuanya.