Archive for Februari, 2011

Rekonstruksi Sejarah Indonesia,zaman Hindu(3)

REKONSTRUKSI SEJARAH INDONESIA- ZAMAN HINDU

ad2. Ye-tiao
Nama ini berasal dari tarikh Tiongkok,yang menggambarkan bahwa pada tahun 132 Raja Ye-tiao bernama Tiao-pien mengirim utusan ke tiongkok dan Raja itu menerima hadiah kehormatan.
Tidak dapat disangkal,bahwa Ye-Tiao itu adalah Yavadvipa dan Tiao-pien ialah Devavarman ,tetapi Ye-Tiao itu bukanlah Jawa sekarang,sebab pada tahun132 itu belum ada hubungan dagang yang ramai, apalagi dengan Jawa, baru pada abad ke dua hubungan perdagangan antara India dengan Tiongkok mulai ramai dan padat. Ini diketahui dari berita Mesir dan Yunani pada tahun 160 . dan Jawa ketika itu belum diketemukan pengaruh Hindu, olehkarena itu tidak masuk akal kalau di Jawa sudah ada kerajaan Hindu di Jawa. Dengan demikian Orang di Jawa belum menganut Agama Hindu karenah pengaruh hindu belum masuk ke JAwa . Jadi Pastilah Bahwa kerajaan “Ye-Tiao “ itu bukan di pulau Jawa melainkan dikontinen India dan Tiongkok.

Ad3. labadio


PETA PTOLEMAEUS

Nama ini bisa kita temukan pada buku karangan Claudius Ptolemaeus, ahli ilmu falak Iskandariah. Yang diterjemahkan dalam bahasa Inggeris “The Great System”, sedang orang Arab menyebut “Almagest” dan diterbitkan di Iskandaria sekitar tahun 160. Bahan-bahan yang digunakan dalam menyusun buku tersebut adalah dari pedagang-pedagang Mesir Junani, dimana pada pertengahan abad ke 2 sudah berlayar sampai ujung selatan India. Sedang pedagang-pedagang Mesir-Yunani mengenal Labadio dari pedagang-India . Dalam Buku Ptolemaeus itu dikatakan bahwa Labadio adalah negeri yang subur,menghasilkan Emas dan mempunyai sebuah kota dagang bernama Argyre (kota Perak) diujung barat.. Selanjutnya Ptolemaeus menyebutkan uruturutan negeri sebagai berikut: Crysè, Chersonesos, Sabadebai, Labadiou atau Sabadiou, Barousai, Satyroi dan Maniola
Labadiou memang identik dengan Yavadvipa (juga Sabadebai, Sabadiou,), tetapi Yavadvipa yang dimaksud bukanlah Jawa sekarang. Ptolemous juga mengatakan bahwa Labadio itu adalah suatu “Chersonesos”(Zajirah/semenanjung). Kota Argyre adalah Ligor, karena kota tua itu terletak tepat ditanah genting(isthmus) Kra dan tepat pula diujung barat, selain itu daerah terutara dari semenanjung oleh Ptolemaeus juga menyebut “Argentea Regio” (daerah perak) dan menurut penyelidikan Geologis memang negeri itu merupakan daerah Perak yang sangat tua.

Jadi Nama-nama negeri yang ada dalam buku Ptolemaeus tersebut adalah nama negeri yang terletak pada jalan dagang antara India dan Tiongkok.”Crysè, Chersonesos” (Semenanjung emas) adalah kerajaan Prome, yang didirikan oleh Abhi Raja (Maha Thambawa) dan kemudian terkenal dengan nama kerajaan FOU-NAN (Fu-nan) yang berarti negeri selatan. Sabadebai, adalah kerajaan sajanalaja yang didirikan oleh Raja Parama (Tiao-Pien,Devavarman) yang kemudian dikenal dengan nama kerajaan Langkasuka , mula-mula didaerah muara sungai Menam di Siam. Sedang Barousai, adalah Kerajaan Barus di Sumatera Utara , Kapur barus merupakan hasil Utama negeri itu membuat negeri itu terkenal di mana-mana.Dalam berita Tiongkok kemudian kerajaan itudisebut Po-Lo-She atau Lang-pó-lou-sseu (negeri barus), sedang hasilnya disebut “ku-pu-po-lu”. Didalam dongeng India “Kathasaritsagara” (atau Katha sari sagara) disebut “Karpuradvipa” (pulau kapur). Maniola adalah Pilipina sekarang merupakan Bandar dagang yang penting ketika itu, dan letaknya pun lintasan dagang India Tiongkok, dan disana Kapal-kal ditambatkan di opask-pasak besi , dan hasilnya adalah tali-tali dari sisal sebagai bahan tali temali kapal. Satyroi bidsa saja Kalimantan atau Sulawesi bisa saja adalah transkripsidari Strirajya (kerajaan wanita), bisa juga Transkripsi dari Çrivijaya sebab di Camboja ada tempat yang bernama Bin-dinh (ajaan Kamboja untuk Vijaya). Dengan demikian jelaslah bahwa Jawa pada akhir abad ke 2 belum menjadi daerah perdagangan bangsa India.Dan kenyataan Labadiou terletak di semenanjung.

Bersambung…4

Iklan

Rekonstruksi Sejarah Indonesia,zaman Hindu(2)

REKONSTRUKSI SEJARAH INDONESIA- ZAMAN HINDU

Setelah sekian lama kita tidak membahas tentang Rekonstruksi Awal sejarah Indonesia pada zama Hindu, mudah-mudahan seterusnya dapat kita lanjutkan tanpa halangan, Semoga Bermanfaat bagi kita pemerhati sejarah

Kebanyakan Penyelidik mengabaikan keterangan-keterangan Geografis dan kemungkinan ekonomis. Mereka melupakan sifat typis bangsa timur yaitu sifat gemar membawa-bawa nama-nama negeri asalnya dan sifat gemar menulis kan peristiwa-peristiwa dengan lambang-lambang dan kias-kias.Mereka juga melupakan kenyataan, bahwadalam sejarah sering terjadi perpindahan-perpindahan pusat-pusat kerajaan dan penggantian nama negeri.
Nama-nama asing yang disangka dan dianggap “Jawa” itu antara lainialah:
1- “Yavadvipa” dalam kakawin Ramayana, yang ditulis sebelum tahun 500 sebelum masehi.
2- “Ye-tiao” dalam tarikh Tiongkok pada tahun 132 sesudah masehi .
3- “labadiou” dalam berita Mesir -Junani dari tahun 160 sesudah masehi.
4- “Ye-p’o-ti” dari Fa-Hien, yang pada tahun 414 terdampar dipantai negeri itu.
5- “Cho-p’o” dari Gunawarman dan dalam berita Tiongkok sekitar pertengahan abad ke 5.
6- “Bhumi Java” dalam inskripsi kota kapur (Bangka) tahun 686.
7- “Yava” dalam inskripsi Canggal(Sanjaya) tahun 732.
8- “Yavabhumi” dalam maklumat Nalanda tahun 883.
9- “Zabag”, “Zabaj” dan “Jawaga” dalam berita Arab sesudah abad ke 9.

ad1- Yavadvida:

Valmiki pengarang Ramayana ,menulis tentang sebuah nama negeri yang bernama Yavadvida dalam bukunya bukan lah Jawa yang dimaksudnya dengan alasan Ramayana berkisah tentang peristiwa tahun 500 S.M (sebelum Masehi), apakah orang India sudah mengetahui p.Jawa yang berada beberapa derajat diselatan Khatulistiwa?, dan alasan kedua kalau kita mengamati pemaparan Valmiki tentang Yavadvida, bahwa Yavadvida dihiasi tujuh kerajaan ,pulau emas dan perak. kaya akan tambang Emas dan disitu terdapat gunung Çiçira (=dingin) puncaknya menyentuh langit.
Anggapan bahwa bagian Ramayana yang memuat bab “Yavadvida” ditulis atau disisipkan kemudian , yaitu sekitar tahun 150 adalah alasan yang dicari-cari , itu hanya terjadi karena dalam tarikh Tiongkok tahun 132 sudah disebutkan tentang “Raja Yavadvida yang mengirim utusannya kepada kaisar Tiongkok.Jadi tentang bab Yavadvida tidak mungkin ditulis atau disisipkan kemudian, sebab kalau kita mengamati “Kawruh Kejawen” yang inti sarinya diambil dari ajaran Hindu Budha yaitu tentang ajaran “Manunggaling Kawula Ian Gusti”, atman dan Brahman , puruça dan prakreti. Itu semua adalah bagian pokok dari isi Ramayana. Bagian itu (Bab Yavadvida) adalah bagian “Rama Duta” yang mengajarkan bahwa Rama (sebagai manusia) belumlah Ikhlas (legawa= sempuna) sebab bathinnya (Shinta= isinya) masih terbelenggu keduniawian (ingin kidang kencana), oleh karena itu tertawan angkara murka (Dasamuka) dan untuk membasmi itulah, maka angkara-maya (Hanoman = mayangkara = angkara yang sudah tipis) ditugaskan sebab hanya dialah (mayangkara) yang dapat membasmi angkaramurka (Dasamuka).
Ramayana selain sebagai kitab pelajaran agama, juga sebagai kisah pahlawan yang berdasarkan peristiwa historis , yang terjadi didaerah sungai Gangga (Benggala), yaitu penyerbuan bangsa Arya (pendukung kebudayaan dan peradaban dunia terhadap bangsa Dravida yang dipandang sebagai kemenangan “Hrrenvolk” terhadap “Schlavenvolk”
Jadi yang dimaksud denga Yavadvida iru adalah Daerah Sungai Gangga yang sampai sekarang itu masih merupakan negeri Jelai yang luar biasa, sedangkan “Suvarnadvipa” ialah daerah sungai Iravadi yang hulunya menghasilkan emas dan bagian hilirnya menghasilkan perak dulunya merupakan kloni pertambangan-pertambangan Tiongkok (yang dilukiskan Valmiki sebagai gunung Çiçira tidak lain adalah gunung Himalaya. dengan puncaknya Mount Everest atau Gauri Sankar yang tingginya kurang lebih 8800 meter.
Kesimpulannya dari sudut pandang “Ramayana” bahwa Yavadivida itu adalh nama klasik bagi India dan “ Suvarnadvipa adalah Birma , kesimpulan ini sesuai dengan pendapat “Maha Yazawin (babad Birma) yang menamakan India “Zacudipa” atau “Zambudipa” sedangkan negerinya sendiri disebut “Sona PAranta atau Sona Aparanta” (Bahasa Pali yang artinya sama)

ad2. Ye-tiao

Nama ini berasal dari tarikh Tiongkok,yang menggambarkan bahwa pada tahun 132 Raja Ye-tiao bernama Tiao-pien mengirim utusan ke tiongkok dan Raja itu menerima hadiah kehormatan.
Bersambung —– 3)

ReKonstruksi Sejarah Indonesia, zaman Hindu (1)

REKONSTRUKSI SEJARAH INDONESIA- ZAMAN HINDU

Pembukaan Kata!!

Saya mencoba memaparkan tulisan Warsito sastroprajitno tentang sejarah Indonesia. Beliau mengatakan didalam menyusun bukunya ini dia mendapat pengarahan dan petunjuk dari Prof.Dr.Purbatjaraka dan Romo.Dr.Zoetmulder, meskipun demikian beliau menyadari masih banyak hal-hal yang gelap dalam sejarah Indonesi , yang memerlukan penyelidikan lebih jauh dan akurat. Sebab hampir semua ahli dan penyelidik sejarah Indonesia ,terutama para filologis (yang berhubungan dengan studi budaya dan kerohanian), dengan secara fanatik bersitegang mengira bahwa:
1- Yavadvipa dari semula adalah Jawa sekarang dan Suvarnadvipa dari semula adalah Sumatera sekarang.
2- Kerajaan Sriwijaya dari keluarga Sailendra dan dari semula berpusat di Palembang
Anggapan yang salah itulah yang menyebabkan sejarah Indonesia dalam Zaman Hindu ruwet dan gelap
Jadi tulisan beliau ini adalah salah satu acuan dan melanjutkan penyelidikan terdahulu. Dan kita layaknyalah menghargai dan menghormati kepada penyelidik-penyelidik Sejarah Indonesia seperti “KROM, STUTTERHEIM, MOENS, PELLIOT, FERRAND, COEDES, MAJUMDAR, NILAKANTA SASTRI, TAKAKUSU,” dan lain-lainnya.Karena merekalah maka kita banyak mengetahui tentang sejarah Indonesia.
Kemudian Ws melanjutkan harapannya agar generasi muda termotivasi akan tulisan beliau yang sangat kontroversial dengan sejarah yang kita ketahui selama ini.
Site Blog Toga Laut sengaja menulis kembali untuk memenuhi harapan beliau dalam rangka menemui sejarah yang sebenarnya tentang Indonesia pada “Zaman Hindu”. Ini adalah sangat penting karena Budaya Indonesia tidak terlepas dari pengaruh Hindu. Dan kami mencoba menyajikannya tanpa mengurangi makna dari isi meskipun buku aslinya masih berupa ejaan lama.
Terima kasih!

Yavadvipa

A-Kekhilafan menafsirkan “yavadvipa”:

Keruwetan yang terdapat dalam sejarah Indonesia pada zaman Hindu terutama disebabkan oleh karena hampir semua penyelidik/ahli sejarah beranggapan bahwa “Yavadvipa” dari semula adalah Jawa sekarang,kekeliruan itu berpangkal pada penafsiran secara FILOLOGIS, dan karena itu lalu menganggap nama-nama asing lainnya yang terdapat dalam berita atau tulisan asing hanya sebagai transkripsi saja dari kata Yavadvipa tersebut.Kekeliruan itu menyebabkan perisistiwa-peristiwa historis yang sesungguhnya terjadi di dan bersangkutan dengan negeri lain dianggap terjadi di dan bersangkutan dengan Jawa.
Kebanyakan Penyelidik mengabaikan keterangan-keterangan Geografis dan kemungkinan ekonomis. Mereka melupakan sifat typis bangsa timur yaitu sifat gemar membawa-bawa nama-nama negeri asalnya dan sifat gemar menulis kan peristiwa-peristiwa dengan lambang-lambang dan kias-kias.Mereka juga melupakan kenyataan, bahwadalam sejarah sering terjadi perpindahan-perpindahan pusat-pusat kerajaan dan penggantian nama negeri.
Nama-nama asing yang disangka dan dianggap “Jawa” itu antara lainialah:
1- “Yavadvipa” dalam kakawin Ramayana, yang ditulis sebelum tahun 500 sebelum masehi.
2- “Ye-tiao” dalam tarikh Tiongkok pada tahun 132 sesudah masehi .
3- “labadiou” dalam berita Mesir -Junani dari tahun 160 sesudah masehi.
4- “Ye-p’o-ti” dari Fa-Hien, yang pada tahun 414 terdampar dipantai negeri itu.
5- “Cho-p’o” dari Gunawarman dan dalam berita Tiongkok sekitar pertengahan abad ke 5.
6- “Bhumi Java” dalam inskripsi kota kapur (Bangka) tahun 686.
7- “Yava” dalam inskripsi Canggal(Sanjaya) tahun 732.
8- “Yavabhumi” dalam maklumat Nalanda tahun 883.
9- “Zabag”, “Zabaj” dan “Jawaga” dalam berita Arab sesudah abad ke 9.

Secara filologis nama-nama tersebut diatas semuanya berarti “Jawa” tetapi tidak semua yang dimaksud Jawa sekarang.
Selanjutkan akan kita ulas bahwa nama-nama tersebut, sebagian besar bukanlah Jawa sekarang.

(bersambabung …………………2)